Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > SEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)
Total Views: 20692 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 6 of 24 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›

andrea7 - 14/12/2010 04:34 AM
#101

see.. ?? always at this time..

Maaf teman-teman, saya pecah-pecah, biar ngga dicampur aduk dan meminimalkan pertanyaan dan pembahasan yang terlewat. Peace:

o
andrea7 - 14/12/2010 04:59 AM
#102
Bag 1 : rontal vs lontar
Quote:
Original Posted By silaent
Yang penting bukan siapa yang nulis gan... kebenaran dan hal2 otentik bisa berasal dari siapa saja. Sumber dari wiki memang tidak selalu benar dan bisa di percaya. Tpi gmna kita bisa tau klo tak di uji dan digali lebih dalam lgi.* 1.


1. Kalau memang belum terbukti, kenapa sudah Anda ajukan sebagai materi pembenar atas pertanyaan di sini? Bukankah Mas Zeth dapat menemukan sumber lain yang lebih otentik? Kenapa Anda tidak?

2. Pertanyaan saya masih bisa dibaca di depan , yang saya tanyakan adalah : yang benar RONTAL atau LONTAR?
Apakah jawaban yang Anda sampaikan ini sesuai dengan pertanyaan saya?
Quote:
Original Posted By silaent
...
Yang ingin saya jelaskan disini adalah istilah atau rontal itu sendiri adalah apa.
Terlepas itu berubah menjadi lontar, yang artinya disini telah terjadi perubahan makna, yang membuat orang2 sekarang berpikir bahwa daun yang digunakan adalah daun dari sebuah pohon yang namanya lontar* 2 .Peace:

Anda lupa pernah menulis ini :
Quote:
Original Posted By silaent
...
yang benar ya rontal gan...
ron = daun
tal = sejenis siwalan
daun seperti inilah yang digunakan pada jaman2 eyang kita dulu, jadi bukan daun lontar gann...shakehand2

dan berikut ini informasi beserta sumbernya yang disampaikan oleh Mas Zeth :
Quote:
Original Posted By zeth
Istilah lontar dan rontal di Bali umumnya disamakan. Lontar adalah bentuk metatesis dari kata rontal. Kata rontal terdiri dari dua patah kata, yaitu ron dan tal. Kata ron dan tal itu termasuk bahasa Jawa Kuna yang diperkirakan sudah ada sebelum jaman Raja Balitung, awal abad ke-10.
Ron artinya daun, dan tal artinya pohon. Kata rontal dan lontar itu sudah menjadi perbendaharaan bahasa Indonesia umum (Suwidja, 1979:1).

Dengan begitu, sebutan daun rontal dipakai untuk menyebut daun dari pihon lontar yang sebelum dipergunakan sebagai bahan tulis. Sedang setelah ia dipakai sebagai bahan tulis seperti tulisan naskah kak4win, kidung, dan gegambaran, maka ia disebut lontar. Maka muncul pula nama atau istilah yang memakai kata “Pustaka Lontar” maupun “budaya lontar”.


Saya minta anda berani untuk bersikap fair di sini, katakan benar bila benar, dan salah bila salah.
Seperti yang pernah anda tulis sendiri, sbb :
Quote:
Original Posted By silaent

berdiskusi secara fair dan jernih, jdi tak ada rasa marah untuk dikritisi....

kecuali anda ingin ngotot dan menjadi seperti kisah mahasiswa yang anda sebutkan di postingan anda yang lampau..
andrea7 - 14/12/2010 05:23 AM
#103
Bag. 2 : Pembagian Jaman
Pertanyaan awal saya dapat dilihat kembali di sini :

Yang saya tanyakan adalah, sumber pembagian jaman yang TS sampaikan berasal dari mana?

