Karesidenan Besuki
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > JAWA TIMUR & BALI > Karesidenan Besuki > Lare Oesing Must Know, Myane heng Kmenow [Wocokaken kemeruh]
Total Views: 1121 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 3 |  < 1 2 3

wicaxvaganza - 18/09/2011 06:41 AM
#41

Mengenal Sejarah Blambangan

Lare Oesing Must Know, Myane heng Kmenow [Wocokaken kemeruh]

Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, sebelah selatan Banyuwangi. Raja yang terakhir menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo. Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit. Blambangan dianggap sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Jawa.

Sebelum menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah Kerajaan Bali. Usaha penaklukan kerajaan Mataram Islam terhadap Blambangan tidak berhasil. Inilah yang menyebabkan mengapa kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk pada budaya Jawa Tengahan, sehingga kawasan tersebut hingga kini memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali juga tampak pada berbagai bentuk kesenian tari yang berasal dari wilayah Blambangan.
Merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blambangan kiranya tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Sebelum peristiwa puncak perang Puputan Bayu tersebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, yaitu peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Puger ( putra Wong Agung Wilis ) ke benteng VOC di Banyualit pada tahun 1768.

Namun sayang peristiwa tersebut tidak tercatat secara lengkap pertanggalannya, dan selain itu terkesan bahwa dalam penyerangan tersebut kita kalah total, sedang pihak musuh hampir tidak menderita kerugian apapun. Pada peristiwa ini Pangeran Puger gugur, sedang Wong Agung Wilis, setelah Lateng dihancurkan, terluka, tertangkap dan kemudian dibuang ke Pulau Banda ( Lekkerkerker, 1923 ).

Berdasarkan data sejarah nama Banyuwangi tidak dapat terlepas dengan keajayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah perlindungan Bali (1763-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan ( Ibid.1923 :1045 ).

Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur ( termasuk Blambangan ) diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC, VOC merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya. Namun untuk sementara masih dibiarkan sebagai barang simpanan, yang baru akan dikelola sewaktu-waktu, kalau sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat memina bantuan VOC untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum tertarik untuk melihat ke Blambangan (Ibid 1923:1046).

Namun barulah setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan dan mendirikan kantor dagangnya (komplek Inggrisan sekarang) pada tahun 1766 di bandar kecil Banyuwangi ( yang pada waktu itu juga disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum), maka VOC langsung bergerak untuk segera merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara umum dalam peprangan yang terjadi pada tahun 1767-1772 ( 5 tahun ) itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah dikuasai Inggris.

Dengan demikian jelas, bahwa lahirnya sebuah tempat yag kemudian menjadi terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi kasus-beli terjadinya peperangan dahsyat, perang Puputan Bayu. Kalau sekiranya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin VOC tidak akan buru-buru melakukan ekspansinya ke Blambangan pada tahun 1767. Dan karena itu mungkin perang Puputan Bayu tidak akan terjadi ( puncaknya ) pada tanggal 18 Desember 1771. Dengan demikian pasti terdapat hubungan yang erat perang Puputan Bayu dengan lahirnya sebuah tempat yang bernama Banyuwangi. Dengan perkataan lain, perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses lahirnya Banyuwangi. Karena itu, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi sesungguhnya sangat rasional.

Lanjut dibawahbeer:
wicaxvaganza - 18/09/2011 06:43 AM
#42

SITUS-SITUS BUMI BLAMBANGAN

- Makam-Makam Bupati Banyuwangi
Barat pengimaman masjid Baiturrohman terdapat makam-makam bupati Banyuwangi antara lain : Wiroguno II (1782-1818), Suronegoro (1818-1832), Wiryodono Adiningrat (1832-1867), Pringgokusumo (1867-1881), Astro Kusumo (1881-1889), sedangkan Bupati pertama Banyuwangi Mas Alit (1773-1781) gugur dan dimakamkan di Karang Asem Sedayu. Hanya bajunya saja yang dikebumikan di taman pemakaman tersebut.

