Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > SEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)
Total Views: 20692 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 24 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

silaent - 04/12/2010 05:02 PM
#1
SEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)
SEJARAH PANJANG NUSANTARA

Sejarah Nusantara : Sebuah Narasi Alternatif

Banyak sekali penafsiran umum akan nama Nusantara, mungkin yang paling populer adalah rujukan penamaan Nusantara yang dapat diakses di situs wikipedia, di sana disebutkan bahwa "Nusantara" merupakan istilah yang dipakai oleh orang Indonesia untuk menggambarkan wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Pertanyaannya, apakah hanya sebatas itu sajakah wilayah Nusantara dahulu?

Nusa sendiri sering diartikan dengan pulau atau kepulauan, penamaan dari leluhur kita dahulu dalam bahasa sansekerta, sedang dalam bahasa sansekerta dengan peradaban yang lebih lama, istilah Nusa disebut dengan Nuswa.

Hasil dari penelitian kami terhadap beberapa rontal kuno dan beberapa prasasti, Nuswantara atau Nusantara, selanjutnya kita bahasakan dengan Nusantara; adalah gabungan dari dua kata, Nusa dan Antara.
Nusa sendiri dalam bahasa sansekerta kuno mempunyai arti “sebuah tempat yang dapat ditinggali” ...jadi tidak disebutkan secara jelas bahwa itu adalah pulau.

Konsepsi dari Nusantara sendiri adalah sebuah kesatuan wilayah yang dipimpin oleh suatu pemerintahan [kerajaan] secara absolut. Jadi dalam Nusantara terdapat satu Kerajaan Induk dengan puluhan bahkan ratusan kerajaan yang menginduk [bedakan menginduk dengan jajahan]. Dalam sebuah periodesasi jaman.
Kerajaan induk itu mempunyai seorang pimpinan [raja] dengan kewenangannya yang sangat absolut, sehingga kerajaan-kerajaan yang menginduk sangat hormat dan loyal kepada Kerajaan Induk dan satu sama lain antara kerajaan yang menginduk akan saling bersatu dalam menghadapi ancaman keamanan dari negara-negara di luar wilayah Nusantara, sehingga tak pelak kesatuan dari Nusantara sangat disegani, dihormati dan ditakuti oleh negara-negara lain pada jaman dahulu.

Kerajaan Induk biasanya dipimpin oleh seorang raja dengan gelar Sang Maha Prabu atau Sang Maha Raja, atau pada periode jaman sebelumnya dengan Sang Rakai atau Sang Mapanji, serta dibantu oleh Patih [sekarang setara dengan Perdana Menteri] yang bergelar Sang Maha Patih.

Sedangkan kerajaan-kerajaan yang menginduk, istilah Kerajaan juga seringkali disebut dengan Kadipaten yang dipimpin oleh raja yang bergelar Kanjeng Prabu Adipati atau Kanjeng Ratu Adipati [apabila dipimpin oleh seorang raja wanita], dan Patih-nya bergelar Sang Patih.

Pimpinan Kerajaan Induk tidaklah selamanya turun-temurun, tidak tergantung dari besar-kecilnya wilayah, tapi dilihat dari sosok pimpinannya yang mempunyai kharisma sangat tinggi, kecakapannya dalam memimpin negara dan keberaniannya dalam mengawal Nusantara, sehingga negara-negara lain
[kerajaan yang menginduk/Kadipaten] akan dengan suka rela menginduk di bawah sang pemimpin, apalagi sang pemimpin biasanya dianggap mewarisi karisma dari pada dewa, dalam pewayangan-pun
beberapa nama raja disebutkan sebagai Dewa sing ngejawantah.

Nusantara, atau Indonesia kini [dari bahasa melayu dan pengembangan penamaan wilayah nusantara pada jaman masa kolonial], dahulu dikenal dunia sebagai bangsa yang besar dan terhormat. Orang luar bilang Nusantara adalah “jamrud khatulistiwa” karena di samping Negara kita ini kaya akan hasil bumi juga merupakan Negara yang luar biasa megah dan indah.

