Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)
Total Views: 56572 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 6 of 27 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›

izroilblackarmy - 25/05/2011 10:53 AM
#101

Baratayuda: Teror Kepala Jayadrata 1

By MasPatikrajaDewaku

Pelahan atas perintah Dewi Murdaningsih, si gajah merunduk. Mambiarkan tuannya turun dari punggungnya. Dengan luwesnya Dewi Murdaningsih turun dari punggung gajah dan segera berjalan semakin dekat ke tempat Arjuna berada.
Kenes ia berputar disekeliling Arjuna dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Bagai kerbau tercocok hidungnya, Arjuna ikut berputar badannya mengikuti gerak sang Dewi.
Kemudian tangan Murdaningsih yang lembut meraih kedua tangan Arjuna dan berkata memuji. Tetap ia tak berhenti bergerak lincah.
“Ternyata tanah Jawa terdapat lelaki yang sempurna segalanya, tak ada tandingannya dibanding di negaraku. Satria bagus, siapa nama andika ?” Pujian Murdaningsih mengabaikan pertanyaan mengenai namanya.
“Tadinya aku berpikir, hanya rupamu yang cantik, sehingga jiwaku terpasung, mataku tak sanggup untuk berkedip. Tetapi begitu andika sang Dewi mengucapkan kata kata, sekalimat demi sekalimat, hatiku runtuh terbawa sapuan arus kidung cinta yang mengalun bersama sapa suaramu, sang Dewi ?” Aku Arjuna penengah Pendawa”. Arjuna menyebut nama memperkenalkan diri.
“Ooh, inikah satria dengan nama harum yang menjadi inspirasi kidung cinta ? Inikah satria dengan sorot mata yang mampu meruntuhkan hati wanita siapapun. Bahkan wanita dengan keangkuhan setinggi langitpun, akan takluk dihadapan yang namanya Raden Arjuna. Saking orang banyak yang memuja, sampai sampai ada yang mengatakan, kerikilpun, bila andika berjalan, mereka minta andika pijak ?”
“Bahagianya hatiku, karena tidak sia sia aku datang dari jauh, ketemu dengan andika Raden, seakan sukmaku telah tertawan ditanah ini, dan tak hendak aku pulang ke Turilaya”. Kembali pujian yang dikatakannya melupakan perintah kakak seperguruannya, tentang tugas yang sebenarnya diemban.
“Puja pujimu teramat tinggi sang Dewi, membawaku terbang ke awan. Melayang sukmaku mendengar pujian dari bibirmu yang sungguh bagus itu. Tapi siapakah sang Dewi sebenarnya ?” kembali Arjunapun yang lalai akan kewajiban yang seharusnya dilaksanakan, ia menanyakan nama wanita itu.
“Masihkan aku perlu menyebut namaku ?” Murdaningsih manja mengulur rasa penasaran lawan bicaranya.
“Ya sudahlah aku pergi saja, kalau kamu tak mau memperkenalkan dirimu”. Sambil melepaskan pegangan tangan Murdaningsih, Arjuna kemudian melangkah pergi, jurus rayu itu diterapkan.
“Eeh…, nanti dulu, jadi lelaki kok merajuk !” Murdaningsih mengejar, menyambar tangan Arjuna.
“Bukan merajuk, tapi apa gunanya aku berhadapan muka dengan orang yang tak aku kenal”Arjuna menyanggah.
“Aku Murdaningsih, sengaja datang kemari untuk menemuimu, Raden. Nama dan cerita yang beredar di negaraku, membuat sasar rasaku, sehingga jauh jauh aku datang untuk membuktikan kebenaran cerita itu”. Kali ini Murdaningsih menumpahkan isi hatinya.
“Terus apa yang andika lihat pada diriku, sang Dewi ?” pancing Arjuna.
“Seperti yang aku katakan tadi, aku tak akan lagi pulang ke Turilaya. Hatiku telah tertambat disini, bawalah diriku kemana Raden pergi”.
Suasana hutan yang sunyi sungguh gampang berubah menjadi suasana romantis, membuat kedua insan yang dimabuk asmara itu lupa segala galanya. Arjuna lupa akan tugas negara sebagai prajurit, sedangkan Murdaningsih lupa bahwa tujuannya adalah untuk meringkus Arjuna. Sekarang yang ada hanyalah puja puji serta kidung asmara, berisi rayuan yang berhamburan dari mulut kedua asmarawan dan asmarawati itu.
Namun tidak demikian dengan gajah Murdaningkung. Ia adalah seekor gajah dengan sifat yang sudah bagaikan manusia. Melihat keadaan tidak sesuai dengan apa yang digariskan, tidak ada keraguan dalam otaknya segera mendekati kedua insan yang tengah memadu kasih. Diulurkan belalai, Arjuna yang tidak waspada, diangkat tinggi dan dilempar dari sisi Murdaningsih.
Terjerembab Arjuna ditanah hutan yang lembab. Belum sempat ia berdiri sempurna, gajah Murdaningkung kembali memburunya. Tak ada usaha lain kecuali Arjuna menghindar melompat dari raihan belalai yang kembali hendak meringkusnya. Kemarahan yang amat sangat merasuki ubun ubunnya karena terganggu kesenangannya. Segera diraihnya anak panah yang tersandang dipunggungnya dan dilepas busur yang tersandang dibahunya. Terpasang anak panah pada busurnya, segera ditarik tali busur dan meluncur mengenai kepala gajah itu. Lelehan otak bercampur darah mengalir dari tubuh besar yang terguling. Mati seketika gajah Murdaningkung.
Dewi Murdaningsih yang terpana melihat kejadian yang begitu cepat membunuh gajah kesayangannya, kemudian berlari memburu kearah gajah kesayangannya sambil menangis.
Air mata sang Dewi yang jatuh ditubuh gajah itu secara ajaib membangunkan sang gajah dari kematian.
Terheran Arjuna melihat kejadian itu. Begitu juga Murdaningsih yang baru kali ini membuktikan kesaktian yang diberikan gurunya.
Pada saat itu, Prabu Bogadenta yang dari tadi mengikuti perjalanan adik seperguruannya , muncul ditengah kejadian.
Taulah sekarang Arjuna siapa mereka sebenarnya ketika mendengar Prabu Bogadenta memarahi adik seperguruannya.
“Adikku yang cantik, sekali ini kamu terjebak oleh ketampanan lawanmu. Tadinya aku tak ragu lagi untuk melepaskan kamu sendiri. Tapi setelah kamu tak mampu menahan godaan Arjuna . Sekarang aku ambil alih peran kamu.”
“Arjuna ,Ssekarang kamu sudah ada dalam genggamanku jangan sampai kamu melawan, percuma hanya membuang tenaga. Sekarang mendekatlah ulurkan kedua tanganmu akan aku ikat tanganmu dan aku bawa kehadapan Prabu Duryudana. !”
“Siapa kamu !” tanya Arjuna penasaran
“Prabu Bogadenta dari Turilaya.” Bangga sang Prabu memperkenalkan dirinya
“Kamu boleh menawanku kalau kamu sudah bisa melangkahi jasadku.” Arjuna menantang.
“Rupanya kamu hendak meraih sorga. Majulah !”
Kali ini Arjuna mendapatkan lawan yang sepadan. Saling serang dengan tempo tinggi terjadi hingga hutan menjadi riuh oleh geretak ranting patah dan tumbangnya pepohonan runtuh tersapu serangan kedua pihak. Kali ini Arjuna tidak membuang waktu. Ketika serangan agak berkurang, Arjuna melompat mundur, kemudian bidikan anak panah meluncur mengenai dada Prabu Bogadenta. Tewas seketika sang Prabu.
Gajah Murdaningkung berlari mendekati tuannya dan meneteskan air mata sedih atas kematiannya. Keajaiban kembali terjadi, bagai terbangun dari tidur, bangkit kembali Prabu Bogadenta dari kematiannya.
Pusing Arjuna mengatasi lawan yang tiga tiganya saling bisa menolong sesama kawannya.
Prabu Kresna yang dari kemarin mencari Arjuna mendengar keributan yang terjadi segera menghampiri yang dicari cari.
“Aduh adikku, ternyata kamu ada disini !”
Melihat kedatangan Prabu Kresna segera Arjuna bersimpuh “Sembah baktiku kanda”
Penuh selidik Prabu Kresna berkata “Ya aku terima, tetapi lain kali jangaan seperti ini. Aku tahu betapa remuk hatimu dengan kematian anak kesayanganmu. Darma satria sudah kau lupakan sekarang. Padahal seandainya kamu masih ingat akan janji setia Pandawa, bahwa mati salah seorang Pandawa, maka yang lain akan mengikuti kematian yang satu itu. Bila itu terjadi, maka kamu yang akan dituduh sebagai biang dari kematian saudaramu. Alangkah malunya kamu. Jiwa satriamu akan luntur dan menjadi contoh buruk sepanjang tergelarnya jagad”.
“Kanda, adikmu minta pengayoman “ Tercetus kata pasrah Arjuna.
“Apa yang bisa aku ayomi” jawah Kresna.
“Saya keteteran menghadapi lawan lawan itu.” aku Arjuna
“Baik aku sekarang mengerti. Tapi tegakah kamu dengan wanita cantik itu ?”. Tanpa ada yang tersembunyi dari mata Arjuna, alasan Kresna menanyakan tentang wanita cantik itu.
“Terpaksa kanda”. Sekenanya Arjuna menjawab.
“Penyakitmu belum sembuh sembuh juga ! Aku tahu, aku percaya. Kamu adalah jago memanah tanpa tanding. Kecepatan memanahmu dalam satu waktu dengan jumlah lepasan anak panahnya tak ada yang bisa mengalahkan. Itu yang belum kamu lakukan !”.
Belum habis bicara Prabu Kresna, Arjuna sudah bersiap dengan ketiga anak panahnya yang terpasang dalam satu busur. Dengan cara yang tidak mudah ditiru siapapun, anak panah yang terluncur dari satu busur menuju sasaran masing masing. Mengenai ketiga pendatang dari Turilaya, tamat riwayat ketiganya bersamaan.
“Ayoh Arjuna, kita segera pulang. Jangan lagi berpaling, jangan lagi menyesali yang sudah terjadi. Istrimu sudah menunggumu”.Tersipu malu Arjuna mendengar kata kakak iparnya.
*******
izroilblackarmy - 25/05/2011 10:54 AM
#102

