DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > [FREE]Hukum Karma?
Total Views: 25550 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 58 of 58 | ‹ First  < 53 54 55 56 57 58

kepalawortel - 19/10/2012 04:01 PM
#1141

sudah kalian bedua ketemuan, dan saling bertukar pikiran, ga ada habis habisnya , liat aja da pusing apalagi baca D
Gaion - 19/10/2012 04:36 PM
#1142

Quote:
Original Posted By joeraygaul
@bold : Takdir atau kemauan untuk berubah?\)
Jadi menurut kamu tanpa hasrat perbuatan akan muncul begitu saja \)?
Dan saya sudah katakan, "kamu sudah mengetahuinya. \)"
Lalu kamu akan memilih yang beracun atau tidak kemudian memakannya? \)
Keinginan untuk tidak memakan yang beracun muncul atau tidak? \)


perbuatan muncul dengan hasrat, tentu saja. munculnya hasrat itupun adalah takdir.
keinginan untuk tidak makan yang beracun itupun termasuk takdir... tidak memakan yang beracun adalah takdir berikutnya...

Quote:
Original Posted By joeraygaul

That's the point, time is moving. Dan pada waktu yang bergerak, perbuatan akan selalu muncul. Perbuatan akan selalu memunculkan akibat sehingga muncul keterkaitan di 3 dimensi waktu. \).

loe masih terjebak dengan pemikiran masa lalu membentuk masa depan D
masa lalu dan masa depan itu sudah ada. takdir.

analogikan dengan baca novel. loe baca halaman 200.
- halaman 201 muncul setelah loe baca halaman 200
ataukah
- halaman 201 memang sudah ada.
mana yang benar?



Quote:
Original Posted By joeraygaul

Menurut kamu semua hal2 yang berulang kali saya tanyakan jawabannya adalah takdir. Berarti kemalangan, keuntungan, kesenangan, lahir cacat, dan hal2 lainnya yang sudah saya sebutkan muncul begitu saja, pop up, avrakadavra muncul karena takdir. \), karena sudah "ditentukan", oleh apa, bagaimana ini ditentukan ? Kamu bilang takdir adalah ilmiah, bagaimana hipotesa dan penjelasan ilmiah mengenai takdir ini?

bukan muncul pop avrakadavra... melainkan, memang telah ditentukan seperti itu...


doh bukannya udah gue tulis hipotesanya?? nohope:
oke gue ulang...

1. berdasarkan teori relativitas,tidak ada [sekarang] yang objektif. [sekarang] bagi A bisa saja [masa depan] bagi B [fakta dan terbukti!]
2. [masa lalu] tidak dapat diubah. [sekarang] tidak mungkin berubah[B][fakta!][/B]
hipotesa 1 : jika [sekarang] A tidak mungkin berubah, maka apa yang menjadi [masa depan] B tidak mungkin berubah.

hipotesa 2: jika masa depan tidak bisa berubah artinya masa depan sudah ditentukan. inilah yang dinamakan takdir.

@bold, yang dimaksud [sekarang] tidak bisa berubah adalah : kalau saat ini loe seorang penjahat, tidak mungkin di detik berikutnya loe jadi seorang aktivis kemanusiaan.


Quote:
Original Posted By joeraygaul

Pada bayi yang terlahir cacat, kecacatannya adalah karena takdir tidak ada kaitannya dengan sebab yang pernah dilakukannya sendiri, hanya "wah ini memang saya sudah cacat, karena takdir yang memberikan." \)
Pada analogi novel kamu, script terdapat penyusun, Harry Potter ditulis oleh JK Rowling, alur cerita ditentukan oleh penulis script, lalu siapa atau apa yang menyusun script ini?
Tuhan-kah ? \)

yang menentukan script/takdir ini?
untuk amannya, kita sebut saja alam yang menentukan... kalo gue bilang tuhan, loe kan ngga percaya tuhan.D


Quote:
Original Posted By joeraygaul

Justru lebih ilmiah "sebab akibat" ketimbang takdir. \)

sebab akibat? hukum kausalitas versi newton maka akan gue katakan ya
tapi sebab akibatnya hukum karma? no way D hipotesa ilmiahnya aja ngga bisa dibuat...

Quote:
Original Posted By joeraygaul

Fakta bisa muncul dari eksperimen setelah mendapatkan bukti empiris kan \)?
Coba saja lakukan saran saya, saya sudah melakukan dan membuktikannya, dan terdapat parameter2 tambahan untuk eksperimen ini, tapi saya tidak mau merepotkan kamu dengan berbagai parameter tambahan. Coba buktikan hal sebaliknya dari pembuktian saya, bila kamu berlaku tidak ramah, tidak menyenangkan selama terus menerus selama 2 minggu kepada orang2 terdekat kamu tanpa notifikasi dan menyebutkan alasannya, bisa tidak kamu akan menerima akibat yang berlawanan dengan pembuktian saya, mereka akan baik, sopan, manis, dan ramah pada kamu? \)

kenapa harus repot2 seperti itu?
buktikan saja kalau hitler betul2 kena karma. bisa bro? D
gue akan bilang disini, hitler tidak kena karma!

Quote:
Original Posted By kepalawortel
sudah kalian bedua ketemuan, dan saling bertukar pikiran, ga ada habis habisnya , liat aja da pusing apalagi baca D


dgn cara begini fine koq.. \)
joeraygaul - 19/10/2012 05:13 PM
#1143

Quote:
Original Posted By Gaion
perbuatan muncul dengan hasrat, tentu saja. munculnya hasrat itupun adalah takdir.
keinginan untuk tidak makan yang beracun itupun termasuk takdir... tidak memakan yang beracun adalah takdir berikutnya...

Hasrat ini bisa berubah-ubah tidak?
Hasray untu memakan yang beracun kemudian timbul lagi hasrat untuk tidak memakannya sehingga di awal muncul hasrat untuk memakan tapi tidak jadi memakan karena muncul hasrat lain untuk tidak memakan?
\)


Quote:
loe masih terjebak dengan pemikiran masa lalu membentuk masa depan D
masa lalu dan masa depan itu sudah ada. takdir.

analogikan dengan baca novel. loe baca halaman 200.
- halaman 201 muncul setelah loe baca halaman 200
ataukah
- halaman 201 memang sudah ada.
mana yang benar?




bukan muncul pop avrakadavra... melainkan, memang telah ditentukan seperti itu...


doh bukannya udah gue tulis hipotesanya?? nohope:
oke gue ulang...

1. berdasarkan teori relativitas,tidak ada [sekarang] yang objektif. [sekarang] bagi A bisa saja [masa depan] bagi B [fakta dan terbukti!]
2. [masa lalu] tidak dapat diubah. [sekarang] tidak mungkin berubah[B][fakta!][/B]
hipotesa 1 : jika [sekarang] A tidak mungkin berubah, maka apa yang menjadi [masa depan] B tidak mungkin berubah.

hipotesa 2: jika masa depan tidak bisa berubah artinya masa depan sudah ditentukan. inilah yang dinamakan takdir.

