Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > ۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
Total Views: 22689 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 6 of 54 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›

Padaringan - 01/06/2011 09:13 PM
#101

Quote:
Original Posted By AlamGena
oke lah kalau bijitu...esok pas banar pang libur tu, kalo ae situ ada koleksi model
tapi selajur becari landscape....jadi dpt sekalian bbrp frame nya tu

kelok baintan pas bnr nah esok

kyp subuh tulakan D
AlamGena - 01/06/2011 09:14 PM
#102

Quote:
Original Posted By Padaringan
kelok baintan pas bnr nah esok

kyp subuh tulakan D

bisa jua...aku sih terserah aja nah
Quote:
Original Posted By se4_fr0g
Siap.... Pabila hunting landscape lg kt nah...??? Ulun umpat lagi.... ۩ [Official Thread] RKS Photography ۩

tuh ke lokbaintan jar ky apa?
Padaringan - 01/06/2011 09:19 PM
#103

Quote:
Original Posted By AlamGena
bisa jua...aku sih terserah aja nah

tuh ke lokbaintan jar ky apa?

kena mun jadi bisa ja behabar, asal mun ditelp diangkat

kena pas km guring kd diangkat ngacir2
hymunk - 01/06/2011 10:03 PM
#104
lawas kada maandak disini nah..
Spoiler for basapidaan
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩


Spoiler for basapidaan
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩


Spoiler for pangantennya kauyuhan
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
augustav - 02/06/2011 06:50 AM
#105

Quote:
Original Posted By doubleblitzz
ktuju foto yg ini mang.... dimensinya dapat banget...
apalagi klo langitnya diwarnai yg lebih natural.... (cuman selera pribadi)

gud job... paman!!! kdd matinya sidin neh......

pbila lagi memoto dede... o


makasih paman....itulah salah satu ane kada bisa lagi edit2 warna tu..kaina balajarlah????

hmmmmm.....kalo dede nya sih minta potret terus malu:

Spoiler for ?
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
AlamGena - 02/06/2011 08:39 AM
#106

Rule of Third
Komposisi Layout Fotografi

Dalam dunia fotografi, Rule of third atau aturan 1/3 bagian adalah petunjuk bagaimana caranya memposisikan obyek di 1/3 bagian dalam foto agar lebih enak dilihat. Tehnik ini juga termasuk dalam mengkomposisikan obyek kedalam satu frame, dengan posisi yang tepat mengikuti acuan aturan sepertiga itu.Aturan ini mungkin lebih tepat disebut sebagai panduan, sebab tidak selamanya penempatan obyek di 1/3 bagian foto itu nikmat untuk dilihat bergantung dari obyek dan hasil foto yang dihasilkan oleh fotografer.

Tips itu adalah ‘The Rule of Thirds’, yang mempunyai arti secara sederhana : bagaimana kita meletakkan sebuah obyek utama didalam frame foto yang kita ambil.

Sebenarnya ini bukan aturan baku ataupun utama didalam dunia fotografi, tapi ini hanyalah sekedar sebuah panduan untuk mendapatkan foto yang ‘lebih pas’ komposisinya didalam frame foto yang ada.

Rule of thirds ini disederhanakan menjadi “Apabila memungkinkan, letakkan obyek utama foto Anda pada sepertiga jarak dari tepi ‘frame foto’ Anda. Terserah apakah itu 1/3 dari frame sebelah kiri, atas, bawah, kanan maupun kombinasi diantara keduanya (1/3 dari pojok kanan atas)”.

Contoh foto Rule of Third :

Spoiler for
Foto yg tidak menggunakan Rule of Third
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩

Foto yg menggunakan Rule of Third
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
yg mana yg lebih menarik diantara dua foto tersebut?


Spoiler for contoh foto lain Rule of Third
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
AlamGena - 02/06/2011 08:45 AM
#107

Tips Foto Candid

Salah satu kelebihan dari seni photography jenis ini adalah human interest dan mood yang berhasil didapatkan secara candid (diam-diam), semakin natural, spontan dan ekspresif foto tersebut, maka semakin tinggi nilai jualnya. Tapi alangkah baiknya Anda melakukan pendekatan secara personal terlebih dahulu sebagai adat sopan santun kita sebelum (sesudah) mengambil foto mereka secara candid jika memungkinkan.

