Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Budaya]:"Rumpun B A T A K"##
Total Views: 59958 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 10 of 63 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 >  Last ›

hidupsehari - 01/11/2008 10:31 AM
#181
Marga sembiring pada masyarakat karo
Pendahuluan

Masyarakat Karo adalah salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara. Etnis ini masuk ke dalam etnis Batak. Secara administrasi negara, Karo sebagai wilayah adalah sebuah Kabupaten dengan luas wilayah 2.127,25 Km2 atau 3,01 % dari luas wilayah Propinsi Sumatera Utara.

Akan tetapi bila membicarakan wilayah budaya masyarakat Karo secara tradisional, masyarakat Karo tidak hanya mencakup Kabupaten Dati II Karo sekarang ini saja, tetapi mencakup kewedanaan Karo Jahe yang mencakup daerah tingkat II Deli Serdang, terdiri dari Kecamatan Pancurbatu, Kecamatan Biru-Biru, Kecamatan Sibolangit, Kecamatan Lau Bakeri dan Kecamatan Namorambe (Tambun, 1952:177-179), Kecamatan Kutalimbaru, Kecamatan Gunung Meriah, Kecamatan STM Hulu, Kecamatan STM Hilir, Kecamatan Bangun Purba, Kecamatan Galang, Kecamatan Tanjong Morawa, Kecamatan Deli Tua, Kecamatan Patumbak, Kecamatan Sunggal (Brahmana, 1995:11). Di daerah tingkat II Langkat mencakup Kecamatan Sei Binge, Kecamatan Salapian dan Kecamatan Bahorok, Kecamatan Kuala, Kecamatan Selesai dan Kecamatan Padang Tualang. Di daerah tingkat II Dairi, di Kecamatan Tanah Pinem, Kutabuluh, di daerah tingkat II Simalungun di sekitar perbatasan Karo dengan Simalungun, dan di daerah Aceh Tenggara (Prop NAD). Di daerah-daerah ini banyak ditemukan masyarakat Karo.

Masyarakat Karo dan Hindu

Dalam beberapa literatur tentang Karo, etimologi Karo berasal dari kata Haru. Kata Haru ini berasal dari nama kerajaan Haru yang berdiri sekitar abad 14 sampai abad 15 di daerah Sumatera Bagian Utara. Kemudian pengucapan kata Haru ini berubah menjadi Karo. Inilah diperkirakan awal terbentuknya nama Karo.

Menurut Sangti (1976:130) dan Sinar (1991:1617), sebelum klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-Angin menjadi bagian dari masyarakat Karo sekarang, telah ada penduduk asli Karo pertama yakni klen Karo Sekali. Kedatangan kelompok klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-Angin, akhirnya membuat klen pada masyarakat Karo semakin bertambah. Klen Ginting misalnya adalah petualangan yang datang ke Tanah Karo melalui pegunungan Layo Lingga, Tongging dan akhirnya sampai di Dataran Tinggi Karo. Klen Tarigan adalah petualangan yang datang dari Simalungun dan Dairi. Perangin-angin adalah petualangan yang datang dari Tanah Pinem Dairi. Sembiring diidentifikasikan berasal dari orang-orang Hindu Tamil yang terdesak oleh pedagang Arab di Pantai Barus menuju Dataran Tinggi Karo, karena mereka sama-sama menuju dataran tinggi Karo, kondisi ini akhirnya, menurut Sangti mendorong terjadi pembentukan merga si lima (Marga yang lima). Pembentukan ini bukan berdasarkan asal keturunan menurut garis bapak (secara genealogis patrilineal) seperti di Batak Toba, tetapi sesuai dengan proses peralihan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Karo Tua kepada masyarakat Karo Baru yakni lebih kurang pada tahun 1780. Pembentukan ini berkaitan dengan keamanan, sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi pergolakan antara orang-orang yang datang dari kerajaan Aru dengan penduduk asli.

Kini hasil pembentukan klen ini akhirnya melahirkan merga si lima (klen yang lima) yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo saat ini. Akhirnya masyarakat Karo yang terdiri dari merga si lima yang berdomisili di Dataran Tinggi, kemudian menyebar ke berbagai wilayah di sekitarnya, seperti ke Deli Serdang, Dairi Langkat, Simalungun dan Tanah Alas (Aceh Tenggara). Bahkan secara individu kini mulai menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, maupun ke luar wilayah negara Indonesia.

Tidak dapat disangkal, walaupun kebudayaan Hindu telah mengalami masa surut pada daerah di Indonesia akibat didesak oleh Islam dan Kristen, namun sisa-sisa keberadaannya yang bersifat monumental masih banyak ditemukan. Di Sumatera, di Jawa maupun di daerah lainnya, dalam bentuk fisik, masih kokoh berdiri bangunan Candi, sedangkan dalam bentuk non-fisik, seperti agama Hindu, bahasa maupun tatacara kehidupan masyarakat masih dapat ditemui pada kelompok-kelompok masyarakat Indonesia tertentu. Khusus pada masyarakat Karo, peninggalan Hindu yang paling monumental adalah marga yaitu marga Sembiring.

