Minangkabau
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Minangkabau > Informasi Gempa - Tsunami Sumatera Barat
Total Views: 29029 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 60 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

Ces fabregas - 06/01/2011 04:21 PM
#21

rerserved page one dulu \)
sutanz - 06/01/2011 11:29 PM
#22

Update dan berita terbaru dapat dilihat di Page 1...
Aurencz - 06/01/2011 11:37 PM
#23

thk info nyo da o
seblazz - 07/01/2011 02:30 AM
#24

mantappp ..infonya dibutuhkan...

:2thumbup
figureof8 - 07/01/2011 11:55 AM
#25

bisa di share juga info yang lain bang o
sutanz - 07/01/2011 04:50 PM
#26

WASPADA...
Gempa di NAD, 7 Januari 2011 Pukul 10:10:02 WIB kekuatan 5.5 SR Kedalaman laut : 50 km Posisi 4.61 LU 90.46 BT 576 km Barat Daya BANDA ACEH-NAD,
Gempa ini berpotensi untuk merambat ke Sumatera Barat 1-2 hari kedapan ..
Salam Waspada
Informasi Gempa - Tsunami Sumatera Barat
TheJacobson - 08/01/2011 09:13 AM
#27

terus diupdate beritanya \)

biar semua anak rantau di luar sumbar bisa tau kondisi dan perkembangan di kota padang :beer;
sutanz - 08/01/2011 07:11 PM
#28

Quote:
Di Mana Gempa Dahsyat Mentawai Akan Terjadi?
Pakar gempa memprediksi gempa Mentawai bisa terjadi di barat, bawah, dan timur kepulauan.


Gempa dan tsunami yang terjadi di Mentawai pada Senin 25 Oktober 2010 memakan lebih dari 450 korban jiwa. Tapi ternyata gempa itu sama sekali tak berkaitan dengan gempa besar yang telah lama diprediksi oleh para peneliti.
Lalu, di mana kira-kira para pakar memperkirakan gempa besar yang diprediksi bakal bermagnitudo 8,8 SR itu?

Menurut pakar dari Earth Observatory of Singapore yang telah lama meneliti kawasan Mentawai bersama LIPI, Profesor Kerry Edward Sieh, dari data gempa besar di Mentawai pada 1797 dan 1833 yang mereka dapatkan, ternyata hampir seluruh megathrust (sesar naik) antara Pulau Pagai Selatan sampai Pulau Batu belum pernah patah sejak tahun 1797 atau bahkan seratus tahun sebelumnya.

"Ini menyebabkan slip (pergeseran) sejauh 8 hingga 12 meter bisa terjadi pada bagian megathrust itu," kata Sieh kepada VIVAnews.com melalui emailnya.

Data GPS yang mereka miliki, Sieh menambahkan, mengimplikasikan bahwa terjadinya patahan di megathrust itu terjadi sisi samudera megathrust, di bagian bawah, dan di bagian sisi dalam kepulauan itu (yang menghadap ke bagian Sumatera Barat).


Informasi Gempa - Tsunami Sumatera Barat


"Bila ini gempa terjadi dalam satu waktu, maka ukuran gempa bisa mencapai magnitude 8,8 SR," Sieh menambahkan. Sebagai gambaran, gempa 1797 juga diikuti oleh tsunami yang diperkirakan mencapai hingga setidaknya 5 meter di Muara di Padang.

Lalu, seperti apa kerusakan yang bakal ditimbulkan akibat gempa tersebut? Sieh menuturkan, bila pergeseran megathrust hanya terjadi terjadi di bagian barat Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara dan Sipora, maka diperkirakan bakal menimbulkan tsunami yang sangat serius yang bakal melibas Pantai Barat kepulauan itu.

Sementara bila pergeseran hanya terjadi di bagian bawah kepulauan itu, maka akan terjadi kenaikan permukaan pada kepulauan itu setinggi satu atau dua atau tiga meter, seperti yang terjadi pada gempa Nias Maret 2005 dan gempa di Pagai Selatan, pada 2007.



