Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Mengkritisi Hikayat Hang Tuah
Total Views: 1804 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 3 |  1 2 3 > 

Dildaar - 28/01/2011 09:13 PM
#1
Mengkritisi Hikayat Hang Tuah
February 16, 2010
Hang Tuah Diutus ke Majapahit

Artikel ini adalah lanjutan dari tulisan terdahulu yaitu Hikayat Hang Tuah Dari Berbagai Versi. Sebenarnya kalau diceritakan semua, saya rasa buku-buku Hikayat Hang Tuah telah banyak beredar. jadi Bisa didapatkan denmgan mudah di toko-toko buku terdekat. Berikut ini cerita Hikayat Hang Tuah sewaktu di utus oleh Raja Malaka ke Majapahit. Selamat Menikmati.

Raja Melaka mengutus Hang Tuah (Laksamana) mempersembahkan surat dan bingkisan ke hadapan raja Majapahit, mertua baginda.

Maka Laksamana pun menjunjung duli. Maka dianugerahi persalin dan emas sepuluh kati dan kain baju dua peti. Maka, Laksamana pun bermohonlah kepada Bendahara dan Temenggung, lalu berjalan keluar diiringkan oleh Hang Jebat dan Kesturi serta mengirimkan surat dan bingkisan, lalu turun ke perahu. Setelah sudah datang ke perahu, maka surat dan bingkisan itu pun disambut oleh Laksamana, lalu naik ke atas “Mendam Berahi”. Maka Laksamana pun berlayar.

Beberapa lamanya berlayar itu, maka sampailah ke Tuban. Maka Rangga dan Barit seketika pun berjalan naik ke Majapahit.

Beberapa lamanya maka sampailah ke Majapahit. Maka dipersembahkan Patih Gajah Mada kepada Batara Majapahit, “Ya,

Tuanku, utusan daripada anakanda Ratu Melaka datang bersamasama dengan Rangga dan Barit Ketika; Laksamana panglimanya.”

Setelah Sri Batara mendengar sembah Patih Gajah Mada demikian itu, maka titah Sri Batara, “Jika demikian, segeralah Patih berlengkap.”

Maka sembah Patih Gajah Mada, “Ya Tuanku, adapun patik dengar Laksamana itu terlalu sekali beraninya, tiada berlawan pada tanah Melayu itu. Jikalau sekiranya dapat patik hendak cobakan beraninya itu.”

Maka titah Sri Batara, “Mana yang berkenan pada Patih, kerjakanlah!”

Maka Patih pun menyembah lalu keluar mengerahkan segala pegawai dan priyayi akan menyambut surat itu. Setelah sudah lengkap, maka pergilah Patih dengan segala bunyi-bunyian.

Hatta maka sampailah ke Tuban. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun berlengkap memakai pakaian yang indah-indah. Maka surat dan bingkisan itu pun dinaikkan oleh Laksamana ke atas gajah. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun naik kuda. Maka Rangga dan Barit Ketika pun naik kuda mengiringkan Laksmana. Maka di hadapan Laksamana orang berjalan memikul pedang berikat empat bilah berhulukan emas dan tumbak pengawinanbersampakemas empat puluh bilah dan lembing bersampakkan emas bertanam pudi yang merah empat puluh rangkap. Maka segala bunyi-bunyian pun dipalu orang terlalu ramai. Maka surat dan bingkisan itu pun diarak oranglah ke Majapahit.

Hatta beberapa lamanya berjalan itu, maka sampailah. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun turun dari atas kuda, berjalan di atas gajah. Maka Rangga pun berjalan serta berkata, “Mengapa maka Laksamana turun dari atas kuda itu?

Baik Laksamana naik kuda!”

Maka kata Laksamana, “Hai Rangga, adapun adat segala hulubalang Melayu itu, apabila nama tuannya dibawa pada sebuah negeri itu, maka hendaklah sangat-sangat dihormatkan dan takutkan nama tuannya itu. Jikalau sesuatu peri surat nama tuannya itu, sehingga mati sudahlah; yang memberi aib itu sekali-kali tiada ia mau, dengan karena negeri Majapahit itu negeri besar.”

Setelah Rangga mendengar kata Laksamana demikian itu, maka ia pun diam, lalu turun berjalan sama-sama dengan Laksamana.