- Masjid Jami’ Baiturrohman
Tanah wakaf dari masa (Wiroguno I) yang direhap pertama kali pada masa Raden Tumenggung Pringgokusumo. Dulu terdapat kaligrafi bertuliskan Allah Muhammad yang ditulis oleh Mas Muhammad Saleh dengan pengikutnya Mas Saelan. Mulai tahun 2005 sampai sekarang Masjid ini masih dalam tahap renovasi dan akan menjadi salah satu aikon Banyuwangi setelah selesai di renovasi.

- Sumur Sri Tanjung
Ditemukan pada masa Raden Tumenggung Notodiningrat (1912-1920). Terletak di timur Pendopo Kabupaten. Sri tanjung dan Sidopekso merupakan legenda turun-menurun yang merupakan kisah asmara dan kesetiaan yang merupakan cikal bakal Banyuwangi.
Konon jika sewaktu-waktu air sumur berubah bau menjadi wangi maka itu akan menjadi suatu pertanda baik / buruk yang akan menimpa suatu daerah ataupun bangsa ini.


- Musium Blambangan
Berlokasi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Awalnya didirikan oleh Bupati Banyuwangi Djoko Supaat Selamet yang berkuasa pada tahun (1966-1978) di kompleks pendopo Kabupaten Banyuwangi namun pada tahun 2004 Musium direlokasikan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi hingga sekarang.
Koleksi yang dimiliki oleh museum antara lain: Berbagai macam kain batik, contoh rumah adat using Banyuwangi, kain-kain dari masa lampau, replica seni musik angklung, aneka macam senjata perang, alat-alat musik peninggalan Belanda, dan yang paling menarik perhatian pengunjung untuk melihat replica Barong dan penari Gandrong yang menjadi simbol Kota Banyuwangi

- Sonangkaryo
Sonangkaryo adalah umbul-umbul kerajinan Blambangan, menurut Mishadi hasil wawancara dengan Sayu Darmani (Tumenggungan) bahwa ibunya yang bernama Sayu Suwarsih telah lama menyimpan Sonangkaryo tersebut, namun ketika dirasa tidak kuat lagi mengemban amanah tersebut, maka dibuanglah satu kotak pusaka yang berisi umbul-umbul Sonangkaryo, Cemeti, dan Lebah penari musuh.

- Tugu TNI 0032
Taman Makam pahlawan yang terletak di bibir pantai Boom merupakan pertempuran tentara laut NKRI yang dipimpin oleh Letnan Laut Sulaiman melawan AL, AD, dan AU Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Tugu tersebut disahkan oleh Presiden RI yang pertama yaitu Bung Karno.

- Benteng Ultrech (Kodim)
Berada di batas selatan markas Kodim, dulu terdapat rumah nuansa Portugis yang dijadikan sebagai tempat pengintaian Balanda terhadap gerak-gerik orang Blambangan di pendopo pada masa pemerintahan Mas Alit.

- Inggrisan
Dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1766-1811, yang luasnya sekitar satu hektar, merupakan markas yang dulunya bernama Singodilaga, kemudian diganti dengan nama Loji (Inggris = Lodge, artinya penginapan / pintu penjagaan) yang disekitarnya dibangun lorong-lorong terhubung dengan Kali Lo (Selatan), dan Boom (Timur) akhirnya diserahkan kepada Inggris setelah Belanda kalah perang (Sumber Java’s Last Frontier, Margono. 2007),selatan berupa perkantoran yang disebut Bire (Sekarang Telkom) dan kantor pos, di daerah tersebut pernah terjadi peristiwa yang hamper mirip dengan peristiwa di hotel Yamato, Surabaya, yaitu orang-orang Blambangan dengan berani merobek bendera belanda yang berwarna merah putih biru menjadi merah putih saja.
Depan Inggrisan terdapat Tegal Loji, selatannya adalah perkampungan Belanda (Kulon dam), timurnya adalah Benteng Ultrech dan tempat penimbunan kayu gelondongan (sekarang Gedung Wanita) sebelah utara dulu sebagai kantor regent dan garasi kuda mayat (sekarang Bank Jatim) dan perumahan Kodim sekarang, dulu adalah markas polisi Jepang / kompetoi lalu jaman Belanda dijadikan perumahan svout.