Baratayuda: Teror Kepala Jayadrata 2

By MasPatikrajaDewaku

Sampai ke palagan peperangan Kurusetra, Arjuna kaget dengan keadaan pasukannya yang terdesak hebat oleh amukan Jayadrata tiruan yang jumlahnya tak terhitung, membuat ngeri siapapun yang melihatnya. Bahkan kakaknya, Werkudara mundur.
Setelah diberi keterangan oleh Prabu Kresna mengenai kejadian yang sebenarnya, segera Arjuna melepaskan panah neracabala. Ribuan anak panah segera terlepas dari busurnya menghalau amukan ribuan Jayadrata, setelah itu disapunya seluruh bangkai Jayadrata dengan ajian Guntur Wersa, berupa hujan lebat dengan banjir yang menyapu hebat seluruh padang Kurusetra didepan Arjuna. Ia telah diberitahu sebelumnya oleh Prabu Kresna, bahwa Jayadrata tiruan akan tak dapat berbuat apapun jika dalang yang menggerakkannya telah dilumpuhkan.
Ketika banjir melanda Kursetra di pertahanan prajurit Randuwatangan, Bagawan Sempani yang tak mau terlanda hujan terpaksa meninggalkan pabaratan, kembali buru buru ke pesanggrahannya, tidak kuat dengan air hujan dan kerasnya arus banjir yang hendak melandanya.
Lenyap ribuan Jayadrata tiruan, tetapi rasa penasaran Arjuna belum sirna. Yang diarah dari usaha yang sebenarnya adalah Jayadrata asli. Jayadrata yang menjadi penyebab gugurnya Abimanyu anaknya. Betapapun matinya Wersakusuma masih saja belum memuaskan rasa dihatinya.
Dari rasa penasaran itu, yang keluar dari mulut Arjuna akhirnya sepotong kalimat sumpah.
“Kakanda Prabu, bila nanti sampai matahari tenggelam hari ini, Jayadrata asli tidak dapat aku bunuh, maka hamba akan naik pancaka, untuk bakar diri !”.
Sumpah Arjuna terdengar oleh banyak orang yang segera bersambung lidah mencapai telinga lawan. Geger lawan yang segera menutup rapat jalan kearah persembunyian Jayadrata.
Sedangkan Prabu Kresna terdiam sejenak, kemudian kata tanya ditujukan kepada Arjuna “Begitukah ? Padahal hari sudah mendekati sore. Apa usahamu untuk melaksanakan sumpahmu ?” Tanya Prabu Kresna menjajagi sumpah adik iparnya.
“Semua usaha akan aku pasrahkan kepada kanda Prabu”. Ternyata Arjuna mengandalkan kakak iparnya.
Tersenyum Prabu Kresna. “ Oooh begitu, akhirnya aku juga yang kau andalkan !” Bila memang itu maumu ayo ikut aku !
Prabu Kresna mengajak Arjuna mencari tempat yang strategis dalam menlihat tempat persembunyian Jayadrata.
“Tunggu disini. Lihat apa yang ada didepanmu?” Itulah tempat berlindungnya Jayadrata !”
“Apa yang harus hamba lakukan sekarang kanda Prabu ?”
“Aku akan membuat suasana menjadi petang seakan matahari sudah tenggelam. Bila nanti itu sudah terjadi, segera nyalakan api pancaka, berpakaianlah serba putih, dan perintahkan seluruh prajurit untuk berhenti dan menyaksikan ritual kematianmu dalam api suci !”
Berbalik badan Kresna melangkah dengan masih berkata.“Tunggulah sebentar, akan aku atur segala sesuatu yang bersangkut dengan bagaimana kamu harus melakukan pancingan agar Jayadrata dapat ditemukan”.
Segera bergerak Prabu Kresna mendekati saudara saudara Pendawa, untuk menjelaskan apa yang hendak dilakukan, kemudian ia melepaskan senjata Cakra Baswara keangkasa.
Senjata cakra adalah senjata sakti yang sejatinya adalah bagaikan senjata yang terkendali oleh rasa yang ada pada hati dan diri Prabu Kresna. Mempunyai kesaktian triwikrama sebagaimana yang berlaku pada diri Prabu Kresna.
Segera dalam keremangan sore setelah prahara hujan buatan dari Arjuna, maka tak terasalah bahwa sinar matahari yang tertutup senjata cakra bagai menyambung ke masa senja yang sebenarnya.
Api pancaka sudah disulut, para Pandawa yang sudah dibisiki oleh Prabu Kresna akan tindakan yang hendak dilakukan, mengenakan pakaian serba putih. Tidak hanya para prajurit Pandawa yang hendak menyaksikan peristiwa itu, para Kurawapun ikut juga tersulut rasa penasarannya, menyaksikan dengan kegembiraan yang tiada terkira. Dalam hatinya mereka mengatakan, bahwa sekaranglah saatnya salah satu bahu Pendawa akan lumpuh dengan kematian Arjuna.
Arjuna yang sudah diberi pembekalan segera naik ke panggung , bersembunyi dalam kobaran api berseberangan dengan tempat Jayadrata berada.
Jayadrata, seorang manusia keras hati, pada dasarnya ia tidak rela dengan keadaan yang memaksanya bersembunyi bagai seorang pecundang. Rasa penasaran mengalahkan ingatannya yang telah ditanamkan pada benaknya, bahwa ia tak boleh terpengaruh oleh apapun yang terjadi disekitarnya. Maka ketika suasana makin meriah dengan teriakan yang menyebutkan Arjuna bakar diri, pertama yang dilakukan adalah melihat dari celah lubang udara. Gelapnya suasana membuat ia tak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi diluar. Makin penasaran, sekarang lehernya dikeluarkan untuk melihat dengan lebih jelas yang terjadi diluar sana.
Kejadian berlangsung sangat cepat. Ketika kepala Jayadrata keluar dari lubang persembunyian, matahari muncul kembali setelah Cakra dikendalikan untuk segera bergeser dari tempatnya. Secepat itu pula, Kyai Pasopati segera dilepaskan. Putus leher Jayadrata menggelinding keluar dari bunker baja.
Kembali suasana terang matahari sore membuat gaduh suasana. Werkudara sigap segera mengejar kepala Jayadrata. Saking geregetan ditendangnya kepala Jayadrata yang jatuh itu menjadi bulan bulanan para prajurit Hupalawiya. Kepala itu pada akhirnya mendarat didepan Resi Sempani.
Orang tua itu menangis memelas, melihat betapa nista jasad anaknya yang dibuat permainan itu.
“Jayadrata anakku, walau kamu sudah tidak berbadan lagi, sebenarnya kamu belumlah mati. Kamu masih hidup !”
Ajaib. Kepala yang tadinya tak berdaya, dengan mata terbuka, menyala dendam terpancar dari bola mata itu !
“Gigitlah patrem ini, mengamuklah kamu atas kemauanku !” sabda sang Resi melayangkan kepala tanpa badan kembali ke medan pertempuran.
Kembali geger suasana di Kurusetra. Sepotong kepala mengamuk dengan keris tergigit di giginya. Perasaan ngeri menghinggapi seluruh prajurit Randuwatangan melihat kejadian yang membuat bulu tengkuk berdiri. Puluhan prajurit kecil menjadi korban disisa hari dengan cara yang tak terkira. Tidak hanya itu, putra lain Arjuna, Raden Gandawardaya, Raden Gandakusuma dan dan Raden Prabukusuma tewas oleh amukan kepala yang melayang layang mengerikan. Sepotong kepala dengan senjata dimulutnya !
Tidak mau banyak lagi yang menjadi korban, Kresna segera mencari tahu dimana Resi Sempani yang diketahuinya menjadi penyebab kejadian mengerikan ini. Setelah ditemukan, segera dihampiri Sempani yang tengah mengucapkan berulang ulang ucapan sakti penyebab amukan kepala anaknya. “Hiduplah Jayadrata, jangan mati”.
Berulang kalimat ini diucapkan.
Kresna hendak mengganggu dengan membalikkan kata kata namun awas perasaan Sempani dengan akal akalan Kresna. Tetap ia mengucapkan kata mantra dengan benar.
Tidak mau kalah akal Prabu Kresna, segera menjadi lalat yang mengganggu bibir dan hidung. Sehingga salahlah ia mengucapkan kata mantra sakti hingga terbalik, “ Matilah Jayadrata ! Sadar dengan ucapannya, dan kaget dalam hatinya yang segera ia maju ke peperangan. Tidak terima ia dengan akal akalan yang dilakukan Kresna.
Kepala Jayadrata yang kembali terkulai ditanah, kali ini tak dibiarkan utuh, gada Rujakpolo atau gada Lukitasari Werkudara, segera menghancurkan kepala itu menjadi tak berbentuk lagi.
Namun bahaya belum berakhir, sekarang berganti bahaya datang dari amukan Sempani. Pendeta tua, bekas raja sakti itu mendesak maju dengan sebilah pedang menebas-nebas ganas bengis, siapapun yang menghalangi krodanya. Drestajumna mencoba menghentikan amukan Sempani. Sesama menggunakan pedang ia mencoba melayani permainan pedang jago tua itu. Tetapi kekuatan orang tua itu tidak dapat dianggap enteng. Saling serang berlangsung hingga matahari sudah menyentuh ufuk.
Tidak mau bertele tele, Kresna segera mendekati Arjuna. “Adimas, segera kembali turunkan hujan, Sempani adalah orang yang tidak tahan terhadap dinginnya hujan”.
Demikianlah, tak percuma Arjuna bernama Indratanaya, yang berarti anak Batara Indra, dewa hujan. Maka hujan senja hari kembali turun dengan lebat.
Ternyata memang tidak salah, orang tua itu menggigil kedinginan, terkena hujan yang turun dingin dilangit senja. Ia jatuh terduduk tak berdaya yang kemudian napas tuanya memburu keluar satu persatu dan akirnya satu tarikan nafas mengakhiri hidup ayah prajurit sakti Jayadrata.
Jayadrata seorang yang sejatinya mempunyai kedekatan kejadian dengan Bimasena, tetapi sepanjang hidupnya ada dipihak lawan, karena hubungan kekerabatan kakak adik ipar yang dekat dengan Prabu Duryudana , ia lebih memilih tinggal di kesatrian Banakeling, daripada menjadi raja di tlatah Sindu . . .
izroilblackarmy - 25/05/2011 10:57 AM
#103

Baratayuda: Akhir Dendam yang Terpendam 1

By MasPatikrajaDewaku

Pegal, sebal, rasa Prabu Duryudana. Kembali ke Astina disela sela perang, dirancang bakal mengendurkan rasa tegang. Tetapi yang terjadi adalah rancangan yang berubah menjadi mentah. Yang ditemui di taman Kadilengeng bukan layanan penuh kasih sang istri yang didadamba siang dan malam sepeninggalnya dari istana. Yang ditemui ternyata hanyalah keruwetan yang menambah kusut masai keadaan hati didalam. Ricuh di taman Kadilengeng masih meninggalkan rasa sebah tetapi rindu terhadap sang istri, belum terlampiaskan. Sehingga rasa hati itu akhirnya terbayang diwajah kusut sang Prabu.
Untuk mengobati segala rasa itu, segera ia mandi. Didalam mandinya, tetap yang terbayang adalah sang istri, Dewi Banowati.
Setelah mandi ia berganti busana kependitaan hendak bersamadi menenangkan batin. Ubarampe persembahan utama telah disediakan berupa sebongkah kemenyan sebesar kepala kerbau yang diletakkan diatas pedupaan. Segera disulut dengan api secara hati hati, namun berkali kali gagal. Dalam sekian kali usaha akhirnya berhasil ia menyalakan pedupaan itu. Segera upacara dilakukan dengan duduk bersila, ia berusaha memusatkan perasaan heningnya, menutup semua sembilan lubang tubuhnya.
Bau kembang gadung dan semerbak bunga menur tercampur akar akaran, mewangi tercampur dengan asap dupa yang berkeluk meliuk naik keangkasa berbaur mega, yang bila terlihat bagai bayangan sosok dewata.
Tak lagi samar akan sinar pamor sang suksma yang melayang dikeheningan sepi. Yang tersimpan didalam kalbu sang Prabu hanyalah kunci pembuka pintu hati. Dalam keadaan yang setengah sadar, bagai pesat laju lepasnya mimpi, sang sukma Duryudana menyusup dalam kesejatian rasa.
Namun belum tuntas dalam melakukan ritual itu, bayangan Dewi Banowati kembali membayang menggoda pemusatan rasa sang Prabu. Gagal sang Prabu mencapai puncak pemuja, kembali ia berusaha dari awal. Namun kembali ia gagal
Berkali kali berusaha, berkali itu pula ia gagal dan gagal lagi. Murka sang Prabu Duryudana, ditendangnya pedupaan hingga pecah berantakan. Dalam hatinya ia memaki dewata yang dikiranya berbuat rencana buruk buat dirinya.
Merasa tak lagi ada gunanya ia kembali ke Astina, segera dipanggilnya tunggangan sang Prabu, berrupa gajah putih bernama Kyai Pamuk. Segera dipacu tunggangan itu kembali ke Pesanggrahan Bulupitu, dengan secepat cepatnya. Ia hendak melampiaskan kekesalan yang menggunung tumpuk menumpuk didadanya.
Tak beberapa lama saking cepat lari sang gajah, sore itu sudah kembali ke pesanggrahan Bulupitu, yang ditinggalkan setelah ricuh tempo hari.
Kembali ia menemukan kenyataan sangat pahit. Berita kematian adik iparnya, Jayadrata, membuatnya semakin murka.
“Paman Pendita Durna, sudah berapa hari andika menjadi senapati ? Kesanggupan andika paman dalam menumpas Pandawa, meringkus Puntadewa selama itu tak kelihatan nyatanya ! Gugurnya anakku yang merupakan kehilangan lebih dari seisi harta kekayaan negara, sekarang telah andika tambahi dengan menyusulnya adipati Banakeling, Jayadrata ! Itukah yang andika telah lakukan dalam ujud pengabdian sebagai senapati ! Kalau boleh aku sebut, andika adalah seorang guru yang telah melakukan pilih kasih. Paduka sang Penembahan telah melakukan perbuatan dengan standar ganda. Raga andika ada di sekitar para Kurawa,namun dikedalaman hati, para Pandawalah yang bersemayam dalam hati.
“Itu dapat dilihat dari pencapaian selama andika menjadi senapati. Hanya matinya Abimanyu-kah yang dapat andika lakukan ? Taklah itu seimbang dengan gugurnya Pangeran Pati Astina, satu satunya anakku lelaki sebagai penyambung keturunanku. Apakah aku sendiri yang harus maju menjadi senapati !”
Pandita Durna yang dicerca sedemikian bertubi tubi, malu dalam hatinya. Melihat Prabu Duryudana masih hendak menyambung kata katanya, tak tahan ia. Segera pergi ia tanpa pamit. Dalam lubuk hatinya, sangatlah sakit diperlakukan demikian. Apalagi peristiwa kemarin hari, yang menyebabkan tewasnya adik iparnya, dan diusirnya Aswatama, membuat ia merasa bagai terkeping keping hancurnya hati.
Kejadian di Bulupitu menjadikan Prabu Salya sangat prihatin.
“Aduh anak Prabu, sudahkah anak Prabu berpikir jernih dengan kata katamu tadi ?” Salya yang dari tadi diam, berbicara ia mengingatkan. “Akan susut kekuatan Kurawa bila ia tidak lagi ada pada pihak kita. Ia belumlah melangkah ke palagan dengan kekuatan dirinya. Selama ini ia baru menggunakan kekuatan orang orang disekelillingnya. Seharusnya anak Prabu memberi kesempatan kepadanya dengan lebih luas untuk meringkus para Pandawa dengan kekuatannya sendiri.”
Sesal sang Prabu tiada guna. Dipanggilnya patih Sangkuni “Paman Harya, segera susul Pandita Durna, sampaikan rasa sesalku yang tak kuat menahan beban rasa yang menggelayut didadaku. Mintalah ia segera untuk kembali ke Bulupitu”.
“Daulat titah anak Prabu. Malam ini juga akan aku cari beliau. Tak akan pamanmu pulang, sebelum Kakang Durna ditemukan. Namun bolehkah hamba ditemani Aswatama ?”
Tanya Sangkuni ragu, karena setahu ia , Aswatama telah menjadi orang yang tak disukai sang Prabu, ketika terjadi ricuh di Bulupitu. Namun otaknya yang encer mengatakan, Aswatama-lah yang hendak dijadikan pasal untuk merayu kembalinya Dahyang Durna, bila ia ketemu nanti.
“Terserahlah Paman mau ditemani siapa. Yang penting adalah kembalinya Pandita Durna”.
Mundur Patih Harya Sangkuni sambil menghaturkan sembah. Sesampainya diluar, diperintahkan prajurit pecalang untuk menghadirkan Aswatama. Malam gelap itu ia ditemani anak Durna berjalan tanpa tujuan, mencari seseorang dengan jejak yang tak nampak. Sasar susur kedua orang itu malam yang pekat mencari keberadaan Pandita Durna. Tak terasa mereka telah jauh meninggalakan medan Kurusetra.
Sementara di Bulupitu, merenung Prabu Duryudana memikirkan situasi yang terjadi atas barisannya. Setengah menyerah, setengah semangat berganti ganti terrasa didalam hatinya. Bagaimanapun juga, adanya orang tua itu telah menjadikan rasa dan pikirnya semangat, karena kesaktian gurunya itu sebenarnya sejajar dengan keberadaan Resi Bisma ketika itu, yang sama sama murid dari Ramaparasu. Petapa sakti yang panjang umurnya. Pertapa yang hidup sebelum jaman Ramayana berlaku hingga ia mempunyai murid Dewabrata dan Kumbayana yang kemudian ia dipanggil dewata sebagai penghuni kahyangan.
Prabu Duryudana akhirnya ia berpikir akan negaranya, Astina, bila ia maju sendiri ke peperangan sebagai senapati.
Bahkan sempat terlintas dipikirannya, bila ia mati dalam peperangan, maka suksesi kepemimpinan akan dikemanakan.
Teringat tentang hal ini, dipanggilnya adiknya Arya Dursasana. Dalam pikirnya, ia harus menyiapkan pangeran pati baru sebagai pengganti anak sulungnya Lesmana Mandrakumara.
“Adikku Dursasana, tahukah kenapa aku panggil kamu ?” Duryudana membuka pembicaraan dengan maksud menjajagi hati adik kesayangannya.
“Tidak kanda prabu. Kalaupun hamba sudah dipanggil pastilah hamba bakal dipercaya menjadi senapati. Ngiler rasanya bagaikan ngidam rujak cempaluk. Cepatlah kanda Prabu mengatakan, sekaranglah hamba harus melangkah kemedan pertempuran sebagai seorang senapati melawan Pandawa”.
Sudah menunggu sekian lama saya mengharap maju sebagai senapati, ikut perang di hari hari kemarinpunpun serba dibatasi. Apalagi dijadikan senapati.
Hari ini hamba dipanggil, gembiranya hati adikmu ini bagaikan mendapat ganjaran yang tiada ternilai harganya. Perkenankan adikmu ini, untuk segera melangkah ke peperangan “. Harapan akan tugas sebagai senapati memenuhi dada Dursasana.
“Jauh dari yang kamu harapkan”. Tegas kata sang Prabu.
“Hah . . . bagaimana sebenarnya ?. Kecewa berat Dursasana mendengar jawaban kakak sulungnya itu dengan seribu tanya dihatinya.
“ Hari ini, kamu saya suruh kamu pulang ke istana”. Makin tak mengerti ia mendengar jawaban kakaknya. Belum jelas apa yang dimaksud kakaknya, ia melanjutkan “Apakah ada musuh yang menerabas dari belakang ?”
“Ada pekerjaan yang harus kamu lakukan. Jagalah kakak mu Banuwati” Kaget setengah tak percaya ia mendengar titah kakaknya. Sampai sampai ia menanyakan kembali perintah itu, tapi jawabannya sama saja.
Tidak puas Dursasana menawar “Bagaimanapun saya seorang prajurit, yang seharusnya maju ke medan perang. Kenapa haru kembali ke istana ? Kalau boleh kali ini hamba menolak perintah paduka”
“Apa kamu tidak takut aku ?” tanya Duryudana mempengaruhi adiknya.
“Takut ? Pasti. Karena kanda prabu adalah raja hamba, juga kakak sulung hamba”. Kecewa Dursasana makin dalam. Keringat dingin yang mengalir diwajahnya dibiarkan mengalir. Ia tak peduli dengan keadaan dirinya ketika batinnya berontak hebat.
“Yang saya ingin sampaikan adalah, kekhawatiranku akan terjadinya apa apa terhadap kakak iparamu dan terhadap kamu sendiri”. Dijelaskannya maksud dari semua perintah terhadap adiknya.
Tabiat Dursasana dikenal sebagai seorang Kurawa pemberani cenderung ugal ugalan. Maka ketika diberi tugas menjaga wanita, batinnya sangat tidak terima. Tetapi apa daya, rasa bakti terhadap kakaknya mengalahkan segalanya.
Maka berangkatlah dengan langkah gontai, Raden Arya Prawira Dursasana. Semangat menggebu gebu diawal, terkubur oleh perintah kakaknya yang menyebabkan ia merasa, seakan didandani dengan bedak tebal dimukanya, dipoles bibirnya dengan gincu, sementara gelung rambutnya dirubah seperti bentuk gelung malang, gelung para wanita. Dalam perasaannya ia juga bagai dipakaikan kain minting minting bak dandanan wanita.
**********
izroilblackarmy - 25/05/2011 10:59 AM
#104