Bahkan di dalam pewayangan, Nusantara ini dulu diberikan istilah berbahasa kawi/Jawa kuno, yaitu :

“Negara kang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi,
tata tentrem kerto raharja”

Artinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih yaitu :

“ Luas berwibawa yang terdiri atas daratan dan pegunungan, subur makmur, rapi tentram, damai dan sejahtera “

Sehingga tidak sedikit negara-negara yang dengan sukarela bergabung di bawah naungan bangsa kita.

Hal ini tentu saja tidak lepas peranan dari leluhur-leluhur kita yang beradat budaya dan berakhlak tinggi. Di samping bisa mengatur kondisi Negara sedemikian makmur, leluhur kita juga bahkan dapat mengetahui kejadian yang akan terjadi di masa depan dan menuliskannya ke dalam karya sastra. Hal ini
bertujuan sebagai panduan atau bekal anak cucunya nanti supaya lebih berhati-hati menjalani roda kehidupan.

Akan tetapi penulisannya tidak secara langsung menggambarkan berbagai kejadian di masa mendatang, digunakanlah perlambang sehingga kita harus jeli untuk dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan perlambang itu tadi. Digunakannya perlambang karena secara etika tidaklah sopan apabila manusia mendahului takdir, artinya mendahului Tuhan yang Maha Wenang.

Leluhur kita yang menuliskan kejadian masa depan adalah Maharaja di kerajaan Dahana Pura bergelar Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya dalam karyanya Jayabaya Pranitiradya dan Jayabaya Pranitiwakyo. Sering juga disebut “Jangka Jayabaya” atau oleh masyarakat sekarang dikenal dengan nama
“Ramalan Jayabaya”, sebetulnya istilah ramalan kuranglah begitu tepat, karena “Jangka Jayabaya” adalah sebuah Sabda, Sabda Pandhita Ratu dari Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya, yang artinya adalah akan terjadi dan harus terjadi.

Leluhur lainnya adalah R. Ng. Ranggawarsita yang menyusun kejadian mendatang ke dalam tembangtembang, antara lain Jaka Lodang, Serat Kalatidha, Sabdatama, dll.

Kaitannya dengan penanggalan jaman yang ada di Jangka Jayabaya, kita berhasil menemukan bahwa sejarah Nusantara tidak sekerdil sejarah yang tertulis di buku-buku pelajaran sejarah sekolah yang resmi atau literasi sejarah yang ada. Bahkan lebih dari itu, kami menemukan bukti tentang kebesaran leluhur Nusantara yang di peradaban-peradaban sebelumnya mempunyai wilayah yang lebih besar dari yang kita duga selama ini.

Data yang diperoleh terdapat di beberapa relief dan prasasti yang dapat dilihat dan dimengerti oleh semua orang. Pola pembacaan yang telah berhasil dipetakan dengan mendokumentasikan lebih dari 20 jenis aksara purba asli Nusantara yang dapat dipakai untuk membaca prasasti dan rontal-rontal kuno, mulai dari aksara Pra Budi Ratya, Pudak Sategal, Sastra Gentayu, Sastra Wiryawan, Sastra Budhati, Sastra Purwaresmi, Aksara Pajajaran, Aksara Hendra Prawata, Aksara Jamus Kalihwarni, Aksara Keling, Aksara Budha yang ada di Magelang, Aksara Nagari Mojopoit, dll. Sebagai bahan perbandingan, aksara Pallawa yang ada di India itu masih setara dengan jaman Kerajaan Singasari, jadi masih terhitung sangat muda.

Kembali ke Jangka Jayabaya, telah berhasil dipetakan periodesasi terciptanya bumi sampai ke titik akhir menjadi 3 Jaman Kali [Jaman Besar] atau Tri Kali, dan setiap Jaman Kali terbagi menjadi 7 Jaman Kala [Jaman Sedang] atau Sapta Kala, dan 1 Jaman Kala terbagi menjadi 3 Mangsa Kala [Jaman Kecil] atau Mangsa Kala, serta berhasil mengurutkan sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara yang mayoritas telah dihilangkan dari sejarah resmi.