Maka surat dan bingkisan itu pun diarak masuk ke dalam kota, terlalu ramai orang melihat terlalu penuh sesak sepanjang jalan dan pasar. Maka kata Patih Gajah Mada pada penjurit dua ratus itu, “Hai, kamu sekalian, pergilah kamu mengamuk di hadapan utusan itu, tetapi engkau mengamuk itu jangan bersungguh-sungguh, sekadar coba kamu beraninya. Jika ia lari, gulung olehmu sekali. Jika ia bertahan, kamu sekalian menyimpang, tetapi barang orang kita, mana yang terlintang bunuh olehmu sekali, supaya main kita jangan diketahui.”

Maka penjurit dua ratus itu pun menyembah, lalu pergi ke tengah pasar. Waktu itu sedang ramai orang di pasar, melihat orang mengarak surat itu. Maka penjurit itu pun berlari-lari sambil menghunus kerisnya, lalu mengamuk di tengah pasar itu, barang yang terlintang dibunuhnya. Maka orang di pasar itu gempar, berlari-lari kesana-kemari, tiada berketahuan. Maka penjurit dua ratus itu pun datanglah ke hadapan Laksamana; dan anak bayi priayi di atas kuda itu pun terkejut melihat orang mengamuk itu terlalu banyak, tiada terkembali lagi. Maka barang mana yang ditempuhnya, habis pecah. Maka segala pegawai itu pun habis lari beterjunan dari atas kudanya, lalu berlari masuk kampung orang. Maka segala orang yang memalu bunyi-bunyian itu pun terkejutlah, habis lari naik ke atas kedai, ada yang lari ke belakang Laksamana. Setelah dilihat oleh Laksamana orang gempar itu tiada berketahuan lakunya, maka segala orang yang di hadapan Laksamana itu pun habis lari. Maka prajurit yang dua ratus itu pun kelihatanlah. Dilihat orang yang mengamuk itu terlalu banyak, seperti ribut datangnya, tiada berkeputusan. Maka Laksamana pun tersenyum-senyum seraya memegang hulu keris panjangnya itu.

Maka Hang Jebar, Hang Kesturi pun tersenyum-senyum, seraya memegang hulu kerisnya, berjalan dari kiri kanan Laksamana.

Maka Rangga dan Barit Ketika pun terkejut, disangkanya orang yang mengamuk itu bersungguh-sungguh. Maka Rangga pun segera menghunus kerisnya, seraya berkata, “Hai Laksamana, ingat-ingat, karena orang yang mengamuk itu terlalu banyak.”

Maka sahut Laksamana seraya memengkis, katanya,”Cih, mengapa pula begitu, bukan orangnya yang hendak digertak-gertak itu.”

Maka Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun berjalanlah seorang orang Melayu pun tiada yang undur dan tiada bergerak.

Maka kata Laksamana, “Hai segala tuan-tuan sekalian, seorang pun jangan kamu undur dan bergerak. Jika kamu undur, sekarang ini juga kupenggal leher kamu!”

Maka dilihat oleh Barit Ketika, orang mengamuk banyak datang seperti belalang itu, maka Barit Ketika pun segera undur ke belakang gajah itu. Maka prajurit yang dua ratus itu pun berbagi tiga, menyimpang ke kanan dan ke kiri dan ke hadapan Laksamana mengamuk itu, ke belakang Laksamana. Maka Laksamana pun berjalan juga di hadapan gajah itu. Maka prajurit itu pun berbalik pula dari belakang Laksamana. Maka Barit Ketika pun lari ke hadapan berdiri di belakang Laksamana itu. Maka, Laksamana pun tersenyum-senyum seraya berkata, “Cih, mengapa begitu, bukan orangnya yang hendak digertak gerantang itu.”

Maka, Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun berjalan juga, dengan segala orangnya dan tiada diindahkannya orang mengamuk itu. Maka Rangga, dan Barit Ketika pun heran melihat berani Laksamana dan segala Melayu-melayu itu, setelah dilihat oleh penjurit dua ratus itu, Laksamana dan segala orangnya tiada bergerak dan tiada diindahkannya lawan itu, maka prajurit itu pun mengamuk pula ke belakang Laksamana. Seketika lagi datang pula prajurit itu mengamuk ke hadapan Laksamana, barang yang terlintang dibunuhnya dengan tempik soraknya, katanya, “Bunuhlah akan segala Melayu itu,” seraya mengusir ke sana kemari barang yang terlintang dibunuhnya. Maka prajurit dua ratus itu pun bersungguh-sungguh rupanya.