Fotographer candid rata-rata menggunakan lensa zoom tele (jauh) untuk mendapatkan hasil karya mereka. Dengan menggunakan lensa diatas ukuran focal length 70mm misalnya, maka akan diperoleh respon dari obyek lebih natural jika dibandingkan dengan lensa wide (28mm misal). Karena sang fotographer dan obyek yang akan diabadikan terdapat jarak aman serta berada diluar zona privasi dari si obyek.

Hampir sebagian besar paparazzi menggunakan lensa tele super panjang untuk bisa menangkap sasaran obyek yang jauh disana tanpa sepengetahuan mereka secara candid juga. Tapi tolong dibedakan antara foto candid yang diambil oleh paparazi dengan foto candid yang dilakukan secara spontan dan secara terbuka (sepengetahuan obyek).

Bawa selalu kamera Anda dan dalam kondisi siap sedia. Itulah kunci utama untuk bisa mendapatkan foto candid dan momen-momen yang tidak terduga secara spontan. Kamera poket ataupun kamera handphone disini mempunyai nilai lebih jika dibandingkan dengan kamera jenis SLR yang rata-rata berukuran jumbo. Karena kepraktisan didalam hal akomodasi tersebut, maka momen yang terjadi sekilas langsung bisa diabadikan secara instan dengan kamera jenis point and shoot itu.

Matikan flash dari kamera Anda agar tidak mengganggu privasi dari orang tersebut. Pergunakan cahaya alami (dari matahari / sinar lampu yang ada) untuk mendapatkan suasana sesungguhnya dari foto candid Anda.

Pergunakanlah serial-shooting yang ada di kamera Anda jika memungkinkan untuk mendapatkan ekspresi wajah yang tidak terduga dari rentetan sebuah kejadian. Kamera SLR rata-rata mempunyai continous-shoot sebanyak 3 frame keatas dalam satu detiknya. Coba check apakah dikamera Anda mempunyai fasilitas ini, dan pergunakanlah fitur ini untuk hasil yang maksimal.

Carilah posisi yang strategis termasuk posisi latar belakang yang pas untuk foto yang akan Anda ambil secara candid. Hal ini guna mendukung cerita dari foto tersebut. Jika memungkinkan, ikut sertakan pula suasana disekitarnya dalam frame foto Anda.

Jangan lupa untuk mengabadikan orang berikut dengan aktifitas mereka. Foto tukang sapu jalanan akan lebih bercerita ketika dia sedang menyapu trotoar di pinggir jalan, begitu juga halnya foto seorang pengemis yang meminta-minta di perempatan jalan pun akan bercerita lebih jika kita ikut sertakan hiruk pikuk kemacetan lalu lintas disekitarnya. Hal ini akan menambah nilai dari cerita foto tersebut.

Belajarlah untuk memotret pada posisi-posisi sulit dan tidak semestinya, misalnya memotret setinggi pinggang Anda atau memotret melalui balik saku jaket secara cepat dan akurat. Nilai lebih dari foto candid adalah ekspresi dari obyek yang kita abadikan. Semakin natural dan nyaman ekspresi mereka ketika kita ambil gambarnya, maka semakin bagus nilai foto tersebut. Foto yang diambil dari sudut pandang yang tidak wajar ini juga mempunyai nilai tambah lainnya. Berlatihlah terus dengan posisi-posisi sukar lainnya.

