TRAVELLERS
Home > LOEKELOE > TRAVELLERS > Menjadi Penumpang Pesawat yang Bijak
Total Views: 1295 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 3 |  1 2 3 > 

FlyingMaster - 24/04/2011 05:55 AM
#1
Menjadi Penumpang Pesawat yang Bijak
Para penumpang merupakan konsumen bagi industri penerbangan komersial. Konsumen adalah raja, begitulah paham yang berkembang dimasyarakat kita. Paham ini pulalah yang sering digunakan sebagai pembenaran atas pelanggaran aturan oleh sejumlah penumpang ‘nakal’. Padahal aturan-aturan tersebut dibuat dengan alasan keamanan, keselamatan dan kenyamanan penumpang itu sendiri.

Kita sering menuding penyebab sebuah kecelakaan pesawat adalah pemerintah yang tidak tegas atau operator / perusahaan penerbangan yang bermain curang. Dalam beberapa kasus hal ini benar, namun sering kita lupakan andil kita sebagai penumpang dalam ‘menyumbangkan’ penyebab kecelakaan. Mungkin tidak disadari pelanggaran - pelanggaran kecil yang sering dilakukan penumpang yang selama ini dianggap lumrah juga dapat mengancam keselamatan penerbangan.

Barang bawaan besar bukan dibawa ke kabin…
Sering dijumpai penumpang yang membawa barang dalam ukuran cukup besar ke dalam kabin pesawat, padahal sudah disediakan ruang khusus bagasi pada pesawat. Tidak mau repot dalam pengambilan bagasi menjadi alasan klise. Atau ada juga yang beralasan agar bisa cepat meninggalkan bandara sesampainya di tujuan. Namun mereka lupa akan bahaya yang bisa ditimbulkan dari tindakan mereka.

Pada kabin pesawat memang tersedia tempat penyimpanan di atas tempat duduk (overhead), namun tempat penyimpanan itu tidak dirancang untuk menyimpan barang dalam ukuran besar dan cukup berat. Selama penerbangan pesawat akan mengalami guncangan. Guncangan-guncangan ini dapat membuat tempat penyimpanan ‘terbuka’ dan barang yang disimpan di tempat penyimpanan itu bisa jatuh. Bayangkan apa yang terjadi bila barang yang ‘cukup’ berat itu menimpa kepala penumpang. Kita sering berfikir, itukan terjadi bukan pada diri saya, bagaimana jika terjadi pada diri kita ?

Matikan ponsel sebelum masuk pesawat…
Ponsel bekerja dengan cara memancarkan dan menerima gelombang elektromagnetik. Begitu juga dengan sistem komunikasi dan navigasi pada pesawat juga menggunakan gelombang elektromagnetik. Mulai dari komunikasi antara pilot dan ATC (Air Traffic Controller) hingga peralatan navigasi seperti VOR dan GPS juga menggunakan gelombang elektromagnetik. Sebagaimana kita ketahui, dua atau lebih gelombang elektromagnetik bisa saling mempengaruhi.

Suatu kejadian beberapa waktu lalu yang penulis alami, saat itu sedang dalam proses boarding (naik ke pesawat) pada suatu penerbangan. Penulis duduk di kursi 1A, dan disebelah penulis duduk penumpang lain yang asyik ‘bermain’ dengan ponsel-nya. Saat itu seorang pramugari lewat didekatnya dan meminta agar ponselnya dimatikan. Pada saat itu iya mematikan ponselnya. Namun tak lama berselang setelah pramugari pergi menjauh, ia kembali menghidupkan ponselnya dengan sebelumnya memastikan tidak ada pramugari lain di dekatnya. Seolah-olah pramugarilah yang terganggu karena ia menghidupkan ponselnya di pesawat. Dia tidak menyadari bahaya akibat perbuatannya, walaupun pada saat itu pintu pesawat belum ditutup.

