DEBATE CLUB
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > [HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab
Total Views: 286142 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 409 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

Almarhum13 - 19/04/2011 01:08 PM
#41

Quote:
Original Posted By Hazar.shual
Selamat atas dibukanya ABHM, DC jadi makin lengkap shakehand2

thanks yah gan \)

Quote:
Original Posted By ruezclaire
om swastiastu
rahajeng siang
D[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab

swastiastu bli..
salamnya jangan hanya berbahasa bali. bli \)
karena banyak semeton kita yang bukan berasal dari bali..
termasuk saya \)

Quote:
Original Posted By lumberjack.jr
tanya apakah konsep kemelekatannya sama dengan ajaran di agama Budha gan ?

ane coba jawab yah gan beer:

Quote:
Upaya Penghentian Keinginan & Melepas Kemelekatan
Telah disebutkan sebelumnya bahwa keinginan dan kenafsuan sulit untuk dihentikan dan hanya berbuah penderitaan saja. Telah pula kita bicarakan tentang sumber dan keinginan tersebut, Mungkinkah menghentikan segala keinginan itu? Terbersit pertanyaan demikian dalam benak kita.

Ada disebutkan “Keinginan untuk menghentikan segala keinginan itupun juga keinginan adanya”. Jadi, ia tampak ‘mbulet’ bak lingkaran setan. Yang secara nyata dapat kita lakukan bertahap dan melalui sedhana-sedhana yang sesuai, adalah mengikis rendah - yang mengantarkan kita pada kebahagaiaan semu dan penderitaan - dan mengarahkannya kepada keinginan luhur.

Kita menginginkan sesuatu, karena melekat pada sesuatu itu. Memenuhinya, hanya akan mempererat; demikian seterusnya. Jadi, amat erat kaitan antara keinginan dengan Kemelekatan. Kemelekatan inilah yang telah kita sebut-sebut sebagai himpunan kesan-kesan, sebelumya. Nah dalam rangka mengarah pada keinginan luhur, Buddha Avatara memberi arahan-Nya Janganlah berbuat jahat; timbunlah kebajikan sebanyak-banyaknya dan sucikan hati dan pikiran”.

Melalui arahan itu, tampak jelas bahwa praktek latihan spiritual yang berupa berbagai bentuk dan ragam sadhana tersebut, sesungguhnya berintikan pada ketiga pokok arahan tersebut. Menimbun jasa kebajikan sebanyak-banyaknya, adalah keinginan luhur. Hasrat, mesti diarahkan sepenuhnya pada menghindari perbuatan jahat. Dan guna mensucikan hati pikiran, telah ada metode dan tuntunan praktisnya atau Marga-Nya.

“Engkau merupakan penguasa sarana mencapai ‘Kelepasan’; dalam Veda engkau berwujud ‘pranawa mantra’, tiada lebih mulia daripada-Mu; Engkau yang dengan wujud dan tanpa wujud, sangat gaib pancaran sinar-Mu, Engkau lebih besar dan yang mahabesar’ Engkau berada dalam tumbuh-tumbuhan dan binatang melata, dan Engkau pula menjadi tujuan orang yang ingin mencapai alam ‘Sunyata’.

Demikianlah puji-puji Bhatara Yama - ke hadapan Hyang Siva, yang tersurat didalam ‘Sivaratrikalpa’, mahakarya Mpu Tanakung itu. Siva, melalui Shakti-Nya, adalah penguasa alam spiritual. Beliaulah penguasa Yoga, beliaulah yang dituju oleh semua yogi, oleh karena Siva adalah Yang Mahasuci.

Bila benar-benar kita telah bertekad untuk mengakhiri perputaran roda Samsara, penderitaan yang dialami dalam kelahiran yang berulang-ulang dan mencapai tujuan akhir - Moksha Marga dan Guru yang paling sesuai akan kita temukan. Dengan ini saya akhiri tulisan ini; besar harapan saya ia bermanfaat sebesar-besarnya bagi para sahabat.


nah untuk pertanyaan agan sama atau nggak saya membebaskan agan untuk menjawab sendiri
karena bukan pada tempatnya saya menjawab sama atau tidaknya \)
hwayan - 19/04/2011 01:15 PM
#42

Quote:
Original Posted By ZHU Uchiha
hindu bali dan hindu india ada perbedaan ga?
[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab


kalo dr kebudayaan setau saya sih hindu agama yg tidak mengajarkan kekerasan dan pemaksaan kepada kebudayaan daerah yang di datanginya, maka dr itu hindu di bali dan di india jelas berbeda karena ikut menyesuaikan kebudayaan yang ada di daerah tsb...

lah manusia aja di ciptakan berbeda2 oleh Tuhan, skrg knp kita yg musti ribut2?? bukankah "perbedaan itu indah" beer:
ccck - 19/04/2011 01:30 PM
#43

oh... ada juga thread Hindu di DC, asal jangan nanti di hapus lagi kayak thread 'dialog sesama hindu' ato yang tentang kasta oleh mod Berwin seperti beberapa waktu yang lalu... o

salam kenal @ts... shakehand
nyimak di pojokan ah... coffee: linux2:
Almarhum13 - 19/04/2011 01:35 PM
#44

Quote:
Original Posted By ccck
oh... ada juga thread Hindu di DC, asal jangan nanti di hapus lagi kayak thread 'dialog sesama hindu' ato yang tentang kasta oleh mod Berwin seperti beberapa waktu yang lalu... o

salam kenal @ts... shakehand
nyimak di pojokan ah... coffee: linux2:

Avignamastu gan..
semoga ga bakalan kayak trit pendahulu saya neeh..
thanks udah mau menyimak gan
swastiastu \)
ccck - 19/04/2011 01:46 PM
#45

Quote:
Original Posted By Almarhum13
Avignamastu gan..
semoga ga bakalan kayak trit pendahulu saya neeh..
thanks udah mau menyimak gan
swastiastu \)

astungkara... _/\_

ada baiknya dimulai dengan menjelaskan satu² hal ini gan yang juragan tulis sebagai lima keyakinan dalam Hindu;

Quote:
1. Percaya dengan adanya Tuhan,
2. Percaya dengan adanya Atman,
3. Percaya dengan adanya Hukum Karma Phala,
4. Percaya dengan adanya Reinkarnasi/Punarbawa/Samsara,
5. Percaya dengan adanya Moksa.
Almarhum13 - 19/04/2011 01:56 PM
#46