Tri Kali atau 3 jaman besar itu terdiri dari :

1. Kali Swara -jaman penuh suara alam
2. Kali Yoga -jaman pertengahan
3. Kali Sangara -jaman akhir

Masing-masing Jaman Besar berusia 700 Tahun Surya, suatu perhitungan tahun yang berbeda dengan Tahun Masehi maupun Tahun Jawa, perhitungan tahun yang digunakan sejak dari awal peradaban.
Konversi setiap Jaman Besar [Kali] masing-masing berbeda], saat ini yang telah berhasil dikonversikan adalah penghitungan Kali Sangara [jaman akhir], di mana 1 [satu] Tahun Surya setara dengan 7 Tahun Wuku, satu tahun Wuku terdiri dari 210 hari yang berarti 1 [satu] Tahun Surya pada jaman besar Kali Sangara itu sama dengan 1.470 hari.
silaent - 04/12/2010 05:03 PM
#2

Berikut adalah uraian tentang pembagian jaman disertai dengan silsilah Kerajaan-kerajaan Besar [Kerajaan Induk] di Nusantara mulai dari jaman Kali Swara, Kali Yoga, sampai Kali Sangara.

Spoiler for Pembagian Jaman

1. Kali Swara [ jaman penuh suara alam ]

Dibagi atas 7 Jaman Sedang [saptakala], yaitu :

1.1. Kala Kukila [burung]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

1.1.1 Mangsa Kala Pakreti
     1.1.a Keling
     1.1.b Purwadumadi
1.1.2 Mangsa Kala Pramana [waspada]
     1.1.c Purwacarita
     1.1.d Magadha
1.1.3 Mangsa Kala Pramawa [terang]
     1.1.e Gilingwesi
     1.1.f Sadha Keling

1.2. Kala Budha [mulai munculnya kerajaan]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

1.2.1 Mangsa Kala Murti [kekuasaan]
     1.2.a Gilingwesi
     1.2.b Medang Agung
1.2.2 Mangsa Kala Samsreti [peraturan]
     1.2.c Medang Prawa
     1.2.d Medang Gili/Gilingaya
      1.2.e Medang Gana
     1.2.f Medang Pura
1.2.3 Mangsa Kala Mataya[manunggal dengan Sang Pencipta]
     1.2.g Medang Gora
     1.2.h Grejitawati
     1.2.i Medang Sewanda


[B]1.3. Kala Brawa [berani/menyala]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

1.3.1 Mangsa Kala Wedha [pengetahuan]
     1.3.a Medang Sewanda
1.3.2 Mangsa Kala Arcana [tempat sembahyang]
     1.3.b Medang Kamulyan
1.3.3 Mangsa Kala Wiruca [meninggal]
     1.3.c Medang Gili/Gilingaya]

1.4. Kala Tirta [air bah]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

1.4.1 Mangsa Kala Raksaka [kepentingan]
     1.4.a Purwacarita
     1.4.b Maespati
1.4.2 Mangsa Kala Walkali [tamak]
     1.4.c Gilingwesi
1.4.3 Mangsa Kala Rancana [percobaan]
     1.4.d Medang Gele/Medang Galungan

1.5. Kala Rwabara [keajaiban]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

1.5.1 Mangsa Kala Sancaya [pergaulan]
     1.5.a Gilingwesi
     1.5.b Medang Kamulyan
1.5.2 Mangsa Kala Byatara [kekuasaan]
     1.5.c Purwacarita
1.5.3 Mangsa Kala Swanida [pangkat]
     1.5.d Wirata
     1.5.e Gilingwesi

1.6. Kala Rwabawa [ramai]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

1.6.1 Mangsa Kala Wibawa [pengaruh]
     1.6.a Gilingwesi
1.6.2 Mangsa Kala Prabawa [kekuatan]
     1.6.b Purwacarita
1.6.3 Mangsa Kala Manubawa [sarasehan/
pertemuan]
     1.6.c Wirata Anyar

1.7. Kala Purwa [permulaan]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

1.7.1 Mangsa Kala Jati [sejati]
     1.7.a Wirata Kulon (Matsyapati)
1.7.2 Mangsa Kala Wakya [penurut]
     1.7.b Hastina Pura
1.7.3 Mangsa Kala Mayana[tempat para maya/ Hyang]

2. Kali Yoga [ jaman pertengahan ]

Dibagi atas 7 Jaman Sedang [saptakala], yaitu :

2.1. Kala Brata [bertapa]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

2.1.4 Mangsa Kala Yudha [perang]
     2.1.a Hastina Pura
2.1.5 Mangsa Kala Wahya [saat/waktu]
2.1.6 Mangsa Kala Wahana [kendaraan]

