DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > [HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab
Total Views: 286142 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 409 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

ZHU Uchiha - 19/04/2011 09:34 AM
#21

Quote:
Original Posted By .revolution.

ada beberapa perbedaan antara hindu bali dan india , misalnya tata cara peribadatan dan rumah ibadah , perayaan hari besar , pakaian adat dalam upacara dsb . Sorri ga nyebutin bedanya dimana , malas ngetik panjang di hp Peace:
kebetulan tetangga gw ada hindu bali yang lagi belajar hindu india aliran krisna , jadi gw tau dikit D

Itu kan mungkin karna pengaruh kebudayaan lokal?
Aliran2nya gimana?[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab
ezeryn - 19/04/2011 09:41 AM
#22

para pemeluk hindu disini bisa sharing carita2 filosofi hindu?
F1205T - 19/04/2011 09:58 AM
#23

Apa tujuan positif dari pengkastaan itu sendiri?
Kalau ga ada, bwt knp pengkastaan masih dipertahankan?



beer:

[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab
inoone - 19/04/2011 10:52 AM
#24

Quote:
Original Posted By thethinkers
Selamat atas dibukanya rumah ABHM :selamat

smoga dapat menjawab pertanyaan2 dari rekan2 kaskuser sekalian ya shakehand

Oh iya boleh numpang pertanyaan gak?

Menurut kalian pemeluk agama hindu, pandangan agama lain dari sisi agama kalian itu seperti apa? misalnya kalian memandang pemeluk agama lain, menyikapi kerusuhan yang sering terjadi akhir2 ini pada pemeluk agama lain dsb.

Trims \)


Ini dr sisi saya pribadi (yg kebetulan beragama hindu). menurut saya, konyol sekali berkelahi dg agama lain krn beda keyakinan. ahmadiyah dibantai itu salah satu yg paling konyol, sama sudara sendiir kok begitu.
D Hindu banyak kok sekte2, ada sai baba, hare khrisna, dll, bhkn antara hindu di kabupaten ini dg kabupaten sana sj bisa ada perbedaaan. Tp kita mah enjoy saja.

Justri di Hindu semboyan "untukmu agamamu, untukku agamaku" benar2 diamalkan.
inoone - 19/04/2011 10:55 AM
#25

Quote:
Original Posted By F1205T
Apa tujuan positif dari pengkastaan itu sendiri?
Kalau ga ada, bwt knp pengkastaan masih dipertahankan?

beer:

[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab


Menurut saya TIDAK ADA.

Kenapa dipertahankan? Tentu saja akan dipertahankan (oleh pihak2 tertentu yg berkepentingan). Itu namanya status quo.

contoh simple, jika anda adalah seorang bangsawan, yg notabene kedudukannya lbh tinggi dr masyarakat biasa, apakah anda tidak ingin keturunan anda juga tetap ber-label bangsawan?
FrenchDragoon - 19/04/2011 11:48 AM
#26

hah ada thread ini tho?

mau tanya? apa bedanya hindu india dan indonesia
Almarhum13 - 19/04/2011 12:16 PM
#27

Quote:
Original Posted By .revolution.
saya sarankan ts minta bantuan rekan dari #167 bila butuh bantuan shakehand[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab

siapp gann.. untuk sementara ane handle dulu sambil tunggu konfirmasi dari yang bersangkutan :thanks \)

Quote:
Original Posted By ZHU Uchiha
os-nya kalo bisa berisi ajaran2 hindu gan jadi ga blank2 amat pengunjungnya \)[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab

iya ne gan nanti ane perbaikin lagi.. thanks \)

Quote:
Original Posted By ..L
di sini banyak tmn2 penganut ajara hindu..

siap gan ane meluncur TKP \)

Quote:
Original Posted By LegionAssault
Penjawabnya siapa mod selain TS???[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab

belom ada gan.. mungkin agan mau bantu ?