Quote:
Original Posted By ccck
astungkara... _/\_

ada baiknya dimulai dengan menjelaskan satu² hal ini gan yang juragan tulis sebagai lima keyakinan dalam Hindu;


siap juragan ane bahas satu persatu yah \)

Quote:
Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi)

Percaya terhadap Tuhan, mempunyai pengertian yakin dan iman terhadap Tuhan itu sendiri. Yakin dan iman ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang disebut juga Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Ia sebagai pencipta, sebagai pemelihara dan Pelebur alam semesta dengan segala isinya. Tuhan adalah sumber dan awal serta akhir dan pertengahan dari segala yang ada. Didalam Weda (Bhagavad Gita), Tuhan (Hyang Widhi) bersabda mengenai hal ini, sebagai berikut:


Etadyonini bhutani

sarvani ty upadharaya

aham kristnasya jagatah

prabhavah pralayas tatha. (BG. VII.6)

Ketahuilah, bahwa semua insani mempunyai sumber-sumber kelahiran disini, Aku adalah asal mula alam semesta ini demikian pula kiamat-kelaknya nanti.


Aham atma gudakesa

sarva bhutasaya sthitah

aham adis cha madhyam cha

bhutanam anta eva cha. (BG.X.20)

Aku adalah jiwa yang berdiam dalam hati segala insani, wahai Gudakesa. Aku adalah permulaan, pertengahan dan penghabisan dari mahluk semua.


yach cha pi sarvabhutanam

bijam tad aham arjuna

na tad asti vina syan

maya bhutam characharam. (BG. X.39)

Dan selanjutnya apapun, oh Arjuna, aku adalah benih dari segala mahluk, tidak ada sesuatupun bisa ada, bergerak atau tidak bergerak, tanpa aku.

Tuhan (Hyang Widhi), yang bersifat Maha Ada, juga berada disetiap mahluk hidup, didalam maupun doluar dunia (imanen dan transenden). Tuhan (Hyang Widhi) meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). Di dalam Upanisad (k.U. 1,2) disebutkan bahwa Hyang Widhi adalah “telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas dan mata dari segala mata”, namun Hyang Widhi itu bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada. Di dalam Bhuana Kosa disebutkan sebagai berikut:


“Bhatara Ciwa sira wyapaka

sira suksma tan keneng angen-angen

kadiang ganing akasa tan kagrahita

dening manah muang indriya”.

Artinya:

Tuhan (Ciwa), Dia ada di mana-mana, Dia gaib, sukar dibayangkan, bagaikan angkasa (ether), dia tak dapat ditangkap oleh akal maupun panca indriya.

Walaupun amat gaib, tetapi Tuhan hadir dimana-mana. Beliau bersifat wyapi-wyapaka, meresapi segalanya. Tiada suatu tempatpun yang Beliau tiada tempati. Beliau ada disini dan berada disana Tuhan memenuhi jagat raya ini.


“Sahasrasirsa purusah sahasraksah sahasrapat,

sa bhumim visato vrtva tyatistad dasangulam”. (Rg Veda X.90.1)

Tuhan berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu, Ia memenuhi bumi-bumi pada semua arah, mengatasi kesepuluh penjuru.

Seribu dalam mantra Rg Veda di atas berarti tak terhingga. Tuhan berkepala tak terhingga, bermata tak terhingga, bertangan tak terhingga. Semua kepala adalah kepa_Nya, semua mata adalah mata-Nya, semua tangan adalah tangan-Nya. Walaupun Tuhan tak dapat dilihat dengan mata biasa, tetapi Tuhan dapat dirasakan kehadirannya dengan rasa hati, bagaikan garam dalam air. Ia tidak tampak, namun bila dicicipi terasa adanya disana. Demikian pula seperti adanya api di dalam kayu, kehadirannya seolah-olah tidak ada, tapi bila kayu ini digosok maka api akan muncul.


Eko devas sarva-bhutesu gudhas

sarva vyapi sarwa bhutantar-atma

karmadyajsas sarvabhutadhivasas

saksi ceta kevalo nirgunasca. (Svet. Up. VI.11)

Tuhan yang tunggal sembunyi pada semua mahluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua mahluk, hakim semua perbuatan yang berada pada semua mahluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.

Karena Tuhan berada di mana-mana, ia mengetahui segalanya. Tidak ada sesuatu apapun yang ia tidak ketahui. Tidak ada apapun yang dapat disembunyikan kepada-Nya. Tuhan adalah saksi agung akan segala yang ada dan terjadi. Karena demikian sifat Tuhan, maka orang tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan segala perbuatannya. Kemanapun berlari akan selalu berjumpa dengan Dia. Tidak ada tempat sepi yang luput dari kehadiran-Nya.


Yas tisthati carati yasca vancanti

Yo nilayam carati yah pratamkam

dvatu samnisadya yanmantrayete

raja tad veda varunas trtiyah (A.W. IV.16.2)

Siapapun berdiri, berjalan atau bergerak dengan sembunyi-sembunyi, siapaun yang membaringkan diri atau bangun, apapun yang dua orang duduk bersama bisikan satu dengan yang lain, semuanya itu diketahui oleh Tuhan (Sang Raja Alam Semesta), ia adalah uyang ketiga hadir di sana.

Kendatipun Tuhan itu selalu hadir dan meresap di segala tempat, tetapi sukar dapat dilihat oleh mata biasa. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat, didengar, dikecap dan dirasakan. Kemampuannya terbatas, sedangkan Tuhan (Hyang Widhi) adalah Maha Sempurna dan tak terbatas.

Di dalam Weda disebutkan bahwa Tuhan (Hyang Widhi) tidak berbentuk (nirupam), tidak bertangan dan berkaki (nirkaram nirpadam), tidak berpancaindra (nirindryam), tetapi Tuhan (Hyang Widhi) dapat mengetahui segala yang ada pada mahluk. Lagi pula Hyang Widhi tidak pernah lahir dan tidak pernah tua, tidak pernah berkurang tidak juga bertambah, namun Beliau Maha Ada dan Maha Mengetahui segala yang ada di alam semesta ini. Tuhan berkuasa atas semua dan Tunggal atau Esa adanya.


