Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Sebuah Pemahaman Sunda
Total Views: 45304 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 62 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

adiawae - 14/04/2011 06:20 PM
#1
Sebuah Pemahaman Sunda
Pun Sapun ……….. !
Ka ruhur ka Sang Rumuhung ka Nu Muhung di Mandala Agung
Ahuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuung !
Ka Guru sakabeh Guru
Ka Raja sakabeh Raja
Nya ka Inyana
Nu Ngaruhum ti Kasunyian
Anu Nunggal di Kalanggengan
Anu Langgeng dina Jati Nunggal
Nya Inyana
Anu Ngabogaan sakabeh Jagat
Anu Ngabogaan sakabeh Alam ….. !
Ahuuuuuuung Ahuuuuuuuuuuuuuuuuuuuug !

Paralun !

Sunda adalah nama “Suku” sebuah kelompok etnis yang mendiami sebuah wilayah Alam yang sangat Indah kaya akan Budaya, Sejarah, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia dan lainya. Dalam tulisan saya saat ini akan membahas tentang Budaya dan Sejarah Sunda yang telah sangat lama ada dan sampai saat ini masih ada. Namun sayangnya banyak dari masyarakat Sunda sendiri tidak mengetahui yang sebenarnya apa itu Arti Sunda, bagaimana Budayanya, bagaimana Sejarahnya bahkan lebih jauh dari itu bahwa Sunda merupakan nama sebuah Agama mayoritas pada saat dahulu masih merupakan Nagara “Kerajaan” Sunda yang disebut Jati Sunda.

Sunda memiliki arti Suci atau Wareh Nyampurnakeun/Peta Nyampurnakeun yang artinya Bagian yang Menyempurnakan kenapa dinamakan Sunda karena Sunda adalah bagian yang menyempurnakan Jagat Alam ini, tidak akan sempurna Jagat ini tanpa Sunda. Pada awalnya Sunda adalah sebuah Buana/Wilayah yang Sangat Gelap Pekat Gulita sampai begitu Gelapnya jika ada bara api di depan muka pun tidak akan terlihat. Sampai Suatu hari Saat Sang Hiyang Kala yang merupakan “Dewa” yang bertugas mengatur segala tentang waktu sedang bertugas mengontrol Jagat Raya, Sang Hiyang Kala selalu was-was jika melewati “Buana” ini, beberapa kali Sang Hiyang Kala selalu mendapat “musibah” karena Kegelapannya, hingga pada akhirnya Sang Hiyang kala meminta kepada Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening untuk membicarakan tentang “Buana” ini kepada Sang Hiyang Guriang Tunggal dan pada akhirnya 1000 tahun sejak itu “Buana Sunda” mendapat pancaran cahaya matahari walau masih samar.

Bagaimana nama sebutan Sunda berawal adalah Sang Hiyang Wenang yang memberikan nama Sunda pada Buana itu, sebab setelah Sunda terang ternyata Buana Sunda ini merupakan tempat yang sangat baik dan lengkap segalapun ada disana. Dengan waktu yang berjalan setelah manusia ada di Jagat Raya ini Buana Sunda selalu diisi oleh “Orang-orang” yang bertapa “nyundakeun diri” / “mensucikan diri”……

“… di dinya teh hade jasa pieun panyundaan nyundakeun diri, pieun nyampurnakeun raga eujeung sukma, abeh bisa ngarasa paeh sajero hirup, ngarasa hirup sabari paeh”

“… disana bagus sekali untuk menyucikan diri, untuk menyempurnakan raga dan sukma, agar mampu merasakan mati selama hidup, merasa hidup sambil dalam keadaan mati”.

Lalu semakin lama banyak berdatangan kembali “orang-orang” yang bertapa di Sunda, yang pada akhirnya setelah bertapa di Buana Sunda tidak ada yang tidak unggul selama hidupnya tapi unggul harus dengan tindak dan hati yang baik.

Awal Manusia dalam Sunda berawal ketika Sang Hiyang Guriang Tunggal sedang membuat Panggung Agung di Kahyangan untuk menyembah kepada Sang Hiyang Tunggal di Mandala Agung. Saat Panggung Agung sedang dibuat para pekerja melakukan kesalahan yang mengakibatkan sebuah kayu jatuh dari Kahyangan, karena bisa sangat membahayakan Jagat maka Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening mengejar kayu tersebut hingga ke bumi. Sang Hiyang Wenang turun di Puncak Gunung Mahameru lalu memerintahkan semua penghuni hutan untuk menahan kayu tersebut dengan upah akan dijadikan Manusia. Sedangkan Sang Hiyang Wening turun di Puncak Gunung Nyungcung meminta tolong pada Badak, Harimau, Burung dan Monyet dengan upah dijadikan Manusia pada saat itu Kura-kura putih mendengar semua itu lalu meminta ikut dalam pekerjaan tersebut karena ingin menjadi manusia. Lalu mereka mengerjakan mencari kayu itu semua secara bersamaan. Pada akhirnya kayu bisa dikembalikan lagi ke Kahyangan hingga Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening lega setelah kayu tersebut bisa kembali dan mereka pun kembali ke Kahyangan tanpa apapun.
Setelah Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening kembali ke Kahyangan, kemudian mereka yang sudah membantu merasa bingung dan kesal lalu mereka membicarakan dan akhirnya Badak, Harimau, Burung dan Monyet melakukan tapa sambil membuat Arca tanpa suara tanpa bicara. Hingga pada suatu ketika saat Sang Hiyang Kala sedang bertugas melihat mereka yang sedang tapa sambil membuat arca, dari keempatnya yang paling bagus arca nya adalah buatan Monyet, arca tersebut masih ada di Pasir Kopo. Sang Hiyang Kala ingat bahwa dahulu Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening pernah berjanji lalu Sang Hiyang Kala memanggil Sang Hiyang Wening dan Sang Hiyang Wenang. Dengan kesungguhan yang telah teruji dengan baik akhirnya Badak, Harimau, Burung dan Monyet di jadikan Manusia oleh Sang Hiyang Tunggal melalui Sang Hiyang Wening. Kelak Ke empat manusia ini yg saling berpencar dan menjadi koloni manusia di Jagat.