@bold, yang dimaksud [sekarang] tidak bisa berubah adalah : kalau saat ini loe seorang penjahat, tidak mungkin di detik berikutnya loe jadi seorang aktivis kemanusiaan.



yang menentukan script/takdir ini?
untuk amannya, kita sebut saja alam yang menentukan... kalo gue bilang tuhan, loe kan ngga percaya tuhan.D

Itu adalah relativitas untuk dua orang, misalkan satu orang berjalan dengan kecepatan cahaya selama setahun, waktu bagi orang yang bergerak dengan kecepatan cahaya tersebut tetap setahun, tapi bagi orang yang tidak bergerak adalah 50 tahun.
Waktu tetap berjalan selama setahun bagi yang bergerak, masa depan yang bergerak dengan kecepatan cahaya tetap saja mengikuti alur waktu yang berjalan, waktu tetap saja berjalan selama setahun bagi dirinya sendiri.\)
Yang menentukan adalah diri sendiri, karena yang menimbulkan hasrat dan perbuatan adalah diri sendiri. \)

Dan memang, saya tidak percaya "nasib" atau takdir saya ditentukan oleh entitas eksternal di luar diri \)
Walau alam memiliki ketetapan tapi diri sendiri bisa dibentuk untuk beradaptasi atau bertentangan dengan ketetapan alam tersebut. \)
The choice in yours \)


Quote:
sebab akibat? hukum kausalitas versi newton maka akan gue katakan ya
tapi sebab akibatnya hukum karma? no way D hipotesa ilmiahnya aja ngga bisa dibuat...


kenapa harus repot2 seperti itu?
buktikan saja kalau hitler betul2 kena karma. bisa bro? D
gue akan bilang disini, hitler tidak kena karma!



dgn cara begini fine koq.. \)

Oiya saya lupa, kamu adalah penganut faham nihilistik, sesudah kematian musnah begitu saja, no after life, no heaven, no hell and there is nothing after the death. \)
Sebenarnya ini ada kaitannya dengan hukum kekekalan energi, terdapat energi pada manusia, setelah mati, energi pada manusia ini akankah musnah?
Memori, perasaan dan berbagai aksi dan perbuatan yang dilakukannya selama masih hidup musnah?

Bagi faham nihilistik, ya, musnah, memang tidak ada apa2 setelah kematian.

Corememus nos rosis cras enim moreamor. \)

Coba eksperimen dulu dah, hanya 2 minggu saja bro D.
coffee:

Ide wortel boleh juga, siapa tau "takdir" menentukan, ngobrol2 sambil ngupi2 dan rokokan bakal seru bro, kalau lewat Banten jangan lupa contact saya, siapa tahu "takdir" akan membuat saya menjamu bro.

:toast
dadudice - 19/10/2012 08:08 PM
#1144

Quote:
Original Posted By Gaion
c'mon bro. hukum karma nya aja masih dipertanyakan,. malah bawa reinkarnasi dan alam lainnohope:
ini seperti berusaha membangun rumah di atas lumpur..

Dan yang mempertanyakan hukum karma itu sendiri adalah orang yang belum berhasil membuktikan adanya hukum karma tersebut kan..? Maka sangat wajar dipertanyakan..
Justru jika ingin benar2 membuktikan adanya hukum karma ini, haruslah dengan mengamati setiap perbuatan yang dilakukannya, dari kehidupan ini sampai yang sebelum2nya..
Bagaimana bisa ente berhasil membuktikannya jika ente tidak memahami konsep hukum karma itu sendiri?
Setau ane,
Konsep Hukum Karma (menurut pandangan Buddhist) adalah setiap perbuatan yang dilakukan akan berpotensi muncul akibat dari perbuatan tersebut..
Hukum Karma berpotensi muncul, tergantung pada kondisi-kondisi yang tepat untuk muncul.. Jadi, dengan demikian Hukum Karma bisa saja terjadi pada kehidupan saat ini juga, maupun "kehidupan" berikutnya, tergantung pada kondisi untuk muncul disaat itu.. Sedangkan yang terjadi di kehidupan ini adalah Karma yang muncul karena kondisi yang tepat dari perbuatan2 yang telah dilakukan dimasa lalu (dikehidupan ini maupun dikehidupan sebelumnya)..

Sekarang bila konsep kelahiran kembali ini dihilangkan, bagaimana bisa ente mendapat bukti dari adanya hukum karma..? Karena yang ente lihat hanya berdasarkan kehidupan ini saja, dan itu tidaklah cukup untuk membuktikan kebenaran hukum karma..

Apakah ada bukti bahwa ada Kehidupan yang sebelumnya..?
Bukti ini pun sebenarnya sudah ada dan telah diuji secara ilmiah oleh psikolog2 disana, pada beberapa kasus..
Taukah anda mengenai cerita seorang anak di Rusia yang berumur sekitar 10 tahunan, dan dia bisa menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dikehidupan sebelumnya..? Anak ini pun telah diuji oleh banyak psikolog bahwa anak ini sedang tidak berbohong atau mengarang cerita, dan orang2 sekitarnya dikehidupan sekarang ini telah berhasil membuktikan kebenaran cerita dari kisah kehidupan masa lalu anak tersebut..
Atau lebih simpelnya, saat ini telah ada terapi hipnotis untuk melihat sampai pada kehidupan sebelumnya..
Apakah yang dilakukan psikolog dalam menguji kebenaran cerita seseorang bukan merupakan hal yang ilmiah..? Psikolog pun pasti memakai teori2 ilmiah untuk menguji suatu kebenaran cerita atau tindakan psikologis seseorang..
Bila tidak ada kehidupan masa lalu, mengapakah orang2 tersebut bisa dengan tepat dan terbukti menceritakannya..?
Justru dengan adanya teori kehidupan lalu itu, hukum karma bisa dibuktikan oleh diri sendiri..

Coba saja psikolog yang ahli untuk menguji dengan teori ilmiah yang dipelajari dan dimilikinya mengenai konsep hukum karma ini.. Bila psikolog tersebut telah berhasil menguji dengan teori ilmiahnya bahwa konsep hukum karma tidak lah benar, maka barulah dapat dikatakan bahwa hukum karma tidak ilmiah..
dadudice - 19/10/2012 08:09 PM
#1145

Quote:
Original Posted By Gaion

gue udah ajukan hipotesa tentang takdir. dan menurut data yang bisa didapatkan, takdir itu sudah ada bahkan sebelum loe lahir..

Masa..?
hipotesa tentang masa depan itu..?
Sekarang misalkan,
Bro Joe bisa melihat masa depan ente sebelum ente lahir (masih dikandungan), adalah menjadi penjahat..
Maka sesuai dengan teori takdir yang ente pelajari, apakah ente pasti akan menjadi penjahat?
Bagaimana jika secara realita, dengan berjalannya waktu saat ini, katakanlah ente umur 5 tahun, ente tewas tertabrak? berarti ilmu takdir yang dilihat bro Joe pada saat ente yang dikandungan akan salah.. dan dengan demikian teori takdir yang ente nyatakan menjadi tidak tepat bahwa yang dilihat dimasa depan adalah takdir ente..
Jadi bagaimana dengan takdir menurut pandangan ente pada kasus tersebut..?
Apa takdir ente adalah tewas tertabrak di usia 5 tahun. atau takdir yang dilihat oleh bro Joe..? Jika takdir ente adalah yang tewas, takdir siapakah yang dilihat oleh bro Joe..?

Quote:
Original Posted By Gaion

adakah? buktikan dong... selama ini yang terbukti dan teruji kan hukum kausalitas versi newton?

Justru ane ingin bertanya pada ente kok mengenai hukum kausalitas yang bersifat non-materi..
Logika sederhananya, jika ada yang dikatakan panas, pasti ada yang dikatakan dingin..
Sekarang menurut ente, hukum kausalitas yang bersifat materi adalah hukum newton ( shakehand ), berarti ada yang bersifat untuk non-materi, apakah itu..?
Jangan katakan bahwa hukum kausalitas hanya bersifat materi saja ya, karena pasti jika ada yang dikatakan 'A' pasti ada yang dikatakan 'B'..