Yoccitdapo mahina paryapacyad

daksam dadhana janayantiryajnam

Yo deweswadhi dewa eka asit

kasmai dewaya hawisa widhema. (R.W.X.121.8)

Siapakah yang akan kami puja dengan segala persembahan ini? Ia Yang Maha Suci yang kebesaran-Nya mengatasi semua yang ada, yang memberi kekuatan spiritual dan yang membangkitkan kebaktian, Tuhan yang berkuasa. Ia yang satu itu, Tuhan di atas semua.


ya etam devam ekavrtam veda

na dwitya na trtiyas cateutho napyucyate,

na pancamo na sasthah saptamo napyucyate,

nasthamo na navamo dasamo napyucyate,

sa sarvasmai vi pasyati vacca pranati yacca na,

tam idam nigatam sahah sa esa eka ekavrd eka eva,

sarve asmin deva ekavrto bhavanti. (A.V.XIII.4)

Kepada ia yang mengetahui ini Tuhan semata-mata hanya tunggal. Tidak ada yang kedua, ketiga, keempat Ia dipanggil. Tidak ada yang kelima, keenam, ketujuh, Ia dipanggil. Tidak ada yang kedelapan, kesembilan Ia dipanggil. Ia melihat segala apa yang bernafas dan apa yang tidak bernafas. Kepada-Nya-lah tenaga penakluk kembali. Ia hanya tunggal belaka. Padanya semua dewa hanya satu saja.

Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib dipanggil dengan nama sesuai dengan jangkauan pikiran, namun ia hanya satu, Tunggal adanya.

“Ekam eva advityam Brahma” (Ch.U.IV.2.1)

Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.

“Eko Narayanad na dvityo “Sti kaccit” (Weda Sanggraha)

Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya.

“Bhineka Tungal Ika, tan hana Darma mangrwa” (Lontar Sutasoma)

Berbeda-beda tetapi satu tidak ada Dharma yang dua.


“Idam mitram Varunam

agnim ahur atho

divyah sa suparno garutman

Ekam sad vipra bahudha vadantyagnim

yamam matarisvanam ahuh. (R.W.I. 1964.46)

Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia yang Bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, Satu Itu (Tuhan), sang bijaksana menyebut dengan banyak nama, seperti Agni, Yama Matarisvam.

Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. Tuhan yang Tunggal (Esa) itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Ciwa sebagai pelebur/pemralina. Banyak lagi panggilannya yang lain. Ia maha tahu, berada dimana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri, mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.
Almarhum13 - 19/04/2011 02:05 PM
#47

Percaya adanya Atman

Quote:
Atman adalah percikan kecil dari Paramatman (Hyang Widhi/Brahman). Atman di dalam badan manusia disebut Jiwatman, yang menyebabkan manusia itu hidup. Atman dengan badan adalah laksana kusir dengan kereta. Kusir adalah Atman yang mengemudikan dan kreta adalah badan. Demikian Atman itu menghidupi sarva prani (mahluk) di alam semesta ini.

“Angusthamatrah Purusa ntaratman
Sada jananam hrdaya samnivish thah
Hrada mnisi manasbhikrto
yaetad, viduramrtaste bhavanti”. (Upanisad)
Ia adalah jiwa yang paling sempurna (Purusa), Ia adalah yang paling kecil, yang menguasai pengetahuan, yang bersembunyi dalam hati dan pikiran, mereka yang mengetahuinya menjadi abadi.

Satu That yang bersembunyi dalam setiap mahluk yang menghidupi semuanya, yang merupakan jiwa semua mahluk, raja dari semua perbuatan pada semua mahluk, saksi yang mengetahui dan tunggal. Demikianlah Atman merupakan percikan-percikan kecil dari paramatman (Tuhan) yang berada di setiap mahluk hidup. Atman adalah bagian dari pada Tuhan, bagaikan titik embun yang berasal dari penguapan air laut, karena ada pengaruh dari suatu temperatur tertentu. Seperti halnya juga percikan-percikan sinar berasal dari matahari, kemudian terpencar menerangi segala pelosok alam semesta ini. Atau dapat diumpamakan Hyang Widhi (Brahman/Tuhan) adalah sumber tenaga lsitrik yang dapat menghidupkan bola lampu besar atau kecil dimanapun ia berada. Bola lampu disini dapat diumpamakan sebagai tubuh setiap mahluk dan aliran listriknya adalah Atman.

Oleh karena Atman itu merupakan bagian dari Brahman/Hyang Widhi, maka Atman pada hakekatnya memiliki sifat yang sama dengan sumbernya, yakni Brahman itu sendiri. Atman bersifat sempurna dan kekal abadi, tidak mengalami kelahiran dan kematian, bebas dari suka dan duka. Menurut Weda (Bh.G.23,24 dan 25), sifat-sifat Atman dinyatakan sebagai berikut:


Nai nam Chindanti sastrani

nai nam dahati pavakah

na soshayati marutah (Bh.G.II.23)

Senjata tidak dapat melukai Dia, dan api tidak dapat membakarnya, angin tidak dapat mengeringkan Dia, dan air tidak bisa membasahinya.

achchhedyo “yam adahyo yam

akledyo soshya eva cha

nityah sarvagatah sthnur

achalo yam sanatanah. (Bh. G. II.24)

Dia tak dapat dilukai, dibakar, juga tidak dikeringkan dan dibsahi, Dia adalah abadi, tiada berubah, tidak bergerak, tetap selama-lamanya.


Avyakto yam achityo yam

avikaryo yam uchyate

tasmad evam viditvai nam

na nusochitum arhasi (Bh.G.II.25)

Dia dikatakan tidak termanifestasikan, tidak dapat dipikirkan, tidak berubah-ubah, dan mengetahui halnya demikian engkau hendaknya jangan berduka.

Yang dimaksud “Dia” dan “Nya” dalam sloka di atas adalah Atman itu sendiri. Dia mengatasi segala elemen materi, kekal abadi, dan tidak terpikirkan. Oleh karena itu Atman (Jiwatman) tidak dapat menjadi subyek ataupun obyek daripada perubahan-perubahan yang dialami oleh pikiran, hidup dan badan jasmani. Karena semua bentuk-bentuk yang dialami ini bisa berubah, datang dan pergi, tetapi jiwa itu tetap langgeng untuk selamanya.

Dari uraian sloka di atas, ada beberapa sifat atman yang penting di sini adalah: Achodya (tak terlukai oleh senjata). Adahya (tak terbakar oleh api), Akledya (tak terkeringkan oleh angin), Acesyah (tak terbasahkan oleh air), Nitya (abadi), Sarvagatah (dimana-mana ada), Sthanu (tak berpindah-pindah), Acala (tak bergerak), Sanatana (selalu sama), Awyakta (tak terlahirkan), Achintya (tak terpikirkan), dan Awikara (tak berubah dan sempurna tidak laki-laki atau perempuan).