Lalu apa Jati Sunda itu, Jati Sunda adalah Agama orang Sunda sebuah Agama lokal dari Nagara Sunda. Kitab Suci Jati Sunda disebut Layang Salaka Domas yg diartikan secara "mudah" adalah "Kitab Suci Delapan Ratus Ayat" yang terdiri dari Kitab Sambawa, Kitab Sambada dan Kitab Winasa, jadi Kitab Jati Sunda itu bukan 1 tapi 3 tapi bukan berarti ada 3. arti dari Sambada, Sambawa dan Winasa adalah Ajaran Kesempurnaan tentang Sambawa ( hidup dari semenjak lahir ). Sambada ( dewasa sampai tua ) dan Winasa ( kematian serta kehidupan di alam hyang. Ajaran Jati Sunda yg terdapat dalam Kitab Layang Salaka Domas disebar di Tanah Sunda pertama kalinya oleh seorang tokoh yang menyandang nama "Mundi Ing Laya Hadi Kusumah" setelah Dia mendapatkannya dari "Jagat Jabaning Langit". Yang disebut "Mundi Ing Laya Hadi Kusumah" bukan anak dari Parabu Siliwangi yaitu "Mundinglaya Dikusumah" tapi sebutan itu yang berarti "Seseorang yang telah mampu mengusung tinggi tentang kematian, setara indahnya bunga", yang juga berarti "seseorang yang telah mampu menguasai hawa nafsunya seraya meninggalkan ihwal keduniawian", sampai saat ini siapa nama sebenarnya dari yang tersebut itu belum ditemukan di Carita, Pantun atau Prasasti apapun. Namun Penulis pertama Ajaran Jati Sunda ke dalam sebuah Kitab adalah Rakean Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu, Raja Nagara Sunda yang terkenal Arif Bijaksana sebagai Resi dan gencar menyiarkan Agama kala itu.

Tempat Ibadah dalam Agama Jati Sunda adalah Pamunjungan atau yang akrab disebut Kabuyutan. Pamunjungan merupakan Punden Berundak yang biasanya terdapat di bukit dan di Pamunjungan ini biasanya terdapat Menhir, Arca, Batu Cengkuk, Batu Mangkok, Batu Pipih dll. Pamunjungan /Kabuyutan banyak sekali di Tatar Sunda seperti Balay Pamujan Genter Bumi, Situs Cengkuk, Gunung Padang, Kabuyutan Galunggung, Situs Kawali dll. Di Bogor sendiri sebagi Pusat Nagara Sunda dan Pajajaran dahulu terdapat Banyak Pamunjungan beberapa diantaranya adalah Pamunjungan Rancamaya nama dahulunya adalah Pamunjungan Sanghyang Padungkukan yang disebut Bukit Badigul namun sayang saat ini Pamunjungan tersebut sudah tidak ada lagi digantikan oleh Lapangan Golf. Pada masanya Pamunjungan yang paling besar dan mewah adalah Pamunjungan Kihara Hyang yang berlokasi di Leuweung Songgom/Hutan Songgom , atau Balay Pamunjungan Mandala Parakan Jati yang saat ini lokasinya digunakan sebagai Kampung Budaya Sindang Barang. Dengan banyaknya Pamunjungan/Kabuyutan tersebut di Tatar Sunda membuktikan bahwa Agma yang dianut atau Agama mayoritas orang Sunda dahulu adalah Agama Jati Sunda ini adalah jawaban kenapa di Sunda sangat jarang sekali diketemukan Candi. Namun begitu Hindu dan Budha berkembang baik di Sunda bahkan Raja Salaka Nagara juga Taruma Nagara adalah seorang Hindu yang taat. Kehidupan beragama di Sunda dahulu sangat harmonis hingga tercipta Kabuyutan Galunggung merupakan Pusat ketiga Agama tersebut.

Demikian sepintas singkat ( sengaja singkat saja dahulu kalo banyak ntar bacanya bete hehe ) Sejarah dan Budaya Sunda, semoga pada lain waktu saya dapat meneruskan kembali tulisan ini. Kepada Agan-aganwati yang ingin bertanya, menambahkan atau apapun silahkan. Karena sebanrnya penjabaran tentang Sunda ini masih sangat-sangat panjang. Mohon maaf jika ada salah maklum TS baru heuheu.Terima Kasih.

Nyanggakeun ...

Hung Rahayu suasti astu
Nirmala seda malilang, Pun …. !
zeth - 14/04/2011 07:11 PM
#2

Dengan segala rasa hormat kepada TS dan rekan2 berdarah Sunda lainnya..kiranya apakah ada pembabaran sejarah yang tidak bersumberkan dari mitos, tetapi terjemahan dari prasasti2 dan naskah2 kuno.

Karena seperti "Babad Tanah Jawa"..kalau kita baca secara teliti, juga banyak mitos yang di sejarahkan.