Quote:
Original Posted By Gaion

ini mah argumen suka2...
emang cuma hukum newton yang teruji secara ilmiah
kalo emang hukum karma itu ilmiah, koq gue ngga pernah dapet pelajaran sebuah bab khusus tentang hukum karma di sekolah dulu ya? koq di ilmu alam maupun ilmu sosial-ekonomi ngga ada hukum karma?

Jika kehidupan masa lalu bisa dibuktikan dengan cara ilmiah, maka tidak hukum karma pun akan dapat dibuktikan dan teruji secara ilmiah kebenarannya.. Dan bukti secara ilmiah telah ada seperti pada contoh diatas..
Setau saya, hukum karma ini memang tidak diajarkan pada sekolah umum, karena sekolah umum lebih mementingkan apa yang terlihat secara materi..
Pelajaran mengenai hukum karma ini (bila dengan pandangan dan sesuai dengan ajaran Buddhist), dapat dipelajari pada sekolah2 khusus berbasis agama.. Ente akan mendapatkan beberapa bab khusus mengenai hukum karma ini, yang dalam ajaran Buddhst termasuk pada pelajaran Abhidhamma, yang berisi tentang pandangan secara umum ajaran Buddha dhamma, dan konsep hukum karma ini diajarkan..
Dan bila memang ente merasakan pada ilmu pelajaran sekolah umum, seperti biologi, matematika, dsb, maka hukum kausalitas juga terdapat pada pelajaran2 tersebut..
ilmu hukum negara, jika ente mencuri maka terkena hukum pidana selama sekian tahun.. itu merupakan sebagian kecil dari hukum karma.. tindakan mencuri, dan aksi sepadan yang didapat adalah penjara selama sekian tahun..
Sebelumnya, harap hilangkan dulu konsep hukum karma yang menyatakan bahwa perbuatan A akan mendapat pula perbuatan A.. karena pernyataan demikian kurang tepat untuk menggambarkan hukum karma, setau ane, akibat yang didapatkan adalah yang sepadan dengan perbuatan yang dilakukan.. Sehingga bentuk dari akibat yang didapat tidaklah harus seperti yang diperbuat..
Dengan konsep hukum karma yang seperti demikian yang ane tau, berarti tidak terdapat perbedaan dengan pernyataan ente yang mengatakan bahwa setiap aksi menghasilkan aksi balik yang sepadan.. Kalaupun aksi balik yang didapatkan sama dengan aksi yang dilakukan, berarti memang itulah yang pantas dan sesuai dengan kondisi untuk muncul saat itu..
Konsep hukum karma seperti yang ane ketahui berasal dari teman ane yang Buddhist..

Quote:
Original Posted By Gaion

wow...
keliatannya loe sendiri ngga paham hukum kausalitas newton..
amazed:

Ane hanya mencoba meng-aplikasi-kan pemahaman ente yang menyatakan bahwa bila memukul dengan 150 Kj maka ketika suatu saat dipukul juga akan menerima 150 Kj, dan pernyataan ini ente sebut ilmiah..
Dengan pernyataan tersebut, maka teori "ada gula, ada semut" tidak ilmiah lagi, karena 1 KG Gula tidak pasti mengakibatkan 1 KG semut yang berkumpul..


Btw, sudahkah telah disepakati bahwa Hukum Karma = Hukum Kausalitas, terlepas dari ilmiah atau tidaknya, baik bersifat materi-maupun materi..?
Karena sebelumnya, yang ane tau, ente menuliskan bahwa Hukum Karma = Hukum Kausalitas adalah hoax..
Pernyataan ini yang membuat ane merasa aneh..
Karena definisi 'Kausalitas' menurut KBBI adalah perihal sebab-akibat..
dan belakangan ini ente menyatakan bahwa ada sebab-akibat pada hukum Karma..
Justu bila dibilang Hukum Karma = Hukum Kausalitas adalah hoax, maka Hukum Karma bukan Hukum Sebab-Akibat..


Contoh lainnya,
Para Ahli sejarah menyatakan bahwa Dinosaurus hidup pada jutaan bahkan milyaran tahun yang lalu, mereka telah menguji secara ilmiah dari bukti2 kerangka yang ditemukan..
Berarti Sejarahwan menganggap bahwa Dinosaurus hidup pada jutaan bahkan milyaran tahun yang lalu adalah ilmiah berdasarkan pembuktian dengan teori ilmiahnya..
Jelas ini akan menjadi tidak ilmiah pada penganut Samawi, karena mereka beranggapan bahwa umur Bumi tidak mungkin sampai selama itu dihitung dari Manusia pertama yang diyakininya..
Berarti mana yang benar tentang ilmiah tidaknya mengenai umur bumi dan kehidupan disana..?
Karena sampai sekarang tidak ada bukti untuk mengetahui umur bumi secara tepat..

Darimanakah sebuah pengukuran untuk menyatakan ilmiah atau tidaknya sesuatu..?
intelectual - 19/10/2012 08:15 PM
#1146

set dah panjang banget tuh...
mantep ni bikin artikel skalian...ngakak
MohTheRipper - 19/10/2012 08:18 PM
#1147

GA SETUJU GW

jadi maksud lu, semua kelakuan Muhammad SAW yang suka main cewek dan pedofil dan semua kebiadabannya itu diakibatkan oleh bapaknya, si Abdullah????

JAWAB LO TS!!!
Gaion - 19/10/2012 10:47 PM
#1148

Quote:
Original Posted By joeraygaul
Hasrat ini bisa berubah-ubah tidak?
Hasray untu memakan yang beracun kemudian timbul lagi hasrat untuk tidak memakannya sehingga di awal muncul hasrat untuk memakan tapi tidak jadi memakan karena muncul hasrat lain untuk tidak memakan?
\)

hasrat berubah itu pun adalah takdir
apapun yang telah dan akan terjadi, itu adalah takdir.
termasuk "freewill" seseorang adalah takdir

Quote:
Original Posted By joeraygaul

Itu adalah relativitas untuk dua orang, misalkan satu orang berjalan dengan kecepatan cahaya selama setahun, waktu bagi orang yang bergerak dengan kecepatan cahaya tersebut tetap setahun, tapi bagi orang yang tidak bergerak adalah 50 tahun.
Waktu tetap berjalan selama setahun bagi yang bergerak, masa depan yang bergerak dengan kecepatan cahaya tetap saja mengikuti alur waktu yang berjalan, waktu tetap saja berjalan selama setahun bagi dirinya sendiri.\)
Yang menentukan adalah diri sendiri, karena yang menimbulkan hasrat dan perbuatan adalah diri sendiri. \)

Dan memang, saya tidak percaya "nasib" atau takdir saya ditentukan oleh entitas eksternal di luar diri \)
Walau alam memiliki ketetapan tapi diri sendiri bisa dibentuk untuk beradaptasi atau bertentangan dengan ketetapan alam tersebut. \)
The choice in yours \)

u miss the point bro...
anggaplah ada 2 kejadian. kejadian A dan kejadian B.
menurut relativitas, kejadian A terjadi sebelum kejadian B bagi gue.
tapi tergantung situasinya; bagi loe, bisa jadi kejadian A terjadi sesudah kejadian B.

intinya adalah
- [past] maupun [present] bagi gue ,bisa jadi [future] buat loe
- kita tidak bisa merubah [present] dan [past] gue
- so, kita tidak bisa merubah [future] loe

jika kita tidak bisa merubah [past], [present], dan [future]....
apa itu namanya? takdir!

pada contoh diatas,
jika loe ngotot bisa ngerubah [future] loe, artinya loe ngotot bisa merubah [past] gue. absurd kan? mana mungkin masa lalu bisa dirubah?
the power of fate! DD

Quote:
Original Posted By joeraygaul

Oiya saya lupa, kamu adalah penganut faham nihilistik, sesudah kematian musnah begitu saja, no after life, no heaven, no hell and there is nothing after the death. \)
Sebenarnya ini ada kaitannya dengan hukum kekekalan energi, terdapat energi pada manusia, setelah mati, energi pada manusia ini akankah musnah?
Memori, perasaan dan berbagai aksi dan perbuatan yang dilakukannya selama masih hidup musnah?

