Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Sejarah]: "Napak Tilas Jejak Perjuangan Pangeran Sambernyawa"##
Total Views: 59387 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 38 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

adi6510 - 19/05/2008 08:42 PM
#1
## [Sejarah]: "Napak Tilas Jejak Perjuangan Pangeran Sambernyawa"##
Di antara para Pahlawan Nasional Indonesia, tercatat nama Pangeran Sambernyawa. Beliau adalah pendiri trah Mangkunegaran. Beliau adalah Mangkunegoro I. Thread ini dibuat untuk napak tilas tempat-tempat yang berkaitan dengan jejak perjuangan Pangeran Sambernyawa. Untuk dapat meneladani perjuangan beliau di masa lalu. Semoga ada nilai hikmah yang dapat kita petik bersama. Buat para sesepuh, senior dan rekan-rekan FS, mohon untuk dapat di-share dan dilengkapi. Terima kasih. Salam. \)
bayujati² - 19/05/2008 09:26 PM
#2

BBM Mahal Peace:
adi6510 - 19/05/2008 09:41 PM
#3
Biografi Pangeran Sambernyawa (bagian 1)
Agar supaya kita dapat mengerti dan memberi nilai yang sewajarnya kepada perjuangan Pangeran Sambernyawa, sebaiknya kita mengerti terlebih dahulu sistem politik VOC ( Verenigde Oost Indische Compagnie ) ialah Perserikatan Dagang Bangsa Belanda yang beroperasi di Indonesia dalam abad ke 17 Masehi, sampai akhir abad ke 18.Bangsa Indonesia menyebut VOC itu dengan nama Kompeni Belanda atau " Kompeni " saja.

Adapun sistem politik Kompeni di Indonesia ( Jawa ) dapat dibagi menjadi 5 tingkatan, yaitu :

Memperkenalkan diri, menghormat dan menghaturkan benda-benda berharga sebagai tanda hormat dan terima kasih kepada yang memegang kekuasaan : Jaman Sunan Amangkurat I di Mataram th. 1645 - 1677 Masehi.
Mencampuri urusan dalam negeri : jaman pemberontakan Trunojoyo th. 1676 - 1681 Masehi.

Mempraktekkan politik " Memecah belah " dan memperoleh monopoli perdagangan : Jaman Sunan Amangkurat II th. 1681 - 1703 Masehi.

Menguasai tanah Jawa sedikit demi sedikit : mulai wafatnya Sunan Amangkurat I sampai rebutan Keraton yang pertama ( th. 1704 - 1708 M ) dan perang rebutan Keraton yang kedua ( th. 1719 - 1723 M )

Menguasai tanah Jawa hampir penuh : Jaman Sunan Pakubuwono II sampai masa pembagian Kerajaan Mataram menjadi dua, th. 1755 dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran th. 1757 M.

Dalam tingkatan yang kelima tsb, maka semua kerajaan Nasional di Jawa sudah runtuh, daerah-daerahnya menjadi milik kompeni Belanda, dan raja- rajanya menjadi raja-raja peminjam atau Vazal-vazal kompeni Belanda belaka.

Dalam tingkatan kelima itu pula bertahtalah seorang raja setengah Vazal di kerajaan Mataram yang beribu kota Kartasura. Raja ini adalah pilihan kompeni Belanda atas dasar sifat-sifat lemahnya sang raja, yaitu Susuhunan Pakubuwono II bertahta pada th. 1727 - 1749 masehi.

Dalam pemerintahan Susuhunan Pakubuwono II ini muncul-lah 2 tokoh nasional yang gagah berani, kuat dan ulet lahir batinnya, mampu menggerakkan seluruh tanah Jawa dan Banten sampai Madura dan membuat pusing kepala kompeni Belanda selama 10 tahun, terus menerus, dua orang tokoh itu ialah :
Pangeran Mangkubumi, Putera Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura, yang akhirnya menjadi Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta.
Pengeran Mangkunegara, Sambernyawa, cucu Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura.
Nasib buruk dimasa kecil Pangeran Sambernyawa

Pangeran Sambernyawa itu nama kecilnya R.M Sahid, putera Pangeran Mangkunegara Kendang. Ibunya bernama R. Ay. Wulan, puteri Pangeran Blitar.