Quote:
Original Posted By poni.aneh
swasti astu...

Swastiastu juga bli/gek \)
Almarhum13 - 19/04/2011 12:22 PM
#28

Quote:
Original Posted By ZHU Uchiha
hindu bali dan hindu india ada perbedaan ga?
[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab


swastiastu.. terimakasih atas pertanyaannya \)
karena mungkin kepanjangan ane spoiler yah gan (dirangkum dari berbagai sumber)

Spoiler for Hindu Bali/Hindu India
Kalo dilihat dari sisi luar, perbedaan antara Hindu Indonesia dengan Hindu India sangat kentara. Baik dari makanan yang dimakan, Pakaian sembahyang, Hari Suci yang dirayakan maupun hal-hal lain yang bisa dilihat dengan kasat mata. Sebagai contoh, rekan-rekan kerja kami yang berasal dari negeri anak benoa dimana Veda diwahyukan, mereka mayoritas vegetarian, sementara kami dari Indonesia mayoritas non vegetarian. Kami sembahyang tiga kali yang disebut dengan Tri Sandhya, mereka temen-temen dari India biasanya sembahyang dua kali pagi dan sore.

Sebenarnya seperti apakah spiritual Hindu itu…? Mari kita renungkan bersama.

“Being spiritual is being natural” ungkapan ini sangat sering kita dengarkan dari para penekun spiritual di berbagai negara. Benarkah seperti itu…? Bila ditelusuri lebih dalam, memang sesungguhnya kembali ke alam itu yang membuat kita menjadi damai dan tenang. Angin yang sejuk, hamparan tetumbuhan yang menghijau, gemericik air jernih sungai di pegunungan, kicauan burung yang merdu dengan beraneka lagu dan nada, tidak bisa kita pungkiri telah membangun kenyamanan, menciptakan ketengan pikiran dan kedamaian di hati.

Tak heran bila banyak para pelancong rela berkunjung ke Negara-negara yang jauh dari negerinya demi mendapatkan suasana baru, yang memberikan kenyamanan. “Back to the nature” katanya. Mungkin ini pula alasan kenapa Candi, Pura/Temple dibangun di tempat-tempat yang Indah dan hijau, dipuncak gunung, di tepi pantai, di pinggir sungai atau danau. Hal ini pun saya rasakan sendiri, ketika berada di pura luhur Lempuyang misalnya; melihat hamparan hutan menghijau yang luas, samudra yang membiru membentang di hadapan kita, langit yang cerah dengan sinar mentarinya yang demikian kuat menyapu kegelapan menerangi maya pada ini, membuat saya merasa sangat kecil, seluruh ego tersedot habis digantikan dengan perasaan lain yang sangat nyaman yang sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata, mungkin ini yang disebut cinta dan kasih murni.

Demikian pula halnya Agama Hindu, dalam setiap ajarannya selalu mengajarkan kedamaian, dekat dengan alam, mempersembahkan aneka hasil alam kepada Hyang Maha Kuasa, menghormati semua unsur di alam ini. Mulai dari tetumbuhan dengan adanya tumpek wariga, hewan ada tumpek kandang, alat-alat atau senjata/perkakas, tumpek landep, buku/pustaka ada hari saraswati, semua energi atau mahluk-mahluk bawahan yang tampak maupun tidak tampak yang dikenal dengan butha yadnya. Menjaga keharmonisan dengan Tuhan dengan upacara Deva yadnya, dengan menjalin harmonisasi dengan sesama manusia ada upacara Rsi Yadnya, Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya, melalui sila karma, pesantian, menyama braya. Ketiga hubungan harmonis ini di Bali dikenal dengan Tri Hita Karana, tiga keharmonisan yang membawa pada suasana kebahagiaan.