Maaf bukannya saya mencela atau mengkritisi postingan anda, tetapi hanya ingin mempelajari sejarah yang bukan dari sisi "ghoib"..melainkan dari peninggalan2 peradaban, naskah2 kuno dan prasasti2 yang ada.

Karena menurut prasasti2 dari jaman Medang, awal berdirinya kerajaan Mataram Kuno (Medang} tertulis pada Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha saudara perempuan Sanna.

Sanna juga dikenal dengan nama sena atau Bratasenawa, yang merupakan raja Kerajaan Galuh yang ketiga (709 - 716 M).Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu ibu sanna) dalam tahun 716 M.Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang merupakan raja pertama Kerajaan Sunda (setelah tarumanegara pecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat baik sanna.
Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sanna, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan sahabat sanna). Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya.

Akhirnya Sanjaya menjadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat). Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.

Kisah hidup Sanjaya secara panjang lebar terdapat dalam Carita Parahyangan yang baru ditulis ratusan tahun setelah kematiannya, yaitu sekitar abad ke-16.

Sekali lagi saya mohon maaf kalau ada salah2 kata, maksud saya nukan untuk membantah atau menyangkal..melainkan justru ingin mencari "link" sejarah antara Jawa Barat dengan Jawa lainnya.

Untuk ini saya mohon petunjuk dari gan TS..salam hormat selalu
adiawae - 14/04/2011 08:19 PM
#3

Quote:
Original Posted By zeth
Dengan segala rasa hormat kepada TS dan rekan2 berdarah Sunda lainnya..kiranya apakah ada pembabaran sejarah yang tidak bersumberkan dari mitos, tetapi terjemahan dari prasasti2 dan naskah2 kuno.

Karena seperti "Babad Tanah Jawa"..kalau kita baca secara teliti, juga banyak mitos yang di sejarahkan.

Maaf bukannya saya mencela atau mengkritisi postingan anda, tetapi hanya ingin mempelajari sejarah yang bukan dari sisi "ghoib"..melainkan dari peninggalan2 peradaban, naskah2 kuno dan prasasti2 yang ada.

Karena menurut prasasti2 dari jaman Medang, awal berdirinya kerajaan Mataram Kuno (Medang} tertulis pada Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha saudara perempuan Sanna.

Sanna juga dikenal dengan nama sena atau Bratasenawa, yang merupakan raja Kerajaan Galuh yang ketiga (709 - 716 M).Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu ibu sanna) dalam tahun 716 M.Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang merupakan raja pertama Kerajaan Sunda (setelah tarumanegara pecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat baik sanna.
Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sanna, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan sahabat sanna). Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya.

Akhirnya Sanjaya menjadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat). Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.

Kisah hidup Sanjaya secara panjang lebar terdapat dalam Carita Parahyangan yang baru ditulis ratusan tahun setelah kematiannya, yaitu sekitar abad ke-16.

Sekali lagi saya mohon maaf kalau ada salah2 kata, maksud saya nukan untuk membantah atau menyangkal..melainkan justru ingin mencari "link" sejarah antara Jawa Barat dengan Jawa lainnya.

Untuk ini saya mohon petunjuk dari gan TS..salam hormat selalu


Terima kasih Agan Zeth, tidak ada rasa tersinggung atau apapaun malah saya berterima kasih bisa menjelaskan tulisan saya.

Tulisan saya bersumber utama berdasarkan Pantun Bogor dimana Pantun Bogor ini bukan merupakan mitos atau mistis atau Ghaib, Pantun dalam Budaya Sunda merupakan salah satu Sumber Sejarah yang sangat di percaya, karena Pantun atau Budaya Pitutur ini diakui sebagai Bukti Nyata Sejarah Sunda, terdapat banyak Pantun yang menceritakan tentang Sunda. seperti Pantun Bogor, Pantun Ki Kamal, Pantun Pa Cilong dll, Budaya Pantun ini di masyarakat Sunda sekarang sangat terbatas yang mengetahuinya. Pantun Bogor Sendiri diakui ke "valid" an nya sebagai Sumber Sejarah Sunda oleh para ahli Sejarah dan Budaya seperti Saleh Danasasmita, Anis Djatisunda, Purbacaraka, Hussein Djajadiningrat, Atja dll bahkan Pantun Bogor diteliti oleh Pleyte dan mengganggap bahwa Pantun Bogor adalah Naskah Kuno yang paling lengkap yang menceritakan tentang Nagara Sunda dibanding Naskah - Naskah Kuno lainnya termasuk Carita Parahiyangan. Dalam Pantun Bogor diceritakan dari mulai Ajaran/Agama, Tata Nagara, kehidupan Masyarakat, Awal Mula sampai Terakhir Masa Pajajaran.

Dalam Pantun Bogor malah terdapat cerita2 yang awalnya berbau Ghaib, Mitos, Dongeng menjadi Carita yang sangat masuk akal. lagi2 saya kasih contoh satu tentang Kian Santang yang menurut cerita sekarang pergi ke Tanah Arab untuk mencari lawan tanding hingga bertemu Syaidina Ali lalu taklut karena tidak dapat mencabut tongkatnya lalu pulang ke Sunda mengejar2 Bapaknya yaitu Prabu Siliwangi untuk di sunat. dalam Pantun Bogor Kian Santang yang nama sebenarnya Ki Hiyang Santang Aria Cakrabuana hanya mencari tanding sampai ke Palembang ketika akan melanjutkan perjalannya dalam mencari tanding Ki Hiyang Santang kembali ke Pajajaran karena mendapat perasaan bahwa Pajajaran dalam keadaan tidak baik lalu Ki Hiyang Santang kembali dan menolong Prabu Siliwangi dalam peperangan.