Baratayuda: Akhir Dendam yang Terpendam

By MasPatikrajaDewaku

Hari telah berganti lagi, pagi baru menjelang. Kekosongan senapati membuat putra Mandaraka, Burisrawa, adik Banuwati, tanpa diperintah telah mengambil alih peran Pandita Durna. Segera ia menyusun barisan tanpa pola menyerang maju ke padang Kuru dengan ampyak awur awur, serabutan membabi buta.
Ketika dilapori bahwa hari itu pasukan Bulupitu datang dengan pimpinan Burisrawa, Werkudara yang sedang berjaga di garis depan, pesanggrahan Randugumbala segera bersiap menghadang.
Tetapi Setyaki, yang dari dulu sudah menjadi musuh bebuyutan, segera menyelonong kehadapan Arya Werkudara.
“Kanda Arya, ini yang aku tunggu dari kemarin ! Sekaranglah waktunya yang tepat untuk menuntaskan dendam berkepanjangan antara aku dengan Burisrawa” ingatan Setyaki berbalik ke masa masa lalu, yang berkali kali gagal menuntaskan permusuhan bebuyutan dengan Burisrawa. Terakhir kali ingatnya, ia bertempur sewaktu mengikut Prabu Kresna ketika didaulat menjadi kusirnya sebagai duta terakhir sebelum pecah perang.
“Bungkik, apa yang menjadi bekal kamu dalam menghadapi Burisrawa yang berbadan lebih besar dan kekuatan bagaikan orang hutan” Tanya Werkudara meyakinkan tekad Setyaki.
“Yang paling utama adalah tekad !” jawab Setyaki yakin.
“Tekad tidak cukup !” kembali Werkudara menjawab
“Jadi harus bagaimana ?” tanya Setyaki memancing.
“Sebelum kamu maju menghadapi Burisrawa, akan aku uji dulu kekuatanmu !“ Werkudara menawarkan cara
“Silakan kanda Arya !” Setyaki bersiap diri.
“Angkat Gada Lukitasari punyaku, bila kau sanggup mengangkatnya, kamu pantas menghadapi Burisrawa”. Ujian pertama ditawarkan.
Segera disorongkan batang gada kehadapan Setyaki, dengan sekali usaha, terangkat gada super berat Arya Bimasena.
“Bagus , kamu memang pantas menyandang nama Bima Kunting !” . Bima Kunting artinya adalah Bima dengan tubuh kecil. Dijuluki demikian, Setyaki tetap bangga.
“Tapi itu belum cukup ! Satu lagi, bila kamu bisa kuat menerima pukulan gadaku ini, kamu boleh berangkat sekarang !.” Kembali ujian kedua ditawarkan.
“Silakan kanda.” Kembali Setyaki bersiap diri.
Dipukulnya Setyaki dengan gada Rujakpolo. Gelegar suara benturan badan Setyaki dengan batang gada bahkan menggetarkan tanah tempat Setyaki berpijak. Gelegar suara itu bagai menerpa batang baja. Setyaki tetap bergeming. Gembira Werkudara menyaksikan kekuatan adik misannya.
“Ayoh berangkat akan aku awasi dari jauh !” Werkudara memberi aba aba
Bangga Setyaki lulus dalam ujian yang tidak ringan itu.
Semakin percaya diri Setyaki menghadapi Burisrawa. Iapun sesumbar. “Nanti siapapun yang kalah, tak ada seorangpun yang boleh membantu !”
Maka berhadapanlah kedua satria yang sudah lama saling mendendam. Bara dendam memercikkan semangat untuk saling mengalahkan dalam arena resmi ini. Mereka berdua bertekad untuk menyelesaikan adu kekuatan dengan kemenangan.
“Heee Setyaki yang datang menjemput aku, sudah bosan rasanya aku melihat kamu lagi. Kali ini adalah kali yang terakhir. Aku tak mau melihat tampangmu lagi. Biar aku tekuk kamu sekarng ! Tidak mungkin kamu mengalahkan aku !”
“Apapun katamu, sekarang tak ada lagi yang bakal menunda kematianmu !”.
“Apa yang kamu andalkan ? Besarnya badan, lebih besar aku. Kekuatan pasti lebih kuat aku. Majulah kemari orang kecil, terkena sambaran kakiku lunas nyawamu !”
“Jangan banyak mulut, serang aku sekarang juga !”
Adu kekuatan mulanya berjalan seimbang. Pukulan tangan kosong dada Setyaki dilancarkan Burisrawa. Berkelit sambil memiringkan badan Setyaki menghindar sambil mengayunkan sapuan kaki kanannya. Tak mau terkena sasaran kaki Setyaki, Burisrawa meloncat. Sambil berbalik badan, kakinya mengarah ke leher Setyaki.
Kali ini benturan tak dapat dielakkan lagi, Setyaki merunduk sambil mengerahkan kekuatan ditangannya, kaki Burisrawa ditebas dengan tangan berkekuatan penuh. Benturan keras terjadi. Sementara tangan Setyaki kesemutan, Burisrawa mendaratkan kakinya dengan terpincang pincang.
Kembali adu kekuatan kaki dan tangan keduanya berlangsung silih berganti. Saling serang dengan kekuatan raksasa, diselingi dengan ketangkasan beradu gada.
Setengah hari telah berlalu. Lama kelamaan kekuatan tenaga dari kedua satria itu makin dapat ditebak keseimbangannya. Walaupun Setyaki bertenaga raksasa penjelmaan raksasa Singa Mulangjaya, namun Burisrawa adalah anak raja Mandaraka yang hampir tak pernah betah tinggal di istana. Ia lebih suka berkelana dihutan hutan hingga kesisi lautan. Berguru pada berbagai orang sakti, hingga Batari Durga dan Betara Kala sekalipun pernah menjadi gurunya. Tak heran ia menjadi manusia dengan kekuatan gorila, karena rajinnya ia mencari kesaktian dan menyadap kekuatan alam.
Maka pada suatu saat, Setyaki terkunci oleh gerak pitingan Burisrawa. Setyaki mengerahkan seluruh kekuatannya, tetapi bagai terjepit ragum baja raksasa, rontaannya tak sanggup ia lepas dari jepitan kekuatan raksasa Burisrawa.
Bangga Burisrawa akan usahanya menjepit Setyaki “Disini akhir hidupmu Setyaki. Akan aku patahkan tulang belulangmu sedikit demi sedikit, agar kamu tahu, betapa sakitnya berani beraninya melawan Burisrawa !”.
Belas kasih Prabu Kresna melihat adik istrinya, Setyaboma, terjepit oleh kekuatan raksasa Burisrawa. Tapi di awal sudah ada perjanjian antar keduanya, bahwa peperangan tanding itu tidak boleh dibantu oleh siapapun. Tak kurang akal, Kresna memanggil Arjuna hendak melakukan sandiwara agar adik iparnya itu dapat ditolong.
“Arjuna, aku masih ragu terhadap trauma atas kematian anak anakmu. Apakah jiwamu sudah penuh kembali seperti semula atau belum ! Karena masih banyak para sakti yang masih bermukim di pesanggrahan Bulupitu. Ujian akan aku berikan, hingga aku tahu sampai dimana kembalinya pemusatan pikirmu. Sekarang aku uji pemusatan pikiranmu, dengan memanah sehelai rambut yang ada ditanganku ini, kenai dengan panahmu Kyai Pasopati . . !”
“Marilah kanda Prabu, akan aku buktikan kembalinya kekuatan jiwa ragaku” mantap Arjuna menerima tantangan ujian itu.
Terlepas panah Pasupati memutus rambut yang terpegang Prabu Kresna, tetapi sejatinya, arah yang diharapkan Prabu Kresna adalah searah dengan keberadaan Burisrawa yang tengah memiting Setyaki. Maka tak ayal lagi terserempet Kyai Pasupati, lengan Burisrawa terputus, tergeletak jatuh ketanah.
Merasa pitingan lawan kendor, disertai raungan kesakitan Burisrawa, Setyaki punya kesempatan meraih gadanya. Dipukul kepala Burisrawa berkali kali, tewas seketika Burisrawa.
Bangga Setyaki melihat lawannya tergeletak tak bernyawa lagi. “Huh Burisrawa . . . ! Sumbarmu bagai hendak memecahkan langit ! Kepentok kesaktianku, mati kamu sekarang !” berkacak pinggang Setyaki didepan jasad Burisrawa.
“Setyaki siapa yang membunuh Burisrawa ?” Kresna yang menyusul kearah Setyaki menjajagi rasa bangga Setyaki.
“Tentu saja adikmu yang gagah sentosa ini !” kebanggaan Setyaki belum habis juga
“Coba lihat sekali lagi, apa penyebab kamu bisa lepas dari pitingan lawanmu ?” tanya Kresna.
“Oooh . . . . . jadi lengannya telah putus lebih dulu sebelum hamba pukul kepalanya ?”
“Makanya jadi orang jangan pandir, hayuh minggir , lihat ayah Burisrawa, Prabu Salya tidak terima !” Buru buru Setyaki diseret Prabu Kresna agar menjauhi jasad Burisrawa.
Memang yang terjadi adalah Prabu Salya hendak maju kemedan perang. Tapi tak tega Prabu Duryudana segera memegangi Prabu Salya, agar berlaku sabar terlebih dulu. Duryudana merasa belum saatnya sang mertua untuk bertindak walaupun tahu betapa sedihnya hati orang tua itu tatkala melihat anaknya lelaki yang tinggal satu itu, setelah kematian kakak Burisrawa, Rukmarata, maka yang tertinggal adalah ketiga anak perempuannya, Erawati, Surtikanti dan Banuwati.
izroilblackarmy - 25/05/2011 11:13 AM
#105