Quote:
Original Posted By silaent

Saya membicarakan hal2 ini pastinya punya literatur gan, mungkin yang tidak agan pahami adalah arti dari "metode tidak konvensional" yang saya sampaikan.
Semuanya literatur asli gan, hanya bedanya literatur saya berasal dari para leluhur yang boleh dikatakan yang mempunyai jagad arcapada ini.
Sedangkan literatur agan2 berasal dari manusia2 bodoh yang berpikir bisa menenggelamkan keluhuran Nusantara ini.


Di sini saya perjelas maksud pertanyaan saya:

[*]Apa nama literatur yang Anda gunakan untuk menjabarkan pembagian jaman tersebut? tolong disebutkan secara lengkap.
[*]Apa yang membuktikan bahwa literatur yang Anda gunakan itu merupakan literatur asli dan benar?
[*]Baik, kalau begitu silahkan Anda jelaskan definisi dari metode "tidak konvensional"
[*]Bagaimana proses metode "tidak konvensional" itu dilakukan ?
[*]Bagaimana Anda tahu yang Anda temui "benar-benar" leluhur? Karena kalau memang leluhur yang Anda temui, seharusnya Anda juga diajarkan untuk ora rumangsa bisa nanging bisa-a rumangsa.

.
andrea7 - 14/12/2010 05:43 AM
#104
Bag 3. : daftar yang belum dijawab/ditanggapi
Quote:
Original Posted By silaent
..
Demikian penjelasan sementara dari saya, untuk yang belum saya tanggapin mohon saya diberikan saya waktu lagi besok2 gan....


Baik, berikut saya sampaikan kembali pertanyaan saya yang belum dijawab atau belum ditanggapi :

Quote:
Original Posted By andrea7
Pertanyaan berikut :
Bagian 1

[*]bisa disebutkan contoh dan isi dari data -data blue print yang dimiliki Belanda yang sudah TS dapatkan?
[*]bisa disebutkan contoh dan isi dari data -data data lapangan yang sudah TS dapatkan?
[*]Penjabaran berdasarkan contoh tersebut yang TS katakan sebagai hal-hal yang bertolak belakang seperti apakah penjelasannya?




Mengenai data dan bukti empiris akan saya tanggapi setelah Anda mendefinisikan dan menjabarkan "metode tidak konvensional"
coffin - 14/12/2010 05:52 AM
#105

kalau belanda jaman dulu bisa sehebat ini melakukan perubahan sejarah dan kebudayaan indonesia,kok jaman sekarang ga terlihat seperti itu yaSEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)
coffin - 14/12/2010 06:19 AM
#106

ngomong ngomong belanda sampai merubah gaya seni pahat itu tujuannya buat apa ya?SEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)
andrea7 - 14/12/2010 06:49 AM
#107

Quote:
Original Posted By coffin
ngomong ngomong belanda sampai merubah gaya seni pahat itu tujuannya buat apa ya?SEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)


mengubah Mas Coffin, bukan merubah.. kata dasarnya "ubah", bukan "rubah" Peace:

wkwkwkw.. OOT ya.., maap.. hammer:
coffin - 14/12/2010 06:52 AM
#108

Quote:
Original Posted By andrea7


mengubah Mas Coffin, bukan merubah.. kata dasarnya "ubah", bukan "rubah" Peace:

wkwkwkw.. OOT ya.., maap.. hammer:


ya pokoknya maksudnya itulah wekekekSEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)
ccck - 14/12/2010 08:29 AM
#109

menunggu aja klarifikasi lanjutan plus thread yang dijanjikan, banyak hal yang ingin ditanyakan D
ReDSkins - 14/12/2010 08:30 AM
#110

muantaaaabhh :thumbup

zaman Narnia.. D

manusia bisa dialog dengan tumbuhan, hewan, air, dll . ngakaks
zeth - 14/12/2010 10:06 AM
#111