Informasi Gempa - Tsunami Sumatera Barat



Dalam kasus ini, akan sedikit air laut yang digerakkan, namun akan tetap memicu tsunami yang signifikan seperti pada gempa Nias 2005, dan gempa sepanjang Pantai Utara Bengkulu pada 2007.
Bila pergeseran atau slip terjadi di timur Siberut, Sipora dan Pagai Utara, maka air di bagian utara kepulauan itu akan terganggu dan Pantai Barat Sumatra akan terkena tsunami.

Untuk itu, kata Sieh, perlu disiapkan upaya mitigasi yang bervariasi di tiap-tiap daerah, mengingat tsunami yang terjadi baru-baru ini cukup besar.
"Persiapan yang memikirkan jangka yang lebih panjang akan lebih efektif dalam mempertahankan hidup banyak orang serta ketahanan ekonomi masyarakat, ketimbang hanya sekadar sebuah peringatan yanng dikeluarkan beberapa menit sebelum tsunami," katanya.
Bangunan-bangunan di sekitar potensi gempa, menurutnya, musti dibuat lebih tahan gempa. Desa-desa juga harus didesain agar lebih tahan terhadap terjangan tsunami.

Lebih jauh, Direktur Jendral Daerah Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan yang juga pakar pemodelan tsunami, Subandono Diposaptono, mengatakan bahwa mitigasi gempa dan tsunami musti dilakukan secara menyeluruh.

Antara lain dengan menyiapkan pertahanan fisik alami meliputi terumbu karang, bukit-bukt pasir, hutan mengrove dan hutan pantai, maupun pertahanan fisik buatan seperti pemecah ombak, tembok laut, pintu air tanggul, shelter, rumah panggung, atau rumah evakuasi tahan bencana.
Sementara pertahanan non-fisik meliputi pembuatan peta rawan bencana, sistem peringatan dini, relokasi, pengaturan tata ruang, zonasi, tata guna lahan, serta penyadaran dan penyuluhan masyarakat.

• Sumber : VIVAnews
titintanjung - 08/01/2011 09:06 PM
#29

nais inpo bang adek \)
PengumpulDosa - 08/01/2011 10:09 PM
#30

Trimi kasi infonyo daInformasi Gempa - Tsunami Sumatera Barat
sutanz - 08/01/2011 10:19 PM
#31

Quote:
Jangan Remehkan Gempa Kecil,
Gempa 5,0 SR Setara dengan 32 Kiloton TNT!

Jangan Remehkan Gempa Kecil!

Jangan remehkan gempa kecil, itu mungkin pelajaran yang bisa kita petik dari gempa 5 skala Richter di Yogyakarta 21 Agustus 2010.
Akibat gempa yang kekuatannya tak seberapa, sejumlah bangunan rusak, termasuk bagian Keraton Yogyakarta. Tujuh orang dilaporkan luka-luka, tiga di antaranya menderita patah tulang.

Sejarah juga mencatat gempa kecil yang mengakibatkan kerusakan bahkan korban tewas.
Gempa dengan kekuatan 3,4 skala Richter , yang bahkan tak terekam dalam situs US Geological Survey (USGS), terjadi pada Minggu 17 Januari 2010 sore, berpusat di Provinsi Guizhou, 100 kilometer barat daya ibu kota Guiyang.
Gempa itu memicu dua longsor di lokasi berbeda. Saat itu setidaknya menewaskan tujuh orang karena tertimpa batuan besar.

Seperti dimuat Seattle Times, juru bicara Biro Gempa Guizhou, Tian Xian, saat itu satu orang dinyatakan hilang, sembilan luka dengan dua di antaranya menderita luka serius.

Skala Richter, yang merupakan salah satu parameter gempa bumi dikembangkan oleh Charles Richter pada tahun 1935.
Skala ini logaritmik, dengan dasar 10. Amplitudo gempa yang nilai 3,0 adalah sekitar 10 kali amplitudo yang skor 2.0. Energi yang dilepaskan, akan meningkat dengan faktor sekitar 32.