- Makam Datuk Malik Ibrahim
Salah satu Waliyullah keturunan Arab Saudi yang banyak di kunjungi peziarah dari dalam dan luar Banyuwangi terletak di Desa Lateng Banyuwangi.

- Konco Hoo Tong Bio<
Terletak di Pecinan kecamatan kota Banyuwangi pada waktu terjadi pembantaian orang-orang Cina oleh VOC di Batavia, seorang yang bernama Tan Hu Cin Jin dari dratan Cina yang menaiki perahu bertiang satu.
Perahu tersebut kandas di sekitar pakem dan Tan Hu Cin Jin memutuskan menetap di wilayah Banyuwangi. Untuk mengenang peristiwa tersebut, didirikanlah klenteng Hoo Tong Bio.
Setiap tanggal 1 bulan Ciu Gwee (kalender cina), pada tengah malam sebelum tahun baru diadakan sembahyang bersama. Dalam acara tahun baru Imlek kesenian barong Said an Kong-kong ditampilkan, kemudian ada sebuah acara yang disebut Cap Go Mee dirayakan pada hari ke 15 sesudah tahun baru Imlek, dengan mengarak patung yang Maha Kong Co Tan Hu Cin Jin keliling disekitar kampung pecinan. Hal ini dimaksud kan untuk menolak bala’ dan mengharap berkah kepada Tuhan. Acara ini dimiriahkan dengan tarian barongsai dan berbagai kesenian daerah lainnya. Makanan khas yang disajikan adalah lontong Cap Go Mee.

Tak hanya itu, Hari ulang tahun tempat ibadah Tri Dharma “Hoo tong Bio” yang dibangun pada tahun 1781, ucapan itu bertujuan untuk memperingati kebesaran yang mulia Kong Co Tan Hu Cin Jin dan biasanya doadakan pd tanggal 27 Agustus.

- Watu Dodol
Sebuah batu besar terletak di daerah ketapang yang pernah ditarik oleh kapal Jepang, pernah dijadikan benteng pertahanan Jepang pada masa perang dunia II, dan pada maa setelah kemerdekaan dijadikan tempat pendaratan Belanda antara lain 14 April 1946 yang mendapatkan perlwanan orang Banyuwangi dibawah kepemimpinan Pak Musahra (orang tua dari Lurah Astroyu), 20 Juli 1946 Belanda mendapatkan perlawanan dari Yon Macan Putih yang dipimpin oleh Raden Abdul Rifa’I dan Letnan Ateng Yogasana, 21 Juli 1947, Yon Macan Putih yang berhasil menenggelamkan kapal dan tengker milik Belanda.
Sejak dahulu kala tempat ini dijadikan tempat Upacara Agama Hindu yaitu Jala Dipuja / Melasti / Melayis yang di maksud untuk memohon anugerah dari penguasa laut, pelaksanaannya bertepatan pada saat mentari bergeser ke Utara khatulistiwa sebelum datangnya hari raya Nyepi.
Upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta yang memberkati umatnya dengan cara mencipratkan “Tirta Suci” yaitu air suci yang diambil dari sumur pitu (tujuh sumber air)

Sumber: Blog e pak Bupati kang Anas
wicaxvaganza - 20/09/2011 02:06 PM
#43

Santet (Tragedi Banyuwangi) Hitamnya Hitam TV One

[YOUTUBE]3hQTTz1-dCs[/YOUTUBE]

Uploaded by hanifwahby on Sep 14, 2011
More Info:
Ini adalah sebuah kejadian menyedihkan apabila sengaja digulirkan untuk kepentingan beberapa manusia yang haus akan amarah ataupun niat buruk lainnya. Dalam Agama ISLAM dianjurkan untuk mencari bukti terlebih dahulu sebelum bertindak karena ditakutkannya asal nuduh sembarangan yang berujung merugikan diri ini sendiri. Semoga tayangan ini tidak terjadi lagi di Indonesia dan Belahan Dunia manapun AMIN ^_^ Semoga Bermanfaat yah