Quote:
Original Posted By silaent
Yang penting bukan siapa yang nulis gan... kebenaran dan hal2 otentik bisa berasal dari siapa saja. Sumber dari wiki memang tidak selalu benar dan bisa di percaya. Tpi gmna kita bisa tau klo tak di uji dan digali lebih dalam lgi.
-------------------------------------------------------------------------------
Saya yg bilang gan...Peace:hammers
Kan sudah saya katakan sebelumnya banyak yang telah diputarbalikkan oleh Belanda. Mau dari sejuta buku yang menjadi sumber agan zeth, tpi klo bermuara semuanya ke hal2 yg tidak otentik yg berasal dari pihak yang ingin melepas Nusantara dari budaya dan pengetahuan adiluhung nya , tetap saja akan menjadi hal yang konyol untuk dipelajari.


Disini yang justru kelihatan adalah kekonyolan anda,gan.
Umpama yang nulis di WIKI itu orang gila atau orang yang ingin memutar balikkan fakta sejarah? Apa itu anda percaya juga?
Nah, anda sendiri mengatakan sumbernya tidak selalu benar..kenapa diteruskan menggalinya?
Sedangkan semua sumber dari Belanda anda tuduh tidak benar. Bukankah itu sebuah pemikiran yang picik,gan?

Quote:
Original Posted By silaent
Bahasa nya tetap sansekerta, tetapi aksara tulisannya (pallawa nya) telah banyak berubah menurut periode zamannya masing2.


Kita sudah lebih dari 65 tahun lepas dari penjajahan, dan selama ini ada ribuan sarjana2 lulusan sejarah , juga pakar2 sejarah senior yang juga mempelajari huruf2 sanskerta dalam hal ini juga huruf Pallawa.
Selama ini mereka tidak ada yang menyatakan bahwa semua penemuan2 dari sejarawan eropa itu ternyata di belokkan untuk membodohkan bangsa kita.
Pernyataan ini justru datangnya dari anda yang notabene adalah seorang petani (ini pengakuan anda sendiri,lho)
Ini yang menurut saya sangat konyol,gan




Quote:
Original Posted By silaent
Saya membicarakan hal2 ini pastinya punya literatur gan, mungkin yang tidak agan pahami adalah arti dari "metode tidak konvensional" yang saya sampaikan.
Semuanya literatur asli gan, hanya bedanya literatur saya berasal dari para leluhur yang boleh dikatakan yang mempunyai jagad arcapada ini.
Sedangkan literatur agan2 berasal dari manusia2 bodoh yang berpikir bisa menenggelamkan keluhuran Nusantara ini.
Tolong dipahami gan sekali lagi soal "metode tidak konvensional" .
Karena dengan metode itu di dapatlah bukti2 empiris (yg artinya empiris disini sesuai KBBI seperti anda sampaikan).


Sama,gan..saya juga mempunya literatur asli buatan leluhur orang jawa..jadi masukan saya bukan hanya dari manusia2 bodoh yang berpikir bisa menenggelamkan keluhuran Nusantara ini.
Anehnya, literatur asli jawa saya tidak ada pendapat seperti yang agan kemukakan didalam postingan2 agan ini.

Bukti empiris yang bagaimana? Seperti dengan ”metode tidak konvensional” seperti yang anda kemukakan di bawah ini?

Quote:
Original Posted By silaent

Tapi dengan cara kami yang sangat "tidak konvensional" tersebut terus menuntun kami untuk mendapatkan data2 dan bukti empiris yang lain.
Dan yang lebih jauh lagi kami berhasil menghentikan luapan lumpur Lapindo dengan cara yang paling baik (tetapi apa daya kami diusir dan tak bisa menyelesaikan penanggulangan lumpur tersebut


Terlihat ketidak jelasan dari pernyataan anda yang saya bold itu. Kalau berhasil, kenapa diusir,Gan? Apa yang mengusir anda juga belanda yang ingin Sidoarjo tetap tenggelam?
ngakak ngakak