Pergunakan frame alami yang ada disekitar kejadian. Bahu orang yang sedang berjalan, cabang ranting pohon, celah dari kursi atau meja. Sehingga seolah-olah kita tidak sedang mengambil foto orang yang kita tuju. Hal ini tentu saja akan lebih mudah jika Anda menggunakan lensa tele yang jauh.
AlamGena - 02/06/2011 09:01 AM
#108

14 Tips Memotret Landscape



[*]Maksimalkan Depth of Field (DoF)
Sebuah pendekatan konsep normal dari sebuah landscape photography adalah “tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon”. Konsep dasar teori “oldies” ini menyatakan bahwa sebuah foto landscape selayaknya sebanyak mungkin semua bagian dari foto adalah focus (tajam). Untuk mendapatkan ketajaman lebar atau dgn kata lain bidang depth of focus (DOF) yang selebar2nya, bisa menggunakan apperture (bukaan diafragma) yang sekecil mungkin (f number besar), misalnya f14, f16, f18, f22, f32, dst.
Tentu saja dgn semakin kecilnya apperture, berarti semakin lamanya exposure.
Karena keterbatasan lensa (yang tidak mampu mencapai f32 dan/atau f64) atau posisi spot di mana kita berdiri tidak mendukung, sebuah pendekatan lain bisa kita gunakan, yaitu teori hyper-focal, untuk mendapatkan bidang fokus yang “optimal” sesuai dgn scene yang kita hadapi. Inti dari jarak hyper-focal adalah meletakan titik focus pada posisi yang tepat untuk mendapatkan bidang focus yg seluas-luasnya yg dimungkinkan sehingga akan tajam dari FG hingga ke BG.
Dengan DoF lebar, akibat penggunaan f/20 dan pengaplikasian hyper-focal distance untuk menentukan focus.


[*]Gunakan tripod dan cable release
Dari #1 diatas, akibat dari semakin lebarnya DOF yang berakibat semakin lamanya exposure, dibutuhkan tripod untuk long exposure untuk menjamin agar foto yang dihasilkan tajam. Cable release juga akan sangat membantu. Jika kamera memiliki fasilitas untuk mirror-lock up, maka fasilitas itu bisa juga digunakan untuk menghindari micro-shake akibat dari hentakkan mirror saat awal.


[*]Carilah Focal point atau titik focus
Titik focus disini bukanlah titik dimana focus dari kamera diletakkan, tapi lebih merupakan titik dimana mata akan pertama kali tertuju (eye-contact) saat melihat foto.
Hampir semua foto yang “baik” mempunyai focal point, atau titik focus atau lebih sering secara salah kaprah disebut POI (Point of Interest). Sebetulnya justru sebuah landscape photography membutuhkan sebuah focal point untuk menarik mata berhenti sesaat sebelum mata mulai mengexplore detail keseluruhan foto. Focal point tidak mesti harus menjadi POI dari sebuah foto.
Sebuah foto yang tanpa focal point, akan membuat mata “wandering” tanpa sempat berhenti, yang mengakibatkan kehilangan ketertarikan pada sebah foto landscape. Sering foto seperti itu disebut datar (bland) saja.
Focal point bisa berupa berupa bangunan (yg kecil atau unik diantara dataran kosong), pohon (yg berdiri sendiri), batu (atau sekumpulan batu), orang atau binatang, atau siluet bentuk yg kontrast dgn BG, dst.
Peletakan dimana focal point juga kadang sangat berpengaruh, disini aturan “oldies” Rule of Third bermain.


[*]Carilah Foreground (FG)
Foreground bisa menjadi focal point bahkan menjadi POI (Point of Interest) dalam foto landscape anda.
Oleh sebab itu carilah sebuah FG yang kuat. Kadang sebuah FG yang baik menentukan “sukses” tidaknya sebuah foto landscape, terlepas dari bagaimanapun dasyatnya langit saat itu.
Sebuah object atau pattern di FG bisa membuat “sense of scale” dr foto landscape kita.