Skala ini diukur menggunakan seismogram, sebagai jarak-waktu tibanya gelombang getaran gempa dari titik awal gempa ke titik terjauh yang terkena impaknya.
Berdasarkan parameter ini, seperti dimuat laman Earthquakes.bgs.ac.uk, jarak jangkau gempa berkekuatan 1,0 SR setara dengan 30 pound bahan peledak TNT atau ledakan yang menghancurkan sebuah bangunan.

Sementara itu, gempa 4,0 SR setara dengan jarak jangkau bom atom ukuran kecil.

Dan daya-jangkau gempa 5,0 SR--yang dikategorikan sebagai gempa berkekuatan 'moderat'--setara dengan 32 kiloton TNT atau bom atom yang dijatuhkan di Nagasaki, 9 Agustus 1945.

Skala Richter tak bisa serta-merta disamakan begitu saja secara paralel sebagai alat ukur daya-rusak sebuah gempa. Intensitas dan efeknya pada permukaan tanah tak hanya bergantung pada besaran skala ini, tapi juga pada seberapa jauh jaraknya dari pusat gempa, kedalaman gempa, dan kondisi geologis--jenis dataran tertentu bisa memperbesar skala getaran menjadi lebih dahsyat.

Saat ini, karena dinilai tak begitu akurat, banyak geolog tak lagi menggunakan Skala Richter, tapi beralih pada skala Local Magnitude (ML) atau Moment Magnitude (MW).


(sumber:Erick Ridzky : British Geological Survey, wikipedia, channel4.com)




sutanz - 08/01/2011 10:27 PM
#32

Quote:
Original Posted By titintanjung
nais inpo bang adek \)


Quote:
Original Posted By PengumpulDosa
Trimi kasi infonyo daInformasi Gempa - Tsunami Sumatera Barat




Thanks ..mudah-mudahan berguna..

Salam Waspada...
figureof8 - 08/01/2011 10:51 PM
#33

trit informasi bagus seperti ini bagusnya dikasi :rate5
sutanz - 10/01/2011 11:43 PM
#34

Quote:


Meramal Gelombang, Menggantang Ancaman


HINGGA kini tak ada ilmuwan yang berani mengklaim mampu meramal gempa. Tapi tidak demikian dengan meramal gelombang tsunami yang biasanya datang menyusul. Ada jeda 15-20 menit antara gempa dan tsunami yang menghajar Banda Aceh pekan lalu. Air bah juga baru sampai ke Sri Lanka dua jam kemudian, dan pantai timur India satu jam sesudahnya.

Teknologi untuk itu tersedia, dan di belahan bumi lain sudah lama dipakai. Jepang, yang sangat akrab dengan gempa, cukup maju dalam soal ini. Negara-negara yang menghadap Samudra Pasifik, yang tobat dengan hantaman gempa dahsyat di Cile 1960 dan di Alaska pada 1964, pun demikian. Mereka membentengi wilayah dengan sistem peringatan dini yang akan bekerja dan memberi tahu mereka setiap kali gelombang tsunami mengancam.

Jalur-jalur evakuasi pun dibangun, dan masyarakat diberi tahu apa yang mesti mereka perbuat bila ancaman itu datang. Permukiman di pantai tak dilarang, tetapi bangunan mereka disesuaikan agar tahan gempa dan gempuran gelombang. Hasilnya adalah kerusakan dan jatuhnya korban yang bisa diminimalkan dalam 30 tahun terakhir.

Tapi gempa kali ini memilih tempat tanpa alat pendeteksi. Akibatnya kerusakan total terjadi di sepanjang pantai barat Sumatera dan pulau-pulau di depannya hingga jauh ke Sri Lanka, India, Phuket di Thailand, Malaysia, Burma, dan bahkan sampai ke beberapa negara di Afrika (lihat tabel).