Namun jika Agan mencari link antara Sunda dan Jawa dalam Pantun Bogor ini tidak terdapat cerita yang menujuk langsung ke arah situ, dikarenakan Pantun Bogor sangat konsen/khusus menceritakan tentang Nagara Sunda hingga Pajajaran. Memang dalam Pantun Bogor terdapat hampir banyak perbedaan dengan Sejarah yang beredar sekarang namun perlu diketahui Pantun Bogor sudah diteliti dan tidak diragukan kebenarannya karena setiap tempat yang disebutkan benar ada. Pantun Bogor juga banyak menyebutkan tempat atau pristiwa yang sesuai dengan Prasasti-prasasti dan Naskah Kuno lainnya jadi terdapat link kebenaran pada Carita Pantun dan Prasasti.

Dalam tulisan saya ini saya sedapat mungkin tidak mencampurkan sumber yang ada, karena saya mempunyai maksud tujuan agar Carita yang bersumber dari Pantun Bogor ini lebih dikenal luas oleh Masyarakat Umum Khususnya Masyarakat Sunda Sendiri. Bukan saya tidak percaya dengan sumber lain. Jika Agan ingin mengetahui keterkaitan antara Sunda dan Jawa memang banyak diketemukannya di Naskah Carita Parahyangan, namun mohon maaf mungkin di lain trit saya akan membabar Naskah Carita Parahyangan nya.

Dalam Trit ini juga saya akan terus lanjutkan yang berhubungan dalam Pantun Bogor secara berkala.

Terima Kasih Sekali Agan Zeth
adiawae - 14/04/2011 08:40 PM
#4

Pantun Bogor Ngahyangna Pajajaran

https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=383304310&postcount=1293
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=384145144&postcount=1302
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=384530187&postcount=1305
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=403634381&postcount=1505
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=403989685&postcount=1514
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=404637538&postcount=1516
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=405257857&postcount=1521
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=405336098&postcount=1524
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=405355256&postcount=1526
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=405356467&postcount=1528
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=405357083&postcount=1529
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=405392219&postcount=1530
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=406782937&postcount=1537
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=411458495&postcount=1558
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=412169572&postcount=1559
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=413500350&postcount=1565
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=414232708&postcount=1569
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=417736052&postcount=1583
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=417736793&postcount=1584
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=418442862&postcount=1588
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=422091486&postcount=1590
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=422791655&postcount=1592
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=423534270&postcount=1593
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=424309592&postcount=1594
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=433470346&postcount=1607
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=435105101&postcount=1608
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=449740092&postcount=1629
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=450473457&postcount=1630
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=462508060&postcount=1654
https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=465225139&postcount=1664
phreakalover - 14/04/2011 08:42 PM
#5

ikutan menyimax saja ya kang adi shakehand:
sekalian kalo ada tulisan yang berbahasa sunda,tulung diterjemahken D
salam ...
adiawae - 14/04/2011 08:49 PM
#6

Quote:
Original Posted By phreakalover
ikutan menyimax saja ya kang adi shakehand:
sekalian kalo ada tulisan yang berbahasa sunda,tulung diterjemahken D
salam ...


si;ahkan gan, senang hati agan menyimak. mengenai yg masih bahasa Indonesia paling cuma Isi Pantun Bogor nya sendiri mudah2an dalam waktu secepat-cepatnya bisa sy posting terjemahannya. hehehe

salam
Tenji_no_Ichi - 14/04/2011 09:11 PM
#7

wah, good thread... thumbup:

jadi bisa buat meng-counter info2 yg banyak hoaxnya... \)
adiawae - 14/04/2011 09:22 PM
#8

Quote:
Original Posted By Tenji_no_Ichi
wah, good thread... thumbup:

jadi bisa buat meng-counter info2 yg banyak hoaxnya... \)


heuheu makasih banyak agan tenji makasih, mudah2an terlanjutkan hehehehe
andrea17 - 14/04/2011 09:42 PM
#9

wahh.. asiq! asiq!! D

terima kasih....

dilanjut.. dilanjut.. shakehand
zeth - 14/04/2011 10:27 PM
#10

Quote:
Original Posted By adiawae
Terima kasih Agan Zeth, tidak ada rasa tersinggung atau apapaun malah saya berterima kasih bisa menjelaskan tulisan saya.

Tulisan saya bersumber utama berdasarkan Pantun Bogor dimana Pantun Bogor ini bukan merupakan mitos atau mistis atau Ghaib, Pantun dalam Budaya Sunda merupakan salah satu Sumber Sejarah yang sangat di percaya, karena Pantun atau Budaya Pitutur ini diakui sebagai Bukti Nyata Sejarah Sunda, terdapat banyak Pantun yang menceritakan tentang Sunda. seperti Pantun Bogor, Pantun Ki Kamal, Pantun Pa Cilong dll, Budaya Pantun ini di masyarakat Sunda sekarang sangat terbatas yang mengetahuinya. Pantun Bogor Sendiri diakui ke "valid" an nya sebagai Sumber Sejarah Sunda oleh para ahli Sejarah dan Budaya seperti Saleh Danasasmita, Anis Djatisunda, Purbacaraka, Hussein Djajadiningrat, Atja dll bahkan Pantun Bogor diteliti oleh Pleyte dan mengganggap bahwa Pantun Bogor adalah Naskah Kuno yang paling lengkap yang menceritakan tentang Nagara Sunda dibanding Naskah - Naskah Kuno lainnya termasuk Carita Parahiyangan. Dalam Pantun Bogor diceritakan dari mulai Ajaran/Agama, Tata Nagara, kehidupan Masyarakat, Awal Mula sampai Terakhir Masa Pajajaran.