Perpaduan Atman dengan badan jasmani, menyebabkan mahluk itu hidup. Atman yang menghidupi badan disebut Jiwatman. Pertemuan Atman dengan badan jasmani ini menyebabkan Dia terpengaruh oleh sifat-sifat maya yang menimbulkan awidya (kegelapan). Jadi manusia lahir dalam keadaan awidya, yang menyebabkan ketidak sempurnaannya. Atman itu tetap sempurna, tetapi manusia itu sendiri tidaklah sempurna. Manusia tidak luput dari hukum lahir, hidup dan mati. Walaupun manusia itu mengalami kematian, namun Atman tidak akan bisa mati. Hanya badan yang mati dan hancur, sedangkan Atman tetap kekal abadi.


Vasamsi jirnani yatha vihaya

navani grihnati naro parani

tahta sartrahi vihaya jirmany

anyani samyati navani dehi (Bh.G.II.22)

Ibarat orang yang menanggalkan pakaian lama dan menggantikannya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani yang baru.

Jiwatman yang terbelengu berpindah dari satu badan ke badan yang lain. Setiap kelahirannya membawa badan, hidup dan pikiran yang terbentuk dari pada prakerti menurut evolusinya dimasa yang lalu dan kebutuhannya dimasa yang akan datang. Apabila badan jasmani yang menjadi tua dan hancur, maka alam pikiran sebagai pembalut jiwa merupakan kesadaran baginya untuk berpindah-pindah dari satu badan ke badan yang lain yang disebut reinkarnasi atau phunarbhawa sesuai dengan karmaphalanya (hasil perbuatannya di dunia). Karena itu Atman tidak akan selalu dapat kembali kepada asalnya yaitu ke Paramaatman. Orang-orang yang berbuat baik di dunia akan menuju sorga dan yang berbuat buruk akan jatuh ke Neraka. Di Neraka Jiwatman itu mendapat siksaan sesuai dengan hasil perbuatannya. Karena itulah penjelmaan terus berlanjut sampai Jiwatman sadar akan hakekat dirinya sebagai Atman, terlepas dari pengaruh awidya dan mencapai Moksa yaitu kebahagiaan dan kedamaian yang abadi serta kembali bersatu kepada asalnya.
Almarhum13 - 19/04/2011 02:09 PM
#48

Percaya Adanya Hukum Karmaphal

Phala dari karma itu ada tiga macam yaitu:

1 Sancita Karmaphala Phala dari perbuatan dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang.

2 Prarabda Karmaphala Phala dari perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi.

3 Kriyamana Karmaphala Phala perbuatan yang tidak dapat dinikmati pada saat berbuat sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.




Quote:
Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan, disengaja atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah, disadari atau diluar kesadaran, kesemuanya itu disebut "Karma". Ditinjau dari segi ethimologinya, kata karma berasal dari kata "Kr" (bahasa sansekerta), yang artinya bergerak atau berbuat. Menurut Hukum Sebab Akibat, maka segala sebab pasti akan membuat akibat. Demikianlah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat, buah, hasil atau pahala. Hukum sebab akibat inilah yang disebut dengan Hukum Karma Phala.

Di dalam Weda disebutkan "Karma phala ika palaing gawe hala ayu", artinya karma phala adalah akibat phala dari baik buruk suatu perbuatan atau karma (Clokantra 68).

Hukum karma ini sesungguhnya sangat berpengaruh terhadap baik buruknya segala mahluk sesuai dengan perbuatan baik dan perbuatan buruknya yang dilakukan semasa hidup. Hukum karma dapat menentukan seseorang itu hidup bahagia atau menderita lahir bathin. Jadi setiap orang berbuat baik (subha karma), pasti akan menerima hasil dari perbuatan baiknya itu. Demikian pula sebaliknya, setiap yang berbuat buruk, maka keburukan itu sendiri tidak bisa terelakkan dan pasti akan diterima.

Phala atau hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat dirasakan atau dinikmati. Tangan yang menyentuh es akan seketika dingin, namun menanam padi harus menunggu berbulan-bulan untuk bisa memetik hasilnya. Setiap perbuatan akan meninggalkan bekas, ada bekas yang nyata, ada bekas dalam angan dan ada yang abstrak. Oleh karena itu hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat atau pada kehidupan sekarang maka akan ia terima setelah di akherat kelak dan ada kalanya pula akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang.

Dengan demikian karma phala dapat digolongkan menjadi 3 macam sesuai dengan saat dan kesempatan dalam menerima hasilnya, yaitu Sancita Karma Phala, Prarabda Karma Phala, dan Kriyamana Karma Phala.

1. Sancita Karma Phala:
Hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita yang sekarang.

2. Prarabda Karma Phala:
Hasil perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi;

3. Kriyamana Karma Phala:
Hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.


Jadi adanya penderitaan dalam kehidupan ini walaupun seseorang selalu berbuat baik, hal itu disebabkan oleh karmanya yang lalu (sancita karma), terutama yang buruk yang harus ia nikmati hasilnya sekarang, karena pada kelahirannya terdahulu belum habis diterimanya. Sebaliknya seseorang yang berbuat buruk pada kehidupannya sekarang dan nampaknya ia hidup bahagia, hal itu disebabkan karena sancita karmanya yang dahulu baik, namun nantinya ia juga harus menerima hasil perbuatannya yang buruk yang ia lakukan pada masa kehidupannya sekarang ini.

Tegasnya, bahwa cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala hasil perbuatan itu pasti akan diterima, karena hal itu sudah merupakan hukum perbuatan. Di dalam Weda (Wrhaspati Tatwa 3), dinyatakan sebagai berikut: "Wasana artinya bahwa semua perbuatan yang telah dilakukan didunia ini. Orang akan mengecap akibat perbuatannya di alam lain, pada kelahiran nanti; apakah akibat itu akibat yang baik atau yang buruk. Apa saja perbuatan yang dilakukannya, pada akhirnya kesemuanya itu akan menghasilkan buah. Hal ini adalah seperti periuk yang diisikan kemenyan, walaupun kemenyannya sudah habis dan periuknya dicuci bersih-bersih namun tetap saja masih ada bau, bau kemenyan yang melekat pada periuk itu. Inilah yang disebut wasana. Seperti juga halnya dengan karma wasana. Ia ada pada Atman. Ia melekat pada-Nya. Ia mewarnai Atman."