Marga Sembiring dan Keturunan Masyarakat Hindu

Dari sekian banyak peninggalan Hindu yang terdapat pada masyarakat Karo, barangkali yang keabadiannnya kelak melebihi usia bangunan Candi adalah marga yaitu marga Sembiring.

Sejak kapan resmi Sembiring menjadi bagian dari marga masyarakat Karo, tidak diketahui pasti. Tetapi diperkirakan Sembiring ini adalah marga yang termuda dari lima cabang marga yang ada pada masyarakat Karo.

Sembiring berasal dari kata Si + e + mbiring. Mbiring artinya hitam. Si e mbiring artinya yang ini hitam. Melihat makna kata Si e mbiring, kiranya cukup jelas bahwa yang dimaksud adalah segerombolan manusia yang berkulit hitam. Bagi penduduk Asia Tenggara, orang-orang yang berkulit hitam ini adalah orang Tamil atau Keling yang berasal dari Asia Selatan (India).

Penyebaran atau kedatangan orang-orang Tamil ini diperkirakan tidak bersamaan waktunya. Penyebarannya secara bergelombang. Kedatangan mereka ke dataran tinggi Karo, tidak secara langsung. Boleh jadi setelah beberapa tahun atau puluhan tahun menetap di sekitar pantai Pulau Sumatera. Mereka ini masuk ke dataran tinggi Karo, boleh jadi terutama disebabkan terdesak oleh pedagang-pedagang Arab dengan Agama Islamnya.

Brahma Putro menyebutkan kedatangan orang Hindu ini ke pegunungan (Tanah Karo) di sekitar tahun l33l-l365 masehi. Mereka sampai di Karo disebabkan mengungsi karena kerajaan Haru Wampu tempat mereka berdiam selama ini diserang oleh Laskar Madjapahit. akan tetapi ada pula yang memberikan hipotesa, penyebaran orang-orang Tamil ini akibat terdesak oleh pedagang-pedagang Arab (Islam) yang masuk dari Barus.

Orang-orang Tamil (+ pembauran) yang kalah bersaing ini lalu menyingkir ke pedalaman pulau Sumatera, salah satu daerah yang mereka datangi adalah Tanah Karo. Menurut cerita-cerita dari tetua, kedatangan mereka di Tanah Karo diterima dengan baik. Mereka disapa dengan si mbiring. Akhirnya pengucapan si mbiring berubah menjadi Sembiring dan kemudian menjadi marga yang kedudukannya sama dengan marga yang lain.

Klen Sembiring pada masyarakat tersebut di atas berasal dari dua sumber, sumber pertama yang berasal dari Hindu Tamil dan yang kedua berasal dari Kerajaan Pagarruyung. Sembiring yang berasal dari Hindu Tamil disebut Sembiring Singombak. Dijuluki Sembiring Singombak karena dahulu, apabila ada keluarga mereka yang meninggal dunia, mereka tidak mengubur jenasahnya tetapi memperabukannya (dibakar) dan abunya ditaburkan di Lau Biang (Sungai Wampu). Mereka ini berpantang memakan daging anjing. Sembiring Singombak ini terdiri dari 15 sub marga yaitu Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunu Aji, Busok, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur.

Kelompok Sembiring Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan dan Keling menganggap mereka seketurunan, sehingga mereka tidak boleh mengadakan perkawinan antar sesama mereka. Demikian pula dengan Depari, Pelawi, Bunu Aji dan Busok, mereka ini juga menganggap seketurunan dan pantang mengadakan perkawinan antar sesama mereka. Namun kesembilan sub marga Sembiring yang terbagi ke dalam dua kelompok ini, boleh mengadakan perkawinan sesama mereka di luar dari kelompoknya.

Sedangkan Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung terdiri dari lima sub marga yaitu Sembiring Kembaren, Keloko, Sinulaki, Sinupayung dan Bangko. Kelompok Sembiring ini juga memperabukan jenasah keluarga mereka yang meninggal dunia, tetapi abu jenasahnya mereka kubur. Bukan dibuang seperti yang dilakukan kelompok Sembiring Singombak. Mereka ini tidak berpantang memakan daging anjing.

Sama seperti kelompok Sembiring Singombak, kelompok Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung ini juga dilarang mengadakan perkawinan sesama mereka. Khusus untuk Sembiring Bangko. Kelompok ini sekarang berdomisili di Alas, Aceh Tenggara dan sudah menjadi bagian dari masyarakat Alas, seperti halnya para keturunan Raja Hindu Pagarruyung yang menetap di Sumatera Barat sudah pula menjadi bagian dari masyarakat Minangkabau. Saat ini pada umumnya kelompok marga Sembiring ini sudah memeluk agama Kristen atau Islam dan tidak lagi memperabukan jenasahnya seperti dahulu.