Baratayuda: Mahalnya Sebuah Harga Diri 1

By MasPatikrajaDewaku

Kembali kita ke taman Kadilengeng. Siang belum lagi menjelang, Dewi Banowati mencoba menyenangkan hati dengan berjalan jalan ditaman sari. Taman yang jalur jalannya lajur demi lajur dihampar batu akik hijau merah biru putih dan keemasan. Diterpa sinar matahari yang belum naik sempurna memancarkan sinar semburat bagai warna pelangi. Disuatu tempat yang menjadi kesukaannya, sang Dewi duduk diatas batu marmer putih mengkilap yang direka pokok kayu. Terpesona sang Dewi memandang taman yang asri itu dengan berbagai macam tanaman. Tanaman hias dalam jambangan yang ditata teliti, berpasang pasang, serasi warnanya dengan paduan bunga bunga yang harum mewangi. Tidak hanya dalam jambangan, bunga bunga perdu juga menghias hamparan taman bergerombol disela sela rumput lembut.
Bertambah indah suasana taman dengan terbangunnya rekaan telaga yang berair biru bening dengan berbagai macam ikan warna emas, merah, putih dan warna tembaga yang ditebar. Bila diterpa sinar matahari, seakan ikan ikan itu bagaikan bintang bintang malam yang saling bertukar tempat.
Tersenyum puas sang Dewi dengan kerja para abdi dalem yang setiap waktu memelihara dengan penuh cinta. Sejenak ia melupakan keresahan hati memikirkan perang yang belum juga usai. Resah hati yang membawanya setiap malam membakar sesaji dengan pedupaan yang bertumpuk tumpuk. Dalam setiap pemujaan sang Dewi selalu berharap, agar segeralah selesai perang yang sedang berkecamuk. Untuk kemenangan siapa, hanya Dewi Banowati saja yang tahu.
Belum puas Sang Dewi menikmati indahnya suasana, kali ini ia kembali kaget dengan kedatangan adik iparnya, Raden Dursasana. Ketika diketahui yang datang adalalah adik ipar yang tidak ia senangi, yang bertingkah laku mirip dengan adiknya sendiri, Burisrawa, setengah malas ia melambaikan tangannya agar iparnya itu segera mendekat. Dursasana segera menyampaikan sembahnya, kemudian duduk dengan takzim.
Terheran Dewi Banowati dengan kedatangan adik iparnya bergantian dengan suaminya yang hari hari kemarin datang. Dalam hatinya ia bertanya, ada kejadian apa lagi di peperangan. Siapa lagikah korban peperangan yang hendak dilaporkannya. Mudah mudahan hati ini kuat mendengar apapun yang terjadi. Atau ada sesuatukah yang sangat perlu, hingga adik iparnya yang dikenal sebagai manusia yang penuh kekerasan meninggalkan peperangan yang keras itu, tetapi malah datang ke taman sari. Tempat indah penuh kelembutan. Seribu tanya ia simpan sejenak.
Basa basi sang Dewi bertanya, “Baik baik sajakah kedatanganmu, adikku ?”.
“Sembah hamba kehadapan kakanda Banowati”. Dursasana menghaturkan baktinya.
“Apakah perang sudah selesai ?” tak sabar sang Dewi ingin mengetahui apa yang terjadi.
Dursasanapun mulai mengawali menceriterakan kenapa ia diminta untuk kembali ke istana.
“Pertama, kami mengabarkan kepada kanda Dewi, bahwa adik paduka Arya Burisrawa telah tewas dalam peperangan”.
Dewi Banuwati kembali hanya terdiam sesaat, seperti yang pernah terjadi ketika putranya, Lesmana Mandrakumara, tewas. Ia hanya melihat kedepan dengan tatapan kosong, tak ada rasa sedih yang terbersit dari wajahnya.
Banuwati dan Burisrawa, walaupun kakak beradik, dan pada kesehariannya keduanya sering bersama ada di Astina. Tetapi keduanya tidaklah seperti kakak beradik yang dekat dihati satu sama lain. Banuwati malah lebih dekat kepada adiknya yang jauh, dan lebih senang bersama ayah ibunya di Mandaraka, Arya Rukmarata, yang kini juga telah tewas.
Sama seperti adik iparnya, Dursasana, Burisrawa adalah manusia yang liar dan cenderung ugal ugalan. Kesamaan itu yang membuat Burisrawa dekat dengan Dursasana. Mereka hanya renggang bila Burisrawa sudah bosan dengan suasana resmi istana, dan kabur ke hutan hingga berbulan bulan, baru ia kembali lagi ke Astina. Apalagi setelah Burisrawa gagal mempersunting Wara Sumbadra kala itu, hingga ia bersumpah, tak akan ia pulang ke Mandaraka, bila ia belum bisa mempersunting dewi impiannya yang gagal, atau memperistri wanita yang mirip dengan Sumbadra, seperti yang pernah diceriterakan.
Akhirnya setelah diam sebentar, kata pasrahlah yang terucap dari bibir Banuwati “Perang itu, kalau tidak kalah ya menang. Kalau tidak membunuh, ia akan dibunuh. Kalau Burisrawa terbunuh, itu adalah bagian dari kodrat perang itu sendiri”
Mahfum dengan watak kakak iparnya, Dursasana kembali melanjutkan, “Yang kedua, adikmu diutus kanda Prabu, untuk kembali ke istana”.
“Dan hal inilah yang saya tidak mengerti, kenapa saya sebagai pangeran sepuh yang sekarang dijadikan pangeran pati sekaligus, harus disingkirkan, dan harus dikembalikan ke istana. Terus terang saja, kali ini saya ditugaskan oleh kakanda Prabu, untuk menjagai keberadaan paduka kanda Banowati”.
“Kalau begitu, kanda Prabu sebenarnya sedikit banyak mempunyai rasa curiga terhadap aku, begitukah ? Banuwati mulai kesal dengan apa yang sebenarnya terjadi. Pikirnya, apakah ini buntut dari kericuhan kemarin ketika suaminya datang ?
“Ya, kira kira begitu. Saya juga tidak pernah bertanya lebih jauh kepada kanda Prabu, karena saya ini apalah. Hanya sebagai adiknya dan hanya sebagai abdinya. Dititahkan apapun hamba tidak akan sanggup menolak”. Dursasana sudah mulai jengah. Inilah suasana yang sudah ia ia bayangkan sebelumnya. Suasana yang paling tidak senangi, bergaul dengan wanita, apalagi wanita itu adalah kakak iparnya yang walau cantik, namun dimatanya ada sinar yang warna cahayanya sebagai sorot warna ndaru braja, komet berracun. Hal inilah yang membuat Dursasana menjadi serba salah duduknya. Bergeser geser mencari posisi yang enak, namun tak juga ia menemukan posisi duduk yang nyaman. Gerah rasa seluruh tubuhnya, walau angin pagi masih tersisa bertiup membawa uap embun yang baru saja kering. Tak urung keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya.
izroilblackarmy - 25/05/2011 11:14 AM
#106

Baratayuda: Mahalnya Sebuah Harga Diri 2

By MasPatikrajaDewaku

“ Menungguiku, apaku yang ditunggui. Katakan ! Kamu itu jadi seorang satria kok begitu bodoh, begitu dungunya ! “ berubah menjadi galak Dewi Banuwati. Suasana indahnya taman sudah hilang dari perasaannya.
“Apa sebabnya, saya yang hanya diperintah, kenapa saya dibodoh-bodohkan, didungu dungukan. Silakan kanda Dewi menjelaskan . . ” Dursasana menyabarkan diri. Mungkin bila ini bukan istri kakaknya ia sudah berdiri marah atau bahkan tangannya sudah melayang. Tabiat Dursasana yang tidak sabaran sebenarnya sudah mencapai ambang batas kekuatan menahan, namun rasa hormat kepada kakak sulungnya, tak pelak lagi mengorbankan habis sifat urakan yang menjadi ciri dari lahir. Bahkan gerakan tangannya yang biasanya tak pernah diam seakan terkunci ketat erat.
“Sebenarnya kamu itu sedang dicoba oleh kakakmu itu. Satria itu seharusnya berperang. Tetapi kakakmu mengatakan kamu harus kembali ke istana. Kenapa kamu menerima perintah itu dengan begitu lugunya. Apakah itu bukan dikatakan sebagai satria bodoh yang penakut dan jeri akan tumpahnya darah !” Menuding nuding sang Dewi sambil bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang. Panas hatinya dicurigai akan berbuat yang tidak tidak.
“Bukan itu kanda Dewi, yang memerintah tidak salah, yang diperintah juga tidak salah. Tetapi kenapa hamba yang diperintah dimarahi seperti ini ? Tapi terus terang kemarahan ini menjadi bahan pelajaran dimasa datang. Dan takut hamba terhadap kemarahan paduka kanda Dewi, hamba lebih takut akan kemurkaan kanda Prabu Duryudana”. Masih mencoba sabar Dursasana. “Dan bila hamba disuruh maju perang, maka betapapun saktinya lawan, akan hamba laksanakan titah kanda Prabu dengan senang hati”.
“Duh . . Sumbarmu ! Seperti bisa memecahkan balok besi, menjilat panasnya besi membara ! Sinis dewi Banawati berkata.
“Dapat hamba buktikan ! Bila kanda Dewi mengatakan hamba ini satria bodoh yang takut perang, hal itu adalah sebaliknya. Dan bila hamba diperintah untuk menjagai wanita, yang terjadi sebenarnya adalah . . . . . , kanda Prabu itu orang yang kelewat sabar . .”. Berhenti sejenak Dursasana ragu mengatakan, namun sejurus kemudian ia melanjutkan. “Tidak ada orang yang sabar didunia ini melebihi kanda Prabu. Walaupun di istana ini sebenarnya terdapat tanaman yang sangat berbisa, yang selalu tumbuh dan tumbuh dengan subur, yang pada akhirnya akan membuat gatal orang senegara. Tapi karena besarnya cinta kanda Prabu terhadap tanaman itu, maka yang terlihat, hanya bentuk dan rupanya yang cantik saja, sementara bisa racunnya tidak dihiraukan . . . “.
Kamu mengatakan begitu, aku ini kamu anggap apa ? bagaikan mendidih, darah diubun ubun dewi Banuwati, yang merasa dikenai hatinya.
“Nanti dulu . . , kalaupun hamba mengatakan perumpamaan terdapat tanaman berbisa yang dipelihara kanda Prabu, terus terang saja kanda Banowati, yang sebagai istri kanda Prabu, sebenarnya, paduka kanda Dewi tidak cinta lahir batin kepada kanda Prabu Duryudana. Kalau dilihat sepintas, perilaku kanda Dewi terhadap kanda Prabu itu seperti cinta yang sebenar benarnya. Tetapi hal itu hanya terhenti dalam tata lahir, dan dalam hati kanda Dewi yang sebenarnya, orang dinegara Astina ini sudah tahu semuanya. Termasuk hamba sendiri”. Keterus terangan Dursasana makin menjadi-jadi, ia memuntahkan seluruh isi hatinya. Ia melampiaskan belenggu rasa yang dari tadi menjerat erat
“Bagaimana ? Apa yang kamu ucapkan tadi itu, dihatiku cinta sama siapa ?” Banuwati menantang. Walaupun jawaban yang akan diucapkan oleh adik iparnya itu sebenarnya dirasa mudah untuk ditebak jawabannya, tapi ia masih hendak mencoba mencocokkan dengan perkiraannya.
“Terus terang tadinya hamba tidak akan mengatakan sampai kesitu, tapi karena kanda Dewi sendiri yang menantang, akan hamba buka yang sebenarnya terjadi. Kanda pasti tahu, sesuatu yang tersimpan dihati kelamaan akan menjadi penyakit, sekarang sebaiknya hamba keluarkan unek unek dihati hamba”.
Dibawah sorot mata tajam kakak iparnya ia melanjutkan curahan isi hatinya. Terlanjur basah, mandi sajalah sekalian, pikirnya. Masalah ada aduan yang sampai kepada kakak sulungnya, itu soal nanti. Sekarang sekarang, nanti ya nanti. Kebiasaannya dalam berpikir pendek, menjadikannya ia meneruskan kata katanya dengan lancar.
“Saya memperhatikan setiap kali ada perang tanding antara Kurawa dan Pandawa, bila ada warga Pandawa yang menang, paduka bergembira dengan membagi bagikan hadiah kepada abdi dalem dan siapapun. Itu salah satu buktinya. Sebaliknya ? Contoh terakhir, ketika putra Paduka, Lesmana Sarojakusuma tewas, paduka menyalahkan kanda Prabu dan putra paduka sendiri, tetapi ketika Abimanyu yang tewas, paduka menangis histeris. Itu kejadiannya !
Maka pada setiap semedi, paduka kanda Dewi selalu memohon dewata, kapan kiranya Baratayuda berakhir dan Kurawa kalah serta musnah. Dengan demikian kanda Dewi dapat segera melaksanakan keinginan kanda Dewi untuk menjadi keset Arjuna. Iya kan ? Habis sudah, tumpah ruah segala kesah hati Dursasana tercurah.
“Keparat kamu Dursasana ! Kamu megucapkan sesuatu tanpa perhitungan. Ketahuan kamu sebagai satria yang takut darah, malah menguak rahasia orang lain. Kalau memang kamu sebagai satria sejati, dan kalau aku diberi wewenang untuk menjagokan, kamu aku adu dengan Arjuna, berani kamu ? Habis kesabaran Banuwati. Kebanggaanya akan Arjuna dimunculkan dengan tidak malu malu lagi.
“Jangankan Arjuna, Pendawa lima maju bersama tak akan hamba mundur sejangkah !” Kembali Dursasana sesumbar. Panas hatinya sudah semakin membakar perasaannya. Bahkan tempat yang didudukinya sudah terasa bagai beralaskan paku membara.
“Sumbarmu ! Tetapi kamupun bisa menang bila aku adu kamu dengan Arjuna, bila sudah terjadi kodok memakan liang nya !” Banuwati yang sudah terkena dengan telak isi hati dan kelakuan dibelakang suaminya serta bosan dengan kericuhan yang terjadi segera berbalik badan meninggalkan Dursasana yang tertawa senang sekaligus panas hatinya karena kata kata kakak iparnya.
Berdiri Arya Dursasana, setelah ditinggalkan Banuwati, lega rasanya seakan ia sudah terbebas sangkar yang mengurungnya. Dipandanginya kepergian Banuwati dengan berkacak pinggang dan muka yang ditengadahkan. Puas tetapi panas.
“Kena kamu Banuwati ! lagakmu seperti orang yang suci, tidak menengok ke tengkuk sendiri menuduh orang yang tidak tidak. Aku buka rahasiamu, mencak mencak seperti orang kalap. Kamu anggap aku ini apa ? Kalau kamu bukan istri kakakku sudah aku . . . . . . . Huhh . . ! Apakah aku kelihatan seperti orang yang bergelung malang dengan bibir berpoles gincu, diberi bedak tebal mukaku dan dipakaikan kemben tubuhku ? Lihat apa yang akan aku lakukan untuk membuktikan kata kataku.
Hari ini tak usah aku meminta ijin dari kanda Prabu, akan aku penggal kepala Arjuna, sekaligus semua saudaranya”. Panas hati Dursasana
membawa keputusannya untuk kembali melangkah ke hamparan padang Kuru.
Moizzz - 09/06/2011 06:30 PM
#107

ane senang sekali bisa nemu thread ini gan..makasih. iloveindonesia
druidism08 - 09/06/2011 10:38 PM
#108

wow dah gw tunggu2 thread kaya gini D

numpang ngepost ya biar besok2 gw gak pusing nyari ini thread iloveindonesias
bayu200687 - 10/06/2011 10:34 AM
#109

ummm, misal ane tulis di blog boleh ga? ane ga terlalu ngerti wayang, tapi suka ama sastra. pengen banget deh mengabadikan tulisan2 disini dalam blog ane.

klo boleh, mohon masukkannya utk bagian disclaimer dan penulis2 cerita wayang ini. thanks
zieanna - 10/06/2011 06:59 PM
#110

nais pos gan
cendolb
bagus2 critanya
jowotulen - 12/06/2011 02:35 AM
#111

keren...ditunggu kelanjutannya
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:34 AM
#112

Quote:
Original Posted By Moizzz
ane senang sekali bisa nemu thread ini gan..makasih. iloveindonesia

yup.. sama2 bro..
Quote:
Original Posted By druidism08
wow dah gw tunggu2 thread kaya gini D

numpang ngepost ya biar besok2 gw gak pusing nyari ini thread iloveindonesias

silakan bro..