Keihlasan dalam segala aktivitas dan keharmonisan adalah inti dari semua aktivitas spiritual Hindu, Keharmonisan inipun terjalin dengan budaya local yang melahirkan senergi yang mampu menghadirkan kedamaian di setiap hati sanubari penganutnya. Agama Hindu Dharma total lebur dengan budaya local yang menghasilkan bentuk pemujaan yang berbeda-beda.

Kalo kita buka kembali pelajaran Agama Hindu, sesungguhnya agama kita memiliki tiga batang tubuh (tri kerangka dasar) yang terdiri dari:

1. Tatwa : Filsafat
2. Etika: Susila
3. Ritual: Upacara

Untuk Tattwa/filsafat dan Etika atau Susila, akan kita temukan kesamaan di seluruh penganut agama Hindu dimanapun mereka berada. Sumber utama dari Tattwa adalah Kitab Suci Veda. Kemudian dijelaskan dalam Upanisad, Dharmasastra, Itihasa/Wiracarita seperti Mahabharata dan Ramayana, Bhagavad Gita, Yoga Wasista, Wrehaspati Tattwa, Sarasammuccaya, Srimad Bhagavatam, dan lain-lain.

Di Bali ada lagi lontar-lontar yang ditulis oleh para Mpu yang telah mencapai tingkatan spiritual yang tinggi seperti: lontar sundari gama, lontar buana kosa, lontar sangkul putih, dan lain-lain.

Salah satu contoh kesamaan ajaran yang bisa dijumpai di berbagai daerah di Indonesia maupun di India adalah Lima Keyakinan yang dikenal dengan nama Panca Sradda yaitu:
1. Percaya dengan adanya Tuhan,
2. Percaya dengan adanya Atman,
3. Percaya dengan adanya Hukum Karma Phala,
4. Percaya dengan adanya Reinkarnasi/Punarbawa/Samsara,
5. Percaya dengan adanya Moksa.




untuk ini ane sedikit mengutip dari kata mahatma gandi gan

Quote:
“Aku tidak ingin setiap sisi rumahku tertutup tembok dengan jendela serta pintu yang terkunci. Aku ingin budaya dari semua negeri berhembus ke dalam rumahku sebebas mungkin. Yang ada padaku bukanlah suatu agama yang seperti penjara”
Almarhum13 - 19/04/2011 12:25 PM
#29

jawabannya ane sambung lagi \)

Spoiler for lanjutan
Panca Sradda merupakan inti kepercayaan agama Hindu, dapat kita jumpai dengan berbagai bahasa sesuai dengan wilayah dimana penganutnya berada.

Dalam Etika yang merupakan perwujudan nyata dari aplikasi tattwa yang telah dipelajari, pun tampak kesamaan, semua orang Hindu akan berusaha untuk tidak menyakiti atau menyiksa mahluk lain (Ahimsa). Semua orang hindu berusaha memperlakukan manusia yang lain seperti saudaranya, “Vasudaiva Kutum Bakam” Semua mahluk dilahirkan bersaudara. “Tat Twam Asi” artinya; kamu adalah aku, aku adalah kami, bila aku menyakitimu, sama dengan aku menyakiti diriku sendiri. Selalu berkata jujur (Arjawa), Setia pada kata hati/nurani (Satya Hredaya), Setia pada janji (Satya Samaya), Setia pada perkataan (Satya Wacana), setia/ berani bertanggung jawab pada perbuatannya (Satya Laksana’), setia pada kawan (Satya Mitra). Menjaga pikiran, perbuatan dan perkataannya selaras, selalu terkondisi pada kebaikan (Tri Kaya Parisudha; Manacika =pikiran suci, Wacika=perkataan suci dan Kayika=perbuatan yang suci).

Setiap orang hindu melakukan sembahyang memuja Tuhan dan Leluhur, melakukan puasa, melakukan punia (yadnya) tidak perduli entah dia orang India, orang Bali, orang Jawa, orang Sulawesi, orang Lampung, orang Lombok, orang Belgia, orang Amerika, ataupun orang Australia.