Kita sering beranggapan aturan mematikan ponsel itu berlaku saat kita sudah di dalam pesawat dan pintu pesawat telah ditutup. Suatu anggapan yang keliru. Secara teknis, pilot sudah mulai berkomunikasi dengan ATC sejak masih di parking area atau sebelum mesin dihidupkan atau dalam posisi idle. Pilot berkomunikasi dengan ATC mulai dari membicarakan rencana penerbangan, informasi cuaca sepanjang rute penerbangan, izin menghidupkan mesin, izin untuk memulai taxi, izin untuk memasuki runway, izin melakukan take off, panduan selama terbang, izin untuk mendarat hingga izin untuk parkir lagi di bandara tujuan. Dan selama itu pula komunikasi menjadi hal penting dalam penerbangan.

Ada satu kebiasaan dalam masyarakat kita, belum percaya jika belum ada bukti. Suatu kebiasaan untuk hal tertentu bisa dikatakan baik. Sejumlah kejadian telah menjadi bukti gangguan komunikasi yang ditimbulkan oleh ponsel, baik hanya gangguan kecil maupun yang berakibat fatal.
Rekaman blackbox dari pesawat Boeing 737-200 milik Lion Air dengan kode registrasi (tail number) PK-LID dan nomor penerbangan (flight number) JT-386 menunjukkan gangguan komunikasi akibat interferensi elektromagnetik dari ponsel (Laporan investigasi kecelakaan PK-LID, hal:11-13). Pada saat captain pilot / pilot in command (PIC) sedang berkomunikasi dengan ATC, first officer PK-LID berbicara dengan salah seorang kru Mandala yang juga sedang berada di dalam pesawat tak jauh dari tempat pesawat Lion Air parkir. Akibat dari interferensi tersebut, komunikasi antara PK-LID dengan ATC terganggu. Lalu, seberbahaya apakah akibat terganggunya / tidak bainya komunikasi antara pilot dan ATC ?

Kecelakaan di Tenerife antara pesawat Boeing 747 milik KLM yang bertabrakan dengan boeing 747 milik Pan Am yang menelan ratusan korban terjadi karena komunikasi yang tak baik antara pilot dan ATC.

Kejadian serupa juga pernah (hampir) terjadi di Indonesia antara Batavia Air dengan Adam Air. Pesawat Batavia yang sedang dalam posisi ground run di runway untuk melakukan take off dikejutkan dengan masuknya pesawat Adam Air ke Runway secara tiba-tiba. Untunglah pilot Batavia masih sempat melakukan pengereman, jika tidak, lain cerita yang penulis sampaikan di sini. Setelah di investigasi, ternyata ATC meminta pesawat Adam Air untuk masuk ke paralel taxiway, entah bagaimana caranya pilot Adam Air malah mengarahkan pesawatnya ke runway.

Bagaimana dengan kasus nyasarnya pesawat Adam Air ? Bisa jadi karena peralatan navigasi yang rusak, bisa juga karena interferensi elektromagnetik dari ponsel. Namun sayang, sebelum sempat diinvestigasi pesawat sudah keburu kabur menghilangkan barang bukti.

Penulis berharap bukti ini sudah cukup untuk membuat kita mengerti. Tidak perlulah kita buktikan sendiri, karena pasti rasanya tidak enak. Idealnya ponsel telah dimatikan sejak kita berada di ruang tunggu, mengingat posisi ruang tunggu yang dekat dengan posisi parkir pesawat, dan baru dihidupkan setelah meninggalkan bandara. Ini semua untuk kenyamanan kita bersama.

Sabuk pengaman bukan untuk gaya…
Tidak nyaman, ribet dan berbagai alasan lainnya sering dilontarkan penumpang ketika menolak memakai sabuk pengaman. Pada dasarnya sabuk pengaman dibuat untuk membuat tubuh para penumpang tetap di tempat duduk selama penerbangan.