Ada penyakit tentu ada penyebabnya, demikian pula penderitaan itu, pasti ada sebab musababnya. Tetapi kita harus yakin bahwa penyakit atau penderita tersebut pasti dapat diatasi. Seseorang tidak bisa menghindari hasil perbuatannya, apakah baik ataupun buruk, sehingga seseorang tidak boleh iri jika melihat orang lain hidupnya bahagia atau lebih baik. Demikian pula sebaliknya, seseorang tidak perlu menyesali nasibnya, karena apa yang ia terima merupakan tanggungjawabnya. Ini harus disadari, bahwa penderitaan disaat ini adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, baik yang sekarang maupun yang telah lampau. Namun kita harus sadar pula bahwa suatu saat penderitaan itu akan berakhir asal kita selalu berusaha untuk berbuat baik. Perbuatan baik yang dilakukan saat ini akan memberikan kebahagiaan baik sekarang maupun pada masa yang akan datang.

Jelasnya dengan itu seseorang tidak perlu sedih atau menyesali orang lain karena mengalami penderitaan dan tidak perlu sombong karena mengalami kebahagiaan, karena hal itu adalah hasil karma. Satu hal yang perlu diingat, bahwa hukum karma phala itu tidak terlepas dari kekuasaan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Hyang Widhilah yang menentukan phala dari karma seseorang. Beliaulah yang memberi ganjaran sesuai dengan Hukum Karma.

"Asing sagawenya dadi manusa,
ya ta mingetaken de Bhetara Widhi,
apan sira pinaka paracaya Bhatara
ring cubhacubha karmaning janma". (Wrhaspati Tattwa 22)
Segala (apa) yang diperbuat di dalam penjelmaan menjadi manusia, (semua) itulah yang dicatat oleh Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), karena Dia sebagai saksi (dari) baik buruk (amal-dosa) perbuatan manusia.

"Bhatara Dharma ngaran ira Bhatara Yama
sang kumayatnaken cubhacubha prawrti
sekala janma". (Agastya Parwa 355.15)
Bhatara Dharma (juga) bergelar Bhatara Yama (sebagai Dewa Keadilan), adalah pelindung keadilan yang mengamat-amati (mengadili) baik buruk perbuatan manusia. Baik buruk dari (karma) itu akan memberi akibat yang besar terhadap kebahagiaan atau penderitaan hidup manusia.

Jadi segala baik dan buruk suatu perbuatan akan membawa akibat tidak saja di dalam hidup sekarang ini, tetapi juga setelah di akhirat kelak, yakni setelah Atma dengan suksma sarira (alam pikiran) terpisah dari badan (tubuh) dan akan membawa akibat pula dalam penjelmaan yang akan datang, yaitu setelah atman dengan suksma sarira memasuki badan atau wadah yang baru. Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) akan menghukum atman (roh) yang berbuat dosa dan merahmati atman (roh) seseorang yang berbuat kebajikan. Hukuman dan rahmat yang dijatuhkan oleh Hyang Widhi ini bersendikan pada keadilan.

Pengaruh hukum ini pulalah yang menentukan corak serta nilai dari pada watak manusia. Hal ini menimbulkan adanya bermacam-macam ragam watak manusia di dunia ini. Terlebih-lebih hukuman kepada Atman (roh) yang selalu melakukan dosa semasa penelmaannya, maka derajatnya akan semakin bertambah merosot. Hal ini disebutkan dalam Weda sebagai berikut:

"Dewanam narakam janturjantunam narakam pacuh,
Pucunam narakam nrgo mrganam narakam khagah,
Paksinam narakam vyalo vyanam narakam damstri,
Damstrinam narakam visi visinam naramarane." (Clokantara 40.13-14)
Dewa neraka (menjelma) menjadi manusia. Manusia neraka (menjelma) menjadi ternak. Ternak menjadi binatang buas, binatang buas neraka menjadi burung, burung neraka menjadi ular, dan ular neraka menjadi taring. (serta taring) yang jahat menjadi bisa (yakni) bisa yang dapat membahayakan manusia.

Demikianlah kenerakaan yang dialami oleh Atman (roh) yang selalu berbuat jahat (dosa) semasa penjelmaannya di dunia. Jika penjelmaan itu telah sampai pada limit yang terhina akibat dosanya, maka ia tetap akan menjadi dasar terbawah dari kawah neraka.
Almarhum13 - 19/04/2011 02:13 PM
#49

Percaya Adanya Punarbhawa/Reinkarnasi/Samsara.


Quote:
Punarbhawa berarti kelahiran yang berulang-ulang, yang disebut juga penitisan kembali (reinkarnasi) atau Samsara. Di dalam Weda disebutkan bahwa “Penjelmaan jiwatman yang berulang-ulang di dunia ini atau didunia yang lebih tinggi disebut Samsara. Kelahiran yang berulang-ulang ini membawa akibat suka dan duka. Samsara atau Punarbhawa ini terjadi oleh karena Jiwatman masih dipengaruhi oleh kenikmatan, dan kematian akan diikuti oleh kelahiran”.

Punarbhawa berarti kelahiran yang berulang-ulang, yang disebut juga penitisan kembali (reinkarnasi) atau Samsara. Di dalam Weda disebutkan bahwa “Penjelmaan jiwatman yang berulang-ulang di dunia ini atau didunia yang lebih tinggi disebut Samsara. Kelahiran yang berulang-ulang ini membawa akibat suka dan duka. Samsara atau Punarbhawa ini terjadi oleh karena Jiwatman masih dipengaruhi oleh kenikmatan, dan kematian akan diikuti oleh kelahiran”. Demikian pula disebutkan:

Sribhagavan uvacha,

bahuni me vyatitani,

janmani tava cha rjuna,

rani aham veda sarvani,

na tvam paramtapa (Bh. G. IV.5)

Sri Bhagawan (tuhan) bersabda, banyak kelahiran-Ku di masa lalu, demikian pula kelahiranmu arjuna semuanya ini Aku tahu, tetapi engkau sendiri tidak,. Parantapa.

Atman yang masih diselubungi oleh suksma sarira dan masih terikat oleh adanya kenikmatan duniawi, menyebabkan Atman itu awidya, sehingga Ia belum bisa kembali bersatu dengan sumbernya yaitu Brahman (Hyang Widhi). Hal ini menyebabkan atman itu selalu mengalami kelahiran secara berulang-ulang.

Segala bentuk prilaku atau perbuatan yang dilakukan pada masa kehidupan yang lampau menyebabkan adanya bekas (wasana) dalam jiwatman. Dan wasana (bekas-bekas perbuatan) ini ada bermacam-macam. Jika wasana itu hanya bekas-bekas keduniawian, maka jiwatman akan lebih cenderung dan gampang ditarik oleh hal-hal keduniawian sehingga atman itu lahir kembali.