Perbedaan mulai tampak pada kerangka dasar yang ketiga yaitu yang disebut dengan Upacara atau Ritual dan Hari Raya. Di sini tradisi dari masing-masing wilayah mewarnai setiap upacara yang ada. Histori di setiap daerahpun berbeda, peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dalam perjalanan juga tidak sama, sehingga melahirkan perayaan Hari Raya yang berbeda guna memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah kehidupan manusia yang pernah terjadi, yang nantinya bisa selalu diingat dan dijadikan suri teladan dalam mengarungi kehidupan di maya pada ini.

Jangankan Hindu India dan Indonesia, antara Hindu Bali dengan di Jawa saja ada banyak perbedaan, untuk memahami perbedaan-perbedaan ini mari kita tengok sejarah perkembangan Hindu di Bali seperti yang dituturkan oleh Ida Pandita Nabe Sri Bhagavan Dwija dalam karyanya: “Hindu dalam Wacana Bali Sentris”

Pengantar Agama Hindu untuk perguruan tinggi, Cudamani, 1990 ada tujuh Maha Rsi yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa yang menerima wahyu Weda di India sekitar 2500 tahun sebelum Masehi.

Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka sehingga lama kelamaan terbentuklah sekta-sekta yang jumlahnya ratusan. Sekta-sekta yang terbanyak pengikutnya antara lain: Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, dan Siwa Sidhanta.

Sekta Siwa Sidhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India tengah) kemudian menyebar ke Indonesia. Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekta ini yang berasal dari pasraman Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain: Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja, dan Trinawindu. Yang populer di Bali adalah nama Trinawindu atau Bhatara Guru, begitu disebut-sebut dalam lontar kuno seperti Eka Pratama.

Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekta Siwa yang lain. Sidhanta artinya kesimpulan sehingga Siwa Sidanta artinya kesimpulan dari Siwaisme. Kenapa dibuat kesimpulan ajaran Siwa? karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit menyampaikan pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang sangat luas.

Diibaratkan seperti mengenalkan binatang gajah kepada orang buta; jika yang diraba kakinya, maka orang buta mengatakan gajah itu bentuknya seperti pohon kelapa; bila yang diraba belalainya mereka mengatakan gajah itu seperti ular besar. Metode pengenalan yang tepat adalah membuat patung gajah kecil yang bisa diraba agar si buta dapat memahami anatomi gajah keseluruhan.

Bagi penganut Siwa Sidhanta kitab suci Weda-pun dipelajari yang pokok-pokok / intinya saja; resume Weda itu dinamakan Weda Sirah (sirah artinya kepala atau pokok-pokok). Lontar yang sangat populer bagi penganut Siwa Sidhanta di Bali antara lain Wrhaspati Tattwa. Pemantapan paham Siwa Sidhanta di Bali dilakukan oleh dua tokoh terkemuka yaitu Mpu Kuturan dan Mpu/Danghyang Nirartha.

Di India wahyu Hyang Widhi diterima oleh Sapta Rsi dan dituangkan dalam susunan sistematis oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk Catur Weda. Pengawi dan ahli Weda I Gusti Bagus Sugriwa dalam bukunya: Dwijendra Tattwa, Upada Sastra, 1991 menyiratkan bahwa di Bali wahyu Hyang Widhi diterima setidak-tidaknya oleh enam Maha Rsi. Wahyu-wahyu itu memantapkan pemahaman Siwa Sidhanta meliputi tiga kerangka Agama Hindu yaitu Tattwa, Susila, dan Upacara. Wahyu-wahyu itu berupa pemikiran-pemikiran cemerlang dan wangsit yang diterima oleh orang-orang suci di Bali sekitar abad ke delapan sampai ke-empat belas yaitu :

1. DANGHYANG MARKANDEYA

Pada abad ke-8 beliau mendapat wahyu di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah.

Setelah menetap di Taro, Tegal lalang - Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali.

Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten.

Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu: Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang.