Selama penerbangannya, pesawat akan mengalami guncangan akibat turbulance. Guncangan ini bervariasi mulai dari kecil hingga besar yang dapat melontarkan tubuh penumpang dari kursinya. Penumpang yang tidak memakai sabuk pengaman bisa terpental dan bisa mengalami cedera akibat benturan dengan dinding atau bagian lain di kabin.

Untuk menghindari kemungkinan cedera itulah penumpang diminta menggunakan sabuk pengaman. Pilih mana, cedera atau sedikit ‘ribet’ dengan memakai sabuk pengaman ?

Pramugari jangan dicuekin donk…
Berdasarkan aturan keselamatan penerbangan sipil, awak kabin diharuskan menjelaskan aturan - aturan dan prosedur keselamatan selama penerbangan sebelum pesawat lepas landas (take off). Tujuannya agar para penumpang tau mengenai aturan selama penerbangan dan selalu siap dalam kondisi darurat. Pengertian kata siap di sini yaitu tau apa yang harus dilakukan pada saat darurat. Namun, bagi beberapa penumpang yang sudah sering bepergian dengan pesawat terbang, peragaan yang dilakukan para awak kabin sering kali dianggap sebagai sesuatu yang membosankan sehingga mereka sering tidak memperhatikannya.

Sudah mengerti, sudah tahu, sudah sering lihat, menjadi alasan mereka untuk tidak memperhatikan peragaan yang dilakukan awak kabin. Padahal menurut suatu studi, hal yang mereka pikir mengerti, pada kenyataannya hanyalah quasi (seolah - olah) mengerti. Hal inilah yang akan membedakan antara penumpang yang memperhatikan dan yang tidak memperhatikan peragaan yang dilakukan awak kabin. Bukankah dimasyarakat kita berkembang istilah lancar kaji karena diulang, hal ini juga berlaku untuk kasus penerbangan sipil. jadi, tak ada ruginya Anda memperhatikan peragaan yang dilakukan awak kabin, bahkan ini akan berguna pada kondisi darurat. Ingatan Anda yang masih segar, baik karena baru memperhatikan maupun karena baru saja di refresh dengan memperhatikan lagi, akan membuat Anda tenang karena tau tindakan apa yang harus dilakukan pada kondisi darurat.

Pola pikir masyarakat…
Selain 4 hal di atas, pola pikir yang berkembang dimasyarakat juga memperngaruhi tingkat keselamatan penerbangan nasional. Saat ini yang berkembang di masyarakat adalah kecenderungan calon penumpang mencari tiket termurah tanpa memperhatikan aspek keselamtan. Para penumpang ini baru enggan menggunakan suatu layanan murah saat sudah ada pesawat milik maskapai tersebut mengalami kecelakaan, selama itu belum terjadi para calon penumpang ini akan selalu menggunakan layanan murah.

Pola pikir seperti inilah pada dasarnya menciptakan suasana bisnis yang memaksa para pengusaha penerbangan sipil untuk memberikan tiket murah. Jika tidak bisa lebih murah dari maskapai lain, maka akan terancam kehilangan penumpang. Sebuah suasana yang bagi segelintir calon penumpang sangat menguntungkan, karena bisa mendapatkan tiket murah. Sebuah suasana yang sebenarnya menyimpan ‘bom waktu’ yang membahayakan penerbangan nasional. Pola pikir inilah yang memunculkan perusahaan penerbangan dengan konsep LCA (low cost airline) /. LCC (low cost carrier), bahkan perusahaan yang pada awalnya adalah airline dengan layanan penuh (full service) terpaksa mengikuti tren agar tak kehilangan penumpang.
FlyingMaster - 24/04/2011 05:56 AM
#2

Jika dilakukan dengan menejemen bisnis dan keselamatan yang baik, sesungguhnya konsep LCC cukup baik, namun sayangnya masih ada airline yang ‘nakal’ dan ketidak siapan regulator mengawasi membuat airline nakal ini leluasa melakukan ‘kenakalannya’. Untuk bisa memberikan tiket murah, tentunya suatu maskapai penerbangan harus menekan cost serendah mungkin agar tetap mendapatkan keuntungan. Untuk itu dilakukanlah pemangkasan biaya yang masih bisa dipangkas. Pemangkasan biaya inilah yang bakal menjadi ‘bom waktu’ jika regulator tak waspada.