Quote:
Original Posted By bayu200687
ummm, misal ane tulis di blog boleh ga? ane ga terlalu ngerti wayang, tapi suka ama sastra. pengen banget deh mengabadikan tulisan2 disini dalam blog ane.

klo boleh, mohon masukkannya utk bagian disclaimer dan penulis2 cerita wayang ini. thanks

silakan aja bro.. semua isi bebas disebar, tp jgn lupa kasi link sumbernya..
Quote:
Original Posted By zieanna
nais pos gan
cendolb
bagus2 critanya

\)b
Quote:
Original Posted By jowotulen
keren...ditunggu kelanjutannya

iye gan, mau dilanjut lg.. kmaren2 sibuk terus..
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:40 AM
#113

Kumbayana

Syahdan prabu Kurupati mengadakan pembicaraan dengan para Korawa, tampak hadir patih Sakuni, raden arya Dursasana, Durmagati, Kartamarma, Surtayu, Citraksa dan Citraksi. Masalahnya berkisar pada kehendak raja untuk mendapatkan pusaka mendiang prabu Pandudewanata ( Gandawastra ) yang bernama cupu Madiwara, konon berisi lisah (minyak) tala, sangat sakti dan bertuah. Barang siapa yang dapat memilikinya, akan terkabul segala permintaannya, sayang sekali pusaka tersebut sekarang jauh di dalam sumur Jalatundha. Kehendak raja tiada berubah untuk memilikinya, patih arya Sakuni beserta para Korawa ditugaskan oleh raja untuk pergi ke sumur Jalatundha mendapatkan cupu Madiwara tersebut, maka berangkatlah mereka menunaikan tugasnya.

Raja pun segera pergi melapor kepada ayah dan ibundanya, ialah bagawan Dastarastra dan Dewi Anggendarim bahwasanya hari itu telah mengutus arya Sakuni dan para Korawa pergi ke sumur Jalatundha untuk mendapatkan cupu Madiwara yang berisi lisah Tala. Bagawan Dastarastra beserta permaisuri sangat bersukacita mendengarnya.

Di kerajaan Bulukatiga, prabu Krepaya berputra dua orang, yang tertua bernama raden Krepa, dan yang muda adiknya bernama Dewi Krepini, yang sudah dewasa juga. Prabu Krepaya berkehendak akan mengawinkan anaknya raden Krepa, patih Dendapati mendukung akan maksud raja. Raja bersabda pula bahwasanya tersiar berira, di seberang daratan negara tetangga, ada suatu kerajaan namanya Cempalareja, raden arya Gandamanalah yang memerintahnya. Pada waktu ini raden Gandamana mengadakan sayembara prang, barang siap yang dapat mengalahkannya dalam pertempuran dengan raden Gandamana, akan mendapat putri boyongan adiknya, yang bernama Dewi Gandawati, lagipula akan dinobatkan menjadi raja di kerajaan Cempalareja.

Kepada raden Krepa, ayahandanya menanyakan apakah bersedia dikimpoikan dengan Dewi Gandawati, dijawab bersedia. Selanjutnya raja bertitah kepada wadyabala raksasanya, utnuk memasuki sayembara prang, kelak jika mereka menang, kepadanya akan diberikan hadiah dan penghargaan. Berangkatlah utusan raja, wadyabala rotadanawa terdiri dari Kalasaramba, Kalasarana, Kalakardana, dan pandu jalannya kyai Togog dan Sarawita, berangkat menuju Cempalareja. Dipertengahan jalan, mereka bertemu dengan wadyabala Astina, sehingga terjadi peperangan.Mereka masing-masing berkehendak untuk melibatkan lebih jauh dalam perselisihan, sehingga kedyua-duanya pun melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Di pertapaan Retawu begawan Abyasa duduk di sanggar pemujaan dihadap cucundanya raden Pamade, beserta para panakawan kyai lurah Semar, Nalagareng, dan Petruk. Telah putus segala ilmu pengetahuan kebijaksanaan dan keperwiraan yang diberikan begawan Abyasa kepada cucunya raden Pamade, kepadanya diperintahkan pada hari itu juga harus cepat-cepat kembali ke praja Amarta. Selanjutnya diberitakan pula, bahwasanya bagawan Abyasa mendapat petunjuk dewata, bahwasanya akan datang di tanah Jawa, pandita yang sangat arif dan bijaksana, lagipula pandita tersebut sangat menguasai segala ilmu dan aji kawijayan. Kepada Para Pandawa ditugaskan untuk mendekati begawan pandita tersebut, dan kepadanya hendaknya yang berisi lisah (minyak) Tala, konon cupu Madiwara tersebut milik prabu Pandudewanata yang dibuwangnya kedalam sumur Jalatunda. Radem Pamade setelah menerima segala sabda sang begawan Abyasa, segera bermohon diri, untuk segera menuju praja Amarta, tak ketinggalan kyai lurah Semar, Nalagareng dan Petruk turut mengiringkannya. Dalam perjalanan menuju Amarta, di tengah hutan bertemu dengan raksasa, terjadilah peperangan, raden Pamade dapat membunuhnya.

Ada seorang raja 'namanya Baratmeja, sangat arif dan bijaksana , algipula sang raja juga seorang resi dan padanya sifat-sifat kepanditaannya sangat menonjol, terkenallah sudah dengan sebutannya raja pandita gunung Jebangan, di tanah Atasangin.Pada suatu ketika raja pandita Baratmeja berkenan berbincang-bincang dengan putranya, yang bernama Bambang Kumbayana, dia tak ubahnya dengan sang raja pandita, muda bijaksana dan sangat sakti memiliki segala ilmu keprajuritan, lagi pula rupawan dan baik hati. Kepadanya raja pandita Baratmeja menyampaikan keinginannya, Bambang Kumbayana diharapkan dengan sangat untuk mencari jodoh, manakala pula sudah waktunya mempersunting kenya. Agaknya Bambang Kumbayana tak dapat memenuhi anjuran ayahandanya untuk segera mencari pasangan hidupny, kepadanya diceritakan pula oleh sang raja pandita bahwasanya di kerajaan Cempalareja tersiar kabar diadakan sayembara prang. Maksud sayembara prang. Maksud sayembara tersebut, barang siapa dapat bertanding dan mengalahkan ksatriya Cempalareja yang bernama Gandamana, si pemenang akan dirajakan di Cempalareja, lagipula akan diperjodohkan dengan saudara tuanya yang bernama retna Gandawati, raja pandita selanjutnya menjelaskan bahwasanya banyak raja-raja yang menginginkan retna andawati, malahan keponakannya sendiri, ialah raden Sucitra malahan telah mendahului pergi memasuki sayembara, Bambang Kumbayana segera diseyogyakan untuk menyusul keberangkatan raden sucitra.Setelah jelas segala yang dipesankan oleh ayahandanya, berangkatlah Bambang Kumbayana ke kerajaan Cempalareja.

Dalam perjalanannya, sampailah sudah Bambang Kumbayana di tepian bengawan yang baru pasang airnya, sangat susahlah Bambang Kumbayana menghadapi keadaan yang demikian itu, sehingga tercetuslah ungkapan janjinya, barang siapa saja yang dapat membawanya ke seberang, kalau lelaki akan dijadikan saudaranya, dan kalau wanita akan dijadikan jodohnya. Janji Bambang Kumbayana didengar pula oleh para Dewa, maka muncullah seekor kuda betina dihadapan Bambang Kumbayana. Sangat senang Bamabng Kumbayana menemukan seekor kuda tinggangan, segera dinaikinya dan dibawanya menyeberang. Manakala sedang di atas kuda, Bambang Kumbayana melamun akan keindahan paras Dewi Gandawati, sehingga dengan tak disadarinya keluarlah airmaninya.

Airmani yang jatuh berubah menjadi buih-buih, k uda betina menjilatinya buih-buih tadi, selama dalam penyeberangan, sudah menjadi kehendak Dewa kuda betina mengandung. Sampailah sudah di seberang bengawan. Bamabng Kumbayana turun dari punggung kuda, namun kuda yang telah dileas, tak mau juga untuk pergi menjauh. Berjkali-kali diusir, sekian kali mendekat pula. Bambang Kumbayana ingat akan janji yang telah diucapkannya, menjadari tindakan kuda betina sangat mencurigakan, jika sekiranya bukan kuda tentu saja gerak-geriknya mengajak untuk bermain asmara. Sangat malu Bambang Kumbayana melihat kejadian tersebut, diunusnya kerisnya dan ditikam, mati.
Keluarlah dari bekas goresan keris yang diperut kuda seorang bayi menangis merengek-rengek, namun bangkai kuda hilang tak berbekas. Bamabng Kumbayana terheran-heran, bayi didekatinya. Tak lama tampaklah seorang bidadari amat cantik turun ke bumi mendekati Bambang Kumbayana, namanya Dewi Wilutama. Sang Dewi mengata-katai Bambang Kumbayana, di mana sudah ingkar akan janjinya. Sadar akan kekeliruannya, Bambang Kumbayana segera memungut bayi, dan menamakan Bambang Aswatama, melanjutkan perjalannya.

Prabu Krepaya, raja dari kerajaan Bulukatiga yang sedang dihadap oleh petihnya yang bernama Dendapati, menerima laporan inang karaton. Bahwasanya putra raja bernama Dewi Krepini, tak sadarkan diri, apa yang menyebabkan inang pengasuh tadi tak dapat melaporkan, tentu saja raja sangat gugup mendengar laporan tersebut, segera raja pergi ke tempat parduan putrinya di dalam kraton.

Setelah raja bertemu dengan permaisuri ialah Dewi Astuti, segera dilaporkannya bahwa putri raja telah sadarkan diri, dan bahwasanya putri raja dalam tidurnya telah bermimpi bertemu dengan seorang ksatriya yang sangat rupawan bernama Bambang Kumbayana, berasal dari Atasangin. Mendengar laporan permaisuri, raja bertekad menemukan Bambang Kumbayana , dan kepada permaisuri raja bersabda akan pergi sendiri, kepada putrinya diperintahkan untuk bersuci diri, memandikan seluruh anggota badannya dengan
Wewangian.

Bambang Kumbayana yang merasa dirinya sangat letih menggendong bayi Bambang Aswatama, beristirahat di bawah pohon yang rindang di tengah hutan. Datanglah prabu Krepaya, setelah dipersilahkan duduk, mereka terlihat dalam percakapan-percakapan yang menarik. Bambang Kumbayana setelah memperkenalkan diri, kepadanya diajukan pengusulan apakah bersedia dijodohkan dengan putri prabu Krepaya yang bernama Dewi Krepini, Bambang Kumbayana menolak. Akhirnya terjadilah peperangan, Bambang Kumbayana dapat ditundukan, dan dibawanya ke kerajaan Bulutiga. Sesampai di istana, Bambang Kumbayana diperintahkan menunggu di luar kadhataon, prabu Krepaya menemui Dewi Astuti sang permaisuri dan putrinya Dewi Krepini, kepada mereka dijelaskan bahwasanya Bambang Kumbayana telah berada di luar kedhaton. Raja memutuskan mereka segera dijodohkan, Dewi Krepini menjadi istri Bambang Kumbayana. Pada suatu malam penganten, Bambang Kumbayana terpaksa menerangkan kepada istrinya ialah Dewi Krepini, bahwasanya bayi yang dibawanya adalah putra Bambang Kumbayana, Dewi Krepini menyadarinya, kepadanya segera disarankan untuk mengambil putra dan untuk disusui bayi bayi Bambang Aswatama, sudah menjadi kehendak dewa. Bayi yang tidak terlahir dari rahim Dewi Krepini, namun keluar juga air susuibu dari Dewi Krepini. Seluruh istana, para kawula praja, prabu Krepaya dan permaisuri Dewi Astuti, sangat bergembira mendapatkan cucu seorang bayi rupawan, menganggapnya sebagai putra pujan (ciptaan). Bambang Kumbayana, pada suatu malam, dikala seluruh isi penghuni istana lelap tidur, pergi meninggalkan istri dan istana Bulutiga, untuk melanjutkan perjalanannya, tak seorangpun yang tahu kemana perginya.
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:41 AM
#114

Kumbayana 2

Raden arya Gandamana, dihadap patih Trustaketu dan wadyabalanya menerima kedatangan ksatriya rupawan dari Atasangin, bernama Bambang Sucitra. Setelah diketahui bahwa kedatangannya tak lain akan memasuki sayembara prang, segera radem arya Gandamana memerintahkan kepada patih Trustaketu untuk mempersiapkan papan laga di alun-alun, di mana keduanya segera memasuki arena pertarungan. Raden arya Gandamana dan Bambang Sucutra bertarung dengan segala kekuatan, mengadu segala kesaktian, namun dengan gada sakti Bambang Sucitra, dan selanjutnya hendaknya dinobatkan menjadi raja menggantikan arya Gandamana, tak lupa segeralah dijodohkan dengan Dewi Gandawati. Jadilah sudah Bambang Sucitra menjadi raja di kerajaan Cempalareja, beristrikan Dewi Gandawati, adapun radem arya Gandamana lolos dari kerajaan pergi menurutkan kehendak hatinya, melanglang bumi.