Pemerintah India, Malaysia, dan Indonesia yang kapok kali ini langsung memutuskan bergabung dengan negara-negara di Pasifik untuk bekerja sama memasang sensor tsunami. Begitu pula beberapa negara lain yang jadi korban kali ini. Indonesia tak mau ketinggalan.

Menurut Fauzi, Kepala Bidang Seismologi Tektonik dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), sistem itu akan dibangun dalam satu-dua tahun ke depan. Caranya dengan mengintegrasikan data-data lembaganya dengan yang dimiliki institusi seperti Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dan Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan.

Usaha lain sebelumnya sebenarnya bukan tak ada. Salah satunya yang dilakukan oleh peneliti Departemen Geoteknologi LIPI di Bandung, Danny Hilman Natawidjaja, doktor geologi dan gempa bumi. Bekerja sama dengan Kerry Sieh, ilmuwan dari Tectonic Observatory California Institute of Technology (Caltech), sejak 1992 mereka melakukan penelitian di Kepulauan Mentawai di lepas pantai barat Sumatera Barat.

Stasiun-stasiun satelit penentu lokasi global (GPS) dipasang di Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan, dan membentuk apa yang mereka namakan SuGAr (Sumatera GPS Array). SuGAr merupakan jaringan stasiun GPS permanen di wilayah Sumatera yang akan memonitor deformasi batas lempeng atau pergerakan kerak bumi. Nantinya akan ada 34 stasiun dan kini telah terpasang 14 buah di Kepulauan Mentawai.

Rangkaian kepulauan di laut pesisir barat Sumatera yang berada tepat di atas pertemuan lempeng benua, menurut Danny, merupakan fenomena alam langka dan hanya satu-satunya di dunia. Ditambah lagi dengan adanya karang laut mikroatol yang tumbuh di sepanjang pantai kepulauan yang ternyata mencatat naik-turunnya dasar samudra dalam pertumbuhannya. "Itu membuat karang ini seperti perekam periode gempa," katanya. Dari sinilah Danny mempelajari pola berikut siklusnya, untuk membantu memperkirakan datangnya gempa berikut.

Hasilnya penelitian itu membuat Danny tak henti memberikan peringatan sejak dua tahun lalu tentang bahaya dari balik kepulauan kecil di barat Sumatera. Dari seminar ke seminar, bersama peneliti tsunami dari Institut Teknologi Bandung Dr Hamzah Latief, Danny sudah memperkirakan datangnya gempa besar yang akan diikuti bahaya tsunami di sepanjang pesisir barat Sumatera.

Memang tragedi Aceh tak sepenuhnya ada dalam peringatan Danny dkk. Mereka menduga gempa akan terjadi di bawah Mentawai. Tapi kemelesetan ramalan ini bukan tanpa sebab. Menurut Danny, zona Meulaboh hingga Pulau Andaman ini memang belum tersentuh penelitian karena alasan keamanan. Para peneliti belum bisa mencapai wilayah Simeulue karena kawasan itu berlaku status darurat militer. Mereka khawatir konflik yang tengah berlangsung akan mengancam keselamatan tim peneliti. Repot dan terlambat. Kini harga keterlambatan itulah yang harus dibayar mahal warga aceh.

Y. Tomi Aryanto, Ahmad Fikri (Bandung)
sumber : DR.Hamzah Latief



sutanz - 11/01/2011 01:10 AM
#35

sutanz - 11/01/2011 01:26 AM
#36

Quote:
Kondisi Tanah untuk Bangunan di Kota Padang


Gempa Padang tanggal 30 September 2009 yang lalu, telah mengakibatkan terjadinya sejumlah retakan memanjang pada permukaan tanah di beberapa tempat di Kota Padang. Retakan memanjang ini masih tampak terlihat di beberapa bagian kota seperti di jalan tepi laut di Purus. Lebar retakan pada permukaan jalan itu dapat mencapai lebih dari setengah meter dengan kedalaman beberapa meter dan panjang retakan hampir 200 meter. Retakan terpanjang di Kota Padang yang diakibatkan gempa tahun lalu itu terjadi di daerah Pasir Parupuk–Tabing hingga ke Air Tawar. Panjang retakan ini mencapai kurang lebih dua kilometer. Retakan tersebut telah membelah beberapa bangunan sekolah dan rumah-rumah pada jalur yang dilintasinya.