Sebuah pesawat selalu membawa bahan bakar yang cukup untuk mencapai tujuan ditambah bahan bakar cadangan untuk holding (tetap mengudara di bandara tujuan jika belum bisa mendarat dengan alasan cuaca atau hal lainnya) atau menuju bandara alternatif jika bandara tujuan tidak bisa didarati. Bahan bakar cadangan inilah yang sering dipangkas oleh maskapai ‘nakal’. Akibatnya, pilot hanya punya satu kali kesempatan untuk menerbangkan dan mendaratkan pesawatnya menuju bandara tujuan. Alhasil, jika bandara tujuan belum aman untuk didarati, misal karena cuaca yang tak baik, pilot terpaksa mendaratkannya karena tak punya bahan bakar lagi untuk mencari alternatif. Tindakan memaksa mendarat dalam kondisi buruk inilah yang akan menimbulkan kecelakaan, dan hal ini sudah pernah terjadi di Indonesia.

Selain jumlah bahan bakar yang sering ‘disunat’, biaya perawatan juga sering menjadi sasaran pemangkasan oleh maskapai penerbangan nakal. Biaya perawatan ini melinkupi perawatan rutin dan suku cadang. Perawatan merupakan hal wajib agar sebuah pesawat selalu dalam kondisi aman untuk diterbangkan. Proses perawatan yang kurang baik bisa mengakibatkan sejumlah sistem di pesawat tidak beroperasi dengan baik. Selain itu perawatan yang kurang baik sering kali menyebabkan tidak terdeteksinya gejala penuaan pada pesawat seperti retak, korosi dan lainnya. Sistem yang tak bekerja baik, adanya sejumlah kegagalan fisik pada pesawat dapat membahayakan pesawat, mulai dari nyasar hingga jatuh akibat mesin yang tak beroperasi baik.
Pada dasarnya sebuah kecelakaan pesawat terbang adalah akibat dari tergabungnya beberapa kesalahan yang terjadi pada waktu bersamaan. Operator, regulator dan penumpang, semuanya punya andil dalam mengakibatkan penerbangan yang tak aman. Begitu juga sebaliknya, untuk menciptakan penerbangan yang aman, operator, regulator dan penumpang harus bekerjasama. Tidak adil rasanya jika kita selalu menuduh pemerintah sebagai regulator tidak tegas dalam menegakkan aturan atau airline sebagai operator sering berlaku curang, padahal kita sebagai penumpang belum bisa menjadi penumpang yang baik dan bijak.

Jika regulator sudah melakukan tugasnya dengan baik dan benar, operator menjalankan bisnisnya sesuai dengan aturan, dan kita sebagai penumpang telah menjadi penumpang yang baik dan bijak, maka kebangkitan penerbangan nasional bukan lagi sekedar mimpi atau wacana di media massa.

tambahan dari kaskuser
Quote:
Original Posted By ]
[QUOTE=hd12

mau nambahin dikit nih. selain pemikiran orang sini yg kurang mengutamakan keamanan, perusahaan penerbangan sendiri jg terlalu berpikir untung. jujur, saya sekarang selalu menaruh tas di kabin, meskipun berat & cukup besar. itu karena saya pernah kehilangan alat-alat elektronik saat memakai penerbangan lokal. semenjak itu saya selalu taruh kabin, kecuali utk airlines BUMN krn tas sudah disegel sebelum masuk bagasi.

urusan HP saya sudah biasa mematikan ketika di garbarata atau jalan menuju apron. saya teringat ketika masuk ke pesawat airlines manca dan saya berdiri di ujung garbarata utk menyelesaikan sms ke kerabat, sang pramugari sangat berterima kasih, bahkan sampai membungkukkan badan, krn tindakan itu. sepele tapi membuat orang terkesan krn sangat dihargai spt itu.

ada lagi aturan yg kayaknya dilupakan oleh penumpang pesawat. seingat saya, dulu ada logo yg melarang pemakaian sandal dan sepatu hi-heels. serta melepas sepatu. alasannya adalah akan kesulitan berjalan/evakuasi ketika terjadi keadaan darurat. sangat bahaya jika tidak memakai alas kaki.