2.2. Kala Dwara [pintu]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

2.2.1 Mangsa Kala Sambada [sesuai/ sepadan]
     2.2.a Hastina Pura
     2.2.b Malawapati
     2.2.c Dahana Pura
2.2.2 Mangsa Kala Sambawa [ajaib]
     2.2.d Mulwapati
2.2.3 Mangsa Kala Sangkara [nafsu amarah]
     2.2.e Kertanegara

2.3. Kala Dwapara [para dewa]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

2.3.1 Mangsa Kala Mangkara [ragu-ragu]
     2.3.a Pengging Nimrata
     2.3.b Galuh
2.3.2 Mangsa Kala Caruka [perebutan]
     2.3.c Prambanan
2.3.3 Mangsa Kala Mangandra[perselisihan]
     2.3.d Medang Nimrata
     2.3.e Grejitawati

2.4. Kala Praniti [teliti]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

2.4.1 Mangsa Kala Paringga[pemberian/kesayangan]
     2.4.a Purwacarita
     2.4.b Mojopura
     2.4.c Pengging
2.4.2 Mangsa Kala Daraka [sabar]
     2.4.d Kanyuruhan
     2.4.e Kuripan
2.4.3 Mangsa Kala Wiyaka [pandai]
     2.4.f Kedhiri
     2.4.g Jenggala
     2.4.h Singasari

2.5. Kala Teteka [pendatang]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

2.5.1 Mangsa Kala Sayaga [bersiap-siap]
     2.5.a Kedhiri
2.5.2 Mangsa Kala Prawasa [memaksa]
     2.5.b Galuh
     2.5.c Magada
2.5.3 Mangsa Kala Bandawala [perang]
     2.5.d Pengging

2.6. Kala Wisesa [sangat berkuasa]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

2.6.1 Mangsa Kala Mapurusa [sentosa]
     2.6.a Pengging
2.6.2 Mangsa Kala Nisditya[punahnya raksasa]
     2.6.b Kedhiri
2.6.3 Mangsa Kala Kindaka [bencana]
     2.6.c Mojopoit (Majapahit)

2.7. Kala Wisaya [fitnah]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

2.7.1 Mangsa Kala Paeka [fitnah]
     2.7.a Mojopoit
2.7.2 Mangsa Kala Ambondan[pemberontakan]
     2.7.b Demak
2.7.3 Mangsa Kala Aningkal [menendang]
     2.7.c Giri

3. Kali Sangara [ jaman akhir ]

Dibagi atas 7 Jaman Sedang [saptakala], yaitu :

3.1. Kala Jangga

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

3.1.1 Mangsa Kala Jahaya [keluhuran]
     3.1.a Pajang
3.1.2 Mangsa Kala Warida [kerahasiaan]
     3.1.b Mataram
3.1.3 Mangsa Kala Kawati [mempersatukan]

3.2. Kala Sakti [kuasa]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

3.2.1 Mangsa Kala Girinata [Syiwa]
     3.2.a Mataram
3.2.2 Mangsa Kala Wisudda [pengangkatan]
     3.2.b Kartasura
3.2.3 Mangsa Kala Kridawa [perselisihan]

3.3. Kala Jaya

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

3.3.1 Mangsa Kala Srenggya [angkuh]
     3.3.a Kartasura
3.3.2 Mangsa Kala Rerewa [gangguan]
     3.3.b Surakarta
3.3.3 Mangsa Kala Nisata [tidak sopan]
     3.3.c Ngayogyakarta

3.4. Kala Bendu [hukuman/musibah]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

3.4.1 Mangsa Kala Artati [uang/materi]
     3.4.a Surakarta
3.4.2 Mangsa Kala Nistana [tempat nista]
     3.4.b Ngayogyakarta
3.4.3 Mangsa Kala Justya [kejahatan]
     3.4.c Indonesia (Republik)

3.5. Kala Suba [pujian]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

3.5.1 Mangsa Kala Wibawa[berwibawa/berpengaruh]

3.5.2 Mangsa Kala Saeka [bersatu]

3.5.3 Mangsa Kala Sentosa [sentosa]


3.6. Kala Sumbaga [terkenal]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

3.6.1 Mangsa Kala Andana [memberi]

3.6.2 Mangsa Kala Karena [kesenangan]

3.6.3 Mangsa Kala Sriyana[tempat yang indah]


3.7. Kala Surata [menjelang jaman akhir]

Dibagi atas 3 Jaman Kecil [mangsa kala] :