Dalam Pantun Bogor malah terdapat cerita2 yang awalnya berbau Ghaib, Mitos, Dongeng menjadi Carita yang sangat masuk akal. lagi2 saya kasih contoh satu tentang Kian Santang yang menurut cerita sekarang pergi ke Tanah Arab untuk mencari lawan tanding hingga bertemu Syaidina Ali lalu taklut karena tidak dapat mencabut tongkatnya lalu pulang ke Sunda mengejar2 Bapaknya yaitu Prabu Siliwangi untuk di sunat. dalam Pantun Bogor Kian Santang yang nama sebenarnya Ki Hiyang Santang Aria Cakrabuana hanya mencari tanding sampai ke Palembang ketika akan melanjutkan perjalannya dalam mencari tanding Ki Hiyang Santang kembali ke Pajajaran karena mendapat perasaan bahwa Pajajaran dalam keadaan tidak baik lalu Ki Hiyang Santang kembali dan menolong Prabu Siliwangi dalam peperangan.

Namun jika Agan mencari link antara Sunda dan Jawa dalam Pantun Bogor ini tidak terdapat cerita yang menujuk langsung ke arah situ, dikarenakan Pantun Bogor sangat konsen/khusus menceritakan tentang Nagara Sunda hingga Pajajaran. Memang dalam Pantun Bogor terdapat hampir banyak perbedaan dengan Sejarah yang beredar sekarang namun perlu diketahui Pantun Bogor sudah diteliti dan tidak diragukan kebenarannya karena setiap tempat yang disebutkan benar ada. Pantun Bogor juga banyak menyebutkan tempat atau pristiwa yang sesuai dengan Prasasti-prasasti dan Naskah Kuno lainnya jadi terdapat link kebenaran pada Carita Pantun dan Prasasti.

Dalam tulisan saya ini saya sedapat mungkin tidak mencampurkan sumber yang ada, karena saya mempunyai maksud tujuan agar Carita yang bersumber dari Pantun Bogor ini lebih dikenal luas oleh Masyarakat Umum Khususnya Masyarakat Sunda Sendiri. Bukan saya tidak percaya dengan sumber lain. Jika Agan ingin mengetahui keterkaitan antara Sunda dan Jawa memang banyak diketemukannya di Naskah Carita Parahyangan, namun mohon maaf mungkin di lain trit saya akan membabar Naskah Carita Parahyangan nya.

Dalam Trit ini juga saya akan terus lanjutkan yang berhubungan dalam Pantun Bogor secara berkala.

Terima Kasih Sekali Agan Zeth


Terima kasih atas reaksi agan Adiawae..

Ternyata pendapat saya salah..bahwa semua cerita yang saya quote dibawah ini hanya merupakan "sanepan" atau "kiasan" belaka. Dengan kata lain, bahwa Badak,harimau, Monyet dan burung itu menjadi manusia hanyalah arti kiasan dengan sesuatu atau arti tertentu.

Jadi memang benar2 harimau,badak,burung dan monyet dicipta menjadi manusia.

Quote:
Awal Manusia dalam Sunda berawal ketika Sang Hiyang Guriang Tunggal sedang membuat Panggung Agung di Kahyangan untuk menyembah kepada Sang Hiyang Tunggal di Mandala Agung. Saat Panggung Agung sedang dibuat para pekerja melakukan kesalahan yang mengakibatkan sebuah kayu jatuh dari Kahyangan, karena bisa sangat membahayakan Jagat maka Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening mengejar kayu tersebut hingga ke bumi. Sang Hiyang Wenang turun di Puncak Gunung Mahameru lalu memerintahkan semua penghuni hutan untuk menahan kayu tersebut dengan upah akan dijadikan Manusia. Sedangkan Sang Hiyang Wening turun di Puncak Gunung Nyungcung meminta tolong pada Badak, Harimau, Burung dan Monyet dengan upah dijadikan Manusia pada saat itu Kura-kura putih mendengar semua itu lalu meminta ikut dalam pekerjaan tersebut karena ingin menjadi manusia. Lalu mereka mengerjakan mencari kayu itu semua secara bersamaan. Pada akhirnya kayu bisa dikembalikan lagi ke Kahyangan hingga Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening lega setelah kayu tersebut bisa kembali dan mereka pun kembali ke Kahyangan tanpa apapun.
Setelah Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening kembali ke Kahyangan, kemudian mereka yang sudah membantu merasa bingung dan kesal lalu mereka membicarakan dan akhirnya Badak, Harimau, Burung dan Monyet melakukan tapa sambil membuat Arca tanpa suara tanpa bicara. Hingga pada suatu ketika saat Sang Hiyang Kala sedang bertugas melihat mereka yang sedang tapa sambil membuat arca, dari keempatnya yang paling bagus arca nya adalah buatan Monyet, arca tersebut masih ada di Pasir Kopo. Sang Hiyang Kala ingat bahwa dahulu Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening pernah berjanji lalu Sang Hiyang Kala memanggil Sang Hiyang Wening dan Sang Hiyang Wenang. Dengan kesungguhan yang telah teruji dengan baik akhirnya Badak, Harimau, Burung dan Monyet di jadikan Manusia oleh Sang Hiyang Tunggal melalui Sang Hiyang Wening. Kelak Ke empat manusia ini yg saling berpencar dan menjadi koloni manusia di Jagat.
xenocross - 15/04/2011 12:03 AM
#11

yah biasa bagian paling awal itu biasanya tentang penciptaan dunia, dan bagian itu biasanya ya begitu....