Quote:
Original Posted By hd12
kan ponsel mengganggu sinyal komunikasi pesawat, gan. sperti bunyi berisik di radio waktu ponsel mendapat sms ato ada telpon masuk. nah ketika pesawat bergerak dgn kecepatan tinggi, otomatis ponsel selalu searching sinyal. krn harus berpindah cakupan BTS terlalu cepat. sinyal 'liar' pun masuk ke komunikasi pesawat, gan.

sebenarnya sudah ada perangkat yg bisa mengatasi hal tersebut. saya pernah baca teknologi 'BTS' dalam kabin pesawat. jadi ponsel ttp dapat sinyal dan bisa dipakai memakai jalur komunikasi pesawat. sehingga mengurangi gangguan sinyal utk alat komunikasi pilot.

maaf kalo ada yg salah. saya bukan pengamat pesawat juga. ini sekadar share yg saya dapetin saja. hehe...


Quote:
Original Posted By THAMIKA
Tambahan :
Hargai penumpang lain, duduk sesuai kursi & jangan berisik di dalam pesawat.

Meskipun niatnya mau irit, tapi coba sadar kekurangan & kelebihan
pembelian tiket pesawat dengan sistem kursi acak.
Jadi pada saat di dalam pesawat, ga perlu teriak teriak nyari
si a duduk di mana?
si b duduk di mana?
si oma jangan ditinggal duduk sendiri!

For Heaven Sake, nomor kursi tercetak di boarding pass!!!
begitu check in udah langsung ketauan bakal duduk dimana.
Kalau ga mau kececer, beli aja no kursinya, daripada heboh memalukan di dalam pesawat.

Entah emang udah sifat orang Indo yg kurang planning, cerewet, impulsif atau
kebiasaan memperbudak pembantu, berikut topik kehebohan di dalam pesawat
waktu proses boarding yg saya dengar sendiri :

tuan/nyonya besar yg tanya istri/suami/anak/sodaranya yg duduk di baris lain

selang gas udah dicabut belom?
pintu belakang udah dikunci belom?
coba telponin si a, tanya tadi dititipin kunci rumah sama si b ngga?

Kenapa baru ribut masalah itu pas udah di dalam pesawat?
It's been too late, nyonya besar, udah keburu dirampok.

Atau ada juga penumpang dng suara kencengnya
yg masih tanya tanya temen/sodaranya

nanti yg jemput kita di airport siapa? jam berapa jemputnya? pake mobil apa?
coba di telpon dulu, sopirnya udah tau belom klo kita mau dateng?
nanti abis sampai di airport, kita mau ke mana? mending makan dulu di X,
kopernya simpan dimobil dulu ga apa apa kan?

how selfish, klo dari awal ga mau repot ngurus akomodasi & nyuruh
orang lain atur, sebaiknya jangan cerewet mempermasalahkan detail di hari-h.
Semua jadwal seharusnya dikonfirmasi 3 hari sebelumnya, minimal 1 hari sebelum berangkat, & bukan di dalam pesawat.

Yg lebih menyebalkan, ngomongnya kenceng kenceng semua,
seperti takut ga kedengeran.

kehebohan itu ga cuma di pesawat air asia yg notabene murah,
di garuda, sq & jal juga sama berisiknya pas boarding.
kehebohan selang gas itu terjadi di dalam pesawat JAL.