Tanamkan Rukun ISLAM dan Iman di hati kalian wahai Saudara/ri Ku bilamana ingin terbebas dari perkara ini ^_^ Insya ALLAH ALLAH SWT Akan
CaesarSOFT - 21/09/2011 03:35 AM
#44

Quote:
Original Posted By wicaxvaganza
Santet (Tragedi Banyuwangi) Hitamnya Hitam TV One

[YOUTUBE]3hQTTz1-dCs[/YOUTUBE]

Uploaded by hanifwahby on Sep 14, 2011
More Info:
Ini adalah sebuah kejadian menyedihkan apabila sengaja digulirkan untuk kepentingan beberapa manusia yang haus akan amarah ataupun niat buruk lainnya. Dalam Agama ISLAM dianjurkan untuk mencari bukti terlebih dahulu sebelum bertindak karena ditakutkannya asal nuduh sembarangan yang berujung merugikan diri ini sendiri. Semoga tayangan ini tidak terjadi lagi di Indonesia dan Belahan Dunia manapun AMIN ^_^ Semoga Bermanfaat yah

Tanamkan Rukun ISLAM dan Iman di hati kalian wahai Saudara/ri Ku bilamana ingin terbebas dari perkara ini ^_^ Insya ALLAH ALLAH SWT Akan

DiQuote..........

soal e pas kejadian aku jek sma dan melok jogo2....

duh lek eling bengen :mewek keweden temenanan :mewek
kamar15 - 23/10/2011 09:40 PM
#45

golek jodoh lewar gredoan enak paling yooo...D
toketlova - 10/01/2012 09:55 PM
#46
Melayokaken" dan "ngeleboni", akibat buntu komunikasi
Quote:
Original Posted By wicaxvaganza
Masyarakat Using, mengenal tradisi melamar seorang gadis dengan nama "Melayokaken" dan "Ngeleboni". Tradisi ini muncul, apabila jalan normal sulit dicapai. Bisa akibat ketidaksetujuan pihak orang tua gadis atau orang tua pihak laki-laki. Namun langkah untuk mencairkan sikap "wangkot" (keras kepala) orang tua itu, bisanya ditempuh anak muda Using untuk "Melayokaken" gadis pujaannya, atas kemauan si gadis karen sudah terlanjuir cinta. Juga "Ngeleboni" ke rumah seorang gadis pujaanya, apabila orang tua si laki-laki menolak merestui hubungan asmara yang akun dilanjtkan ke pelaminan. Inilah bentuk-bentuk protes atas sikap yang tidak demokratis, namun tidak sedikiti akibat minimnya kemampuan komunikasi antara orang tua dan anak.



"Melayokaken" atau melarikan gadis pujaan, sebetulnya bukan sarana atau jalan satu-satunya menuju mahligai rumah tangga. Langkah ini ditempuh, apabila orang tua gadis tidak setuju atas rencana pinangan yang dilakukan seorang pemuda. Sang Gadis dan Sang Perjaka, sebetulnya sudah melakukan pacara secara sembunyi-sembunyi. Mereka saling cinta, sudah seiya sekata. Namun saat keinginan itu sisampaikan kepada orang tua gadis, ternyata tidak mendapat respon atau tidak disetujui. Padahal, orang tua dari pihak laki-laki tidak memasalahkan hubungan kedua sejoli itu.

Sang pemuda, atau kedua orang tuanya, juga tidak mau spekulasi melamar seorang gadis apabila tidak ada lampu hijau dari kedua orang tua sanga gadis. Komunikasi searah, biasanya dilakukan sang gadis yang dibantu "jaruman" (Mak Comblang). Hasilnya, kemudian dikomunikasikan kepada sang kekasih. Apabila sudah ada lampu hijau, maka persiapan lamaran secara normal akan dilakukan. Namun apabila ditolak dengan alasan apapun, padahal keduanya sudah ngebet ingin hidup bersama secara syah. Sang pemuda akan ditantang, seriuskah ia akan menimang sang gadis. Kalau iya, beranikan "Melayokaken" (melarikan) gadis itu dari orang tuanya untuk dibawa ke rumah keluarga laki-laki.


