Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)
Total Views: 56572 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 8 of 27 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 >  Last ›

izroilblackarmy - 12/06/2011 06:32 PM
#141

Pancawala Rabi


lamaran pancawala anak dari puntadewa diterima oleh arjuna. pancawala akan dinikahkan dengan putrinya pergiwati di kesatrian madukara. hal yang masih berupa pembicaraan keluarga ini disepakati akan diresmikan. maka segeralah ngamarta mengirim orang untuk melakukan lamaran resmi. sedianya yang akan melakukan lamaran adalah sri bhatara kresna mewakili baginda raja punta dewa.

kabar beredar juga ke hastina. di hastina drona membikin suatu strategi. dia mengajukan sebuah usulan agar melamar pergiwati dan disandingkan dengan lesmana mandrakumara putra mahkota hastinapura. sang prabu duryodana setuju. maka berangkatlah utusan dari hastina pura, yaitu resi drona, baladewa dr mandura dan karna raja ngawangga.

utusan dari hastina tiba, lalu karena pakewuh singkat cerita arjuna menerima lamaran dari hastina. dan bersiaplah pesta diadakan antara lesmana mandakumara dengan pergiwati. sementara itu untuk memberitahu ke ngamarta arjuna mengirim petruk dan punakawan untuk menyampaikan berita bahwa lamaran pancawala dan ngamarta di tolak.

punakawan sampe di ngamarta, rombongan penglamar sudah siap berangkat. mereka kaget ketika menerima kabar bahwa lamaran di tolak. werkudoro sangat marah karena menilai penolakan adalah suatu kekurangajaran arjuna kepada kakaknya, puntadewa. werkudoro dilerem oleh punta dewa. ahirnya kresna dan werkudoro ke madukoro untuk ikut menghadiri undangan pernikahan pergiwati dan lesmana.

pancawala merasa sedih, dan dihibur punakawan. punakawan berjanji akan membantu. lalu mereka segera pamit dr siti hinggil ngamarta dan pergi ke madukoro untuk mengupayakan agar pergiwati mau untuk menikah dengan pancawala. sementara puntadewa mengundurkan diri dr siti hinggil dan menemui drupadi. berkata bahwa arjuna menolak lamaranya. drupadi sangat marah dan sedih. lalu meminta agar punta dewa mau membalas penghinaan arjuna. sangkin gmenahan emosi sudah lama, tak kuat lagi. puntadewa seketika menjadi raksasa yang menggetarkan jagad. segera pergi ke madukoro akan memangsa harjuna.

di taman kaputren madukoro. pancawala masuk ketemu pergiwati. sebenarnya ke 2 orang ini saling suka. tapi saling malu malu. dengan sedikit intrik intrik pancawala memeriksa kesetiaan pergiwati. ahirnya pergiwati mennagis dan mengaku menerima lamaran lesmana karena takut ayahnya. ahirnya pancawala dan pergiwati bercumbu ditaman. ketahuan, lalu geger. dengan bantuan antasena, antaredja dan gatotkaca para penghantar penganten kurawa bisa dipukul mundur.

arjuna marah mendengar kabar ini, tapi sebelum arjuna sempet mengatasi kerusuhan di kaputren, madukoro kedatangan raksasa luar biasa besar. arjuna kewalahan menghadapinya. sampe lari dan bersimpuh dibawah kaki kresna. disana kresna berkata apakah arjuna sadar kesalahanya kepada puntadewa?arjuna mengaku salah. lalu dusuruh oleh kresna untuk memakai baju putih putih bersama pergiwati dan pancawala untuk datang bersujud di kaki raksasa.

raksasa menjadi terharu dan berubah wujud kembali menjadi punta dewa. dan ahirnya pernikahan pancawala dan pergiwati dilangsungkan.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:54 PM
#142

Baratayuda: Kala Kalabendana Menjemput 1

By MasPatikrajaDewaku

Sesungguhnya Dursasana waktu mendapat tugas dari kakaknya sudah enggan segera berangkat ke istana. Namun kematian Burisrawa kawan karibnya yang hanya bisa ia saksikan dari jauh, sebab ia sudah menyanggupi kembali ke Astina, menjadikan ia terpicu untuk segera berangkat malam kemarin. Keengganan yang berkepanjangan memaksa dirinya menunda keberangkatannya, namun kini ia terpaksa kembali ke peperangan dengan hati yang panas terluka.
Tak disangka oleh siapapun tadinya, malam kemarin itu sepeninggal Dursasana ternyata menjadi malam yang mengerikan. Prabu Salya yang terluka hatinya karena kematian putra kebanggaannya, satria Madyapura Arya Burisrawa, memarahi orang orang disekelilingnya. Sesabar-sabarnya Prabu Salya, kematian putra lelakinya yang terakhir kalinya ini, membuat ia betul-betul kehilangan kendali diri. Kemarahan melebar hingga lagi-lagi murka itu menyerempet kepada Adipati Karna. Tidak terima menjadi tumpuan kemarahan, Adipati Karna segera menyatakan madeg senapati malam itu juga. Dua kali ia telah dikenai hatinya oleh mertuanya dan sekali oleh resi Krepa, membuat ia kembali bergolak kemarahannya. Kemarahan yang tidak dapat dilampiaskan sebagaimana ia melampiaskan kepada Krepa, membuatnya ia memilih jalan lain untuk melampiaskan kekesalan hatinya.
Adipati Karna adalah seorang adipati dengan pengaruh kuat terhadap negara negara jajahannya, segera ia menyusun barisan yang berisi prajurit jajahan Awangga. Tak peduli lagi tentang tata krama perang yang berlaku, dengan menyalakan obor beribu-ribu ia menggerakkan pasukannya yang berujud para raksasa dari negara Pageralun yang dipimpin oleh Prabu Gajahsura, negara Pagerwaja yang dipimpin oleh Kelanasura dan negara Pagerwatangan dengan Lembusaka.
Majunya Adipati Karna sebagai senapati dan akan menggempur lasykar Randuwatangan malam itu benar benar tanpa tata krama, barisan raksasa membakari beberapa pasanggrahan garis depan dengan tiba tiba. Arya Drestajumna dan Wara Srikandi serta Setyaki yang lelah siang tadi bertarung sudah harus kembali menahan serangan musuh. Berita serangan itu akhirnya sampai ketelinga penghuni Randuwatangan.
Arjuna yang dari tadi duduk tenang segera menggeser duduknya. Panasnya hati mendengar kejadian yang tidak lazim, membuat ia menawarkan diri untuk menandingi majunya senapati Kurawa malam itu “Kanda Prabu, perkenankan adikmu ini hendak menandingi kesaktian kanda Basukarna. Bagi kami, kanda Adipati adalah jodoh kami dalam perang. Hamba mohon sekarang kami diijinkan. Inilah saat yang hamba nantikan kanda Prabu”.
“Arjuna, bila majunya Karna ada pada waktu yang benar, maka aku ijinkan kamu untuk menandinginya. Tapi sekarang yang terjadi adalah perang dengan tidak menggunakan tata aturan perang yang sudah disepakati. Perang waktu malam adalah tindakan yang bukan watak satria. Tenanglah lebih dulu, jangan terbawa oleh hawa kemarahan”.
“Werkudara, bila anakmu aku wisuda jadi prajurit untuk menghadapi musuh malam ini, apakah kamu setuju ?” Kresna yang dihadapi oleh Werkudara malam itu menanyakan kerelaannya.
“Anakku dilahirkan memang sebagai prajurit. Sudah semestinya peristiwa malam ini menjadi harapan bagi anakku untuk diberi kehormatan sebagai senapati. Tetapi kenapa harus Gatutkaca yang harus menjadi senapati malam ini ?”. Sahut Werkudara.
“Anakmulah yang mempunyai mata Suryakanta, yang dapat awas diwaktu malam, dan kotang Antrakusuma yang menyorot hingga dapat menerangi sekelilingnya”. Kresna menjelaskan dengan menyembunyikan kenyataan yang ia telah ketahui dari kitab Jitapsara. Saat inilah Gatutkaca harus pergi untuk menghadap hyang widi wasa.
“Apakah bila anakku ada apa-apanya, kamu bertanggung jawab atas penunjukanmu atas Gatutkaca ?” Kembali Werkudara dengan rasa was-was, naluri seorang ayah, menanyakan kepada Kresna.
“Aku adalah manusia yang mungkin dapat melakukan kesalahan, tetapi bila sampai anakmu gugur nanti, itu adalah mati dalam membela negara, mati sempurna sebagai kusuma bangsa, bukan mati sia sia. Kejadiannya akan tercatat dalam lembar sejarah dengan nama harum yang tak kan pernah tersapu oleh angin jaman. Masihkah kamu ragu ?” kembali Kresna meyakinkan hati adik iparnya yang masih saja ragu.
“Aku menurut apa kata katamu “ Werkudara akhirnya merelakan.
“Baik, adikku Drestajumna, panggil keponakanmu Gatutkaca menghadapku. Sekarang juga ”.
Segera menghadap Raden Gatutkaca kehadapan uwaknya, yang mengatakan bahwa kesaktian Gatutkaca-lah yang mampu membendung serangan Adipati Karna. Begitu mengetahui ia diberi kehormatan untuk menjadi senapati untuk berhadapan dengan Sang Arkasuta-Karna. Bangga hati Gatutkaca. Raden Arjuna-pun ikut memuji kesaktiannya yang dimiliki sang keponakan. Tersenyum lega hati dan gembira sang Gatutkaca setelah penantiannya, kapan ia akan diwisuda menjadi senapati dalam peperangan besar, segera malam ini terlaksana.
“Uwa Prabu, Rama Kyai, dan semua sesepuh, perkenankan hamba hendak berpamitan untuk maju ke medan pertempuran. Walaupun dalam dada ini tersimpan kemantapan diri yang besar, namun kesaktian uwa adipati Karna memang tidak dapat dianggap enteng. Dan tugas yang diberikan oleh para sesepuh dan orang tua kami, menjadikan rasa hamba bagaikan diberi kehormatan yang demikian tinggi, sejajar dengan derajat dari uwa Adipati Karna. Dan juga pemberian kesempatan sebagai senapati ini, putramu mengupamakan, sebagai hendak meraih bongkahan inten permata didalam taman surga”. Pamit Sang Purbaya kepada Prabu Kresna dan para sesepuh yang menyatakan sebagai meraih kebahagian sorga. Ia telah tidak sengaja berkata bagaikan pengucapan kata pamitan terakhir kalinya.
Kaget sang paman, Arjuna yang mendengar kata kata keponakannya itu. Kata kata terakhir ucapan Garutkaca, dalam pikiran Arjuna seperti halnya pamitan seseorang yang hendak mati. Segera dirangkulnya pundak Gatutkaca dengan air mata yang mulai menetes dikedua belah pipinya.
“Aduh anakku, kepergian adikmu Abimanyu sudah aku relakan. Ketika melihat sifat dan kesaktian yang kamu miliki, seakan tergantikan semua yang ada pada diri anakku. Namun dengan pernyataanmu tadi, aku merasakan adanya keanehan dalam ucapanmu tadi”.
“Permadi, tidak layaklah seorang satria memberi bekal tangis serta mengucapkan kata kata seperti itu kepada seorang senapati ketika ia hendak menunaikan tugasnya. Minggirlah, biar aku kalungi rangkaian melati buyut Prabu, sebagai tanda, bahwa sekaranglah saatnya Gatutkaca aku wisuda menjadi senapati”. Kata kata yang diucapkan Prabu Matswapati mau tidak mau membuat Arjuna menyisih memberikan kesempatan untuk eyangnya mengalungkan bunga sebagai tanda senapati.
Tak diceritakan persiapan prajurit Pringgandani, yang digerakkan oleh paman paman dari Raden Gatutkaca, Brajawikalpa, Brajalamatan dan para braja yang lain. Maka malam itu, campuh perang begitu mengerikan. Kedua pasukan yang berujud raksasa saling serang dengan suara raungan sebagaimana para raksasa. Suaranya terdengar bagai auman singa lapar dipadang rumput yang sedang berpesta bangkai kijang. Obor ditangan kiri dan senjata ditangan kanan mobat mabit membuat suasana perang menjadi begitu lain dari biasanya. Gemerlap pedang yang memantul dari cahaya merah obor berkilat bagai petir yang menyambar nyambar. Obor yang terpental jatuh seiring jatuhnya prajurit raksasa yang menjadi pecundang, tak urung membuat tanah yang mulai tergenang merah darah menjadi semakin merah. Bagaikan banjir api! Dan diangkasapun terang obor dimedan Kuru seakan menelan sinar sang hyang wulan.
Tandang sang Gatutkaca tak kalah membikin giris siapapun yang melihatnya. Gerakannya bagai kilat hingga yang terlihat adalah ujud Gatutkaca seribu. Sigap tangannya menyambar nyambar kepala lawan. Yang lunak ditempelengnya hingga hancur, sedangkan yang liat dipuntirnya kepala hingga terlepas.
Ketiga sraya dari negara taklukan Awangga tak berdaya. Kelumpuhannya tinggal menunggu waktu kapan ia didekati oleh sang Gatutkaca, maka kepalanya akan segera lepas dari lehernya.
Benarlah, tanpa perlawanan berarti ketiga sraya itu berhasil disudahi oleh tangan kekar Gatutkaca.
izroilblackarmy - 12/06/2011 06:56 PM
#143