Pangeran Mangkunegara Kendang itu putera Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura yang sulung. Beliau ini saudara sepupu R.Ay. wulan, Beliau dilahirkan dari seorang garwa- selir Amangkurat IV bernama R. Ay. Sumanarsa atau R. Ay Kulo yang disebut R. Ay, Sepuh, berasal dari desa Keblokan, tanah lor ( Wanagiri ). Di dalam lingkungan Keraton Kartasura beliau disebut Pangeran Mangkunagara Kendang, oleh karena beliau dikendangkan yaitu diasingkan atau dibuang ke Kaapstad, Afrika Selatan, sampai wafatnya, kemudian jenazahnya dimakamkan di Astana Imagiri, Yogyakarta.
R.M Sahid lahir pada tanggal, 7 April 1726 di Kartasura. Nama Sahid itu pemberian dari neneknda Amangkurat IV, beberapa waktu sebelum wafat. Maksud pemberian nama Sahid itu ialah bahwa Sri Sunan masih menyaksikan lahirnyacucunda yang terakhir dalam masa hidupnya.

Di masa kecilnya R. Sahid mengalami penderitaan hidup yang sangat berat. Ketika berusia 3 tahun, beliau kehilangan ibunya, karena pulang ke rahmatullah. Tahun berikutnya beliau ditinggalkan oleh ayahnya, karena sang ayah atas perintah Pakubuwuno II di Kartasura disingkirkan dari ibu kota kerajaan Mataram ke Betawi, dan 3 tahun kemudian " Dikendangkan " ke Kaaspstad seumur hidup. R.M Sahid dan beberapa adiknya dibawa ke Keraton sebagai anak piatu, dan mendapat pendidikan, perlakuan dan pengalaman yang akibatnya menyudutkan beliau kepada : prihatin dan sakit hati.

Setelah beliau mencapai usia remaja, diangkat sebagai pegawai keraton dengan pangkat Mantri Gandek Anom dengan sebutan dan nama R.M Suryakusuma dan diberi " Gaduhan " ( hak pakai ) sawah di Ngawen seluasa 50 jung ( =200 bahu ). Dua orang adiknya bernama R.M Ambiya dan R.M Sabar juga diangkat menjadi Mantri Gandek Anom berturut- turut dengan gelar dan nama : R.M Martakusuma dan R.M Wiryakusuma, masing-masing diberi gaduhan tanah seluas 100 bahu.

Mulai berjuang
Dengan meningkatnya usia dan kesadarannya, maka R.M suryakusuma ( Sahid ) merasakan nasibnya yang buruk menjadi berat. Perlakuan tidak adil dan sewenang-wenang yang dikenakan kepada ayahnya ( almarhum Pangeran Mangkunagara Kendang ) menggigit jantung pemuda R.M Suryakusuma. Akhirnya beliau mengambil keputusan : mau berontak, menentang pemerintahan Pakubuwono II, untuk merebut bagian dari kerajaan Mataram bagi diri pribadi.

Beliau mengambil dua orang pembantu utama yang merupakan bahu kiri dan kanannya, ialah :
Wiradiwangsa, pamannya sendiri berasal dari Laroh.
Sutawijaya, anak almarhum Tumenggung Wirasuta yang tidak dapat mengganti kedudukan ayahnya, tetapi menerima banyak uang dan harta benda peninggalan ayahnya.

Pemuda-pemuda Kartasura yang menggabungkan diri pada gerakan R.M Sahid, mula-mula ada 18 orang. Atas nasehat ki Wiradiwangsa, maka R.M Sahid beserta pembantu- pembantunya dan pemuda pemuda pengikutnya berpindah ke Tanah Laroh, yaitu asal leluhur R.M sahid dari pihak neneknya bernama R. Ayu Sumanarsa. Disini beliau mendapat simpati dari pihak rakyat sehingga dalam waktu yang tidak lama beliau mempunyai pengikut banyak sekali. Segera diadakan peraturan secara organisasi perjuangan yang baik dan praktis, demikian : R.M Sahid menjadi pemimpin utama, Ki Wiradiwangsa diangkat menjadi pepatihnya, diberi gelar dan nama Kyai Ngabehi Kudanawarsa dan R.M Sutawijaya menjadi pemimpin pasukan tempur, diberi gelar dan nama Kyai Ngabehi Rangga Panambangan.