Tindakan "melayokaken" ini melalui persiapan matang, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Selain atas kemauan sang gadis, pasti sudah ada dukungan dari sebagian keluarga sang gadis yangt tidak sepaham dengan sikap orang tua gadis. Sehingga, kapan sang pemuda membawa gadis dan kemana gadis itu ditempatkan, semua sudah diatur. Begitu juga keluarga sang perjaka, mereka sudah mengatur siasat dan mengatur siapa saja yang akan terlibat dalam proses ini. Baik sebagai pelindung saat sang gadis sudah tiba, maupun yang bertindak sebagai "colok", atau utusan kepada pihak orang tua gadis.

Bagi orang tua perempuan, digambarkan seakan sedang mengalami musibah "kepetengen" (Kegelapan) saat kehilangan gadisnya. Oleh karena itu, diutuslah seseorang untuk "menerangi" (Colok) keluarga gadis. Seorang "Colok", dipilih yang mempunyai kecakapan berbicara dan berargumentasi. Mereka kadang juga diambil dari tokoh masyrakat setempat, agar kehadirannya tidak menimbulkan kemarahan dari pihak perempuan. Colok ini datang ke pihak perempuan, biasanya mengatakan, bahwa anak gadisnya sudah di"pelayokaken" seorang pemuda yang menjadi pilihannya dan hubungannya tidak disetujui. Colok ini juga meyakinkan orang tua gadis, bahwa sang gadis dalam keadaan baik-baik. Hatinya senang, karena diterima baik oleh keluarga laki-laki.

Uniknya, orang tua sang gadis tidak akan marah dan menolak "pinangan" dengan cara "dipelayokaken" itu. Bagi masyarakat Using, aib bila rencana menghalang-halangi hubungan asmara anakknya diketahui orang lain. Meski beda status sosial, langkah melayokaken ini juga efektif menerobos kelas sosial. Se "Wangkot" apapun hati orang tua, akan luluh apabila mengetahui anak gadisnya sudah dipelayokaken sang pemuda. Sikap ini, juga kadang atas kepiawaian sang "colok". Mungkin orang tua gadis, juga akan malu kepada "colok" kalau colok berasal dari tokoh masyarakat setempat.

Apabila sudah ada kesepakatan, maka malam itu juga sang "colok" akan menbawa orang tua gadis untuk menemui orang tua laki-laki (calon besan) sekaligus mengetahui keadaan anaknya. Pada pertemua mendadak ini, kemudian disusunlah rencana pernikahan resmi, Hitung-hitungan tanggal dan weton, kadang juga masih dipakai orang Using. Meski melaksanaannya tidak seketat orang Jawa, yang harus dihitunh tanggala kelahiran dan pasarannya dan dijumlahkan hitunggannya.

Sejauh ini, tradisi "melayokaken" ini tidak sampai berunjung ke masalah hukum. Misalnya orang tua gadis melaporkan kepada polisi, karena anaknya sudah dibawa lari. Ada ketentuan yang harus dipatuhi dari pihak laki-laki, harus secepat mengirimkan "colok", atau setidak-tidaknya kurang dari satu kali 24 jam. Bahkan, kadang orang tua atau pihak perempuan, baru sadar atau mengetahui anak gadisnya dalam "kekuasaan" seorang perjaka, setlah kedatangan seorang "colok". Inilah yang mungkin, tradisi yang sepintas bertentangan dengan hukum positif, tidak berujung ke meja hukum.

Tradisi ini, kadang ada yang menyebut sebagin "kimpoi colongan". Istilah ini sebetulnya bersumber kepada tradisi yang hidup di Bali. Namun apabila untuk menyebutkan tradisi yang hidup di Banyuwangi ini, istilah itu kurang tepat. Mengingat, prosesi perkimpoiannya normal seperti biasa. Masalaha kebuntunan komunikasi, telah cair setelah kedatangan "colok". Orang tua gadis, cepat intropeksi diri, apabila anak gadisnya sudah "dilarikan" seorang pemuda. Bukan memaksakan kehendak, gar menuruti keinginan orang tuanya.