[*]Pilih langit atau daratan
Langit yang berawan bergelora, apalagi pada saat sunset atau sunrise, akan membuat foto kita menarik, tapi kita tetap harus memilih apakah kita akan membuat foto kita sebagian besar terdiri dari langit dgn meletakan horizon sedikit dibawah, atau sebagian besar daratan dgn meletakkan horizon sedikit dibagian atas.
Seberapa bagus pun daratan dan langit yang kita temui/hadapi saat memotret, membagi 2 sama bagian antara langit yang dramatis dan daratan/FG yang menarik akan membuat foto landscape menjadi tidak focus, krn kedua bagian tersebut sama bagusnya.
Komposisi dgn menggunakan prisip “oldies” Rule of Third akan sangat membantu. Letakkan garis horizon, di 1/3 bagian atas kalau kita ingin menonjolkan (emphasize) FG nya, atau letakkan horizon di 1/3 bagian bawah, kalau kita ingin menonjolkan langitnya.
Tentu saja hukum “Rule of Third” bisa dilanggar, andai pelanggaran itu justru memperkuat focal point dan bukan sebaliknya. Juga tidak selalu dead center adalah jelek.


[*]Carilah Garis/Lines/Pattern
Sebuah garis atau pattern bisa membuat/menjadi focal yang akan menggiring mata untuk lebih jauh mengexplore foto landscape anda. Kadang leading lines atau pattern tersebut bahkan bisa menjadi POI dari foto tersebut.
Garis-garis, juga bisa memberikan sense of scale atau image depth (kedalaman ruang).
Garis atau pattern bisa berupa apa saja, deretan pohon, bayangan, garis jalan,tangga, dst.


[*]Capture moment & movement
Sebuah foto Landcsape tidak berarti kita hanya menangkap (capture) langit, bumi atau gunung, tapi semua elemen alam, baik itu diam atau bergerak seperti air terjun, aliran sungai, pohon2 yang bergerak, pergerakan awan, dst, dapat menjadikan sebuah foto landscape yang menarik.
Sebuah foto landscape tidak harus mengambarkan sebuah pemandangan luas, seluas luasnya, tapi sebuah isolasi detail, baik object yang statis maupun yg secara dinamis bergerak, bisa menjadi sebuah subject dari sebuah foto landscape. Untuk itu lihat Rule #13.


[*]Bekerja sama dengan alam atau cuaca
Sebuah scene dapat dengan cepat sekali berubah. Oleh sebab itu menentukan kapan saat terbaik untuk memotret adalah sangat penting. Kadang kesempatan mendapat scene terbaik justru bukan pada saat cuaca cerah langit biru, tapi justru pada saat akan hujan atau badai atau setelah hujan atau badai, dimana langit dan awan akan sangat dramatis.
Selain kesabaran dalam “menunggu” moment, kesiapan dalam setting peralatan dan kejelian dalam mencari object dan Focal Point seperti awan, ROL (ray of light), pelangi, kabut, dll.

AlamGena - 02/06/2011 09:04 AM
#109

[*]Golden Hours & Blue hours
Pada normal colour landscape photography, saat terbaik biasanya adalah saat sekitar (sebelum) matahari terbenam (sunset) atau setelah matahari terbit (sunrise).
Golden hours adalah saat, biasanya 1-2 jam sebelum matahari terbenam (sunset) hingga 30 menit sebelum matahari terbenam, dan 1-3 jam sejak matahari terbit, dimana “golden light” atau sinar matahari akan membuat warna keemasaan pada object.
Selain itu, saat golden hours juga akan membuat bayangan pada oject, baik itu pohon, atau orang menjadi panjang dan bisa menjadi leading lines spt yg disebutkan pada #6 diatas.
Jika kita memotret pada saat golden hours sudah lewat, atau pada saat matahari sudah terik, biasanya hasilnya akan flat atau harsh lightingnya krn matahari sudah jauh diatas.
Ini berlawananan dgn IR landscape photography yg tidak mengenal golden hours, dimana saat terbaik justru pada saat tengah teriknya matahari.
Blue hours adalah beberapa saat, biasanya hingga 20-30 menit setelah matahari terbenam (sunset), dimana matahari sudah tebenam, tapi langit belum gelap hitam pekat. Pada saat ini langit akan berwarna biru.
Jadi adalah kurang tepat, bahwa pada saat matahari sudah terbenam dan langit mulai gelap (oleh mata kita), kita langsung mengemas/beres2 gear/tripod kita. Justru pada saat ini kita bisa mendapatkan sebuah scene yang bagus dimana langit akan berwarna biru dan tidak hitam pekat. Biasanya dgn long exposure, awan pun (walau kalau kita lihat dgn mata telanjang sdh tidak tampak) masih akan terlihat jelas dan memberikan texture pada langit biru.