Pemuda-pemuda berasal dari Kartasura yang semula 18 orang banyaknya, kemudian bertambah menjadi 24 orang, merupakan barisan inti, disebut " Punggawa ". Namanya diganti semua menjadi nama dengan permulaan : " Jaya " misalnya Jaya Panantang, Jaya Pamenang, Jaya Prawira dsb. " Jaya " artiny = sakti atau menang.

Tiap hari diadakan latihan perang, cara menyerang, menangkis dan membela diri. Tiap malam diadakan bermacam- macam latihan rohani misalnya : Menyepi di tempat-tempat yang gawat dan keramat, bertirakat, bertarak brata, mohon kepada Tuhan agar tercapai cita- citanya : ada pula yang merendam diri di sendang atau di dalam lubuk yang angker. Para pengikut R.M Sahid itu semua juga digembleng jiwa dan semangatnya dengan diberi wejangan-wejangan oleh para kyai antara lain oleh kyai Nuriman, modin di Laroh. Dengan demikian para pengikut R.M Sahid dalam waktu beberapa bulan saja sudah merupakan pasukan tempur yang digembleng jiwa raganya, sedang jumlahnya tidak sedikit. Mereka semua bersemangat tinggi, ingin selekas mungkin diajukan ke medan pertempuran. Dan kesempatan yang dinanti-nantikan mereka itu segera datang juga, ialah dengan adanya : Geger Pacina.

Geger Pacina
Pada bulan juli 1742 M terjadilah peristiwa " geger Pacina " di karaton Kartasura. Dalam waktu satu malam saja istana Kartasura sudah dapat direbut oleh pasukan Cina-Jawa dibawah pimpinan R.M Garendi, cucu Sunan Amangkurat Mas III yang telah diasingkan oleh kompeni Belanda ke pulai Sailan pada tahun 1708 M. R.M Garendi tersebut oleh para pengikutnya diangkat sebagai raja Mataram yang syah, dengan gelar dan nama Sunan Amangkurat IV.

Sunan Pakubuwono melarikan diri, mengungsi ke Ponorogo. Dari sini beliau minta bantuan kompeni di Jakarta. Bala bantuan segera datang dari Madura dibawah pimpinan P. Cakraningrat IV. Dalam bulan Desember 1742 Sunan Kuning, demikian nama julukan Sunan Amangkurat V, beserta semua pengikutnya diusir dari keraton Kartasura, lalu berpindah ke desa Randulawang, daerah Mataram.

Bergabung dengan Sunan Kuning.
RM. Said dengan seluruh pasukannya bergabung dengan Sunan Kuning untuk mempraktekkan kecakapannya berperang bahkan diangkat menjadi panglima tentara Sunan Kuning bahkan diberi gelar Panglima Prang Wadana (April 1743 ).


Sumber : www.karatonsurakarta.Com
adi6510 - 19/05/2008 09:53 PM
#4
Biografi Pangeran Sambernyawa (bagian 2)
Kala itu usia beliau 17 tahun. Pada saat Sunan Kuning dikejar tentara Kompeni dan terpaksa bergeser kedaerah Keduang - Ponorogo - Madiun - Caruban. R.Said mengikuti perjalanan Sunan Kuning lalu berpisah di Caruban kemudian Sunan Kuning bergerak ke Jawa Timur bergabung dengan keturunan Untung Suropati namun tak lama kemudian menyerah pada Kompeni dan berakhirlah geger pacinan tersebut.