Klo rebutan masuk pesawat udah legenda banget deh,
semua mau masuk duluan, udah masuk baru panik posisi duduk, kunci pintu sampe selang gas.
[/QUOTE]
cavanachg - 24/04/2011 12:15 PM
#3

pramugari mesti diturutin itu ane setuju bgt gan, tp ane msh punya kritik utk demonstrasinya, kadang mereka ga mau bener2 pake masker oksigen nya (mungkin krn rambut udah rapi), klo misal ada yg naif bgt trus kejadian gitu cuma dideketin doang maskernya, kan gawat..

satu lagi yang tentang lampu di lantai kabin klo ada asap dan mendarat darurat, kita ga pernah ditunjukin lampu kaya apa yg kita nanti liat, kan klo nanti tiba2 ternyata pas ada asap lampu yg nyala bukan cuma 1, kan bingung penumpangnya..
homemadesport - 24/04/2011 01:32 PM
#4

nice info gan!

klo hp dalam flight mode gmn??msi bisa ganggu komunikasi ga??iloveindonesia
teguh1885 - 25/04/2011 12:20 AM
#5

Menjadi Penumpang Pesawat yang Bijak
D'killz - 25/04/2011 09:00 AM
#6

pramugari skrng kebanyakan dagan gan dipesawat... pswt mau mndarat eh dia mash dagang. kan contoh buruk buat pnumpang tuh...
FlyingMaster - 25/04/2011 11:22 AM
#7

Quote:
Original Posted By cavanachg
pramugari mesti diturutin itu ane setuju bgt gan, tp ane msh punya kritik utk demonstrasinya, kadang mereka ga mau bener2 pake masker oksigen nya (mungkin krn rambut udah rapi), klo misal ada yg naif bgt trus kejadian gitu cuma dideketin doang maskernya, kan gawat..

satu lagi yang tentang lampu di lantai kabin klo ada asap dan mendarat darurat, kita ga pernah ditunjukin lampu kaya apa yg kita nanti liat, kan klo nanti tiba2 ternyata pas ada asap lampu yg nyala bukan cuma 1, kan bingung penumpangnya..

iya juga sih gan
kebanyakan pramugari/a sekarang kalo lagi safety demo suka ala kadarnya saja...
tapi bisa jadi mereka seperti itu karena kita para penumpang suka nyuekin mereka...
jadi mereka males melakukan safety demo dengan serius...
"pokoke ada safety demo"
mungkin begitu pola pikir mereka...
karena kalo sampai gak ada safety demo, perusahaannya bisa kena hukuman

untuk soal lampu..
tenang aja gan,,,
lampunya sudah di desain supaya para penumpang gak bingung
coba sesekali agan-agan perhatikan bawah kabin
biasanya keliatan kok lampunya walau gak di nyalain

Quote:
Original Posted By homemadesport
nice info gan!
klo hp dalam flight mode gmn??msi bisa ganggu komunikasi ga??iloveindonesia

kalo hape yg flight mode
saya kurang paham gan
hanya saja, di Indonesia masih berlaku, hape dan alat komunikasi 2 arah, wajib di matiin.
kalo gak salah ampe ada undang-undangnya loh..
jadi yg suka nyalain hape saat di pesawat, hati-hati aja di tangkep polisi iloveindonesia

Quote:
Original Posted By teguh1885
Menjadi Penumpang Pesawat yang Bijak

makasih cendolnya gan ilovekaskus

Quote:
Original Posted By D'killz
pramugari skrng kebanyakan dagan gan dipesawat... pswt mau mndarat eh dia mash dagang. kan contoh buruk buat pnumpang tuh...

yakin mereka masih jualan pada saat mendarat gan?
lampu seat belt bakal on kalo pesawat sudah berada di bawah 10.000feet...
jadi gak mungkin ada pergerakan pramugari apalagi buat jualan..
kecuali untuk mengecek kabin.