mungkin agan adiawae maksud, sejarahnya itu di bagian berikutnya
adiawae - 15/04/2011 03:31 AM
#12

Quote:
Original Posted By andrea17
wahh.. asiq! asiq!! D

terima kasih....

dilanjut.. dilanjut.. shakehand


Heuheuheu sama2 agan andrea makasih juga mudah2an berlanjut ceritanya hehehe
adiawae - 15/04/2011 03:34 AM
#13

Quote:
Original Posted By zeth
Terima kasih atas reaksi agan Adiawae..

Ternyata pendapat saya salah..bahwa semua cerita yang saya quote dibawah ini hanya merupakan "sanepan" atau "kiasan" belaka. Dengan kata lain, bahwa Badak,harimau, Monyet dan burung itu menjadi manusia hanyalah arti kiasan dengan sesuatu atau arti tertentu.

Jadi memang benar2 harimau,badak,burung dan monyet dicipta menjadi manusia.


Sama sama agan zeth terima kasih

Benar Badak, Harimau, Burung dan Monyet di rubah menjadi manusia. Tapi bukan berevolusi namun benar2 langsung berubah menjadi manusia sempurna keseluruhannya dan meninggalkan sifat hewannya.

Sekalian dilanjut saja tentang mereka.

Badak menjadi Ki Badak yang mendiami wilayah Kulon/Barat, Ki Badak ini yang mempunyai keturunan Pandita-pandita yang luhung gagah sakti yang akhirnya menurunkan yang di sebut Kai/Kyai Ujung Kulon yang nantinya menjadi Leluhur yang mendiami tanah rumpin dan sekitarnya.
Harimau menjadi Ki Belang yang mendiami wilayah Wetan/Timur dan Kidul/Selatan hingga sekitarnya. Ki Belang dan keturunanya sangat suka mendiami daerah itu hingga tidak kembali dan tidak ingat, malah sampai sama sekali tidak ingin mendengar nama Gunung Bunder tempat awal dia. Keturunan dia nanti bakal banyak menjadi Petinggi/Menak tapi banyaknya yang haus akan pengaruh dan lapar akan kekuasaan.
Burung menjadi Ki Ciung yang mendiami wilayah Tengah, dia mengikuti alur sungai ciliwung hingga ke Sunda Kelapa lalu menyebrang berkelana ke banyak Negara, tidak kembali lagi karena oleh Raja China dijadikan menantu. Tapi keturunan dia banyak yang datang ke Sunda, mengganti nama dan pasangan di Jaman Bangsa Sunda harus memilih Bangun setelah Musnah atau Musnah setelah Bangun.
Monyet menjadi Ki Lutung mendiami wilayah Tengah juga, tapi Ki Lutung tidak seperti Ki Ciung yang mengelana, Ki Lutung kasarung/menyelumput dahulu bukan Kasarung yang artinya ke dalam samping tapi mendalami arti dari Raja dengan Telur. Mana yang sebenarnya disebut yg paling utama. Telur dengan bagian merah, putih dan cangkang ? Dan Raja dengan Negara atau Rakyat yg paling utama ? Raja, Rakyat dan Negara itu tidak beda dengan Telur bagian merahnya, bagian putihnya, bagian cangkangnya. Biarpun masing2 ga bisa dipisah-pisah, jika bagian2 itu bernama telur maka Raja, Rakyat, Nagara bernama Bangsa yang juga tidak bisa dipisah-pisah.
adiawae - 15/04/2011 04:27 AM
#14

Quote:
Original Posted By xenocross
yah biasa bagian paling awal itu biasanya tentang penciptaan dunia, dan bagian itu biasanya ya begitu....

mungkin agan adiawae maksud, sejarahnya itu di bagian berikutnya


Hehehe terima kasih agan xeno mau mampir.
Yang di maksud Jagat dalam Pantun Bogor menceritakan Buana Sunda bukan dunia, dan maksud saya ttg Budaya dan Sejarah itu adalah keseluruhan juga tentang Sunda, bagaimana sih Sejarah nya Sunda dari awal, apa saja Budaya yang ada dalam Sunda yg awal. Sekalian utk menangkis wacana2 ttg Sunda yg akhir2 ini banyak lebih berupa khayalan ttg Sunda Atlantis, Sunda Purba dll yang sangat sangat bombastis hehehehe
xenocross - 15/04/2011 08:43 AM
#15

Kalau dibaca bagian terakhir, sepertinya memang ada makna kiasan atau tersembunyi. Sastra kuno memang biasa memakai bahasa kiasan untuk menggambarkan peristiwa sejarah
adiawae - 15/04/2011 12:57 PM
#16

Quote:
Original Posted By xenocross
Kalau dibaca bagian terakhir, sepertinya memang ada makna kiasan atau tersembunyi. Sastra kuno memang biasa memakai bahasa kiasan untuk menggambarkan peristiwa sejarah


Memang gan ada makna kiasan dalam Pantun Bogor.
Tapi maksud agan bagian akhir itu yg kalimat apa ya gan ?
adiawae - 15/04/2011 05:36 PM
#17

Kitab Suci Jati Sunda yang dinamakan Layang Salaka Domas yg diartikan secara "mudah" adalah "Kitab Suci Delapan Ratus Ayat" yang terdiri dari Kitab Sambawa, Kitab Sambada dan Kitab Winasa, jadi Kitab Jati Sunda itu bukan 1 tapi 3 tapi bukan berarti ada 3. arti dari Sambada, Sambawa dan Winasa adalah Ajaran Kesempurnaan tentang Sambawa ( hidup dari semenjak lahir ). Sambada ( dewasa sampai tua ) dan Winasa ( kematian serta kehidupan di alam hyang ).