Adapun P. Prang Wardana ternyata mempunyai cita-cita lain dari Caruban beliau menuju ke barat menuju daerah Sukowati dimana oleh masyarakat setempat dia diangkat sebagai pimpinan dengan gelar Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro Senopati Ing Ngalogo Sudibianing Prang. Lalu bergerak terus ke Panambangan melalui Jati Rata, Mateseh dan Segawe. Namun disini beliau tidak kuat menghadapi serangan pasukan P. Mangkubumi atas perintah Paku Buwono II yang telah bertahta di Kartasura.

Dalam babat giyanti (Pujangga Yasadipura I), ketika RM. Sahid menobatkan diri sebagai raja Jawa dengan gelar Sunan Adiprakosa Senopati Ngayuda Lelana Jayamisesa Prawira Adiningrat, serta duduk disinggasana dan dihadapan bala tentaranya tersambar petir dan terkena dampar tahtanya hingga remuk beliau jatuh pingsan di atas lantai namun tidak wafat hal ini tidak masuk akal jikalau ada seorang duduk diatas kursi lalu disambar petir seharusnya beliau pun ikut hancur. Dalam peristiwa tersebut Kyai Tumenggung Kuda Nawarsa segera menolongnya dan menunjukkan mengapa ini bisa terjadi, yaitu : kesombongan beliau atas pemberian gelar raja Jawa yang sebetulnya belum selayaknya disandang dengan kenyataan inilah dia berganti gelar Pangeran Arya Mangkunegoro (1746).

Kejadian tersebut disusul dengan peristiwa dimana markas besarnya di Panembangan diserbu dan diduduki Kompeni yang dipimpin Mayor Van Hohendorff serta patih Pringgolaya dari Paku Buwono II bahkan begeser ke Ngepringan - Pideksa - Tirtamaya - Keduang - Girimarta - Nggabayan - Druju - Matesih - hingga sampai didesa padepokan Samakaton bahkan waktu di daerah Ngepringan sang pangeran hampir terbunuh bahkan sempat berpisah dari keluarga dan pasukannya mendaki bukit dan turun gunung bersama Kyai Kuda Nawarsa dan Kyai Surawijaya. Di Pedepokan Samakaton tinggal 2 pertapa kakak beradik namanya Ki Ajar Adisana dan Ki Ajar Adirasa. Beliau berguru pada keduanya dan diberi wejangan yang intinya:
Kyai guru tersebut menunjuk kesalahan Pangeran Mangkubumi atas kesombongannya
Kedua beliau mendapat hukuman dai Ilahi
Beliau harus bertobat secara mendalam
Beliau hendaknya mencontoh Panembahan Senopati Ing Ngelogo Mataram dan pada Pamannya Pangeran Mangkubumi
Beliau diuji menjalankan laku - dan bertapa selama 7 hari-malam tanpa makan dan minum seorang diri di Gunung Mangadeg.

Menurut Babat Giyanti dalam pertapaannya terjadi sesuatu keajaiban yaitu mendapat pusaka secara gaib berupa satu tombak vaandel yang bernama Kyai Buda dan satu kerangka tambur bernama Kyai Slamet yang menunjukkan simbol kejayaan.
Dibagian lain Pujangga Yasadipura I memaknakan fenomena di Samakaton ini dengan mengkiaskan maksud pendidikan moral - mental yaitu :
1 . satu Samakaton
2 . Adisana
3 . Adirasa
4 . Mangadeg
5 . Vaandel(tombak)
6. Kerangka tambur, artinya adalah :
Samakaton artinya kesemua hal dapat terlihat apabila manusia mau datang menyepi di tempat yang indah, yaitu
Adisana artinya tempat yang indah, apabila manusia berani laku menyepi di tempat yang indah itu akan mendapatkan rasa yang indah pula yang akhirnya menimbulkan kemurnian dihati nuraninya

3. Adirasa artinya rasa yang indah.
Dalam hal 1 , 2 , 3 tersebut diatas kenyataannya apabila manusia sanggup berdiri (mangadeg - mendirikan Imannya) kepada Yang Maha Kuasa seperti tegaknya vaandel tersebut.

Tombak atau Vaandel simbol kejayaan apabila ditambahkan dengan rasa suci, sunyi, kosong, kang Hamengku Hana (ada) yang dinisbatkan dengan :
Kerangka tambur di gunung Mangadeg tersebut.