Maka, sahut Laksamana, “Jika sebanyak ini prajurit Majapahit, tiada, kuindahkan; tambahkan sebanyak ini lagi, pun tiada aku takut dan tiada aku indahkan. Jikalau luka barang seorang saja akan Melayu ini, maka negeri Majapahit ini pun habislah aku binasakan, serta Patih Gajah Mada pun aku bunuh,” serta ditendangnya bumi tiga kali. Maka bumi pun bergerak-gerak. Maka, Laksamana pun memengkis pula, katanya “Cih, tahanlah bekas tanganku baik-baik.”

Maka, prajurit itu pun sekonyong-konyong lari, tiada berketahuan perginya. Maka, surat dan bingkisan itu pun sampailah ke peseban. Maka surat itu pun disambut oleh Raden Aria, lalu dibacanya di hadapan Sri Batara. Maka, Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun naik ke peseban. Maka segala bingkisan itu pun disambut oranglah. Maka, titah Sri Batara, “Hai Laksamana, kita pun hendak mengutus ke Melaka, menyuruh menyambut anak kita Ratu Malaka, karena kita pun terlalu amat rindu dendam akan anak kita. Di dalam pada itu pun yang kita harap akan membawa anak kita kedua itu ke Majapahit ini hanyalah Laksamana.”

Maka, sembah Laksamana, “Ya Tuanku, benarlah seperti titah andika Batara itu.”

Maka Batara pun memberi persalin akan Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi dengan selengkap pakaian. Maka titah Sri Batara, “Hai Laksamana, duduklah hampir kampong Patih Gajah Mada.”

Maka sembah Laksamana, “Daulat tuanku, mana titah patik junjung.”

Maka Sri Batara pun berangkat masuk. Maka Patih Gajah Mada, dan Laksamana pun bermohonlah, lalu keluar kembali ke rumahnya. Maka akan Laksamana pun diberi tempat oleh Patih Gajah Mada hampir kampungnya.

Sumber: Bunga Rampai dari Hikayat Lama karya Sanusi

Article By : Datuk Bertuah

https://www.kaskus.co.id/newthread.php?do=newthread&f=389
http://www.sungaikuantan.com/2010/02/hikayat-hang-tuah-berbagai-versi.html
http://sejarahhangtuah.wordpress.com/

Siapa penulis Hikayat Hang Tuah? dan Bilakah?
Masa terjadinya Hang Tuah abad berapa? Soalnya menyebut2 Patih Gajah Mada (1350-an) tapi menyebut pula nama Pelabuhan Jayakarta (1527).
Memang ada hubungan diplomatik Majapahit dan Malaka tetapi tokoh2 Majapahit digambarkan licik, pembunuh dan jahat. Tokoh Melayu yaitu Hang Tuah digambaran sebagai pahlawan yg dapat mengalahkan tokoh2 Majapahit..

Ada pendapat gan..?
oriesama - 28/01/2011 10:35 PM
#2

Aahh... Cuma hikayat tuh gan, alias cuma karya sastra

Suka-suka yang buat lah

Eh, ane pertamax!!!!
Bawah ane mahoMengkritisi Hikayat Hang Tuah
ZhongDaochang - 28/01/2011 11:00 PM
#3

Quote:
Original Posted By oriesama
Aahh... Cuma hikayat tuh gan, alias cuma karya sastra

Suka-suka yang buat lah

Eh, ane pertamax!!!!
Bawah ane maho


Asemnohope:
ya semua tergantung yang buat cerita. kita biasa mengenal kalau rahwana itu jahat, dan rama itu baik... namun dalam ramayana versi srilanka, yang jadi tokoh protagonisnya malah rahwanahammer:

kalo konteks kekinian, sama seperti kunjungan atas taman makam pahlawan jepang, orang jepang menganggap mereka pahlawan, namun pihak lain menganggap mereka itu penjahat perang.