Pada jamannya, isi ketiga Kitab Suci tadi selalu dibaca pada malam yang hening, penuh ketenteraman yaitu pada puncak upacara Kuwera Bakti di Balay Pamunjungan Kihara Hyang, beratapkan langit malam diterangi cahaya Damar Sewu, berbaur dengan cahaya bulan purnama sedang mengembang, dipimpin oleh Brahmesta Pendeta Agung Nagara. Keesokan harinya ketiganya diarak di dalam "Jampana Niskala Wastu" berkeliling di halaman Balay Pamunjungan lalu ke kompleks Pakwan Pajajaran sampai ke Jero Kuta. Pada saat seperti itu Rakyat Sunda berbondong-bondong datang dari seluruh penjuru tanah Sunda untuk menyaksikan upacara tersebut.

"Pikukuh Agama Sunda Pajajaran diserat dina Layang Sambawa, Sambada, Winasa anu serat ku Parabu Reusi Wisnu Brata, nya Inyana anu tukang tapa ti ngogorana. Inyana anu seunyana ngagalurkeun jadi kabehan pada ngarti Agama anu kiwari disarebut Agama Sunda Pajajaran tea. Agama anu hanteu ngabeda-bedakeun boro-boro ngagogoreng ngahahawuran Agama sejen. lantaran euweuh Agama anu hanteu hade, anu hanteu hade mah lain Agama tapi metakeun Agama jeung laku lampah arinyana anu areumbung ngararti hartina "Ahad" teh Nunggal nu ngan Sahiji0hijina ngan Sahiji bae"

"Ajaran-ajaran Agama Sunda Pajajaran dituliskan dalam Kitab Suci Sambawa, Sambada, Winasa yang dituliskan oleh Prabu Resi Wisnu Brata, Dia lah yang suka bertapa dari semenjak muda, Dia pula yang mengajak semua jadi mengerti Agama yang sekarang disebut Agama Sunda Pajajaran yakni Agama yang tidak membeda-bedakan bahkan yang tidak menjelek-jelekan memusuhi Agama lain. Sebab tidak ada Agama yang jelek, yang jelek itu bukan Agama tapi cara mengamalkan Agama dan kelakuan mereka yang tidak mau mengerti apa makna "Ahad" itu berarti Tunggal yang benar-benar hanya Satu hanya Satu-satunya"

Tokoh yang pertama menyebarkan Ajaran Jati Sunda yang pertama, yang namanya Mundi Ing Laya Hadi Kusumah setelah Dia mendapatkannya dari Jagat Jabaning Langit. Mundi Ing Laya Hadi Kusumah yang berarti Seseorang yang telah mampu menqusung tinggi tentang kematian, setara indahnya bunga, yang juga juga berarti seseorang yang telah mampu menguasai hawa nafsunya seraya meninggalkan ihwal keduniawian, nama ini identik dengan “Utusan Sang Khalik”. Dapat masuk ke Jagat Jabaning Langit suatu Jagat diluar Alam semesta bersimpuh keharibaan Sang Hiyang Tunggal, tentu bukan manusia sembarangan. Jagat Jabaning Langit adalah Mandala Agung atau dalam Istilah Al Qura’an adalah Sidratul Muntaha tempat bersemayamnya Sang Rumuhung Nu Maha Agung, Sang Hiyang Tunggal.

Dalam keadaan Tunggalnya, Sang Hiyang Rumuhung Nu Ngersakeun dibantu oleh para Sang Hiyang seperti Sang Hiyang Wenang , Sang Hiyang Wening, Sang Hiyang Guru Tunggal ( Guriang Tunggal ), Sang Hiyang Kala, Sang Hiyang Guru Bumi, Sang Hiyang Sri Rumbiang Jati, Sunan Ambu dan para Sang Hiyang lainnya sesuai tugas dan wewenang masing-masing dalam mengatur Jagat. Sang Hiyang yang menempa kepasrahan dalam perjalanan kehidupan manusia adalah Sang Hiyang Kala atau biasa disebut Dewa papasten ( Dewa Kepastian ) yang menguasai kewenangan waktu. Orang Sunda nu Nyunda demikian yakin perjalanan hidupnya dikendalikan ketentuan-ketentuan waktu yang di istilah kan Papasten tadi.
vhuda - 15/04/2011 06:42 PM
#18
kidoeng
[youtube]L9e9PJh1JPU[/Youtube]

Spoiler for kidoeng
Astaghfirullah Al adzim 40 x......Bul kukus nurun ka manggung, ka manggung ka sang rumuhun, ka batara ka batari ka batara neda suka ka batari neda suci kanu Agung neda widi..................

Ieu carita buhun nu tos langka sareng kahilapkeun, mugia ngahudang deui seni-seni Sunda buhun. Mung ieu teh teu apal saha nu mantunna, Mang Otong Suganda kitu nu kantos kasohor?