3.7.1 Mangsa Kala Daramana [luas]

3.7.2 Mangsa Kala Watara [sederhana]

3.7.3 Mangsa Kala Isaka [pegangan]


Metode penelitian dan penelusuran yang digunakan selama ini adalah dengan mengkompilasikan studi literasi pada relief-relief, prasasti-prasasti serta rontal-rontal kuno yang dipadukan dengan Sastra Cetha, sastra yang tidak tersurat secara langsung.
Sastra Cetha sendiri adalah sebuah informasi tak terbatas yang sudah digambarkan oleh alam semesta secara jelas, saking jelasnya sehingga sampai tidak dapat terlihat kalau kita menggunakan daya penangkapan yang terlalu tinggi dan rumit Peace:

Belajar dari tanah sendiri, belajar dari ajaran leluhur Nusantara sendiri, belajar banyak dari alam semesta, di mana bumi diinjak, di situ langit dijunjung.

Spoiler for about us

Yayasan Turangga Seta
www.lakubecik.org
www.terrajawa.com

matangyan mring Hyang Suksma, tan samar pamoring Suksma,
wit sastra tan ana muni, kang sastra cetha lire sampun anungil
tan samar mring laku jantraning bawana
prabuanom - 04/12/2010 05:06 PM
#3

turangga seta yg membuat pdf tentang candi etho berisi patung dr sumeria, kemudian candi penataran adalah berisi relief peperangan jawa dan banyak bangsa diluar jawa kah?
beberapa sudah ada sanggahan di tread lain. tp sebaiknya dilanjut saja dahulu \)
silaent - 04/12/2010 05:17 PM
#4

Kita berdiskusi untuk mencari kebenaran gan...
Hanya segelintir orang yang diberikan karunia untuk mengetahui kebenaran itu sendiri.
Mari bersama-sama kita mencarinya dengan menunjukkan bukti-bukti yang ada.
Relief-relief yang berada di candi2 tersebut adalah suatu bukti2 kebenaran yang untuk mengungkapnya diperlukan kajian dan tuntunan.

ilovekaskus
iloveindonesia
zeth - 04/12/2010 05:43 PM
#5

Menyimak dengan seksama
prabuanom - 04/12/2010 05:48 PM
#6

Quote:
Original Posted By silaent
Kita berdiskusi untuk mencari kebenaran gan...
Hanya segelintir orang yang diberikan karunia untuk mengetahui kebenaran itu sendiri.
Mari bersama-sama kita mencarinya dengan menunjukkan bukti-bukti yang ada.
Relief-relief yang berada di candi2 tersebut adalah suatu bukti2 kebenaran yang untuk mengungkapnya diperlukan kajian dan tuntunan.

ilovekaskus
iloveindonesia


sudah dibaca sanggahan yg pernah diberikan dengan link yg saya sampaikan ditread candi penataran?
https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=4030523&page=11
prabuanom - 04/12/2010 05:53 PM
#7

sebaiknya sambil membicarakan juga dengan makna makna secara arkeologis gan, dimana ternyata relief itu punya makna seperti dalam kakimpoi. memang menjadi pertanyaan kenapa digambarkan seperti itu. tp kalo ceritanya adalah cerita kakimpoi, maka apakah bener bahwa itu maknanya adalah penyerangan ke suku maya?pada awalnya saya juga mengikuti dengan seneng pembahasan dr turangga seta. tp ketika terahir ada berbagai macam penyelewengan seperti borobudur adalah sulaiman saya jd berpikir ulang. kayanya perlu di padukan antara data turangga seta dengan data arkeologis. seperti gambar yg bersorban katanya adalah orang timur tengah, ternyata itu adalah gambar arjuna yg sedang bertapa. jd ya entahlah....masih perlu croscek dr dua keilmuan deh biar tercipta keyakinan.
zeth - 04/12/2010 07:09 PM
#8