Baratayuda: Kala Kalabendana Menjemput 2

By MasPatikrajaDewaku

Tetapi tidak hanya musuh yang tewas, kecepatan gerak dengan terbatasnya pandangan karena gelap malam dan sama sama berujud raksasa, para braja paman Gatutkaca ikut tewas oleh trengginasnya gerakannya yang begitu cepat.
Adipati Karna tidak dapat berbuat sesuatu lagi, selain harus menghadapi Gatutkaca sendiri. Maju ia setelah melihat prajuritnya banyak berkurang.
Segera Raden Gatutkaca dan Adipati Karna saling berhadapan. Adu kesaktian dan kekuatan saling dikeluarkan untuk melumpuhkan lawannya. Babak pertama Karna yang merasa keteter segera menerapkan ajiannya, Kalalupa. Ujud raksasa keluar dari tapak tangan Adipati Karna semakin banyak, menambah jumlah para raksasa yang dari ketiga negara jajahan Awangga. Dikerubut oleh makin banyak raksasa dengan perawakan yang sama, akhirnya membuat Gatutkaca keteteran. Segera serangan balik dilancarkan. Aji Narantaka warisan sang guru sekaligus buyut, Resi Seta, segera dirapal. Kobaran api menyembur dari kedua tapak tangan sang senapati, berkobar makin hebat padang Kurusetra oleh nyala api tambahan dari aji Narantaka. Semburan api dengan gemuruh keras membasmi raksasa jadian dari telapak tangan Karna. Mundur sang Adipati ngeri melihat semburan dahsyat api yang keluar dari ajian Narantaka senapati Pringgandani.
Terpesona Prabu Karna, dengan kesaktian sang Gatotkaca. Namun hal ini membawanya mengubah cara perangnya dengan menaiki kereta Jatisura, dengan kusirnya, yang juga patih Awangga, Patih Hadimanggala.
Malam yang sudah mencapai sunyi lewat tengah malam dihari lain, malam ini tidak berlaku. Geriap para raksasa yang sedang bertempur dengan geramannya masih membuat susana malam bagai terserang angin ribut. Kali ini ditambah dengan perbawa kesiur angin lesatan kereta Adipati Karna.
Diatas kereta, sang Adipati menyiapkan senjata Kunta Druwasa. Pusaka dewata yang dahulunya hendak dihadiahkan kepada Arjuna untuk memutus tali pusat Jabang Tetuka, bayi Gatutkaca, Atas keculasan Suryatmaja, nama Karna muda, pusaka itu jatuh ketangannya. Sedangkan Arjuna hanya mendapat sarungnya. Sarung itulah yang akhirnya bersemayam dalam puser sang Gatutkaca, ketika tali pusar berhasil diputus.
Waspada sang Gatutkaca ketika melihat Adipati Karna menghunus senjata Kunta Druwasa, dan bersiap melepaskan anak panahnya itu. Adipati Karna diuntungkan dengan sinar kutang Antrakusuma yang menyorot melebihi pijar sinar purnama didada musuhnya. Gatutkaca menghindari dengan naik lebih tinggi terbangnya, bersamaan lepasnya senjata Kunta. Ia melesat keatas awan, dengan harapan taklah panah Kunta berhasil mencapainya.
Syahdan, Kala Bendana, paman sang Gatutkaca, si raksasa boncel yang berhati bersih. Ia yang terbunuh tidak sengaja oleh keponakannya ketika bersaksi atas menduanya Abimanyu dalam beristri, dalam peristiwa Gendreh Kemasan, Ia masih tetap setia menunggu sang keponakan di alam madyantara.
Rasaksa lucu yang kini berujud sukma setengah sempurna itu, hendak menjemput sang keponakan pada waktunya, ketika perang besar Baratayuda berlangsung. Saat inilah yang ditunggu. Maka ia bersiap berkeliling diatas arena tegal Kuru malam itu.
Maka ketika melihat lepasan sang Kunta Druwasa, disambarnya anak panah yang sebenarnya tak kuat sampai di sasaran diatas awan itu dan dibawanya menghadap Gatutkaca.
Kaget sang Gatutkaca ketika melihat sang paman datang keatas awan dengan membawa Kyai Kunta Druwasa sambil menyapa.
“Anakku Gatutkaca, sudah sampai saatnya pamanmu menjemputmu, Mari anakku, aku gandeng tanganmu menuju sorga “.
Takzim Gatutkaca menghormat pamannya.“Oh, paman . . . Aku tidak mengelak akan kesediaanku sesuai dengan janjimu. Putramu ikhlas, mari paman. Tapi perkenankan anakmu meminta sesuatu darimu”. Tak dapat menolak Gatutkaca atas ajakan pamannya. Ia telah pasrah dan mengaku segala kesalahannya dimasa lalu. Ia minta sesuatu sebagai permintaan terakhir terhadap pamannya.
“Dengan senang hati, anakku. Apa permintaanmu ?” senyum sang paman menanyakan permintaan keponakannya.
“Kematianku harus membawa korban dipihak musuh sebanyak banyaknya, hingga perang malam ini berakhir”. Jawab Gatutkaca mantap.
“Baik aku bisa melakukannya !”
Maka diarahkannya pusaka Kunta itu ke arah pusar sang Gatutkaca yang tersenyum menerima takdirnya. Melayang sukma Raden Gatutkaca ketika pusaka Kyai Kunta Druwasa masuk kedalam sarungnya. Dengan rasa kasih, digandengnya tangan kemenakannya menuju swarga tunda sanga. Penantian panjang sang paman akan keinginannya pergi berbarengan ke suarga bersama kemenakan tersayang, hari ini berakhir.
Bersatunya Kunta Druwasa kedalam sarungnya, menimbulkan akibat yang hebat. Sejenak kemudian diiringi suara mendesing, kemudian disusul suara gelegar hebat bagai suara meteor, raga Gatutkaca melesat menuju medan peperangan dibawah sana. Kecepatan lesatan raga Gatutkaca tak terkira cepatnya menimpa kereta perang Adipati Karna beserta sang kusir Hadimanggala. Tewas seketika sang patih. Remuk kereta Jatisura terkena tubuh sang Gatutkaca yang meledak menggelegar, menimbulkan lubang besar bertumbak-tumbak luasnya.
Begitu pula dengan putra Adipati Karna, Warsakusuma yang ikut ayahnya dalam peperangan juga tewas. Namun Adipati Karna berhasil menghindar.
Akibatnya, arena bagai terkena bom dengan daya ledak tinggi, hingga menewaskan banyak barisan prajurit. Gelombang kejut yang terjadi dari ledakan tubuh sang Gatutkaca menimbulkan hawa panas yang dahsyat hingga mampu meleleh luluh lantakkan apapun yang ada disekitar jatuhnya raga. Jangankan tubuh manusia, hewan tunggangan dan para raksasa, persenjataan yang terbuat dari logam-pun, cair meleleh, kemudian menjadi abu. Dan seketika perang terhenti !
Berhenti perang meninggalkan luka dalam dihati Werkudara. Segera dicarinya Adipati Karna yang lari tinggalkan gelanggang peperangan.
Segera Sri Kresna menghentikan tindakan Werkudara. Disabarkan hati adik iparnya agar menunda dendamnya. “Lebih baik beritahu istrimu lebih dulu mengenai kejadian yang berlangsung malam ini. “Mari kita datang bersama dengan saudaramu yang lain untuk menghibur hatinya”.
“Kalau mau pergi ke Pringgandani, pergilah ! Aku tidak tega melihat apa yang akan terjadi disana !”. Werkudara pergi sendirian kearah tak tentu dengan hati yang kosong. Kerasnya baja perasaan sang Bimasena tidak kuasa untuk membayangkan, lebih jauh lagi melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa hancur perasaan istri yang sangat dicintainya. Istri sakti yang tindakannya dimasa lalu berbuah jasa yang sangat besar bagi kelangsungan hidupnya, bahkan bagi kelangsungan hidup dan kejayaan seluruh keluarga Pandawa.
Kedatangan para Pandawa di sisa malam tanpa suaminya, membuat Dewi Arimbi terkesiap hatinya. Naluri seorang ibu mengatakan ada sesuatu yang terjadi terhadap suami atau terlebih lagi bagi anaknya. Maka begitu diberitahu akan peristiwa yang terjadi malam tadi, ia berkeputusan untuk mengakhiri hidup dengan bakar diri dalam api suci. Demikan juga dengan Dewi Pregiwa, keduanya sepakat untuk bersama sama mengiring kepergian anak dan suami mereka. Semua saudara ipar dan Prabu Kresna tidak kuasa untuk membendung keinginannya. Maka upacara segera dimulai.
Dengan busana serba putih, sang Arimbi naik ke agni pancaka, menggandeng menantunya. Ia telah memutuskan pilihannya, tetap bersama suami atau mendampingi anak tunggal kekasih hatinya.
capcay666 - 13/06/2011 01:52 AM
#144

lanjut gan
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:07 AM
#145

Baratayuda: Drupadi telah meluwar Janji 1

By MasPatikrajaDewaku

Kembali seorang dari saudara Pendawa terkena tekanan jiwa karena kematian anak tercinta. Padahal mereka tahu, kematian bagi seseorang yang masuk dalam arena pertempuran pilihannya adalah mukti atau mati. Tetapi tetap saja terjadi, setelah kematian Abimanyu anak Arjuna yang menjadikan Arjuna kehilangan pegangan diri, kali ini Sang Bima Sena-pun mengalami hal yang sama.
Tidaklah ia menyalahkan siapapun, Prabu Kresna, Karna atau dirinya sendiri. Kerelaannya melepas kepergian anaknya menjadi senapati malam itu adalah atas niat suci. Namun kenyataan yang terjadi tidak urung membuat perasaannya yang teguh sedikit banyak telah terguncang. Ketiga anak lelakinya telah mendahuluinya meraih surga. Yang pertama ketika mengikhlaskan Antareja menjadi tawur atas kejayaan trah Pandawa sebelum pecah perang waktu lalu . Kemudian berita telah sampai pula ditelinganya, ketika Antasena juga telah merelakannya akhir hidupnya atas keinginannya untuk tidak menyaksikan dan mengalami perang Barata, asalkan para orang tuanya unggul dalam perang itu. Ia dengan sukarela tersorot mata api yang tajam Batara Badawanganala, hingga lebur menjadi abu.*)
Maka ketika anak lelaki keduanya tersambut rana dalam peperangan, maka remuk redam hatinya tanpa dapat mengalirkan air mata. Dengan pikiran yang kosong Werkudara berjalan menjauhi arena peperangan. Tak terasa langkahnya sampai dipinggir bengawan Cingcingguling ketika waktu belum lagi menjelang siang. Rasa lelah semalaman dalam menghadapi barisan raksasa dari Pagerwaja, Pageralun dan Pagerwatangan, membebani raga sang Bima, ditambah jiwa yang terluka menganga, merana ditinggalkan semua anak tercintanya. Walau amuknya semalam telah menelan korban kedua adik dari Patih Sengkuni, Anggabasa dan Surabasanta, namun tetap ia tidak puas sebelum membalas kematian terhadap Adipati Karna. Rebahlah dibawah randu hutan dipinggir bengawan, sang Bima melepas lelah.
Satu bingkai demi bingkai bayangan peristiwa masa lalu mengalir bagai kejadian yang baru saja terjadi. Dibayangkannya sosok sang istri yang begitu menyayanginya dengan segenap jiwa dan raga. Wanita yang sesuai dengan angan angan ketika ia memilih istri. Wanita yang lembut namun perkasa dan sakti mandraguna.
Berkelebat bayangan kejadian pahit manis perjalanan kasih, hidup dan perjuangannya dengan sang istri. Saling bahu membahu dengannya ketika membangun Negara Amarta dari asal hutan Wisamarta yang demikian angker dengan penunggu para lelembut sakti. Para Drubiksa penghuni hutan yang ternyata mereka adalah pemilik negara maya dalam hutan itu, bahkan telah menyatu dalam jiwa masing masing pribadi para Pandawa. Terpesonanya diri ketika melihat perubahan ujud raseksi Arimbi yang begitu perkasa dan sakti, menjadi sedemikian cantik karena sabda sang ibu, Prita-Kunti Talibrata, ketika menyaksikan Arimbi yang demikian cantik budi perilakunya dalam membantu anak anaknya, sehingga tercetus kata mantra Sabda Tunggal Wenganing Rahsa ke telinga Arimbi.
Istri yang telah memberikan warna hidup hingga lebih cerah ketika ia melahirkan seorang putra yang walau masih ujud bayi merah, Jabang Tetuka, tetapi oleh olah para Dewata, anaknya itu dibuat cepat dewasa dengan kekuatan bagaikan berotot kawat tulang besi. Ia telah berhasil membebaskan Kahyangan Jonggring Saloka dengan mengenyahkan Prabu Kalapercona dan para punggawanya yang sedemikian sakti. Putra yang sangat ia banggakan dengan sosok yang dambaan yang melekat pada angan angannya. Putra sempurna yang merajai negara tinggalan dari orang tua ibunya, sekaligus musuh Pandu, orang tuanya, yaitu Prabu Trembuku. Itulah Negara Pringgandani.
Tetapi belum semua kelebat bayangan masa lalunya usai, angan angannya itu buyar, ketika terdengar suara berisik yang dikenalinya. Warna suara itu, suara teriakan sesumbar itu. Itulah suara sesumbar dari Dursasana.
Manusia berangasan yang sedang panas hatinya sekembali dari taman Kadilengeng di istana Astina, nyerocos sepanjang jalan. Tantangan dari iparnya, Banuwati, untuk mengalahkan Arjuna, serta hinaan kepadanya yang dituduh sebagai manusia yang takut darah, menjadikannya ia sangat bernafsu untuk segera menaklukkan Pandawa.
Sekarang hati Werkudara menjadi gembira bukan main, seakan ia menjadi anak kecil yang mendapat mainan baru. Dalam hatinya mengatakan, inilah pelampiasan dendam atas kematian anaknya tadi malam.
Bangun ia dari rebahannya, segera diketatkan segala pakaian yang melekat ditubuhnya siap untuk bertempur kembali. Kelelahan jiwa raga yang mendera, berganti dengan kesegaran yang mengalir dari dalam rasa hati. Melompat sang Bima menuju kearah suara yang nyerocos sesumbar tak henti hentinya.
Demikan juga dengan Dursasana yang merasa sangat senang, ketika melihat Werkudara menghadang langkahnya. Tidak disangka, belum sampai dimedan peperangan, orang yang dicari muncul lebih cepat dari pada yang ia bayangkan.
“Hee . . .Wekudara, kamu ternyata ada disini ! Tidak usah repot repot mencarimu ditengah banyaknya manusia yang sedang menyabung nyawa ! Sekalian aku hendak membalaskan kematian anakku Dursala karena ulah anakmu Gatutkaca ! kalimat yang terucap disertai tawa yang mengalir dari mulutnya tanda kegembiraan karena keinginannya akan segera terwujud.
“Apa maumu ?!” Bimasena menyahut sekenanya.
“Sekarang atau nanti, di Palagan Kurusetra atau disini sama saja. Sekaranglah waktunya untuk kita mengadu kesaktian, satu lawan satu, siapakah sebenarnya yang mempunyai kaki yang lebih kokoh, lengan yang lebih kekar dan tenaga yang paling kuat diantara kita berdua !” yakin Dursasana kali ini dapat menjadi pahlawan ketika nanti ia dapat merobohkan tulang punggung trah Pandawa ini.
“Waspadalah, ayo kita mulai !” Siaga Werkudara setelah ia berhenti berucap.
Maka tanding antara tulang punggung kedua bersaudara Pandawa dan Kurawa mulai berlangsung. Kaki kanan Dursasana mengayun ke dada Werkudara dielakkan dengan sedikit memiringkan badan. Merasa tidak akan bisa mengenai sasaran, segera Dursasana menarik kembali serangannya, kemudian ganti tangan kirinya hendak menyapu pundak Bima. Gerakan Dursasana yang lurus menyerang pundaknya segera ditangkis dengan tangan kanan, benturan kedua tangan terjadi. Sentuhan tangan keduanya memulai kontak tenaga sebagai penjajakan atas kekuatan diantara keduanya. “He he he . . . . bagus juga kekuatanmu, jangan keburu senang dengan berhasil menghindari serangan pertamaku. Ayolah sekarang ganti kamu yang menyerang, aku tidak akan mengelak seberapapun kekuatan yang hendak kau kerahkan”
“Jangan banyak mulut, terimalah kerasnya tapak kakiku !”
Kembali keduanya siap dengan kuda kudanya. Kali ini kaki kanan Werkudara diangkat mengarah dada Dursasana yang mencoba menahan dengan kedua tangannya yang bersilang didepan dadanya. Ketika kaki Werkudara beradu dengan tangan Dursasana, segera Werkudara menambah daya kedut pada kakinya hingga Dursasana terpaksa menahan. Sejenak kemudian kekuatan kaki Werkudara telah mendesak tahanan serangan Dursasana yang terpaksa menggulingkan diri. Werkudara mencecar dengan hendak menginjaknya, namun waspada Dursasana yang segera menyapu gerakan kaki Werkudara sambil meloncat bangun. Benturan kaki keduanya terjadi dengan kerasnya dilambari dengan kekuatan ajian masing masing.
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:08 AM
#146