Beliau juga mendapat wahyu ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll.

Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah.


2. MPU SANGKULPUTIH

Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak.

Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.

Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan.

Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.

Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll.

Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.


3. MPU KUTURAN

Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali.

Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih.

Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).


4. MPU MANIK ANGKERAN

Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra.

Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.

5. MPU JIWAYA

Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9).

Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.

Almarhum13 - 19/04/2011 12:25 PM
#30

ini lanjutan jawaban terakhir gan \)
Spoiler for Lanjutan 2
6. DANGHYANG DWIJENDRA

Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.

Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal.

Danghyang Dwijendra mempunyai Bhiseka lain : Mpu / Danghyang Nirarta, dan dijuluki : Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.

Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekimpoi. Karya sastra beliau yang terkenal antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll.

Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.

Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat misalnya : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dll.

Ke-enam tokoh suci tersebut telah memberi ciri yang khas pada kehidupan beragama Hindu di Bali sehingga terwujudlah tattwa dan ritual yang khusus yang membedakan Hindu-Bali dengan Hindu di luar Bali.

Dari luar agama Hindu antar satu daerah dengan daerah yang lain tampak berbeda, namun sesungguhnya essensinya sama, bersumber dari ajaran mahaluhur yang universal untuk mewujudkan satyam = kebenaran, sivam=kedamaian dan sundaram=keindahan.

Penerapan agama Hindu agar berhasil harus disesuaikan dengan tujuan (Iksha), kemampuan (Sakti), aturan setempat (Desa) dan waktu (Kala). Namun dalam pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan Tattwa atau kebenaran Veda. Hal inilah yang menyebabkan Hindu di India dan Hindu di Bali atau di mana saja selalu berbeda-beda bentuk penampilan luarnya. Lima pertimbangan ini sebagaimana dutuliskan dalam Manawa Dharma Sastra:

Karyam so'veksya saktimca
Desakaala ca tattvatah
Kurute dharmasiddhiyartham
Visvaruupam punah punah.
(Manawa Dharmasastra VIII.10)

Maksudnya:
Setelah mempertimbangkan iksha (tujuan), sakti (kemampuan), desa (aturan setempat), kala (waktu) dan tattwa (kebenaran) untuk menyukseskan tujuan agama (Dharmasiddhiyartha) maka ia wujudkan dirinya dengan bermacam macam wujud.
Di Bali sinergi Agama Hindu dengan budaya Bali mampu meningkatkan dan mengembangkan kualitas budaya Bali. Dalam sinergi itu tampak Agama Hindu sebagai titik sentral (pusat) yang menjiwai semua aspek budaya Bali.

Agama Hindu bersinergi melalui:
(1) Sistem bahasa, yakni Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno.
(2) Sistem pengetahuan.
(3) Sistem sosial seperti Desa Pakraman dan Subak.
(4) Sistem peralatan hidup dan teknologi.
(5) Sistem mata pencaharian masyarakat.
(6) Sistem religi, Agama Hindu menghargai kepercayaan lokal, dan
(7) Sistem kesenian seperti Seni Wali (sakral), Seni Bebali (dapat berfungsi sebagai seni sakral dapat pula untuk kegiatan profan), dan Seni Balih-Balihan (hanya untuk hiburan) .

Upacara hendaknya lahir dari hati yang tulus, ikhlas melaksanakan semua aktivitasnya, ikhlas untuk mengorbankan waktu, tenaga, materi dan pikiran. Bentuk aturan/sesajen yang dipersembahkan hendaknya berasal dari keringat sendiri, bukan dari hasil mencuri, meminta atau menipu.

Pelaksanaan aktivitas spiritual sifatnya sangatlah pribadi dan bergantung pada individu masing-masing. Walaupun yang dipelajari sama tapi pengertian dan pemahaman setiap orang itu sangatlah unik, satu sama lain tidak sama, karena manusia memiliki pengalaman yang berbeda, pengetahuan yang berbeda, dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan tempat yang berbeda, latar belakang pendidikan yang berbeda, memiliki bakat dan minat yang berbeda pula, pendek kata memiliki guna dan karma yang tidak sama.