Adapun penyebab lahirnya sub-sub marga ini beberapa diantaranya, diduga berasal dari nama daerah asal mereka di India. Misalnya Sembiring Pandia diduga berasal dari daerah Pandya, Colia dari daerah Chola, Tekang dari daerah Teykaman, Muham dari daerah Muoham, Meliala dari daerah Malaylam, Brahmana dari kelompok Pendeta Hindu.

Dalam hal ini, kelompok marga Sembiring dalam masyarakat Karo, tidak memitoskan asal usulnya seperti etnis atau kelompok marga lain. Misalnya Batak Toba, yang mengusut asal-usul leluhurnya dari langit yang turun di puncak gunung Pusuh Buhit (Toba), atau yang mengusul asal usulnya dan berkesimpulan dari lapisan yang paling indah yang mereka sebut Tetoholi Ana'a yang turun di wilayah Gomo (Nias), atau yang mengkaitkannya dengan turunan Raja Iskandar Zulkarnain yang turun di Bukit Siguntang Palembang (Melayu).

Dalam masyarakat Karo mitos tersebut berkaitan dengan totem (totem yaitu kepercayaan adanya hubungan khusus antara sekelompok orang dengan binatang atau tanaman atau benda mati tertentu). Misalnya haram mengkonsumsi daging binatang seperti Kerbau Putih, oleh subklen Sebayang, Burung Balam oleh subklen klen Tarigan, Anjing oleh subklen Sembiring Brahmana.

Penutup

Dari uraian-uraian di atas, jelaslah bahwa orang-orang yang bermarga Sembiring pada masyarakat Karo pada mulanya bukanlah orang "Karo Asli". Mereka adalah penduduk pendatang yang kemudian berbaur dengan penduduk setempat, yang akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo. Gejala-gejala seperti ini dapat disamakan dengan keadaan penduduk di pedesaan daerah Karo saat ini.

Di pedesaan Karo sekarang ini banyak penduduknya "bukan" lagi orang Karo tetapi sudah diisi dengan penduduk pendatang seperti dari Suku Jawa, mereka akhirnya fasih berbahasa Karo dan diberi marga dan justru lebih Karo dari individu Karo sendiri. Artinya banyak dari mereka lebih memahami adat istiadat masyarakat Karo daripada individu Karo tersebut.

Ciri-ciri utama yang kini masih dapat dikenali dari keturunan Hindu ini adalah marganya. Marganya mengingatkan kepada asal-usulnya, tetapi bila dilihat dari fisik atau warna kulit sudah semakin sulit. Banyak yang bermarga Sembiring tidak lagi berkulit Hitam seperti asal-usulnya, malah banyak yang berkulit kuning langsat mirip bangsa lain seperti Cina.

Dalam pengertian sempit Sembiring hanyalah yang terdapat dalam masyarakat Karo, tetapi dalam pengertian luas (lebih luas) bukan hanya yang terdapat pada masyarakat Karo saja, tetapi semua keturunan yang berasal dari Asia Selatan yang sekarang sudah membaur dengan penduduk setempat, yang ada di wilayah Indonesia. apakah itu di Aceh yang sudah menjadi bagian dari masyarkat Aceh, di Sumatera di luar masyarakat Karo yang sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat. Di Sumatera Barat seperti keturunan Raja Hindu Pagarruyung yang lain yang sudah menjadi bagian dari masyarakat Minang, Jambi, Riau.

Manfaat Pengungkapan Histografi Tradisional

Apa manfaat pengungkapan histografi tradisional seperti ini? Manfaat pengungkapan histografi tradisional seperti ini adalah untuk menunjukkan bahwa boleh jadi, apa yang kita klaim sebagai kemurnian etnis misalnya etnis X, etnis Y, bukanlah berasal dari klaim etnis yang murni. Mereka yang mengidentifikasi kelompoknya sebagai etnis X, etnis Y kini, dahulu kala sebenarnya boleh jadi berasal dari dukungan individu-individu etnis lain yang berasimiliasi, membaur yang akhirnya menjadi bagian etnis X, etnis Y tersebut pada hari ini, antara lain seperti yang terjadi pada masyarakat Karo.

Di luar masyarakat Karo, kasus yang sama dan hampir sama misalnya di Aceh. Dari data sejarah etnis Aceh ada pandangan yang mengatakan Aceh itu adalah akronim dari A (Arab), C (Campa), E (Eropah – Portugis) dan H (Hindi – Hindu). Pandangan ini berasal dari kemiripan bentuk fisik orang Aceh saat ini dengan bangsa-bangsa yang disebut di atas. Misalnya masyarakat Aceh yang tinggal di Kabupaten Aceh Besar, banyak yang bergelar Sayid atau Syarifah, fisik mereka menyerupai orang Arab. Masyarakat Lamno di Aceh Barat menyerupai orang Portugis, masyarakat Aceh di Sigli (Pidie) dan Lhokseumawe (Aceh Utara) banyak yang mirip India (Tamil). Di Sumatera Barat, keturunan Raja Hindu Pagarruyung. Sedangkan di luar Pulau Sumatera, misalnya masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi ada yang berasal dari keturunan bangsa Eropah (Portugis atau Belanda). Kini para pembauran tersebut sudah menjadi bagian dari masyarakat etnis tersebut.

Kesadaran, pemahaman seperti ini sangat penting, agar kita sebagai individu atau sebagai kelompok tidak mudah terjebak dalam klaim kemurnian etnis, padahal dalam klaim itu ada spirit provokasi yang dilakukan oleh kalangan tertentu untuk kepentingannya apakah itu atas nama etnis untuk kepentingan diri si elit, untuk kelompok si elit atau mungkin aspirasi politik si elit di era otonomi daerah ini khususnya dalam kepentingan pilkada atau kepentingan lainnya yang bersifat merusak spirit multikulturalisme atau pluralisme bangsa yang sudah terbangun sejak dahulu kala, sebelum Indonesia menjadi satu negara.

Penulis Pertampilan S. Brahmana

Penulis adalah Magister Kajian Budaya dengan Pengkhususan Sistem Pengendalian Sosial, dari Universitas Udayana Denpasar Tahun 1998 (kawarmedan@yahoo.com)

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Jurnal Dinamika Kebudayaan, Vol VII, No. 2, 2005 yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Unversitas Udayana, Denpasar
Zucks - 01/11/2008 11:32 AM
#182

rajabataks - 01/11/2008 06:54 PM
#183

Horas dohot ito sudenah.......
wiltom83 - 10/11/2008 10:02 AM
#184

Quote:
Original Posted By hidupsehari
ini bisa menjadi pemicu perdebatan antara jawa dan batak heheheheh,soalnya Nyi roro kidul selama ini di percaya ma org jawa sejak lama.. tapi mudah2 an pis pis ajalah yah,soalnya masih sama2 indonesia

OK lae silalahi salam kenal juga ..shakehand


Horas Sanina...
saya rasa cerita tsb terlalu dipaksakan seakan-akan suku Toba ingin mendominasi segalanya hingga Nyi Roro Kidul pun dibatakkan...tidak bisakan kita menerima kepercayaan suku lain tanpa perlu buat versi sendiri?krn kadang kala orang batak ini suka meniru seperti ada buku Orang Jawa Naik Haji...ga lama Burhanuddin Napitupulu buat juga buku "Orang Batak Naik Haji"..

Kira-kira demikian pendapat saya....

Diatei tupa sanina girsang..
badman007 - 10/11/2008 10:26 AM
#185

Quote:
Original Posted By hidupsehari
Pendahuluan

Masyarakat Karo adalah salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara. Etnis ini masuk ke dalam etnis Batak. Secara administrasi negara, Karo sebagai wilayah adalah sebuah Kabupaten dengan luas wilayah 2.127,25 Km2 atau 3,01 % dari luas wilayah Propinsi Sumatera Utara.

Akan tetapi bila membicarakan wilayah budaya masyarakat Karo secara tradisional, masyarakat Karo tidak hanya mencakup Kabupaten Dati II Karo sekarang ini saja, tetapi mencakup kewedanaan Karo Jahe yang mencakup daerah tingkat II Deli Serdang, terdiri dari Kecamatan Pancurbatu, Kecamatan Biru-Biru, Kecamatan Sibolangit, Kecamatan Lau Bakeri dan Kecamatan Namorambe (Tambun, 1952:177-179), Kecamatan Kutalimbaru, Kecamatan Gunung Meriah, Kecamatan STM Hulu, Kecamatan STM Hilir, Kecamatan Bangun Purba, Kecamatan Galang, Kecamatan Tanjong Morawa, Kecamatan Deli Tua, Kecamatan Patumbak, Kecamatan Sunggal (Brahmana, 1995:11). Di daerah tingkat II Langkat mencakup Kecamatan Sei Binge, Kecamatan Salapian dan Kecamatan Bahorok, Kecamatan Kuala, Kecamatan Selesai dan Kecamatan Padang Tualang. Di daerah tingkat II Dairi, di Kecamatan Tanah Pinem, Kutabuluh, di daerah tingkat II Simalungun di sekitar perbatasan Karo dengan Simalungun, dan di daerah Aceh Tenggara (Prop NAD). Di daerah-daerah ini banyak ditemukan masyarakat Karo.

Masyarakat Karo dan Hindu

Dalam beberapa literatur tentang Karo, etimologi Karo berasal dari kata Haru. Kata Haru ini berasal dari nama kerajaan Haru yang berdiri sekitar abad 14 sampai abad 15 di daerah Sumatera Bagian Utara. Kemudian pengucapan kata Haru ini berubah menjadi Karo. Inilah diperkirakan awal terbentuknya nama Karo.

Menurut Sangti (1976:130) dan Sinar (1991:1617), sebelum klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-Angin menjadi bagian dari masyarakat Karo sekarang, telah ada penduduk asli Karo pertama yakni klen Karo Sekali. Kedatangan kelompok klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-Angin, akhirnya membuat klen pada masyarakat Karo semakin bertambah. Klen Ginting misalnya adalah petualangan yang datang ke Tanah Karo melalui pegunungan Layo Lingga, Tongging dan akhirnya sampai di Dataran Tinggi Karo. Klen Tarigan adalah petualangan yang datang dari Simalungun dan Dairi. Perangin-angin adalah petualangan yang datang dari Tanah Pinem Dairi. Sembiring diidentifikasikan berasal dari orang-orang Hindu Tamil yang terdesak oleh pedagang Arab di Pantai Barus menuju Dataran Tinggi Karo, karena mereka sama-sama menuju dataran tinggi Karo, kondisi ini akhirnya, menurut Sangti mendorong terjadi pembentukan merga si lima (Marga yang lima). Pembentukan ini bukan berdasarkan asal keturunan menurut garis bapak (secara genealogis patrilineal) seperti di Batak Toba, tetapi sesuai dengan proses peralihan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Karo Tua kepada masyarakat Karo Baru yakni lebih kurang pada tahun 1780. Pembentukan ini berkaitan dengan keamanan, sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi pergolakan antara orang-orang yang datang dari kerajaan Aru dengan penduduk asli.

Kini hasil pembentukan klen ini akhirnya melahirkan merga si lima (klen yang lima) yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo saat ini. Akhirnya masyarakat Karo yang terdiri dari merga si lima yang berdomisili di Dataran Tinggi, kemudian menyebar ke berbagai wilayah di sekitarnya, seperti ke Deli Serdang, Dairi Langkat, Simalungun dan Tanah Alas (Aceh Tenggara). Bahkan secara individu kini mulai menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, maupun ke luar wilayah negara Indonesia.

Tidak dapat disangkal, walaupun kebudayaan Hindu telah mengalami masa surut pada daerah di Indonesia akibat didesak oleh Islam dan Kristen, namun sisa-sisa keberadaannya yang bersifat monumental masih banyak ditemukan. Di Sumatera, di Jawa maupun di daerah lainnya, dalam bentuk fisik, masih kokoh berdiri bangunan Candi, sedangkan dalam bentuk non-fisik, seperti agama Hindu, bahasa maupun tatacara kehidupan masyarakat masih dapat ditemui pada kelompok-kelompok masyarakat Indonesia tertentu. Khusus pada masyarakat Karo, peninggalan Hindu yang paling monumental adalah marga yaitu marga Sembiring.

Marga Sembiring dan Keturunan Masyarakat Hindu

Dari sekian banyak peninggalan Hindu yang terdapat pada masyarakat Karo, barangkali yang keabadiannnya kelak melebihi usia bangunan Candi adalah marga yaitu marga Sembiring.

Sejak kapan resmi Sembiring menjadi bagian dari marga masyarakat Karo, tidak diketahui pasti. Tetapi diperkirakan Sembiring ini adalah marga yang termuda dari lima cabang marga yang ada pada masyarakat Karo.

Sembiring berasal dari kata Si + e + mbiring. Mbiring artinya hitam. Si e mbiring artinya yang ini hitam. Melihat makna kata Si e mbiring, kiranya cukup jelas bahwa yang dimaksud adalah segerombolan manusia yang berkulit hitam. Bagi penduduk Asia Tenggara, orang-orang yang berkulit hitam ini adalah orang Tamil atau Keling yang berasal dari Asia Selatan (India).

Penyebaran atau kedatangan orang-orang Tamil ini diperkirakan tidak bersamaan waktunya. Penyebarannya secara bergelombang. Kedatangan mereka ke dataran tinggi Karo, tidak secara langsung. Boleh jadi setelah beberapa tahun atau puluhan tahun menetap di sekitar pantai Pulau Sumatera. Mereka ini masuk ke dataran tinggi Karo, boleh jadi terutama disebabkan terdesak oleh pedagang-pedagang Arab dengan Agama Islamnya.

Brahma Putro menyebutkan kedatangan orang Hindu ini ke pegunungan (Tanah Karo) di sekitar tahun l33l-l365 masehi. Mereka sampai di Karo disebabkan mengungsi karena kerajaan Haru Wampu tempat mereka berdiam selama ini diserang oleh Laskar Madjapahit. akan tetapi ada pula yang memberikan hipotesa, penyebaran orang-orang Tamil ini akibat terdesak oleh pedagang-pedagang Arab (Islam) yang masuk dari Barus.

Orang-orang Tamil (+ pembauran) yang kalah bersaing ini lalu menyingkir ke pedalaman pulau Sumatera, salah satu daerah yang mereka datangi adalah Tanah Karo. Menurut cerita-cerita dari tetua, kedatangan mereka di Tanah Karo diterima dengan baik. Mereka disapa dengan si mbiring. Akhirnya pengucapan si mbiring berubah menjadi Sembiring dan kemudian menjadi marga yang kedudukannya sama dengan marga yang lain.

Klen Sembiring pada masyarakat tersebut di atas berasal dari dua sumber, sumber pertama yang berasal dari Hindu Tamil dan yang kedua berasal dari Kerajaan Pagarruyung. Sembiring yang berasal dari Hindu Tamil disebut Sembiring Singombak. Dijuluki Sembiring Singombak karena dahulu, apabila ada keluarga mereka yang meninggal dunia, mereka tidak mengubur jenasahnya tetapi memperabukannya (dibakar) dan abunya ditaburkan di Lau Biang (Sungai Wampu). Mereka ini berpantang memakan daging anjing. Sembiring Singombak ini terdiri dari 15 sub marga yaitu Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunu Aji, Busok, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur.

Kelompok Sembiring Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan dan Keling menganggap mereka seketurunan, sehingga mereka tidak boleh mengadakan perkimpoian antar sesama mereka. Demikian pula dengan Depari, Pelawi, Bunu Aji dan Busok, mereka ini juga menganggap seketurunan dan pantang mengadakan perkimpoian antar sesama mereka. Namun kesembilan sub marga Sembiring yang terbagi ke dalam dua kelompok ini, boleh mengadakan perkimpoian sesama mereka di luar dari kelompoknya.

Sedangkan Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung terdiri dari lima sub marga yaitu Sembiring Kembaren, Keloko, Sinulaki, Sinupayung dan Bangko. Kelompok Sembiring ini juga memperabukan jenasah keluarga mereka yang meninggal dunia, tetapi abu jenasahnya mereka kubur. Bukan dibuang seperti yang dilakukan kelompok Sembiring Singombak. Mereka ini tidak berpantang memakan daging anjing.

Sama seperti kelompok Sembiring Singombak, kelompok Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung ini juga dilarang mengadakan perkimpoian sesama mereka. Khusus untuk Sembiring Bangko. Kelompok ini sekarang berdomisili di Alas, Aceh Tenggara dan sudah menjadi bagian dari masyarakat Alas, seperti halnya para keturunan Raja Hindu Pagarruyung yang menetap di Sumatera Barat sudah pula menjadi bagian dari masyarakat Minangkabau. Saat ini pada umumnya kelompok marga Sembiring ini sudah memeluk agama Kristen atau Islam dan tidak lagi memperabukan jenasahnya seperti dahulu.

Adapun penyebab lahirnya sub-sub marga ini beberapa diantaranya, diduga berasal dari nama daerah asal mereka di India. Misalnya Sembiring Pandia diduga berasal dari daerah Pandya, Colia dari daerah Chola, Tekang dari daerah Teykaman, Muham dari daerah Muoham, Meliala dari daerah Malaylam, Brahmana dari kelompok Pendeta Hindu.

Dalam hal ini, kelompok marga Sembiring dalam masyarakat Karo, tidak memitoskan asal usulnya seperti etnis atau kelompok marga lain. Misalnya Batak Toba, yang mengusut asal-usul leluhurnya dari langit yang turun di puncak gunung Pusuh Buhit (Toba), atau yang mengusul asal usulnya dan berkesimpulan dari lapisan yang paling indah yang mereka sebut Tetoholi Ana'a yang turun di wilayah Gomo (Nias), atau yang mengkaitkannya dengan turunan Raja Iskandar Zulkarnain yang turun di Bukit Siguntang Palembang (Melayu).

Dalam masyarakat Karo mitos tersebut berkaitan dengan totem (totem yaitu kepercayaan adanya hubungan khusus antara sekelompok orang dengan binatang atau tanaman atau benda mati tertentu). Misalnya haram mengkonsumsi daging binatang seperti Kerbau Putih, oleh subklen Sebayang, Burung Balam oleh subklen klen Tarigan, Anjing oleh subklen Sembiring Brahmana.

Penutup

Dari uraian-uraian di atas, jelaslah bahwa orang-orang yang bermarga Sembiring pada masyarakat Karo pada mulanya bukanlah orang "Karo Asli". Mereka adalah penduduk pendatang yang kemudian berbaur dengan penduduk setempat, yang akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo. Gejala-gejala seperti ini dapat disamakan dengan keadaan penduduk di pedesaan daerah Karo saat ini.

Di pedesaan Karo sekarang ini banyak penduduknya "bukan" lagi orang Karo tetapi sudah diisi dengan penduduk pendatang seperti dari Suku Jawa, mereka akhirnya fasih berbahasa Karo dan diberi marga dan justru lebih Karo dari individu Karo sendiri. Artinya banyak dari mereka lebih memahami adat istiadat masyarakat Karo daripada individu Karo tersebut.

Ciri-ciri utama yang kini masih dapat dikenali dari keturunan Hindu ini adalah marganya. Marganya mengingatkan kepada asal-usulnya, tetapi bila dilihat dari fisik atau warna kulit sudah semakin sulit. Banyak yang bermarga Sembiring tidak lagi berkulit Hitam seperti asal-usulnya, malah banyak yang berkulit kuning langsat mirip bangsa lain seperti Cina.

Dalam pengertian sempit Sembiring hanyalah yang terdapat dalam masyarakat Karo, tetapi dalam pengertian luas (lebih luas) bukan hanya yang terdapat pada masyarakat Karo saja, tetapi semua keturunan yang berasal dari Asia Selatan yang sekarang sudah membaur dengan penduduk setempat, yang ada di wilayah Indonesia. apakah itu di Aceh yang sudah menjadi bagian dari masyarkat Aceh, di Sumatera di luar masyarakat Karo yang sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat. Di Sumatera Barat seperti keturunan Raja Hindu Pagarruyung yang lain yang sudah menjadi bagian dari masyarakat Minang, Jambi, Riau.

Manfaat Pengungkapan Histografi Tradisional

Apa manfaat pengungkapan histografi tradisional seperti ini? Manfaat pengungkapan histografi tradisional seperti ini adalah untuk menunjukkan bahwa boleh jadi, apa yang kita klaim sebagai kemurnian etnis misalnya etnis X, etnis Y, bukanlah berasal dari klaim etnis yang murni. Mereka yang mengidentifikasi kelompoknya sebagai etnis X, etnis Y kini, dahulu kala sebenarnya boleh jadi berasal dari dukungan individu-individu etnis lain yang berasimiliasi, membaur yang akhirnya menjadi bagian etnis X, etnis Y tersebut pada hari ini, antara lain seperti yang terjadi pada masyarakat Karo.

Di luar masyarakat Karo, kasus yang sama dan hampir sama misalnya di Aceh. Dari data sejarah etnis Aceh ada pandangan yang mengatakan Aceh itu adalah akronim dari A (Arab), C (Campa), E (Eropah – Portugis) dan H (Hindi – Hindu). Pandangan ini berasal dari kemiripan bentuk fisik orang Aceh saat ini dengan bangsa-bangsa yang disebut di atas. Misalnya masyarakat Aceh yang tinggal di Kabupaten Aceh Besar, banyak yang bergelar Sayid atau Syarifah, fisik mereka menyerupai orang Arab. Masyarakat Lamno di Aceh Barat menyerupai orang Portugis, masyarakat Aceh di Sigli (Pidie) dan Lhokseumawe (Aceh Utara) banyak yang mirip India (Tamil). Di Sumatera Barat, keturunan Raja Hindu Pagarruyung. Sedangkan di luar Pulau Sumatera, misalnya masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi ada yang berasal dari keturunan bangsa Eropah (Portugis atau Belanda). Kini para pembauran tersebut sudah menjadi bagian dari masyarakat etnis tersebut.

Kesadaran, pemahaman seperti ini sangat penting, agar kita sebagai individu atau sebagai kelompok tidak mudah terjebak dalam klaim kemurnian etnis, padahal dalam klaim itu ada spirit provokasi yang dilakukan oleh kalangan tertentu untuk kepentingannya apakah itu atas nama etnis untuk kepentingan diri si elit, untuk kelompok si elit atau mungkin aspirasi politik si elit di era otonomi daerah ini khususnya dalam kepentingan pilkada atau kepentingan lainnya yang bersifat merusak spirit multikulturalisme atau pluralisme bangsa yang sudah terbangun sejak dahulu kala, sebelum Indonesia menjadi satu negara.

Penulis Pertampilan S. Brahmana

Penulis adalah Magister Kajian Budaya dengan Pengkhususan Sistem Pengendalian Sosial, dari Universitas Udayana Denpasar Tahun 1998 (kawarmedan@yahoo.com)

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Jurnal Dinamika Kebudayaan, Vol VII, No. 2, 2005 yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Unversitas Udayana, Denpasar


Request Sejarah Tuan Tapak donk om D... ngacir:
badmanOO7 - 10/11/2008 11:22 AM
#186

Quote:
Original Posted By badman007
Request Sejarah Tuan Tapak donk om D... ngacir:


apa pula kau bad tak kau temukan robin
766HI - 10/11/2008 07:29 PM
#187

Quote:
Original Posted By hidupsehari
hehehehhehe doh gak tau aku aji tur-tur lae.. kek nya itu sejenis busung yah,kalo masalah gituan kita tanya ma suhu aja..


hmmm,,, Aji Tur-tur

Aq jg krg tau lae, makanya nanya ?? D

Nunggu Suhu Ksih Pencerahan,,,
badman007 - 10/11/2008 09:17 PM
#188

Quote:
Original Posted By badmanOO7
apa pula kau bad tak kau temukan robin


buuuujaaang ...
sudah kubilang jangan kau bertempur ...