Baratayuda: Drupadi telah meluwar Janji 2

By MasPatikrajaDewaku

Terlempar keduanya beberapa langkah kebelakang dengan mulut masing masing mendesis menahan nyeri tulang kering mereka. Kemudian mulut Dursasana mengalirkan sumpah serapah seperti kebiasaanya.
Kembali Dursasana mengayunkan kaki mengarah ke lambung Werkudara yang sudah siap dengan kuda kudanya. Tetap dengan mulut yang tak mau diam dengan caci makinya. Kaki beradu kaki berulang terjadi, berganti kanan kiri diselingi sambaran kepalan tangan dari keduanya. Saling serang dan elak berlangsung seimbang pada mulanya. Tanding keduanya bagaikan perkelahian seekor gajah dengan seekor harimau. Gerak sentosa Werkudara yang kokoh maju setapak setapak menahan dan menyerang balik Dursasana yang berkelahi bagai seekor singa. Hutan pinggir sungai bagai terbabat oleh sabetan tangan dan kaki kedua musuh abadi itu. Tanaman perdu patah rata tanah, sedangkan yang besar besar batangnya bertumbangan bahkan ada yang rungkat beserta akarnya.
Tapi yang berkembang kemudian adalah akibat dari jejak laku dari keduanya. Werkudara yang telah tertempa secara fisik dan telah menyerap segala kesaktian dari Ajian Bandung Bandawasa, Blabag Pengantol-antol hingga menyatunya saudara tunggal bayu serta kekuatan raksasa Kumbakarna yang ia peroleh di sekitar hutan Kutarunggu. Ketika itu Kresna yang menyamar menjadi Begawan Kesawasiddi dan memberi wejangan Hastabrata kepada Arjuna, sehingga Werkudara mendapat tambahan kekuatan selagi ia mencari keberadaan Kresna dan Arjuna. Usaha “tarak brata” inilah yang membuat ia lama kelamaan menjadikannya Werkudara unggul telak daripada Dursasana yang jarang melakukan usaha peningkatan ilmu kesaktian dengan lebih enak tinggal di istana.
Ketika Dursasana gagal mengungguli dengan kekuatan tangan kosong, berganti ia mencoba menggunakan limpung dan kemudian gada. Werkudara melayani kemauan Dursasana dengan kuku pancanaka dan batang gada Lukitasari. Dengan langkah mantap, Werkudara melayani serangan bertubi tubi dari Dursasana. Namun tetap saja, walau Dursasana mengerahkan segala kesaktiannya, keteguhan Werkudara tetap tak tergoyahkan.
Merasa keteteran dengan tandang Werkudara, Dursasana mencoba mencari akal lain dengan berusaha menguras tenaga lawan. Ia berlari dan melawan dengan berulang ulang kemudian melompati kali Cingcingguling.
“Werkudara . . . . Ayuh kejar aku keseberang! Kamu tunjukkan seberapa kuat tenaga seribu gajah yang kamu miliki ! “ Ia berharap sebelum kaki Werkudara menapak tebing seberang ia sudah kembali menyerang sehingga lawannya kehilangan keseimbangan kemudian serangan beruntun dilancarkan hingga lawan dengan mudah disasarnya.
Ketika perkelahian itu berlangsung, Prabu Kresna yang kehilangan adiknya, segera melacak jejak Werkudara. Pengalaman ketika ia kehilangan jejak Arjuna ketika adiknya itu terkena tekanan jiwa atas kematian Abimanyu, membuat intuisi Kresna segera menemukan dimana adanya Werkudara yang mengalami kesamaan peristiwa seperti Arjuna ketika itu.
Maka ketika dilihatnya yang dicari sedang bertempur diarena yang tidak resmi dan ia berketapan hati Dursasana akan dikalahkannya, maka diutusnya seseorang untuk menjemput Drupadi.
Dan memang benar. Tak lama kemudian usaha Dursasana dalam mengubah strategi menjadi tak berarti karena kalah unggul kekuatan dan kesaktiannya. Tambahan lagi, ketika campur tangan pihak ketiga juga ikut bermain. Sarka dan Tarka, kedua arwah tumbal yang tak rela atas kematiannya masih juga melanglang di alam madyantara juga hendak menuntut balas atas kematiannya.
Maka begitu kesempatan itu datang, juntaian akar pohon tepi sungai menjadi sarana atas dendam keduanya. Kaki Dursasana yang diperkirakan menginjak tebing sungai dengan mulus, tersandung akar dan goyah langkahnya. Kesempatan ini digunakan sepenuhnya oleh Werkudara yang dengan sigap menjambak rambut lawannya, dan kakinyapun mengunci gerak lawannya. Dengan tenaga penuh dipuntirnya tubuh Dursasana bagaikan seekor buaya memutar mangsanya, Werkudara memperlakukan tubuh musuhnya.
Pucat pasi wajah Dursasana ketika sudah terkunci tak bisa bergerak lagi dengan tulang yang sudah patah pada beberapa bagian. “ Adikku Werkudara, lepaskan aku ! Berikan kakakmu sedikit rasa kemanusiaanmu. Kendurkan pitinganmu, aku mengaku kalah, ampuni aku, berikan aku hidup. . . . . . . .” Memelas kata kata permohonan ampun meluncur dari mulut Dursasana.
“Tutup mulut buayamu yang kotor ! Kamu harus ingat ketika kamu masih dalam keadaan jaya, tingkah lakumu sungguh sangat membuat jengkel saudara sepupumu. Sekarang waktunya kamu menuai tindakanmu dahulu yang selalu mencari kematian kami semua bersaudara anak Pandu. Bahkan kakak iparku Drupadi hendak kau buat malu ketika kamu menang dalam judi dadu, hingga sumpahnya harus aku luwar, agar ia dapat kembali bergelung”. Mendengar permohonan ampun tidak digubris, dengan muka yang memerah marah dan gemetar, kemudian berubah pucat pasi tanda keputus asaan mendera dadanya.
Maka takdir menjemput akhir hidup manusia yang selalu berjalan dalam kepongahan itu dengan sumpah serapah yang masih membuncah dari mulutnya. Kekesalan Bima terlampiaskan dengan memelintir anggauta tubuh lawannya hingga tercerai berai. Tidak puas juga, bagian anggauta badan Dursasana yang sudah tercerai berai dilemparkan kesegala penjuru.
Memang demikian, Dewi Drupadi, ia pernah mempunyai janji, ia tak kan pernah bergelung rambutnya apabila ia belum berkeramas dengan darah Dursasana. Janji itu terucap ketika ia hendak dipermalukan oleh Dursasana di arena judi dadu. Janji itu terucap disaksikan oleh semua yang hadir dalam arena itu termasuk Prabu Kresna. Walaupun ia tak dapat dipermalukan karena pertolongan dewa, kain yang menutup tubuhnya tak dapat dilepas seakan tiada berujung. Maka kesempatan itu tak hendak dilalukan. Bima yang teringat akan sumpah kakak iparnya segera menyedot darah Dursasana dengan mulutnya hingga kumis dan jenggotnya tergenang merah darah. Sampai ditempat kakak iparnya Draupadi, dituangkannya darah Dursasana dari mulut dan perasan darah dari jenggot dan kumisnya, yang kemudian dipersembahkan dihadapan Drupadi yang dengan senang hati menjadikannya luwar atas janjinya ketika itu.

*). Pada versi pedalangan Banyumasan, ada empat anak Werkudara. Satu yang hampir tak pernah disebut, yaitu Raden Srenggini. Sedangkan pada masa lalu, pedalangan gaya Surakarta menyatakan Antasena dan Antareja adalah sosok yang sama.
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:15 AM
#147

Baratayuda: Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri

By MasPatikrajaDewaku

Sejenak kita kembali kepada saat padang Kurusetra bergejolak, atas kehendak Adipati Karna dalam menjalankan perang di waktu malam. Kita beralih ke tempat yang lain namun dalam waktu yang bersamaan, di hutan Minangsraya. Ditempat ini terlihat bentangan suasana alam nan luas. Suasana yang tergelar samar dan muram, seperti halnya cahaya kunang kunang. Tak berdaya sinarnya, kalah tertelan oleh cahaya bulan purnama di awang awang. Ketika itu pranata mangsa telah menunjuk pada musim kemarau dan awan tipis berarak di kaki langit, menjadikan terpesona yang melihatnya. Bahkan juga mahluk seisi hutanpun ikut terpana, batang pohon kayu besar-pun terbakar.
Gambaran suasana yang ada di hutan Minangsraya ini, saat Pandita Durna yang terlunta lunta dan sakit hati, dijatuhi murka sang Duryudana. Duduk bersila dibawah pohon baniyan, resi Durna mengheningkan cipta. Semua pancaindriya dimatikan, hanya rasa jati yang dimunculkan. Terseret sukma sang begawan kedalam alam layap leyep, alam samar. Dan pesatlah laju suksma sang Pandita melesat keharibaan sang gurunadi, guru sejati, Ramaparasu.
Kaget sang Ramaparasu melihat datangnya Kumbayana yang menampakkan wajah murung.
Sembah bakti telah dihaturkan ke haribaan Ramaparasu atau Ramabargawa. Kemudian Kumbayana menyampaikan segala isi hatinya.
“Guru, hamba telah kehilangan harta yang tak bernilai harganya. Bahkan seluruh raga ini telah terasa bagai terseret runtuhan gunung Mahameru. Luluh lantak sudah tak berujud lagi”
“Apa sebab kamu merasa demikian, segala kesaktian, guna kawijayan kanuragan, kasantikan telah kau terima dariku waktu lalu, bagaikan telah tertuang habis mengalir kepadamu. Dan bila kamu merasa telah kehilangan harta yang tak ternilai seperti yang kau sebutkan tadi, segera jelaskan apa maksudnya.” Rama Bargawa menanyakan, namun dalam hatinya ia tidak syak lagi, bahwa didepan telah menjelang peristiwa besar yang menanti garis perjalanan Kumbayana muridnya.
“Bapa Guru, hamba telah kehilangan kepercayaan dari junjungan hamba Prabu Duryudana dalam mengemban tugas sebagai seorang senapati. Inilah yang hamba anggap kehilangan yang terbesar dalam hidup. Kehilangan kepercayaan yang berturut turut terjadi, setelah putra kesayangan hamba satu satunya Aswatama, telah diusir jauh dari pandangan mata junjungannya. Dan kini kehilangan kepercayaan dari seorang raja mengenai kegagalan hamba dalam melakukan tugas, adalah, bagai runtuh dan leburnya harga diri. Sekali telah runtuh, banyak waktu dan usaha yang teramat sulit untuk mendirikannya kembali, malah mungkin tak kan pernah lagi terbangun kepercayaan itu lagi” sedih Kumbayana memuntahkan isi hatinya, mukanya tertunduk dalam, menanti jawab sang guru yang apapun ucapannya nanti, dalam niatnya ia akan menjalankan sepenuh hati.
“Jadi apa maksudmu sekarang ? Apalagikah yang harus aku berikan untuk mengatasi masalahmu ?” sang guru sebenarnya berwatak keras sepanjang hidupnya, namun sekarang tersentuh hatinya menanyakan maksud Kumbayana.
“Berilah hamba pencerahan. Krisis kepercayaan yang terjadi pada diri hamba sekarang, telah menutup nalar hamba terhadap segala pertimbangan dan keputusan yang harus hamba ambil. Sekali lagi mohon pencerahannya bapa guru.” Memohon dengan seribu hormat Kumbayana kepada sang guru.
“Sekarang kamu sedang menimbang perkara apa ?” Kembali Ramaparasu menegaskan pertanyaannya.
“Haruskah hamba meneruskan peran yang sedang hamba pikul dipundak ini, apakah cukup disini riwayat Kumbayana, dan kemudian beban itu kami letakkan ? Kemudian hamba minta kerelaan paduka guru, agar hamba dapat menjadi abdi paduka guru selama lamanya !” Kumbayana mengakhiri kalimat itu dengan kesan mendalam bagi sang guru bahwa ia benar benar ada dalam keputus asaan yang berat.
“Kumbayana, pantang bagi manusia sepertimu yang walaupun pada kenyataanya kamu adalah seorang pandita, namun dalam jiwamu masih bersemayam jiwa satria yang kuat. Seharusnya kamu tidaklah meletakkan beban yang disandangkan ke punggungmu, bila belum memperoleh kata perintah berhenti dari yang memberi beban. Apalagi menyerah kemudian memilih pergi ke alam kesejatian”. Sejenak Rama Parasu berhenti berbicara, ia mengamati perubahan air muka Kumbayana. Lanjutnya “Bila alam kesejatian yang hendak kau raih, jalan kearah itu janganlah dilalui melewati keputus asaan. Segeralah kembali ke medan Kurusetra. Tak perlulah kamu kembali kehadapan Duryudana, tapi segeralah kerjakan apa yang menjadi tugasmu. Menang atau kalah itu adalah darma satria. Menang kamu harus meneruskan darmamu, dan bila kalah, jalan kesejatianlah itulah benar yang seharusnya kau lalui menuju tepet suci. Itu adalah seharusnya jalan utama bagi seorang kesatria yang harus dilalui ”
“Baik, hamba akan menuruti segala sabda paduka Guru.” Mengangguk Kumbayana, mengerti yang dimaksudkan oleh gurunya.
“Terimalah bekal sarana sakti dalam menuntaskan tugas itu. Bulu merak ini mampu membuatmu tak kan terlihat dengan mata telanjang. Syaratnya adalah kamu tidak boleh bicara ketika menggunakannya. Tetapi bila anak anakmu Pandawa kuasa untuk mengantarmu kealam abadi nanti, itu pertanda bahwa merekalah yang sebenarnya berlaku benar dan pantas memenangi perang, atau sebaliknya.”
Kembali ke raga, sukma sang Kumbayana, setelah mendapatkan pembekalan dari sang gurunadi. Langkah ringan Pandita Durna diayun kembali ke Kurusetra. Ia telah menimbang nimbang tentang hal dihadapannya. Mukti dan mati sekarang terlihat bagai hanya tersekat oleh lembaran setipis kulit bawang. Ketidak percayaan akan kemampuannya sebagai senapati, akan ia balikkan menjadi keberhasilan bagi negara tempat ia mengayom, bagi dirinya sendiri dan terpenting bagi anak turunnya Aswatama. Itulah tekad yang menguat di hatinya. Apapun kejadiannya nanti, telah tidak menjadi beban lagi baginya.
Malam tinggal sepotong. Malam yang ditempat lain, di padang Kurusetra baru saja terhenti persabungan nyawa, prajurit Pringgandani melawan prajurit dari negara Awangga dan segenap jajahannya. Malam dengan pemandangan dan peristiwa yang mengerikan. Namun ditempat ini, langkah Pandita Durna seakan diberkati alam semesta. Pemandangan alam yang dilalui menampakkan asrinya hamparan keindahan bagai sebuah tamasya. Bulan lepas purnama mengambang dilangit, sinarnya terbias oleh air telaga bening bagai bayangan seekor kura kura yang mengambang. Sementara sisa gelap malam masih mengelipkan bintang bintang yang menyebar bagai terpencarnya sari bunga tertiup angin. Ayam hutan berkokok merdu dari arah ladang pegagan, ketika sang Pendita telah sampai dipinggir hutan menjelang terang fajar.
*****
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:35 AM
#148

Baratayuda: Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri 2

By MasPatikrajaDewaku

Dan ketika semburat merah matahari kembali menerangi hamparan perdu pinggir hutan Minangsraya, dilihatnya Patih Sangkuni berjalan diiring oleh anak terkasihnya Aswatama. Dapat akal ia untuk menguji ilmunya, segera ajian Laring Merak dirapal menurut petunjuk sang guru. Dicolek patih Sangkuni dengan gaya kocak kebiasaan mereka berdua yang sering bercanda.
“Aswatama, kamu mencolek colek aku, ada apa ?!” Sangkuni yang terheran, menanyakan ke Aswatama ketika punggungnya merasa ada yang menyentuh.
“Hamba tidak melakukan itu paman” sanggah Aswatama.
“Lha kalau begitu, pasti disini banyak jin setan periprayangan yang kerjaannya mengganggu manusia !” Sangkuni setengah berbisik mengatakan kepada Aswatama.
“Tapi hamba tak diganggunya. Mungkin hamba orang yang tidak banyak dosa jadi tidak diganggu.” Jawab Aswatama sekenanya.
“Kalau begitu aku ini manusia yang banyak dosa, begitu ?” kembali Sangkuni menegaskan.
“Ya begitu, memang kenyataannya !” terkekeh Pandita Durna menyahut. Maka tampaklah sosok Durna dihadapan keduanya.
Gembira Patih Sangkuni segera merangkul Pandita Durna. Kemudian berganti sang Pandita merangkul anak tunggal kesayangannya, Aswatama.
“Lha Wakne Gondel, sudah dua malam aku mencarimu, ayolah kakang, Sinuwun sudah mengharapkan wakne Gondel untuk meneruskan peran andika sebagai senapati. Sinuwun Prabu Duryudana menyampaikan rasa sesal yang tak terkira. Maklumlah, beliau banyak beban dipunggungnya yang kian berat. Apalagi kematian putra lelaki satu satunya, telah meruntuhkan moral perangnya. Tugas wakne Gondel sekarang adalah, mengangkat kembali moral sinuwun Prabu Duryudana.”
“ Ya aku sanggupi. Hari ini sebelum matahari tenggelam, aku sanggup menyelesaikan perang dengan kemenangan !“. Pendeta Durna menjanjikan.
“ Anakku Aswatama, untukmu aku pesankan, jangan dulu kamu ikut dalam pertempuran ini, pergilah menjauh dari arena. Kalau aku sudah dapat membuktikan kerjaku, pasti sinuwun Duryudana akan mengampuni kesalahan kamu “.
Berita kembalinya Pandita Durna telah memberi bahan bakar semangat baru bagi prajurit Kurawa. Prabu Duryudana gembira mendengar kedatangan kembali agul agul sakti sebagai senapati. Melebihi kegembiraan ketika malam tadi, kakak iparnya, Adipati Karna telah berhasil membunuh Gatutkaca.
Walaupun sang Pendita tidak langsung menghadap, namun kesediaannya kembali mengatur peperangan yang disampaikan oleh pamannya, Sangkuni, telah menjadikannya Duryudana bangkit kepercayaan dirinya lagi.
Perang campuh pun kembali berlangsung siang itu. Telah tersedot habis tenaga dalam peprangan malam kemarin, sisa prajurit Kurawa yang selamat dari kehancuran perang malam telah kembali bertarung mengadu peruntungan siang ini.
Melihat kelelahan yang mendera para prajurit Bulupitu, sang Senapati tidak tega. Maka diambil alihlah kendali peperangan dengan peran utama ada pada tangan Pandita Durna sendiri. Amukan sang Senapati tua, yang kembali dari pengasingan diri kemarin hari, membawa korban sedemikian besar bagi para prajurit Amarta. Senjata Jayangkunang ditangannya dengan ajian laring merak yang membuatnya tidak kasat mata. Mengerikan bagai seberkas api ndaru braja berkobaran ditengah palagan peperangan, menghanguskan siapapun yang berani menghadang gerakannya. Gerakannya yang kadang mematikan nyala kerisnya dan berpindah posisi amukannya membuat lawan kerepotan dalam menentukan dimana arena amukannya akan terjadi.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan bagi prajurit Amarta, Drestajumna segera menghadap Sri Kresna dan Arjuna.
“Dhuh para sekti, kami meminta pertimbangan kepada paduka, apakah yang harus kita lakukan agar dapat menghentikan amukan senapati yang tak terlihat dengan mata para prajurit”.
“Adimas Drestajumna, sudah aku pikirkan sebelum dimas sampai dihadapanku. Aku akan mengutus kakakmu Arjuna, untuk menghentikan jatuhnya korban dari tangan Pandita Durna”. Tenang Prabu Kresna memberikan ketegaran hati kepada sang senapati Pandawa.
“Adikku Arjuna, hanya kamulah yang dapat menghentikan amukan gurumu Resi Kumbayana. Hanya pesanku, jauhkan rasa yang mengatakan itu adalah gurumu yang harusnya kamu hormati dan patuhi semua perkataannya. Ingatlah kata kataku waktu lalu, yang mengatakan, ini adalah perang dimana tidak ada balas budi antara guru dengan muridnya. Yang ada hanyalah perang dimana tempat itu adalah arena untuk meluwar segala janji dan memetik yang kita tanam”. Kresna mengulangi pesan yang pernah ia sampaikan ketika perang baru saja berlangsung. Ketika itu ragu hati Arjuna menyaksikan lawannya adalah para saudara sendiri, paman, eyang, bahkan gurunya sendiri, hingga membuat semangatnya luluh dan ia jatuh terduduk dengan badan yang gemetar.
“Kata kata kanda Prabu akan kami junjung tinggi dan akan hamba laksanakan. Mohon petunjuk kanda Prabu selanjutnya” Mantap Janaka menjawab.
“Baiklah. Sarana untuk melihat keberadaan lawanmu adalah rumput Sulanjana yang kamu miliki sejak lama, pergunakanlah untukmu sendiri dan orang orang yang kamu percayai dalam membantu usahamu, adimas”. Pesan Prabu Kresna mengakhiri pembicaraan.
Maka beranjaklah Arjuna mengatur barisan dan menggunakan sarana agar dapat melihat dimana adanya musuh yang tidak terlihat itu. Sementara Kresna memberi pesan juga, agar mengulur waktu karena dirinya hendak mencari keberadaan Werkudara yang meninggalkan Tegal Kuru tanpa pamit hendak kemana.
Prabu Drupada yang mendapatkan jatah rumput sulanjana segera menghadang gerakan Pandita Durna. Ia merasa masih punya ganjalan dengan teman karibnya dahulu. Setengah memaksa kepada Arjuna dan anaknya Drestajumna, agar ia dapat melayani senapati Bulupitu itu.
Maka ketika sari rumput sulanjana sudah diteteskan pada matanya, Drupada dengan mudahnya mendapati dimana Begawan Durna berada.
“Heh Kumbayana, tak ada gunanya kamu bersembunyi dalam ajianmu. Ayolah kita menentukan siapa sejatinya yang lebih benar dalam persoalan trah Barata ini”.
“Ooh . . kakang Sucitra, baik aku layani segenap kesaktian yang kamu miliki. Lupakan saat dahulu ketika bersama sama berguru. Lupakan saat kita sudah melewati simpang jalan dan kamu sudah mukti wibawa di Pancalaradya, yang mengakibatkan kamu kurang berkenan, karena aku kurang tata susila ketika aku menemuimu. Peristiwa yang membuat marah adik iparmu Gandamana dan membuat cacat seluruh ragaku. Tapi dalam pertemuan ini, persahabatan kita harus berakhir dalam permusuhan. Salah satu dari kita harus berakhir masa pengabdiannya sebagai tokoh yang membawa kebenaran dalam sudut pandang kita masing masing”.
Maka bersiaplah kedua tokoh tua itu. Serangan demi serangan segera mengalir gencar. Pada mulanya anggauta tubuh sang Drupada yang lebih lengkap ditambah dengan ajiannya Lembu Sekilan mampu mendesak posisi sang Pandita yang hanya bertangan fungsi tunggal. Namun pandita Durna adalah seorang guru yang setiap kali menurunkan ilmunya bukan menjadi berkurang, tetapi malah semakin matang. Sementara Prabu Drupada adalah seorang raja yang walaupun sakti pada masa mudanya, tetapi kehidupan istana yang lebih menjanjikan kemewahan pelayanan membuat ia kurang terasah kemampuan fisiknya.
Maka kembali lelaku pengasahan ilmu yang berkesinambungan-lah yang unggul. Hal ini yang membuat Durna berada diatas angin. Apalagi ketika ada kesempatan terbuka, sang pandita mampu menancapkan senjatanya. Tembus dada sang Sucitra tua hingga kejantungnya.
“Kumbayana, aku mengakui kesaktianmu lebih unggul dariku, dan rasanya sudah dekat ajalku . . . . . “ terpatah kata kata Sucitra yang sudah roboh ditanah yang bersimbah darah. Ia menyampaikan isi hati dihadapan Kumbayana yang masih berdiri mematung. Dengan nafas yang makin satu satu keluar dari mulut yang berlumur darah, Drupada lirih melanjutkan, “namun . . . persahabatan kita hendaknya tidak berhenti . . . . sampai disini. Aku akan sabar menungguimu kembali ke alam kelanggengan bersamamu . . . mudah mudahan waktu tunggu . . . . ini tak akan lama”
Termangu sang Kumbayana ketika melihat teman seperguruan tewas ditangannya. Seketika tersadar ketika sorak sorai membahana mengabarkan tewasnya Prabu Drupada.
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:36 AM
#149