Karmabhumiriya brahman,

phlabhumirasau mata

iha yat kurate karma tat,

paratrobhujyate. (S.S.7)

Sebab sebagai manusia sekarang ini adalah akibat baik dan buruknya karma itu juga akhirnya dinikmatilah karma phala itu. Artinya baik buruk perbuatan itu sekarang akhirnya terbukti hasilnya. Selesai menikmatinya, menjelmalah kembali ia, mengikuti sifat karma phala. Wasana berarti sangskara, sisa-sisa yang ada dari bau sesuatu yang tinggal bekas-bekasnya saja yang diikuti hukuman yaitu jatuh dari tingkatan sorga maupun dari kawah-kawah neraka, adapun perbuatan baik ataupun buruk yang dilakukan di akhirat, tidaklah ia berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan-perbuatan baik atau buruk yang dilakukan sekarang juga.

Karma dan Punarbhawa ini merupakan suatu proses yang terjalin erat satu sama lain. Secara singkat dapat dikatakan bahwa karma adalah perbuatan yang meliputi segala gerak, baik pikiran, perkataan maupun tingkah laku. Sedangkan punarbhawa adalah kesimpulan dari semua karma itu yang terwujud dalam penjelmaan tersebut. Setiap karma yang dilakukan atas dorongan acubha karma akan menimbulkan dosa dan Atman akan mengalami neraka serta dalam Punarbhawa yang akan datang akan mengalami penjelmaan dalam tingkat yang lebih rendah, sengsara, atau menderita dan bahkan dapat menjadi mahluk yang lebih rendah tingkatannya. Sebaliknya, setiap karma yang dilakukan berdasarkan cubhakarma akan mengakibatkan Atman (roh) menuju sorga dan jika menjelma kembali akan mengalami tingkat penjelmaan yang lebih sempurna atau lebih tinggi. Di dalam Weda (S.S.48) dinyatakan sebagai berikut:

“Adharmarucayo mandas,

tiryaggatiparayanah,

krocchram yonimanuprapya,

na windanti sukham janah.

Adapun perbuatan orang yang bodoh, senantiasa tetap berlaku menyalahi dharma; setelah ia lepas dari neraka, menitislah ia menjadi binatang, seperti biri-biri, kerbau dan lain sebagainya; bila kelahirannya kemudian meningkat, ia menitis menjadi orang yang hina, sengsara, diombang-ambingkan kesedihan dan kemurungan hati, dan tidak mengalami kesenangan.

Sedangkan orang yang selalu berbuat baik (cubhakarma), Sarasmuccaya menyebutkan: “Adapun orang yang selalu melakukan karma baik (cubhakarma), ia dikemudian hari akan menjelma dari sorga, menjadi orang yang tampan (cantik), berguna, berkedudukan tinggi, kaya raya dan berderajat mulia. Itulah hasil yang didapatnya sebagai hasil (phala) dari perbuatan yang baik”.

Kesimpulannya, dengan keyakinan dengan adanya Punarbhawa ini maka orang harus sadar, bahwa bagaimana kelahirannya tergantung dari karma wasananya. Kalau ia membawa karma yang baik, lahirlah ia menjadi orang berbahagia, berbadan sehat dan berhasil cita-citanya. Sebaliknya bila orang membawa karma yang buruk, ia akan lahir menjadi orang yang menderita. Oleh karena itu kelahiran kembali ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri untuk meningkat ke taraf yang lebih tinggi.

Iyam hi yonihprathama,

yam prapya jagattpate

atmanam cakyate tratum,

karmabhih cubhalaksanaih (S.S. 4)

Menjelma menjadi manusia itu sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya sendiri dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Sopanabhutam Swargasya,

manusyam prapya durlabham,

tathamanam samadyad,

dhwamsetana purna yatha. (S.S. 6)

Kesimpulannya, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia ini, kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk pergi ke sorga; segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.

Diantara semua mahluk hidup yang ada didunia ini, manusia adalah mahluk yang utama. Ia dapat berbuat baik maupun buruk, serta dapat melebur perbuatannya yang buruk dengan perbuatan yang baik. Oleh karena itu seseorang sepatutnya bersyukur dan berbesar hati lahir sebagai manusia. Karena sungguh tidaklah mudah untuk dapat dilahirkan menjadi manusia sekalipun manusia hina.

Itulah sebabnya, maka seorang hendaknya dapat menghargai dan menggunakan kesempatan yang amat berharga ini untuk membebaskan diri dari kesengsaraan dan menuju pada kebahagiaan yang abadi yang sisebut Moksa atau kelepasan. Memang sungguh disayangkan, apabila kesempatan yang baik ini berlalu tanpa makna. Kelahiran manusia dikatakan berada ditengah-tengah antara sorga dan neraka. Jika kebajikan yang diperbuat maka tentulah hidupnya akan meningkat, tetapi jika dosa yang dilakukan, sudah pastilah akan jatuh ke neraka. Jadi setiap kali kelahiran sebagai manusia patutlah digunakan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hidup ke jenjang yang lebih mulia dan luhur.
Almarhum13 - 19/04/2011 02:15 PM
#50

Percaya adanya Moksa

Quote:
Dalam Weda disebutkan: “Moksartham Jagadhitaya ca itu dharma”, maka Moksa merupakan tujuan yang tertinggi. Moksa ialah kebebasan dari keterikatan benda-benda yang bersifat duniawi dan terlepasnya Atman danri pengaruh maya serta bersatu kembali dengan sumber-Nya, yaitu Brahman (Hyang Widhi) dan mencapai kebenaran tertinggi, mengalami kesadaran dan kebahagiaan yang kekal abadi yang disebut Sat Cit Ananda.