Bagi faham nihilistik, ya, musnah, memang tidak ada apa2 setelah kematian.

Corememus nos rosis cras enim moreamor. \)

Coba eksperimen dulu dah, hanya 2 minggu saja bro D.
coffee:

sebenernya sebelum loe bisa mengilmiahkan karma, loe harus bisa mengilmiahkan reinkarnasi... karena tanpa reinkarnasi, hukum karma akan gagal menjelaskan kenapa hitler tidak terbunuh padahal menghilangkan jutaan nyawa.
masalahnya, mana mungkin mengilmiahkan reinkarnasi? D

Quote:
Original Posted By joeraygaul

Ide wortel boleh juga, siapa tau "takdir" menentukan, ngobrol2 sambil ngupi2 dan rokokan bakal seru bro, kalau lewat Banten jangan lupa contact saya, siapa tahu "takdir" akan membuat saya menjamu bro.

:toast

hehe... gue sangat jarang ke banten. tapi why not... serahkan saja pada takdir
:toast
kepalawortel - 19/10/2012 10:51 PM
#1149

bantu gw kasih clue dong
siapa yang keliatan ngeles dan sedikit melenceng p

ngeliat aja da enek apalagi baca ngakak

ngacir:
Gaion - 19/10/2012 11:43 PM
#1150

Quote:
Original Posted By dadudice
--terpaksa di cut, supaya bisa gue reply. max 10rb karakter-- intinya untuk membuktikan hukum karma harus percaya reinkarnasi -- dan loe mengajukan bukti reinkarnasi seorang gadis yang ingat masa lalunya --

gue curiga "bukti reinkarnasi" ini cuma beredar di kalangan buddhist dan sangat diragukan kebenarannya. sorry to say.. there's no scientific proof kalau reinkarnasi itu ada. kalau tidak, tentunya dunia sains sudah heboh dan reinkarnasi akan masuk kurikulum pelajaran non-buddhist. D
bukannya tidak mungkin, tapi yang jelas sejauh ini tidak meyakinkan dan belum dapat dipertanggungjawabkan

Quote:
Original Posted By dadudice

Kerangka logika (menurut pandangan Buddhis, setau ane.. Hehehehe.. Yb):
1. Konsep Hukum Karma menyatakan bahwa suatu perbuatan dapat berpotensi memunculkan sebuah akibat tergantung pada kondisi..
2. Konsep Hukum Karma menyatakan bahwa semua yang terjadi saat ini merupakan hasil/akibat dari perbuatan dimasa lalu (dikehidupan ini maupun di kehidupan2 sebelumnya)..
Kesimpulan, menurut Buddhist, Hukum Karma adalah ilmiah.. Telah ada Buddhist yang berhasil membuktikan kebenaran dari konsep hukum Karma tersebut dengan melihat ("mengamati") semua perbuatan yang telah dilakukannya baik dikehidupan ini maupun sebelumnya

@bold red.
point 1 : kondisi apa? parameternya apa?tanpa parameter yang jelas mana bisa dipertanggungjawabkan?
point 2 : itu pernyataan hukum karma. tapi faktanya tidak seperti itu. (kasus hitler contohnya)
so, kerangka logika loe failed...
Quote:
Original Posted By dadudice

Begitu pula dengan Hukum karma..
yang bisa merasakan dan membuktikannya menganggap ilmiah, yang tidak bisa menganggap tidak ilmiah..

.....
speechless gue....


Quote:
Original Posted By dadudice

Seperti yang telah ane sampaikan, itu ilmiah bagi yang membuktikannya..
Buktinya, ada ilmu2 hantu, Kuntilanak itu seperti bla-bla-bla kelemahan bla-bla-bla, pocongkkkkkk itu seperti bla-bla-bla kelemahannya bla-bla-bla, dsb..
Bagi yang pernah melihat dan membuktikannya, akan menganggap itu ilmiah..
dan karena ane belum pernah melihat yang demikian, ane mengangap itu tidak ilmiah.. tapi ane tidak menutup kemungkinan bahwa hantu benar2 ada, hanya saja ane belum membuktikan..
Dan ilmu hantu ini merupakan ilmu pengetahuan bagi yang ingin mendalami per-hantu-an..

doh... nohope:
apapun mungkin... tapi masalahnya, gimana logikanya? setiap kita menyatakan sesuatu mungkin ada, maka kita harus bisa menjelaskan kenapa sesuatu itu mungkin ada nohope:


Quote:
Original Posted By dadudice
Masa..?
hipotesa tentang masa depan itu..?
Sekarang misalkan,
Bro Joe bisa melihat masa depan ente sebelum ente lahir (masih dikandungan), adalah menjadi penjahat..
Maka sesuai dengan teori takdir yang ente pelajari, apakah ente pasti akan menjadi penjahat?
Bagaimana jika secara realita, dengan berjalannya waktu saat ini, katakanlah ente umur 5 tahun, ente tewas tertabrak? berarti ilmu takdir yang dilihat bro Joe pada saat ente yang dikandungan akan salah.. dan dengan demikian teori takdir yang ente nyatakan menjadi tidak tepat bahwa yang dilihat dimasa depan adalah takdir ente..
Jadi bagaimana dengan takdir menurut pandangan ente pada kasus tersebut..?
Apa takdir ente adalah tewas tertabrak di usia 5 tahun. atau takdir yang dilihat oleh bro Joe..? Jika takdir ente adalah yang tewas, takdir siapakah yang dilihat oleh bro Joe..?

kalo bisa dualisme begitu bukan takdir namanya, tapi fiksi...

gue majuin juga dhe buat loe apa yang gue kasih ke bro joeray...

     anggaplah ada 2 kejadian. kejadian A dan kejadian B.
menurut relativitas-nya einstein , kejadian A terjadi sebelum kejadian B bagi gue.
tapi tergantung situasinya; bagi loe, bisa jadi kejadian A terjadi sesudah kejadian B.
dan ilustrasi di atas teruji dan terbukti nyata.
intinya adalah
- [past] maupun [present] bagi gue ,bisa jadi [future] buat loe
- kita tidak bisa merubah [present] dan [past] gue
- so, kita tidak bisa merubah [future] loe

so, in case apa yang bro joeray liat bahwa gue dimasa depan jadi bandit, gue tidak mungkin tewas pada usia 5 tahun. takdir itu absolut.