Baratayuda: Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri 3

By MasPatikrajaDewaku

Dilain pihak, sesal sang Arjuna melihat mertuanya tewas. Tetapi itu tak lah berguna. Kehendak keras Prabu Drupada yang memintanya agar diberi kesempatan bertarung dengan teman lamanya, ternyata adalah saat ia mengantarkan jiwanya menuju keabadian.
Tak ada pilihan lagi bagi Arjuna-Dananjaya untuk mengatasi runtuhnya moral prajuritnya, karena gugurnya Prabu Drupada. Maka majulah ia kehadapan gurunya.
“Sembah baktiku kami haturkan kehadapan Bapa Guru” Dananjaya mengaturkan sembahnya.
“Ya, aku terima. Betapapun kamu sebagai musuhku, kamu tidak lupa akan suba sita. Inilah yang aku kagumi dari watak para anak Pandu” Durna terkesima dengan apa yang terjadi dihadapannya.
Lanjutnya “Lain dari itu, kesaktian anak Pandawa tidak aku ragukan lagi. Ajian Laring Merak yang aku banggakan tidaklah ada artinya dihadapanmu. Marilah kita mengakhiri cerita masa lalu. Sudah saatnya Baratayuda menentukan, mana pakarti kita sebelumnya yang harus dipanen pada saat ini”.
Sekali lagi Arjuna melakukan sembahnya dan bangkit untuk melakukan kewajiban sebagai seorang prajurit yang tak lagi mengenal status sebagai guru dan murid.
Pertempuran tangan kosong telah dimulai. Arjuna yang masih ada perasaan sedikit segan terhadap gurunya, bertempur dengan setengah hati. Pukulan dan gerak yang dilancarkan tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga, maka tak lama kemudian punggungnya terkena sabetan kaki gurunya hingga ia merasa kesakitan. Tersengat rasa Arjuna yang berubah menjadi panas karena rasa sakit yang mendera bagian tubuh yang dikenai oleh Pandita Durna, kali ini ia bersungguh sungguh. Kesempurnaan raga dan timbunan kesaktian yang ditambah dengan tenaga yang lebih baik karena faktor usia, membuat ia mendesak sang Pandita.
Mundur Durna sejenak dan mencipta api berkobar dari senjatanya. Kobaran dahsyat api dari ajian guntur geni melanda medan Kurusetra membuat lari tunggang langgang prajurit Amarta.
Waspada sang Dananjaya, segera mencipta mendung pekat melayang diatas palagan. Seketika hujan deras disertai prahara melanda medan Kuru memadamkan kobaran api. Itulah ajian guntur wersa-prahara dari gurunya sendiri yang disempurnakan oleh Batara Indra. Adu kesaktian pengabaran berlangsung silih berganti. Segala bentuk kesaktian yang diciptakan Pandita Durna berhasil dipunahkan Arjuna, bahkan mendesak balik pertahanan Durna.
Ketika ilmunya dapat dipunahkan, segera Kumbayana melolos keris kecilnya Cis Jayangkunang dan kembali perang tanding senjata keris berlangsung seru. Perimbangan pertempuran berlangsung mengagumkan dengan keris Pulanggeni ditangan Arjuna, hingga banyak prajurit dari kedua pihak berhenti menonton tanding senjata itu.
Kematangan Sang Begawan dalam menggunakan ilmu kesaktiannya menjadikan peperangan berlangsung dengan seimbang. Hingga Kresna kembali dari pencarian terhadap Werkudara yang berhasil membunuh Dursasana, pertempuran masih tetap berlangsung sengit. Maka yang terjadi selanjutnya adalah perang strategi. Bila secara wajar pertempuran akan memakan waktu dan berlarut larut, maka segera ia menyusun strategi.
“Werkudara, ketahuilah, bahwa gurumu itu dalam bertempur mempunyai tujuan tertentu”.
“Apa maksudmu ? Werkudara menukas.
“Nanti dulu, aku akan menunjukkan kepadamu sesuatu. Ingatlah, beberapa hari ini gurumu meninggalkan peperangan karena sakit hati atas ketidak percayaan Duryudana kepada anak bapak Sokalima. Misi dari gurumu sekarang, tidak lain adalah mengembalikan harga dirinya dan sekaligus mengembalikan kepercayaan junjungannya kepada anak tercintanya, Aswatama. Semua yang ia lakukan adalah bermuara kepada kemukten bagi anak yang dicintainya itu”. Sejenak Kresna diam dan menyelidik, apakah kata katanya dimengerti oleh adik sepupunya itu.
Yang dipandanginya mengangguk setengah mengerti. “Teruskan dongengmu, biar aku tidak setengah setengah menelan omonganmu”
“Kamu lihat siapa yang menaiki gajah dan berperan sebagai senapati pendamping ?” Kresna bertanya, namun kembali ia meneruskan “Itu adalah raja dari negara Malawapati, Prabu Permeya”.
“Terus apa hubungannya dengan reka dayamu ?” Kembali Bima memotong.
“Gajah yang dinaiki itu bernama Hestitama, bunuh prabu Permeya dengan gajahnya sekalian, kemudian kabarkan pada semua prajurit agar mereka mengatakan Aswatama telah tewas !”
Melompat Werkudara dengan menimang gada Rujakpolo. Dihampiri Permeya yang duduk pongah diatas gajahnya. Terkejut Permeya ketika dihadapannya telah berdiri dengan teguh sosok Werkudara. Terkesiap darahnya ketika melihat gada ditangan Bima-Werkudara berputar mengancam dirinya. Tak pelak lagi mentalnya jatuh. Memang demikian, kesaktian Permeya memang tak sebanding dengan Werkudara. Maka disertai mental yang telah runtuh, tak sulit Werkudara menebas keduanya, Permeya beserta tunggangannya, gajah Estitama. Tanpa bisa mengaduh, keduanya tewas dengan isi kepala terburai.
Seperti direncanakan oleh Sri Kresna, geger para prajurit meneriakkan Aswatama telah tewas. Dan berita itu tak lama kemudian sampai ditelinga Begawan Durna.
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:44 AM
#150

Baratayuda: Palgunadi dan Janji Sang Guru 1

By MasPatikrajaDewaku

Bingung dan gundah rasa Sang Begawan mendengar teriakan bersahut sahutan yang mengabarkan kematian putranya Aswatama. Ia bertanya kesana kemari tentang kebenaran berita itu kepada beberapa prajurit yang ditemuinya. “Heh prajurit, apa benar Aswatama tewas ?”
“Benar begitu, ini yang saya dengar !” jawab beberapa prajurit yang ia tanya.
Ia berketetapan hati ia akan menanyakan kepada para Pandawa yang dianggapnya dapat berkata jujur. Bertemulah ia dengan Nakula dan Sadewa “Anakku kembar, kamu berdua adalah dua orang yang lugu, cepat katakan, apa benar Aswatama telah tewas ?”
“Itu yang saya dengar bapa, bahwa Aswatama telah tewas” keduanya menjawab seadanya. Namun jawaban keduanya yang tak mengurangi rasa penasaran, bahkan makin makin membuat ia bertambah bingung dan tubuhnya menjadi lunglai.” Ah . . sama saja, bohong ! Kamu berdua memang tidak bisa dipercaya !” ketus sang Begawan, diputuskannya untuk mencari Puntadewa yang selamanya tak pernah bohong.
Melihat gelagat bahwa Pendita Durna hendak mencari tahu atas berita kematian anaknya kepada sepupunya Puntadewa, Kresna mendekati Puntadewa dan mengingatkan. “Adimas Puntadewa, kami hanya mengingatkan kepadamu agar berbuat sesuatu ketika nanti Bagawan Durna datang kepadamu, dan menanyakan tentang keberadaan Aswatama. Perbuatan dan perkataan adinda Prabu nanti bila berhadapan dengan Bapa Pandita, adalah titik dimana Pendawa akan unggul atas Kurawa atau sebaliknya”.
Kata kata bersayap Sri Kresna dimengerti oleh Puntadewa, “Akan kami lakukan apa yang diperingatkan oleh kanda Prabu”
Demikiankah, memang benar, Begawan Durna yang sudah kalang kabut pikirannya datang kepada Puntadewa menanyakan perihal anaknya.
“Puntadewa anakku, kamu adalah satu diantara manusia langka yang mempunyai darah yang berwarna putih. Manusia berdarah putih yang bila darah itu menimpa bumi dapat menyebabkan bumi menjadi terbelah. Hati orang yang berdarah putih mempunyai kerelaan yang tiada terkira, apapun yang orang minta, tidak memandang itu dari golongan apapun, pasti akan ia kabulkan. Kata katanya juga tak akan pernah bohong barang sekalimatpun” Durna memuji-muji Puntadewa dan berharap ia mengatakan sejujurnya apa yang terjadi. Lanjutnya, “Sekarang aku sudah berhadapan dengan manusia semacam itu. Sekarang katakan, apakah benar Aswatama mati? Itu hal yang bohong, bukan ? Aswatama sekarang masih hidup, bukankah begitu ?!” Setengah mendesak agar ia mengatakan hal yang sebenarnya dan mengharapkan agar anaknya masih dalam keadaan hidup.
Tetapi terbawa oleh kekalutan pikiran dan riuhnya suasana peperangan, maka ketika Puntadewa yang pantang berbohong mengatakan, “Bapa Guru, yang kami tahu, memang Hestitama mati” dan ia mengatakannya dengan tekanan kalimat pada kata tama sementara kalimat Hesti terucap pelan. Diterima dengan salah, maka jatuhlah Durna terkulai bersandar tebing batu. Setengah tega, ditinggalkan gurunya yang ada antara sadar dan tidak. Dalam hati Begawan Durna, jelaslah, Puntadewa yang tak pernah bohong mengatakan Aswatama telah tewas.
Ternyata tidak hanya kalutnya hati dan riuhnya suasana perang yang mengakibatkan Durna salah terima, sukma raja Paranggelung, Prabu Palgunadi yang sewaktu muda bernama Bambang Ekalaya atau Ekalawiya yang masih membayangi kehidupan Begawan Kumbayana di alam madyantara-pun, punya peran untuk meniupkan kalimat Aswatama ditelinga sang Begawan.
“Nah Bapa Guru, sekarang adalah waktunya bagi muridmu untuk membawamu ke alam dimana tak ada lagi aturan yang membatasimu, agar tidak menerima murid selain dari darah Barata. Bapa guru tak lagi dapat bertindak pilih kasih kepada setiap muridmu. Mari guru akan kita selesaikan perkara yang masih belum selesai waktu lalu” kata Prabu Palgunadi yang melihat “guru imaginasi”-nya menjadi tak berdaya atas keyakinan bahwa anaknya sudah tewas.
****
Demikianlah, diceritakan pada waktu itu, Prabu Palgunadi yang sangat gandrung dengan ilmu kanuragan. Walau ia sudah menjadi raja dengan segala kemewahan duniawi dan beristri cantik yang setia, Dewi Anggrahini, tetapi ia sangat kepincut dengan ilmu jaya kawijayan dan kanuragan yang diajarkan oleh Durna. Maka ia merelakan meninggalkan kerajaannya dan menyatakan niatnya berguru kepada Begawan Durna.
Jelas saja ia ditolak, karena Begawan Durna sudah diberi batasan, bahwa yang berhak menyerap ilmu darinya adalah hanya trah Barata, alias putra putra dari Adipati Drestarastra dan Prabu Pandu, serta putra Raden Yamawidura.
Dengan perasaan sedih, Palgunadi pergi dari hadapan Begawan Durna.
Kerasnya tekad Palgunadi makin menjadi-jadi ketika ia ditolak berguru di Sokalima. Dengan ditemani istri setianya ia membangun arca berujud Begawan Durna ditempat pengasingannya. Dipusatkan pikirannya seakan setiap kali ia ada didepan arca Durna, ia sedang menerima ilmu kanuragan, kasantikan beserta segenap wejangannya.
Waktu berlalu, dan tahunpun berganti. Ketrampilan tata perkelahian dan olah panah sang Palgunadi sedemikian hebatnya, oleh karena ketekunannya dalam memusatkan pikiran dihadapan arca yang direka sebagai sang guru sejatinya.
Maka ketika ia sedang berkelana di hutan, bertemulah ia dengan Permadi-Arjuna. Harga diri memperebutkan buruan menjadikan perang tanding diantara keduanya.
Berhari hari tanding tiyasa berlangsung dengan imbang. Tetapi dalam olah permainan panah, Arjuna kalah oleh ketrampilan Palgunadi.
“Heh Arjuna, jangan menyesal kamu berhadapan dengan murid Sokalima, Begawan Durna. Masihkan kamu hendak menyamai kesaktianku ? Taklah kamu bakal mengalahkan murid terkasihnya !” Masygul dipermalukan, bahkan sumbar sang Palgunadi yang menyebut nama gurunya adalah juga sebagai guru musuhnya, ia kembali ke pertapaan Sukalima dan mengadukan peristiwa itu dan menuduh, bahwa gurunya telah secara diam diam berselingkuh dengan menerima murid selain saudara sedarah Barata-nya.
Tak terima dengan tuduhan itu, ia ingin membuktikan ketidak benaran tuduhan itu,dengan mengajak Arjuna ketempat Palgunadi berada.
Setelah bertemu, Ekalaya terkesiap hatinya. Sangat bersuka cita ia sehingga tak dapat berbuat apapun, kekagumannya atas Sang Begawan seakan mengunci segenap tindakannya. Setelah tersadar, ia menjatuhkan diri berlutut dihadapan Begawan Durna, dan dengan takzim ia menghaturkan sembah, “Guru, perkenankan muridmu menghaturkan bakti atas kunjunganmu terhadap muridmu ini. Sungguh anugrah yang tak terhingga kedatangan paduka guru, sehingga sejenak hamba tak dapat berbuat sesuatu apapun dalam menerima kedatangan paduka guru yang tiba tiba ini”
Panas hati Arjuna melihat adegan didepannya, “Benarlah ternyata, bahwa bapa Durna telah menyalahi janji dihadapan para sesepuh kami”
“Eits, nanti dulu . . .! Inikah orang yang mengaku sebagai muridku? Bila memang sungguh begitu, lakukan layaknya seorang murid dihadapan gurunya”, Durna yang merasa terdesak oleh tuduhan yang dilontarkan dengan rasa kecemburuan yang besar dari Arjuna coba berkelit dengan susah payah.
“Apakah yang Guru hendak perintahkan kepada muridmu ini, akan hamba kerjakan sesuai kemampuan kami” mantap jawaban Palgunadi mengharap ia tidak disisihkan dari statusnya sebagai murid Sokalima. Tersenyum ia seakan segenap permintaan sang guru maya itu bakal ia penuhi. Tak tahu, bahwa olah rekayasa guru Durna mempunyai tujuan memunahkan segala ketrampilannya dalam olah warastra.
“Begini Palgunadi, bila kamu hendak diakui sebagai muridku, maka berikanlah cincin yang menyatu pada jari manismu itu !” Akal Durna seketika terang sewaktu melihat cincin Gandok Ampal yang menyatu pada jari manis Ekalaya.
“Aduh Sang Resi, adakah cara lain agar hamba dapat menukar permintaanmu, duh sang Guru ?” Memelas kata kata Ekalaya mendengar permintaan itu. Cincin Gandok Ampal yang melekat pada jarinya adalah penyeimbang gerak jari tangan yang menjadikan ia dapat dengan jitu membidik sasaran. Bahkan benda itu telah menyatu dalam kulit daging sehingga bila dilepaskan nanti, maka sama artinya ia menyerahkan kesaktian bahkan nyawanya.
Ketika ia masih berpikir dan gurunya pun berpikir sembari menunggu keputusan kata akhir dari Palgunadi, Arjuna menyelonong menyampaikan usulnya.
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:45 AM
#151