Menurut saya, TS telah mencampur adukkan sejarah menjadi 1 teori

Kata Nusantara itu baru ada dalam sumpah palapanya Gajah Mada, sedangkan masa2 sebelumnya masih di sebut"dwipa" seperti Jawa Dwipa, Swarna Dwipa,dll

bisa dilihat disini

"Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). "

Mengenai Adipati;

Jabatan adipati mulai diketahui dipakai semenjak periode Islam dalam sejarah raja-raja di Jawa. Jabatan ini tampaknya dipakai untuk menggantikan sebutan "bhre" yang lebih dahulu dipakai dalam periode Buddha-Hindu. Adipati berbeda dengan bupati terutama dilihat dari kepentingan wilayah, luas wilayah, dan alasan strategi politik. Adipati dianggap memiliki kekuasaan lebih tinggi daripada bupati. Suatu kadipaten dapat memiliki beberapa kabupaten.
Setelah terpecahnya wangsa Mataram, wilayah Kasunanan Surakarta harus menyerahkan hampir separuh wilayahnya kepada Keadipatian (Kadipaten)

Sedangkan Ronggowarsito, hanya membabar ulang tentang ramalan dari Joyoboyo, Ronggowarsito bisa menyelam lebih dalam daripada sastrawan2 kraton lainnya, karena beliau menikah dengan putri Trah Kediri.
silaent - 04/12/2010 07:23 PM
#9

untuk kakimpoi2 itu buatan siapa gan?
karena banyak cerita2 sejarah kita sudah di putarbalikkan oleh Belanda, dimudakan 200-700 tahun.
sulaiman = borobudur??
ada di file/thread yg mana itu gan?
Perlahan2 nanti akan sya buka data2 penelitian lapangan oleh Yayasan Turangga Seta.
mari kita bahas dan belajar bersama2 menggunakan kearifan lokal yang kita punya...
zeth - 04/12/2010 07:34 PM
#10

Quote:
Original Posted By silaent
untuk kakimpoi2 itu buatan siapa gan?
karena banyak cerita2 sejarah kita sudah di putarbalikkan oleh Belanda, dimudakan 200-700 tahun.
sulaiman = borobudur??
ada di file/thread yg mana itu gan?
Perlahan2 nanti akan sya buka data2 penelitian lapangan oleh Yayasan Turangga Seta.
mari kita bahas dan belajar bersama2 menggunakan kearifan lokal yang kita punya...



Agan TS apakah pernah ke Belanda? Kalau pernah kesana agan TS akan melihat dengan bangga, peninggalan2 sejarah yang berupa arca2, lontar2 dan naskah2 kuno dipajang dengan mewah di museum2 (belanda banyak museum dgn thema Nusantara).

Bahkan di Kantor Arsip Nasional Belanda, banyak tersimpan naskah2 Nusantara.

Kalau memang Belanda memutar balikkan sejarah Indonesia..kenapa malah sekarang justru di pajang?..dan kalau agan TS bisa dapat surat dari instansi2 indonesia (dari universitas untuk tujuan skripsi,misalnya) agan bakal di buatkan copy an nya.

Kalau saya jadi belanda yg berniat memutar balikkan fakta..mendingan saya musnahkan saja semua yg berbau indonesia, agar nantinya tidak menjadi masalah...logis,kan?
Tenji_no_Ichi - 04/12/2010 08:15 PM
#11

silakan dibabar dulu paparannya, nanti kalo sudah saatnya diskusi, kita masukkan argumen & bahan2 penyanggah & penguat masing2.


Yg penting adalah "Be Gentle" jgn kabur kalo seandainya argumen yg dipaparkan kurang kuat & dapat dimentahkan seperti yg sudah2... shakehand
roni7704 - 04/12/2010 09:14 PM
#12

Yang ini nanti hasile kayak yang sudah2 gak ya?
Hit and run.
Kok polanya sama.
newyorkarto - 04/12/2010 10:34 PM
#13

ijin menyimak masbro....coffee:linux2:
andrea7 - 04/12/2010 10:53 PM
#14

Quote:
Original Posted By newyorkarto
ijin menyimak masbro....coffee:linux2:


geser sithik Mas.., tak melu lungguh.. malu: linux2:

wkwkwkwkwk..
andrea7 - 04/12/2010 11:26 PM
#15

Quote:
Original Posted By zeth
Menurut saya, TS telah mencampur adukkan sejarah menjadi 1 teori