[*]Cek Horizon
Walaupun sekarang dgn mudah kesalahan ini dapat di koreksi dgn image editor tapi saya masih berkeyakinan “get it right the first time” akan lebih optimal.
Ada 2 hal terakhir saat sebelum kita menekan shutter:
- Apakah horizonya sudah lurus, ada beberapa cara untuk bisa mendapatkan horion lurus saat eksekusi di lapangan, lihat Rule #12
- Apakah horizon sdh di komposisikan dgn baik, lihat #5 untuk pengaplikasian Rule of third. Peraturan/rule kadang dibuat untuk dilangar, tapi jika scene yang akan kita buat tidak cukup kuat (strong) elementnya, biasanya Rule of Third akan sangat membantu membuat komposisi menjadi lebih baik. Memang dgn croping nantinya di software pengolah gambar, kita bisa memperbaikinya. Tapi kalau tidak dgn terpaksa, lebih baik pada saat eksekusi kita sudah menempatkan horizon pada posisi yang sebaiknya.


[*]Ubah sudut pandang/angle/view anda
Kadang kita terpaku dgn sudut pandang atau angle yang umum kita lakukan, atau mungkin kalau kita mengunjungi suatu tempat yang sering kita lihat fotonya baik itu dimajalah atau website seperti di FN ini, kita menjadi “latah” dan memotret dgn angle yang sama.
Banyak cara untuk mendapatkan fresh point of view. Tidak selamanya “eye-level angle” (posisi normal saat kita berdiri) dalam memotret itu yang terbaik. Coba dgn high-angle (kamera diangkat diatas kepala), waist-level angle, low level, dst, coba berbagai format horizontal dan/atau vertikal.
Atau mencoba mencari spot atau titik berdiri yang berbeda atau tempat yang berbeda, misalnya dari atas pohon (ada memang fotografer senior yang saya kenal yang senang memanjat pohon untuk utk mendapatkan view yg berbeda, dan hasilnya memang berbeda dan unik), atau mencoba berdiri lebih ketepi jurang, atau bahkan tiduran ditanah… tentu saja dgn lebih mengutamakan keselamatan anda sendiri sbg faktor yang lebih utama dan menghitung resiko yang mungkin didapatkan.
Satu hal yang harus dipahami, mencoba dengan sudut pandang yang berbeda tidak selalu otomatis gambar kita akan lebih bagus atau lebih baik, tapi begitu sekali anda mendapatkan yang lebih bagus, dijamin pasti berbeda dgn yang lain.
Dengan sering ber-experimen dgn berbagai angle, lama-kelamaan insting anda akan terlatih saat berada di lapangan untuk mendapatkan tidak hanya angle yang bagus, tapi juga berbeda.
Jangan memotret berulang2 pada satu titik/spot. Cobalah untuk bergeser beberapa meter kesamping atau kedepan, atau bahkan berjalan jauh.
Juga sesekali coba untuk menoleh kebelakang untuk melihat, kadang bisa mendapatkan angle yang menarik dan berbeda.
3-5 exposure/jepretan pada satu titik dan “move on, change spot, change orientation (landscape portrait), look back, change lenses”.
Terutama jika anda sering travelling, baik itu ke tempat yang sudah umum atau ke tempat yang jarang di kunjungi fotografer. Ada kalanya kita ada pada suatu spot dimana foto dari lokasi itu sudah merupakan lokasi “sejuta umat” dimana ratusan bahkan ribuan fotografer pernah memotret di spot yg sama dan menghasilkan foto yang mirip atau beda-beda tipis.
Gunakan foto-foto yang sering anda lihat tersebut sebagai referensi, pelajari dan aplikasikan tekniknya dan coba menemukan sesuatu yang berbeda. Make a difference.
Kalau tidak keberatan tiduran sejenak di aspal.