Baratayuda: Palgunadi dan Janji Sang Guru 2

By MasPatikrajaDewaku

“Bapa Guru dan juga Palgunadi, bila tidak keberatan, maka cincin itu dapat dipertahankan melekat pada jarinya, asalkan ditukar dengan yang ada dibelakangmu itu, Palgunadi”
“Apa yang kamu maksudkan Arjuna ?” Tanya Palgunadi yang heran dengan permintaan Arjuna.
“Wanita dibelakangmu dapat kamu tukar dengan cincin yang melekat dijarimu. Bukankan itu hal yang bersifat adil Bapa Guru ? Jelas Arjuna sambil meminta pertimbangan kepada gurunya dan dijawab Sang Guru dengan menganggukkan kepalanya.
Memerah muka Palgunadi ketika sang istrinya disebut sebagai tanda tetukar atas pengakuan sebagai murid Sokalima. Kedua permintaan antara guru dan murid Sokalima itu telah menyudutkan pilihan atas kuatnya hasrat memiliki sesuatu. Ia akan merelakan nyawanya bila cincin itu ia serahkan, sedangkan kehormatan seorang suami akan memberontak bila seorang istri diminta lelaki lain
Berpikir keras Palgunadi menimbang yang manakah yang hendak ia pilih. Samar ia mendengar guru maya-nya mengingatkankan, “Palgunadi, aku tak punya cukup waktu aku menungguimu. Cepat putuskan pertimbanganmu”
Kaget Palgunadi, terputus angan angannya ketika ia diminta segera memutuskan pilihannya. Sejenak ia berbalik badan memandangi Anggraini. Wanita cantik itu tertunduk gelisah. Pilihan yang berat bagi suaminya. Anggraini adalah istri yang sangat mengerti sekali akan watak suaminya. Ia tahu betapa suaminya sangat gandrung dengan olah ilmu kanuragan aliran Sokalima. Pastilah ia tak akan mundur dalam mempertahankan status ilusinya, bahwa ia adalah murid perguruan Sokalima. Dan saat ini status guru-murid ilusi itu akan berganti dengan status diakui penuh, bila ia dapat menyerahkan salah satu dari dua pilihan itu.
Angan itu terputus ketika suara istrinya menanyakan beberapa hal,“Kanda, apakah rela bila seorang suami menyerahkan istrinya ? Apakah benar tindakan seorang suami yang merelakan istrinya dijamah lelaki lain ? Tidakkah seorang suami terusik kehormatannya bila belahan jiwanya dimiliki oleh orang yang tidak berhak memiliki . . . .”
“Baiklah . . . “ , potong Palgunadi sebelum istrinya meneruskan kalimatnya panjang lebar, “ Sekarang aku akan memutuskan !” Sejenak ia terdiam dan kembali menghadap Begawan Durna, yang tersenyum puas terhadap apapun yang Palgunadi hendak pilih. Bila ia memilih istrinya diserahkan kepada Arjuna, maka ia akan melihat, betapa Palgunadi akan tersiksa dan goyah lahir-batinnya hingga ia merana, bahkan dapat berujung pada kematiannya. Bila ia akan menyerahkan cincin dijarinya, ia sangat yakin, cincin itu adalah keseimbangan jiwa raga bagi Palgunadi, dan ia akan tewas bila ia menyerahkan cincin sekaligus jarinya.
“Guru, aku telah memutuskan. Aku serahkan . . . . . cincinku beserta segenap jiwa dan ragaku” Tegar Ekalaya dengan pilihan hatinya. Bagaimanapun status murid Sokalima adalah kebanggaan tiada tara baginya. Kebanggaan yang sejatinya adalah semu dan membabi buta, telah mengantarkannya pada keputusan yang tak mengherankan bagi setiap manusia yang bersikap sangat fanatik terhadap kepercayaan yang sudah tertanam dalam sanubari, sebagai dogma yang tak mudah diasak. Bahkan, bagi sebagian orang seperti itu, mengorbankan jiwa raganya sekalipun ia rela melakukannya demi mempertahankan kebanggaan serta kebenaran yang dipercayainya. Padahal semua kebenaran adalah nisbi, dan kebenaran bagi suatu pihak, golongan atau perseorangan belum tentu benar bagi yang lain. Kebenaran sejati hanya terpancar dari hukum alam semesta.
Terkekeh Begawan Durna senang, tak peduli ia sebagai manusia yang timpang rasa keadilannya. Tak salah, bahwa ia telah diberi batasan serta janji bahwa hanya kepada trah Barata-lah ia boleh menurunkan ilmunya. Tak terbatas pada orang Pandawa dan Astina serta trah Yamawidura yang sekarang tinggal di Astina, tetapi Kurawa sabrang yang terpental pada kejadian Pandawa Traju-pun *) tetap menjadi muridnya. Sekarang ia akan mengenyahkan satu trubusan yang mencederai janji itu, sekaligus membuktikan kepada murid terkasihnya, Arjuna, bahwa ia tidak ingkar janji.
“Segera letakkan jarimu diatas batu itu, relakan bahwa apa yang terjadi adalah atas dasar kesungguhanmu dan kesetiaanmu pada perguruan Sokalima”
“Baik bapa Guru, satu kata kata yang hendak aku sampaikan kepadamu, bila aku mati karena peristiwa ini, ini adalah suatu tanda bagi seorang guru yang pilih pilih menjatuhkan kasih bagi murid muridnya…..” antara rela dan tidak Palgunadi megutarakan isi hatinya.
“Sudahlah jangan banyak cakap, aku akan melaksanakannya sekarang juga” Durna tidak mau terpengaruh kata kata Palgunadi dengan memotong pembicaraannya.
Segera Palgunadi meletakkan telapak tangannya diatas batu, bersamaan dengan dicabutnya senjata Cundamanik. Putus jari manis Palgunadi beserta cincin Gandok Ampal dengan sekali iris. Tak dinyana begitu putus jari, yang seharusnya hanya cedera yang ia alami, tetapi kemudian yang terjadi adalah tubuh Palgunadi bergetar hebat. Desis kesakitan yang amat sangat keluar dari mulutnya, kemudian ia terkapar terbujur meregang nyawa. Tewas sang Palgunadi.
Tertegun Begawan Durna dan Arjuna melihat kejadian dihadapannya, hingga ia lengah. Cundamanik yang ada ditangan Durna secepat kilat ada pada genggaman Anggraini yang kemudian menusukkan keris ditangannya ke dada tembus di jantung. Menyusul sang istri setia kepangkuan suami tercinta ke alam sunya ruri. Terbujur dua orang yang saling mencinta itu dengan meninggalkan bau harum memenuhi sekitar tubuh keduanya.
Belum lagi tersadar sepenuhnya Begawan Durna, ia dikejutkan denga suara yang terngiang di telinganya, “Bapa Guru, telah sempurna aku sebagai muridmu. Tetapi ajaranmu yang sebenarnya masih aku tunggu, sampai aku melihat waktu yang tepat untuk kembali mencecap ilmu darimu “
******
Melihat sang Drestajumna diatas kereta senapati dengan pikiran kosong, sedih dan rasa duka mendalam setelah kematian ayahnya Prabu Drupada, maka bergeraklah sukma Palgunadi menuju kearah Drestajumna. Segera berubah raut muka Drestajumna menjadi liar ketika sukma Ekalaya menyatu dalam raganya.
“Durna ! dimana kamu? Aku akan bela pati atas kematian ayahandaku. Ini adalah anaknya yang dari lahir sudah menggenggam busur ditangan kiri dan menggendong anak panah dipunggungku. Aku yang akan meringkusmu dan akan aku jadikan bulan bulanan kepalamu !” Sesumbar Drestajumna liar dengan mata jelalatan mencari dimana Durna berada.
Maka gembira hati Drestajumna ketika melihat Begawan Durna mengeluh panjang pendek menyesali kematian anaknya semata wayang.“Aswatamaaaaa . . . . , huuu . . . kamu adalah harapanku, satu satunya penyambung keturunan Atasangin. Kamu yang siang malam aku gadang gadang bakal menggantikan peran bapakmu. Sukur kalau kamu dapat aku jadikan raja agung binatara dan menguasai jagad. Anakku bagus tampan Aswatama ,kamu adalah anak yang bukan sembarangan, tetapi kamu adalah manusia linuwih. Kamulah anak setengah dewa, karena ibumu Wilutama adalah seorang bidadari. Maka kamu pasti akan dapat dengan mudah menguasai banyak jajahan. Bahkan negara Astinapun dapat kamu kuasai bila kamu sudah bertahta di Atasangin nanti. Anakku . . . , dimana jasadmu sekarang. Bila mungkin akan aku mintakan kepada ibumu agar kamu dapat dihidupkan kembali. Wilutama . . . , pertemukan aku dengan anak tampanmu. . .” menangis mengenaskan Durna sambil mulutnya meracau, berdiri condong bersandar tebing batu.
Malang begawan Durna, Drestajumna yang dalam penguasaan arwah Palgunadi melihat keberadaan Begawan Durna yang menangis meraung raung mengenang nasib anaknya. Tak satupun sosok Kurawa didekatnya karena mereka sibuk mencari keberadaan Aswatama yang diperintahkan untuk menjauh dari medan peperangan. Para Kurawa sebenarnya bermaksud untuk mempertemukan Aswatama dengan ayahnya agar selesai masalah kekalutan jiwa yang menimpa Begawan Durna.
Tanpa sepatah kata, Drestajumna segera meraih tubuh renta dan menjadikan tubuh itu sebagai layaknya kucing memainkan seekor tikus. Tak hanya sampai disitu, ditebasnya leher Begawan Durna. Kepala menggelinding ditanah berdebu dan dijadikan bola tendang dan kemudian dilemparkan jauh jauh.
Tewas Sang Kumbayana dan sukmanya dijemput oleh sahabatnya, Sucitra, yang tidak menunggu lama kedatangan karibnya itu ketika muda. “Lhadalah, tidak usah terlalu lama aku menunggumu, sahabat” sambut Sucitra dengan senyum mengambang di bibirnya dan kedua tangan mengembang menyambut kehadiaran Kumbayana. Keduanya berangkulan, layaknya sahabat kental yang sudah lama tidak saling jumpa.
Kumbayana yang menyambut uluran kedua tangan Sucitra dan dengan hangat membalasnya. “Hebatlah anakmu yang mengerti kemauan ayahnya, yang tak harus lama menunggu kedatanganku. Walaupun aku juga tahu bahwa muridku Palgunadi-pun sudah lama menunggu dan menyatu dalam raganya” Kumbayana memuji anak Sucitra yang telah mengantarkan ke hadapan sahabatnya. Bergandengan tangan dengan ceria keduanya melangkah menapaki tangga suci keabadian.
******
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:48 AM
#152

Baratayuda: Palgunadi dan Janji Sang Guru 3

By MasPatikrajaDewaku

Diceritakan, ketika kepala itu telah hilang dari pandangan mata Drestajumna, barulah ia merasakan keletihan yang tiada terkira. Sukma Ekalawiya yang telah meninggalkan raganya menyadarkannya apa yang terjadi dihadapannya. “Aduh betapa berdosanya aku yang telah tega membunuh guru para pepundenku Pandawa. Betapa nistaku yang telah menghajar manusia sepuh yang sudah tak berdaya, walaupun ia telah menewaskan ayahandaku, tetapi ia melakukan dengan jiwa kesatrianya”. Drestajumna menyesali tindakannya.
Dipejamkan matanya seolah hendak mengusir bayangan yang memperlihatkan betapa ia telah secara keji membunuh guru para darah Barata. Betapa ia menjadi giris ketika ia membayangkan bila murid muridnya tidak terima atas perilaku yang telah ia lakukan. Tetapi semakin dalam dipejamkan mata itu, semakin kuat bayangan yang menghantui hatinya.
Ketika ia membuka kembali matanya, dihadapannya telah berdiri Prabu Kresna dan Werkudara.
Geragapan, ia kaget setengah mati karena rasa bersalah. Tetapi sejenak kemudian ia menjadi merasa sejuk hatinya, ketika Prabu Kresna meraihnya dan memeluk tubuhnya. Dan mengatakan, “Drestajumna, tidak ada yang perlu kamu sesali. Segalanya adalah sudah garis takdir dari yang maha kuasa. Bukan salahmu, sebagai titis Wisnu aku mengetahui bahwa tindakan kamu bukan atas kehendakmu sendiri. Sukma Palgunadi yang telah membalas ketidak adilan perilakunya dalam memperlakukan dirinya sebagai murid, adalah ganjaran yang setimpal. Segera ambil kembali kereta senapati perang, sebelum sore menjelang”
Ketika itu, berita kematian Pendita Durna telah sampai ketelinga Aswatama yang tengah bersembunyi. Ia langsung memperlihatkan diri dan bertemu ia dengan Patih Sengkuni. “Paman Harya, benarkah ayahandaku telah gugur ?” tak sabar ia menanti jawaban Sengkuni.
“Benar anakku, kematian orang tuamu sungguh membuat siapapun menjadi miris dan menimbulkan rasa tak tega. Dipenggalnya kepala orang tuamu dan dijadikannya bola sepak yang ditendang kesana kemari”. Sengkuni menceritakan peristiwa yang terjadi dengan dibumbui cerita yang didramatisir.
“Siapa yang melakukan, Paman Harya !” muntap kemarahan Aswatama, kembali ia memerah mukanya dengan mata yang menyala nyalang, gemeratak giginya dan sudut bibirnya bergetar.
“Pelakunya adalah Drestajumna . . . . !”. belum selesai Sangkuni mengucapkan nama pelaku pembunuh orang tuanya, Aswatama telah melompat kearah palagan peperangan, sambil menghunus keris warisan orang tuanya, kyai Cundamanik. Dicarinya Drestajumna dengan kobaran api dari bilah keris yang menyala berkobar menyambar nyambar dengan bunyi yang menggelegar bergemuruh ditangannya.
Gentar Drestajumna yang melihat amukan anak Durna, dan ia berlari mundur karena merasakan tenaganya yang telah terkuras tadi dirasakannya tak kan lagi cukup untuk menghadapi amukan Aswatama.Dan selagi ia mundur, ia bertemu dengan Setyaki yang segera mencengkeram bahu sang senapati dengan kemarahan, “Inikah senapati Hupalawiya? Ketika menghadapi orang tua yang dalam keadaan tanpa daya telah tega memenggal kepalanya? Inikah Senapati Randuwatangan? Yang dengan gagah berani membulan bulani kepala dari guru para pepunden Pandawa. Tetapi apa yang terjadi, ketika melihat amukan anaknya, senapati gagah itu ia telah “tinggal gelanggang colong playu” dengan muka pias pucat bagai segumpal kapas !”
“Setyaki, aku menjadi senapati bukan atas kemauanku sendiri. Aku jadi senapati adalah karena jejak laku sepanjang hidupku dimasa lalu yang dapat mengatasi segala kesulitan yang menghadang dihadapanku dan tak pernah gagal dalam melakukan tugas. Janganlah mencercaku tanpa dasar. Apakah kamu akan berusaha menggantikanku? Langkahi dulu mayatku sebelum kamu melakukan itu!”
Keduanya segera berhadapan dengan kuda kuda kaki yang siap menyerang. Tetapi hardikan yang keras telah menghentikan langkah keduanya. Suara hardikan itu datang dari mulut Prabu Kresna, “Setyaki, Drestajumna berhentilah! Alangkah memalukan bila ini menjadi tontonan musuh. Betapa hinanya kamu berdua yang tak urung juga akan mendera aku sebagai seorang penasihat perang”.
Kedua orang yang bersengketa itu akhirnya sama sama duduk bersimpuh menghadap Sang Prabu. “Setyaki, jangan menjadi pandir dan seolah olah kamulah yang paling benar. Tanyakan dulu latar belakang peristiwa pada yang bersangkutan. Jangan sesuatu dibawa dalam hawa amarah. Mengertikah kamu, Setyaki? Setyakipun mengangguk.”Mintalah maaf atas kelancanganmu” kembali Setyaki mengangguk dan meminta maaf atas kelakuannya tadi.
“Werkudara! Temui Aswatama cegahlah amukannya!” Kresna memberikan perintah kepada Werkudara yang selalu mengikuti kemana Kresna pergi. Kembali Werkudara masuk kedalam arena pertempuran yang masih berlangsung sengit menjelang usai sore hari. Dengan langkah tegap dan kembali menimang gada Rujakpolo dihampirinya Aswatama yang dengan garang ingin memburu Derstajumna.
Aswatama yang dihadang Werkudara makin marah. Segala usaha dikerahkan untuk mendesak lawannya, tetapi ia bagaikan sedang berusaha menembus kokohnya benteng baja.
Merasa tak ada urusan dengan Werkudara, ia memutuskan untuk mundur dengan mengucapkan sumpah, “Ingat orang orang Pancala, aku akan datang kembali menuntut balas atas kematian ayahku. Aku tak akan mati sebelum membasmi orang Pancala lelaki ataupun perempuan, beserta turunnya, tumpes kelor !”
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:51 AM
#153