Selain diakibatkan oleh goncangan gempa yang keras, retakan tersebut dapat terjadi karena kondisi tanah. Lapisan tanah pasir yang cukup dalam dan tidak padat, bila digoncang-goncang akan cenderung bergerak dan memisah. Peristiwa ini dalam bahasa teknik dikenal dengan istilah ‘lateral spreading’ yang artinya pergerakan memisah pada arah mendatar. Pergerakan ini berbeda dengan pergerakan arah vertikal atau yang sering dikenal dengan ‘longsor’. Bila longsor dapat menimbun manusia dan bangunan yang dilaluinya, maka retakan lateral ini ‘hanya’ mengakibatkan terbelahnya rumah, jalan dan patahnya pipa-pipa.

Pergerakan tanah ini dipelajari dalam bidang goteknik yaitu ilmu teknik yang mempelajari keadaan tanah untuk keperluan bangunan. Ditinjau dari segi geoteknik lapisan tanah di Kota Padang dapat dibagi menjadi tiga bagian umum. Pertama, jenis tanah lempung yang terbentang di daerah timur Kota Padang. Jenis tanah ini relatif tidak banyak mengalami gangguan atau kerusakan akibat gempa.

Jenis kedua adalah tanah gambut yang terbentang mulai dari Lubuk Buaya di utara terus ke Tabing dan Tunggul Hitam, hingga ke arah Ulak Karang dan Belanti di selatan. Jenis tanah ini mempunyai daya dukung yang jelek sehingga tidak bagus sebagai tanah dasar untuk pondasi bangunan. Bangunan-bangunan yang didirikan di atas tanah ini seharusnya menggunakan pondasi yang dalam seperti sumuran (pondasi cincin) ataupun pondasi tiang. Pondasi tiang relatif jarang digunakan untuk bangunan rumah biasa karena dianggap mahal dan sulit dikerjakan. Sesungguhnya saat ini Universitas Andalas telah mengembangkan jenis pondasi tiang-rakit yang sangat cocok dan relatif murah digunakan untuk bangunan rumah diatas tanah gambut.

Jenis tanah yang ketiga adalah tanah pasir. Tanah pasir yang baik adalah tanah pasir yang padat. Pondasi bangunan rumah sangat tidak baik bila diletakkan diatas tanah pasir yang lepas (tidak padat). Karena tanah pasir yang tidak padat, bila digoyang akan mengakibatkan terjadinya gerakan tanah kearah laterah yang dapat menimbulkan retakan pada permukaan tanah dan bangunan diatasnya. Selain itu, pada muka air tanah yang dangkal (hingga kedalaman tujuh meter), bila digoyang gempa yang cukup keras dapat menimbulkan peristiwa likuifaksi. Likuifaksi adalah peristiwa melunaknya tanah pasir lepas yang basah, sehingga tidak mampu lagi menahan beban bangunan. Akibat likuifaksi, bangunan menjadi amblas ke dalam tanah, lantai bergelombang dan retak, ataupun terjadinya kemiringan. Peristiwa ini banyak terjadi di daerah tepi-tepi sungai yang kondisi tanahnya adalah tanah pasir lepas seperti di daerah Lapai, Muaro Padang dan sebagainya.

Selain mengakibatkan amblas dan miringnya bangunan, likuifaksi juga menyebabkan turunnya permukaan tanah hingga beberapa puluh centimeter. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya genangan air (banjir) pada saat musim hujan. Untuk itu pada daerah-daerah yang telah terjadi likuifaksi akibat gempa yang lalu, masyarakat disarankan untuk melakukan gotong-royong guna memperbaiki (memperdalam dan memperlebar) selokan air di sekitarnya.