Kemerdekaan setiap individu yang merupakan anugrah Hyang Widhi dalam Hindu sangatlah dijaga baik dalam berfikir, berkata dan berbuat. Hindu Dharma tidak pernah menuntut sesuatu pengekangan yang tidak semestinya terhadap kemerdekaan dari kemampuan berpikir, kemerdekaan dari perasaan dan pemikiran manusia. Ia memperkenalkan kebebasan yang paling luas dalam masalah keyakinan dan pemujaan. Hindu Dharma adalah suatu agama pembebasan. Ia memperkenalkan kebebasan mutlak terhadap kemampuan berpikir dan perasaan manusia dengan memandang pertanyaan-pertanyaan yang mendalam terhadap hakekat Tuhan Yang Maha Esa, jiwa, penciptaan, bentuk pemujaan dan tujuan kehidupan ini.

Hindu Dharma tidak bersandar pada satu doktrin tertentu ataupun ketaatan akan beberapa macam ritual tertentu maupun dogma-dogma atau bentuk-bentuk pemujaan tertentu. Ia memperkenalkan kepada setiap orang untuk merenungkan, menyelidiki, mencari dan memikirkannya, oleh karena itu, segala macam keyakinan/Sraddha, bermacam-macam bentuk pemujaan atau Sadhana, bermacam-macam ritual serta adat-istiadat yang berbeda, memperoleh tempat yang terhormat secara berdampingan dalam Hindu Dharma dan dibudayakan serta dikembangkan dalam hubungan yang selaras antara yang satu dengan yang lainnya

Hindu Dharma sangatlah universal, bebas, toleran dan luwes. Inilah gambaran indah tentang Hindu Dharma. Seorang asing merasa terpesona keheranan apabila mendengar tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda -beda dalam Hindu Dharma; tetapi perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya merupakan berbagai tipe pemahaman dan tempramen, sehingga menjadi keyakinan yang bermacam-macam pula. Hal ini adalah wajar. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hindu Dharma; karena dalam Hindu dharma tersedia tempat bagi semua tipe pemikiran dari yang tertinggi sampai yang terendah, demi untuk pertumbuhan dan evolusi mereka. (Svami Sivananda,1988:134).

Hindu Dharma mempunyai banyak kamar untuk setiap keyakinan dan Hindu Dharma merangkum semua keyakinan tersebut dengan toleransi yang sangat luas. (Max Muller)
Agama Hindu menyerupai sebatang pohon yang tumbuh perlahan dibandingkan sebuah bangunan yang dibangun oleh arsitek besar pada saat tertentu. (Dr. K.M. Sen)
Perbedaan adalah sesuatu yang sangat alamiah sifatnya. Sangatlah wajar bila ada perbedaan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain dalam satu negara, apalagi dalam teriorial yang lebih besar, antara Hindu India dan Hindu Indonesia. Namun hendaknya perbedaan ini janganlah dipertentangkan, ini dipahami sebagai sesuatu yang alami. Perbedaan ini merupakan bukti nyata betapa alamiahnya Agama Hindu, sangat sesuai dengan pernyataan awal “Being spiritual is being natural”.
lumberjack.jr - 19/04/2011 12:27 PM
#31

selamat di bukanya trit ini

semoga aja untuk menambah wawasan namun tetap iloveindonesia
Almarhum13 - 19/04/2011 12:32 PM
#32

Quote:
Original Posted By .l..vlo.olv..l.
Nah ini aja dulu,
Beda tumimbal lahir ama reinkarnasi, thx ya[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab


ane bahas reinkarnasi dulu yah gan.. jadi agan bisa tau bedanya dengan membaca \)

Quote:
Pengertian Reinkarnasi..