[*]Pergunakan peralatan bantu
Penggunaan beberapa peralatan bantu dibawah akan sangat membantu untuk mendapatkan foto landscape yang lebih baik.
- CPL filter
- ND filter
- Graduated ND filter, lihat disitu ttg Graduated Natural Density (Grad ND): What, How, & When
- Graduated color filter
- Bubble level jika tdk ada grid pada view finder atau gunakan focusing screen dgn grid, sangat membantu untuk mencapai levelnya horizon
Memang dgn semakin mudahnya penggunaan software dan semakin canggihnya feature software pengolah gambar untuk memperbaiki/koreksi kesalahan pada saat eksekusi yang bisa mengatasi kesalahan exposure atau kemiringan horizon, penggunaan alat2 tersebut diatas kadang terasa kurang diperlukan, tapi umumnya “get it right the first time” akan bisa menghasilkan foto yang lebih baik dan natural, dibandingkan kalau foto itu harus dipermak habis-habisan nanti hanya agar bisa tampak “baik”.
Jika sudah melakukan segalanya dgn baik dan benar, akan lebih terbuka luas lagi kemungkinannya untuk mengolahnya dgn lebih sempurna nantinya.


[*]Lensa yang dipergunakan
Kadang sering ada asumsi bahwa sebuah foto landscape itu harus menggunakan lensa yang selebar mungkin. Tapi dalam membuat sebuah foto landscape, semua lensa dapat dipergunakan, dari lensa super wide (14mm, 16mm, dst), wide (20mm - 35m), medium, (50mm - 85mm), hingga tele/super tele (100mm - 600mm). Semua range lensa bisa dan dapat dipergunakan.
Semua itu tergantung atas kebutuhan dan scene yang kita hadapi. Lensa wide/super wide kadang dibutuhkan jika kita ingin merangkum sebuah scene seluas-luasnya dgn memasukan object yang banyak atau yang berjauhan atau ingin mendapatkan perspektif yg unik.Tapi kadang sebuah tele bisa digunakan untuk mengisolasi scene sehingga lebih un-cluttered, simple dan focus.
Jika tiba pada suatu lokasi/spot, usahakan mencoba dgn semua lensa yang anda bawa. Jangan terpaku pada satu lensa dan memotret berulang-ulang.
Kadang diperlukan kejelian, untuk melihat dan mencari suatu bentuk unik atau pattern dari luasnya sebuah scene landscape, sehingga kita dapat meng-isolasi dgn menggunakan lensa yang tepat. Hanya dengan sering memotret dan menghadapi berbagai scene di berbagai kondisi yang dapat mengasah insting anda, baik itu object apa yang harus dicari ataupun lensa apa yg harus dipergunakan.
Penggunaan lensa yg tidak standard seperti fish-eye (baik itu yang diagonal maupun yang full-circular) bisa juga mendapatkan view yang menarik, tentu dgn pengunaan pada saat yang tepat. Tidak selalu penggunaan fish-eye menghasilkan foto yg “bagus” walau memang berbeda.