Quote:
Original Posted By silaent

Eyang-eyang kita bukan golongan manusia biasa gan. Beliau2 tak akan membiarkan bangsa bekas budaknya ingin memutarbalikkan keadaan, dan melepas rahasia adiluhung tersebut diketahui bukan oleh para putra wayah nya.
Belanda tak hanya ingin memiliki Nusantara ini, yang dia perlukan lebih lagi adalah rahasia adiluhung tersebut.
Dan kasihan sekali mereka yahhh... tak memiliki ilmu terawangan seperti leluhur bangsa ini...ngakaksngakaks


Eyang-eyang saya hanya petani sederhana,gan..berangkat subuh pulang sore bawa pacul, dan baunya pupuk. Pengetahuan yg mereka kuasai paling hanya ilmu “Pranata Mangsa”. Mereka tau kapan waktunya ternak2nya di kimpoikan,tau kapan nanam tumbuhan,dsb.
Dan saya bangga atas kesederhanaan mereka..karena mereka tau dimana tempat mereka. Dibandingkan dgn jaman sekarang ini PRT aja punya Face Book.
ngakak

Belanda memang gak punya ilmu trawangan..untunglah. Tanpa itupun bangsa kita sudah terjajah lama. Bahkan setelah 65 tahunan lepas dari penjajah..bangsa kitapun masih terjajah oleh kebodohan.
Yang paling menyedihkan adalah, membodohi dirinya sendiri.

Lihat saja mereka2 yang tidak punya ilmu trawangan, tapi bisa mengeruk kekayaan tanah “Papua”, dan kekayaan2 lainnya di lain tempat.... sedangkan yang punya ilmu trawangan masih berkutat dengan “ilusi” nya sendiri.

ngakak ngakak

Sebaiknya gunakan saja Ilmu Trawangan dan methode yang tidak konvensional tersebut untuk memajukan, dan mendidik bangsa ini agar lebih maju dan sejahtera.
prabuanom - 14/12/2010 11:45 AM
#112

saya ingin bertanya kok malah ga ada orangnya, yg ada malah tsnya yg lari lari

pernyataan turangga seta menyatakan bahwa penataran tak ada sama sekali relief mahabharata dan ramayana. apakah itu benar?sambil menyitir tentang ketakmampuan orang sekarang membaca huruf palawa. hem saya sendiri ga ngerti deh, yg diagung agungkan hanya karena mereka bisa menemukan bangunan terpendam dan piramid dimana mana. entahlah saya bingung


ya saya sebenernya "pengen" percaya, tp karena metode turangga seta sendiri yg ga jelas dan ga mau diskusi.padahal sudah saya undang disini. apalagi pernyataan mereka yg seolah lebih ngerti akan arkeologis tp ga mau membabarkan dan debat dengan mereka yg mengerti akan arkeologis itu sendiri, ya terus terang saya kecewa banget. \)

ya kalo begitu silakan hiduplah, kalo memang bener itu toh piramid terus mau apa?apa mau digunakan kelompok mereka sendiri mengeruk kejayaan dan kebahagiaan serta kepuasan bhatiniyah kelompok mereka sendiri yg ekslusip?ya silakan saja D
prabuanom - 14/12/2010 11:47 AM
#113

Quote:
Original Posted By andrea7
Mungkin sedang dibaca-baca dulu dari awal, sambil menyiapkan materi klarifikasinya dulu Mas Prabu.., karena sepertinya sudah cukup lebar cakupan bahasan-nya.
Kita tunggu saja.. \)


ya pokoke kecewa sajalah saya hehehehe D
zeth - 14/12/2010 11:55 AM
#114

Quote:
Original Posted By coffin
kalau belanda jaman dulu bisa sehebat ini melakukan perubahan sejarah dan kebudayaan indonesia,kok jaman sekarang ga terlihat seperti itu yaSEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)


Quote:
Original Posted By coffin
ngomong ngomong belanda sampai merubah gaya seni pahat itu tujuannya buat apa ya?SEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)