Dalam perjalanannya, di tengah jalan bertemu dengan Bambang Kumbayana, dan setelah kedua-duanya menjelaskan nama beserta asal lagi pula maksud dan tujuannya, raden arya Gandamana bangkit kemarahannya kepada Bambang Kumbayana, dipukulnya dihajar habis-habisan Bambang Kumbayana . Kadua lengannya dibengkokan, Bambang Kumbayana mengaduh kesakitan, dan jatuh tak sadarkan diri. Bambang Kumbayana segera dilempar jauh-jauh oleh raden arya Gandamana, konon jatuh di bawah pohon Soka yang jumlahnya 5 buah. Hyang Narada dan hyang Bayu turun ke bumi, mendekati Bambang Kumbayana, dan dirinya segera ditetesi air Kamandanu, seketika bangkit dari ketidaksadarannya, akan tetapi sebagian anggota tubuhnya masih teta[ cacadm kaki hidung tangan dan lengan kesemuanya tak sempurna lagi. Bambang Kumbayana setelah menyadari bahwa para dewa mendatanginya, segera memohon kepadanya lebih baik dibunuh saja, daripada cacad diri. Akan tetapi hyang Narada dan hyang Bayu tak mengijinkan Bambang Kumbayana untuk bunuh diri, kepadanya disabdakan bahwa kelak kuasa dewa menjadikannya sebagai guru besar dari para ksatriya di seluruh bumi, lagi pula kepadanya diberi nama Durna, diperkenankan melestarikan tempat di mana dia jatuh sebagai pasramannya, dengan nama Sokalima, bergelarkan pandita, setelahnya para dewa kembali ke kahyangan. Seungkurnya para dewa, para Pandawa yang terdiri dari prabuanom Puntadewa, raden arya Bratasena, raden Pamade, Pinten dan Tangsen menghadap pandita Durna. Sang resi sangat suka hatinya, dan berkenan pula mengajarinya segala ilmu keprajuritan dan kesaktian.

Pada suatu hari, para Pandawa memaksa kepada gurunya sudilah kiranya mengambilkan cupu Madiwara yang berisi lisah Tala, yang konon milik Prabu Pandudewanata almarhum, yang masih merupakan orang tuanya sendiri, sang resi menurutinya untuk mengambilkan cupu Madiwara, mereka segera berangkat menuju sumur Jalatunda.

Dalam perjalanannya menuju sumur Jalatunda, bertemulah mereka dengan prabu Kurupati besrta para Korawa dan patih Sakuni, di mana para Korawa sesuai dengan pertunjuk ayahnya ialah prabu Destarastra, bahwa kelak kemudian hari cupu Madiwara dapat diangkat dari sumur Jalatunda oleh pandita asal dari Atasangin. Bak pucuk dicinta ualam tiba, prabu Kurupati dan adik-adiknya Korawa segera mengaku guru juga kepada pandita Durna, dan sang panditapun menerima mereka sebagai siswa-siswanya. Lajulah mereka menuju ke sumur Jalatunda, mengiringkan kepergian sang pandita Durna. Para Korawa dan Pandawa berdiri berjajar-jajar ditepian sumur Jalatunda, segera pandita Durna memuja mengeluarkan senjata saktinya, berwujud panah barawakan burung, namanya Sarutama. Resi Durna memerintahkan kepada Sarutama utnuk masuk ke dalam sumur mengambil cupu yang di dalam, segera burung Sarutama terbang meluncur ke dalam sumur masuk di air keluar paruhnya sudah memagut membawa serca cupu sakti Madiwara, diterima oleh resi Durna.

Korawa dan Pandawa keduduanya bersikeras untuk mendapatkan cupu Madiwara, resi Durna sangat repot putusannya, sehingga diperintahkan kepada mereka untuk bersabar terlebih dahulu. Pandawa mengusulkan seyoganya cupu diberikan kepada mereka , sebab para Korawa telah diberinya duluan Pandawa tak rela, mengajukan persyaratan sebaiknya sekarang mana lagi yang berat merekalah yang memilikinya Para Korawa diperintahkan oleh prabu Kurupati menyelesaikan timbangan raksasa, para Korawa menikmatinya daya upaya yang sedemikian itu, tentu saja Pandawa yang hanya berjumlah 5 orang akan kalah kalau di timbang dengan Korawa yang berjumlah 100 jumlahnya. Raden arya Bratasena yang mengetahui saudara-saudaranya susah dan menangis segera bangkit kemarahannya, dan timbangan yang telah dimuati oleh 100 orang Korawa, dan timbangannya yang diperuntukan Pandawa, segera dinaiki sendiri oleh raden arya Bratasena, entah dukarenakan apa kemungkinan raden arya Bratasena mengumpulkan segala kekuatannya timbangan yang telah memuat 100 orang Korawa, Akhirnya tak dapat mengimbangi berat badan raden Bratasena, malahan pada waktu raden arya Bratasena naik timbangan, Korawa kocar-kacir terpelanting jatuh semuanya.

Setelah kejadian tersebut. Para Korawa masih mendesakkan maksudnya hendaknya pandita Durna berkenan meluluskan permintaan Korawa memiliki cupu Madiwara, Durna menjawabnya, " Kalian anak-anakku. Korawa dan Pandawa, saya akan menyucikan diri, hendaknya kalian membuatkan sungai yang jernih airnya. Siapa yang terlebih dahulu selesai, kepadanya cupu Madiwara kuberikan," para Korawa serempak bekerja membuat sungai yang diharapkan nantinya akan segera mewadahi dan mengalirkan air guna susuci pandita Durna, malahan sungai hampir selesai dibuat oleh para Korawa. Para Pandawa, terutama prabu Yudistira, raden Pamade, Pinten dan Tangsen bertangisan, dalam hati mereka mana bisa 5 orang akan menandingi kecepatan 100 orang Korawa, tentu saja cupu Madiwara akan doperoleh orang-orang Korawa, Raden Arya Bratasena merasa dirinya dihina oelh para Korawa kepada saudara-saudaranya diseyogyakan berdiam diri jangan menangis,dia sendiri yang akan melebur para Korawa. Semar yang mengetahui kesusahan para Pandawa segera bersemadi, dipujanya seorang wanita yang sangat cantik, kepada wanita itu diperintahkan untuk berjalan kian kemari dihadapan raden arya Bratasena , seakan-akan meledeknya.

Malahan ditegaskan kepadanya, hendaknya bertingkah apa saja sehingga nantinya raden Bratasena dapat bangkit kebirahiannya. Sudah menjadi kehendak dewa, agaknya raden arya Bratasena memang terlena melihat tingkah laku wanita yang berjalan mondar-mandir dihadapannya dengan penuh membangkitkan selera napsunya. Tak disadarinya keluarlah air maninya,jatuh membasahi bumi tenggelam ke dalam , membentur sumber air yang di dalam bumi, air jernih segera tersembul mancur keluar bak banjir, terjadilah sudah bengawan yang airnya sangat jernih. Pandita Durna yang mengetahui bengawan buatan para Korawa meski sudah jadi tetapi belum mengeluarkan air, segera merendam diri menyucikan diri di bengawan buatan para Pandawa, sesudah selasai segera naik ke darat, selanjutnya bengawan tersebut dinamakan kali Sarayu. Agaknya sudah menjadi kehendak para dewa kalau Korawa selalu mengakali para Pandawa akan selalu menemui kegagalan. Kepada para Korawa dan Pandawa, begawan Durna meminta kesediaannya yang terakhir, barang siapa yang dapat mengalahkan membunuh raden Gandamana, dialah yang berhak akan cupu Madiwara. Korawa setelah menerima pernyataan tersebut segera berangkat mencari raden Gandamana, demikian pula para Pandawa mengikuti keberangkatan para Korawa.

Bertemulah sudah para Korawa dengan raden Gandamana yang sesungguhnya masih pamandanya sendiri. Kepada raden Gandamana prabu Kurupati menyampaikan maksud yang sebenarnya, demikian halnya raden Gandamana menanggapinya dengan marah, dan terjadilah peperangan, Korawa dapat dipukul mundur. Para Pandawa yang mengetahui para Korawa dapat dikalahkan oleh raden Gandamana, akhirnya mendekati raden Gandamana, dan dengan segala kerendahan hatinya mereka menyampaikan maksud kedatangan nya, tak lain diutus oleh begawan Durna untuk membunuhnya, sebab jika hal tersebut terlaksana kepada mereka akan diberikan cupu Madiwara yang berisi lisah tala, yang konon milik almarhum orang tua mereka sendiri saja Pandudewanata. Raden Gandamana dengan asyik mendengar uraian para Pandawa, dan iba hatinya kepada mereka.

Kepada arya Bratasena raden Gandamana menyarankan seyogyanya dia yang menandingi dalam adu kesaktian, jadilah sudah mereka bergelut disaksikan oelh begawan Durna. Berkatalah begawan Durna kepada arya Bratasena, " Wahai anakku Bratasena, lekas bunuhlah si Gandamana."

Arya Bratasena pura-pura membunuhnya, dengan jalan dilemparkannya jauh-jauh raden Gandamana, dan segera melapor bahwa dia telah membunuh raden Gandamana, begawan Durna senang hatinya mendengar laporan arya Bratasena.

Cupu Sarutama dihadiahkan kepada raden Pamade, kembalilah sabg begawan kepertapaan Sokalima, para Pandawa kembali pula ke tempat masing-masing. Korawa masih juga mengamuk, manakala mengetahui cupu Madiwara diberikan kepada raden arya Bratasena, namun dapat dikalahkan.
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:43 AM
#115

PANDAWA APUS ( DIPERDAYAKAN)

Prabu Suyudana, dari negara astina menerima kedatangan saudara-saudaranya Pandawa, prabu Yudistira raden Wrekudara, Arjuna Nakula dan Sadewa. Mereka diundang untuk suatu keperluan pesta-pora di Astina, tetapi maksud yang sebenarnya kedatangan mereka di Astina, akan dibunuh kesemuannya. Terlaksanalah maksud prabu Suyudana, setelah minuman dan makanan diedarkan dan diminum, disantap oleh para Pandawa, matilah mereka. Prabu Suyudana segera memerintahkan, untuk melabuh jenazah Yudistira, Nakula, dan Sadewa ke gua Srigangga, jenazah Wrekudara ke sumur Jalatunda, Arjuna jenasahnya dilabuh ke samudra.

Syahdan Hyang Baruna menemukan jenazah raden Arjuna, segera dihidupkan kembali, kepadanya dipertemukan dengan puterinya Dyah Suyakti, dan dianjurkan untuk segera pergi ke gua Srigangga untuk menemui Dewi Suparti istri Hyang Anantaboga, berangkatlah Raden Arjuna ke gua Srigangga.

Di tengah hutan, bertemulah dengan sepasang yaksa, terjadilah peperangan, akhirnya mereka ditewaskan oleh Raden Arjuna, sehingga jenazah sepasang raksasa tersebut, kelihatanlah Hyang Kamajaya dan Dewi ratih. Arjuna diberi penjelasan-penjelasan yang perlu dan kepadanya dipersilahkan melanjutkan perjalanannya ke gua Srigangga.

Di Saptapratala, Hyang Anantaboga menerima kedatangan Dewi Nagagini, yang membawa jenazah Raden Werkudara. Segera oleh Hyang Anantaboga dihidupkan kembali dan kepadanya diberitakan untuk segera berkumpul dengan saudara-saudaranya di gua Srigangga sebab semuanya telah selamat. Berangkatlah Werkudara menuju gua Srigangga.

Raden Arjuna yang telah menghadap Dyah Suparti, memohon hendaknya berkenan menghidupkankembali ketiga jenasah saudara-saudaranya, sang dewi menyanggupinya, segera mereka dihidupkan kembali. Dyah Superti segera bersabdakepada mereka, “ wahai puteraku Pandawa, pergilah kalian kembali ke negaramu Amarta, sebab dipati Karna telah merampas Amarta,” sebelum mereka memohon diri, randen Sena pun telah menghadap mereka kesemuanya memohon diri.

Di Amarta, Karno bersepakat dengan Patih Arya Sakuni dan para Korawa untuk membawa Dewi drupadi dan para wanita di istana Amarta, sebelum maksudnya terlaksana, Gatotkaca dan Antasena masuk istana, terjadilah peperangan. Dipati Karna maju, karena merasa para Korawa kalah perangnya dengan Gatotkaca, dilepasinya Gatotkaca dengan senjata panah Wijayadanu, matilah Gatotkaca, bangkainya terbuang jauh.

Diperjalanan, ditengah hutan, Prabu Yudistira menemukan jenasah kedua kemenakannya raden gatotkaca dan Antasena. Melihat bahwasanya kedua putera kemenakannya telah tewas, marahlah semuanya, bertekad bulad akan membalsa kematianmereka, akan membunuh para Korawa. Bertemulah mereka dengan para Korawa, terjadilah peperangan, Korawa kalah, Adipati Karna berlaga dengan raden Arjuna, rame sekali. Resi Abiyasa, segera meniup dari akasa, melerai peperangan antara Arjuna dan Adipati Karna, belum masanya mereka bertempur mati-matian. Segera resi Abiyasa membawa semua cucunya ke Saptaarga. Dipati Karna yang mengetahui campur tangan resi Abiyasa,, merasa dirugikan segera mngerahkan prajurit Kurawa, untuk segera menyusulnya ke Saptaarga.

Terjadilah peperangan di Gnung Saptaarga, Korawa dapat diundurkan Rwerkudara dam Arjuna. Banyak petuah-petuah yang diberikan Abiyasa kepada para Pandawa, kepada mereka selalu diingatkan hendaknya selalu merendahkan diri, ingat kepada Hyang Sukmakawekas, berhati-hati dalam segala ucap dan langkah.

Para Pandawa kesemuanya menyanggupkan diri menaati petuah Resi abiyasa, demikian pula jenasah Antasena telah diserahkan kepada Hyang Antaboga untuk dihidupkan kembali. Selesai peperangan ereka merayakan dengansenang hati, sebab terhindar dari malapetaka yang menimpanya.
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:44 AM
#116

Pandawa Pitu

Duryudana, sangat kecewa karena Prabu Baladewa akhir-akhir ini lebih sering menyatu dengan para Pandawa, seperti juga Prabu Kresna.

Dengan demikian, Pandawa bukan hanya lima, tetapi tujuh (pitu - Bhs. Jawa).

Di Keraton Amarta, Prabu Baladewa, Prabu Kres-na dan kelima Pandawa memang sedang berkumpul. Mereka mendengarkan wejangan Bima, mengenai ilmu Kawruh Panunggal.

Penyebaran ilmu itu membuat para dewa marah, sehingga Batara Guru menugasi Batara Narada untuk memanggil Bima ke kahyangan untuk dijatuhi hukuman. Bima bersedia dihukum, tetapi para Pandawa lainnya dan Prabu Baladewa serta Kresna setia kawan. Mereka juga ikut ke kahyangan untuk menerima hukuman.

Sementara itu di Kerajaan Tunggulmalaya, Batari Durga memberitahukan tentang Pandawa yang pergi ke kahyangan untuk menerima hukuman. Ia menyuruh Dewasrani menaklukkan Amarta, agar Dewasrani dapat menjadi Jagoning dewa menggantikan Arjuna. Namun, serbuan Dewasrani berhasil ditumpas para putra Pandawa.