Sebagai orang Hindu saya merasa berkewajiban menerangkan proces inkarnasi agar orang yang tidak percaya dapat mengerti. Anda tidak perlu percaya apa yang dipercayai umat Hindu, tetapi sebagai manusia hendaklah anda mengerti proces kelahiran dan kematian anda sendiri , dan yang paling penting mengerti apa manusia itu, dari mana datangnya dan kemana perginya.

Manusia.
Unsur materi yang terdiri dari tanah, air, api dan udara. dibentuk menjadi kehidupan awal. Dalam kehidupan awal ini unsur materi masih mengandung unsur kesadaran oleh karena itu dia memiliki kesadaran . Untuk memperbanyak makhluk ini dibuatkan progtam pembiakan. Timbul pertanyaan, siapakah yang membuat dan memprogram kehidupan itu,..Untuk itu kita kembali ke awal terjadinya alam semesta,. Mula2 adalah sat, adalah Tao, adalah Firman yang didalamnya mengandung unsur kesadaran, unsur kehendak, unsur materi, unsur intlegensia dan unsur energi. Larut menjadi satu kesatuan.

Firman tersebut membuat program pemisahan antara unsur materi dengan unsur kesadaran. Salah satu programnya ialah melalui proces kehidupan. Kesadaran yang diproses dalam makhluk pertama menjadi roh pertama setelah makhluk pertama mati. Apa itu roh,..? Roh adalah unsur kesadaran yang masih mengandung unsur materi berupa kesan2 kehidupan masa lalu.. Roh ada dua macam, seperti kata Yesus, kamu berasal dari bawah, yaitu dari unsur materi, dan aku dari atas, yaitu dari unsur kesadaran. Roh yang berasal dari bawah inilah yang berevolusi, menjalani proses kehidupan yang berulang-ulang, sampai dia bersih dari unsur materi.
Hal ini dapat dibayangkan sebagai pemain sandiwara. Pertama dia naik panggung menggunakan kostum pelayan, dia harus bermain sebagai pelayan. Setelah main kostum pelayannya dilepas, jadi pelayan itu sudah tidak ada. Babak berikutnya dia naik panggung sebagai raja, dia berprilaku sebagai raja. Setelah main , kostum rajanya dilepas, raja sudah tidak ada, tetapi pemain tetap ada , dialah yang disebut roh..
Anda, saya dan manusia lainnya hanya hidup sekali, peran anda dalam panggung hanya sekali, setelah main kotum anda dilepas, jadi tubuh yang anda pakai itu hanya kostum selama main. Kostun itu disesuaikan dengan peran yang anda mainkan. Kalau peran anda sebagi pengemis, hidup anda miskin, sifat pemalas, bodoh sesuai penampilan pengemis.. Kalau peran anda sebagai artis, kostum anda cantik, suara bagus, selera tinggi, penamilan menarik dll. Menyadari hal ini, kita tidk perlu kagum meliaht orang pintar, gagah, menarik dll, karena perannya sebagai raja. Jangan pula mencela orang, seperti pelacur gepeng, pengemis dicela habis-habisan oleh mereka yang tidak tahu akan dirinya.

Jika fisik anda tidak gagah, otak anda tidak cerdas, suara parau, itulah kostum anda , peran anda mungkin sebagai petani, atau buruk, janganlah anda menyesali, jalanilah peran itu sampai akhir, tidak terlalu lama ,…

Salam….
Almarhum13 - 19/04/2011 12:38 PM
#33

Quote:
Original Posted By haluan
mejeng dulu.. Sekalian nanya.. Hindu termasuk Polytheist atau Monotheist? o


nah ini adalah p[ertanyaan old skool banget gan
sering ditanya dari jaman ane masih sd \)
nah ane terangkan supaya agan2 bisa memberi pengetahuan juga buat temen2 yang laen \)