Sebagai contoh, kita ambil dari salah satu sejarawan eropa;

Hendrik Kern was born to Dutch parents in the Central-Javanese town of Purworejo in the Dutch East Indies, but when he was six his family repatriated to the Netherlands. When he entered grammar school, he added the extra-curricular subjects of English and Italian to his studies.
In 1850 he went up to Utrecht University to study Letters, but in 1851 moved to Leiden University to avail himself of the opportunity to read Sanskrit with Professor A. Rutgers. After obtaining his Doctor's Degree in 1855, he moved to Berlin, where he continued his Sanskrit studies as a pupil of Albrecht Weber, and also took up Germanic and Slavonic languages.
On his return to the Netherlands in 1858, Dr Kern accepted a post as a lecturer of Greek at Maastricht. In 1863 he was offered a Professorship in Benares, India where he taught Sanskrit at Brahmana and Queen's Colleges until 1865, when he was offered the Chair of Sanskrit at Leiden University. He remained there until his retirement in 1903, when he moved to the city of Utrecht.
Professor Kern continued work after his retirement, but when in 1916 his wife died, he was heart-broken and out-lived her by less than a year.

Work
Together with Herman Neubronner van der Tuuk, Kern is regarded as one of the founding fathers of Oriental Studies in the Netherlands. His interest in languages was great, as witness his decision to take up English and Italian while still a secondary school pupil. In addition, he displayed an extraordinary ability to study, and to master, a wide variety of languages.
At first, his studies were restricted (if "restricted" is indeed the correct word) to Indo-European languages, ranging from the Germanic sub-group to Sanskrit. His thesis, entitled Specimen historicum exhibens scriptores Graecos de rebus Persicis Achaemenidarum monumentis collatos (1855) broadened the field to Persian, showing that inscriptions in that language could now be used to extend our knowledge of Ancient Persia. While in Benares, he applied himself to the study of Dravidian languages as well as picking up some Arabic and Hebrew, but also learnt sufficient Hungarian to be able to read novels in that non-Indo-European language within a year. His studies also included the Malay languages.
In 1874, he published an edition of the astronomer Āryabhata's work, thus putting out the first publication in nagara script in the Netherlands.
Apart from promoting the study of Sanskrit, Professor Kern laid the foundation for Austronesian studies by Dutch scholars. It is as a comparativist and a philologist that he gained his great reputation. In 1879 he worked on Cambodian inscriptions, then turned his attention to Kawi (or Old-Javanese) and in 1886 showed that Fijian and Polynesian were cognate languages. He was the first scholar to propose that the Oceanic languages constituted a sub-group of Austronesian (or Malayo-Polynesian, as the language family was then called), and in 1906 he published a study of Aneityum and Erromanga, two languages in the Vanuatu branch of the Oceanic sub-group.
His interests were not restricted to pure linguistics. Thus, in 1889 he made use of the "Wörter und Sachen" method (which compares designations for plants, animals and objects in cognate languages) to ascertain a putative dispersal centre for the "Malayo-Polynesian" peoples.
Kern's versatility also showed itself in his cultural studies. His History of Buddhism in India (1881-83), displays a thorough command of its subject. However, the author has been criticised for an incomplete understanding of Eastern astrology and mysticism, which may in part have been due to his positivist approach. Professor Kern has also been said to have borne a deep distrust of his contemporary Neogrammarians.
He published extensively, and his influence on subsequent linguists, both in the Netherlands and elsewhere, has been profound.

Dilihat dari profesionalitas dalam kerja nya, dia menterjemahkan di berbagai negara,deh.
Dan tidak ada tindakan dari pemerintah (jaman penjajahan) yang meredam penemuan2nya untuk kepentingan politik.

Dan kalau umpama, saya jadi penjajah..barang2 temuan2 tersebut akan saya musnahkan,daripada jadi masalah di masa mendatang..bukannya dibelokkan dan disimpan..cari penyakit aja.
Apalagi seperti memberi ijin pada H. Maclaine Pont untuk mencangkuli tanah di trowulan untuk menemukan peninggalan2 Majapahit.