Di Kasatrian Madukara, Dewi Dewi Subadra dan Dewi Srikandi sangat sedih dan marah karena para Pandawa akan mendapat hukuman dari dewa. Mereka lalu triwikrama, berubah ujud menjadi brahala, Badrayaksa dan Kandiyaksa.

Kedua rakseksi itu pergi ke kahyangan untuk menuntut dipulangkannya para Pandawa.

Tak lama kemudian, di kahyangan, para Pandawa berbantah dengan Batara Guru. Karena murka, oleh Batara Guru para Pandawa akan dimasukkan ke dalam Kawah Candradimuka. Sementara itu ketika Arjuna akan masuk ke Kawah Candradimuka, semua bidadari akan ikut mencebur pula.

Pada sat itu, Badrayaksa dan Kandiyaksa telah sampai di kahyangan, dan langsung mengamuk. Para dewa tak ada yang sanggup menandingi.

Atas seizin Batara Guru, Batara Narada lalu minta agar Pandawa menghadapi kedua brahala yang mengamuk itu. Jika berhasil, Pandawa akan dibebaskan dari hukuman. Bima tidak mau. Dia dan saudara-saudaranya baru akan turun ke gelanggang perang, kalau Pandu Dewanata dan Dewi Madrim dikeluarkan dari neraka dan dipindahkan ke sorga. Tuntutan itu dipenuhi.

Setelah para Pandawa berperang tanding dengan Badrayaksa dan Kandiyaksa, kedua brahala itu beralih ujud kembali menjadi Dewi Subadra dan Srikandi.
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:47 AM
#117

PANDAWA PUTER PUJA

Syahdan Raja Astina Parbu Suyudana hadir di pasewakan dihadap oelh putra mahkota Raden Lesmana Mandrakumara, pendita praja Astina Dhahyang Drona, Patih Sakuni, Adpati Awangga Karna dan segenap para Korawa, Raden Arya Dursasana, Raden Kartamarma, Raden Durmagati, Raden Citraksa, dan Raden Citraksi. Pokok perembugan raja berkisar pada sabda jawata yang diterimanya, bahwasanya sang Raja diperintahkan untuk mengadakan semadi di laladan luar istana Astina, jika akan mencapai terlabulnya cita-cita. Raja berkebulatan hati untuk melaksanakan puter puja, kepada Pandita Durna diperintahkan turut serta. Adapun Patih Arya Sakuni, dan para Korawa ditugaskan tinggal di istana menjaga tata-tirtib keamanan selama raja melaksanakan hajatnya.

Permaisuri raja Dewi Banowati tak ketinggalan diberitahu juga oleh raja, demikian pula putri raja yang bernama Dewi Lesmanawati. Seluruh istana Astina berharap semoga puter puja yang dilaksanakan oleh raja akan lulus selesai tak ada aral yang merintanginya. Setelah segala sesuatu persiapan selesai, berangkatlah raja diiringi Pandita Praja Dhahyang Drona menuju hutan Krendawahana, suatu tempat terkenal keganasannya dikarenakankahyangannya Batari Dirga.

Di kerajaan Nungsakambang, Prabu Jayabirawa dihadap oleh Patih Siwanda dan beberapa wadyabala yaksa. Raja Nungsakambang berkenan mengutarakan isi hatinya, bahwasanya tersiar berita pada waktu ini ratu-ratu di tanah Jawa sedang tekun mengadakan puter puja bertempat di hutan Krendayana, Kepada Patih Siwanda dijelaskan pula, usaha raja-raja tanah Jawa mengadakan puter puja itu harus dihalangi jangan sampai terlaksana, sebab akan berbahaya bagi raja Nungsakambang. Wadyabala raja yang berujud siluman si Jaramaya, Sadumiya, dan Doramiya diperintahkan oleh raja untuk segera berangkat ke hutan Krendayana mencari raja yang sedang puter puja, tugas utamanya mengoda dan menghalangi terlaksananya usaha tersebut. Lengkaplah sudah wadyabala Nungsakambang yang akan melaksanakan tugas, dalam perjalanannya menuju ke hutan Krendayana bertemu dengan prajurit-prajurit dari Astina. Ternyata kedua-duanya tak dapat menghindarkan diri dari peperangan, namun tak sampailah peperangan itu meluas. Sehingga kedua pasukan merasa perlu untuk melanjutkan tugasnya masing-masing.

Di pertapaan Retawu Resi Abyasa dihadap oleh cantrik, tan jauh dari sang Resi kelihatan pula cucu sang Begawan ialah Raden Angkawijaya dan Raden Arya Gatutkaca, yang selalu diikuti oleh Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Masalah pokok yang dibicarakan mengenai permohonan mengenai permohonan doa restu kepada para pepunden Pandawa yang sedang mengadakan puter puja. Resi Abyasa setelah memberikan restunya, Raden Angkawijaya dan Raden Arya Gatutkaca segera diseyogyakan untuk kembali. Lajulah kedua satriya tadi dalam perjalanannya diikuti oleh ketiga panakawan, Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Sekembalinya para satriya sanga Bagawan segera masuk ke dalam sanggar pamujan, memohon kepada dewata semoga cucundanya Pandawa yang sedang mengadakan puter puja dalam keadaan selamat.

Tersebutlah dtya seluman utusan dari Prabu Jayabirawa Nungsakambang dalam tugasnya menuju ke hutan Krendayana, dipertengahan perjalanannya bertemu dengan Raden Angkawijaya dan Raden Arya Gatutkaca. Kedua ksatriya setelah mengetahui bahwasanya mereka itu tak lain pra-aditya yang akan mengganggu lulusnya para Pandawa mengadakan puter puja, terlihat dalam percecokan akhirnya memuncak menjadi peperangan. Kadua-duanya bertempur dengan segala akal dan kekuatan, namun kedua ksatriya tersebut tak kuasa menandinginya. Meski para dtya tadi tidak dapat mati, namun dirasakan juga berlaga menghadapi kedua kesatriya ini pun tak semudah apa yang diduga. Sehingga ajhirnya kemarahan mereka timbul, segeralah mereka mempergunakan aji panglimunannya, serta melepaskan aji kemayan dan lisah(minyak) Muksala. Raden Angkawijaya dan Raden Arya Gatutkaca setelah kedua-duanya terkena aji kemayan, barulah mereka menjadi arca. Kyai Semar, Nalagareng dan Petruk yang mengetahui kedua Gusti mereka berubah wujudnya menjadi arca segera meninggalkan medan laga untuk segera melapor ke praja Madukara.

Konon Parabu Suyudana yang menjalankan hajat mengadakan puter puja telah sampai di hutan Krendayana, dengan ditemani oleh Pendita Astina Dhahyang Drona. Para Korawa yang mengantarkan telah diperintahkan untuk segera kembali ke Astina. Prabu Suyudana dan Dhahyang Drona di dalam hutan Krendayana bertemu dengan seorang pertapa yang menjalankan tapanya dengan cara membisu. Sang Raja bertanya kepada Begawan Lanowa, " Hai sang Begawan, apakah kiranya tapa anda itu mempunyai maksud-maksud tertentu. Jika anda tidak berkeberatan, sudilah kiranya kepada kami diberitakannya ", namun sang Begawan Lanowa tetap membisu, tak sepatah kata pun terucap. Pandita Drona yang telah mengetahui keadaan sang Begawan Lanowa, segera menghimbaunya dan menerangkannya panjang-lebar kepada Begawan Lanowa. Bahwasanya kedatangannya di hutan Krendayana, tak lain mengantarkan Raja Suyudana melaksanakan pesan jawata mengadakan puter puja. Kepada Begawan yang membisu, pertanyaan terucap dari Dhahyang Drona, " Sang Begawan, apakah gerangan yang menjadi tujuan anda bertapa di dalam hutan Krendayana yang sangat berbahaya dan gawat ini ?" Begawan Lanowatertegun sejenak, dan sudi menjawabnya," Wahai para pendatang, ketahuilah bahwasanya yang menjadi tujuan bertapa di dalam hutan Krendayana ini, bukanlah semata-mata bertapa untuk keperluanku pribadi. Melainkan aku menggentur tapa ini, untuk anak menantu saya yang bernama Raden Arjuna." Prabu Suyudana yang mendengarkan jawaban dan keterangan Begawan Lanowa teramat marahnya, akhirnya Begawan Lanowa dibunuh. Namun Prabu Suyudana, " Hai Prabu Suyudana, apalah salahnya orang tua yang sangat mengasihi anak menantunya, menapakannya. Kathuilah, kematianku ini akan kutuntut balas kepadamu, besuk kelak jika sekiranya waktu telah datang mengskala Baratayuda terjadi." Setelah bersuara muksalah badan sang Begawan Lanowa, Raja Suyudana dan Pandita Durna tertegun sejenak mendengarkan ancaman Begawan Lanowa, namun tiada berapa lama segeralah Raja Suyudana melanjutkan hajatnya menunaikan puter-puja dengan didampingi oleh Pandita Durna.

Dipraja Madukara Raden Arjuna dihadap oleh para istrinya, Dewi Subadra dan Dewi Srikandi. Selagi mereka berbincang-bincang masuklah Kyai Semar sambil menangis, tersendat-sendat ucapnya melapor kepada Raden Arjuna, " Raden, ketahuilah putramu Raden Angkawijaya sekembalinya dalam perjalanannya pulang, dengan putramu Raden Arya Gatutkaca telah disergap oleh raksasa-raksasa yang sangat tangguh dan ampuh. Terbukti dalam peperangan itu, putra-putramu telah dikalahkan dan kesemuanya telah berubah ujud menadi arca. Raden akan hal ini terserah Raden saja bagaimana jalan sebaiknya untuk mengatasi keadaan yang gawat ini." Raden Arjuna yang dengan tekun mendengarkan laporan panakawannya Kyai Semar, tak terkendalikan lagi amarahnya.Kepada kedua istrinya berpamit akan menyelesaikan masalah Raden Angkawijaya dan Raden Arya Gatutkaca. Kadua istrinya sangat bersyukur, dan memanjatkan doa semoga apa yang dilakukan suaminya dapat berhasil, dijauhkan dari aral yang melintang. Raden Arjuna segera laju mencari putra-putranya diiringkan oleh Semar,Nalagareng, dan Petruk.

Namun dalam perjalanannya menuju ke hutan Krendayana, belum lagi sampai baru menginjak di hutan tarataban, bertemulah sang Arjuna dengan Hyang Batari Durga yang telah merubah wajahnya menjadi seorang wanita yang sangat cantik wajahnya, bernama Dewi Talimendang. Pada pandangannya yang pertama Raden Arjuna sudah sangat tertarik dengan Dewi Talimendang, tidaklah mengherankan cita-citanya harus tercapai. Namun ketika Dewi Talimendang dikejar-kejar oleh Raden Arjuna, berubahlah Dewi Talimendang menjadi ujud semula ialah Hyang Batari Durga. Raden Arjuna diumpatinya disumpah-sumpah, " Hai anaku Arjuna, tingkah-lakumu tidak senonoh, ksatriya bagaikan seekor banteng." Abda Hyang Batari kepada Raden Arjuna merubah keadaan Raden Arjuna dari seorang satriya menjadi wujud binatang banteng. Manakala berubah wujudnya menjadi seekor banteng Hyang Batari Durga masih diburunya, namun manakala pula tampak olehnya wajahnya berubah wujudnya menjadi wujud binatang banteng, Raden Arjuna sangat sedih hati dan menghentikan pemburuannya terhadap Hyang Batari Durga. Kyai Semar Nalagareng, dan Petruk yang merasa ketinggalan oleh kepergiaannya Raden Arjuna segera kembali, adapun si banteng sendiri laju menuju ke kerajaan Dwarawati.
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:48 AM
#118

PANDAWA PUTER PUJA 2

Di Kerajaan Dwarawati Prabu Kresna menerima laporan dari Patih Udawa, bahwasanya di luar kraton tampak olehnya seekor banteng mengamuk. Sri Kresna segera tanggap sasmita dan meninggalkan pendapa kraton. Segera menuju ke luar untuk menyongsong banteng yang sedang mengamuk. Setelah tampak olehnya, agaknya banteng pun merasa dirinya tidak asing lagi dengan Sri Kresna. Di dekatinya Sri Kresna, tingkah-lakunya si Banteng menunjukkan iba hatinya Sri Kresna. Segeralah Sri Kresna merubah dirinya menjadi seprang anak bajang (pendek dan kecil keadaan tubuhnya) dengan nama Jaka Sungkana. Kepada banteng yang sedang mencium-cium kaki Sri Kresna seakan-akan banteng menghaturkan sembahnya, Sri Kresna yang telah merubah dirinya menjadi anak bajang bernama Jaka Sungkana mengajaknya untuk pergi. Banteng sekarang bernama Andini, dengan gembalanya anak bajang bernama Jaka Sungkana laju melesat menuju ke Kerajaan Nungsakambang.

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa berkata kepada adiknya Raden Arya Wrekodara, " Duhai adik-adikku kesemuanya, Arya Wrekodara, Nakula, dan Sadewa. Kiranya hari ini waktu yang baik sekali bagi kita semua untuk melakukan hajat semadi, melaksanakan puter puja. Kalian kesemuanya menyertaiku ", segeralah Prabu Puntadewa diiringi oelh adik-adiknya pergi menuju ke hutan Krendayana untuk melaksanakan puter puja.

Di tengah hutan Krendayana Prabu Puntadewa bersama-sama adiknya dalam perjalanannya menemukan arca, berbentuk seekor gajah. Konon arca yang berbentuk gajah putih tersebut, menunjukkan tempat bekas Raden Gajahhoya. Di tempat itulah Sri Puntadewa dan adik-adiknya memulai samadi, tak lama turunlah Hyang Narada dan Hyang Endra dari Suralaya mendekati Sri Puntadewa dan adik-adiknya. Berkatalah Hyang Narada, " Wahai Kaki Puntadewa, kedatanganku adalah diutus oleh Hyang Girinata untuk menjelaskan membaritahukan kepada hal-hal sebagai berikut. Bahwasanya kaki Puntadewa dikehendaki oleh dewa untuk menjadi raja di Pulau Jawa, selanjutnya para Pandawa besuk akan keluar sebagai pemenang dalam perang Bratayuda, lagi pula segala peraturan-peraturan undang-undang yang telah aku jelaskan kepadamu sebagai penetap agama hendaknya ditaati," Sri Yudhistira dan adik-adiknya sangat bersyukur kepada dewa atas karuniah yang telah dilimpahkan kepadanya dan saudara-saudaranya. Setelah bertemu agak lama, kembalilah Hyang Narada dan Hyang Endra ke Suralaya. Sri Puntadewa dan adik-adiknya kembali manuju ke pura Amarta.

Prabu Birawa raja Nusakambang sedang menerima kedatangan Hyang Batari Durga, di samping Patih Siwanda. Diberitakan oleh Batari Durga bahwasanya Raden Arjuna sekarang telah mati, suka-citalah Prabu Birawa mendengarkannya. Setelah menjelaskan hal tersebut, kembalilah Batari Durga ke kahyangannya. Di alun-alun Nungsakambang terlihat banteng mengamuk dengan penggembalanya seorang anak kecil, yang tiada lain Jaka Sungkana dengan banteng Andini. Keadaan menjadi kacau oleh amukan banteng, raja Birawa menerima laporan perihal tersebut. Keluarlah sang Raja dari istana, menuju ke alun-alun dengan maksud akan menghalau banteng tadi. Oleh kesaktiannya Patih Siwanda merubah dirinya menjadi seekor harimau dan bertanding dengan banteng Andini, terjadilah pertarungan seru dan sengit.

Demikian pula Raden Jaka Sungkana bertanding melawan Prabu Birawa,lama-kelamaan banteng Andini kembali berujud Raden Arjuna, Raden Jaka Sungkana kembali ujudnya menjadi Sri Kresna. Sadarlah Sri Kresna lawan apa yang dihadapinya, segera senjata sakti berujud cakra dilepaskan, Prabu Birawa terkena babar kembali menjadi Hyang Kala. Adapun Patih Siwanda kembali ujud mulanya menjadi Hyang Kalayuwana. Kedua-duanya setelah babar kembali ujud semulanya, laju ke kahyangannya amsing-masing.Sri Kresna dan Raden Arjuna segera melanjutkan usahanya untuk menemukan saudara-saudara Pandawa lainnya. Sampailah mereka di hutan tarataban, dilihatnya ada sepasang arca bagus-bagus rupanya. Menyadari ada hal-hal yang janggal, Sri Kresna segera mendekati kedua arca tersebut dan bersemadi untuk memohon ruwatnya (hilangnya gangguan) kedua arca tersebut. Dewata mengabulkan, kedua arca teruwat kembali asalnya. Berujud Raden Angkawijaya dan Raden Gatutkaca. Setelah mereka melapor dari awal sampai akhir kepada Sri Kresna dan Raden Arjuna, kembalilah mereka bersama-sama menuju ke praja Amarta. Selagi mereka dalam perjalanannya menuju ke praja Amarta, bertemulah dengan Sri Puntadewa, Raden Arya Wrekodara, Raden Nakula dan Raden Sadewa. Agak lama pertemuan itu terjadi, saling melepaskan kerinduannya masing-masing. Akhirnya bersepakat kesemuanya kembali ke praja Amarta.

Prabu Suyudana dan Dhahyang Drona berembug dengan Patih Sakuni dan para Korawa perihal gagalnya raja mengadakan puter puja, dan hal-hal yang mengkhawatirkan raja dikarenakan telah dibunuhnya seorang pendeta yang tidak berdosa bernama Begawan Lanowa. Apa lagi raja sangat menyesalinya mengingat akan kutukan-kutukan sang Begawan keoada raja, bahwasanya besok akan kalah perangnya dalam Bratayuda. Tresiarnya berita bahwasanya para Pandawa telah berhasil mendapatkan perlindungan-perlindungan dari para dewa, terbukti para Pandawa kelihatan berhasil pula dalam menjalankan puter pujanya di hutan Krendayana. Raja sangat mengiri kepada para Pandawa, diperintahkanya para Korawa untuk segera menyerang dan menghancurkan para Padawa. Wadyabala Astina laju menuju ke pura Amarta, dengan segala kekuatanya.

Sekembalinya Sri Yudhistira dan adik-adiknya, beserta Sri Kresna di Amarta tiada lain yang dibicarakan perihal berhasilnya para Pandawa melaksanakan puter puja, di hutan Krendayana. Sebaliknya Sri Kresna pun menguraikan dari awal sampai akhir segala kejadian yang dialaminya menghadapi Kerajaan Nungsakambang. Selagi mereka berbincang-bincang mengenang pengalaman masing-masing, tersiarlah berita bahwasanya di lur ramai dibicarakan para wadyabala datangnya para Korawa yang mengamuk. Sri Puntadewa memerintahkan kepada adiknya Raden Arya Wrekodara untuk menanggulangi para Korawa yang akan merusak menyerang praja Amarta, dikarenakan tidak senang melihat para Pandawa berhasil dalam melakukan puter pujanya di hutan Kredayana. Arya Wrekodara tampil ke depan berhadapan dengan para Korawa, perang seru dan ramai terjadi. Namun para Korawa yang terdiri dari pemuka-pemukanya, tampak antaranya Raden Arya Dursasana, Raden Arya Jayadrata, Raden Kartamarma, Raden Durmagati, Raden Citraksa, Raden Citraksi dengan segenap prajuritnya dapat dipukul mundur oleh Raden Arya Wrekodara. Kembalilahpara Pandawa berkumpul, utnuk berucap syukur kepada dewa dikarenakan telah terhindar dari aral yang melintang ,berhasil dalam melakukan hajat puja. Amanlah sudah Kerajaan Amarta, para kawula praja turut bersuka-cita.
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:49 AM
#119

Pandu Papa

Di balairung negeri Astina, raja Pandu sedang memperbincnagkan rencananya hendak berburu. Patih Jayayitna dan para pembantunya lalu bersiap-siap. Kepada patih Samarasanta raja Pandu memerintahkan supaya merubah tata hias istana Astina, disesuaikan dengan tata hias Endrabawana. Kedua patih menyatakan kesanggupannya. Pandu lalu kembali ke Adstina.

Setibanya di dalam istana, Pandu lalu duduk bersama kedua permaisurinya yakni Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Setelah menjelaskan apa yang diperintahkan kepada kedua patihnya, Pandu lalu masuk ke dalam pemujaan.

Di luar, yakni di paseban, kedua patih Astina membagi tugas. Patih Jayayitma mempersiapkan segala keperluan untuk berburu ke hutan. Sedangkan patih Smarasanta memerintahkan Arya Sakata untuk melakukan segala persipan dalam tugasnya merubah tata hias istana Astina.

Tersebutlah di bukit Mestri, Resi Metreya baru saja selesai bersemedi. Ia mendapat anugerah dewata berupa mantra yang dapat mendatangkan apa saja yang ia minta. Melihat istrinya yang tampak sedih karena melaratnya, resi Metreya menghibur, agar tidak bersedih karena sudah ada isyarat yang dapat menghilangkan kesedian. Akan tetapi ternyata yang diminta oleh Endang Basusi, demikian nama istri Resi Metreya, bukanlah harta, melainkan agar dirinya yang sudah tampak tua lagi jelek, dapat berubah menjadi muda kembali serta cantik jelita. Keinginannya dikabulkan. Endang Basusi menjadi wanita mudalagi sangat cantik parasnya. Hal ini menjadikan dirinya menjadi sangat terkenal sehingga banyak sekali orang laki-laki yang datang melihatnya, dan tidak jarang di antara mereka yang datang itu menggodanya. Tentu saja hal itu membuat resi Metreya cemburu. Bagi Endang Basusi sendiri pun hal itu tidak menyenangkan. Resi Metreya lalu mengucapkan mantranya agar istrinya kembali menjadi jelek. Demikian jeleknya hasil mantra resi Metreya, karena istrinya menjadi mirip seekor anjing. Manusia mirip anjing ini pun menjadi tontonan orang. Hal ini membuat Endang Basusi beserta Metreya sangat malu. Mantranya hanya tinggal sekali lagi saja dapat ia pakai. Resi Metreya lalu mengucapkan mantranya, dengan permohonan agar istrinya kembali ke rupa asalnya semula. Kedua suami istri itu mohon ampun kepada dewa, dan akhirnya mendapat anugerah lagi, yakni mantra yang dapat merubah sesuatu benda menjadi emas. Dengan emas hasil mantra itu kehidupan Resi Metreya dapat tertolong. Dari kehidupan yang sangat melarat nberubah menjadi kecukupan.

Begawan Sapwani di Giyacala dengan tekun memohon kepada dewata agar dikaruniani anak. Permohonannnya lalu dikabulkan. Tak lama kemudian istrinya mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, yang setelah besar menjadi pemuda gagah. Begawan Sapwani selalu memohon kepada dewa agar anaknya selalu mendapat lindngan dewa.

Di Astina patih Jayayitna melapor bahwa p[ersiapan untuk berburu telah selesai,. Raja Pandu sangat gembira lalu segera berangkat ke Hutan perburuan.

Para dewa hendak menghukum raja Pandu yang telah berani merubah tata hias Astina menjadi kesupa dengan Endrabawana. Untuk itu dewa menurunkan putra Batara Yama ke bukit Kisasa. Anak dewa Yama menjadi pendeta di Kilasabergelar Resi Suhatra. Resi Suhatra jatuh cinta kepada anak empu Dwara yang bernama Ragu, namun empu Dwara tidak memberikannya karena Suhatra berujud raksasa yang menakutkan. Resi Suhatra akhirnya memanggil rara Rgau dengan daya ciptanya, Rara Ragu dan Suhatra berubah duirinya menjadi dua ekor kijang jantan betina, kemudian masuk ke dalam hutan dan leluasa kasih-kasihan. Empu Dwara yang kehilangan anaknya lelu berangkat mencarinya dibantu oleh sanak keluarganya.

Di tempat perburuan raja Pandu, Kijang penjelmaan Ragu dan Suhatra terperangkap ke dalam perangkap. Kijang betina berkeluh kesah seperti layaknya manusia, sehingga menarik perhatian Pandu. Ketika Pandu mendekat, kijang jantan segera mengata-nngatai Pandu dengan ucapan-ucapan yang membangkitkan amarah. Raja Pandu marah dan kedua kijang itu segera ia panah sampai mati. Kijang jantan musnah, sedangkan kijang betina berubah menjadi mayat seorang wanita. Mayat Ragu diserahkan kepada Empu Dwara dengan memberikan uang duka secukupmnya.

Di Suralaya, Indra sedang membicarakan laknat yang akan dijatuhkan kepada raja Pandu. Keputusannya, raja Pandu akan dicabut nyawanya, dan beserta raganya akan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka. Yang diberi tugas adalah batara Yama.

Di Astina, raja Pandu tiba-tiba sakit parah. Segala macam obat tidak ada yang mampu mengurangi penyakitnya. Resi Abiyasa menasehati Dewi Kunti supaya bersabar dan pasrah, karena sudah takdirnya raja Pandu akan sampai ajalnya, bersama-sama Dewi Madrim. Ketika jiwa dan raga raja Pandu sudah dibawa oleh batara Yama ke Suralaya dan akan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka datanglah resi Abiyasa ke kahyangan, minta kepada para dewa mengampuni Pandu. Hukuman atas semua kekeliruan-kekeliruan Pandudewanata, untuk itu resi Abiyasa akan menebus kesalahannya, dengan jalan, keturunan prabu Pandudewanatalah (Pandawa) yang nantinya akan menebus segala kesalahannya.
Hyang Surapati berkenan dihatinya, dan memerintahkan prabu Pandudewanata dan Dewi Madrim untuk selanjutnya dimasukkan di surga, tidak dikawah Candradimuka, tempat menghukum para manusia yang dianggap berdosa terhadap dewa.

Resi Abyasa segera memohon diri, di Astina segera bersabda kepada resi Bisma, “Mulai sekarang, hendaknya disaksikan, bahwasanya kakak prabu Pandudewanata, prabu Dretarastra, akan menggantikan kedudukannya, menjadi raja di Astina, dengan gelar prabu Dretanagara.” Selanjutnya, segala pusaka antara lain pusaka Kalimasada, minyak tala yang dahulunya dimiliki oleh prabu Pandudewanata, sekarang dihimpun oleh resi Abyasa, dengan penjelasan, dikelak kemudian hari akan dibagi-bagikan kepada siapa yang berhak menerimanya.

Resi Abyasa dengan membawa Dewi Kunti, pula cucunya dan para sesepuh abdi prabu Pandudewanta ke gunung Saptaarga. Tentramlah kerajaan Astina, dibawah pemerintahan prabu Dretarastra, atau prabu Dretanagara.
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:50 AM
#120

Semar Kuning

Prabu Kresna yang ingin menikahkan Siti Sundari anaknya dengan Abimanyu, anak Arjuna. Karena Prabu Kresna tahu bahwa Abimanyu mendapatkan wahyu raja yang akan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa. Namun perkawinan itu ditentang Semar karena karena saat itu Arjuna sedang bepergian dan supaya menunggu terlebih dahulu.

Tapi nasehat Semar ini ditolak Kresna bahkan Semar dituduh menentang kebijaksanaan raja, dan atas perintah Kresna, Abimanyu berani meludahi kuncung (rambut kepala yang berada di depan).

Hal ini manimbulkan kekecewaan dan kepri-hatinan Semar, sehingga ia pergi dari istana.Perlakuan sewenang-wenang raja Dwarawati terhadap Semar ini menimbulkan kemarahan para dewa. Para dewa kemudian menimpakan bencana di Kerajaan Dwarawati baik kerusuhan, kebakaran, bahkan banjir yang disertai angin besar menimpa di istana, rakyat menjadi kacau balau, sehingga raja Dwarawati sampai meng-ungsikan diri dan mencari perlindungan ke Kerajaan Amarta.

Semua bencana yang terjadi di Kerajaan Dwarawati ini bisa redam setelah Prabu Kresna yang disertai para Pandawa menemui Semar dan meminta pengampunan. Semar yang saat itu sedang bersemedi dirasuki Sang Hyang Wenang sehingga tubuhnya memancarkan cahaya kekuning-kuningan menerima kedatangan para Pandawa dan Kresna. Dengan kearifan Semar mengampuni kesalahan Prabu Kresna, tetapi mengatakan bahwa perkawinan Abimanyu dengan Siti Sundari tidak akan membuahkan keturunan (anak), dan kembalilah kedamaian dan ketentraman di dunia.
Page 6 of 27 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)