Orang yang telah mencapai moksa, tidak lahir lagi kedunia, karena tidak ada apapun yang mengikatnya. Ia telah bersatu dengan Paramatman. Bila air sungai telah menyatu dengan air laut, maka air ungai yang ada di laut itu akan kehilangan identitasnya. Tidak ada perbedaan lagi antara air sungai dengan air laut. Demikianlah juga halnya, Atman yang mencapai Moksa. Ia akan kembali dan menyatu dengan sumbernya yaitu Brahman.
Bahunam janmanam ante,

jnanavan mam prapadyate,

vasudevah sarvam iti,

sa mahatma sadurlabhah. (Bh. G. VII. 19)

Pada banyak akhir kelahiran manusia, orang yang berbudi (orang yang tidak lagi terikat oleh keduniawian) datang kepada-Ku, karena tahu Tuhan adalah sealanya; sungguh sukar dijumpai jiwa agung serupa itu.
Mam upetya punarjanma

duhkhata yam asasvatam,

na pnuvanti mahatmanah,

samsiddhim paramam gatah. (Bh. G. VIII.15)

Setelah sampai kepada-Ku, mereka yang berjiwa agung ini tidak lagi menjelma ke dunia yang penuh duka dan tak kekal ini dan mereka tiba pada kesempurnaan tertinggi.
Di samping setelah di dunia akhirat, Moksa juga dapat dicapai semasa hidup didunia ini, namun terbatas kepada orang-orang yang sudah bebas dari keterikatan duniawian dan pasang surut serta duka-dukanya gelombang hidup. Sebagaimana halnya Maharsi yang telah bebas dari keinginan-keinginan menikmati keduniawian dan bekerja tanpa pamerih untuk kesejahteraan dunia. Moksa semasa hidup disebut dengan “Jiwan Mukti”.
dark.age - 19/04/2011 02:16 PM
#51

Selamat siang \)

mohon penjelasannya dalam agama hindu tentang konsep kematian setelah 1 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari

terima kasih \)
Almarhum13 - 19/04/2011 02:26 PM
#52

Quote:
Original Posted By dark.age
Selamat siang \)

mohon penjelasannya dalam agama hindu tentang konsep kematian setelah 1 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari

terima kasih \)


pertanyaan bagus gann..
ane coba jawab tapi mohon dibaca dengan baik beer:

Quote:
Maaf perlu saya tegaskan bahwa budaya kenduri kematian khususnya di tanah Jawa bukan karena pengaruh Hindu karena di Hindu itu tidak ditemukan ajaran “nyadran” / Nyekar, Kenduri, dan tidak pula dikenal peringatan orang mati pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 atau ke-1.000.


Dalam Hindu Doa dipanjatkan saat setelah kematian dan pada saat proses upacara penguburan atau Ngaben/Pelebon/Perabuan.
Selanjutnya atma sudah menjadi Bhatara Guru yang menuntun keluarga yang ditinggalkan setelah melalui proses Upacara Ngaben/Palebon - pengembalian panca mahabuta. Kemudian dilanjutkan upacara Nyekah/Malagia - Atma Wedana yang dilanjutkan dengan ngelingihin Betara Hyang di pemrajan.

..semoga menjadi jawaban, dan mungkin agan yang lain dapat melengkapi.
ZHU Uchiha - 19/04/2011 02:28 PM
#53

thx atas penjelasan sebelumnya.
sekarang tentang avatar. entah gw baca dimana, ada yang bilang Sidharta Gautama, Muhammad, dan Yesus adalah avatar?

Sekalian nanya konsep dosa hindhuism?[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab
Almarhum13 - 19/04/2011 02:34 PM
#54

Quote:
Original Posted By ZHU Uchiha
thx atas penjelasan sebelumnya.
sekarang tentang avatar. entah gw baca dimana, ada yang bilang Sidharta Gautama, Muhammad, dan Yesus adalah avatar?

Sekalian nanya konsep dosa hindhuism?[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab


wahhh ini pertanyaan bagus yang jarang ditanya gan beer:
avatar atao biasa disebut awatara dalam bahasa Indonesia
ane jawab soal awatara dulu yahh..

Quote:
APAKAH AWATARA ITU?

Seorang Awatara adalah seorang inkarnasi Tuhan. Ketika Tuhan turun ke bumi dalam suatu bentuk hidup apapun, maka kita menyebut itu Awatara.

APAKAH YESUS JUGA SEORANG AWATARA?

Tentu, dia juga Awatara seperti Krishna dan Buddha. Dia datang dengan suatu missi,menyampaikan missi itu, dan akhirnya pergi tanpa terikat kepada seseorang atau sesuatupun. Awatara tidak terbatas hanya untuk India. Mereka terjadi di seluruh dunia.

APAKAH YESUS PERNAH MENGUNJUNGI INDIA?

Ada inskripsi dalambahasa Pali di Tibet mengenai seorang suci (santo) yang bernama Isa atau Issa. Beberapa orang percaya bahwa Santo Isa adalah Jesus Kristus dan bahwa dia ada di India selama tahun-tahun tak dikenal dalam hidupnya. Tapi kita tidak memiliki bukti yang meyakinkan. Sesungguhnya, aku mendiskusikan hal ini dengan "the Worldwide Church Of God" di Pasadena, California, dan mereka mengatakan bahwa perjalanan Jesus ke Timur tidak mempunyai dasar Bible. Namun demikian, apa yang amat mengegelitikku adalah kesamaan dalam beberapa aspek dari Agama Kristen dan agama Buddha, dan juga agama Hindu. Tentu saja, semua ini mungkin hanya kebetulan.

APAKAH KITA ORANG-ORANG HINDU PERCAYA SEORANG AWATARA YANG LAIN AKAN DATANG DI MASA DEPAN?

Ya, sama seperti orang Kristen dan Muslim, orang-orang Hindu juga percaya akan hal itu. Bila Tuhan datang ke dunia lagi, masing-masing akan melihat "Itu" menurut keyakinan peribadinya. Seorang Kristen mungkin melihat "Itu" sebagai seorang Kristus - seorang manusia dengan seekor kuda putih (Wahyu 6:1-2), seorang Hindu mungkin melihat "Itu" sebagai seorang Kalki – juga seorang manusia dengan kuda putih, dan seorang Muslim mungkin melihat "Itu"sebagai Allah. (Orang Islam menamai nabi yang akan datang itu "Imam Mahdi", pen)

Al Qur'an memberi tahu orang-orang Muslim bahwa Pengadilan akhir akan dating pada akhir zaman ini dan bahwa Allah akan memberikan keadilan kepada setiap orang. Jadi ada kemiripan keyakinan antara Hindu, Kristen dan Islam. Agama Kristen yakin bahwa hal itu akan terjadi dalam seribu tahun (satu milenium, pen), sementara itu agama Hindu percaya bahwa hal itu akan terjadi hanya pada akhir Kali Yuga - yaitu 427.000 (empat ratus dua puluh tujuh ribu tahun) dari sekarang.
Almarhum13 - 19/04/2011 02:38 PM
#55

Quote:
Original Posted By ZHU Uchiha
thx atas penjelasan sebelumnya.
sekarang tentang avatar. entah gw baca dimana, ada yang bilang Sidharta Gautama, Muhammad, dan Yesus adalah avatar?