Lihat saja Hitler, hampir buku2 sejarah,budaya dan ilmu pengetahuan penting lain bangsa Yahudi dimusnahkan.

Terus terang, alasan bahwa penjajah yang merombak naskah tersebut, untuk meredam semangat bangsa kita bagi saya pribadi kurang tepat.
Karena, kok hanya postingan2 disini saja yang ribut bahwa penjajah merombak sejarah kita. Kenapa Negara-negara bekas jajahan yang lain tidak meributkannya??
mwirayudha - 14/12/2010 02:08 PM
#115

Lanjut gan ...
oriesama - 14/12/2010 02:20 PM
#116

Quote:
Original Posted By zeth

...
Terus terang, alasan bahwa penjajah yang merombak naskah tersebut, untuk meredam semangat bangsa kita bagi saya pribadi kurang tepat.
Karena, kok hanya postingan2 disini saja yang ribut bahwa penjajah merombak sejarah kita. Kenapa Negara-negara bekas jajahan yang lain tidak meributkannya??


nunggu respond dari ts linux2: sambil minum coffee:
Fransdaprof - 14/12/2010 07:36 PM
#117

Sejarah itu benar menurut mereka sepertinya kalau sudah sesuai dengan pemahaman mereka.

Kalau memang pencarian kebenarannya belum final, ya pelajari dulu sana sampai selesai.

Kalau sudah, ya publikasikan, dan kalau bisa di mimbar ilmiah, jangan dimimbar umum.
coffin - 15/12/2010 07:29 AM
#118

Quote:
Original Posted By zeth




Sebagai contoh, kita ambil dari salah satu sejarawan eropa;

Hendrik Kern was born to Dutch parents in the Central-Javanese town of Purworejo in the Dutch East Indies, but when he was six his family repatriated to the Netherlands. When he entered grammar school, he added the extra-curricular subjects of English and Italian to his studies.
In 1850 he went up to Utrecht University to study Letters, but in 1851 moved to Leiden University to avail himself of the opportunity to read Sanskrit with Professor A. Rutgers. After obtaining his Doctor's Degree in 1855, he moved to Berlin, where he continued his Sanskrit studies as a pupil of Albrecht Weber, and also took up Germanic and Slavonic languages.
On his return to the Netherlands in 1858, Dr Kern accepted a post as a lecturer of Greek at Maastricht. In 1863 he was offered a Professorship in Benares, India where he taught Sanskrit at Brahmana and Queen's Colleges until 1865, when he was offered the Chair of Sanskrit at Leiden University. He remained there until his retirement in 1903, when he moved to the city of Utrecht.
Professor Kern continued work after his retirement, but when in 1916 his wife died, he was heart-broken and out-lived her by less than a year.

Work
Together with Herman Neubronner van der Tuuk, Kern is regarded as one of the founding fathers of Oriental Studies in the Netherlands. His interest in languages was great, as witness his decision to take up English and Italian while still a secondary school pupil. In addition, he displayed an extraordinary ability to study, and to master, a wide variety of languages.
At first, his studies were restricted (if "restricted" is indeed the correct word) to Indo-European languages, ranging from the Germanic sub-group to Sanskrit. His thesis, entitled Specimen historicum exhibens scriptores Graecos de rebus Persicis Achaemenidarum monumentis collatos (1855) broadened the field to Persian, showing that inscriptions in that language could now be used to extend our knowledge of Ancient Persia. While in Benares, he applied himself to the study of Dravidian languages as well as picking up some Arabic and Hebrew, but also learnt sufficient Hungarian to be able to read novels in that non-Indo-European language within a year. His studies also included the Malay languages.
In 1874, he published an edition of the astronomer ?ryabhata's work, thus putting out the first publication in nagara script in the Netherlands.
Apart from promoting the study of Sanskrit, Professor Kern laid the foundation for Austronesian studies by Dutch scholars. It is as a comparativist and a philologist that he gained his great reputation.