Tapi mas, jangan salah, ada juga yang pake hikayat hang tuah ini untuk "meluruskan" sejarah majapahit lohhammer: opo yo pantes???nohope:Mengkritisi Hikayat Hang Tuah
andrea7 - 28/01/2011 11:06 PM
#4

wahahahahha... ada monolog.. shutup:
Tenji_no_Ichi - 28/01/2011 11:08 PM
#5

hikayat Hang Tuah skala waktunya byk yg tumpang tindih, dan perbedaan waktunya terlalu jauh. Jadi rada aneh kalo Hang Tuah bisa berumur ratusan taun. Soalnya setting tempat satu dng yg lain bisa beda ratusan taun. hammer:
andrea7 - 28/01/2011 11:17 PM
#6

Quote:
Original Posted By Tenji_no_Ichi
hikayat Hang Tuah skala waktunya byk yg tumpang tindih, dan perbedaan waktunya terlalu jauh. Jadi rada aneh kalo Hang Tuah bisa berumur ratusan taun. Soalnya setting tempat satu dng yg lain bisa beda ratusan taun. hammer:

Ihihihi.., benuull..., dari skala waktu saja sudah kelihatan invaliditasnya, apalagi dari ceritanya, keliatan banget, lha wong penuturnya orang ketiga di luar cerita.., dan kalo dari kutipan di atas bisa tau percakapan antara Gadjah Mada sama Rajanya?? howcome?? hihihihi.., aya aya wae!!

Tapi kan itu kan jadi senjata andalan kaum tertentu untuk mengeksiskan bangsanya Oom.., jadi ya kadang dipaksakan eksis sebagai bukti sejarah, ihihihi.. p
oriesama - 28/01/2011 11:24 PM
#7

Btw, sang filolowk lagi ngapain ya?
bingung

Mbok ijk muncul juga disinimahoMengkritisi Hikayat Hang Tuah
andrea7 - 28/01/2011 11:26 PM
#8

Quote:
Original Posted By oriesama
Btw, sang filolowk lagi ngapain ya?
bingung

Mbok ijk muncul juga disinimahoMengkritisi Hikayat Hang Tuah


hmm.., belum malu apa? shutup:
dharmawartha - 29/01/2011 12:24 AM
#9

lalu yang benar adalah.... lalu lalang
mahosmahosmahosmahos
zeth - 29/01/2011 07:27 AM
#10

Quote:
Original Posted By dharmawartha
lalu yang benar adalah.... lalu lalang
mahosmahosmahosmahos


Hang Tuah,Hang Lekir,Hang Jebat,Hang Kesturi..adalah bikinan Walt Disney!
bayusatriyo - 29/01/2011 10:03 AM
#11

Quote:
Original Posted By zeth
Hang Tuah,Hang Lekir,Hang Jebat,Hang Kesturi..adalah bikinan Walt Disney!


kirain bikinan bollywood mbah zeth.... (msh nafsu nampaknya mbah kita yg satu ini untuk bukan nafsu yg lain)
Masagung - 29/01/2011 12:06 PM
#12

Quote:
Original Posted By Tenji_no_Ichi
hikayat Hang Tuah skala waktunya byk yg tumpang tindih, dan perbedaan waktunya terlalu jauh. Jadi rada aneh kalo Hang Tuah bisa berumur ratusan taun. Soalnya setting tempat satu dng yg lain bisa beda ratusan taun. hammer:


malah ada yg lebih seru lho, tetangga sebelah cerita kalau ada candi dibangun oleh mahkluk angkasa luar dan UFO adalah kendaraan Sabdo Palon.

harusnya aibon ditarik dari peredaran D
zeth - 29/01/2011 12:49 PM
#13

Quote:
Original Posted By Masagung
malah ada yg lebih seru lho, tetangga sebelah cerita kalau ada candi dibangun oleh mahkluk angkasa luar dan UFO adalah kendaraan Sabdo Palon.

harusnya aibon ditarik dari peredaran D


Wah..kalau kasus itu, kayaknya bukan gara2 aibon,mas.
Lebih tepat gara2 ngalteco..dah lengket bener tuh otak...wakakakak!!
patihdjelantik - 29/01/2011 06:46 PM
#14

Quote:
Original Posted By zeth
Hang Tuah,Hang Lekir,Hang Jebat,Hang Kesturi..adalah bikinan Walt Disney!

hohoho.. saingan sama camprock 1 dan 2 dongs mahos
Quote:
Original Posted By zeth
Wah..kalau kasus itu, kayaknya bukan gara2 aibon,mas.
Lebih tepat gara2 ngalteco..dah lengket bener tuh otak...wakakakak!!

hahaha... ngelem, dihirup sampe mabok
hateisworthless - 30/01/2011 05:09 AM
#15

ini makam Hang Tuah ( menurut kuncen setempat ), letaknya di kompleks pemakaman kerajaan Palembang Darussalam,jln. Candi Welan , Palembang:

Spoiler for kompleks makam raja-raja Palembang

Mengkritisi Hikayat Hang Tuah


Spoiler for makam Raja-raja dan keluarganya

Mengkritisi Hikayat Hang Tuah


Spoiler for makam Hang Tuah disisi kanan makam raja dan keluarga

Mengkritisi Hikayat Hang Tuah


Spoiler for silsilah kerajaan Palembang Darussalam

Mengkritisi Hikayat Hang Tuah


jadi siapa sebenarnya Hang Tuah dan kapan masa hidupnya ?