[*]Persiapkan diri dan sesuaikan peralatan
Walau ini tidak berhubungan langsung, tapi kadang sangat menentukan. Sering kali kita membutuhkan research atau tanya dulu kiri kanan, baik itu dgn googling atau bertanya dgn fotografer yang sudah pernah kesana ke satu lokasi sebelumnya, terutama jika mengunjungi tempat yang berbeda jauh iklim maupun cuacanya, krn itu akan menentukan kesiapan kita baik fisik maupun peralatan yang harus dibawa, baik itu peralatan fotografi maupun peralatan penunjang.
Cek ulang dan test semua camera dan lensa yang akan dibawa.
Akan lebih baik kalau semua perlataan yang akan dibawa dalam keadaan bersih, baik itu lensanya, filter2 maupun kamera (sensor) nya.
Membawa semua lensa yang kita punya kadang tidak bijaksana. Mungkin suatu trip hanya membutuhkan satu atau dua lensa saja, atau justru membutuhkan lebih dr itu krn kita sudah mempunyai gambaran atau informasi atau trip tersebut merupakan pengulangan trip yg sudah pernah dilakukan.
Mengetahui alam dan lingkungan dan adat (jika ada penduduknya) dari lokasi pemotretan juga akan sangat membantu.
Bahkan kadang dgn membawa peta (atau mungkin GPS) akan membantu kita menemukan suatu tempat atau spot, khususnya bila kita hunting di daerah ayng tidak ketahui atau lokasi yang kita tidak hapal.
Kesiapan diri dan peralatan akan menentukan apakah photo trip kita berhasil atau tidak.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah melindung seluruh peralatan yang anda bawa selama photo trip/hunting, baik itu hanya day-trip, overnight trip atau trip berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Sebelum berangkat, pastikan anda memilki check-list peralatan apa saja yg anda bawa. Catat juga semua model dan serial numbernya.
edodoedogawa - 02/06/2011 11:27 AM
#110

Quote:
Original Posted By AlamGena
Rule of Third
Komposisi Layout Fotografi

Dalam dunia fotografi, Rule of third atau aturan 1/3 bagian adalah petunjuk bagaimana caranya memposisikan obyek di 1/3 bagian dalam foto agar lebih enak dilihat. Tehnik ini juga termasuk dalam mengkomposisikan obyek kedalam satu frame, dengan posisi yang tepat mengikuti acuan aturan sepertiga itu.Aturan ini mungkin lebih tepat disebut sebagai panduan, sebab tidak selamanya penempatan obyek di 1/3 bagian foto itu nikmat untuk dilihat bergantung dari obyek dan hasil foto yang dihasilkan oleh fotografer.

Tips itu adalah ‘The Rule of Thirds’, yang mempunyai arti secara sederhana : bagaimana kita meletakkan sebuah obyek utama didalam frame foto yang kita ambil.

Sebenarnya ini bukan aturan baku ataupun utama didalam dunia fotografi, tapi ini hanyalah sekedar sebuah panduan untuk mendapatkan foto yang ‘lebih pas’ komposisinya didalam frame foto yang ada.

Rule of thirds ini disederhanakan menjadi “Apabila memungkinkan, letakkan obyek utama foto Anda pada sepertiga jarak dari tepi ‘frame foto’ Anda. Terserah apakah itu 1/3 dari frame sebelah kiri, atas, bawah, kanan maupun kombinasi diantara keduanya (1/3 dari pojok kanan atas)”.

Contoh foto Rule of Third :

Spoiler for
Foto yg tidak menggunakan Rule of Third
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩

Foto yg menggunakan Rule of Third
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
yg mana yg lebih menarik diantara dua foto tersebut?


Spoiler for contoh foto lain Rule of Third
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩


masih belum paham nah maksud dari rule of third ini think:
maksudnya objek nya tue kada harus ditengah / terlalu kepinggir kaya itu kah atau apa??
objek tidak harus selalu diutamakan ?? makudnya harus ada latar yg membantu kaya itu ?? bingungs
bingung nah menannyakannya hammer:



[RIGHT]۩ [Official Thread] RKS Photography ۩PASUKAN TURBO [/RIGHT]
AlamGena - 02/06/2011 11:35 AM
#111

Quote:
Original Posted By edodoedogawa
masih belum paham nah maksud dari rule of third ini think:
maksudnya objek nya tue kada harus ditengah / terlalu kepinggir kaya itu kah atau apa??
objek tidak harus selalu diutamakan ?? makudnya harus ada latar yg membantu kaya itu ?? bingungs
bingung nah menannyakannya hammer:



[RIGHT]۩ [Official Thread] RKS Photography ۩PASUKAN TURBO [/RIGHT]

kaena kita bahas di lintas lah....

diatas tu teori nya aja pang, kaena pas sekalian praktek lebih nyaman lagi
padahal malam itu ada aku jelaskan pang pas ada si akmal jua
ingat kada?
edodoedogawa - 02/06/2011 11:43 AM
#112