Selain tradisi "melayokaken", juga dikenal tradisi "ngeleboni". Tradisi ini juga mencerminkan keberanian pemuda Using, untuk bersikap atau merealisaiskan keinginannya. Jika keinginan untuk meminang gadis pujannya tidak mendapat respon dari orang tuanya, sang pemuda dengan bantuan "tim" sang setuju atas langkahnya, untuk "Ngeloboni" kepada orang tua gadis.

Pada saat negeloboni ini, sang pemuda biasanya sudah mengetahui respon orang tua gadis atas hubungan yang mereka jalin. Agar orang tuanya memperhatikan keseriusannya, sang pemuda langsung menghadap ke orang tua gadis dan menimangnya sebagai calon pendamping. Namun orang tua gadis tidak serta merta menerima pinangan sang pemuda itu, ia tetap mensyrakatkan ada orang tua atau utusannya yang datang mendapinginya.

Tidak jauh dalam proses "melayokaken" keberadaan "colok" juga dibutuhkan dalam tradisi ini. Mereka akan mendatangi orang tua sang pemuda dan mengetakan, jika anak lelakinya sekarang sedang "ngeloboni" anaknya Pak Anu misalnya, yang tidak lain kekasihnya sendiri yang tidak disetujui dari orang tua pihak laki-laki. Lagi-lagi, bagi orang Using merupakan aib, jika keinginan menghalangi hubungan asmata anaknya diketahui secara luas. Bisa ditebak, persetujuan pun akan didapat. Proses perencanan hari pernikahan pun, segera disusun. Biasanya tidak akan lama, karena mereka kawatir hubungan suci itu akan berubah maksiat, jika terlalu lama hari pernikahannya.

Jika dalam kondisi normal, orang Using mengenal proses "Bakalan" (Tunangan). Biasanya, dari pihak laki-laki yang melamar pihak gadis, dengan membawa "peningset". Kemudian pada hari yang sudah disepakati, akan dilakukan kunjungan balasan dari perempuan. Biasanya dengan mebawa kue, sebagai buah tangan dengan hiasan-hiasan menarik.

Namun orang Using tidak akan menjamin, proses "bakalan" ini benar-benar akan menjadi utuh hingga pelaminan, apabila tidak segera dilakukan. Kedua belah pihak juga selalu diingatkan, bahwa "bakalan" itu rencana manusia. Apabila ada halangan atau rintangan di tengah jalan, kedua belah pihak diminta tidak saling menyalahkan. Seperti yang tercermin dalam basanan atau pantun Using: Ojo maning singkal ro kuthungo, Sasak watu bain embat-embatan// Ojo maning bakal ro wurungo, Wis anak putu bain bisa pegatan. (Jangankan bajak tidak akan patah, Jembatan dari batu saja bisa berayun-ayun. Jangankan tunangan tidak batal, orang yang sudah beranak cucu saja bisa bercerai)
sumber

sepurone seng nganggo boso oseng kai D akeh kadung di terjemahaken :dp
toketlova - 10/01/2012 10:07 PM
#47
Melayokaken" dan "ngeleboni", akibat buntu komunikasi
Sumber tulisan iki teko endi????
Na2nkbwi - 11/01/2012 11:12 AM
#48

Quote:
Original Posted By toketlova
Sumber tulisan iki teko endi????



duleken iki bain kek : http://wong-using.blogspot.com/2011/02/melayokaken-dan-ngeleboni-akibat-buntu.html

iku bloge man Hasan Sentot wong Melik Parijatah... bengen megawe nong SCTV
wicaxvaganza - 12/01/2012 06:07 AM
#49

Quote:
Original Posted By toketlova
Sumber tulisan iki teko endi????

iku wis ono tulisane sumber digu yak DD

Quote:
Original Posted By Na2nkbwi
duleken iki bain kek : http://wong-using.blogspot.com/2011/...bat-buntu.html

iku bloge man Hasan Sentot wong Melik Parijatah... bengen megawe nong SCTV


iyok bener kau D
odedanqyu - 17/09/2012 06:43 PM
#50

sup2 :sup2

sundul lg DD
Page 3 of 3 |  < 1 2 3
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > JAWA TIMUR & BALI > Karesidenan Besuki > Lare Oesing Must Know, Myane heng Kmenow [Wocokaken kemeruh]