Kata Nusantara itu baru ada dalam sumpah palapanya Gajah Mada, sedangkan masa2 sebelumnya masih di sebut"dwipa" seperti Jawa Dwipa, Swarna Dwipa,dll

bisa dilihat disini

"Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). "

Mengenai Adipati;

Jabatan adipati mulai diketahui dipakai semenjak periode Islam dalam sejarah raja-raja di Jawa. Jabatan ini tampaknya dipakai untuk menggantikan sebutan "bhre" yang lebih dahulu dipakai dalam periode Buddha-Hindu. Adipati berbeda dengan bupati terutama dilihat dari kepentingan wilayah, luas wilayah, dan alasan strategi politik. Adipati dianggap memiliki kekuasaan lebih tinggi daripada bupati. Suatu kadipaten dapat memiliki beberapa kabupaten.
Setelah terpecahnya wangsa Mataram, wilayah Kasunanan Surakarta harus menyerahkan hampir separuh wilayahnya kepada Keadipatian (Kadipaten)

Sedangkan Ronggowarsito, hanya membabar ulang tentang ramalan dari Joyoboyo, Ronggowarsito bisa menyelam lebih dalam daripada sastrawan2 kraton lainnya, karena beliau menikah dengan putri Trah Kediri.


soal pembagian jaman-jaman (yang kali-kali) ada nggak Mbah Zeth yang disebut di naskah-naskah di Londo sana, atau sumber-sumber lain? malu:

nuwun.. Peace:
zeth - 04/12/2010 11:52 PM
#16

Quote:
Original Posted By andrea7
soal pembagian jaman-jaman (yang kali-kali) ada nggak Mbah Zeth yang disebut di naskah-naskah di Londo sana, atau sumber-sumber lain? malu:

nuwun.. Peace:


Menurut Sri Adji Djojobojo, pembagian jaman tidaklah sebanyak itu. Itu lumrah, karena oleh sastrawan2 keraton di jaman Mataram Islam "Jangka Jayabaja" telah di gubah.

Menurut buku aslinya, pembagian jaman hanya;

1.Sidi Soworo (bhs.arabnya: zaman Awal)
dari tahun jawa 1 - 378. Bangsa Jawa hanya menyembah pada Gusti
Di jaman ini, pada tahun ke 36 Nabi Josono wafat.

2.Sidi Tetekan (zaman kedatangan)
dari tahun jawa 379 - 6435 (2010 masehi).
Pada tahun jawa 4046, datang unsur2 Hindu dari India (yg dikenal sbg jaman Ajisaka).
Kemudian setelah tahun 4425 (tahun 1 masehi), dimulailah perlombaan penyebaran agama Katholik mulai memasuki Jawa yang dibawa oleh orang2 Portugis. Kemudian agama Prostestan yang dibawa Belanda, dan terakhir adalah berkembangnya dengan pesat agama islam.
cRheEpiEex321 - 05/12/2010 12:04 AM
#17

Quote:
Original Posted By zeth
Menyimak dengan seksama


Quote:
Original Posted By newyorkarto
ijin menyimak masbro....coffee:linux2:


Quote:
Original Posted By andrea7
geser sithik Mas.., tak melu lungguh.. malu: linux2:

wkwkwkwkwk..


ikut menyimak pembabarann selanjutnya poro sedherek........ \)
saya gelar tiker dipojok aja..... D
ngacir:........... linux2:
gawe kopi sek...... coffee: coffee: coffee: coffee: coffee: coffee: coffee:
andrea7 - 05/12/2010 02:59 AM
#18

Mbak / Mas TS e, ndi yoo.. hammer: linux2:
silaent - 05/12/2010 03:31 AM
#19

Penelitian yang dilakukan oleh pihak asing terutama Belanda terlalu cepat dalam mengambil kesimpulan.
Hal ini berbahaya nya karena apabila kesimpulan tsb diakui dan telah menjadi teori, diperlukan kerja keras dan rumit sekali untuk mengubahnya.
Orang-orang Belanda tak mengerti tentang kearifan lokal kita terutama hal2 yang berkaitan dengan spiritual bangsa ini. Yang ada malah mereka mencari2, dan mengaitkannya sesuai dengan kesimpulan mereka sendiri.