Inti carita : Raja Pajajaran Prabu Siliwangi teh gaduh seueur garwa, diantara para permaisuri nyaeta Nyi Mas Padmawati nu geulis kawanti-wanti endah kabina-bina. Ngajadikeun pangsirikan ti garwa2 Prabu Siliwangi nu sejenna.
Hiji waktu Nyi Mas Padamawati teh ngimpen ningalan jimat Layang Salaka Domas gaduhna Guriang Tujuh. Raja Siliwangi teras miwarang Nyi Mas Padmawati pikeun milairan jimat eta, mun teu bukti bakal diuhukum pati. Ahirna Nyi Mas Padmawati minangsaraya ka putrana Raden Mundinglaya Dikusumah.

Ngan hanjakal carita pantun ieu teu tamat, nuju milarian deui sambunganana


hamemayu hayuning bawana

iloveindonesia
adiawae - 15/04/2011 08:43 PM
#19

Quote:
Original Posted By vhuda
[youtube]L9e9PJh1JPU[/Youtube]

Spoiler for kidoeng
Astaghfirullah Al adzim 40 x......Bul kukus nurun ka manggung, ka manggung ka sang rumuhun, ka batara ka batari ka batara neda suka ka batari neda suci kanu Agung neda widi..................

Ieu carita buhun nu tos langka sareng kahilapkeun, mugia ngahudang deui seni-seni Sunda buhun. Mung ieu teh teu apal saha nu mantunna, Mang Otong Suganda kitu nu kantos kasohor?

Inti carita : Raja Pajajaran Prabu Siliwangi teh gaduh seueur garwa, diantara para permaisuri nyaeta Nyi Mas Padmawati nu geulis kawanti-wanti endah kabina-bina. Ngajadikeun pangsirikan ti garwa2 Prabu Siliwangi nu sejenna.
Hiji waktu Nyi Mas Padamawati teh ngimpen ningalan jimat Layang Salaka Domas gaduhna Guriang Tujuh. Raja Siliwangi teras miwarang Nyi Mas Padmawati pikeun milairan jimat eta, mun teu bukti bakal diuhukum pati. Ahirna Nyi Mas Padmawati minangsaraya ka putrana Raden Mundinglaya Dikusumah.

Ngan hanjakal carita pantun ieu teu tamat, nuju milarian deui sambunganana


hamemayu hayuning bawana

iloveindonesia


heuheuheu

terima kasih agan vhuda mau mampir ke sini, sdh memberikan carita pantun mundinglaya di kusumah tapi sayang ya dimana2 cerita itu selalu ...
"Ngan hanjakal carita pantun ieu teu tamat, nuju milarian deui sambunganana"
"hanya sayang cerita pantun ini tidak tamat, sedang dicari sambungannya"
terus sampai sekarang hehehehe .... knp ya ? karena ya emang ga ada sambungannya hehehehe

Bul Kukus adalah ..... kemenyan di kukus/bakar ngebul ke atas .... sebuah awalan khas kidung Sunda bahkan ritual Sunda. kalau didepannya sudah ditambahkan kalimat lain yg tidak "seirama" itu saya kira sudah bukan produk "asli Sunda" lagi.

banyak kidung2 Sunda yg sdh merupakan modifikasi, ditambah, dikurangi, dirubah, atau diciptakan lagi khusus dengan maksud tertentu. kalau saya mengira utk yg satu itu cerita pantun mundinglaya di kusumah sih ada propaganda penghilangan unsur sebenarnya arti "Layang Salaka Domas" . lagipula idalam cerita itu Prabu Siliwangi kejam banget ya kok mimpi dianggap serius banget sampai mau hukum mati istrinya sendiri karena mimpi hehehe ...
tapi biar bagai gimana pun saya selalu menikmati pagelaran pantun2 yg ada, membawa saya ke masal lalu wa'as .... heehehe

salam
vhuda - 16/04/2011 02:31 AM
#20

Quote:
Original Posted By adiawae
heuheuheu

terima kasih agan vhuda mau mampir ke sini, sdh memberikan carita pantun mundinglaya di kusumah tapi sayang ya dimana2 cerita itu selalu ...
"Ngan hanjakal carita pantun ieu teu tamat, nuju milarian deui sambunganana"
"hanya sayang cerita pantun ini tidak tamat, sedang dicari sambungannya"
terus sampai sekarang hehehehe .... knp ya ? karena ya emang ga ada sambungannya hehehehe

Bul Kukus adalah ..... kemenyan di kukus/bakar ngebul ke atas .... sebuah awalan khas kidung Sunda bahkan ritual Sunda. kalau didepannya sudah ditambahkan kalimat lain yg tidak "seirama" itu saya kira sudah bukan produk "asli Sunda" lagi.

banyak kidung2 Sunda yg sdh merupakan modifikasi, ditambah, dikurangi, dirubah, atau diciptakan lagi khusus dengan maksud tertentu. kalau saya mengira utk yg satu itu cerita pantun mundinglaya di kusumah sih ada propaganda penghilangan unsur sebenarnya arti "Layang Salaka Domas" . lagipula idalam cerita itu Prabu Siliwangi kejam banget ya kok mimpi dianggap serius banget sampai mau hukum mati istrinya sendiri karena mimpi hehehe ...
tapi biar bagai gimana pun saya selalu menikmati pagelaran pantun2 yg ada, membawa saya ke masal lalu wa'as .... heehehe

salam

nah ntoe die kang, knape bisa broba bgtoe yak, qiqiqiqi..D







jadi, kire2 sape yg ngroebe ntoe kidoeng kang, pdhal yg ngidoeng pan oerang soenda jg..coffee:linux2:
Page 1 of 62 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Sebuah Pemahaman Sunda