Dilihat dari profesionalitas dalam kerja nya, dia menterjemahkan di berbagai negara,deh.
Dan tidak ada tindakan dari pemerintah (jaman penjajahan) yang meredam penemuan2nya untuk kepentingan politik.

Dan kalau umpama, saya jadi penjajah..barang2 temuan2 tersebut akan saya musnahkan,daripada jadi masalah di masa mendatang..bukannya dibelokkan dan disimpan..cari penyakit aja.
Apalagi seperti memberi ijin pada H. Maclaine Pont untuk mencangkuli tanah di trowulan untuk menemukan peninggalan2 Majapahit.

Lihat saja Hitler, hampir buku2 sejarah,budaya dan ilmu pengetahuan penting lain bangsa Yahudi dimusnahkan.

Terus terang, alasan bahwa penjajah yang merombak naskah tersebut, untuk meredam semangat bangsa kita bagi saya pribadi kurang tepat.
Karena, kok hanya postingan2 disini saja yang ribut bahwa penjajah merombak sejarah kita. Kenapa Negara-negara bekas jajahan yang lain tidak meributkannya??


saya kalo emang mau seperti itu juga sama om,yang asli dibuang,dimusnahkan,trus bikin yang baru dengan ciri yang mirip dengan bukti lama,jadi yang udah pernah lihat barang lama ga akan curiga
lha kalau bukti baru ciri ciri umumnya beda dari bukti lama,ya goblok namanyaSEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)
bayusatriyo - 15/12/2010 10:47 AM
#119

Quote:
Original Posted By prabuanom
saya ingin bertanya kok malah ga ada orangnya, yg ada malah tsnya yg lari lari

pernyataan turangga seta menyatakan bahwa penataran tak ada sama sekali relief mahabharata dan ramayana. apakah itu benar?sambil menyitir tentang ketakmampuan orang sekarang membaca huruf palawa. hem saya sendiri ga ngerti deh, yg diagung agungkan hanya karena mereka bisa menemukan bangunan terpendam dan piramid dimana mana. entahlah saya bingung


ya saya sebenernya "pengen" percaya, tp karena metode turangga seta sendiri yg ga jelas dan ga mau diskusi.padahal sudah saya undang disini. apalagi pernyataan mereka yg seolah lebih ngerti akan arkeologis tp ga mau membabarkan dan debat dengan mereka yg mengerti akan arkeologis itu sendiri, ya terus terang saya kecewa banget. \)

ya kalo begitu silakan hiduplah, kalo memang bener itu toh piramid terus mau apa?apa mau digunakan kelompok mereka sendiri mengeruk kejayaan dan kebahagiaan serta kepuasan bhatiniyah kelompok mereka sendiri yg ekslusip?ya silakan saja D







hehehe udh lama g buka kaskus...

SEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)
heheh Anoman Duta.. dalam kakimpoi Ramayana di Penataran

SEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)
kumbokarno gugur,, saat Kumbokarno maju ke medan peperangan di kroyok oleh Bala tentara Wanara...

jdi ya hanya tertawa saja melihat tulisan bahwa dalam Candi Penataran itu nda ada crita Ramayana.. hahah apa lgi yang kata na suku jawa menyerang maya atw ada org besurban dalam relief2 di Penataran.. HUAKAKAKAKAKKAKA cb deh ke Penataran aja di Blitar nda jauh dri kota Blitar na cman 30 mnit..
Sepakat dengan Mas Anom n Mas Zeth.. kiss
Bantarangin - 15/12/2010 11:47 AM
#120

ijin nyimak gan ilovekaskusiloveindonesia
Page 6 of 24 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > SEJARAH PANJANG NUSANTARA (Sebuah Pembenaran)