Quote:
Original Posted By dadudice

Justru ane ingin bertanya pada ente kok mengenai hukum kausalitas yang bersifat non-materi..
Logika sederhananya, jika ada yang dikatakan panas, pasti ada yang dikatakan dingin..
Sekarang menurut ente, hukum kausalitas yang bersifat materi adalah hukum newton ( shakehand ), berarti ada yang bersifat untuk non-materi, apakah itu..?
Jangan katakan bahwa hukum kausalitas hanya bersifat materi saja ya, karena pasti jika ada yang dikatakan 'A' pasti ada yang dikatakan 'B'..

yang teruji dan terbukti baru hukum kausalitasnya newton sih....


Quote:
Original Posted By dadudice

Jika kehidupan masa lalu bisa dibuktikan dengan cara ilmiah, maka tidak hukum karma pun akan dapat dibuktikan dan teruji secara ilmiah kebenarannya.. Dan bukti secara ilmiah telah ada seperti pada contoh diatas..
Setau saya, hukum karma ini memang tidak diajarkan pada sekolah umum, karena sekolah umum lebih mementingkan apa yang terlihat secara materi..
Pelajaran mengenai hukum karma ini (bila dengan pandangan dan sesuai dengan ajaran Buddhist), dapat dipelajari pada sekolah2 khusus berbasis agama.. Ente akan mendapatkan beberapa bab khusus mengenai hukum karma ini, yang dalam ajaran Buddhst termasuk pada pelajaran Abhidhamma, yang berisi tentang pandangan secara umum ajaran Buddha dhamma, dan konsep hukum karma ini diajarkan..
Dan bila memang ente merasakan pada ilmu pelajaran sekolah umum, seperti biologi, matematika, dsb, maka hukum kausalitas juga terdapat pada pelajaran2 tersebut..
ilmu hukum negara, jika ente mencuri maka terkena hukum pidana selama sekian tahun.. itu merupakan sebagian kecil dari hukum karma.. tindakan mencuri, dan aksi sepadan yang didapat adalah penjara selama sekian tahun..
Sebelumnya, harap hilangkan dulu konsep hukum karma yang menyatakan bahwa perbuatan A akan mendapat pula perbuatan A.. karena pernyataan demikian kurang tepat untuk menggambarkan hukum karma, setau ane, akibat yang didapatkan adalah yang sepadan dengan perbuatan yang dilakukan.. Sehingga bentuk dari akibat yang didapat tidaklah harus seperti yang diperbuat..
Dengan konsep hukum karma yang seperti demikian yang ane tau, berarti tidak terdapat perbedaan dengan pernyataan ente yang mengatakan bahwa setiap aksi menghasilkan aksi balik yang sepadan.. Kalaupun aksi balik yang didapatkan sama dengan aksi yang dilakukan, berarti memang itulah yang pantas dan sesuai dengan kondisi untuk muncul saat itu..
Konsep hukum karma seperti yang ane ketahui berasal dari teman ane yang Buddhist..

let's see... kalau memang hukum karma ilmiah, gimana dengan karma hitler?nohope:
percuma loe bilang apapun kalau pada kenyataannya hitler tidak mati terbunuh setelah menghilangkan jutaan nyawa.
dan kalau soal reinkarnasi, faktanya reinkarnasi tidak diajarkan ke kurikulum nasional dan internasional... ilmiah dari mana?


Quote:
Original Posted By dadudice

Ane hanya mencoba meng-aplikasi-kan pemahaman ente yang menyatakan bahwa bila memukul dengan 150 Kj maka ketika suatu saat dipukul juga akan menerima 150 Kj, dan pernyataan ini ente sebut ilmiah..
Dengan pernyataan tersebut, maka teori "ada gula, ada semut" tidak ilmiah lagi, karena 1 KG Gula tidak pasti mengakibatkan 1 KG semut yang berkumpul..

teori ada gula ada semut itu lah yang konyol... bukan hukum kausalitasnya yang gagal...

Quote:
Original Posted By dadudice

Btw, sudahkah telah disepakati bahwa Hukum Karma = Hukum Kausalitas, terlepas dari ilmiah atau tidaknya, baik bersifat materi-maupun materi..?
Karena sebelumnya, yang ane tau, ente menuliskan bahwa Hukum Karma = Hukum Kausalitas adalah hoax..
Pernyataan ini yang membuat ane merasa aneh..
Karena definisi 'Kausalitas' menurut KBBI adalah perihal sebab-akibat..
dan belakangan ini ente menyatakan bahwa ada sebab-akibat pada hukum Karma..
Justu bila dibilang Hukum Karma = Hukum Kausalitas adalah hoax, maka Hukum Karma bukan Hukum Sebab-Akibat..

emang bukan... nohope:
inget, yang gue maksud hukum kausalitas disini adalah hukum ke 3 nya newton...

Quote:
Original Posted By dadudice

Contoh lainnya,
Para Ahli sejarah menyatakan bahwa Dinosaurus hidup pada jutaan bahkan milyaran tahun yang lalu, mereka telah menguji secara ilmiah dari bukti2 kerangka yang ditemukan..
Berarti Sejarahwan menganggap bahwa Dinosaurus hidup pada jutaan bahkan milyaran tahun yang lalu adalah ilmiah berdasarkan pembuktian dengan teori ilmiahnya..
Jelas ini akan menjadi tidak ilmiah pada penganut Samawi, karena mereka beranggapan bahwa umur Bumi tidak mungkin sampai selama itu dihitung dari Manusia pertama yang diyakininya..
Berarti mana yang benar tentang ilmiah tidaknya mengenai umur bumi dan kehidupan disana..?
Karena sampai sekarang tidak ada bukti untuk mengetahui umur bumi secara tepat..

tidak perlu secara tepat..
loe ngga perlu tau usia tepatnya seorang nenek untuk mengatakan bahwa nenek itu bukan remaja kan?

[QUOTE=dadudice;764328911]
Darimanakah sebuah pengukuran untuk menyatakan ilmiah atau tidaknya sesuatu..?
dadudice - 20/10/2012 03:56 AM
#1151

Quote:
Original Posted By Gaion
gue curiga "bukti reinkarnasi" ini cuma beredar di kalangan buddhist dan sangat diragukan kebenarannya. sorry to say.. there's no scientific proof kalau reinkarnasi itu ada. kalau tidak, tentunya dunia sains sudah heboh dan reinkarnasi akan masuk kurikulum pelajaran non-buddhist. D
bukannya tidak mungkin, tapi yang jelas sejauh ini tidak meyakinkan dan belum dapat dipertanggungjawabkan


http://healindonesia.com/2012/06/28/fobia-dan-tanda-lahir-merupakan-bukti-reinkarnasi/

Kenapa harus cuma beredar di kalangan Buddhist, justru Buddhist yang telah mencapai tingkat pemahaman yang cukup, tidak perlu/butuh berita2 seperti itu..
Pada artikel yang ane bawakan, itu menunjukan bahwa hal mengenai kehidupan sebelumnya telah diuji dan terbukti..
Mengapa dunia sains ingin menguji coba hal itu..? dikaitkan pada fobia dan tanda lahir lagi.. dan disitu ternyata peneliti itu berhasil membuktikan hubungan fobia dan tanda lahir dengan kehidupan kembali..
Apa artikel tersebut khusus bagi Buddhist? Penelitinya juga Buddhist? yang diteliti juga Buddhist?
Kenapa sekarang juga ada pula terapi hipnotis yang mengatakan dapat membantu melihat kehidupan masa lalu sampai kehidupan sebelumnya..
Untuk apa pula kurikulum kehidupan kembali ini diterapkan pada sekolah2 nasional..? apa manfaat kelahiran kembali dijadikan kurikulum..?
Sekolah nasional ataupun internasional hanya mempelajari yang berupa materi, tapi tidak dengan non-materi.. apakah reinkarnasi tampak..?
yang ane tahu, saat ini mungkin pelajaran psikologi yang mulai meneliti mengenai kehidupan sebelumnya ini, karena ane melihat dari adanya praktek hipnoterapi untuk melihatnya..