Quote:
Original Posted By AlamGena
kaena kita bahas di lintas lah....

diatas tu teori nya aja pang, kaena pas sekalian praktek lebih nyaman lagi
padahal malam itu ada aku jelaskan pang pas ada si akmal jua
ingat kada?


nah bisa tue \)

ingat ae yg itu..
tp yg teori di atas td yg kd paham .. meolah bingung hammer:



[RIGHT]۩ [Official Thread] RKS Photography ۩PASUKAN TURBO [/RIGHT]
athenz12 - 02/06/2011 11:59 AM
#113

Quote:
Original Posted By hymunk
Spoiler for pangantennya kauyuhan
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩


itu kaka'a kawan q,,
pian urang Pelaihari jua kah mank???
AlamGena - 02/06/2011 05:04 PM
#114

Quote:
Original Posted By TAHUBACAM
Ikut Absen Dulu \)

baca rule di depan army:
firdausnur - 03/06/2011 11:12 AM
#115

Quote:
Original Posted By oce.oktaman
insya allah auk meupload hasil foto jepretan sendiri .. \)

----------------------------
pake canon 60D lensanya yg gasan moto model ..yg kada kawa di zoom tu nah malu: kada tahu ngarannya soalna minjam punya kawan ..


Spoiler for 1
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩

mohon kripik dan saran nya agar bisa menjadi lebih baik dalam memoto malu:
shakehand


umpat lalu handak sharing sedikit hehe . itu mun kd salah ngarannya lensa fix mang ae . semoga bermanfaat :thumbup
augustav - 03/06/2011 11:54 AM
#116

sup:

masih pakai hengpong shootnya

Spoiler for sunset
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
edodoedogawa - 03/06/2011 12:33 PM
#117

Quote:
Original Posted By augustav
sup:

masih pakai hengpong shootnya

Spoiler for sunset
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩


masa siul:
hengpong apa yg kawa nembak sampai kaya ini hasilnya think:
dewa banar hammer:


[RIGHT]۩ [Official Thread] RKS Photography ۩PASUKAN TURBO [/RIGHT]
augustav - 03/06/2011 04:38 PM
#118

Quote:
Original Posted By edodoedogawa
masa siul:
hengpong apa yg kawa nembak sampai kaya ini hasilnya think:
dewa banar hammer:


[RIGHT]۩ [Official Thread] RKS Photography ۩PASUKAN TURBO [/RIGHT]


cuma hengpong murah gan tapi nggak murahan.....D
anak RKS pada tahu semua ane pake hengpong apa???? D
doubleblitzz - 03/06/2011 05:16 PM
#119

Quote:
Original Posted By augustav
sup:

masih pakai hengpong shootnya

Spoiler for sunset
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩


walaupun pakai hengpon... tp klo sudah di tangan orang yg tepat, hasilnya maknyussss.......

mantap mang....

karna blm bisa mengirimi cendol, pian ulun beri ini gin lah....

Spoiler for mamanyakekanakan
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
iZZATILICIUOS by doubleblitzz, on Flickr


kiss
TsukasaCH - 03/06/2011 05:40 PM
#120

wah mangtabz nah, ayu ai umpat satur sadikit nah, share juga ah, E500+14-45, silakan kritikannya:
Spoiler for nelangsa
۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
"Nelangsa"
tonal di up pakai plugin NIK Skylight dan permainan curve tonal & contras

۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
"semi fish eye imitasi"...p
tonal di up pakai plugin NIK Skylight

۩ [Official Thread] RKS Photography ۩
"Pasar Terapung"
Kamera Olympus E500
Lensa Olympus Zuiko Digital EZ 14-45 mm F3.5-F5.6 (28-90mm equiv.)
Diafragma f/22.0
Filter UV
Kecepatan 1/30
ISO Speed Ratings: 400
Date Time Original: 2011:05:06 07:07:13
Page 6 of 54 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > ۩ [Official Thread] RKS Photography ۩