Baratayuda: Mimpi Besar Aswatama 1

By MasPatikrajaDewaku

Kembali remuk hati Aswatama. Belum lagi jelas pulihnya kepercayaan Prabu Duryudana kepadanya setelah terjadinya kericuhan di Bulupitu waktu lalu hingga menewaskan paman terkasihnya, Resi Krepa, kembali kematian ayahnya bagaikan meremuk redamkan sisa bagian hatinya yang masih utuh. Remuknya hati dibawanya menyingkir dari palagan peperangan disore yang mulai mendung. Seribu hitungan langkah yang ia rencanakan selanjutnya berkecamuk dalam pikirannya. Rencana bagaimana cara membalaskan sakit hati atas pokal orang Pancalaradya utamanya, dan orang Pandawa bersaudara atas kematian orang tuanya secara keseluruhan.
“Bapa, disini aku akan bersumpah untukmu atas perilaku Drestajumna. Belum merasa lega hati anakmu, bila belum bisa menumpas anak anak Pancalaradya. Sanggup anakmu ini melakoni usaha apapun, bahkan menjadi hewan paling hina-pun anakmu akan tetap berusaha menuntut balas atas kematianmu ”.kilat dan serentak suara gelegarnya menjadi saksi sumpah Aswatama.
Sedih hati Aswatama membawanya mengenang orang orang yang dicintainya. Pamannya, Krepa, yang menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri, pamannya itu yang telah mencurahkan segala kasih sayang kepada dirinya, tak terbatas pada rasa sayang seorang paman. Dirinya yang ditinggal ayahnya sedari kecil di Timpuru telah mendekat-lekatkan hatinya kepada pamannya itu.
Sedangkan ayahnya yang menikahi ibu sambungnya, Krepi, bukan atas nama cinta, tetapi semata mata hanyalah berdasar usaha melepas beban mengasuh dirinya sebagai anak bayi Aswatama kecil. Dalih menikahi Krepi adalah perilaku yang menghindari diri dari kerepotan itu, demi mengejar angan tinggi seorang perantau muda yang haus akan pengalaman dan cecapan kebebasan masa mudanya.
Angan kebebasan berpetualang yang membawa ayahnya menjadi rusak raga atas hajaran Raden Gandamana, namun ayah tercintanya juga diberkati kesaktian pinunjul ketika berguru kepada Rama Bargawa dan menjadi guru ilmu kanuragan para Kurawa dan Pandawa.
Kemudian bayangan angan Aswatama menerawang mengenang kasih sayang sang ayah ketika ia menyusul ke Sokalima. Ayahnya yang merasa bangga dengan sosok dirinya yang merupakan keturunan satu satunya. Bagi ayahnya adalah pelecut semangat hidup, ketika raganya telah rapuh dan tak lagi sempurna. Sosok dirinya yang mengingatkan atas sosok muda ayahnya, hingga ia dilimpahi kasih sayang tak terhingga dari ayahnya itu.
Tidak berpanjang panjang angan Aswatama, ketika Harya Suman yang mencari dirinya telah menemukannya.
“Aswatama, jangan lagi menyesali kematian orang tuamu berpanjang panjang, marilah anakku, aku iring langkahmu menuju balairung Bulupitu. Sinuwun Prabu Duryudana berkenan memanggilmu”
Ragu Aswatama mendengar perkataan Harya Suman. Dalam benaknya masih tersimpan ingatan, bagaimana junjungannnya Prabu Duryudana sangat marah, ketika ia berusaha membela pamannya terkasih, Resi Krapa, ketika pertengkaran pamannya itu dengan Adipati Karna, yang berujung pada kematian pamannya.
Harya Suman sangat mengerti perasaan Aswatama, maka ia melanjutkan.
“Sinuwun Prabu Duryudana memanggilmu atas kemurahan hati beliau, yang menganggap orang tuamu telah menjadi pahlawan atas gugurnya dalam membela para Kurawa dan melihat kesetiaanmu kepada negara. Ayolah anakku, jangan ragukan kata kata pamanmu. Aku yang akan menjadi jaminan atas sabda Prabu Duryudana”.
“Baiklah paman, hamba mengerti akan keadaan ini” Aswatama menuruti kata kata Patih Sangkuni. Ia ingin mengumpulkan kembali kekuatannya lahir dan batin. Dengan bergabung kembali ke barisan Kurawa, seribu kemungkinan akan ia dapatkan dalam usahanya membalaskan sakit hati kepada trah Pancala. Hitungan dalam kepalanya juga mengarah kepada suatu agenda tersendiri yang hanya ia yang tahu.
******
Malam kembali jatuh. Di Pesanggrahan Bulupitu, Prabu Duryudana sangat berduka dengan apa yang terjadi pada peperangan hari tadi. Kematian demi kematian para sanak saudara bahkan gurunya, telah membuat ia merasa telah terlolosi otot dan tulang tulang dari sekujur tubuhnya. Kematian gurunya Pendita Durna-lah yang membuat serasa lumpuh. Ditambah lagi dengan kematian adiknya Dursasana yang sudah ia terima dari abdi telik sandi. Kematiannya yang diluar arena resmi sangat ia sesalkan. Ditambah lagi dengan kematiannya yang sangat menyedihkan dengan badan yang tercerai berai, membuahkan dendam kepada Werkudara.
“Rama Prabu, sekaranglah waktunya putramu untuk maju sendiri kemedan pertempuran” Duryudana tidak lagi terkendali rasa hatinya ketika orang orang terkasihnya tewas satu persatu.
“Pikirkanlah baik baik langkah yang hendak kau ambil, anak mantu Prabu”. Salya mencoba menyabarkan hati menantunya. Kemudian ia mencoba memberikan pilihan. “Barangkali dengan telah tewasnya banyak andalan pihak kita, anak Prabu mempunyai pertimbangan untuk mengakhiri saja perang ini. Dan bila anak Prabu berkenan akan tindakan ini, aku sanggup untuk menjadi perantara dalam menyampaikan pesan perdamaian kepada adik adikmu Pandawa”.
“Tidak rama Prabu, akan sia sia pengorbanan yang telah diberikan oleh para prajurit dan senapati yang telah gugur. Tidak layak putramu berdamai dengan Para Pandawa dengan landasan bangkai para prajurit dan bergelimang dengan darah para bebanten perang”. Duryudana menjawab dengan tegas. Perasaan dendam yang membara didadanya atas kematian adik terkasihnya, Dursasana, telah mendorongnya mengatakan bantahan atas pilihan tawaran dari Prabu Salya.
“Baiklah, bila demikian. Anak Prabu masih mempunyai satria agul-agul yang kiraku dapat mengatasi keadaan ini dengan memenangi perang. Disini masih berdiri kokoh seorang calon senapati yang bukan orang sembarangan. Orang itu adalah anak dewa penerang hari, yang telah kuasa memenangi pertempuran malam dengan korban yang tak terkira jumlahnya termasuk senapati muda Gatutkaca”. Tutur Salya sambil melirik mantunya yang paling ia tidak sukai dari ketiga mantu yang lain sambil tersenyum penuh arti. Senyum yang keluar bukan dari hati yang tulus. Senyum yang setengah mengejek, karena rasa yang terlanjur tidak suka terhadap mantu itu. Juga senyum sinis itu disebabkan atas hasil kemenangan yang dicapainya baru baru ini yang tidak dilakukan dengan cara kesatria, layaknya perang yang terjadi di waktu waktu sebelumnya yang terjadi diwaktu yang wajar, siang hari.
Adipati Karna yang berperasaan halus, telah tersentuh oleh perkataan mertuanya. Dalam pikirannya,ia ingin membalas apa yang sudah diperlakukan atas dirinya. Disamping itu, kematian lawannya, Gatutkaca telah berbuntut panjang. Werkudara pasti masih mendendam. Maka telah ia rancang sesuatu tindakan tertentu bila ia disetujui menjadi senapati.
Benarlah demikian, Prabu Duryudana menyetujui pilihan berikutnya yang ditawarkan oleh mertuanya itu.
“Terimakasih rama Prabu, anakmu setuju atas kehendak rama. Hanya kepada kanda Adipati, kami menyandarkan kekuatan para Kurawa dalam memenangi perang ini. Kami harap kanda Adipati dapat melaksanakan segala gelar perang yang akan terlaksana besok pagi”.
“Kehormatan yang tiada terkira yang saya cadang siang dan malam telah terucap dari sabda paduka adinda Prabu. Ada satu permintaan yang akan kami sampaikan kepada adinda Prabu, dalam perang nanti, kami pasti akan berhadapan dengan adimas Arjuna. Ini sudah menjadi takdir yang sudah terucap dari sabda Batara Narada waktu lalu, bahwa kami berdua adimas Arjuna bakal bertemu kembali dalam medan Baratayuda. Dari itu, para Pandawa akan menampilkan adimas Arjuna sebagai senapati dari pihak Hupalawiya”. Kembali Adipati Karna mengingatkan akan peristiwa masa lalu ketika anugrah Kuntawijayandanu yang hendak diberikan kepada Arjuna sebagai pemutus tali pusar Gatutkaca, telah salah diterimakan kepada Karna-Suryatmaja. Perkelahian keduanya terjadi ketika Arjuna tidak terima atas kesalahan pemberian pusaka itu, dan bahwa ia juga telah dibebani tugas oleh kakaknya, Bratasena Werkudara, untuk mendapatkan senjata yang bisa memutus tali pusar keponakannya. Pertempuran yang kemudian dipisah oleh Narada, dijanjikannya bakal terlaksana hingga salah satunya tewas pada saat Perang Baratayuda berlangsung nanti.
“Permintaan apakah yang hendak kanda sampaikan. Kalau masih dalam jangkauan kami, pasti akan kami kabulkan” Duryudana setengah menyanggupi permintaan yang hendak ia sampaikan.
“Adinda Prabu, Bila terjadi perang tanding dengan kereta perang nanti antara kami dengan dimas Arjuna, tidak urung adimas Arjuna akan dikusiri oleh Prabu Kresna. Bila ini yang terjadi, mohon kesanggupannya agar kami dikusiri juga oleh manusia yang setimbang dengan derajat Prabu Kresna”. Sejenak Karna diam, ragu dalam hati ia hendak menyampaikan maksudnya kepada adik iparnya itu.
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:52 AM
#154

Baratayuda: Mimpi Besar Aswatama 2

By MasPatikrajaDewaku

Jeda kesunyian itu kemudian diseling dengan pertanyaan sang Prabu. “Kanda, apakah kanda hendak dikusiri oleh Kartamarma, ataukah oleh paman Harya Sangkuni? Akan kami perintahkan kapanpun, pasti keduanya dengan senang hati akan memenuhi kehendak kanda Adipati”.
Adipati Karna tersenyum hambar. Perasaan sungkan yang ia pendam sedari tadi telah ia keluarkan dan ia buang sedikit demi sedikit. Keinginan membalas perlakuan mertuanya yang selalu tidak cocok dihatinya, dalam peristiwa ini, bagaikan suatu sarana untuk melawan balik sikap mertuanya itu. Bagaimanapun permintaan seorang senapati akan dipenuhi tanpa harus tercampuri oleh urusan pribadi. Dan urusan negara ini akan dijadikan dalih dalam melawan sikap mertuanya itu. Inilah saatnya, pikir Karna.
“Adinda Prabu, bukan seorang Kartamarma atau Paman Sengkuni yang aku kehendaki. Keduanya belum setimbang dengan derajat yang disandang oleh Prabu Kresna. Satu satunya orang yang dapat menyamai derajatnya, adalah . . . Rama Prabu Salya”.
Terkejut Salya dengan permintaan yang diajukan oleh menantunya. Tidak senang ia berkata. “Ooh . . , inikah ujud bakti seorang menantu terhadap mertuanya? Aku ini dianggap apa? Derajat Prabu Kresna yang kau anggap sebagai dalih agar mertuamu ini mau kau perintahkan aku sebagai kusirmu? Sekali menjadi mantu kualat, tetap menjadi menantu kualat juga. Belum juga sembuh rasa hati atas tuduhanmu diawal perang, telah kau lukai hati ini sekali lagi dengan permintaanmu yang merendahkan derajat raja Mandaraka”. Tanpa diduga sebelumnya oleh Karna, rayuannya atas derajat yang ia lontarkan kepada mertuanya, tidak mempan mengatasi anggapan rendah seorang kusir bagi dirinya. Bahkan kembali Salya mengungkit ungkit sakit hatinya atas tuduhan menantunya diawal perang.
“Rama Prabu, bila rama tidak berkenan atas permintaan kanda Adipati, baiklah sekarang putramu sendiri yang akan maju kemedan Kurusetra. Saya relakan jiwaku demi kemenangan yang hendak aku raih. Putramu minta diri untuk berangkat malam ini juga”. Duryudana mencoba untuk menarik perhatian ayah mertuanya. Ia berharap mertuanya akan menyanggupi permintaan kakak iparnya bila ia mengancam akan bertindak sendiri.
Kembali diluar dugaan, Salya berkata sambil tertawa sumbang. “Anak mantu Duyudana, aku ini orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan. Tidak usahlah merajuk seperti itu. Dalam pendengaranku, kata kata anakmas Duryudana tadi, bukan keluar dari lubuk hati anakmas sendiri. Tidak usahlah memaksa dengan ancaman halus seperti yang anak Prabu katakan, aku akan menuruti keinginan menantuku Awangga yang tampan itu, anak mantu yang membuat anakku Surtikanti mabuk kepayang”. Akhirnya Salya menyanggupi permintaan itu. Karna yang mendengar permintaannya dikabulkan bukannya senang, namun ia malah tersenyum kecut penuh arti.
“Terimasih rama Prabu, yang telah mengabulkan permintaan anakmu ini. Mohon perkenannya adinda Prabu Duryudana, mulai malam ini kanjeng rama ada dalam tugas sebagai kusir senapati Awangga”. Adipati Karna akhirnya mengatakan kalimat seperti itu. Telah telanjur basah ia dalam melawan rasa benci dari sang mertua, maka sekalianlah basah dengan memerintahkan peran itu dari saat ini juga.
“Baiklah anakku tampan, perintahkan kepada kusirmu tugas apa yang hendak kau perintahkan untuk mengantarmu?” Salya sudah muak dengan tingkah menantunya sekalian memanjakan semu kemauan menantunya.
“Mohon maaf rama, mohon rama menemani kami untuk kembali sejenak ke Awangga. Anakmu mantu ingin ketemu sejenak dengan putri rama, Surtikanti. Sudah lama anakmu tidak memberi kabar ataupun berita. Dan pasti ia ingin mengetahui keselamatan suaminya. Sekali lagi mohon perkenannya. Ketemu dengan istri bukanlah masalah pribadi, ini sebagian dari tugas seorang senapati. Ketemu dengan istri adalah sebagai penguat jiwa, sebagai penambah moral bagi seorang lelaki sekaligus suami dalam menjalankan tugas. Apalagi ini adalah tugas luar biasa, tugas yang taruhannya adalah nyawa”. Karna mencoba memberi penjelasan kepada mertuanya.
Namun sang mertua yang sudah pegal hatinya setengah hati menjawah. “Dalih apapun yang kamu hendak berikan kepadaku, taklah menjadi sebuah arti. Mari ikuti aku, kita segera berangkat ke Awangga”
“Anak mantu Duryudana, perkenankan kami mohon diri sejenak. Kusir ini akan mengantarkan senapati agung”. Prabu Salya meminta diri.
“Semoga keselamatan rama Prabu dan Kanda Adipati menyertai perjalanan ini nanti” demikian Duryudana mengakhiri sidang dan beranjak mengikuti Prabu Salya dan Adipati Karna sampai di gapura pesanggrahan.
Lenyap bayang dua sosok menantu dan mertua itu di keremangan malam. Tetapi dua sosok tubuh yang lain muncul. Mereka adalah Harya Sangkuni dan Aswatama. Segera keduanya menghaturkan sembah kepada junjungannya . Diajaknya kemudian keduanya menuju balairung pesanggrahan.
Setelah basa basi sejenak, dan menceritakan apa yang terjadi baru saja, berkata Prabu Duryudana, “Aswatama, telah saya cabut kata kataku mengenai pengusiranmu dari hadapanku. Kematian ayahmu sebagai seorang tawur peperangan adalah labuh seorang pahlawan sejati. Sebagai seorang anak pahlawan, selayaknya kamu harus aku berikan perlakuan layaknya seorang anak pahlawan. Sedangkan perilakumu semasa pembuangan, aku lihat tetap bersikap sebagaimana prajurit yang setia terhadap negara. Itulah yang mendasari kamu aku dekatkan kembali dihadapanku”.
“Terimakasih atas kepercayaan gusti Prabu terhadap hamba. Akan kami pelihara sikap kesetiaan kami terhadap negara ini dengan kesanggupan hamba sebagai mata mata atas kedua parampara paduka gusti Prabu. Kenapa hamba mengatakan sanggup menjadi orang yang setia, dan hubungannya dengan kedua parampara paduka yang barusan pergi. Mohon seribu maaf, karena keduanya adalah masih ada hubungan batin dan jiwa dengan musuh paduka para Pandawa. Prabu Salya adalah uwak dari kembar Nakula dan Sadewa. Sedangkan kanda Adipati Karna adalah saudara tunggal wadah dengan para Pandawa melalui bibi paduka Dewi Kunti. Maka menurut hamba, keduanya harus diawasi benar benar pergerakannya. Sekali lagi sinuwun Prabu, hamba mohon maaf. Hubungan gusti Prabu dengan mertua paduka kali ini hamba kesampingkan”. Aswatama menghaturkan kata kata itu dengan hati hati.
Sebenarnya ia khawatir mengatakan itu. Namun angin mengarah kepada dirinya hingga diberanikan dirinya mengutarakan isi hatinya.
Takut ia dengan kemurkaan kembali gustinya, ia menunduk dalam. Tetapi hatinya menjadi besar, ketika Patih Sengkuni mengamini kata katanya.” Anak Prabu, benar apa yang dikatakan Aswatama. Segala sesuatu dapat saja terjadi dengan keduanya. Kami sependapat, dan Aswatama akan membuktikan keterangan yang diberikan besok hari ketika perang esok hari telah usai”.
Maka malam itu ketika sudah larut, Aswatama tak segera dapat memejamkan matanya. Kenangan masa lalu dan rencana kedepan hilir mudik mengisi kepalanya. Tapi putusannya adalah, siapapun yang akan memenangi Baratayuda tidaklah menjadi persoalan baginya. Tak ada lagi untung rugi yang ia hitung hitung dalam perkara ini. Yang utama adalah bagaimana ia dapat membalaskan sakit hati terhadap pembunuh ayah dan pamannya, baik itu melalui tangannya sendiri maupun melalui tangan orang lain. Sekarang telah diputuskan, bahwa dirinya akan menjadi seorang oportunis sejati. Kurawa menang, dirinya aman, tetapi bila Pandawa yang menang, kembali ke Timpuru atau Atasangin menjadi pilihan terakhir. Bahkan dibayangkannya ia dapat menggulung kedua pihak yang sedang berperang, Pendawa dan Kurawa sekaligus, dan kemudian bertahta diatas bangkai mereka, nyakrawati mbahu denda di kerajaan Astina dengan permaisuri Dewi Banuwati. Entahlah ini dipikirkan ketika ia masih terjaga atau sudah terlelap dalam mimpi besarnya.
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:57 AM
#155

Baratayuda: Atas Nama Darma Satria 1

By MasPatikrajaDewaku

Tak diceritakan bagaimana suasana ketika Adipati Karna bertemu dengan istri tercintanya, Surtikanti. Yang terjadi kemudian adalah waktu pagi yang terik, dimana pertempuran sengit berkecamuk kembali di padang Kurukasetra yang sudah berhari hari menjadi panggung ajang drama pertempuran yang mengerikan. Sisa sisa tenaga prajurit yang kini mulai jenuh dan lelah, hanya punya pilihan, segera perang selesai. Entah dirinya yang menjadi korban atau ia membunuh lawan lawannya dengan cepat.
Hawa panas menjelang penghujan menyengat menguatkan bau anyir darah dan busuk bangkai manusia dan hewan tunggangan para adipati serta segenap pembesar perang yang tak lagi sempat dirawat oleh sesama prajurit. Berserakan senjata yang bergeletakan mencuat diantara reruntuhan kereta perang, sungguh membuat meremang bulu kuduk orang orang yang bermental lemah. Belum lagi erangan para prajurit terluka menahan rasa sakit yang tak terkira, tetapi tidak kunjung ajal menjemput. Suara rintihan itu bagai nyanyian peri prayangan. Sementara burung gagak pemakan bangkai berputar kekitar diangkasa yang biru dengan gumpalan awan disana sini, menanti kapan waktunya untuk kembali berpesta pora.
Di salah satu sisi medan pertempuran, terdengar pembicaraan dua orang prajurit yang sama sama terluka, entah kepada sesama teman atau lawan. Yang mengalami luka serius menyandar pada pokok pohon kering, sementara lawan bicaranya tadi tertelungkup dengan sesekali terbatuk memuntahkan darah segar dari mulutnya.
“Sesungguhnya apakah yang kita dapat dari peperangan yang kita jalani, kisanak?
“Inilah yang kita dapat! Kebinasaan! Hukum alam telah menuliskan, keseimbangan alam telah mengharuskan manusia melakukan kekerasan, saling baku bunuh untuk kembali ke keseimbangan baru, baik itu melewati perang seperti ini, bencana alam, atau manusia dengan sadar mengerem lajunya jumlah turun. Kita ini sedang ada didalam bagian dari putaran proses itu, kisanak”.
Keduanya berbincang diantara desing anak panah dan denting senjata serta gelegarnya meriam dengan sesekali berhenti menahan rasa sakit, suara pembicaraan keduanya kadang tertelan oleh kemeretak roda kereta dan derap ladam kuda yang melintas disekitar mereka. Sementara kepulan debu dan asap sendawa mengepul menyesakkan nafas.
***
Diceriterakan, adalah Raden Sanjaya. Yang merasa tertantang setelah bertemu dengan Wara Srikandhi dan menyatakan hendak memberi sesumbang jiwa raga terhadap para Pandawa. Akan tetapi niat baik Randen Sanjaya telah dianggap sebagai manusia yang bersifat oportunis.
“Sanjaya, kalau kamu hendak membela para Pandawa, kenapa tidak dari semula, kenapa baru sekarang ketika Kurawa sudah lemah, ketika kamu sudah merasa, tak akan para Kurawa menang atas Pandawa. Apakah itu jiwa dan watak seorang prajurit?. Apakah itu bukan manusia yang bertujuan untuk mencari kemuliaan dan kesenangan belaka?. Apakah sekiranya bila kamu tidak bergabung dengan para Pandawa, Pandawa tidak akan menang? Malah aku kira, permintaan bergabungnya kamu dengan para Pandawa adalah sebagai mata mata. Kenapa aku sebut begitu, karana sejak lahir, kamu adalah warga Panggombakan yang ada dalam wilayah Astina !”.
Tersentuh rasa panas hati Sanjaya yang dituding mencari kemuliaan atas kemenangan Pandawa, maka ia bersumpah akan menandingi kesaktian Adipati Karna. Berangkat ke medan perang Sanjaya dengan hati terluka oleh tuduhan yang tidak beralasan dari Wara Srikandi. Andai saja Sumbadra tidak terlambat dalam mencegah keberangkatan Sajaya yang sudah melangkah ke medan Kuru, maka mungkin kejadiannya akan berbeda. Memang Wara Sumbadra tahu, betapa ayah dari Senjaya, Raden Yamawidura, adalah seorang yang berjasa sangat besar pada Pandawa. Ketika terjadi peristiwa bale Sigala-gala, orang tua Sanjaya telah membaui hal yang mencurigakan ketika pesta itu diadakan oleh usul Sengkuni. Ketika itu Raden Yamawidura menyelamatkan para Pandawa dari api yang membakar pesanggrahan mereka, ketika mereka terbius tidur oleh para Kurawa. Kemudian mereka membakar habis seluruh pesanggrahan.
Yamawidura yang menjelma menjadi garangan putih, telah membuat lubang bawah tanah menembus sapta pratala dan menyelamatkan kemenakannya. Kemenakan yang selalu terlihat benar dimatanya, tetapi karena sesuatu hal ia harus sembunyi sembunyi menyelamatkannya. Hal itulah yang dikatakan Wara Sumbadra kepada Wara Srikandi, yang kemudian telah membuat sesal dihati Srikandi.
Namun rasa bersalah Wara Srikandi ketika mendengar keterangan dari Sumbadra, menjadi tidak berarti, ketika putra Yamawidura itu telah melangkah ke palagan.
Maka didalam peperangan Kurusetra itu, Sanjaya mencari sosok Adipati Karna. Ia hendak memperlihatkan kesungguhannya dalam menyatakan diri ada di pihak Pandawa. Ia berteriak lantang menantang Adipati Karna.
Ketika putra Awangga kedua yaitu Raden Wersasena mengetahui ayahnya ditantang oleh Raden Sanjaya, kemarahan anak muda itu terbangkit. Dihampirinya Sanjaya, ia tidak rela bila ayahnya ditantang oleh sesama anak muda lain.
“Heh Sanjaya! Sejak kapan kamu telah memberontak terhadap negara yang telah menghidupimu, yang telah memberi kumuliaan terhadap orang tuamu dan keluargamu?”.
“Sejak dulu memang aku lebih bersimpati terhadap putra uwa’ Pandu Dewanata. Sekaranglah aku hendak memperlihatkan betapa aku telah merasa salah, membiarkan saudara tuaku para Padawa ada dalam kesengsaraan yang berlarut larut. Sekarang katakan, dimana senapati Kurawa berada?”
“Tak usah kamu mencari dimana senapati itu, hadapi dulu putra Awangga sebagai putra senapati. Langkahi dulu mayatku sebelum kamu bisa berhadapan dengan ayahku!”.
“Baik, akan aku turuti kata katamu. Waspadalah!”
Pertempuran dua anak muda itu berlangsung sengit. Kelihatan mereka mencoba mengerahkan segenap kesaktiannya, untuk menentukan siapa salah satunya yang harus tewas ditangan masing masing.
Semakin lama semakin tegas terlihat, bahwa Sanjaya lebih unggul daripada Warsasena. Ketika sampai di puncak kemampuannya, Sanjaya menyudahi perlawanan Warsasena dengan menewaskannya. Kemarahan Adipati Karna tidak terbendung ketika mendengar anak lelakinya yang tinggal satu telah tewas. Sorak sorai bala tentara telah mengatakan akhir dari pertempuran kedua anak muda itu. Segera Adipati Karna mendekati Sanjaya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pertempuran kembali terjadi. Tetapi kesaktian Sanjaya ternyata tidaklah imbang dihadapan Adipati Karna. Sekarang berganti, terdesak Sanjaya, dan tak lama kemudian keris Kyai Jalak mengakhiri hidup Raden Sanjaya. Ia gugur dalam usahanya membuktikan darma baktinya terhadap saudara saudara sepupunya para Pandawa.
Diceriterakan, telah tiba saat kedua satria pilihan dari kedua pihak akan bertemu dalam pertempuran atas nama darma satria. Ketika telah terdengar aba-aba bahwa Senapati dari Pihak Wirata telah siap siaga, maka segera Adipati Karna meloncat menaiki kereta perangnya. Tetapi oleh suasana hati Prabu Salya yang masih tetap panas, ada saja masalah kecil yang menjadikannya tidak berkenan. Ketika melihat menantunya telah menaiki kereta, dan ia masih ada dibawah, kemarahannya kembali meledak. “Apakah kamu bukan manusia yang mengerti tata bagaimana menghormati orang tua, keparat! Orang tua masih dibawah, kamu sudah duduk nangkring diatas kereta!”.
Namun Adipati Karna mencoba membela diri, serba salah telah mendera hatinya dari waktu ke waktu “Mohon seribu maaf rama Prabu, maksud hamba dari semula, adalah hanya menetapi darma. Disini derajat kusir ada dibawah senapati”.
“Sudah tak terhitung berapa kali rasa sakit yang pernah melukai hatiku karena kelakuanmu. Sewaktu Prabu Kresna menjadi duta di awal perang kemarin, kamu sudah melukai hatiku dalam pasamuan agung. Belum sembuh luka itu, sekarang kamu melakukan hal yang sama, aku kamu jadikan seorang kusir. Kalau tidak sungkan dengan anak Prabu Duryudana, aku tidak sudi melihat mukamu yang membuat aku muak. Dan kamu tidak berwenang untuk memerintah aku!”. Kejengkelan Prabu Salya tidak juga reda.
“Rama, sekali lagi putra paduka mohon maaf, kami persilahkan rama Prabu untuk menaiki kereta. Ketahuilah rama, sudah ada tanda tanda dalam diri putramu, detak jantung didada ini mengisyaratkan kematian putramu sudah menjelang. Kami persilakan rama Prabu untuk mengantarkan kematianku, rama Prabu . . . . ”. Campur aduk perasaan kedua manusia menantu dan mertua itu mengawali langkahnya menuju ke palagan peperangan. Inilah titik dimana perasaan yang tidak sepenuhnya bulat telah melemahkan moral perang senapati Kurawa.
Baru saja kereta bergerak, mendadak melayang bagai awan hitam bergulung diatas palagan. Itulah Naga Raja Guwa Barong, Prabu Hardawalika. Seekor naga yang mengincar kematian Arjuna. Adipati Karna yang melihat keanehan naga mengarah ketempat ia bersiap, segera menghentikan laju geraknya dan menanyakan maksudnya “Heh kamu mahluk yang mencurigakan, siapa kamu dan apa maksudmu membuat keruh suasana peperangan!”.
“Aku penjelmaan raja raksasa dari Guwa Barong. Aku bermaksud hendak membantu kamu menandingi Arjuna”. Naga raksasa itu dengan tidak ragu mengatakan maksudnya.
Tetapi sungguh tidak disangka, jawaban yang diterima adalah bentakan yang menyuruhnya ia pergi. “ Heh naga mrayang, Arjuna adalah saudaraku. Kalaupun aku berselisih sehari tujuh kalipun, tak akan pecah persaudaraanku. Menyingkirlah atau akan aku percepat sempurnanya kematianmu!”.
“Haaah . . perbuatan yang sia sia. Ternyata aku mengatakan hal ini kepada tempat mengadu yang salah. Tetapi hal ini tidak akan menghalangiku untuk membalas kematianku moyangku”. Melayang kembali Hardawalika kearah berlainan untuk mencari keberadaan Arjuna.
Kresna yang tidak pernah terhalangi kewaspadaanya sedikitpun, segera tahu apa yang ada dihadapannya, ketika awan mendung tiba tiba membayang diatasnya.
izroilblackarmy - 13/06/2011 11:59 AM
#156

Baratayuda: Atas Nama Darma Satria 2

By MasPatikrajaDewaku

“Arjuna, diatas pertempuran itu ada seekor naga penjelmaan Prabu Hardawalika. Lepaskan panahmu, sempurnakan kematian Prabu Hardawalika”.
Tidak lagi membuang waktu, segera dipentangnya busur yang telah diisi anak panah. Melesat anak panah menempuh bayangan naga, sirna seketika ujud dari naga Hardawalika yang kembali membuat suasana palagan menjadi terang.
Syahdan, kedua Senapati dari kedua belah pihak telah sama sama bergerak mendekat. Maka suasana palagan peperangan menjadi gaduh, kemudian setelah jarak keduanya menjadi semakin dekat kejadiannya justru menjadi terbalik. Peperangan segera terhenti bagai dikomando. Suasana yang berkembang menjadikannya Arjuna termangu. Prabu Kresna yang melihat suasana hati Arjuna segera dapat menebak apa yang dipikirkannya.
“Arjuna, tatalah rasa hatimu! Hari ini sudah sampai waktumu harus meladeni tanding dengan kakakmu, Adipati Karna”.
“Kanda, bagaimankah hamba dapat melayani tanding yuda dengan kanda Adipati Karna. Suasana beginilah yang selalu mengingatkan akan Ibu Kunti” keluh Arjuna.
Kresna telah tahu apa yang melatar belakangi maksud dari keberpihakan Karna terhadap Kurawa. Hal itu telah ia dengar sendiri tatkala ia bertemu dengannya empat mata, ketika ia telah usai menjadi duta terakhir sebelum pecah perang. Semuanya bagi Kresna sudah tidak ada hal yang meragukan. Namun ia tidak mengatakan apapun tentang itu terhadap Arjuna.
“Adikku, hari ini pejamkan matamu, tutuplah telingamu. Kamu hanya wajib mengingat satu hal, darma seorang satria yang harus mengenyahkan kemurkaan. Walaupun saudaramu itu adalah salah satu saudara tuamu, tetapi ia tetaplah ada pada golongan musuh. Dan ketahuilah, bahwa majunya kakakmu Adipati Karna itu, tidak seorangpun yang ditunggu, kecuali dirimu. Dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diwajibkan untuk mengantarkan kematiannya, kecuali dirimu.
Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu”. Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.
Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.
Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna
“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya”.
Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya
“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.
“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menagis meraung raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan isi hatinya.
“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati”. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.
Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terrasa didalam hatinya. “ Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.
Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.”Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna! Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “
Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna.
Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas. “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.
“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.
Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.
Pada suatu ketika topong kepala Adipati Karna terpental terkena panah Arjuna. Sejenak Karna meminta Prabu Salya untuk berhenti, dan berkata.
“Rama prabu, hampir saja hamba menanggung malu. Topong kepala hamba terpental oleh panah adi Arjuna”.
“Sudah aku katakan, tak hendak aku ikut campur dalam peristiwa ini. Aku hanya kusirmu. Tapi kali ini mari aku benahi rambutmu biar aku gelung”. Setengah hati Prabu Salya mendandani kembali putra menantunya.
Kembali adu ketangkasan olah warastra berlangsung. Kali ini Kunta Wijayandanu ada ditangan Karna. Waspada Prabu Salya dengan melihat senjata kedua setelah Kunta Druwasa yang telah sirna digunakan oleh Adipati Karna ketika berhadapan dengan Gatutkaca. Maka pada saat menantunya itu melepas anak panah, kendali kereta ditarik, kemudian kuda melonjak. Panah yang sejatinya akan tepat mengenai sasaran, hanya mengenai topong kepala Arjuna dan mencabik segenggam rambutnya.
“Aduh Kanda Prabu, topong hamba jatuh terkena panah kanda Adipati. Apakah ini sebagai perlambang kekalahan yang akan menimpa hamba?”. Arjuna menanyakan.
“Bukan ! Itu peristiwa biasa. Biarlah aku tambal rambutmu dengan rambutku. Sekarang aku akan menggelung rambutmu kembali”. Jawab Kresna, yang kemudian menerapkan kembali gelung rambut baru pada kepala Arjuna.
Kembali kedua putra Kunti berdandan dengan cara yang sama. Semakin bingung para yang melihat pertempuran dua satria yang hampir kembar itu. Bahkan para dewata dan segenap bidadari dan durandara, melihatnya dengan terkagum.
Adu kesaktian telah berlangsung lama, segala macam kagunan dan ilmu pengabaran telah dikeluarkan. Saling mengimbangi dan saling memunahkan kawijayan antara kesaktian mereka berdua.
Namun Arjuna masih memegang satu senjata yang belum digunakan. Itulah panah Kyai Pasupati, yang bertajam dengan bentuk bulan sabit.
“Arjuna !”, Kresna memberikan isyarat, “Sekaranglah saatnya!. Hanya sampai disini hidup kakakmu Adipati. Segera lepaskan senjatamu Pasupati untuk mengantarkan kakakmu ke alam kelanggengan!”.
Panah Pasupati telah tersandang pada busur gading Kyai Gandewa, lepas anak panah berdesing bagai tak terlihat. Walau Arjuna melepaskannya sambil memejamkan mata karena tak tega dan rasa bersalah, namun panah dengan bagian tajam yang menyerupai bulan sabit itu mengenai leher Adipati Karna. Tajamnya Kyai Pasupati tiada tara, sampai-sampai, kepala Adipati Karna dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya tak bergeser sedikitpun dari lehernya. Jatuh terduduk jasad Adipati Karna bersandarkan kursi kereta. Geragapan Prabu Salya yang merasa khawatir dan setengah bersalah. Turun dari kereta ia, kemudian menghilang dari pabaratan, kembali ke Bulupitu.
Namun kejadian sejak dari awal pertempuran tadi, tidak terlepas dari sepasang mata yang selalu mengawasi setiap gerakan sekecil apapun yang dilakukan Prabu Salya. Itulah sepasang mata Aswatama!
detemon - 13/06/2011 02:27 PM
#157
Terimakasih dan salut
pepatah mengatakan "tiada yang baru dibumi ini" (nothings new under the Sun) ... mencoba membaca dan memahami kisah-2 diatas, seolah-olah kita melihat peristiwa-peristiwa saat kini dan prediksi-nya kedepan. Kisah-kisah ini sangat berguna dan sangat ditunggu ... semoga bisa dibaca dan dipahami oleh generasi muda, sehingga mereka bisa mawas diri dan bijaksana untuk bisa menjadi "wijaksana", semoga ...
Semoga thread ini bisa tetap update dan terpelihara.
sekali lagi ... Terimakasih dan salut untuk TS ... maju terus dan kami mendoakan agar partisipan dari thread ini selalu sehat walafiat agar bisa terus mengusung thread ini. Salam

-------------------------------------------------------------------------
maaf ... mengganggu yang sedang mengikuti pembabaran kisah-kisah diatas
-------------------------------------------------------------------------
izroilblackarmy - 14/06/2011 10:15 AM
#158

Quote:
Original Posted By detemon
pepatah mengatakan "tiada yang baru dibumi ini" (nothings new under the Sun) ... mencoba membaca dan memahami kisah-2 diatas, seolah-olah kita melihat peristiwa-peristiwa saat kini dan prediksi-nya kedepan. Kisah-kisah ini sangat berguna dan sangat ditunggu ... semoga bisa dibaca dan dipahami oleh generasi muda, sehingga mereka bisa mawas diri dan bijaksana untuk bisa menjadi "wijaksana", semoga ...
Semoga thread ini bisa tetap update dan terpelihara.
sekali lagi ... Terimakasih dan salut untuk TS ... maju terus dan kami mendoakan agar partisipan dari thread ini selalu sehat walafiat agar bisa terus mengusung thread ini. Salam

-------------------------------------------------------------------------
maaf ... mengganggu yang sedang mengikuti pembabaran kisah-kisah diatas
-------------------------------------------------------------------------


Trimksh ats dukunganny gan.. ane harap juga dengn adanya thread ini kita bisa memahami wayang dg cr yg lbih enak.. budaya yang sangat tinggi nilainya, sayang skali kalo sampai dilupakan..
druidism08 - 16/06/2011 12:36 AM
#159

belum tambah ya


makin diikuti makin seru aja thumbup:
izroilblackarmy - 16/06/2011 08:07 AM
#160

Baratayuda : Ketika Rahasia itu Terungkap 1

Oleh : MasPatikrajaDewaku.

Kidung layu layu kembali mengalun di Padang Kuru, awan mendung yang menandai pergantian musim telah menitikkan airnya walau hanya rintik rintik. Meski begitu, rintik hujan itu sudah cukup menandai kesedihan yang melingkupi Para Pandawa. Bagaimanapun Karna-Suryatmaja adalah saudara sekandung, walau ia terlahir bukan atas keinginan sang ibu. Meski demikian, ia adalah sosok yang sudah memberi warna kepada orang orang disekitarnya dan para saudara mudanya. Ia adalah sosok yang tegar dan teguh dalam memegang prisip kesetiaan kepada Negara yang telah memberinya kemuliaan hidup. Tetapi sekaligus ia tokoh yang kontroversial, sebab ia adalah tokoh yang secara tersamar menegakkan prinsip, bahwa keangkaramurkaan harus tumpas oleh laku kebajikan. Ia telah menyetujui bahwa perang Baratayuda harus terjadi, sebab dengan demikian ia telah mempercepat tumpasnya laku angkara yang disandang oleh Prabu Duryudana. Raja yang telah memberinya kemukten.
Dengan terbunuhnya Adipati Karna yang menyisakan dendam pembelaan dari Kyai Jalak yang gagal, maka secara kenyataan adalah, telah terhenti perang campuh para prajurit di arena padang Kurusetra. Dikatakan demikian karena jumlah prajurit Kurawa yang tinggal, boleh diumpamakan telah dapat dihitung dengan jari saja. Ditambah lagi kenyataan, bahwa para Kurawa seratus, yang tinggal hanya duapuluh orang termasuk Prabu Duryudana dan Kartamarma. Maka lengkaplah apa yang disebut sebagai kenyataan, bahwa perang Baratayuda sebenarnya sudah berakhir. Tetapi pengakuan terhadap kekalahan itu, belumlah terucap dari bibir Prabu Duryudana.
Sore ketika Adipati Karna telah gugur, mendung gelap yang disusul oleh rintik hujan, juga seakan mentahbiskan suasana dalam hati Panglima Tertinggi Kurawa yang juga terlimput oleh gelap. Dihadapannya Prabu Salya dengan sabar menunggu ucapan apa yang hendak terlontar dari bibir menantunya. Demikian juga Patih Harya Suman dan Raden Kartamarma, hanya tertunduk lesu. Keduanya berlaku serba canggung menyikapi keadaan dihadapannya. Keraguan akan hasrat menyampaikan usulan dan pemikiran, telah dikalahkan oleh rasa takut akan murka junjungannya.
Hal ini juga berlaku pada perasaan Aswatama yang sesungguhnya hanya berderajat rendah, hanya sebagai tuwa buru. Sebuah derajat rendah yang hanya mengurus segala keperluan para Kurawa dalam menyelenggarakan kegemaran mereka berburu dihutan. Derajat rendah itulah yang diberikan oleh penguasa Astina, ketika mendiang ayahnya diangkat menjadi guru bagi sekalian anak anak Pandawa dan Kurawa. Derajat yang sampai saat inipun masih tetap tersandang, walaupun waktu demi waktu telah berlalu. Apalagi ketika ia harus kehilangan kepercayaan dari Prabu Duryudana, pada saat ia membela pamannya Krepa. Juga tewasnya ayah tercinta yang merupakan gantungan baginya dalam mengabdi kepada Prabu Duryudana, telah lengkap meruntuhkan ketegaran dirinya terhadap penguasa tertinggi Astina. Lengkap sudah perasaan takut yang mencekam jiwanya. Padahal sesuatu yang hendak diajukan sebagai saksi mata atas suatu peristiwa di medan perang, telah mendesak kuat dalam hati untuk disampaikan. Tetapi mulutnya terkunci, tetap tak berani mengatakan sesuatu apapun. Dan iapun hanya diam tertunduk, duduk di tempat paling belakang dari pembesar yang hadir.
Dalam ketidak sabaran menunggu sabda Prabu Duryudana, akhirnya Prabu Salya berbicara. “ Anak Prabu, walaupun paduka anak Prabu tidak mengatakan dengan sepatah kata, namun saya sudah merasa, pastilah perkiraan saya benar. Pasti anak Prabu merasa kehilangan Senapati yang menjadi bebeteng negara, kakak iparmu, anak menantuku, Adipati Karna”.
Tetap bergeming Prabu Duryudana mendengarkan kata kata pemancing dari Prabu Salya, sehingga kembali ia melanjutkan.
“Menurut tata cara, seharusnya aku tetap diam menunggu. Tetapi oleh karena terdorong oleh gemuruh dalam dada, perkenankan aku mertuamu menyampaikan isi hati ini”
“Rama Prabu, itulah yang sebenarnya yang aku nanti. Besar hati anakmu tanpa dapat diumpamakan, karena sebegitu besarnya perhatian yang rama Prabu berikan terhadap putramu”. Akhirnya beberapa patah kata meluncur dari bibir Prabu Duryudana, terbawa oleh rasa penasaran, apakah yang hendak dikatakan oleh ayah mertuanya.
Mencoba tersenyum Prabu Salya. Senyum getir, karena suasana yang dihadapi tidaklah nyaman dirasakan. Tetapi ia tetap berusaha menguatkan hati Prabu Duryudana .“Kalaupun aku tidak memperhatikan anak Prabu, aku ini seakan menjadi manusia yang tidak lengkap panca indraku. Setelah saya timbang timbang, ternyata pancaindriaku masih lengkap. Oleh karena itu, aku akan menyampaikan sesuatu”.
“Waktu sepenuhnya aku serahkan kepada rama Prabu”. Duryudana kali ini mencoba pula tersenyum, walau terasa hambar.
Melihat menantunya serba kikuk, Prabu Salya tertawa. Walaupun tawa itu terdengar sumbang, namun Ia mencoba memecah kebuntuan suasana. “Terhitung selama perang berlangsung, aku baru bisa tertawa kali ini. Begitu anak Prabu mengatakan bahwa waktu telah sepenuhnya anak Prabu berikan, itu artinya anak Prabu masih mempunyai kepercayaan kepadaku”.
Prabu Salya kemudian mengangkat dan mengungkit peristiwa yang berlangsung pada masa lalu, ketika ia sedang ada pada balairung istananya di Mandaraka. Ketika itu ia sedang merembuk bagaimana ia berrencana hendak memberikan negara kepada anak turun, serta bagaimana ia menyampaikan cara dalam menata negara. Ketika itu, tiba tiba ia dikejutkan dengan kedatangan dua orang utusan yang belum dikenalnya. Ketika mereka mendekat dan memberikan surat. Ternyata mereka berdua mengundang untuk mendatangi pahargyan di suatu tempat yang merupakan pesanggrahan yang baru dibangun, pesanggrahan yang begitu indah. Disitu telah menunggu para wanita yang muda muda dan begitu cantik cantik. “Disitulah aku disuguhi makanan yang serba nikmat diiring tetabuhan dan kidung yang menyenangkan hati”. Prabu Salya meneruskan, “Tanpa ragu makanan yang serba nikmat itu aku makan dengan begitu lahapnya . Bawaannya aku belum makan ketika berangkat, maka sekejap aku telah menghabiskan sebagian besar hidangan yang telah tersaji”.
Setelah merenung sejenak, Prabu Salya menyambung, “Begitu aku sudah merasa kenyang, tiba tiba anak Prabu Duryudana datang dari belakang tanpa aku ketahui, dan memeluk aku. Sebagai orang yang mengerti akan tata krama dan balas budi dan terdorong oleh rasa puas karena semua kesenangan yang tersaji telah aku nikmati, maka ketika paduka anak Prabu meminta saya untuk bersedia berdiri di pihak anak Prabu ketika perang Baratayuda berlangsung nanti, seketika aku menyanggupi. Dan ini adalah peristiwa yang mengharuskan aku menyaksikan darah yang tertumpah. Darah yang mengalir dari tubuh tubuh anak kemenakanku sendiri”.
Suasana kembali hening ketika Prabu Salya mengakiri cerita yang berujung sesal. Kejadian awal dari mengapa ia terseret-seret dalam peristiwa besar ini. Maka ketika tak ada lagi yang membuka mulut, Prabu Duryudana memanggil Patih Harya Sangkuni.
“Paman, tinggal berapakah Kurawa sekarang?”
Geragapan Patih Sangkuni menjawab pertanyaan itu, setelah rasa terkejutnya hilang. “Kalau tidak salah hitung, tinggal duapuluh orang saja”.
“Apakah mereka menjadi ketakutan karena jumlah yang tinggal sedikit itu?”
“Sama sekali tidak, bahkan mereka mengharap, kapan gerangan hendak diperintah untuk beradu dada dengan para Pandawa”.
“Bagus! Kenapa begitu?“ Prabu Duryudana mempertegas pertanyaannya.
“Mereka itu mengingat dan merasa, bahwa hidup mereka semua adalah ada dalam perlindungan dari anak Prabu. Kenikmatan yang mereka terima selama ini, adalah berkat pemberian dari anak Prabu. Maka ketika mereka dihadapkan dalam peristiwa seperti ini, tak lain dan tak bukan, bahwa mereka telah rela menjadi tetameng, bahkan bebanten dalam membela kejayaan anak Prabu”. Jawab Sangkuni, yang adalah manusia super licik. Maka kata katanya kemudian lancar nyinyir mengalir menggelincirkan lawan bicaranya.
Page 8 of 27 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)