Oh ya, sekedar meluruskan pandangan, bahwa dalam Buddhist tidak mengenal yang dinamakan Reinkarnasi, tapi Tumimbal Lahir.. Intinya sama2 terlahir kembali, tapi beda konsep..
dan, yang ane tahu, bahkan Buddhist sendiri menganjurkan untuk tidak mempercayai 100% dari hasil terapi hipnotis tersebut, dikarenakan diri yang melihat masih diliputi dengan nafsu2 sehingga yang dilihat belum tentu benar dan itu hanya khayalan saja.. Tapi Buddhist yang sudah membuktikan adanya kehidupan sebelumnya, adalah Buddhist yang telah menjalankan praktek dan sudah pasti bisa membedakan antara khayalan dan yang benar..
Maka dari itu, pembuktian kelahiran kembali, sebenarnya tidak perlu diberitahukan pada orang lain, karena orang lain yang belum bisa membuktikan tidak akan percaya sehingga pemberitahuan itu adalah tindakan yang sia-sia tiada bermanfaat..
Dan psikolog yang sudah ahli pasti dapat mengetahui beda antara khayalan dengan yang terjadi kan..? tentu psikolog tersebut menggunakan teori2 ilmiah yang didapatkannya kan..?

Dengan adanya kasus2 seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa adanya kehidupan sebelumnya sudah terbukti adanya..
Jika ente tetap menyangkalnya, coba ente jelaskan argumen ente yang logis (tanpa asumsi) pada terjadinya kasus2 demikian (anak yang dapat menceritakan dengan benar mengenai kehidupan sebelumnya).?

FYI, karena ente dan ane belum berhasil membuktikan sendiri itu, maka ente dan ane berhak untuk tidak percaya.. Tapi jangan pernah menutup kemungkinan adanya fenomena tersebut, cukup untuk menambah informasi saja bahwa fenomena itu telah terjadi pada mereka.. Ane tidak menganjurkan untuk percaya, tapi ane ingin berbagi informasi saja..

Quote:
Original Posted By Gaion

@bold red.
point 1 : kondisi apa? parameternya apa?tanpa parameter yang jelas mana bisa dipertanggungjawabkan?
point 2 : itu pernyataan hukum karma. tapi faktanya tidak seperti itu. (kasus hitler contohnya)
so, kerangka logika loe failed...

Maka dari itu sebelumnya ane udah mengatakan bahwa kerangka logika seperti itu pasti akan ditolak oleh yang belum pernah membuktikannya..
Kondisi yang tepat untuk munculnya karma tergantung pada banyak faktor, alam dan kesadaran yang dimiliki diri orang tersebut juga berpengaruh pada munculnya karmanya..
dan sekali lagi, parameter itu hanya dapat diketahui oleh dirinya sendiri dengan mengamati yang ada disekitarnya.. jelas yang bisa mempertanggungjawabkan adalah dirinya sendiri, karena pembuktian karma berguna untuk dirinya sendiri dan bukan untuk orang lain.. jadi buat apa bukti dari dirinya itu diberitahukan ke orang lain..? karena bukti tersebut berlaku untuk dirinya sendiri, tidak bagi orang lain..
point 2, pernyataan tersebut merupakan bagian dari konsep Hukum Karma, bukan keseluruhan dari mekanisme Hukum Karna..
Pembahasan Hitler dibawah saja ya...

Quote:
Original Posted By Gaion

.....
speechless gue....


Oleh karena itulah, ane sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa pembuktian hukum karma ini seperti pembuktian mengenai adanya rasa.. Hanya bisa dirasakan dan dibuktikan sendiri oleh diri sendiri, dan bukan orang lain.. Jadi seperti bagaimanapun ente menuntut bukti adanya hukum karma, ane hanya bisa mengatakan bahwa semua orang tidak akan bisa membuktikannya untuk ente..

Quote:
Original Posted By Gaion

doh... nohope:
apapun mungkin... tapi masalahnya, gimana logikanya? setiap kita menyatakan sesuatu mungkin ada, maka kita harus bisa menjelaskan kenapa sesuatu itu mungkin ada nohope:

Logika..?
Justru mereka menggunakan logika sederhana, apa yang bisa dilihat dan dirasakan oleh dirinya, itulah yang benar dan ilmiah baginya..
Ini logika sederhana..
Atheist menggunakan logika sederhana ini untuk menyangkal adanya Tuhan yang Maha, karena Atheist belum berhasil melihat entitas tersebut..
kenapa harus menjelaskan sesuatu yang ada tapi belum tentu ada bagi orang lain..? bukankah menjelaskan itu merupakan hal yang sia2, karena bagaimanapun orang yang diberitahu tidak akan percaya, dan mereka yang tidak percaya selalu menuntut bukti2..
Masalahnya, jika pada kasus rasa tersebut, bagaimana orang normal menjelaskan tentang adanya rasa itu pada orang yang tidak normal.? dan ketika orang tidak normal tersebut meminta bukti, bagaimanakah orang normal bisa memberikan bukti..?

Quote:
Original Posted By Gaion

kalo bisa dualisme begitu bukan takdir namanya, tapi fiksi...

gue majuin juga dhe buat loe apa yang gue kasih ke bro joeray...

     anggaplah ada 2 kejadian. kejadian A dan kejadian B.
menurut relativitas-nya einstein , kejadian A terjadi sebelum kejadian B bagi gue.
tapi tergantung situasinya; bagi loe, bisa jadi kejadian A terjadi sesudah kejadian B.
dan ilustrasi di atas teruji dan terbukti nyata.
intinya adalah
- [past] maupun [present] bagi gue ,bisa jadi [future] buat loe
- kita tidak bisa merubah [present] dan [past] gue
- so, kita tidak bisa merubah [future] loe

so, in case apa yang bro joeray liat bahwa gue dimasa depan jadi bandit, gue tidak mungkin tewas pada usia 5 tahun. takdir itu absolut.


Sebelumnya, ane memberitahukan bahwa anak yang di Rusia itu, bernama Boriska Kipriyanovich..
Dia selain menceritakan masa lalunya, juga bercerita mengenai masa depan dunia ini..
dadudice - 20/10/2012 03:57 AM
#1152

Quote:
Original Posted By Gaion

yang teruji dan terbukti baru hukum kausalitasnya newton sih....

siapa yang menguji dan siapa yang membuktikan..?
bukankah teori hukum karma juga telah diuji dan dibuktikan oleh dirinya sendiri mengenai adanya sebab-akibat..?

Quote:
Original Posted By Gaion

let's see... kalau memang hukum karma ilmiah, gimana dengan karma hitler?nohope:
percuma loe bilang apapun kalau pada kenyataannya hitler tidak mati terbunuh setelah menghilangkan jutaan nyawa.
dan kalau soal reinkarnasi, faktanya reinkarnasi tidak diajarkan ke kurikulum nasional dan internasional... ilmiah dari mana?