Setelah mendapatkan ilafat baik tersebut beliau menuju ke markas besar pamannya (Pangeran Mangkubumi dari Jekawal - Sragen Utara ) untuk menggabungkan diri dan memohon perlindungan pamannya walaupun dalam perjalanannya menemui banyak kesukaran karena ada pengumuman dari kompeni yang apabila dapat menangkapnya hidup atau mati akan mendapat hadiah pangkat dan uang. Dikisahkan dalam pertemuan dengan pamannya tersebut beliau diterima baik oleh pamannya bahkan diberikan bantuan seperangkat senjata dan prajurit untuk kembali ke markasnya di daerah Gumantar.

Pangeran mangkubumi adalah adik Paku Buwana II yang berlainan ibu yang pada saat itu memenuhi seruan Paku Buwono II untuk membasmi peberontakan RM. Sahid dan Martapura. Untuk sementara Pangeran Mangkubumi berhasil meredam pemberontakan walaupun harus meloloskan RM. Sahid. Hal ini menimbullkan konflik dari dalam dimana PB II yang tadinya menjanjikan tanah Sukowati bagi yang dapat menangkap RM. Sahid akhirnya mengingkari janjinya karena kelicikan Patihnya sendiri yaitu Pringgolaya. Dikarenakan sebab ini Mangkubumi pada 19 Mei 1746 meninggalkan karaton Surakarta dan memberontak yang pada akhirnya mendirikan kerajaan di Yogykarta dan menjadi Sultan Hamengku Buwono I.

Demikian riwayat singkat Rm. Sahid yang kemudian dikenal dengan nama Adipati mangkunegoro I atau Pangeran Samber Nyawa beliau memegang tampuk pimpinan Kadipaten Mangkunegaran mulai tahun 1757 sampai wafatnya 1795 jenasahnya dimakamkan di Mangadeg dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran ini diperingati dengan sangkalan : MULAT SARIRA NGRASA WANI = berarti tahun Jawa 1682 , bersamaan dengan tahun Masehi 1757. Nama julukan Pangeran Adipati Mangkunegara I ialah Sambernyawa. Nama yang terakhir ini adalah nama Pedang pusaka Mangkunagaran, yang sangat ampuh dan tajam, tepat sekali untuk menyambar nyawa musuh.


Sumber : www.Karatonsurakarta.Com
adi6510 - 19/05/2008 10:18 PM
#5
Selogiri
Selogiri, yang artinya tanah pegunungan, pernah digunakan oleh Pangeran Samber Nyowo sebagai basis perjuangannya dalam melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh kompeni. Di tempat inilah tercetus siasat perang pertama kali, yaitu Perang Gerilya, yang didapat berdasarkan petunjuk alam oleh Pangeran Samber Nyowo ketika melihat dua ekor kerbau jantan berkelahi. Berbagai kisah menawanpun akhirnya tersebar dari tempat bernama Selogiri. Di tempat sekitar Selogiri ini pula Pangeran Samber Nyowo menempa batinnya. Beberapa tempat digunakan untuk tirakat memohon petunjuk Allah SWT. Dan hasilnya, beliau bisa menjadi Pendiri Pura Mangkunegara.
ariherdi - 19/05/2008 10:20 PM
#6

@mas adi

ceritanya mantab mas.
rose:
adi6510 - 19/05/2008 10:32 PM
#7

@ mas ari. Terima kasih atas apresiasinya di thread ini.
adi6510 - 19/05/2008 10:49 PM
#8
Sendang Siwani
Sendang Siwani, yang terletak di Ngelo Jendi, Mantenan, Wonogiri ini merupakan peninggalan Gusti Pangeran Aryo Mangkunegoro I atau Pangeran Samber Nyowo, sewaktu bergerilya menentang Belanda. Siwani yang berarti berani.
adi6510 - 19/05/2008 11:13 PM
#9
Juru Kunci Sendang Siwani
Rabu, 17 Juli 2002. Sala. Supardi, Kesetiaan Seorang Juru Kunci. Eyang Pardi - SM/P27

RAMA Pardi atau Eyang Pardi adalah panggilan akrab Demang Supardi (70). Lelaki itu setia menjadi juru kunci Sendang Siwani di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.
Karena itu, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegara IX berkenan memberikan pangkat demang kepada abdi itu.

Jangan meremehkan juru kunci tersebut. Dia banyak berkenalan dengan para pemimpin dan para tokoh masyarakat yang gemar menjalani laku spiritual.
Pernah suatu kali, dia didatangi tim teknis dari DPU Wonogiri yang melakukan pengukuran dalam rencana membangun rumah peneduh lokasi pembakaran dupa.
Tim itu datang setelah sehari sebelumnya Supardi mengadu perlunya dibangun fasilitas rumah dupa. Demang itu menyampaikan langsung kepada Ketua DPRD Wonogiri Heru Sakirno saat berkunjung ke Sendang Siwani.

''Saya tak mengira, usulan saya secepat itu akan ditanggapi.'' Lelaki itu pernah diingatkan, agar kelak bila mempunyai usulan sebaiknya jangan disampaikan model potong kompas seperti itu tapi secara prosedural.

Sejauhmana dia memahami aura gaib di Sendang Siwani, sehingga tempat itu banyak dikunjungi para peziarah dengan aneka kepentingan? Berikut petikan wawancara dengan Demang Supardi.

Dapat Ilham.
Mengapa banyak orang tirakatan ke sini?
Mereka berkeyakinan terhadap tempat ini sebagai petilasan pertapaan Pangeran Sambernyawa sebelum menjadi KGPAA Mangkunegara I.

Dahulu ketika bertapa di Siwani, Pangeran Sambernyawa mendapatkan ilham seakan melihat ada kerbau bule dan kerbau wulung (hitam) berkelahi.
Kerbau wulung selalu kalah. Tapi eloknya, ketika gupak (beredam) di sumber air Siwani kerbau hitam seakan mendapatkan daya kekuatan baru dan akhirnya mampu mengalahkan kerbau bule.

Ilham itu menjadi wangsit tentang gambaran jalannya perang gerilya Sambernyawa yang saat itu selalu terkalahkan dalam setiap bertempur melawan Belanda.
Karena itu, Sambernyawa mandi air Sendang Siwani dengan harapan akan mendapatkan tuah untuk memenangi perang.

Hubungannya dengan para peziarah sekarang?
Ada keyakinan, barang siapa tirakat di Siwani sebagaimana Sambernyawa, niscaya akan mendapatkan dorongan aura dari daya gaib di sini.
Bukan daya gaib untuk memenangi perang, melainkan daya gaib yang memudahkan doa permohonan yang dipanjatkan terkabul. Saya suka bertanya kepada yang datang ke sini, jawabannya selalu begitu.

Mereka percaya, doa permohonan kepada Tuhan yang dipanjatkan di Siwani akan memudahkan apa yang diminta terkabul.( Bambang Pur -51j)


sumber : www.Suaramerdeka.Com
adi6510 - 19/05/2008 11:56 PM
#10
Siapa aja yang pernah napak tilas jejak situs Pangeran Samber Nyowo ?
SOEHARTO sebagai orang yang sangat dekat dengan dunia yang berbau kejawen memang diakui banyak kalangan. Bahkan lelaki ini seakan menjadi sosok yang benar-benar tak bisa dipisahkan dengan dunia kejawen. Soeharto memang seorang Jawa asli yang mempunyai kelebihan dalam bidang itu pula.

Kedekatan Soeharto dengan dunia kejawen dibukti* kan dengan adanya sejumlah tempat bersejarah khususnya di Wonogiri. Situs-situs peninggalan perjuangan Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa atau Sri Paduka Mangkunegara I, yang sering menjadi tempat mengolah ilmu kejawen serta kanuragan mantan penguasa Orde Baru itu.

Kenapa memilih sejarah perjuangan Mangkunegara I? Tak lain dan tak bukan karena nasihat serta petunjuk dari guru spiritualnya, yang lebih di** kenal dengan nama Daryatmo yang makamnya terletak di kompleks makam Mangkunegara VI di Nusukan Solo.

Salah satu tempat idola Soeharto dalam menggembleng olah kanuragannya adalah makam Patih Kiai Tumenggung Kudanawarsa. Makam itu sendiri terletak di makam Astana Mantenan Jaten Selogiri, Wonogiri, berjarak sekitar 20 kilometer dari kota Solo.
Sejumlah sumber membenarkan bahwa mantan Presiden kedua itu, sering melakukan tapa di makam patih Kudanawarsa. Bahkan ketika masih menjadi prajurit kala itu, Soeharto pernah melakukan tapa pendhem selama seminggu ditunggui teman-teman seperjuangannya.

"Banyak cerita tentang lelaku yang dilakukan Pak Harto. Karena memang itu atas anjuran guru spiritualnya, yakni Ndara Daryatmo. Tidak hanya di makam Patih Kudanawarsa saja, namun ada tempat lain yang sering menjadi tempatnya bertapa, yakni di sendang Siwani, makam Kiai Kasan Nuriman Karang Tengah, makam Keblokan Dewi Kilisuci dll yang kesemuanya terletak di Wonogiri," jelas spiritualis keraton Kasunanan Surakarta KRHT Kresna Handayaningrat.

Samber Nyawa. Tempat-tempat bersejarah itu lanjut dia, merupakan situs- situs bekas peninggalan perjuangan Pangeran Samber Nyawa. Ketika Soeharto menjabat sebagai Presiden RI di tahun 1972, tempat-tempat itu secara serempak langsung dibangun secara permanen.

"Tentang siapa sosok nDara Daryatmo. Dulu tempat dia ngenger ketika dia di Wonogiri. Sejarah mencatat, dia menjabat sebagai Ulu-ulu pengairan di kabupaten itu. Semula memang Soeharto menumpang di sana. Namun ketika dia sudah menjadi presiden, maka gurunya itu diboyong ke Solo hingga meninggal," tutur Kresna.

Atas petunjuk gurunya pula, perjuangan MN I dijadikan semangat dan inspirasi bagi Soeharto dalam menempuh cita- citanya hingga menjadi presiden. Maka tidak heran, ketika dia juga telah mempersiapkan makamnya di astana Giri Bangun, yang posisinya di sebelah barat gunung Mangadeg, tempat Mangkunegara I dimakamkan.


Sumber : website Radio Suara Salatiga
meerkengkong - 20/05/2008 12:47 AM
#11

keren thrednya Mbah Adi6510 beer:
Chin Fung - 20/05/2008 08:30 PM
#12

coba di beri gambar pasti lbh menarik lagi
lovemelbourne - 20/05/2008 09:42 PM
#13

Salam ...rose:

Terima kasih atas penverahan yang sangat menarik

Salam damai selalushakehand
adi6510 - 20/05/2008 09:56 PM
#14

@ mas meerkengkong. @ mas chin fung. @ mas lovemelbourne. Terima kasih atas apresiasinya.
ariherdi - 20/05/2008 10:31 PM
#15

## [Sejarah]: "Napak Tilas Jejak Perjuangan Pangeran Sambernyawa"##

Nyumbang foto satu satunya yang aku punya: EyangPardi, jurukunci sendang siwani
gunapriscom - 20/05/2008 10:41 PM
#16

tks mas adi atas infonya...
adi6510 - 20/05/2008 11:05 PM
#17

@ mas gunapriscom. Terima kasih atas apresiasinya. @ mas ariherdi. Matur nuwun sanget atas sumbangan foto nya. \)
weroq - 21/05/2008 03:49 AM
#18

@ mas adi

apa salah satu situs itu ada di daerah kayangan??
cHidori_07 - 21/05/2008 04:18 AM
#19

ikut nyimak ya mas linux2: btw karatonsurakarta.com kok mirip sama situs jawapalace.org ya?
pangeranjati - 21/05/2008 09:28 AM
#20

terima kasih mbah....saya paling suka sejarah, nunggu thread lanjutan nih.\)\)\)
Page 1 of 38 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Sejarah]: "Napak Tilas Jejak Perjuangan Pangeran Sambernyawa"##