Dengan beragamnya kondisi tanah di Kota Padang dan pengaruhnya terhadap keamanan bangunan diatasnya, maka kepada masyarakat sangat disarankan untuk melakukan sedikit pengujian keadaan tanah sebelum mendirikan bangunan. Pemilik bangunan hendaknya melakukan pengujian tanah untuk menentukan jenis tanah, kondisi lapisan tanah dan kedalaman tanah keras. Untuk bangunan rumah rakyat yang biasa-biasa saja, dapat melakukan konsultasi mengenai keadaan tanah dan jenis pondasi yang cocok kepada tenaga ahli secara cuma-cuma.

Oleh: Abdul Hakam
Pakar Geoteknik Klinik Konstruksi Unand
*) sumber : rumah aman gempa
*) Artikel ini merupakan bagian dari kampanye pendidikan publik “Rumah Aman Gempa” yang didukung oleh Kemitraan Australia Indonesia. Australia berkomitmen memberikan lebih dari A$15 juta untuk membantu masyarakat Sumatera Barat pasca bencana gempa bumi September 2009 lalu. (***)



figureof8 - 11/01/2011 06:52 AM
#37

bantu apdet pej wan D

beer:
GanSor - 14/01/2011 03:02 PM
#38

tanyo ciek da...
dari beberapa penelitian tentang gempa di padang yg awak baco, semuanya mengarah kepada akan adanya gempa dengan kekuatan yg lebih besar yg akan melanda daerah pesisir barat sumatera...
dari yg uda tau, lah sejauh ma antisipasi pemerintah dalam menghadapi masalah iko da?
apakah sudah ado rencana untuk membangun seawall misalnynyo? atw jalur evakuasi sudah diperbaiki dan diperbanyak? atw adakah alternatif lain yg sedang/sudah dilakukan oleh pemerintah???
sutanz - 14/01/2011 05:17 PM
#39

Quote:
Original Posted By GanSor
tanyo ciek da...
dari beberapa penelitian tentang gempa di padang yg awak baco, semuanya mengarah kepada akan adanya gempa dengan kekuatan yg lebih besar yg akan melanda daerah pesisir barat sumatera...
dari yg uda tau, lah sejauh ma antisipasi pemerintah dalam menghadapi masalah iko da?
apakah sudah ado rencana untuk membangun seawall misalnynyo? atw jalur evakuasi sudah diperbaiki dan diperbanyak? atw adakah alternatif lain yg sedang/sudah dilakukan oleh pemerintah???




sepengetahuan ambo rencana pemerintah terutamo Pemko Padang alun ado yang betul2 real...kalau rencananya banyak bantuak, shelter, jalur evakuasi, tsunami alarm dll..tp alun nmpak garaknyo lai...
khusus utk seawall indak masuak dlm program pemerintah..tp ado gerakan masyarakan di padang yg sedang berjuang utk bisa dibangun seawall di Padang dan daerah lainnyo di pesisir pantai sumbar...
sutanz - 16/01/2011 04:10 AM
#40

Quote:
Early Warning: 16 Jan 2011 ; 01.25 wib..
MOHON DISIKAPI DENGAN BIJAK. TIDAK BERMAKSUD MEMBUAT TAKUT/PANIK. SEBAGAI PENGINGAT AGAR SENATIASA WASPADA/SIAPSIAGA. INGAT...!!! SELALU IKUTI PETUNJUK PETUGAS YANG BERWENANG !!!
Pasca Gempa Semeulu - NAD 15 & 16 Jan 2011 (info dipage 1) bisa memicu gempa didaerah sekitarnya ..
Sebaiknya Waspada Wilayah Sekitar ..Mentawai , Bengkulu , Krui Lampung.....
Salam waspada
Page 2 of 60 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Minangkabau > Informasi Gempa - Tsunami Sumatera Barat