Quote:
HINDU adalah agama yang percaya akan adanya banyak dewa
dan dewa adalah manifestasi dari tuhan kami yang hanya satu2nya yaitu: IDA SANG HYANG WIDHI WASA

sementara dewa hanyalah sebagai manifestasi dari tuhan kami IDA SANG HYANG WIDHI WASA

jadi untuk menjawab pertanyaan agan
agan yang tentukan sendiri dari jawaban saya \)
terima kasih iloveindonesia
ruezclaire - 19/04/2011 12:39 PM
#34

om swastiastu
rahajeng siang
D[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab
Almarhum13 - 19/04/2011 12:41 PM
#35

Quote:
Original Posted By 00Post
mau tanya tentang moksa tattwa gan ...
yang percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia ...

kebahagiaan tertinggi itu seperti apa sih?[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab


begini gan.. tujuan tertinggi dari kami umat hindu adalah MOKSA.. yang arti kasatnya adalah sudah tidak mengalami kelahiran kembali dan terbebas dari segala penderitaan yang ada di bumi (tempat hidup manusia) dalam hal ini

Moksa (Sansekerta: mokṣa) adalah sebuah konsep agama Hindu. Artinya ialah kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas juga dari putaran Reinkarnasi atau Punarbawa kehidupan.

nah itulah kebahagiaan tertinggi dalam agama HINDU gan.. \)
Almarhum13 - 19/04/2011 12:48 PM
#36

Quote:
Original Posted By inoone
Menurut saya TIDAK ADA.

Kenapa dipertahankan? Tentu saja akan dipertahankan (oleh pihak2 tertentu yg berkepentingan). Itu namanya status quo.

contoh simple, jika anda adalah seorang bangsawan, yg notabene kedudukannya lbh tinggi dr masyarakat biasa, apakah anda tidak ingin keturunan anda juga tetap ber-label bangsawan?


nah ini adalah jawaban final dari polemik mengenai masalah kasta yang selalu diributkan banyak orang \)
Hazar.shual - 19/04/2011 12:49 PM
#37

Selamat atas dibukanya ABHM, DC jadi makin lengkap shakehand2
lumberjack.jr - 19/04/2011 12:49 PM
#38

Quote:
Original Posted By Almarhum13
begini gan.. tujuan tertinggi dari kami umat hindu adalah MOKSA.. yang arti kasatnya adalah sudah tidak mengalami kelahiran kembali dan terbebas dari segala penderitaan yang ada di bumi (tempat hidup manusia) dalam hal ini

Moksa (Sansekerta: mokṣa) adalah sebuah konsep agama Hindu. Artinya ialah kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas juga dari putaran Reinkarnasi atau Punarbawa kehidupan.

nah itulah kebahagiaan tertinggi dalam agama HINDU gan.. \)


tanya apakah konsep kemelekatannya sama dengan ajaran di agama Budha gan ?
ruezclaire - 19/04/2011 12:49 PM
#39

Quote:
Original Posted By ZHU Uchiha

Kan di agama buddha, theravada ada perbedaan dengan mahayana, nah perbedaan2 hindu bali dan india dalem ga ya?


dari segi upacara beda jauh gan[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab
Almarhum13 - 19/04/2011 12:53 PM
#40

Quote:
Original Posted By ezeryn
para pemeluk hindu disini bisa sharing carita2 filosofi hindu?

tujuan dibuat trit ini untuk menjawab pertanyaan agan2 sekalian baik yang HINDU maupun non HINDU agar tidak ada kebingungan dan sekalian bertukar pendapat \)

Quote:
Original Posted By FrenchDragoon
hah ada thread ini tho?

mau tanya? apa bedanya hindu india dan indonesia

udah ane jawab gan.. thanks \)

Quote:
Original Posted By lumberjack.jr
selamat di bukanya trit ini

semoga aja untuk menambah wawasan namun tetap iloveindonesia


terima kasih gan..
BHINEKA TUNGGAL IKA iloveindonesia
Page 2 of 409 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > [HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab