Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)
Total Views: 56572 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 7 of 27 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›

izroilblackarmy - 12/06/2011 08:53 AM
#121

Arjuna Sasra Lahir

Prabu Kartawirya alias Partawirya mengundang Bambang Suwandageni, saudara sepupunya, untuk hadir pada upaca siraman, karena permaisurinya, Dewi Danuwati telah mengandung tujuh bulan.

Sesaat setelah upacara itu selesai, datanglah utusan dari Kerajaan Lokapala, bernama Gohmuka, yang menyampaikan pesan agar Dewi Danuwati boleh dibawa ke Lokapala untuk dijadikan permaisuri Prabu Wisrawana alias Danaraja.

Mendengar permintaan itu Suwandageni marah dan menghajar Gohmuka, yang lalu lari pulang ke negaranya. Setelah melaporkan kegagalan tugasnya, Prabu Danaraja lalu menyiapkan bala tentaranya untuk menyerbu Maespati. Ia juga minta bantuan seorang brahmana sakti yang berujud raksasa, bernama Begawan Wisnungkara.

Sementara itu di kahyangan, Batara Wisnu diperintahkan oleh Batara Guru untuk turun ke dunia guna memelihara ketentraman. Batara Wisnu dengan senjata Cakra lalu merasuk ke janin bayi yang dikandung oleh Dewi Danuwati.

Beberapa saat kemudian, Dewi Danuwati melahirkan seorang putra, yang oleh Prabu Kartawirya diberi nama Arjunawijaya, alias Arjuna Sasrabahu. Anehnya, bayi itu lahir dengan menggenggam senjata Cakra.

Sementara itu balatentara Kerajaan Lokapala yang dipimpin oleh Prabu Danaraja telah sampai di tapal batas Maespati. Prabu Kartawirya bersama Suwandageni berangkat untuk menghadang musuh. Senjata Cakra yang digenggam putranya yang baru lahir dibawa ke medan perang.

Dalam perang tanding antara Begawan Wisnungkara dengan Suwandageni berlangsung seru. Prabu Kartawirya lalu meminjamkan senjata Cakra pada Suwandageni. Dengan senjata itu Begawan Wisnungkara tak bisa berbuat apa-apa. Badannya hancur lebur terkena senjata Cakra.

Prabu Danaraja yang berhadapan dengan Prabu Kartawirya yang bersenjatakan Cakra, seketika luluh semangatnya. Prabu Danaraja sadar bahwa ia berhadapan dengan senjata sakti dari kahyangan. Karena itu ia segera lari pulang ke Lokapala.
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:53 AM
#122

Parikesit Lahir

Lakon ini menceritakan tentang peristiwa setelah Suyudana setelah gugur, Aswatama, Resi Krepa, Kartamarma, dan Dewi Banowati berada di Kerajaan Tirtatinalang. Pada suatu hari Dewi Banowati menghilang dan ternyata pergi menggabungkan diri dengan Arjuna. Aswatama. Krepa dan Kartamarma lalu pergi secara sembunyi-sembunyi ke Astina untuk menyelidiki.

Sementara Utari melahirkan putra dan diberi nama Parikesit, dan rencananya kelak akan diangkat menjadi raja di Astina.

Dewi Banowati merawat bayi itu dan membantu Drupadi dan Utari. Karena lelah, Dewi Banowati istirahat di Taman Kadilengleng. Tiba-tiba Aswatama dan pengikutnya menemukan Dewi Banowati dan membunuhnya, karena dianggap berkhianat pada Kurawa.

Aswatama, Kartamarma dan Krepa lalu masuk istana secara diam-diam dan menemukan Parikesit, mereka berpikir kelak bayi ini menjadi pewaris takhta Astina. Aswatama hendak membunuhnya tetapi sang Bayi menjerit dan kakinya menendang-nendang. Panah pusaka Pasopati, yang diletakkan Arjuna di pembaringannya tertendang, mental mengenai dada Aswatama dan tewa seketika.

Kartamarma dan Krepa bersembunyi di taman tetapi kepergok dan ditangkap Bima lalu dibanting ke tanah, tewas seketika. Jiwa mereka berubah menjadi brengkutis (kewangwung, serangga pemakan kotoran).

Arjuna sangat sedih atas kematian Dewi Banowati, maka Kresna berusaha menghiburnya dan ditawari putri yang amat mirip dengan Banowati yaitu Dewi Citrahoyi, istri Prabu Arjunapati dari Kerajaan Sriwedari.

Arjunapati bersedia menyerahkan istrinya kepada Arjuna, tetapi harus melangkahi mayatnya lebih dahulu. Akhirnya Arjunapati terbunuh oleh Kresna, sehingga Dewi Cintrahoyi dapat dipersunting Arjuna.
izroilblackarmy - 12/06/2011 08:59 AM
#123

Parikesit Grogol


Parikesit setelah naik takhta di negara Astina bergelar Prabu Kresnadipayana menggantikan Yudistira. Pada suatu hari sang Raja memutuskan untuk menyaksikan dari dekat bagaimana cara berburu babi hutan dan ia juga ingin turut berburu. Oleh karena itu memerintahkan abdinya agar membuat rumah sementara (pesanggrahan) di tengah hutan guna melihat dari dekat para abdinya yang menangkap hewan tanpa senjata.

Patih Dwara, Patih Danurweda, Sukarta, Sumarma, Suhtrasta dan Subala berangkat ke hutan untuk membuat persiapan serta pesanggrahan untuk raja. Di dalam hutan Dwara bertemu dengan anak perempuan yang keluar dari semak belukar serta mengaku bernama Rara Suyati, maka anak tersebut diangkat sebagai anaknya dan dibawa pulang ke rumahnya. Setelah pesanggrahan selesai maka Prabu Parikesit yang diikuti Semar, Nala Gareng dan Petruk masuk ke dalam bangunan rumah yang telah disediakan dan melihat para abdinya melawan binatang buas yang digiring kehadapan sang Raja.

Pada suatu malam hari Prabu Parikesit ke luar dari kamarnya tanpa sepengetahuan siapapun ia masuk ke dalam hutan. Kepergian sang Raja itu diketahui oleh Semar dan dilaporkan kepada Patih Dwara maka sang Patih berusaha mencarinya ke dalam hutan. Ia tersesat masuk ke taman sari Manikmaya di mana Begawan Sidiwacana dalam keadaan cemas karena kehilangan putrinya Rara Suyati. Semar dan anak-anaknya juga mencari ke dalam hutan dan dapat menemukan Prabu Parikesit, tetapi sang Raja enggan kembali ke pesanggrahan dan terus melanjutkan perjalanannya yang diikuti abdi setia Semar, Gareng dan Petruk.

Dipayana tiba di puncak Gunung Lodra melihat seorang pertapa keras, berdiri tegak tanpa bergerak dan berbicara juga tidak menjawab pertanyaan sang Raja, maka hilang kesabaran raja, pertapa itu ditusuk dengan senjata. Setelah jenazahnya hilang muncullah Batara Basuki yang mendidik Sang Raja serta memberi pengalaman baru dan memberi nama Dipayana atau Yudiswara.

Selanjutnya sang Raja melanjutkan perjalanannya, ia bertemu orang naik sapi liar dan memberi isyarat kepadanya, maka sang Raja marah dengan melepaskan anak panahnya, dan berubahlah menjadi Batara Gana yang memberikan pengalaman tentang keberanian serta memberi nama baru Mahabrata. Setelah Gana menghilang datanglah burung garuda yang besar dihadapkan sang Raja. Dibunuhlah burung itu dan tampak Batara Sambu, yang memberikan pendidikan tentang keberanian serta memberi nama baru Darmasarana. Dalam meneruskan perjalanan Prabu Parikesit menyelamatkan orang yang dikejar ular besar, orang itu adalah Prabu Praswati dari Gilingwesi, yang mempunyai putri bernama Dewi Sritatayi. Putri ini bermimpi kawin dengan Dipayana. Setelah Praswati mengutarakan maksudnya maka sang Raja menerima. Selanjutnya bertemu dengan Sritatayi dan dikawini.

Pertemuan dan bulan madu dengan istrinya, Dewi Sritatayi telah berlangsung lama, sang Raja segera meninggalkan istana dan masuk ke hutan dan ia bertemu Prabu Yasakesti dari Mukabumi yang mempunyai putri Dewi Niyata. Putri itu jatuh cinta dengan Parikesit. Semula sang Raja menolak untuk diajak Yasakesti tetapi akhirnya Parikesit mengawini Dewi Niyata. Juga disini Dipayana dengan cepat meninggalkan istrinya yang muda, mengembara di hutan lagi. Pada suatu hari ia bertemu dengan raksasa Srubisana dari Manimantaka yang diutus Prabu Niradakawaca untuk membalas dendam pada Parikesit atas kematian ayahnya Niwatakawaca yang terbunuh oleh Arjuna.

Maka terjadi peperangan tetapi Parikesit dapat dilempar ke udara dan jatuh di Pertapaan Manikmaya ditemukan oleh Begawan Sidiwacana serta putrinya yang bernama Rara Setapi. Prabu Parikesit tertarik panah milik Rara Setapi dan menginginkannya dan oleh yang punya dijawab bahwa barang siapa mengambil panah itu harus harus juga mengambil yang empunya.
Karena putri itu jelek maka Parikesit menolak tetapi sang Putri dapat dirubah wajahnya menjadi cantik oleh ayahnya, maka sang Raja tidak keberatan mengambilnya. Setelah lama berada di pertapaan akhirnya Parikesit kembali ke Astina.

Dalam perjalanannya ia bertemu raksasa Begawan Sukanda yang mempunyai putri, sukandi dan Sukanda mengatakan bahwa putrinya mimpi bertemu Prabu Parikesit. Namun usul itu tidak diperhatikan oleh sang Raja. Tiba-tiba datang dihadapannya musuh yang ditakuti yakni Srubisana, ia terkejut dan tidak senang mengulangi peperangan lagi, maka Parikesit mene-mukan akal, ia berjanji kepada Begawan Sukanda bahwa akan mengambil putrinya asalkan sang Begawan dapat membunuh Srubisana.

Dalam tempo yang singkat Sukanda dapat dibunuhnya, tetapi sekarang Dipayana menyesal pada janji yang telah diucapkan dan menolak turut serta dengan Begawan Sukanda. Dengan mantranya Parikesit tertidur dan segera dibawanya dan dipertemukan dengan putrinya. Setelah melihat kecantikan Dewi Sukandi, maka rasa berat Parikesit hilang seketika dan mengawininya.

Pada hari berikutnya Dipayana melanjutkan perjalanannya kembali ke Astina dan negeri tersebut mendapat serangan dari Manimantaka Prabu Ni-radakawaca. Prabu Baladewa memimpin pertempuran itu tetapi tidak kuat menahan kesaktian raja raksasa, sehingga negara Astina porak poranda.

Tiba-tiba Dipayana datang dan menghadapi musuh yang menyerang Astina, akhirnya raja raksasa itu dapat dibunuh oleh Prabu Kresna Dipayana.
izroilblackarmy - 12/06/2011 09:00 AM
#124

Peksi Anjaliretna


Syahdan, raja Dwarawati sri Kresna, menerima kedatangan kakandanya ialah prabu Mandura, raja Dwarawati segera membuka pembicaraan, berkisar perihal lolosnya ipar raja, raden janaka. Demikian pula, prabu Dwarawati melaporkan, bahwasanya raden arya jayadrata melamar Dewi Subadra. Setelah prabu Baladewa menerima laporan, bahwasanya raden arya jayadrata melamar Dewi subadra. Setelah prabu Baladewa menerima laporan, bahwasanyaksatriya banakeling raden arya Jayadrata mengajukan lamara, disetujuinya. Perihal persyaratannya, bahwasanya Subadra meminta kelengkapan perkimpoian sebagai upeti, ialah diwujudkannya burung (peski) Anjaliretna, beserta pengiring temanten (patah) nya harus ksatria yang rupawan, disanggupi akan disampaikan kepada ksatriya Banakeling.

Sri baladewa segera mengundurkan diri, akan menyampaikannya kepada raden arya jayadrata yang sedang menunggu jawaban di pasanggrahan. Sri Kresna segera memerintahkan kepada para narapraja yang menghadap, untuk segera membubarkan diri. Raja menuju ke dalam kraton bertemu dengan permaisuri-permaisurinya, ialah Dewi Jembawati, Dewi Rukmini dan Dewi setyaboma. Kepada permaisuri, telah diuraikan perihal putusan raja, terhadap lamaran raden arya Jayadrata, mereka menyetujui akan maksud kehendak raja.

Terlihatlah di paseban luar, sri Baladewa dihadap segenap wadyabala ialah putra mahkota raden Wisata, raden arya Samba, Setyaki, patih Udawa, patih Pragota dan patih Prabawa. Kepada raden Wisata, prabu baladewa memerintahkannya untuk menyampaikan segala pesan persyaratan kelengkapan perkimpoiannya dengan Dewi Subadra, kepada ksatriya Banakeling, pamandanya raden arya Jayadrata. Sri Baladewa segera menuju ke pesanggrahannya, yang bernama randugumbala. Berangkatlah raden arya Wisata menunaikan tugasnya, menyampaikan pesan ke Mandura, ke Banakeling diikuti wadyabala mandura.

Konon, raja Widarba prabu Citragada, mempunyai seorang putri bernama Dewi Kumalarini. Pada suatu ketika , burung kesayangannya hilang tak berbekas. Raja Citradenta yang pada waktu itu sedang mengadakan pasewakan, membicarakannya dengan patih Dendabahu, bahwasanya laporan permaisuri raja bernama dewi hagnyarini, mengatakan burung Anjaliretna milik putrinyaDewi Kumalarini hilang. Raja juga menegaskan, bahwasanya tersiar berita, burung itu sekarang berada ditelatah kerajaan Banakeling. Prabu Citradenta segera memerintahkan kepada wadyayaksanya, bernama kalagodaka dan Kalakutila, untuk segera berangkat ke wilayah Banakeling, mencari jejak dan menemukan kembali, burung Anjaliretna yang dapat bertingkah selayaknya manusia. Bearngkatlah wadyabala Widarba, dengan pimpinan ditya Kalagodaka, dan Kalakutila beserta pandu jalannya Kyai Togog dan Kyai Sarawita. Di pertengahan perjalanan, mereka berjumpa dengan wadyabala Mandura, sehingga terjadi perselisihan , dan peperangan. Kedua-duanya berusaha tidak melibatkan terlalu lama dan jauh dalam peperangannya, sehingga mereka pun berusaha untuk melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Raden Jayadrata, ksatriya Banakeling sedang mengadakan pasewakan, dihadap oleh patih Atmagatra, dan Atmasubala, Abirawa. Sedang mereka berbincnag-bincang, masuklah raden Wisata menemui pamandanya raden Arya Jayadrata, menyampaikan pesan Baladewa, bahwasanya perihal maksud perkimpoianya Jayadrata dengan Dewi Subadra, dipersyaratkan adanya kelengkapan perkimpoian, ialah adanya burung Anjaliretna yang dapat bertingkah laku selayaknya manusia, beserta patah ksatriya rupawan. Setelah laporan diterima, raden Wisata segera mengundurkan diri, raden jayadrata memerintahkan kepada wadyabalanya untuk mempersiapkan patyah ksatria yang rupawan, sebab burung Anjaliretna telah dimiliki raden Jayadrata. Mereka segera mengundurkan diri untuk melaksanakan tugas.

Patih Atmagatra sebelum menunaikan tugasnya, kembali terlebih dahulu ke kepatihan, menemui istrinya Dewi Diwati. Kepada sang Dewi, patih Atmagatra berkata, raja sedang mencari kelengkapan persyaratan perkimpoianya dengan Dewi Subadra seorang patah ksatriya yang rupawan. Putra patih Atmagatra, terkenal sangat rupawan, apalagi ksatria, bernama raden Nilawarna, itulah yang ditakutkan, jangan-jangan raden jayadrata, memaksanya menyerahkan Raden Nilawarna, bagi kelengkapan perkimpoiannya nanti, untuk itu kepada Dewi Retna Diwati, diperintahkan untuk mengamankan menyembunyikan raden Nilawarna, datanglah dsang dewi Retna Diwati menemui putranya, segala maksud patih Atmagatra dijelaskan, raden Nilawarna menyadari akan maksud ibunya, segera pamit untuk menyembunyikan diri, lajulah raden Nilawarna menuju ke hutan, diiringi oleh para panakawannya, Kyai Semar, nalagareng dan Petruk.

Di tengah hutan, raden Nilawarna bertemu denga wadyabala yaksa dari Widarba, terjadilah peperangan, yaksa dapat dimatikan. Kyai Togog dan sarawita dapat menyelamatkan diri, segera meninggalkan hutan, untuk segera melapor kepada raja Citradenta. Selagi melangkah maju , bertemu pula raden Nilawarna, dengan wadyabala dari banakeling, yang dipimpin oleh raden Abirawa dan raden Atmasubala. Kepada raden Nilawarna, mereka mengajukan usul, apakah bersedia dijadikan patah temanten lelaki, ditolaknya. Peperangan terjadi, wadya Banakeling dapat diundurkan, dengan kata-kata yang tegas dan menantang, raden Nilawarna memberitakan, bahwasanya dia adalah putranya patih Banakeling, ialah raden Atmagatra. Terperanjatlah mereka, segera mengundurkan diri, untuk melapor kepada raden Jayadrata. Adapun raden Nilawarna, meneruskan perjalanannya menuju kerajaan Widarba.
izroilblackarmy - 12/06/2011 09:02 AM
#125

Peksi Anjaliretna 2


Raden Arya Jayadrata, menerima laporan dari raden Abirawa dan Atmasubala, bahwasanya gagal mereka menunaikan tugas mencari patah ksatria yang rupawan. Dilaporkannya , ditengah hutan bertemu dengan ksatria rupawan, karena perselisihan pendapat terjadi peperangan, malahan ksatria tersebut menantangnya, dan menyatakan dirinya sebagai raden Nilawarna, putra patih Banakeling, Atmagatra. Raden arya Jayadrata sangat marah mendengarnya, patih Atmagatra setelah dihajar, bersama istrinya diusir dari kerajaan Banakeling.

Raja Widarba, prabu Citradenta menerima laporan Kyai Togog dan sarawita, bahwasanya wadyabala Widarba yang ditugaskan pergi melacak ke Banakeling, ditengah hutan diganggu, dan dibunuh oleh ksatria bernama Nilawarna. Prabu Citradenta sangat murka, segenap wadyabala diperintahkan berangkat menuju ke Banakeling.

Manakala prabu Citradenta mengerahkan wadyabala pergi ke Banakeling, raden Nilawarna yang mengubah dirinay sebagai abdi kinasih raja, berdatang sembah ke permaisuri prabu Citradenta, ialah deri Retna Hagnyarini, bahwasanya sang puteri bersama puteri Dewi Kumalarini, dipersilakan datang ke Banakeling, sebab peksi (burung) Anjaliretna, telah ditemukan kembali. Berangkatlah mereka bersama-sama diiringkan raden Nilawarn, yang bersandi sebagai abdi kinasih, ke Banakeling, dengan perasaan sukacita.

Raden Jayadrata sangat sedih hatinya , mengingat hanya satu persyaratan lagi yang belum dipenuhinya, ialah patah ksatria rupawan. Manakala sedang merenung- renung , wadyabala ;lapor, bahwasanya musuh dari kerajaan Widarba , dengan rajanya Prabu Cittadenta datang menyerang. Raden Jayadrata beserta wadyabala menyongsong kedatangan musuh dari kerajaan Widarba, banyak sudah wadyabala Banakeling dipukul mundur, raden Jayadrata maju, bertempur melawan prabu Citradenta, kalah jua. Patih Atmagatra yang mengetahui bahwasanya rajanya kalah perang, berusaha menolongnya, tetapi dapat pula dikatakan oleh prabu Citradenta. Kedua-duanya melarikan diri, mencari keselamatan. Konon, Dewi Hagnyanawati telah bersiap-siap dengan putranya raden Atmabala, beserta para punggawa untuk berangkat ke kerajaan Dwarawati. Demikian pula raden jayadrata berpasangan dengan Patih Atmagatra, beserta patahnya ialah raden Nilawarna, berangkat juga naikkereta, tak lupa Dewi Kumalarini dengan menggendong burung Anjaliretna, mengiringinya.

Raden Werkudara dari Pamenang, mendengar berita, bahwasanya raden Jayadrata telah diberangkatkan ke kerajaan Dwarawati dengan segala kelengkapannya persyaratan perkimpoiannya. Kepada putranya, yang bernama raden gatotkaca diperintahkan untuk segera pergi ke Dwarawati, melapor ke raja Dwarawati, bahwasanya ramandanya ialah raden Werkudara akan menghadap.

Di kerajaan Dwarawati, sri Kresna dihadap oleh putra mahkota raden arya Samba, Setyaki dan patih Udawa disamping datang pula prabu Baladewa, raja Mandura. Tal lama datanglah raden Werkudara, raden gatotkaca , kepada Si Kresna arya Werkudara meminta keterangan , kapan timbulnya Arjuna, dijawab hendaknya bersabar terlebih dahulu, tak lama lagi tentu akan timbul. Datanglah iring-irinagn temanten lelaki, ialah raden Arya Jayadrata beserta pengiring-pengiringnya. Setelah segala sesuatunya siap, raden arya Samba diperintahkan oleh sri Kresna untuk menerima penyerahan peksi (burung) Anjaliretna. Sri Baladewa, mempersilakan kepada sri Kresna, untuk segera mempertemukan temanten lelaki dengan temanten puteri , ialah Dewi Subadra. Arya Samba segera mengawal raden jayadrata ke ruangan yang telah dipersiapkan untuk upacara. Masuklah terlebih dahulu raden samba dengan membawa peksi Anjaliretna, segera diserahkan kepada Dewi Subadra. Setelah diterima mundurlah raden Samba, burung Anjaliretna ditangan Dewi Subadra, berubah menjadi raden Janaka. Pertemuan mereka sangat menyenangkan, masuklah raden Jayadrata untuk menemui Dewi Subadra, dicegah oleh raden gatotkaca, menyusulah raden Nilawarna. Raden Jayadrata dapat diundurkan, raden Nilawarna kalah perangnya dengan Gatotkaca, berubah menjadi raden Angkawijaya.

Raden Jayadrata, setelah kalah perangnya dengan gatotkaca, datang melapor ke kadipaten. Prabu Baladewa yang menerima laporannya sangat marah., segera keluar untuk mencari Gatotkaca, belum lagi ketemu yang dicarinya, raden arya Werkudara datang mengajak berkelahi. Sri Baladewa, kalah perangnya dengan Werkudara. Wadyabala juga tak dapat menang bertanding dengan Werkudara. Sri Kresna dengan dihadap oleh raden arya Werkudara, Janaka, gatotkaca, Angkawijaya, samba, setyaki patih Udawa dan segenap naraprajanya, merayakan kemenangan prajurit-prajurit Dwarawati. Seisi istana Dwarawati dan para kawulanya sungguh berbangga hati, bersyukur telah terhindar dari marabahaya peperangan.
izroilblackarmy - 12/06/2011 09:04 AM
#126

Dan Langit Pun Menangis 1


Padang luas itu masih mengepulkan sisa-sisa asap pertempuran. Bau darah yang anyir membekas kuat, seakan mengingatkan hadirnya mayat bergelimpangan yang memenuhi tempat itu. Senjata, pedang berbagai ukuran, anak-anak panah yang telah patah, topi-topi prajurit berserakan, meminta dikembalikan kepada tuan-tuan mereka, baik yang telah memperoleh kemenangan maupun yang tinggal kenangan. Mati diterjang ujung senjata lawan.

Sosok itu berdiri mematung di sisa-sisa senja. Wajahnya dingin dan tak perduli. Panca inderanya sudah mati. Ya, sudah mati! Betapa tidak? Anak lelaki kebanggaannya, yang paling ia harapkan menjadi penerusnya, kini harus bernasib sama dengan onggokan tulang belulang di Kurusetra. Tubuhnya yang gagah, hancur diterjang puluhan panah yang mengantar lelaki muda itu menemui penciptanya.

Arjuna masih mematung. Sungguh, ia benar-benar telah kehabisan air mata untuk mengungkapkan kesedihannya. Perang ini tidak pernah ia kehendaki. Lelaki itu masih lebih memilih menjadi pengelana hutan daripada kehilangan semua anak-anaknya.Anak-anak dari berbagai ibu, yang bahkan banyak di antara mereka yang tak pernah merasakan asuhannya, tiba-tiba datang dan menyatakan ingin membantu Pandawa memenangkan perang.

Masih segar dalam ingatan Arjuna masa kecil yang terpatri begitu dalam di hati dan benaknya. Itulah kebahagiaan sempurna yang bisa didapat seorang anak tanpa ayah, dengan status putra raja yang tak kunjung diberikan.

Ada sosok lain lagi yang berjalan mendekat. Tubuh hitam kelam dengan pakaian kebesaran seorang raja. Sengaja sosok itu berdiri agak jauh, mengamat-amati saudara sepupunya yang sudah seperti adiknya sendiri, bahkan lebih. "Menyesali perang ini lagi, adikku?"

Arjuna menoleh. Cepat-cepat ia berjalan mendekati sosok titisan Batara Wisnu itu dan memberi penghormatan. "Kalau saya berkata jujur, kanda. Tentu saya tak ingin perang ini terjadi."

"Dan membiarkan angkara murka berkuasa di muka bumi?" Suara Kresna tetap tenang. Arjuna terdiam. Dia selalu saja kehilangan segala kata-kata di depan tokoh yang ia kagumi ini.

Sang Dananjaya menatap Prabu Kresna dengan ragu-ragu dan berkata perlahan. "Kalau saja Bharatayudha tidak terjadi, kita tidak akan kehilangan eyang Bisma, guru Dhorna, anak-anak Pandawa dan ribuan prajurit yang tidak berdosa." Arjuna berkeras, masih berusaha mendebat walaupun keyakinan di hatinya mulai goyah.

Kresna mendehem. "Apakah kau sadar bahwa perang ini adalah takdir? Kita tidak akan pernah tahu apa maksud sebenarnya peperangan ini. Bukankah kau mengaku ksatria, Arjuna?! Mana tanda-tanda kesatriaanmu? Apakah kau kira dengan pakaian senopati, membawa senjata dan berkereta kuda, kau seorang ksatria? Jangan buat malu para dewa yang sudah membekalimu kesaktian selama ini!"

"Apakah membunuh itu dharma ksatria, Kanda?" Arjuna mencoba mendebat lagi, melawan segala kesedihan yang sudah menghancurkan hatinya. "Kau membunuh untuk kebenaran. Dan segala yang terjadi pada perang ini adalah jalan karma bagi setiap manusia. Resi Bhisma sudah rela untuk memberikan nyawanya demi menebus segala dosanya. Apa kau pikir kalau ia dibiarkan hidup ia akan bahagia, Arjuna? Pergunakanlah otakmu! Jangan memakai hatimu untuk menyelesaikan persoalan ini."

Arjuna berlutut dan mengambil sepotong anak panah yang telah patah. "Kanda, benarkah benda ini yang telah mengantar anakku ke akhirat? Mungkinkah pasopatiku pun akan kugunakan untuk cara yang sama? Mengantar seseorang yang menjadi tumpuan harapan orangtuanya ke alam baka?" Arjuna menggigit bibirnya. "Lebih baik saya kembalikan saja pasopati ke Hyang Indra."

Batara Kresna menghela nafas. "Ayolah adikku, kita segera kembali ke perkemahan. Tak ada gunanya berdiam terus disini dan menyalahkan dirimu sendiri." Cepat raja besar itu memutar tubuhnya dan meninggalkan sang Dananjaya yang masih berdiri termangu-mangu di keheningan Kurusetra, ditemani teriakan burung pemakan bangkai yang siap berpesta pora.

***

"Ananda Kresna, bagaimana strategi yang paling tepat untuk menyelesaikan perang ini? Korban semakin banyak berjatuhan. Hari ini telah banyak pula yang mati. Dan kita tidak tahu siapa yang akan menyusul besok. Eyang sangat ingin perang ini segera diakhiri." Prabu Wirata itu terbatuk. Raut wajahnya yang memancarkan wibawa dan kebijaksanaan tampak diliputi garis-garis kesedihan yang mendalam.

Prabu Kresna menghaturkan sembah. "Sebaiknya kita segera mengangkat senopati baru, Kakek Prabu. Hamba dengar pihak Astina sudah siap mengangkat senopati baru. Sebaiknya kita juga mengangkat senopati baru sebagai tandingan." Suara Kresna yang jelas dan bening mengisi keheningan ruang pertemuan itu.

Di pintu masuk tampak Bima yang berdiri menjaga, wajahnya diliputi kesedihan, yang hampir tak pernah membayang sebelumnya. Arjuna hanya duduk termangu-mangu, tidak mendengarkan. Para raja dan sekutu mereka duduk dengan khidmat, sesekali berbicara pada rekan di sebelahnya.

"Saya setuju dengan usul Anda, Batara Kresna." Seorang raja mengangkat tangannya dan berdiri untuk berbicara. "Tapi siapakah senopati baru Astina, dan siapa senopati tandingan dari pihak kita?" Batara Kresna tersenyum puas, mengangkat sebelah tangannya untuk memberi isyarat agar raja sahabat itu duduk, sementara ia sendiri berdiri untuk menjawab. "Kakek Prabu Matswapati dan hadirin sekalian yang saya hormati, menurut pendapat saya, pihak Astina pasti akan mengangkat Adipati Karna sebagai senopati agung, dan lawannya tidak lain adalah adik saya, Arjuna!"

Suara Prabu Kresna yang lantang membuat Arjuna terkesiap. Suasana ruang itu agak gaduh sejenak, sementara Prabu Kresna tersenyum puas, senang akan keputusannya barusan.

"Saya tidak bersedia, Kanda!" Suara Arjuna yang biasanya lembut berubah keras dan gugup. "Kenapa adikku? Jangan kau bilang kalau kau takut menghadapi Karna." Prabu Kresna tetap tenang. Sebaliknya, Arya Werkudara yang memang tidak sabaran mulai naik darah.

"Jelamprong adikku, apa kau takut menghadapi Karna? Ayolah, kau bukan anak kemarin sore yang masih harus disusui ibunya!"

"Saya tidak takut, Kanda. Hanya… Saya masih dalam keadaan berkabung karena kematian Angkawijaya. Sementara, saya tidak ingin berperang, apalagi menghadapi Kanda Karna." Wajah Arjuna yang tampan memerah. Arya Werkudara menggeram. Mendung mulai bergayut kembali di wajahnya. Teringat akan sang Gatotkaca yang pergi mendahului ayah bundanya.

"Sudahlah, Arjuna, kalau kau tidak bersedia, kau boleh pergi dan menenangkan diri sekarang. Kresna anakku, siapkanlah senopati cadangan, kalau-kalau adikmu benar-benar tidak bersedia menghadapi Karna." Prabu Matswapati menengahi. Ia tidak menginginkan suasana memanas. "Baiklah Eyang, semua saya serahkan kepada Eyang." Kresna berkata hormat, sementara Arjuna menghaturkan sembah dan lekas pergi, menyendiri, jauh dari segala hiruk pikuk dentingan pedang dan desingan panah.

Arjuna memasuki hutan rimba yang lebat di sisi Kurusetra. Tubuhnya menggigil. Bukan karena takut, karena bagi Arjuna hutan rimba yang lebat dan penuh dengan setan, jin, iblis, genderuwo dan segala jenis makhluk halus lainnya sudah seperti rumah keduanya. Ia lebih sering bersama 4 punakawannya mondar-mandir keluar masuk hutan daripada berada di Madukara.

Bayangan Karna berkelebat di depannya. Ah, dia bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya kepada laki-laki itu. Rasa benci? Sayang kepada saudara? Marah? Atau menyesali keputusan Karna untuk membela pihak musuh?

Arjuna tetap merasa bahwa apapun pilihan Karna bukanlah urusannya. Tapi lain akibatnya bila mereka berdua harus berhadapan sebagai sesama senopati. Arjuna merasa telah banyak mengalami kehilangan, dan kehilangan Karna bukanlah pilihan terbaik yang ia inginkan.

Bagaimanapun Karna adalah saudara seibu, yang sedari kecil bahkan belum pernah merasakan belaian tangan dan air susu Kunti, ibunya sendiri. Arjuna merasa ia jauh lebih beruntung dari saudaranya itu, setidaknya dapat merasakan indahnya masa kecil, yang diliputi kasih sayang ibu dan saudara-saudaranya.
izroilblackarmy - 12/06/2011 09:05 AM
#127

Dan Langit Pun Menangis 2

Masih segar dalam ingatan Arjuna, bagaimana Karna dapat menyamai kepandaian memanah yang ia pamerkan dalam adu ketangkasan antara Pandawa dan Kurawa ketika mereka masih remaja dahulu. Dan bagaimana ia dan kakaknya Bima telah menghina Karna dengan menyebutkan keturunan putra dewa surya itu.
Memang, Karna adalah anak angkat kusir Adirata, tapi apakah ia dan Bima pantas menghina lelaki itu? Arjuna menutup wajahnya dengan kedua belah tangan, menahan air matanya yang hendak menetes jatuh.

***

"Akhirnya kau datang juga adikku." Bibir Karna menyunggingkan seulas senyuman melihat sosok gagah di atas kereta kuda yang dikusiri Prabu Kresna yang agung. Hati Karna mendadak seperti ditoreh oleh sebilah pisau tajam.

Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya melihat adik yang nyaris tak pernah menghabiskan waktu bersama dengannya tiba-tiba harus ia hadapi. Dan bahkan ia musnahkan untuk mencapai kemenangan.

"Ya, ini saya, Kanda." Arjuna berkata dengan kaku. Suaranya bergetar. Prabu Kresna menoleh dan tersenyum pada sang Palguna untuk menyemangatinya. Dengan lihai titisan Wisnu itu memacu kuda-kudanya mendekati kereta kuda Karna.

"Cepatlah kau lepas panahmu Arjuna! Makin cepat kau lepas panahmu, makin cepat pula aku bisa menggunakan panahku untuk mengakhiri hidupmu!" Karna berteriak menantang, mencoba menandingi teriakan-teriakan dalam hatinya sedari tadi. Kuda-kuda dari kereta yang dikusiri mertuanya turut meringkik-ringkik, seakan mendukung setiap perkataan penumpangnya.

Kresna tersenyum. Raja besar yang arif itu tahu betul apa yang berkecamuk di dada kedua saudara seibu itu. Tapi inilah tugasnya. Untuk mengobarkan Bharatayudha dan menumpas bibit angkara di muka bumi. Tugas yang harus diembannya sebagai titisan Wisnu.

Waktu di Kurusetra seakan terhenti. Para prajurit yang ratusan ribu jumlahnya, meletakkan pedang, perisai, dan senjata apapun yang mereka pegang untuk menonton pertandingan akbar itu. Tidak ada yang bergerak. Semuanya berdiri, menonton dengan perasaan tegang, dan hati masing-masing memanjatkan doa, berharap agar gusti mereka memenangkan pertempuran itu.

Kresna berpaling pada saudara sepupu sekaligus iparnya itu. "Ayo Arjuna, lepas panahmu! Apa kau akan membiarkan senja turun dan pertempuran harus berlanjut esok?"

Arjuna menggigit bibir, mengambil sebatang panah dan melepasnya. Karna tersenyum, melepas sebatang panah pula untuk mengatasi panah Arjuna, kemudian dengan sigap ia mematahkan panah itu menjadi dua.

"Arjuna! Apa hanya ini senjatamu? Mana hasil bertapamu? Alangkah sayangnya waktu yang kaugunakan untuk bertapa dan berguru, kalau hanya ini hasilnya!" Karna tersenyum mengejek. Dilepasnya sebatang panah lagi, kali ini seolah memamerkan keahliannya. Panah itu berdesing, dan seakan berjiwa, mengarah tepat ke dada Arjuna. Tapi kesigapan Kresna mengendarai kudanya telah menyelamatkan lelanang ing jagad yang tengah berkecamuk hatinya itu.

Kuda-kuda pengendara kereta itu pun seakan berubah menjadi kuda-kuda binal yang siap menerkam siapa saja. Langkah kaki mereka mengepulkan debu yang memperpanas suasana Kurusetra.

Arjuna menengadah ke langit, melihat kehadiran dewa-dewa, dewi-dewi istrinya dan segala penghuni kahyangan yang hadir hanya untuk menyaksikannya. Ribuan helai bunga telah mereka taburkan untuk menambah semangat juang Arjuna, meredam gejolak hatinya yang meningkah tajam.

Tapi yang lebih menarik perhatiannya adalah sosok Abimanyu di kejauhan, yang di matanya terlihat berlari-lari, memanggil-manggilnya ayah. Seakan-akan ia mendekati ayahnya, dan membisikkan kata-kata agar Arjuna terus maju, memenangkan pertempuran ini dan membalaskan dendam kematiannya.

Arjuna terperangah. Tangannya telah bergerak, hendak membelai kepala putra tertuanya. Tetapi mendadak bayangan Abimanyu lenyap, terbawa angin yang menerbangkan debu-debu ke atas.

"Ada apa, Arjuna?" Prabu Kresna menoleh, keheranan melihatnya terpaku. "Tidak, Kanda. Seakan-akan tadi saya melihat Angkawijaya disini." Arjuna masih tak percaya. Tatapan matanya menerawang jauh.

Prabu Kresna tertawa. "Kau lihat, Arjuna? Bahkan putra kesayanganmu pun telah rela menjadi perantara malaikat maut untuk membalas kematiannya." Arjuna masih tertunduk, raut wajahnya sulit diterka.

"Nah, kalau begitu apa yang akan kau lakukan sekarang Arjuna? Tetap diam dan membiarkan dirimu mati konyol ditembus panah Karna? Atau melawan dan memperoleh kemenangan?" Prabu Kresna menatap adiknya dengan seulas senyum di bibirnya.

Arjuna menggigit bibir sambil merapal doa. Diliriknya sekali lagi wajah legam saudara ipar sekaligus sepupu yang sangat ia hormati itu. Diambilnya Pasopati andalannya, sembari bersiaga menarik temali busur. Segenap penghuni Kurusetra menahan nafas, waktu yang hanya beberapa detik seakan beberapa abad. Kresna memiawik keras, "Sekarang, Arjuna!"

Sesaat setelah itu, Pasopati melaju lincah, merenggut jiwa senopati Hastinapura. Memisahkan kepala bermahkota itu dari tubuh yang berhiaskan pakaian kebesaran senopati. Serentak terdengar hiruk pikuk dari barisan Pandawa maupun Kurawa. Barisan Pandawa karena gembira, sedangkan barisan Kurawa karena sedih dan kecewa. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi terompet, menandakan perang hari itu telah berakhir. Prabu Salya yang mengusiri kereta hanya termangu memandangi tubuh menantunya tanpa kepala, sebelum sadar apa yang harus ia lakukan. Cepat dihelanya kereta kuda itu menuju garis belakang.

Prabu Kresna pun memacu kudanya ke garis belakang. Siap memberikan laporan pertempuran hari itu dan merancang strategi selanjutnya. Matanya sempat melirik ke arah sepupunya. Arjuna tengah tertunduk dengan tubuh bermandikan keringat. Prabu Kresna tidak berkomentar, terus mengendarai kudanya dengan tenang. Ia melayangkan pandangan ke langit senja itu, sedikit terkejut karena langit yang tadi cerah mendadak gelap. Seolah-olah turut bersedih, langit senja itu pun menangis, mengiringi kepergian sang putra matahari.

***

Sinopsis : Musuh terkuat adalah diri sendiri, yang selalu mengintai dan mempertanyakan tentang masa lalu dan masa depan. Bahkan Seorang pria yang disebut-sebut lelanang ing jagad (lelakinya dunia) pun bisa menjadi lemah dan tak berdaya. Di Kurusetra, disaksikan jutaan pasang mata, haruskah Arjuna takluk di tangan Karna? Atau haruskah ia menaklukkan Karna dengan segenap upayanya? Sementara untuk menaklukkan dirinya sendiri pun ia tak sanggup.
izroilblackarmy - 12/06/2011 09:09 AM
#128

Telaga Ajaib


Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang melakukan perjalanan menjelajahi hutan dalam masa-masa akhir pengasingannya, mereka bertemu dengan seorang brahmana. Brahmana tersebut lalu meminta bantuan kepada Pandawa untuk menangkap seekor kijang yang telah melarikan tempat pedupaannya. "Wahai Pandawa, kijang itu membawa lari pedupaanku. Tolonglah aku, aku tidak mampu mengejar binatang itu", kata brahmana itu.

Pandawa kemudian memburu kijang itu beramai-ramai dan mengepungnya dari berbagai arah. Tetapi, rupanya itu bukanlah seekor kijang biasa. Ia berhasil menghindar dari kejaran Pandawa dan terus berlari menjauh. Ia selalu berhasil lolos dari kepungan Pandawa. Hingga tanpa sadar Pandawa telah jauh masuk ke dalam hutan dan seakan kijang itu hilang ditelan rimba raya. Pandawa yang lelah, menghentikan pengejaran dan beristirahat di bawah sebatang pohon yang besar dan rindang.

Nakula mengeluh, "Alangkah merosotnya kekuatan kita sekarang. Menolong seorang brahmana dalam kesulitan sekecil ini saja kita tidak bisa. Bagaimana dengan kesulitan yang lebih besar ?"

"Engkau benar. Ketika Drupadi dipermalukan di depan orang banyak, seharusnya kita bunuh saja manusia-manusia kurang ajar itu. Tetapi, kita tidak berbuat apa-apa. Dan sekarang inilah akibatnya." kata Bhima sambil memandang Arjuna.

Dengan sikap membenarkan, Arjuna berkata, "Ya, benar. Aku juga tidak berbuat apa-apa ketika dihina oleh anak sais kereta itu. Inilah upahnya sekarang".

Yudhistira merasakan kesedihan hati saudara-saudaranya. Mereka kehilangan semangat juang mereka. Untuk mengalihkan pikiran, ia berkata kepada Nakula, "Adikku, panjatlah pohon itu. Lihatlah baik-baik, barangkali di dekat-dekat sini ada sungai atau telaga. Aku haus sekali".

Nakula lalu naik ke pohon yang tinggi. Setelah melihat sekelilingnya, ia berteriak, "Di kejauhan kulihat ada air tergenang dan burung-burung bangau. Mungkin itu telaga".
Yudhistira menyuruhnya turun dan pergi untuk mengambil air.

Nakulapun pergi dan memang menemukan sebuah telaga. Karena sangat haus, ia berpikir untuk minum dulu sebelum membawakan air untuk saudara-saudaranya. Baru saja ia hendak mencelupkan tangannya ke dalam air, tiba-tiba terdengar suara, "Janganlah engkau tergesa-gesa. Telaga ini milikku, hai anak Dewi Madrim. Jawablah dulu pertanyaanku. Jika kau bisa menjawab, barulah kau boleh minum". Nakula sangat terkejut mendengar suara itu, tetapi karena sangat haus, ia tidak memperdulikannya. Ia langsung mencedokkan tangannya, mengambil air dan meminumnya. Seketika itu juga ia jatuh tidak sadarkan diri.

Setelah lama menunggu dan Nakula tidak juga kembali, Yudhistira menyuruh Sadewa mencarinya. Setelah mencari-cari beberapa lama, Sadewa terkejut melihat Nakula yang terbaring tak sadarkan diri di tepi telaga. Tetapi karena merasa sangat haus, ia memutuskan untuk minum dulu. Tiba-tiba suara tadi terdengar lagi, "Wahai Sadewa, telaga ini telagaku. Jawab dulu pertanyaanku, baru engkau boleh menghilangkan dahagamu". Sadewa tidak peduli. Ia mencedokkan tangannya mengambil air yang jernih dan segar itu. Begitu minum seteguk, ia jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

Bingung memikirkan kedua saudaranya yang belum kembali, Yudhistira menyuruh Arjuna mencari Nakula dan Sadewa. "Tetapi jangan lupa untuk kembali membawa air", katanya kepada Arjuna.

Arjuna pergi berlari dan menemukan kedua saudaranya terbaring tak sadarkan diri. Ia sangat terkejut dan mengira mereka tewas dianiaya musuh. Ia marah dan ingin menghancurkan siapapun yang telah membunuh saudara-saudaranya. Tetapi karena haus, Arjuna memutuskan untuk minum dulu. Tiba-tiba suara itu terdengar lagi, "Jawab dulu pertanyaanku, sebelum engkau minum air telaga ini. Telaga ini punyaku. Kalau engkau tidak mau menurut, engkau akan mengalami nasib yang sama dengan kedua saudaramu itu".

Arjuna sangat marah mendengar suara itu dan berteriak, "Hai, siapa engkau ? Tunjukkan dirimu !. Jangan pengecut ! Kubunuh kau !". Sambil berkata demikian, Arjuna membidikan panahnya ke arah datangnya suara itu. Suara itu tertawa mengejek, "Panahmu hanya akan melukai angin. Jawab pertanyaanku dulu, baru kau boleh memuaskan dahagamu. Bila engkau minum tanpa menjawab pertanyaanku, engkau akan mati".

Arjuna senang karena bisa berhadapan dengan pembunuh adik-adiknya. Tetapi ia tak kuasa menahan rasa hausnya. Iapun minum seteguk air telaga itu. Seketika itu iapun jatuh tak sadarkan diri.

Setelah lama menunggu dan Arjuna tak kunjung kembali, Yudhistira berkata kepada Bhima, "Arjuna belum juga datang. Sesuatu yang aneh mungkin saja terjadi. Carilah mereka dan bawakan air untukku. Aku haus sekali".

Begitu mendapat perintah dari Yudhistira, Bhima segera berangkat. Sampai di tepi telaga, ia sedih melihat ketiga saudaranya terbaring tak bergerak. "Ini pasti perbuatan para jin dan raksasa jahat", pikirnya. "Akan kumusnahkan mereka ! Tetapi aku sangat haus. Setelah minum, akan kutamatkan pembunuh itu". Lalu ia turun ke tepi telaga.

Suara gaib itu terdengar lagi, "Hati-hatilah, hai Bhima. Engkau boleh minum setelah menjawab pertanyaanku. Engkau juga akan mati jika tidak mau mendengar kata-kataku".
Mendengar itu Bhima berteriak, "Siapa engkau ? Berani benar memerintah aku !".
Lalu ia minum air telaga itu. Seketika itu juga otot dan tulang Bhima yang liat bagai kawat baja dan keras bagai besi menjadi lemas. Seperti saudara-saudaranya, ia jatuh tak sadarkan diri.

Yudhistira menunggu dengan cemas. Dahaganya serasa tak tertahankan. Terbayang dalam pikirannya, "Apakah mereka terkena kutukan ? Apakah mereka lenyap ditelan rimba dan tak tahu jalan kembali ? Apakah mereka mati karena kehausan ?". Kemudian Yudhistira bangkit dan berjalan mengikuti jejak-jejak kaki saudara-saudaranya. Ia memperhatikan setiap semak yang dilaluinya dengan teliti. Ia melihat jejak kijang dan babi hutan, semuanya menuju arah yang sama. Ia menengadah melihat burung-burung bangau beterbangan, pertanda ada bentang air di dekat situ.

Setelah berjalan beberapa lama, ia sampai ke tanah terbuka. Di depannya terbentang telaga. Airnya berkilau jernih bagaikan cermin cemerlang. Dan di tepi telaga itu ia melihat keempat saudaranya tergeletak tak bergerak. Dihampirinya satu persatu, dirabanya kaki, tangan, dahi dan denyut jantung mereka. Yudhistira berkata dalam hati, "Apakah ini berarti akhir dari sumpah yang harus kita jalani ? Hanya beberapa hari sebelum berakhirnya masa pengasingan kita, kalian mati mendahului aku. Rupanya para dewata hendak membebaskan kita dari kesengsaraan".

Menatap wajah Nakula dan Sadewa, pemuda-pemuda yang di masa hidupnya periang dan perkasa tapi kini terbujur dingin tak bergerak, hati Yudhistira sedih. "Haruskah hatiku terbuat dari baja agar aku tidak menangisi kematian saudara-saudaraku ? Apakah hidupku masih ada gunanya setelah keempat saudaraku mati ? Untuk apa aku hidup ? Aku yakin ini bukan peristiwa biasa", pikir Yudhistira. Ia tahu, tak seorang ksatriapun akan mampu membunuh Bhima dan Arjuna tanpa melewati pertarungan hebat. "Tak ada luka di badan mereka. Wajah mereka tidak seperti wajah orang kesakitan. Mereka kelihatan tenang, seperti sedang tidur dalam damai". Hatinya terus bertanya-tanya. "Sama sekali tak ada jejak kaki, apalagi bekas tanah atau rumput yang terinjak-injak dalam perkelahian. Ini pasti peristiwa gaib. Mungkinkah ini tipu muslihat Duryodhana ? Mungkinkah Duryodhana telah meracuni air telaga ini ?".
izroilblackarmy - 12/06/2011 09:10 AM
#129

Telaga Ajaib 2

Dengan berbagai pikiran di kepalanya, perlahan-lahan ia turun ke tepi telaga. Ia ingin melepaskan dahaganya yang sudah tak tertahankan lagi. Tiba-tiba suara gaib itu terdengar lagi, "Saudara-saudaramu telah mati karena tak menghiraukan kata-kataku. Jangan engkau ikuti mereka. Jawab dulu pertanyaanku, setelah itu baru puaskan hausmu. Telaga ini milikku".
Yudhistira yakin, suara itulah yang menyebabkan saudara-saudaranya mati. Ia berpikir, mencari cara untuk mengatasi situasi itu. Kemudian Yudhistira berkata kepada suara yang tidak berwujud itu, "Silahkan ajukan pertanyanmu".

Suara gaib itu mulai mengajukan pertanyaan kepada Yudhistira.
"Apa yang dapat menolong manusia dari semua marabahaya ?"
Yudhistira menjawab, "Keberanian adalah pembebas manusia dari marabahaya".
Suara gaib: "Apa yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini ?"
Yudhistira : "Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini".
Suara gaib : "Apa yang lebih tinggi dari langit ?"
Yudhistira : "Bapa"
Suara gaib : "Apa yang lebih kencang dari angin ?"
Yudhistira : " Pikiran"
Suara gaib : "Apa yang lebih berbahaya dari jerami kering di musim panas ?"
Yudhistira : "Hati yang menderita duka dan menyimpan dendam"
Suara gaib : "Apakah kebahagiaan itu ?"
Yudhistira : "Kebahagiaan adalah buah dari tingkah laku dan perbuatan baik"
Suara gaib : "Kehilangan apakah yang menyebabkan orang bahagia dan tidak sedih ?"
Yudhistira : "Amarah. Kehilangan amarah membuat kita tidak lagi diburu oleh kesedihan"
Suara gaib : "Apakah itu, jika orang meninggalkannya ia dicintai oleh sesamanya ?"
Yudhistira : "Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan orang akan dicintai sesamanya"
Suara gaib : "Apakah itu, jika orang membuangnya jauh-jauh, ia menjadi kaya ?"
Yudhistira : "Hawa nafsu. Dengan membuang hawa nafsu orang menjadi kaya"

Demikianlah suara gaib itu memberikan pertanyaan-pertanyan kepada Yudhistira. Dan Yudhistira menjawab semuanya tanpa ragu. Pertanyaan terakhir yang diajukan oleh suara gaib itu langsung berkaitan dengan saudara-saudaranya.

Suara gaib : "Wahai Yudhistira, seandainya salah satu saudaramu boleh tinggal denganmu sekarang, siapakah yang engkau pilih ? Dia akan hidup kembali ".

Yudhistira terdiam dan berpikir sesaat, lau menjawab, "Kupilih Nakula, saudaraku yang kulitnya bersih bagai awan berarak, matanya indah bagai bunga teratai, dadanya bidang dan lengannya ramping. Tetapi kini ia terbujur kaku bagai sebatang kayu jati".

Suara gaib itu belum puas akan jawaban Yudhistira, dan iapun bertanya lagi, "Kenapa engkau memilih Nakula, bukan Bhima yang kekuatan raganya lebih besar dari kekuatan gajah ? Lagipula, kudengar engkau sangat mengasihi Bhima. Atau mengapa bukan Arjuna yang mahir menggunakan segala macam senjata, terampil olah bela diri dan jelas dapat melindungimu ? Jelaskan, mengapa engkau memilih Nakula !"

Yudhistira pun menjawab, "Dewi Kunti dan Dewi Madrim adalah istri ayahku dan mereka adalah ibuku. Aku, anak Kunti, masih hidup. Jadi dewi Kunti tidak kehilangan keturunan. Dengan pertimbangan yang sama dan demi keadilan, biarlah Nakula, putra dewi Madrim, hidup bersamaku".

Suara gaib itu puas sekali demi mendengar jawaban Yudhistira yang membuktikan bahwa ia adil dan berjiwa besar. Ternyata, kijang dan suara gaib itu adalah penjelmaan dari dewa Yama, dewa Kematian, yang ingin menguji kekuatan batin Yudhistira. Batara itupun lalu menghidupkan kembali semua saudara Yudhistira.

Lalu di hadapan Pandawa, batara Yama berkata, "Beberapa hari lagi masa pengasingan kalian di hutan rimba akan selesai. Di tahun ke tigabelas, kalian harus hidup dengan menyamar. Yakinlah, masa itupun akan dapat kalian lewati dengan baik. Tidak seorang musuhpun akan mengetahui keberadaan kalian. Kalian pasti lulus dalam ujian yang berat ini ".
Setelah berkata demikian, batara Yama menghilang.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:14 PM
#130

Sena Rodra


Sri Batara Kresna yang bergelar Sang Padmanaba dari Dwarawati membicarakan Werkudara yang sedang menyebarkan ajaran yang didapatnya dari Barat, dan yang berganti nama menjadi Bagawan Senarodra. Ia menyebarkan ajarannya di Unggul Pawenang, dan banyak orang berguru kepadanya, termasuk Satyaka. Para dewa merasa tidak senang karena merasa disamai dan menganggap Senarodra akan memberontak terhadap para dewa. Menurut Batara Kresna Senarodra hanya ingin agar manusia itu berpandangan luas, mendapat kesempurnaan hidup, dan jangan mendapat kepapaan. Sri Kresna ingin mengunjungi dan melihat sendiri keadaannya, dan menyuruh Setyaki berangkat mendahuluinya.

Di Tunggulmalaya Batari Durga dihadap oleh para makhluk halus dan juga Dewasrani, anaknya. Dewasrani melaporkan bahwa banyam orang mengikuti ajaran Sena rodra sehingga tidak menghaormati para Dewa lagi. Batari Durga lalu pergi ketempat Bahgawan Senarodra dan memerintahkan agar para makhluk halus itu mengganggu orang-orang yangh sedang berguru. Di tengah jalan ia bertemu dengan Batara Kresna. Ketika ditanya keperluannya Batari Durga mengatakan akan menyadarkan Senarodra karena telah mengajarkan agar orang-orang membelakangi para dewa. Batara Kresna tidak sependapat, oleh karenanya minta agar Batari Durga mengurungkan niatnya. Namu ia tidak mau, karenanya terjadi pergulatan antara keduanya. Ketika Batari Durga hampir dikalahkan, ia marah sekali dan memperlihatkan taringnya. Hal ini diimbangi oleh Batara Kresna yang lalu tiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung. Batari Durga ketakutan dan karenanya akan memenuhi kemauan Sri Kresna.Mereka lalu berpisah. Namun Batari Durga ternyata masih melanjutkan usahanya dengan cara menyuruh anak buahnya yang berupa makhluk halus untuk mengganggu mereka dengan pergi ke Zjodipati, karena disitulah sumber dari perkumpulan orang-orang Jawa. Batari Durga sendiri pergi ke Suranadi untuk melaporkan tindakan Senarodra ke Hyang Pramesti Guru.

Di Jodipati Bagawan Senarodra dikelilingi oleh anak-anaknya dan orang-orang Jawa yang ingin mendapatkan ilmu dari Barat tersebut, berupa Ilmu Kesempurnaan Hidup. Dengan mempelajari ilmu itu hilanglah sifat angkara murka. Mareka hidup layak dan tenteram, di pekarangannya dibangun masjid kecil yang di bawahnya terdapat tempat berwudhu. Setyaki yanga datang menyatakan leinginnannya mendapat ajaran baru itu.Dikatakan oleh Begawan Senarodra bahwa ada empat hal yang penting,yaitu : syarat, tarekat, hakekat, dan makrifat. Syariat adalah bagian dari Rukun Islam, yaitu : syahadat, solat, puasa, memberi zakat, dan naik haji. Syariat adalah ' tindakan badaniah', tarekat'tindakan batiniah'. Sifat-sifat manusia dilambangkan oleh empat warna, yaitu hitam, merah, kuning. Melawan yang putih; aluamah, amarah, supiyah melawan mutmainah. Aluamah berarti nafsu angkara murka, amarah berarti hati yang mudah berang, supiah keinginan barang yang bagus-bagus, sedangkan mutmainah berterimakasih atas apa yang didapat. Hakekat artinya mengetahui adanya Tuhan yang mempunyai sifat dua puluh. Sedangkan makrifat artinya mengetahui adanya dua hal yang menyatu, yaitu persatuan antara kawula dan Gusti, sehingga orang yang telah sampai makrifat dapat mengatahui hal-hal yang jasmaniah maupun yang rohaniah, baik yang kasar maupun yang halus.

Atas pertanyaan Setyaki begaimana cara mendapatkannya, karena ia merasa bodoh sekali. Bagawan Senarodra menjawab ia tak usah memaksakan diri, lebih baik berada di di tengah-tengah. Sebagai seorang satriya secara lahiriah ia harus menjalankan tugas sebagai menjaga negara, secara batiniah ia harus dapat menguasai nafsunya.

Batara Guru yang mendengar bahwa Bagawan Senarodra mengajarkan ilmu kesempurnaan Hidup merasa khawatir kekuasaan para dewa akan berkurang. Karenanya ia memerintahkan Yamadipati untuk mengambil Senarodra, tetapi karena belum waktunya mati maka agar Senarodra dimasukkan ke dalam cupu Retna Dumilah yang berisi gambar sorga. Sena rodra patuh ketika diminta memasuki Retna Dumilah, saudara-saudaranya mengikutinya, juga Batara Kresna, semar, Gareng dan Petruk.

Di Nusakambangan, raja raja raksasa Kala Srenggi memerintahkan patih Kala Srenggini dan Kala Srenggana bersiap-siap untuk menyerang Suralaya dengan maksud meminta semua bidadari agar menjadi isterinya. Ia juga meminta raja Astina tunduk kepadanya dan ikut menyerang Suralaya. Dalam pertempuran semua dewa-dewa dikalahkan oleh pasukan Kala Srenggi. Atas pertanyaan Hyang Pramesti siapa yang kiranya dapat melawan raksasa tersebut. Narada mengusulkan agar para Pandawa yang dikurung dalam Retna Dumilah dikeluarkan dan diminta melawan perusuh yang datang. Hyang Pramesti menyetujui namun masih minta jaminan bahwa Senarodra tidak akan mengajarkan ilmunya yang dapat menurunkan wibawa para dewa. Maka Hyang Narada membuka Retna Dumilah dan minta agar Pandawa melawan para penyerang Suralaya itu. Mereka segera berangkat meskipun mereka mengatakan bahwa sebenarnya sudah merasa nikmat berada di dalam Retna Dumilah, karena tidak merasakan lapar dan haus atau pun susah.

Katika para raja Jawa mengetahui bahwa lawannya adalah para Pandawa, mereka mengundurkan diri dan kembali ke negara masing-masing; tinggallah para raksasa dan pemimpinnya.

Danaraja maju ke medan perang dengan naik kereta, Senarpdra hanya berjalan kaki dengan membawa gadanya Rujakpolo. Kala Srenggini dan Kala Srenggana dapat dipanah oleh Dananjaya, dan seketika berubah menjadi Batara Kamajaya dan Batari Kamaratih, sedangkan Kala Srenggi berubah menjadi Sanghyang Tunggal. Melihat hal itu para Pandawa segera bersujud di hadapan mereka. Sanghyang Tunggal menyampaikan bahwa perbuatannya itu karena tindakan para dewa sudah dianggap melanggar aturan yang berlaku.Setelah menyampaikan nasehat kepada Hyang Pramesti dan minta agar Senarodra diijinkan tetap mengajarkan ilmunya, maka Sanghyang Tunggal menghilang. selanjutnya para dewa menyampaikan terimaksih kepada para Pandawa yang telah berhasil mengatasi keributan di Suralaya.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:16 PM
#131

Suryaputra Rabi 1


Syahdan raja Mandraka prabu salya duduk di singgasana dihadap oleh putra mahkota raden Rukmarata dan patih praja bernama Tuhayata. Raja membicarakan perihal perkimpoian putra-putrinya yang bernama Dewi surtikanti dan prabu Jayapitana dari kerajaan Astina.

Selagi mereka berbincang-bincang, datanglah patih Astina Arya Sakuni. Kepada raja dilaporkan perihal persiapan Prabu Jayapitana mengenahi akan perkimpoiannya dengan putra-putri raja, dan berdatang sembah memohon kapan kiranya temanten lelkai dapat diarak untuk dipertemukan dengan calon temanten perempuan. Raja menjawanya, bahwasanya sebelum dipertemukan, prabu Jayapitana harus melaksanakan permintaan syarat perkimpoian puterinya, ialah diadakan patah (pengiringtemanten) temanten, ialah seorang ksatria rupawan , dan tiada lagi cacat pada dirinya. Manakala persyaratan telah diwujudkan, setiap saat prabu Jayapitana akan dipertemukan dengan Dewi Surtikanti. Banyak para tamu yang menyaksikannya, antara lain prabu Baladewa raja Mandura, raja Amarta prabu Puntadewa beserta sudara-sudaranya, ialah raden arya Werkudara, raden Pinten dan Tansen. Setelah raja bersabda, mundurlah patih skauni kembali ke praja Astina. Raja pun segera kembali ke dalam kraton, menemui prameswari Dewi Setyawati. Kepadanya diuraikan apa yang telah terjadi dipasewakan, usai raja berbincang-bincang, lajulah ke sasana pambojanan, diiringkan oleh permaisuri, tak ketinggalan putra-putrinya Dewi Banowati.

Para tamu bersinggah dipemondokan mandraka, yang dipersiapkan oleh patih Tuhayata.

Di praja Petapralaya, prabu Radeya mengadakan perembugan dengan putranya yang bernama raden Suryanirada, Dewi Suryawati dan patih praja ialah Druwajaya. Masalahnya berkisar perihal lolosnya putra sulung raja, yang bernama raden Suryaputra, sebab kepadanya pernah diajukan saran, hendaknya mempersiapkan diri untuk dikimpoikan. Agaknya raden Suryaputra pergi meninggalkan praja Petapralaya, dengan alasan tidak atau belum berkehendak dikimpoikan oleh ayahanda raja. Kepada patih Druwajaya diperintahkan untuk melacak kepergian raden Suryaputra, sekaligus menemukan membawanya kembali ke praja. Patih segera memohon diri, untuk segera melaksanakan tugasnya.

Tersebutlah raja yaksa bernama prabu Kalakarna, negaranya bernama Awangga. Raja yaksa sangat jatuh hati kepada putra-putrinya raja Mandraka Dewi Surtikanti. Semula raja bermaksud akan pergi sendiri ke praja Mandraka Dewi Surtikanti. Semula raja bermaksud akan pergi sendiri ke praja Mandraka, tetapi pengasuh raja yang setia bernama Kidanganti menyarankan, sebaiknya mengirimkan duta terlebih dahulu, sekaligus untuk menyampaikan surat lamaran raja. Prabu kalakarna menyetujuinya, dan kepada yaksa Kalakurenda, beserta teman-temannyaa Kalamamrang, Kalagutaka, diperintahkan untuk segera berangkat. Dalam perjalanannya bertemulah para yaksa dengan wadyabala Mandraka, terjadilah perselisihan dan peperangan, tetapi kedua-duanya berusaha menghindarkan diri sehingga kedua-duanya melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Resi Abiyasa dipertapaannya Wukir Retawu, dihadap oleh cucundanya bernama raden pamadi, tak lupa turut serta Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Resi Abiyasa menyarankan kepada raden Pamadi untuk segera kembali ke praja dikarenakan akan besar manfaatnya. Kembalilah raden Pamadi diikuti oleh panakawan, ditengah hutan bertemu dengan para yaksa dari Awangga, sehingga terjadilah peperangan. Raden Pamade dapat mebunuhnya, dan lajulah raden Pamade menuju Amarta.

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Hyang Girinata yang sedang dihadap oleh para dewa, tampak hadir resi Narada, sa\ng Hyang Brahma, Hyang Panyarikan. Hyang Girinata bersabda kepada Narada, hendaknya segera turun ke Marcapada untuk meberikan anugerah pusaka yang bernama Kunta kepada raden Pamade. Turunlah Narada ke Madyapada dengan membawa senjata Kunta, untuk dianugerahkan kepada raden Pamade.

Di kaki gunung Jamurdipa, raden Suryaputra yang sedang bertapa, didatangi resi Narada, yang mengiranya raden Pamade. Kepada Raden Suryaputra yang dikira raden Pamade , resi Narada menguraikan maksudnya, bahwa kedatangannya tak lain diutus oleh Hyang Girinata untuk menemuinya dan memberikan anugerah dewa senjata sakti berwujud Kunta, namanya Wijayadanu. Setelah raden Suryaputra menerima pemberian dewa, kepada resi Narada mengakulah bahwasanya dia bukan raden Pamade, melainkan putra raja Petapralaya, dan dia sendiri bernama raden Suryaputra. Resi Narada merasakan kekeliruannya, dan berusaha minta kembali saenjata skti berwujud panah tersebut. Raden Suryaputra mempertahankan sehingga hanya tempatnya saja yang dapat direbut oleh narada, selanjutnya kembalilah sang resi ke Kahyangan Jonggringsalaka untuk melapor kepada Hyang Girinata. Raden Suryaputra bertemu dengan patih Druwajaya, dan mereka melanjutkan perjalannya.

Patih sakuni melapor kepada prabu Kurupati yang disaksikan pula oleh para kurawa, yakni raden Dursasana, Durmagati Citraksa dan Citraksi, bahwasanya raja Mandraka mengajukan persyaratan kelengkapan temanten laki, adanya patah temanten seorang ksatriya yang rupawan dan lagi pula harus tampa cacat sedikitpun. Prabu Kurupati mendengarkan dengan penuh perhatian, tak ada upaya lain kecuali mengusahakannya. Kepada patih sakuni diperintahkannya Pamade dijadikan patahnya. Berangkatlah raden Sakuni beserta para Korawa menuju ke praja Amarta.
Dewi Kunti yang tinggal di istana Amarta, menerima kedatangan raden Pamade beserta para Pnaakawannya. Tak lama datang pula Sakuni, setelah berdatang sembah diuraikannya maksud dan kehendak prabu Kurupati, bahwasanya raden Pamade dimohon bantuannya untuk bersedia dijadikan patah bagi calon temanten laki, yang tak lain prabu Kurupati. Dewi Kunti memperkenankannya, arya Sakuni memohon diri, kembali ke praja Astina diikuti oleh raden Pamade, dan para Panakawannyaa.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:17 PM
#132

Suryaputra Rabi 2

Kedatangannya patih arya Sakuni dengan mebawa pula raden Pamade sangat melegakan hati prabu Kurupati. Segera diperintahkan, untuk mempersiapkan keberangkatannya ke praja Mandraka, tak lupa raden Pamade diikutsertakan sebagai patah.

Di kerajaan mandraka, prabu salya menerima para tamu, ialah prabu Baladewa raja Mandraka, prabu Puntadewa raja Amarta, arya Bratasena, Pinten dan tansen. Raja menerima laporan bahwa pesanggrahan tempat untuk calon temanten laki dan rombongannya telah selesai.

Tak lama datanglah rombongan temanten laki dari Astina, raja Salya menerima calon temanten laki. Kepadanya dan rombongan dari Astina, dan para tamu lainnya segera dipersilahkan untuk beristirahat di pesanggrahan, raden Pamade dibawa langsung menuju ke kradenayon, diserahkan kepada Dewi Banowati.

Dewi Banowati sebenarnya jatuh cinta kepada raden Pamade, demikian pula raden Pamade melayaninya. Kepada Raden Pamade Dewi Banowati menceritakan, bahwa di tempat peraduan kakaknya ialah Dewi Surtikanti terlihat ada seorang ksatriya, yang sengaja ulah asmara dengan sang dewi, tindakan tersebut tak ubahnya sebagai pencuri asmara saja. Raden Pamade yang menerima laporan berusaha untuk mebuktikannya, dan seteklah sampai di kamarnya Dewi Surtikanti, tak ayal lagi memang benar bahwasanya ditempat peraduan sang dewi terlihat ada bayangan manusia berusaha melarikan diri, yang tak lain raden Suryaputra. Raden Pamade segera mengejarnya diikuti oleh raden Bratasena, dan Prabu Baladewa. Peperangan terjadi antara raden Bratasena dan pengikut raden Suryaputra ialah patih Druwajaya, dan raden Suryanirada bertemu dengan prabu Baladewa, akhirnya mereka menghindarkan diri untuk berkumpul dengan raden Suryaputra.

Konon raden Pamade mengejar raden Suryaputra langsung ke praja Petapralaya, diterima oleh Prabu radeya, diskasikan oleh putra-putri raja Dewi suryanawati. Sang Dewi tidak menyangka akan raden pamade yang disangkanya raden Suryaputra. Dengan alasan sudah rindu kepada saudaranya segera dipeluknaya, demikian pula raden Pamade menimbanginya. Kepada raja Radeya, raden Pamade melaporkan bahwasanya sang raden telah memboyongi putri Mandraka, bernama Dewi Surtikanthi sekarang dalam perjalanan ke praja Petapralaya. Raden Pamade mengutarakan maksudnya, untuk menemani sang dewi, dewi Suryanawati dimintakan izin kepada prabu radeya. Raj radeya memperkenankan dan dibawalah sang dewi bersama-sama meninggalkan praja Petapralaya.

Seusai raden Pamade bermohon diri, datanglah raden Suryaputra, tentu saja sang raja terheran-heran, mengapa sang raden cepat kembali. Lebih terheran-heran lagi raden Suryaputra dalam hatinya sudah menyangka bahwasanya tak lain tentu ulah raden Pamade. Kepada ayahandanya diceritakan segala permasalahannya yang menimpa dirinya, dan bermohon diri untuk mengejar raden Pamade. Bertemulah raden Suryaputra dengan raden Pamade yang membawa Dewi Suryanawati, peperangan terjadi. Raden Suryaputra dapat dilukai pelipisnya oleh raden Pamade, selagi mereka berperang rame-ramenya Hyang Narada turun ke bumi untuk melerainya. Kepada mereka dijelaskan, bahwa raden Suryaputra sebenarnya masih saudaranya sendiri, malahan dia yang tertua dari keluarga Pandawa, terlahir satu ibu dari Ibu Kunti. Pada waktu bayi dihanyutkan di samodra, ditemukan oleh Prabu radeya, selanjutnya diangkat sebagai putra pribadi. Kepada raden Pamade diminta bantuannya untuk menyelesaikan perkimpoian saudara tuanya, ialah raden Suryaputa yang akan mempersunting putri Mandraka benama Dewi Surtikanthi, dan rtaden Pamade menyanggupkan diri, keduanya berangkat, resi Narada kembali ke kahyangan.

Dewi Surtikanthi yang sendirian ditempat peraduannya dengan didampingi oleh emban malihan ialah raksasa bernama Kidanganti, yang segera mnyergapnya membawa lari snag dewi. Seisi kraton geger, mencari hilangnya sang Dewi Surtikanthi, salah satu inang pengasuhnya segera melapor pada praja perihal hilangnya sang dewi.

Selagi inang melapor, raja sedang menerima kedatangan raden Pamade beserta Surayputra, segera raja memerintahkan kepada Pamade untuk menagkap pencuri dan membawanya kembali Dewi Surtikanthi, raden Pamade menyanggupkan diri dengan permohonan, nantinya jika telah kembali sang dewi dimohonkannya untuk diperjodohkan dengan raden Suryaputra, raja Salya memberikan kesanggupannya, raden Pamade berangkat mencari penyandera sang dewi, diikuti oleh saudara tuanya raden Suryaputra dan raden Burisrawaa.

Datanglah Ditya wanita Kidanganti, Dewi Surtikanthi sgerera diserahkan kepada raja Awangga prabu Kalakarna, sang raja sangat bersukacita menerima Dewi Surtikanthi, segera diperintahkan untuk segera diistirahatkan di iostana kraton Awangga. Akan halnya raden Pamade, raden Suryaputra dan raden Bratasena lebih dahulu berada di Kraton Awangga.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:18 PM
#133

Suyudana Rabi


Konon prabu Jayapitana dari kerajaan Astina berkehendak akan mempersunting putri Mandraka Dewi Banowati. Datanglah di istana Astina utusan raja Mandraka, ialah raden Rukmarata, menyampaikan pesan raja, bahwasanya hajad perkawinan prabu Kurupati, harus diwujudkan dengan persyaratan kelengkapannya ialah patah penganten berwujud lelaki yang rupawan, beserta patah wanita dua jumlahnya yang rupawan juga. Akan halnya permintaan raja Mandraka tersebut, prabu Jayapitana menyanggupinya, setelah raden Rukmarata bermohon diri, sang prabu segera memerintahkan kepada patih sakuni, untuk segera berangkat menuju pertapaan wukir Ratawu, menghadap resi Abiyasa , memohon diperkenankannya cucundanya bernama raden Janaka untuk dijadikan patah dari perkawinan Prabu Jayapitana, demikian pula utusan diperintahkan untuk menghadap raja Mandura prabu Baladewa, memohon diperkenankannya prabu Jayapitana meminjam raden Narayana dan wara Subadra, untuk dijadikan juga kelengkapan iringan temanten, menjadi patah.

Prabu Jayapitana di dalam kraton, bertemu dengan adiknya yang bernama Dewi Dursilawati, kepadanya dijelaskan bahwa sang dewi akan dijadikan patah, berpasangan dengan wara Subadra, adapun Janaka berpasangan dengan Raden Narayana. Sang Dewi Dursilawati, tidak berkebertaan akan kehendak kakandanya prabu Jayapitana.

Tersebutlah raja raksasa bernama Garbaruci dari Sindunggarba, bermimpi mempersunting putri Mandraka. Kepada patihnya bernama Garbasangkalya dan emban raja bernama Pracima disampaikan maksud raja akan pergi sendiri ke praja Mandraka, mereka mencegahnya. Usul mereka diterima, bahwasanya raja akan mengirimkan utusan melamarnya terlebih dahulu, segera wadyabala raksasa dipanggil, dan diperintahkannya pergi ke praja Mandraka, menyampaikan surat pinangan raja, mereka segera berangkat bersama-sama. Di pertengahan jalan, bertemu dengan wadyabala dari Astina, sehingga terjadilah perselisihan pendapat, dan peperangan. Mereka berusha menghindarkan keterlibatan peperangan yang dalam, sehingga redalah peperangan antar mereka, lajulah masing-masing meneruskan perjalanannya.

Kedatangan patih Sakuni di pertapaan wukir Retawu, diterima dengan senang hati oleh resi Abiyasa. Kepada sang Begawan, patih Sakuni menguraikan maksudnya, yang tak lain diutus Prabu Jayapitana, meminjam raden Arjuna bagi kelengkapan persyaratan perlawinannya dengan putri Mandraka, akan dijadikan patah temamten. Sang Begawan merelakan , dan kepada Arjuna diperintahkan untuk mengikuti. Mundurlah patih Arya Sengkuni dari hadapan Resi Abiyasa, diikuti oleh raden Permadi dan Kyai Semar, Nalagareng dan Petruk menuju kerajaan Astina, patih Sengkuni menuju praja Mandura. Perjalanan raden Arjuna di tengah hutan bertemu dengan para wadyabala raksasaa dari Sindunggarba, terjadilah peperangan. Para yaksa dapat ditumpas olehnya, raden Arjuna melanjutkan perjalanannya.

Di kerajaan Mandura, prabu Baladewa menerima kedatangan patih Sangkuni, menyampaikan pesan raja Kurupati, bahwasanya sang raja berkehendak memohon pinjam raden Narayanaa dan Wara Subadra, kedua-duanya akan dijadikan pasangan patah, bagi raden Arjuna dan Dewi dursilawati. Prabu Baladewa meluluskan permintaan Patih Sengkuni, kepada patih Pragota diperintah memberitahukan ke Widarakandang bersama-samma patih Sengkuni.

Di Widarakandang kedatangan patih Pragota diterima oleh raden Narayana, akan halnya kehendak prabu Kurupati yang menghendakinya dijadikan patah bersama pula retna Subadra, dapat disetujui. Mundurlah patih Pragota, dan patih Sengkuni, raden Narayana mempersiapkan diri untuk berangkat.

Datanglah sudah raden Rukmarata di istana Mandraka, melapor pada prabu Salya, bahwasanya segala kehendak raja dapat dipenuhi, raden Arjuna menyanggupkan diri. Raja sangat berkenan di hati, hadir pula di istana prabu Baladewa, sri Yudistira, bupati Awangga. Segera raja memerintahkan pada narapraja untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya.

Akan halnya raden Narayana, telah pula mempersiapkan diri untuk segera berangkat, kepada adiknya War Subadra, disarankan untuk berbusna secara gadis taani, setelah selesai berangkatlah mereka berssama-sama.

Di kerajaan Astina, kelihatan kesibukan yang luar biasa. Prabu Kurupati telah mengenakan busana penganten, demikian pula patah-patahnya. Raden Premadi dan Retn Dursilawati telah selesai berdandan. Agaknya keakraban raden Premadi dan retna Dursilawati sangat menjadikan irihati raden Jayadrata dikarenakan Jayadrata menaruh hati dengan Dursilawati.

Perjalanan raden Narayana, retna Subadra diiringkan juga dengan patih Udawa, sudah sampai alun-laun kerajaan Mandraka. Sesampai mereka di dekat pohon beringin di tengah alun-alun, datanglah bahaya mengancam Retna Subadra, yang tak lain dari raden Burisrawaa. Agaknya kecantikan Subadra mendorongnya untuk menggoda, sehingga manakalla raden Burisrawa mengganggunya, Narayana segera turun tangan mengamankan adiknya, Raden Burisrawa ditempelengnya, lari terbirit-birit. Patih Tuhayata membelanya, dilayani oleh Patih Udawa , sehingga terjadilah huru-hara di pergelaran Mandraka.

Di pasewakan, kelihatan raden Rukmarata melapor kepada raja Salya kejadian di alun-alun Mandraka, Prabu Baladewa yang hadir pada waktu itu sudah menduga, tak lain mesti aadiknya sendiri, ialah raden Narayana yang telah membikin huru-hara. Keluarlah Prabu Baladewa akan menyaksikan keadaan tersebut, dan benar juga ditemuinya adiknya kedua-duanya, beserta patih Udawa. Prabu Baladewa sangat menyayangkan tindakan adiknya, dimana tidak dapat membedakan antara watak pribadi yang keras dan suka berkelahi, dan keadaan baru berjamu di kerajaan mandraka, apapun dalih yang diajukan oleh raden Narayana.

Kepada adiknya berdua, segera dibawanya menghadap prabu salya. Kedatangan raden Narayana disambut dengan mesra oleh Prabu salya, keadaan istana menjadi suka-cita. Segala sesuatunya sudah diperintahkan siap oleh raja, upacara perkawinan akan segera dimulai. Prabu Suyudana didampingi oleh patah lelaki Arjuna, berjajar bersanding dengan patah wanita cantik ialah retna Dursilawati, raden Arya Jayadrata ditugaskan membawa payung kebesaran temanten, sekaligus memayunginya.

Di dalam keraton, Prabu salya dengan didampingi para tamu , tampak prabu Baladewa, Yudistiram, dan para tamu-tamu lainnya bersiap-siap menyongsong kedatangan temanten laki-laki. Terdengarlah pengumuman, bahwasanya temanten laki-laki telah menginjak di halaman istana, segenap prayagung istana Mandraka menyongsongnya, prabu Baladewa menggandeng temanten laki-laki, dibawanya menuju tempat pelaminan di pendapa, dilanjutkan ke tempat upacara pertemuan temanten. Segera perkawinan dimulai, dan bertemulah sudah prabu Suyudana dengan temanten putri, Dewi banowati. Menjelang sore hari , para tamu beristirahat di pesanggrahan masing-masing, demikian pula raden Arjuna dan raden Narayana , Retna Subadra tak jauh tempatnya dengan Dewi dursilawati. Agaknya raden Jayadrata tak dapat menerima keakraban antara Arjuna dan Dewi dursilawati, dalam hatinya timbul was-was jangan-jangan Dewi Dursilawati direbut oleh Arjuna nantinya, tak ayal lagi raden Jayadrata berkehendak akan memperdayakan aArjuna malam itu juga.

Malam itu Arjuna dan Narayana beserta Subadra sedang berbincang-bincang, Jayadrata mempergunakan kesempatan tersebut, Arjuna yang duduk di dekat pintu pesanggrahan dengan Subadra dan Narayana, diserang oleh Jayadrata. Raden Janaka yang tidak menyangka adanya serangan dari jayadrata tentu saja tercengang-cengang,sheingga menjatuhkan Aarjuna ke pangkuan Subadra. Bagi yang tidak mengetahui memang tersiar berita, bahwasanya Arjuna mati di pangkuan Wara Subadra. Bratasena menerima laporan bingung dan menanyakan hal itu kepada prabu Baladewa, dan dijawab bahwasanya Arjuna tidak mati, adapun penylesaiannya prabu Baladewa akan menanggungnya.

Di istana Mandraka, prabu Duryudana memohon pamit kepada ayah mertuanya, ialah prabu salya. Sekaligus permaisuri nya ialah Dewi Banowati akan diboyongnya pula. Selagi iring-iringan temanten dipersiapkan, datang patih Mandraka Tuhayata, melapaor pada raja bahwasanya kerajaan Mandraka diancam bahaya, musuh dari kerajaan Sindunggarba datang menyerang. Di istana tampak pada waktu itu, prabu Baladewa, Yudistira adipati Awangga Karna, kepada merekalah dibebani tugas untuk menanggulangi musuh dan mereka menyanggupkan diri.

Balatentara Ssindunggarba, yang dipimpin sendiri oleh rajanya bernama Garbaruci bertanding dengan Baladewa, patih Garbasagka tanding dengan adipati Awangga Karna, musuh dapat ditumpas nya. Arya Bima mengamuk sehingga wadyabalaaa Sindunggarba lari kocar-kacir. Kembalilah prabu Baladewa, Yudistira dipati Awangga dan Bratasena menghadap prabu Salya, raja sangat berkenan di hati. Seluruh istana merayakan kemenangan mereka bersuka-ria, amanlah sekarang kerajaan Mandraka tiada gangguan satu apapun juga.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:19 PM
#134

Wahyu Cakraningrat


Raja Suyudana menyuruh Lesmana Mandrakumara mencari Wahyu cakraningrat. Lesmana Mandrakumara pergi ke hutan Krendawahana, para prajurit mengawalnya, dipimpin oleh Patih Sengkuni, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi.

Batari Durga datang di Kerajaan Tunggul Malaya, emnyuruh agar raja Dewasrani bersemedi di Hutan Krendawahana. Dikatakannya sang Hyang Guru hendak m,enurunkan wahyu kerajaan. Dewasrani menurut perintah sang batari, lalu berangkat, dikawal Jaramaya dan Rinumaya.

Lesmana Mandrakumara bertemu Dewasrani . Karena sama tujuan terjadilah perang. Tetapi masing-masing menyimpang jalan.

Prabu Kresna menyuruh samba supaya pergi ke hutan Krendawahana mencari wahyu . Samba menunjung perintah Prabu Kresna , lalu berangkat, diiringi Patih Udawa.

Angkawijaya dan gatotkaca menghadap Begawan Abiaysa di wukir Ratawu, sang Begawan memberitahu bahwa dewa akan menurunkan wahyu. Angkawijaya dan Gatotkaca disuruh disuruh mencarinya. Mereka berdua berangkat , para panakawan mengawalnya. Ditengah hutan bertemu raksasa dari Tunggul Malaya. Terjadilah perang , prajurit raksasa habis binasa.

Sang Hyang Guru dihadap para dewa, Sang Hyang menyuruh agar Batara Cakraningrat turun ke dunia bersama Batari Widayat. Batara Cakraningrat agar merasuk kepada Angkawijaya , barati Widayat merasuk kepada Barati Utari. Batara Cakraningrat dan Batari Utari menjungjung perintah Sang Hyang Guru.

Dewasrani menerima laporan bahwa para prajurit raksasa mati dibunuh Angkawijaya. Dewasrani marah, lalu akan mencari Angkawijaya.

Batara cakraningrat bertemu Samba, dan bertanya maksud kedatangan Samba di Hutan. Samba menjawab, bahwa ia mencari wahyu. Batara Cakraningrat memberi saran, agar tidak mendekat perempuan selama empat puluh hari. Samba menurut saran batara Cakraningrat, tetapi ketika bertemu Batari Widayat samba jatuh cinta. Batari Widayat menolak . Tiba-tiba Batara Cakraningrat datang dan berkata, bahwa wahyu tidak mau masuk pada oranges eperti Samba. Kemudia telpak tangan Samba dirajah Batara Cakraningrat lalu disuruh kembali ke Dwarawati.

Samba bertemu dengan prajurit Kuarwa, Samba dikira telah memperolah wahyu cakraningrat, maka mereka meminta wahyu itu, terjadilah perang. Korawa kalah, lalu lapor kepada Suyudana.

Batara Cakraningrat memasuki Angkawijaya, batari Widayat ke Wirata, mencari Utari. Raja Dewasrani bersama prajurit datang hendak merebut wahyu. Gatotkaca melawan, prajurit Dewasrani lari ketakutan.

Lesmana Mandrakumara bersama Sengkuni datang di Astina seraya menangis. Sengkuni berkata, bahwa wahyu direbut oleh Samba, Suyudana marah, Pendeta Durna menyarankan agar Adipati Karna ke Amarta, minta wahyu, sebab keluarga Dwarawati dan Pandawa berkumpul di Amarta.

Angkawijaya dan Panakawan datang di Amarta disusul kedatangan Samba. Samba berkata, bahawa tidak bisa memperoleh wahyu . Kemudian Hyang Narada datang memberitahu bahwa Angkawijaya telah memperoleh wahyu, kelah keturunannya akan menjadi raja. Narada kembali ke kahyangan.

Adipati Karna dan prajurut Kurawa mengamuk. Arjuna datang melawan Karna. Arjuna datang melawan Karna, Werkudara mengamuk, prajurit Kurawa lari ketakutan . Keluarga Pandawa dan Dwarawati pesta besar atas karunia wahyu cakraningrat yang diperoleh oleh Angkawijaya.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:20 PM
#135

Rajamala


Diam-diam Permadi telah sampai di Kerajaan Wirata dan menyaksikan pertempuran antara Rajamala dan Kakaknya Bratasena. Dia sengaja tidak menampakkan diri kepada kakaknya Bratasena atau pada Puntadewa atau si Pinten dan Tangsen dahulu agar hal ini juga tidak diketahui oleh musuh kakaknya yaitu ketiga ksatria sakti yang sombong itu. Demikian juga ia berpesan pada para punakawan agar menyamar menjadi rakyat biasa.

Pada suatu ketika setelah kakaknya mengalahkan Rajamala untuk yang kesekian kali Jagabilawa merobek perut Jagabilawa dan ususnya dihamburkan keluar. Permadi diam-diam mengamati mayat Rajamala yang ternyata oleh Raden Rupakenca dan Raden Kencakarupa dikumpulkan lagi semua usus dan jeroan yang sudah terburai itu dan dibawa lari ke suatu tempat pada saat hari sudah mulai gelap.

Permadi melesat mengikuti mereka, dan berhenti pada saat kedua orang itu sampai pada sebuah rumah. Mereka berdua menuju halaman belakang rumah. Permadi berlari memutar dan pergi kearah belakang rumah itu. Permadi menemui ada sebuah kolam kecil dibalik rerimbunan daun. Sesaat dilihatnya Kencakarupa dan Rupakenca bersama-sama menggotong tubuh Rajamala. Kemudian perlahan-lahan mereka meletakkan tubuh itu kedalam kolam.

Permadi terkejut ketika dilihatnya bahwa tubuh Rajamala dengan isi yang telah terurai keluar itu menyatu lagi dan sembuh seperti semual. Nampak Rupakenca dan Kencakarupa sedang menunggu proses penyembuhan dan penghidupan kembali sekutu mereka Rajamala sambil duduk bersemadi.

Setelah itu Permadi menjadi paham bahwa yang menghidupkan kembali Rajamala dari kematiannya adalah Kolam itu. Apa yang harus dilakukannya untuk membantu kakaknya.

Dia harus bertemu dengan kakak-kakaknya dan mengatakan hal itu.

Permadi bertemu dengan kakaknya, Puntadewa, Bratasena dan adik-adiknya Pinten dan Tangsen. Permadi dan Punakawan diperkenalkan dengan Raja Prabu Matswapati dan anggota keluarganya.

Pandawa membuka samaran mereka

Kemudian akhirnya Puntadewa mengaku bahwa mereka sebenarnya adalah Pandawa dari Astina putra Prabu Pandudewanata.

Prabu Matswapati yang terkejut memohon maaf karena tidak begitu kenal dan meminta maaf apabila selama ini ia kurang sopan kepada Pendawa lima pewaris kerajaan Astina itu.

Permadi kemudian menjelaskan tentang Kolam yang mampu menghidupkan kembali si Rajamala itu.

Puntadewa meminta diri untuk bersemadi memohon petunjuk kepada Dewa. Dewa Hyang Brama yang pernah menyebabkan kematian Pandawa di sebuah sendang berkenan memberi petunjuk. Puntadewa diberi petunjuk agar setelah Rajamala mati oleh Bratasena, Permadi harus memasukkan panah sakti Bramastra yang pernah diberikan Dewa Hyang Brahma kepadanya, ke dalam kolam keramat milik Rajamala.

Puntadewa menjelaskan petunjuk yang diterima dari Dewa itu kepada adik-adiknya.

Kemudian terjadilah lagi pertempuran yang sengit. Sebenarnya Bratasena sudah hampir kehilangan keberanian menghadapi orang yang tidak bisa mati, karena sebenarnya mereka seimbang dalam hal kesaktian, namun karena Bratasena lebih kuat maka dia selalu dapat mengalahkan Rajamala. Namun bukannya tidak mungkin suatu ketika dia tidak dalam keaadan sekuat biasanya dan Rajamala bisa saja mengalahkannya maka dia sendiri yang nanti bakal menemui ajal.

Hari itu Bratasena bertarung sangat gigih apalagi setelah mendengar petunjuk dari Dewa Brama, maka dia meyakinkan diri bahwa setelah kemenangan ini dia akan menang seterusnya. Dan benar setelah bertarung dari siang hingga sore hari maka akhirnya Rajamala dapat dikalahkan, kemudian lagi-lagi perut Rajamala dirobek robek habis dengan kuku Pancanaka sehingga benar-benar menyeramkan apa yang dilihat oleh orang-orang yang sedang menyaksikan perkelahian itu.

Setelah Rajamala tewas, diam-diam Bratasena dan Permadi mundur dari arena perkelahian dan memberi kesempatan Kencakarupa dan Rupakenca untuk mengumpulkan ceceran tubuh Rajamala. Kemudian mereka mendahului kedua orang itu ke kolam keramat milik Rajamala.

Tepat pada saat kedua orang itu merendam tubuh Rajamala kedalam kolam, Permadi dari jauh memanah kolam itu dengan panah Bramastra pemberian Hyang Brahma si Dewa api dan saat itu juga kolam menjadi mendidih sangat panas. Rupakenca dan Kencakarupa terkejut bukan kepalang menyaksikan hal itu, apa lagi saat mereka melihat tubuh Rajamala bukannya menyatu dan sembuh namun semakin hancur luluh dan akhirnya tubuh itu sudah tidak berbentuk lagi. Mereka saling memandang berpikir tentang hal yang sama, ini berarti tamat sudah riwayat Rajamala andalan mereka. Mereka termenung dan tepekur apa yang harus dilakukan. Mereka berdua jelas tidak berani menghadapi Jagabilawa yang sangat kuat itu.

Dalam keadaan masih termangu di kegelapan malam itu tiba-tiba muncul si Jagabilawa yang berteriak-teriak memanggil mereka. Si Jagabilawa ditemani oleh seorang satria yang memegang senjata panah. Dengan hati galau dan marah, mau tidak mau mereka harus menghadapi dua orang itu. Kemudian terjadilah pertarungan yang sengit. Tidak berapa lama Bratasena telah berhasil mengalahkan Rupakenca sedang Permadi masih berkejar-kejaran dengan Kencakarupa, namun tidak lama kemudian terdengarlah teriakkan nyaring Kencakarupa yang terkena panah Permadi. Dua orang itu akhirnya menemui ajal di hari yang sama dengan Rajamala.

Rajamala yang tewas oleh Bratasena atau Jagabilawa itu sebenarnya adalah anak Begawan Palasara dengan Dewi Watari. Sedang Rupakenca dan Kencakarupa dua saudara kembar sebenarnya adalah saudara Rajamala, walaupun wajahnya berbeda mereka adalah putera Begawan Palasara juga namun dari Dewi Kekayi putri Prabu Kekaya di Kencakarupa.

Dalam pertandingan antara Jagabilawa melawan Rajamala, Raden Seta putera sulung Prabu Matswapati tidak hentinya mendukung Jagabilawa sedangkan Rupakenca dan Kencakarupa selalu menyemangati Kakaknya Rajamala.

Mendiang Rajamala, Rupakenca dan Kencakarupa memang berhati jahat, mempunyai keinginan yang jahat terhadap Prabu Matswapati, mungkin ingin menguasai tahta kerajaan Wirata, dan merasa tidak ada yang mampu menghadapi mereka.

Oleh sebab itu kematian Rajamala dan kedua adiknya itu membuat hatinya lega dan senang, juga membuat semua rakyat senang.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:24 PM
#136

Penderitaan Bima


Suatu ketika para Kurawa mengadakan suatu acara selamatan di tepi sungai Gangga. Pihak Pendawa sebagai saudara diundang untuk hadir. Semua keluarga pedawa termasuk Dewi Kunti ibu pendawa datang juga.

Namun sebenarnya dibalik acara selamatan itu Suyudana telah mempunyai sebuah rencana yang jahat. Dia ingin membinasakan Bima. Hmmm bagaimana cara terbaik untuk mengalahkan si Bima itu. Kalau dengan adu kekuatan mungkin akan kalah.

Suyudana memanggil adiknya Dursasana, Citraksa dan Citraksi, serta adik-adiknya yang lain berkumpul. Saat itu Prabu Destarata sedang tidur. Dengan berbisik bisik Suyudana mengungkapkan rasa iri dihatinya. Tentang rencana ayah mereka yang akan memberikan tahta kerajaan kepada Puntadewa, tentang keinginannya menjadi raja, yang saat itu juga langsung di dukung oleh adik-adiknya.

Selain itu Suyudana memaparkan tentang peta kekuatan Pandawa dan Kurawa. Tentang kekuatan Bima yang tiada tandingnya. Akhirnya dia menanyakan kepada mereka adik-adiknya apa yang sebaiknya dilakukan.

"Ah Kakang, sebagaimana kakang ketahui bahwa ayah telah mengundang mereka untuk datang ke acara selamatan kita para Kurawa di tepi sungai Gangga" Dursasana mulai angkat bicara.

"Kita harus memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya untuk membinasakan Bima, kemudian adiknya Arjuna." Sambung Citraksa

"Ah aku tahu kelemahan Bima adalah pada makanan, dia makan banyak sekali" Adiknya Citraksi menungkas.

"Apa yang engkau maksudkan Adikku Citraksi ?" tanya Suyudana penuh prhatian.

"Yang aku maksudkan adalah, Kita beri Bima makanan yang enak-enak", tapi sebelumnya kita tambahkan racun agar dia pingsan", Selanjutnya kita bisa tuntaskan rencana kita " Jawab Citraksi.

"Hmmm usul yang bagus " Sambung Suyudana, yang lain juga ikut mengangguk-angguk.

Sejenak kemudian Suyudana berkata "Nah sekarang kita bagi tugas, aku sebenarnya ingin menyaksikan si Bratasena itu makan racun dihadapanku, tapi aku tidak akan pernah bisa mengajak makan si Bima itu satu Meja denganku karena sepertinya dia juga sudah merasa bahwa aku membencinya."

"Ahh biar aku saja kakang" Dursasana menawarkan diri

"Atau kalau tidak biar Paman Arya Sakuni nanti aku mintai tolong, .. Aku yakin dia tidak pernah menolak apabila itu untuk kakang Suyudana" Ya... Ya... Ya..."

Semua yang hadir manggut-manggut.

"Citraksa dan Citraksi kamu berdua aku tugaskan untuk membuat racun dan mencampurnya pada makanan Bima",

"Jangan sampai para ahli masak dan pegawai istana tahu akan perbuatanmu"

Kata Suyudana.

"Siap Kakang, akan kami laksanakan" Sahut Citraksi, sementara Citraksa mengangguk mengiyakan kalimat adiknya. Dalam benaknya dia telah merancang campuran bubuk dan getah pohon yang pernah dia coba pada kambing dan kambing itu langsung jatuh pingsan. Untuk Bima mungkin takarannya harus ditambah.

"Baiklah adik-adikku kita tunggu saja datangnya hari itu"

Tiba pada saat hari acara selamatan tiba, rombongan Pandawa telah hadir. Suyudana heran menyaksikan Bima yang berjalan kaki sementara saudaranya yang lain naik kereta bersama Ibu mereka Dewi Kunti. Ah sejauh itu dia kuat berjalan kaki, atau mungkin dia berlari? Memang kuat sekali Dia ini...
Tepat sebelum santapan pesta dihidangkan, Suyudana memberi tanda pada Citraksa dan Citraksi untuk mulai menjalankan rencana. Meja yang penuh dengan makanan yang disukai Bima telah disiapkan. Paman Arya Sakuni juga telah menyatakan kesanggupannya beberapa hari yang lalu. Suyudana memandang kearah pamannya itu, adik dari Ibunya Dewi Gendari. Pamannya mengedipkan mata tanda telah siap.

Suyudana segera menghampiri Puntadewa, mengajaknya berbicara dan berbasa-basi dengan orang yang akan menjadi sainganya dalam memperebutkan tahta kerajaan astina. Puntadewa yang berhati bersih menyambut saudaranya itu tanpa rasa curiga, hanya ia agak heran mengapa hari ini Suyudana mendadak menjadi ramah.

Ibu Dewi kunti berjalan berkeliling bersama Dewi Gendari.. sesaat dilihatnya Citraksa yang menggenggam sesuatu dalam sebuah wadah kecil... pikirannya menjadi tidak enak, hatinya resah.. ada sesuatu apakah yang akan terjadi ..Jiwanya yang peka semenjak masa mudanya dia gemar bertapa mengatakan ada sesuatu.

Namun karena ada Dewi Gendari disampinya Dewi Kunti menebar senyum kepada semua orang yang hadir.

Tadi dia telah menyempatkan diri untuk bertemu dengan Prabu Dastarata dan mengingatkan tentang Sabda Prabu Abyasa tentang pesannya kepada Dastarata bahwa kepemimpinannya di Astina adalah sementara, dan segera setelah Puntadewa menjadi dewasa Tahta harus diserahkan kepada Puntadewa.

Sebenarnya Dewi Kunti kurang puas karena Dastarata hanya bergumam dan manggut-manggut, yang kurang jelas artinya apakah itu iya atau tidak. Seorang pemimpin seyogyanya tidak boleh ragu-ragu dan setengah-setengah dalam bersikap.

Sesaat kemudian dilihatnya putera kesayangannya Arjuna sedang duduk makan bersama dengan Anaknya yang lain Adipati Karna yang dilahirkannya melalui lubang telinga. " Ah mereka telah tumbuh menjadi remaja-remaja yang sehat, gagah, kuat dan berwatak satria "

"Ibu marilah kita makan " Panggil Karna dari kejauhan. " Ya anakku sebentar lagi "
Sahut Dewi Kunti sambil melanjutkan berbincang-bincang dengan Dewi Gendari.

Di tempat lain Arya Sakuni adik Dewi Gendari telah berhasil mengajak makan Bima satu meja bersama dengan Citraksa dan Citraksi. Citraksa telah memberi tanda pada piring-piring yang beracun dengan meletakkan sobekan daun pisang yang terlihat sama ukurannya. Di piring-piring yang lain tidak diberi tanda.

Bratasena melihat ke seluruh Meja.. wah makanan ini kelihatannya nikmat sekali..
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:25 PM
#137

Penderitaan Bima 2


"Ayolah Ananda Bima, kita makan segera, semua orang juga sudah makan" Kata Arya Sakuni memulai percakapan setelah mereka duduk di kursi menghadap meja di bawah pohon di tepi sungai Gangga.

"Ya paman memang nikmat sekali makan di tempat seperti ini" Sahut Bima

Citraksa dan Citraksi segera mengambil tempat, dan mulai mengambil makanan seolah semua makanan disitu layak untuk di makan.

"Ah makanan ini nikmat sekali, cobalah kakang Bima" Kata Citraksi mengulurkan makanan yang dimakannya. Bima mengambil makanan itu dan mencobanya..

"Ah betul memang enak sekali Dinda " Bima menimpali. Selanjutnya mereka makan dengan lahap. Namun ketiga orang itu makan dengan memilih makanan dari piring yang tidak diberi tanda. Sedangkan Bima telah mencoba semua makanan yang dihidangkan.

Sesaat dirasakannya ada rasa agak pahit dan aneh pada salah satu makanan yang sedang dikunyahnya. Namun untuk menghormati tuan rumah yang menyediakan makanan, dia menelannya semua. Arya Sakuni melirik kepada Kedua keponakannya, mereka saling memandang sesaat, namun segera berpura-pura melanjutkan makannya.

Beberapa saat kemudian Bima merasa pandangannya berkunang-kunang "Hoooy apa yang terjadi dengan kepalaku paman? kenapa aku tiba-tiba pusing? "

Ada Apa Bima, kamu kenapa ? Arya Sakuni berpura-pura datang menolong. Namun kalimat itu tidak dijawab oleh Bima karena dia telah terkulai di kursi makannya. Arya Sakuni memberi tanda kepada Citraksa dan Citraksi untuk berjaga jaga di sekitar meja itu jangan sampai ada yang melihatnya. Memang letak meja makan mereka agak terpisah dari meja lainnya.

Suyudana yang dari kejauhan menatap meja dimana Bima makan telah melihat bahwa Bima telah pingsan. Maka dia segera meminta diri kepada Puntadewa, bahwa dia mau menemui seseorang sebentar. Puntadewa yang tidak pernah mencurigai seseorang mengangguk. "Silahkan saudaraku" Jawab Puntadewa.

Suyudana bergegas menuju ke tempat dimana Arya Sakuni, Citraksa dan Citraksi berkumpul di tepi sungai Gangga. Datang kemudian Dursasana dan segera dia berbisik-bisik sebentar kepada saudara-saudaranya mencari akar-akar pohon yang liat namun kuat.

Setelah terkumpul Suyudana segera mengikat tubuh Bima yang kekar tapi sedang lemas tak berdaya itu dengan akar-akar hingga melilit tubuhnya dari bahu hingga kaki.

Suyudana dan Dursasana berdua mengangkat tubuh Bima namun masih kurang kuat juga akhirnya Citraksa dan Citraksi ikut membantu mengangkat tubuh Bima yang berat itu. Setelah diayun-ayun mereka berempat melemparkan tubuh Bima hampir ketengah sungai Gangga yang sedang deras mengalir.

Bima yang sesaat tersadar dari pingsannya pada saat terbawa arus mengalir melihat sekelompok orang, Kurawa!, nampak Suyudana tersenyum menyeringai dan Dursasana yang tertawa-tawa. Kemudian didengarnya suara-suara arus deras sungai Gangga, sesaat kemudian kepalanya terasa terbentur sesuatu yang keras. Kemudian semua menjadi gelap lagi. ... Ah Duhai Para Dewa lindungilah aku ... Jiwa Bima berbisik......

Suyudana yang merasa rencananya telah berhasil, berjalan kembali ke Meja Puntadewa. Sesaat Puntadewa melihat raut muka puas pada Suyudana, namun dia tidak tahu apa sebabnya. Dari tadi tidak dilihatnya si Bima adiknya......

Dari jauh Suyudana melihat ayahnya sedang bercakap-cakap dengan para punggawa istana. Sedang para undangan lain juga sudah selesai dengan santapan mereka masing-masing. Nakula dan Sadewa sedang berjalan-jalan melihat sekitar Istana. Tidak lama setelah itu para undangan dan kerabat istana telah mulai meminta diri kepada Prabu Suyudana ayahnya.

Bagai disambar petir, Suyudana terkaget-kaget ketika ibunya Dewi Gendari bertanya: "Anakku Suyudana apakah kamu melihat Bima saudaramu?"
"Ah aku tadi melihatnya sedang makan dengan Paman Sakuni" jawab Suyudana
"Dari tadi ibunya menanyakan dan mencarinya, karena Pandawa dan Ibunya sudah mau berpamitan untuk kembali kerumah".

"Cobalah tanya pada Paman Arya Sakuni ibu." jawab Suyudana.

Sesaat kemudian Ibunya Dewi Gendari menemui Dewi Kunti Ibu Bima dan berbincang-bincang, kemudia mereka berjalan menuju tempat yang sama. "..Ah pasti mereka mencari Paman Arya Sakuni " pikir Suyudana.

Ditengah jalan Dewi Kunti dan Dewi Gendari berpapasan dengan Puntadewa. " Anakku Puntadewa, apakah kamu melihat adikmu Bima?" tanya Dewi Kunti

" Tidak Ibu, bahkan aku juga sedang mencarinya.." Jawab Puntadewa.

" Kalau begitu lanjutkanlah mencari, Ibu juga akan menanyakannya pada Paman Arya Sakuni " Lanjut dewi Kunti

Dalam keadaan pesta yang baru usai, para undangan yang berpamitan, Dewi Kunti semakin gelisah.., Teringat lagi dia dengan penglihatannya yang melihat Citraksa yang memegang tempat wadah itu .... Apakah ada hubungannya ? Memang Pandawa dan Kurawa itu bersaudara, namun dia telah paham sifat-sifat anak Dastarata yang rata-rata tidak baik, pengiri, pendendam, usil dan jahat.

Sampai hampir sore Bima tidak diketemukan juga. Dewi Kunti mulai merasakan kebenaran perasaannya. Pasti telah terjadi sesuatu dengan Bima anaknya. Aku ibunya bisa merasakan apa saja yang terjadi dengan anak-anak ku. Desahnya dalam hati. Si Sakuni yang ditanya tadi hanya menjawab bahwa ia melihat Bima tertidur di bangku setelah kekenyangan makan. Selanjutnya dia tidak tahu apa-apa.

Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa telah berkumpul dan akhirnya si Sulung Puntadewa menghibur Ibunya dan berkata
"Ibu, mungkin adik Bima telah mendahului kita pulang ke rumah, dia tadi berangkat tidak bersama-sama dengan kita, dia berlari sampai ke tempat ini, sedang kita semua naik kereta. Barangkali dia telah bosan dengan suasana pesta dan ingin pulang lebih dahulu."

"Ya ibu, sebaiknya marilah kita pulang dan memastikan hal itu" sambung Arjuna.

Dewi Kunti hanya bisa mengangguk. Kemudian mereka segera meminta diri kepada Dastarata yang berjanji untuk membantu mencari Bima. Sambil menenangkan Dewi Kunti.

" Kakanda Mbakyu Kunti, dia kan sudah besar, pasti sudah bisa menjaga diri, dan dapat pulang ke rumah sendiri" Hibur Dastarata.

"....Ya semoga para Dewa melindunginya ..." pikir Dewi Kunti dalam hati.

Selanjutnya mereka menaiki kereta yang akan membawa mereka pulang. Kereta itu berjalan pelan meninggalkan istana kerajaan Astina. Dari kejauhan nampak beberapa pasang mata yang mengawasi kepergian mereka dengan was-was dan puas.

Dalam keadaan terapung dan terseret serta pingsan, Bima terbawa oleh arus sungai sampai pada suatu daerah yang tidak berpenghuni, semakin-lama semakin sunyi. Hampir semalaman Bima Pingsan dan terseret-seret, terbentur bentur, pingsan, sadar, pingsan lagi,sadar lagi namun hari telah gelap, hujan juga turun dengan derasnya dan tubuhnya terikat kuat.

Lama-kelamaan gesekan-gesekan akar dengan batu-batu kali sungai gangga sedikit melepaskan ikatannya.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:26 PM
#138

Pengkhianatan Di Balai Sagala-gala


Pandawa mengetahui bahwa Suyudana telah diangkat menjadi raja.
Pandawa tenang dan sabar.
Kurawa khawatir kalau Pandawa kelak akan menuntut haknya.
Suyudana dan para kurawa dan merencanakan untuk membinasakan Pandawa
Prabu kurupati duduk dipaseban dihadap oleh Patih Arya Sakuni, Dursasana, Durmagati, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi. Mereka membuat rencana jahat dengan mengundang Pandawa ke pesanggrahan batas kota yang disebut Balai Sagala-gala.

Pandawa diundang hadir ke Balai Sagala-gala untuk membicarakan pembagian negara Astina. Pesanggrahan tersebut dibuat seluruhnya dari bambu yang didalamnya diisi dengan obat sandawa. Dengan rencana bahwa bila Pandawa dalam keadaan berpesta dan mabuk-mabukan akan pesanggrahan itu akan di bakar.

Pandawa, terutama Puntadewa yang tidak menaruh curiga menghadiri acara itu.
Dewi Kunti was-was sejak terjadinya peristiwa Bima yang diceburkan di Sungai Gangga, dia tidak percaya lagi pada Kurawa, oleh karenannya dia merasa perlu ikut.

Didalam Pesanggrahan itu berlangsung pesta besar-besaran. Ada yang bermain Kartu adan yang bermain dadu ada yang mabuk-mabukan.

Hanya Bima atau Bratasena yang tetap waspada. Semenjak peristiwa dirinya diracun, dia tidak pernah percaya lagi pada Kurawa terutama pada Suyudana.
Bima yang waspada berpura-pura buang air, untuk menyelidiki rencana jahat apa yang akan dilakukan Kurawa.

Ditempat sepi Bima didatangi oleh Batara Narada secara diam-diam yang menyatakan kalau nanti ada seekor binatang garangan putih, agar diikuti saja kemana perginya, agar keluarga pendawa selamat.

Pandawa ditantang main Dadu oleh Kurawa. Prabu Kurupati melawan Suyudana
Taruhan judi adalah kalau Kurupati kalah ia akan memberikan negeri Astina, sedangkan kalau Puntadewa kalah ia harus menyerahkan nyawa.
Dalam permainan itu Prabu Kurupati berkali-kali kalah.

Patih Sakuni yang tahu keaadaan Suyudana rajanya dalam keadaan terdesak secara curang memutar dadu, hal ini diketahui oleh Dewi Kunti.
Dewi Kunti marah, Sakuni dikatakannya Setan.
Patih Sakuni mundur, marah dan dendam sekali.
Patih Sakuni melihat bahwa para Pendawa hampir semuanya dalam keadaan mabuk.
Patih Sakuni segera memerintahkan para kurawa untuk segera membakar uceng-uceng. Pesanggrahan Balai Sagalagala terbakar.

Setelah api menjalar para Kurawa yang bertugas menyelamatkan Prabu Suyudana segera bertindak mengamankan Prabu ketempat yang telah dipersiapkan.

Melihat pesanggrahan terbakar hebat Bratasena segera masuk dan memeluk ibunya, kakaknya dan adiknya untuk menyelamatkan diri dari amukan api. Arjuna dan Puntadewa dalam keadaan mabuk dan pusing.

Pandawa diselamatkan dari Balai Sagala oleh Batara Narada. Tiba-tiba Bratasena melihat ada binatang garangan putih. Sesuai dengan pesan Hyang Narada, Bratasena mengajak ibu dan saudara-saudaranya untuk mengikuti kemana perginya binatang itu. Binatang itu ternyata memasuki lobang tanah. Bratasena membawa ibu dan saudara-saudaranya memasuki lobang tersebut. Mereka selamat.

Pesanggrahan itu setelah terbakar hebat, maka roboh. Prabu Suyudana pura-pura menangis dan mengira semua Pendawa dan Ibunya telah tumpas, termasuk bibinya Dewi Kunti.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:27 PM
#139

Prabu Salya Terjebak


Prabu Salya, adalah saudara Dewi Madrim, ibu dari Nakula dan Sadewa. Ia mendengar berita bahwa Pandawa berkemah di Upaplawya dan sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perang yang akan datang. Prabu Salya lalu mempersiapkan balatentaranya dalam jumlah yang amat besar dan mengirim mereka ke tempat berkumpulnya pasukan perang Pandawa.

Berita keberangkatan Prabu Salya bersama balatentaranya sampai ke telinga Duryodhana. Ia memerintahkan sejumlah perwiranya untuk menyambut Prabu Salya dan memerintahkan pasukannya untuk membangun beratus-ratus tempat peristirahatan di sepanjang jalan yang akan dilalui balatentara Prabu Salya. Tempat peristirahatan itu dihias dengan sangat indah. Waktu beristirahat, balatentara Prabu Salya dijamu dengan aneka macam makanan dan minuman yang berlimpah dan dihibur dengan berbagai pertunjukkan kesenian yang memikat.
Seluruh balatentara Prabu Salya merasa senang dan puas menerima sambutan Duryodhana. Prabu Salya sendiri menemui salah seorang perwira tinggi pasukan Duryodhana dan berkata, "Aku ingin memberi hadiah kepadamu dan kepada mereka yang telah menyambut kami dengan ramah. Katakan kepada Duryodhana bahwa aku sangat berterima kasih kepadanya".

Perwira itu lalu menyampaikan pesan Prabu Salya kepada Duryodhana. Mendengar hal itu, Duryodhana yang memang menunggu saat paling tepat untuk menemui Prabu Salya, segera menemui Raja tersebut. Dihadapan Prabu Salya, ia mengatakan betapa besarnya kehormatan yang diperolehnya karena Raja Salya merasa senang oleh sambutan pasukan Duryodhana. Tutur kata Duryodhana yang ramah benar-benar menyenangkan hati Prabu Salya yang sama sekali tidak punya prasangka apapun. Ia mengira semua itu merupakan ungkapan ketulusan Kurawa. "Alangkah hormat dan baik hatinya engkau kepada kami", kata Prabu Salya yang terbuai oleh sambutan luar biasa dan keramahan pasukan Duryodhana. "Bagaimana aku bisa membalas budi baikmu ?" tanya Salya.
Duryodhana lalu menjawab, "Sebaiknya kau dan balatentaramu bertempur di pihak kami. Itulah yang kuharapkan sebagai balas budimu".
Prabu Salya sangat kaget mendengarnya. Ia terdiam, terpaku. Maka sadarlah ia dengan siapa sebenarnya ia berhadapan.
Duryodhana melanjutkan, "Engkau sama berartinya bagi kami berdua. Kami adalah keponakanmu juga. Engkau harus penuhi permintaanku dan berikan bantuanmu kepadaku".
Karena telah menerima pelayanan yang sangat baik dari anak buah Duryodhana selama beristirahat, dengan singkat Prabu Salya menjawab, "Kalau memang demikian keinginanmu, baiklah !".
Duryodhana yang belum merasa yakin akan jawaban itu, mendesak Prabu Salya sekali lagi sebelum raja itu pergi.
Prabu Salya memandang Duryodhana dengan tajam sambil berkata, "Duryodhana, percayalah kepadaku. Aku berikan kehormatan ucapanku kepadamu. Tetapi aku harus menemui Yudhistira untuk menyampaikan keputusanku".
Akhirnya Duryodhana berkata, "Pergilah menemui Yudhistira, tetapi kembalilah segera. Jangan ingkari janjimu".
Salya hanya berkata, "Kembalilah ke istanamu dan peganglah kata-kataku. Aku tidak akan mengkhianatimu".
Setelah berkata demikian, ia meneruskan perjalanannya menuju Upaplawya, tempat perkemahan Pandawa.

Pandawa menyambut paman mereka dengan gembira. Nakula dan Sadewa langsung menceritakan pengalaman pahit yang mereka alami selama hidup di pengasingan. Tetapi, ketika mereka mengharapkan bantuan Prabu Salya dalam peperangan yang akan datang, dengan sedih Raja itu berkata bahwa ia telah menjanjikan dukungannya kepada Duryodhana.

Yudhistira sangat terkejut dan menyesali dirinya sendiri karena sejak awal yakin bahwa Prabu Salya akan berpihak kepada Pandawa. Ia mencoba menutupi kekecewaannya dengan berkata, "Pamanku yang perkasa, engkau mempunyai kewajiban untuk memenuhi janjimu kepada Duryodhana. Kedudukanmu akan sama dengan Kresna dalam pertempuran nanti. Karna pasti akan mengharapkan Paman untuk menjadi sais keretanya waktu ia berhadapan dengan Arjuna. Apakah Paman akan menyebabkan kematian Arjuna atau Paman akan menghindarkannya dari maut ? Tentu saja aku tidak bisa memintamu untuk menjatuhkan pilihan. Aku hanya mengungkapkan isi hatiku dan keputusan terletak di tangan Paman".

Prabu Salya menjawab, "Anak-anakku, aku telah dijebak oleh Duryodhana. Aku telah berjanji akan membela dia. Ini berarti aku harus berhadapan dengan kalian. Tetapi, seandainya Karna memintaku menjadi sais keretanya dalam pertarungan melawan Arjuna, ia pasti gentar menghadapinya. Arjuna pasti menang. Segala penghinaan yang kalian terima dan diderita oleh Drupadi akan berubah menjadi kenangan indah bagi kalian. Kelak kalian akan hidup bahagia. Ingatlah, tak seorangpun dapat menghindari atau menghapus suratan nasib. Aku telah berbuat salah. Sepantasnyalah aku memikul akibatnya".
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:28 PM
#140

Dorna Gugur


Kekuatan fisik dan keahlian bertanding ditopang dengan kesaktian yang tinggi, belum menjamin sebagai suatu kekuatan yang prima tanpa ditunjang aspek kejiwaan seperti ketenangan, ketahanan mental dan kewaspadaan atin. Maha resi Dorna seorang pakar straegi perang dan ahli menggunakan senjata masih terpancing oleh berita provokasi hingga terpecah konsetrasinya melemah daya juangnya. Ini terjadi dalam perang barata ketika bertarung dengan Pandawa bekas muridnya.

Sebenarnya guru besar ilmu perang itu menaruh simpati yang dalam kepada Pandawa yang selama menjadi mahasiswanya, dinilai baik tingkah lakunya, penurut dan sungguh-sungguh dalam mengamalkan pelajaran yang diberikan. Sebaliknya kaum Kurawa selain tingkah lakunya ugal-ugalan, juga rendah akhlaknya dan kurang memperhatikan pelajaran sehingga dalams egala hal Pandawa di nilai lebih unggul. Keberadaannya di pihak Kurawa adalah rekayasa politik Sakuni untuk memperkuat barisan Kurawa jika timbul perang dengan Pandawa.

Walau demikian Dorna masih berusaha membujuk Duryudana agar bersikap lebih lunak mau memenuhi tuntuan Pandawa untuk memperoleh tanah sesigar semangka sehingga perang dapat dicegah. Berkata Dorna:" Angger Prabu, redamlah kebencian itu. Kebencian timbul karena dirinya tidak mampu berpikirs ecara sehat. Karena itu bersikaplah lebih lunak agar tercipta perdamaian kedua belah pihak," ujarnya menyarankan. "Jangan paman bicara soal perdamaian. Aku tidak berugur macam itu. Damai berarti rugi, perang pilihan terbaik," jawabnya tegas. "Mereka menuntut keadilan bukan perang." kilah Dorna. "Itu sudah merupakan keadilan yang digariskan Hyang Pasti. Kaum pengemis sudah terbiasa hidup sengsara. Karena itu mereka tidak patut memerintah negara," kilahnya dengan nada menghina. "Angger masih anggap enteng Pandawa? Bukankah sudah terbukti mereka ungguls egala-galanya? Adipati karna yang dijagokan ajal di tangan Arjuna. lalu hari ini, esok atau lusa siapa lagi yang akan menyusul," Dorna memberi peringatan. "Justru hari ini, esok atau lusa dan seterusnya giliran mereka yang akan binasa di tangan kaum Kurawa!" sergahnya. "lalu siapa orangnya yang sanggup menghancurkan pandawa?" desak sang resi ingin tahu. "Siapa lagi kalau bukan sampeyan yang sanggup dan harus menghancurkan Pandawa. Hari esok harus paman buktikan kesetianmu kepadaku. Ini perintah!" tegasnya.

Terhenyak sang resi mendengar perintah itu. Ia bukan takut perang, tetapi ia harus perang memerangi kebenaran. Sedang di sisi lain ia harus melaksanakan perintah raja. Begitulah keesokan harinya Dorna bertandang di medan laga. ia perang dengan sungguh-sungguh sehingga tidak sedikit korban di pihak Pandawa. Kesaktiannya tak tertandingi, hanya Arjuna yang sanggup menyaingi walau pasukannya tetap tak memperoleh kemajuan. Kresna yang mengawasi dari jauh cukup waspada, bahwa Dorna sulit ditandingi dengan cara biasa.

Satu-satunya cara untuk dapat melemahkan daya juangnya harus dibohongi, seolah-olah anak tunggalnya Aswatama yang sangat dikasihi telah mati di medan laga. Kebetulan ketika itu di medan perang Prabu Gardapati tengah bertarung dengan mengendari gajahnya yang kebetulan namanya Estitama. Segera Kresna menyuruh Bima membunuh raja dan gajahnya dan kemudian menyebarkan berita bahwa anaknya telah mati, tetapi tidak dengan nama Estitama melainkan dengan nama Aswatama mati.

Dengan demikian diharapkan si Resi yang sakti tak tertandingi itu akan terpecah konsentrasinya dan melemah daya juangnya. Demikianlah setelah Bima berhasil membunuh raja dan gajahnya, ia menyebarkan berita bahwa Aswatama telah mati. Berita itu digemakan pula oleh para prajurit dengan teriakan: "Aswatama mati... Aswatama mati!". Gema berita itu sampai ke telinga sang resi dan seketika ia tersentak seraya berucap: "hah, anakku mati? Ah, tidak, tidak, tak mungkin, dia gagah sakti," ucapnya setengah tak percaya.

Namun teriakan bergema lagi bahkan semakin santer sehingga ia menghentikan perangnya dan mengajak gencatan senjata kepada Pandawa, untuk mendapatkan kejelasan benar tidaknya anaknya telah mati. Baik Nakula maupun Sadewa sama-sama menjawa: "Estu Aswatama telah mati." Meski mengiris hati tapi jawaban itu masih ngambang. Didatanginya Arjuna bekas murid kekasihnya: "Anakku, aku sengaja minta gencatan sehari ini, karena ada sesuatu yang penting yang ingin aku tanyakan kepadamu anakku." "Apakah jawabannya akan dipercaya mengingat kita sedang bermusuhan, paman?" "Aduh anakku, meskipun kita sedang dalam perang, tetapi yang sedang perang itu kewajiban, bukan guru dan muridnya.

Karena itu tidak ada alasan untuk tidak percaya, anakku," ujarnya menyaknkan. "Kalau begitu silahkan apa yang hendak paman tanyakan?" "Benarkah Aswatama anak paman telah mati,he?" "Oh, hama harus memberitahukan hal ini, sebab ini menyangkut nyawa seseorang, apalagi yang bertanya adalah ayahnya sendiri. Memang benar Aswatama sudah mati paman," Arjuna coba menyakinkan. Hati siapa yang tidak hancur mendegar anaknya telah mati. Apa lagi bagi Dorna< style="font-style: italic;">sampeyan yayi," desaknya. "Bertanggung jawab, bahkan membiarkan para pejuang hancur binasa, hanya karen ingin mempertahankan kepentingan diri pribadi. Layakkah seorang pemimpin bersikap demikian?" Hening sejenak masing-masing tenggelam dalam lamunan tetapi pikiran tetap bergerak mencari jalan yang terbaik.

Tiba-tiba Kresna yang memang ahli dalam berpolitik telah menemukanc ara untuk mengatasi persoalan yang dihadapi. Ia meminta Samiaji untuk mengatakan dengan kata "Esti" yang artinya gajah. Tetapi dalam mengatakan kata esti hendaknya tidak dengan nada yang keras. Belum sempat Samiaji menjawab, resi Dorna telah datang dan berkata: "Angger, bumi dan langit menjadi saksi, bahwa angger adalah mustikaning manusia yang anti untuk berbohong. Angger akan mengatakan putih pada yang putih, dan hitam pada yang hitam tanpa direkayasa apa pun. Nah, kini paman sangat membutuhkan jawaban yang murni semurni sikap dan watak angger dengan sebuah pertanyaan: "Benarkah anak paman Aswatawa sudah mati?" tanyanya harap-harap cemas.

Samiaji termenung terjadi perang sabild alam dirinya tapi kemudian ia menjawa: "Masihkan paman percaya kepada orang yang sedang paman musuhi?" "Olalala, paman tidak bertanya kepada musuh, tapi bertanya kepada manusia Samiaji yang tidak pernah mengingkari keteguhan imannya," ujarnya memberi keyakinan. Maka dengan mengingatkan hati sang Pandu putra menjawab: "Paman, Esti Aswatama sudah mati." Hanya dalam mengatakan Esti sangat perlahan hampir tidak terdengar, tetapi jawaban itu sudah cukup bagi resi Dorna untuk mempercayainya. Seketika itu ia terpaku bagai patung. Air mata meleleh menyusuri celah-celah pipi yang keriput seraya berucap tersendat: "Duh anakku, kini aku sadar, bahwa manusia itu ada tapi tidak sempurna. Memang kita berada di pihak yang salah dan salah akan kalah. Kini aku rela untuk mati menyusul engkau anakku," ujarnya sangat memelas. lalu bagaimana dengan Samiaji. Ia tampak termenung karena, bagaimanapun juga, dia telah berbohong. Akibatnya kereta yang biasa ia kendarai sejengkal tidak menapak tanah, mendadak anjlok menapak bumi.

Tiba-tiba Drestajumena sesumbar menantang Dorna ingin membalas kematian ayahnya, Drupada. Sementara di angkasa Sukma Ekalaya juga siap akan memebalas atas kematiannya gara-gara jari kelingkingnya dipotong oleh Dorna, sewaktu adu ketangkasan melepas anak panah dengan Arjuna. Maka masuklah sukma Ekalaya ke dalam tubuh Drestajumena, hingga satria Pancala itu menjadi berignas.

Dan tak lama kemudian puluhan anak panah dilepas mengarah pada sang resi. namun hanya sebuah yang mengenai dada sang resi, sedang lainnya berhasil ditepisnya. Resipun tak tinggal diam, dilepasnya puluhan anak panah dan mengenai kuda serta keretanya hingga hancur berantakan, bahkan nyaris membinasakan satria Pancala itu jika tidak segera melompat dari keretanya. Menyaksikan perang yang tidak seimbang, Bima naik pitam dan memaki sang resi: "Hei, ternyata engkau brahmana licik perang seperti prajurit mencabut nyawa orang seenaknya. Padahal engkau tukang ibadah, anak sendiri mati tidak kau hiraukan, saksinya Samiaji orang yang pantang berbohong. Seperti itukah sikap seorang Brahmana?" Mendengar makian itu hati sang resi terasa pedih. Hati kecilnya membenarkan makian itu. Seketika gendawa dan jemparingnya ditaruh dan ia bersidakep sinuku tunggal meleng anteng mengheningkan cipta kepada Dewa Wisnu.

Tak lama kemudian dari tubuhnya keluar cahaya menyilaukan, sukmanya melayang munggah ke alam nirwana disambut dewa apsara dan dewi apsari sambil menaburkan wewangian. yang tinggal hanya jasadnya terpaku bagai patung. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa dia telah tiada. Tiba-tiba Drestajumena dengan pedang di tangannya menghampiri dan menebas kepala sang resi hingga menggelinding jatuh ke bumi. Para Pandawa sangat menyesalkan tindakannya. Tetapi Kresna menjelaskan, bahwa maha resi adalah manusia yang bijaksana dan banyak jasanya, tetapi tak lepas dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Mungkin kejadian itu sebagai hukumannya.*
Page 7 of 27 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)