Sesuai dengan kerangka logika diatas,
pada point 1 dinyatakan bahwa potensi munculnya karma tergantung pada kondisi yang tepat, sehingga yang terjadi pada kasus Hitler yang dibawakan dapat dilogika bahwa saat itu kondisi untuk memunculkan karmanya tidak tepat..
pada point 2 dinyatakan bahwa yang dialami saat ini merupakan hasil dari munculnya karma, sehingga pada kasus Hitler, yang akan menerima karma dari perbuatannya dikehidupan sebagai Hitler adalah "Hitler".. dan apa yang dialami oleh "Hitler" saat itu adalah karmanya yang muncul karena Hitler dengan kondisi yang memang tepat untuk muncul dikehidupan "Hitler"..
Jadi bisa saja kehidupan "Hitler" menjadi makhluk yang menderita..
Inilah pernyataan yang menjawab pertanyaan mengapa ada makhluk yang terlahir cacat / miskin / kaya / pintar / bodoh / sehat / sakit2an, dsb..
kelahiran dengan kondisi demikian ente sebut sebagai takdir..
dan menurut ane, takdir itu sendiri merupakan buah karma itu sendiri yang muncul saat itu (berarti saat itu adalah saat yang tepat untuk memunculkan karma)..

Quote:
Original Posted By Gaion

teori ada gula ada semut itu lah yang konyol... bukan hukum kausalitasnya yang gagal...

Dimana letak kekonyolan teori tersebut..?
Bukankah teori tersebut telah banyak orang buktikan..?
Ataukah ente belum pernah membuktikannya..?
Coba saja ente taruh 1 KG Gula, apakah ada semut yang datang..?
Masalahnya ada pada pernyataan ente yang menyatakan bahwa hukum kausalitas = hukum Newton, dan sesuai dengan teori Newton yang anda nyatakan bahwa 150 Kj akan mendapatkan ganjaran 150 Kj juga..
Nah pada teori gula ini, berarti ente sama dengan menyatakan bahwa hukum kausalitas dari teori gula ini adalah 1 KG Gula mengakibatkan 1 KG Semut yang berkumpul..

Quote:
Original Posted By Gaion

emang bukan... nohope:
inget, yang gue maksud hukum kausalitas disini adalah hukum ke 3 nya newton...

Ente sendiri sebelumnya menyatakan bahwa ada sebab-akibat pada Hukum Karma, lantas sebab-akibat seperti apa bila bukan Kausalitas (mengacu pada definisi Kausalitas pada KBBI)..?
Nah inilah yang menurut ane menjadi titik permasalahan.. Ente menyatakan bahwa hukum kausalitas adalah hukum Newton saja..
Padahal bila mengacu pada definisi kata Kausalitas menurut KBBI adalah perihal sebab-akibat, dan tidak tertulis bahwa itu hanya hukum Newton saja..
bila sesuai dengan definisi KBBI, jelas Hukum Karma juga adalah Hukum Kausalitas.. shakehand
Hukum Karma tidak sama dengan Hukum Newton, ini menurut ane tepat karena Hukum Karma dan Hukum Newton beda Konsep, tapi pada intinya sama juga yaitu Kausalitas..
Sama dengan kata "Terlahir Kembali", "Reinkarnasi" dan "Tumimbal lahir" tidak sama karena beda konsep, tapi intinya adalah sama..
Jadi, ane rasa tidak perlu dilanjutkan bila ente tidak mau terbuka pada Hukum Kausalitas lainnya, dan hanya terpaku pada Hukum Kausalitas = Hukum Newton.. karena sudah jelas beda konsep..
Bagi yang sudah berhasil membuktikan kebenaran pada masing2 konsep tersebut pasti akan mengatakan bahwa masing2 konsep adalah ilmiah.. shakehand

Quote:
Original Posted By Gaion

tidak perlu secara tepat..
loe ngga perlu tau usia tepatnya seorang nenek untuk mengatakan bahwa nenek itu bukan remaja kan?

Masalahnya disini adalah ente menyatakan bahwa pada hukum Newton 150 Kj akan juga mendapat 150 Kj, jadi klo tidak perlu secara tepat 150 Kj, misal hanya 100 Kj, apa hukum Newton jadi ilmiah..?
Jika ada pengecualian tidak harus tepat, maka Hukum Karma juga bisa dikategorikan sebagai ilmiah dong, karena menurut konsep hukum karma menyatakan bahwa akibat yang diterima tidak harus 100% sama dengan yang dilakukan..

Quote:
Original Posted By Gaion

jika hipotesa logis bisa disusun. dilakukan observasi dan pengumpulan data. dan yang paling penting diuji kebenarannya serta dapat dipertanggungjawabkan.

Pada Hukum Karma,
Logis didapatkan dari pemahaman yang benar mengenai konsep hukum Karma dan Kausalitasnya.. Karma berpotensi muncul pada saat yang tepat, dan semua yang terjadi saat ini merupakan akibat yang sepadan dari apa yang dilakukan dimasa lalu..
Observasi dan pengumpulan data, dilakukan dan didapatkan dari pengamatan terhadap apa yang selama ini dilakukannya minimal pada kehidupan ini.. apa saja yang telah dilakukannya sebelumnya..
Pengujian kebenaran, dilakukan dengan cara mengamati segala sesuatu yang dialami saat ini.. apa saja yang telah dialami saat ini, dan mengaitkan pada perbuatan2nya dimasa lalu.. secara sederhana, melihat pada kehidupan saat ini saja, bila memang berhasil mengetahui kehidupan2 sebelumnya, maka bisa untuk menguji secara lebih akurat (karena data yang dipakai lebih banyak) mengenai kejadian yang dialami saat ini..
Pertanggungjawaban, inilah yang perlu diketahui dulu kepada siapa mempertanggungjawabkan pembuktian tersebut.. setau ane, pembuktian hukum karma ini memang tidak digunakan untuk orang lain yang hanya sekedar ingin tau, karena percuma saja diberitahukan hal yang telah dibuktikannya.. Karma yang muncul pada setiap orang adalah tidak sama, sehingga tidak berguna bagi orang lain.. Simpelnya, yang ane alami tidak dialami ente, jadi buat apa ente tahu apa yang ane alami..? apa yang ente alami itulah bukti yang ente dapatkan, dan itu tidak berguna bagi ane mengetahui apa yang ente alami..
Dan dengan demikian, pada kasus anak Rusia tersebut, yang menyatakan pernah hidup di planet Mars dsb, tidak akan berguna bagi kita yang merupakan orang yang tidak mengalaminya..
Dan seperti yang ane katakan sebelumnya, bahwa pembuktian hukum karma ini seperti pembuktian adanya rasa, bisa dirasakan dan dibuktikan sendiri oleh orang normal, tapi tidak dengan orang yang tidak normal..
Apakah pembuktian rasa ini ilmiah..?