kalo misal agan ada bukti, bisa berupa poto..
ada pramugari yg masih berjualan pada saat lampu seat belt nya on, bisa di aduin ke KNKT atau DSKU gan
hot.coffee - 25/04/2011 06:15 PM
#8

thanks infonyaa... D
disiplin dimulai dr diri sendiri demi keselamatan bersama..
gw pernah satu pesawat ama rombongan bpk2 yg centil abiss... pas take off ngobrol n ngakak kenceng buangett.. trs tiba2 nyopot seat belt pdhl lampu tanda kenakan sabuk pengaman blm dimatiin, untung pramugari nya akhirnya ngumunin lwt speaker klo seat belt blm bole dilepass... fyuuhh...
aa_drajat - 25/04/2011 09:32 PM
#9

contoh sederhana gangguan dari ponsel, coba dekatkan hp saat internetan atau ada telp masuk ke radio pasti bakalan gemeresek suara radionya.

mungkin seperti itu pula gangguannya terhadap komunikasi pilot dan bandara
iceman7up - 26/04/2011 12:28 AM
#10

Kesadaran penumpang sama pentingnya juga ya gan sama safety procedure on flight.Menjadi Penumpang Pesawat yang Bijak
FlyingMaster - 26/04/2011 12:51 PM
#11

Quote:
Original Posted By aa_drajat
contoh sederhana gangguan dari ponsel, coba dekatkan hp saat internetan atau ada telp masuk ke radio pasti bakalan gemeresek suara radionya.

mungkin seperti itu pula gangguannya terhadap komunikasi pilot dan bandara


benar sekali gan...
mungkin kita berfikir
"ah, gak terlalu ngaruh ke safety kok yg begitu"

tapi nyatanya, gangguan seperti itu bisa mengakibatkan kecelakaan.
contohnya kecelakaan di tenerife antara KLM dengan Pan Am.

ATC nya bilang "standby for takeoff"
karena gangguan komunikasi, pilotnya salah dengar..
pilotnya cuma dengar "....for takeoff"
dan pilotnya berasumsi bahwa itu maksudnya "clear for takeoff"

hanya hilang 1 kata, akibatnya 2 pesawat jumbojet boeing 747 bertabrakan...
ratusan jiwa melayang gara2 1 kata itu gak sampai...

Quote:
Original Posted By iceman7up
Kesadaran penumpang sama pentingnya juga ya gan sama safety procedure on flight.Menjadi Penumpang Pesawat yang Bijak


betul gan....
coba nonton pelem Goodluck..
di situ kopilot Shinkai ngomong "pilot, pramugari/a dan penumpang adalah satu tim"

so, kita sebagai penumpang juga bertanggung jawab dalam menjaga keselamatan penerbangan
InterAct - 06/06/2011 03:05 PM
#12

tadi ane denger ada suara panggilan (HP) salah seorang penumpang saat pesawat mau mendarat nohope:

bisa ga kita tuntut itu penumpang yang nyalain HP mad:
KASET.MURAH - 06/06/2011 06:25 PM
#13

great gan....
share ini bisa mengingatkan yang lain nya juga termasuk ane
:cool

tapi kalo pramugarinya caem-caem,
orang-orang pada jadi begini gan
:matabelo
fly.boy - 07/06/2011 08:23 AM
#14

Kesadarn penumpang di Indo masih kurang

Coba sekali sekali jalan2 ke Balikpapan/Tarakan

Itu isinya orang proyek semua,rata2 mereka masih menyalakan hp malah ada yg pake headset


Walau sudah di peringatkan sama FA nya tp tetep aja ndablek -____-


Kalo soal dagangan sih ane rasa gak,karena mereka bekerja pasti sesuai SOP (Standart Operation Procedure) kalo gak sesuai SOP passti di tegur sama FA 1 nya



Yg plng parah penumpang indo tuh naik pesawat kayak naik bus patas ac,lampu seat belt masih on pesawat blm berhenti tp udah pada berdiri sibuk berebut ngambil tas


dikira naik bus apa takut kebablasan -___________-
dionmn - 07/06/2011 10:10 AM
#15