Sekalian nanya konsep dosa hindhuism?[HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab


nah sekarang ane jawab soal dosa dalam agama hindu gan

Quote:
Dosa dalam Agama Hindu

APAKAH ORANG-ORANG HINDU PERCAYA DENGAN KATA-KATA “DOSA” DAN “PENDOSA”?

Kecuali dalam mythologi, dalam kitab-kitab suci Hindu tidak ada disebut mengenai dosa. Agama Hindu menangani dosa dengan sangat ilmiah, melalui penjelasan tentang hukum Karma, mengenai sebab dan akibat. Seluruh parable (cerita perumpamaan, ibarat) menjelaskan bagaimana melihat masalah dosa-dosa dengan cara yang sangat positif. Ketika seorang anak menaruh tangannya di api, dia terbakar.

Tindakannya disini disebabkan oleh ketidaktahuannya mengenai kekuatan api. Anak itu tidak melakukan dosa, tapi disebabkan oleh ketidak-tahuannya akan kebenaran bahwa api membakar, dia melakukan karma buruk dan dia telah menerima hasilnya menjadi terbakar. Agama Hindu melihat semua tindakan dalam cara seperti contoh yang telah dijelaskan di atas. Kita semua berdosa atau melakukan karma buruk karena kebodohan. Kebodohan adalah akar dari kejahatan. Pengetahuan menghilangkan kebodohan. Itulah caranya ide tentang dosa dijelaskan dalam agama Hindu.

Agama Hindu, seperti ane jelaskan sebelumnya menentang doktrin tentang dosa. Swami Ramakrishna Paramahamsa selalu memandang rendah ide Barat bahwa manusia adalah para pendosa. Bhagawad Gita menyatakan, “Sekalipun engkau adalah pendosa yang paling buruk, engkau akan melewati lautan dosa dengan perahu kebijaksanaan / pengetahuan ini.” (Bab 4:36).

Adi Sankaracharya dalam doktrinnya tentang Advaita, melihat kebodohan sebagai ilusi atau Maya, dan berkali-kali menulis bahwa pengetahuan adalah satu-satunya jawaban dari semua masalah manusia. Agama Hindu melarang kesadaran tentang dosa dalam bentuk apapun. Kitab-kitab suci menyatakan, bahkan Tuhan sekalipun tidak dapat menyelamatkan seseorang yang kasihan pada diri sendiri (self-pity) dan merasa sebagai pendosa. Seorang Yogi yang telah maju akan melihat pada seorang bhakta, seorang pelacur dan pembunuh sama saja, karena dia tahu bahwa kia semua adalah bagian dari proses evolusi. Beberapa orang berada jauh di depan dan berjalan sangat cepat ke arah Tuhan, dan beberapa yang lain ada pada gerbang permulaan dan berjalan selambat keong menuju Tuhan.

Beberapa orang dalam bentuk yang suci, dan beberapa orang dalam keadaan mental binatang buas sekalipun ia memiliki bentuk manusia. Bhagawad Gita menyatakan, “Yoga – persatuan dengan Yang Suci – adalah bagi semua.” Jadi semua kita akan mencapai keselamatan (moksha, salvation) pada suatu hari. Hanya faktor waktu yang berbeda antara seorang individu dengan individu lain. Tuhan telah memberi kita kehendak bebas, supaya kita dapat memutuskan kapan kita akan mencapai Tuhan. Beberapa orang melakukan percobaan dengan hidupnya dan mengambil ribuan tahun untuk mencapai Tuhan, dan beberapa orang secara mental memahami kebenaran dan mencapai Tuhan secara sangat cepat dengan mengikuti metoda yang ditemukan oleh para Mahareshi. Jadi bagi orang Hindu yang percaya pada kebenaran “Keselamatan bagi semua,” kata-kata “dosa” dan “pendosa” sama sekali
dark.age - 19/04/2011 02:40 PM
#56

Quote:
Original Posted By Almarhum13
pertanyaan bagus gann..
ane coba jawab tapi mohon dibaca dengan baik beer:


gw baca di ABMM ad yg post seperti ini :

Quote:
Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi : "Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu


Quote:
Dalam buku media Hindu yang berjudul : "Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal" karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : "Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu."


mohon klarifikasi dan penjelasannya \)
unwell - 19/04/2011 02:42 PM
#57

minta link pembahasan mengenai 3 dewa dong, gw dulu demen cerita2 ramayana sih hehe.. terutama tentang shiva shakehand
Almarhum13 - 19/04/2011 02:50 PM
#58

Quote:
Original Posted By unwell
minta link pembahasan mengenai 3 dewa dong, gw dulu demen cerita2 ramayana sih hehe.. terutama tentang shiva shakehand


wihhh agan beruntung ane baru aja dapet acuan dari agan ccck

Trimurti
[CODE]https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=32984944&postcount=4[/CODE]

Brahma
[CODE]https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=32985206&postcount=6[/CODE]

Wisnu
[CODE]https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=32985952&postcount=7[/CODE]

Çiwa
[CODE]https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=32986360&postcount=8[/CODE]
ccck - 19/04/2011 02:55 PM
#59

Quote:
Original Posted By dark.age
gw baca di ABMM ad yg post seperti ini :

Quote:
Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi : "Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu


Quote:
Dalam buku media Hindu yang berjudul : "Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal" karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : "Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu."


mohon klarifikasi dan penjelasannya \)

sayang cuman disebutkan halamannya, coba klo no slokanya mungkin bisa lebih cepat dikonfirmasi karena setiap terbitan maka halaman yang menyangkut slokanya bisa berbeda disebabkan masing² penerbit bisa memberikan penambahan penjelasan yang berbeda... \)

ok gan, ntar tak coba saya cek² dulu yang kira² menyangkut hal itu, ato mungkin @ts dan sodara Hindu yang lain sudah menemukan sloka yang dimaksud... o
dark.age - 19/04/2011 03:02 PM
#60

Quote:
Original Posted By ccck
sayang cuman disebutkan halamannya, coba klo no slokanya mungkin bisa lebih cepat dikonfirmasi karena setiap terbitan maka halaman yang menyangkut slokanya bisa berbeda disebabkan masing² penerbit bisa memberikan penambahan penjelasan yang berbeda... \)

ok gan, ntar tak coba saya cek² dulu yang kira² menyangkut hal itu, ato mungkin @ts dan sodara Hindu yang lain sudah menemukan sloka yang dimaksud... o


ok deh \)

ditunggu kalau begitu jawabannya \)

thanks shakehand
Page 3 of 409 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > CASCISCUS > DEBATE CLUB > [HOLY] Anda Bertanya, Hindu Menjawab