...........bingung:..........
penjorberry - 30/01/2011 12:38 PM
#16

ijin menyimak Mengkritisi Hikayat Hang Tuah







Mengkritisi Hikayat Hang Tuah
bayusatriyo - 31/01/2011 10:48 AM
#17

Hang Tuah itu ndo jalehhhh..... masa iya, dalam hikayat ada masa majapahit lalu di critakan Pelabuhan Jayakarta, secara nama Jayakarta itu ketika masa-masa kerajaan islam berkuasa di jawa, bedanya 2 abad bo....
Wangi77 - 01/02/2011 10:15 AM
#18

Quote:
Original Posted By hateisworthless
ini makam Hang Tuah ( menurut kuncen setempat ), letaknya di kompleks pemakaman kerajaan Palembang Darussalam,jln. Candi Welan , Palembang:

Spoiler for kompleks makam raja-raja Palembang

Mengkritisi Hikayat Hang Tuah


Spoiler for makam Raja-raja dan keluarganya

Mengkritisi Hikayat Hang Tuah


Spoiler for makam Hang Tuah disisi kanan makam raja dan keluarga

Mengkritisi Hikayat Hang Tuah


Spoiler for silsilah kerajaan Palembang Darussalam

Mengkritisi Hikayat Hang Tuah


jadi siapa sebenarnya Hang Tuah dan kapan masa hidupnya ?

...........bingung:..........


Hang Tuah sebenernya adalah....monggo dishare mas....kiss
zeth - 01/02/2011 11:30 AM
#19

keterangan tentang siapa dan apa kiprah Hang Tuah tidak ditemukan dalam literatur-literatur sejarah. Beberapa waktu lalu pernah diangkat kisah-kisah tokoh melayu, termasuk Hang Tuah ini, dalam berbagai versi seperti sandiwara radio maupun tayangan sinema di televisi. Tetap saja, Hang Tuah hanya dikenal sebatas tokoh terkenal dari daerah Melayu.

Tak banyak yang tahu kisah Hang Tuah yang dituliskan dalam sebuah buku berjudul Hikajat Hang Tuah tercatat sebagai karya sastra melayu klasik yang paling panjang. Salah satu versi Hikajat Hang Tuah adalah setebal 593 halaman. Buku berisikan Hang Tuah ini dikenal sejak abad ke-18, dan sejak saat itu disebutkan sangat menarik perhatian para peneliti barat. Hikajat Hang Tuah kemudian sangat terkenal, terbit dalam berbagai versi, dan sekitar 20 buku tersimpan di berbagai perpustakaan di dunia.

Tak ubahnya karya-karya sastra kuno umumnya, kisah Hang Tuah ini pun diduga pertama kali dikenal berupa cerita lisan. Kemudian, dalam bentuk naskah tertulis, Hikajat Hang Tuah diduga pertama kali ditulis pada abad ke-16.

Sebagai sebuah kisah fiktif, Hikajat Hang Tuah sarat dengan muatan sejarah. Nama-nama kerajaan dan tokoh memang lekat dengan apa yang tercantum dalam catatan-catatan sejarah. Bahkan ada dugaan, pengarang Hang Tuah tidak hanya berpengetahuan luas karena sarat dengan muatan sejarah, namun juga banyak menggunakan sumber sastra lain. Dugaan ini muncul karena pada beberapa bagian, terdapat kemiripan dengan cerita-cerita klasik lain seperti Kisah Panji, Hikajat Sri Rama, dan sebagainya.
Tenji_no_Ichi - 02/02/2011 08:55 AM
#20

yg ngarang Hikayat Hang Tuah itu mirip2 Dan Brown lah, bikin pseudo-history.. D
Page 1 of 3 |  1 2 3 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Mengkritisi Hikayat Hang Tuah