Saya mau share juga nih gan..
Memang kesadaran penumpang di Indonesia masih sangat rendah gan...
Contoh :
1. Waktu boarding tidak mau mengikuti aturan panggilan boarding, padahal ini akan menentukan ketertiban waktu didalam pesawat. Makanya boarding dipanggil sesuai dengan nomor tempat duduk dan prioritas. Hal ini sering diabaikan dalam penerbangan domestic (mungkin karena ujung2nya naik bus dulu baru boarding)
2. Nggak mau antri...
3. Ada yang bawa tas seabrek-abrek ke pesawat hingga penumpang laen nggak kebagian tempat untuk naroh tas.
4. Ber hape ria dalam pesawat (ini yang paling sering kayaknya) trus kalo dibilangin suka marah dan melotot.
the viking - 07/06/2011 11:18 PM
#16

Quote:
Original Posted By iceman7up
Kesadaran penumpang sama pentingnya juga ya gan sama safety procedure on flight.Menjadi Penumpang Pesawat yang Bijak


setuju bgt gan...disamping komitmen management pesawat akan perawat pesawatnya
FlyingMaster - 05/07/2011 12:04 PM
#17
menjadi penumpang pesawat yang bijak
Quote:
Original Posted By dionmn
Saya mau share juga nih gan..
Memang kesadaran penumpang di Indonesia masih sangat rendah gan...
Contoh :
1. Waktu boarding tidak mau mengikuti aturan panggilan boarding, padahal ini akan menentukan ketertiban waktu didalam pesawat. Makanya boarding dipanggil sesuai dengan nomor tempat duduk dan prioritas. Hal ini sering diabaikan dalam penerbangan domestic (mungkin karena ujung2nya naik bus dulu baru boarding)
2. Nggak mau antri...
3. Ada yang bawa tas seabrek-abrek ke pesawat hingga penumpang laen nggak kebagian tempat untuk naroh tas.
4. Ber hape ria dalam pesawat (ini yang paling sering kayaknya) trus kalo
dibilangin suka marah dan melotot.


Quote:
Original Posted By fly.boy
Kesadarn penumpang di Indo masih kurang
Yg plng parah penumpang indo tuh naik pesawat kayak naik bus patas ac,lampu seat belt masih on pesawat blm berhenti tp udah pada berdiri sibuk berebut ngambil tas
dikira naik bus apa takut kebablasan -___________-

betul sekali gan....
mungkin karena baru pertama kali naik pesawat, jadi masih terbawa kebiasaan naik bus atau KRL nya iloveindonesias

Quote:
Original Posted By KASET.MURAH
great gan....
tapi kalo pramugarinya caem-caem,
orang-orang pada jadi begini gan
:matabelo

wakakakaka
ya yang indah-indah di nikmati aja gan
asal tidak melanggar aturan dan norma yang ada iloveindonesias

Quote:
Original Posted By InterAct
tadi ane denger ada suara panggilan (HP)
bisa ga kita tuntut itu penumpang yang nyalain HP mad:

seingat ane gan, menyalakan hape di pesawat (kecuali pesawatnya lagi off) bisa kena pidana gan..CMIIW
BoanDevlane - 15/07/2011 05:30 PM
#18

dah ane lakuin semua tuh gan tapi sampae sekarang ane masih takut naik pesawat cd
FlyingMaster - 15/07/2011 05:34 PM
#19

Quote:
Original Posted By BoanDevlane
dah ane lakuin semua tuh gan tapi sampae sekarang ane masih takut naik pesawat cd


jangan takut gan
kalo takut..liatin pramugarinya aja D
WooooooooW - 15/07/2011 06:09 PM
#20

berhubung ane blm prnh naek pesawat jd perlu nih infonya
:rate5
Page 1 of 3 |  1 2 3 > 
Home > LOEKELOE > TRAVELLERS > Menjadi Penumpang Pesawat yang Bijak