Bagaimana pula menurut ente mengenai konsep Takdir yang ente pahami bila melihat dari pengertian ilmiah yang ente bawakan (Logisnya darimana, observasi dan pengumpulan data gimana, pengujiannya gimana, pertanggungjawaban pada siapa..?)
Gaion - 20/10/2012 09:57 AM
#1153

Quote:
Original Posted By dadudice
http://healindonesia.com/2012/06/28/fobia-dan-tanda-lahir-merupakan-bukti-reinkarnasi/

Kenapa harus cuma beredar di kalangan Buddhist, justru Buddhist yang telah mencapai tingkat pemahaman yang cukup, tidak perlu/butuh berita2 seperti itu..
Pada artikel yang ane bawakan, itu menunjukan bahwa hal mengenai kehidupan sebelumnya telah diuji dan terbukti..
Mengapa dunia sains ingin menguji coba hal itu..? dikaitkan pada fobia dan tanda lahir lagi.. dan disitu ternyata peneliti itu berhasil membuktikan hubungan fobia dan tanda lahir dengan kehidupan kembali..
Apa artikel tersebut khusus bagi Buddhist? Penelitinya juga Buddhist? yang diteliti juga Buddhist?
Kenapa sekarang juga ada pula terapi hipnotis yang mengatakan dapat membantu melihat kehidupan masa lalu sampai kehidupan sebelumnya..
Untuk apa pula kurikulum kehidupan kembali ini diterapkan pada sekolah2 nasional..? apa manfaat kelahiran kembali dijadikan kurikulum..?
Sekolah nasional ataupun internasional hanya mempelajari yang berupa materi, tapi tidak dengan non-materi.. apakah reinkarnasi tampak..?
yang ane tahu, saat ini mungkin pelajaran psikologi yang mulai meneliti mengenai kehidupan sebelumnya ini, karena ane melihat dari adanya praktek hipnoterapi untuk melihatnya..

Oh ya, sekedar meluruskan pandangan, bahwa dalam Buddhist tidak mengenal yang dinamakan Reinkarnasi, tapi Tumimbal Lahir.. Intinya sama2 terlahir kembali, tapi beda konsep..
dan, yang ane tahu, bahkan Buddhist sendiri menganjurkan untuk tidak mempercayai 100% dari hasil terapi hipnotis tersebut, dikarenakan diri yang melihat masih diliputi dengan nafsu2 sehingga yang dilihat belum tentu benar dan itu hanya khayalan saja.. Tapi Buddhist yang sudah membuktikan adanya kehidupan sebelumnya, adalah Buddhist yang telah menjalankan praktek dan sudah pasti bisa membedakan antara khayalan dan yang benar..
Maka dari itu, pembuktian kelahiran kembali, sebenarnya tidak perlu diberitahukan pada orang lain, karena orang lain yang belum bisa membuktikan tidak akan percaya sehingga pemberitahuan itu adalah tindakan yang sia-sia tiada bermanfaat..
Dan psikolog yang sudah ahli pasti dapat mengetahui beda antara khayalan dengan yang terjadi kan..? tentu psikolog tersebut menggunakan teori2 ilmiah yang didapatkannya kan..?

Dengan adanya kasus2 seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa adanya kehidupan sebelumnya sudah terbukti adanya..
Jika ente tetap menyangkalnya, coba ente jelaskan argumen ente yang logis (tanpa asumsi) pada terjadinya kasus2 demikian (anak yang dapat menceritakan dengan benar mengenai kehidupan sebelumnya).?

FYI, karena ente dan ane belum berhasil membuktikan sendiri itu, maka ente dan ane berhak untuk tidak percaya.. Tapi jangan pernah menutup kemungkinan adanya fenomena tersebut, cukup untuk menambah informasi saja bahwa fenomena itu telah terjadi pada mereka.. Ane tidak menganjurkan untuk percaya, tapi ane ingin berbagi informasi saja..

let's see dhe
sejauh ini yang ada baru klaim orang2 yang ingat kembali dan beberapa penelitian... nohope: tidak diajukan satupun bukti lho... nohope:
jadi inget percobaan yang diklaim ilmiah tentang "shared memory"... p

anyway, selama belum ada buktinya ya sah2 aja gue tidak percaya. reinkarnasi sejauh ini adalah "klaim bahwa seseorang bisa mengingat masa lalunya"
what kind of proof is that? nohope:
inilah sebabnya reinkarnasi tidak masuk kurikulum ilmu alam... cuma filosofi doang D
Quote:
Original Posted By dadudice

Maka dari itu sebelumnya ane udah mengatakan bahwa kerangka logika seperti itu pasti akan ditolak oleh yang belum pernah membuktikannya..
Kondisi yang tepat untuk munculnya karma tergantung pada banyak faktor, alam dan kesadaran yang dimiliki diri orang tersebut juga berpengaruh pada munculnya karmanya..
dan sekali lagi, parameter itu hanya dapat diketahui oleh dirinya sendiri dengan mengamati yang ada disekitarnya.. jelas yang bisa mempertanggungjawabkan adalah dirinya sendiri, karena pembuktian karma berguna untuk dirinya sendiri dan bukan untuk orang lain.. jadi buat apa bukti dari dirinya itu diberitahukan ke orang lain..? karena bukti tersebut berlaku untuk dirinya sendiri, tidak bagi orang lain..
point 2, pernyataan tersebut merupakan bagian dari konsep Hukum Karma, bukan keseluruhan dari mekanisme Hukum Karna..
Pembahasan Hitler dibawah saja ya...

whoaa.... parameternya ngga ada? subjektif total? kalo gitu ilusi orang schizo juga bisa dibilang ilmiah nohope:

Quote:
Original Posted By dadudice

Oleh karena itulah, ane sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa pembuktian hukum karma ini seperti pembuktian mengenai adanya rasa.. Hanya bisa dirasakan dan dibuktikan sendiri oleh diri sendiri, dan bukan orang lain.. Jadi seperti bagaimanapun ente menuntut bukti adanya hukum karma, ane hanya bisa mengatakan bahwa semua orang tidak akan bisa membuktikannya untuk ente..

karena rasa manis adalah common sense. pembuktiannya adalah dengan melihat sinyal otak ketika merasakan gula...
ketika orang tidak bisa merasakan manis, itu akan dianggap tidak wajar...

nah, sejak kapan hukum karma itu common sense ?? nohope:
loe mau bilang orang yang ngga percaya/ngga bisa membuktikan hukum karma itu orang tidak normal? berbusa:berbusa: what a bullcrap logic!

Quote:
Original Posted By dadudice

Logika..?
Justru mereka menggunakan logika sederhana, apa yang bisa dilihat dan dirasakan oleh dirinya, itulah yang benar dan ilmiah baginya..
Ini logika sederhana..
Atheist menggunakan logika sederhana ini untuk menyangkal adanya Tuhan yang Maha, karena Atheist belum berhasil melihat entitas tersebut..
kenapa harus menjelaskan sesuatu yang ada tapi belum tentu ada bagi orang lain..? bukankah menjelaskan itu merupakan hal yang sia2, karena bagaimanapun orang yang diberitahu tidak akan percaya, dan mereka yang tidak percaya selalu menuntut bukti2..
Masalahnya, jika pada kasus rasa tersebut, bagaimana orang normal menjelaskan tentang adanya rasa itu pada orang yang tidak normal.? dan ketika orang tidak normal tersebut meminta bukti, bagaimanakah orang normal bisa memberikan bukti..?

banyak cara. ngga perlu dijelaskan disini. loe bisa cari literatur untuk menentukan mana yang normal dan mana yang tidak.
loe mau bilang orang scizo itu normal ya? delusi dari orang schizo itu ilmiah dan wajar? berbusa:


[QUOTE=dadudice;765894280]
Sebelumnya, ane memberitahukan bahwa anak yang di Rusia itu, bernama Boriska Kipriyanovich..
Dia selain menceritakan masa lalunya, juga bercerita mengenai masa depan dunia ini..
Page 58 of 58 | ‹ First  < 53 54 55 56 57 58
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > [FREE]Hukum Karma?