Sialnya bagi kita, bangsa ini mempunyai arkeolog yang tak mau belajar mencari kebenaran itu dari bangsa kita sendiri dan penyakit itu menular secara turun temurun ke arkeolog lain gan.
Dan lebih sial lagi banyak sekali kenyataan2 sejarah kita yang di megalitikkan, dimitoskan, dianggap tahayul....

Banyak alasan Belanda untuk memutarbalikkan sejarah kita gan...
pada saat Majapahit berjaya, tak ada bangsa asing yg berani masuk ke wilayah kita, karena apa????
Bagaimana caranya spya bangsa ini tak kembali ke jaman kejayaannya???
Yang paling nyata adalah ulah Belanda yang dengan sengaja mengubah pakem keraton.
Contoh lain adalah dari penggunaan aksara dalam naskah-naskah yang dimiliki oleh Belanda gan...
Sumpah Amukti Palapa yang katanya sang Maha Patih tak akan memakan buah kelapa...
yang dimaksud eyang Gajah Mada sendiri adalah dia tak akan menyentuh wanita...
yang seperti2 itulah gan....D

untuk hit n run, saya ga bakal segoblok itulah gan...think:
saya ingin mengajak bangsa saya untuk pinter bareng dan tau bareng, spya kita bisa tau dan belajar dari poro luhur untuk mengembalikan kejayaan yang seharusnya milik bangsa ini....

iloveindonesiailoveindonesia
andrea7 - 05/12/2010 03:51 AM
#20

Quote:
Original Posted By silaent
Penelitian yang dilakukan oleh pihak asing terutama Belanda terlalu cepat dalam mengambil kesimpulan.
Hal ini berbahaya nya karena apabila kesimpulan tsb diakui dan telah menjadi teori, diperlukan kerja keras dan rumit sekali untuk mengubahnya.
Orang-orang Belanda tak mengerti tentang kearifan lokal kita terutama hal2 yang berkaitan dengan spiritual bangsa ini. Yang ada malah mereka mencari2, dan mengaitkannya sesuai dengan kesimpulan mereka sendiri.

Sialnya bagi kita, bangsa ini mempunyai arkeolog yang tak mau belajar mencari kebenaran itu dari bangsa kita sendiri dan penyakit itu menular secara turun temurun ke arkeolog lain gan.
Dan lebih sial lagi banyak sekali kenyataan2 sejarah kita yang di megalitikkan, dimitoskan, dianggap tahayul....

Banyak alasan Belanda untuk memutarbalikkan sejarah kita gan...
pada saat Majapahit berjaya, tak ada bangsa asing yg berani masuk ke wilayah kita, karena apa????
Bagaimana caranya spya bangsa ini tak kembali ke jaman kejayaannya???
Yang paling nyata adalah ulah Belanda yang dengan sengaja mengubah pakem keraton.
Contoh lain adalah dari penggunaan aksara dalam naskah-naskah yang dimiliki oleh Belanda gan...
Sumpah Amukti Palapa yang katanya sang Maha Patih tak akan memakan buah kelapa...
yang dimaksud eyang Gajah Mada sendiri adalah dia tak akan menyentuh wanita...
yang seperti2 itulah gan....D

untuk hit n run, saya ga bakal segoblok itulah gan...think:
saya ingin mengajak bangsa saya untuk pinter bareng dan tau bareng, spya kita bisa tau dan belajar dari poro luhur untuk mengembalikan kejayaan yang seharusnya milik bangsa ini....

iloveindonesiailoveindonesia


yang saya BOLD itu, koq malah baru tau ya saya.. Peace:

hehehe.., wah.. saya malah senang kalau ada yang mau menelaah sejarah Nusantara.., salut untuk semangatnya.. \)

Mari belajar sama-sama, saling berbagi pengetahuan.., mau Belanda atau lokal punya sama-sama menyediakan informasi untuk ditelaah..

Kitapun sama lho.., tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan.. Peace:

Oh iya.., di Post ke #10 ada bahan pembelajaran dari Mbah Zeth.., juga link dari Mas Prabu, dan perbedaan pembagian zaman.., monggo ditanggapi.. supaya ada komunikasi dua arah.. \)




Kok dadi koyo moderator yo ?? hammer:
Eling lan waspodo
Page 1 of 24 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > SEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)