ahhh terserah kau sajalah D...ngacir:
suhu_omtatok - 10/11/2008 11:26 PM
#189

Quote:
Original Posted By 766HI
hmmm,,, Aji Tur-tur

Aq jg krg tau lae, makanya nanya ?? D

Nunggu Suhu Ksih Pencerahan,,,


Aji Tur-tur merupakan santet yang biasanya si penderita akan merasa seperti Suga (tercucuk-cucuk) pada bagian kaki, hingga kemudian kaki maturtur (kaki terasa pecah, busuk dan meleleh berair)

kasian kali ya....
badman007 - 10/11/2008 11:33 PM
#190

iya om, seram kali ahhh ...
lebih seram dari bom bali ... kya kakakak ...ngacir:
hidupsehari - 11/11/2008 09:49 AM
#191

lae silalahi kalo besok2 ada yg macam2 ma lae di aji tur-tur aja..
oh yah suhu kalo engga salah Aji bor-bor juga ada ya..
hidupsehari - 11/11/2008 09:50 AM
#192

lae silalahi kalo besok2 ada yg macam2 ma lae di aji tur-tur aja..
oh yah suhu kalo engga salah Aji bor-bor juga ada ya..
hidupsehari - 12/11/2008 09:28 AM
#193
Fungsi Musik Gonrang Pada Masyarakat Simalungun
Catatan Awal
Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Dari semua karya seni, mungkin sekali musiklah yang paling mempengaruhi tradisi budaya untuk menentukan patokan-patokan sosial dan patokan-patokan individu, mengenai apa yang disukai dan apa yang diakui. Musik dapat mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya, yang menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

Gonrang (istilah bahasa Simalungun untuk “gendang”) salah satu alat musik dari daerah Simalungun, yang telah lama ada dan berkembang di daerah Simalungun. Musik gonrang tidaklah hanya apresiasi seni semata, tetapi juga mau memperlihatkan makna dan fungsi yang sangat mendalam bagi kehidupan masyarakat Simalungun khususnya. Makna dan fungsi gonrang terwujud sebagai suasana pengungkapan hati, sebagai sarana hiburan, sebagai sarana komunikasi. Musik gonrang juga sebagai representasi simbolis yang mencerminkan nilai-nilai, pengaturan kondisi sosial dan perilaku kultur lainnya serta sebagai peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial.

Maksud tulisan ini adalah untuk membahas kelima fungsi gonrang Simalungun yang disebutkan diatas.

Fungsi Musik gonrang dalam komunitas masyarakat simalungun:

1. Sebagai pengungkapan suasana hati
Dimanapun di dunia ini, tampak jelas bahwa musik mempunyai peran yang kuat dalam mengungkapkan suasana hati seseorang. Pengungkapan suasana hati itu dapat bersifat spesifik seperti halnya pada lagu yang bernuansa politis maupun lagu-lagu percintaan yang mau mengungkapkan perasaan dan kepuasan diri. Apapun jenis suasana hati yang diekspresikan dalam proses pembuatan musik, akan menggugah reaksi dari para pendengar dan reaksi itu tidak lepas dari pementasannya. Maksudnya adalah nuansa lagu yang dibawakan disesuaikan dengan suasana pesta. Sebagai contoh, untuk pesta perkawinan, pesta panen dan pesta meriah lainnya tentu sangat berbeda nuansa musiknya dengan suasana kematian atau kesedihan.

Salah satu faktor yang dianggap penting dalam menentukan reaksi suasana hati terhadap musik di kalangan masyarakat Simalungun adalah tempo musik yang dibawakan. Untuk menunjukkan suasana gembira, maka dipakai tempo sedang hingga tempo cepat. Sedangkan tempo lambat umumnya dipakai untuk yang berhubungan dengan hal-hal musibah, kekecewaan, kesedihan dan kerinduan hati. Banyaknya lagu-lagu sedih di daerah Simalungun dan digunakannya istilah inggou menggambarkan makna suasana hati dari lagu-lagu tersebut serta persepsi masyarakat Simalungun terhadap lagu-lagu tersebut. Pengungkapan perasaan mungkin paling mudah dan sederhana untuk difahami dari lirik yang dikandungnya.

Para pemain musik gonrang mempunyai peran penting dalam suasana ini. Para pemusik menjadi pemicu dalam memulai dan memfasilitasi pengungkapan perasaan yang sesuai untuk masing-masing situasi dengan cara “menghidupkan” gual (lagu yang dimainkan pada ansambel musik gonrang) yang dibawakan. Sebagai contoh, dalam tortor sombah (tortor = tarian, sombah = sembah) dimulai oleh pihak boru (orang atau klan yang menjadi pihak penerima istri kepada yang bersangkutan) dan mengarahkan kepada pihak tondong (orang atau klan yang menjadi pihak pemberi istri dari yang bersangkutan).

Sikap sembah diwujudkan dengan mengatupkan telapak tangan dengan ujung jari menghadap ke atas dan disentuhkan pada dahi, dengan sikap seperti ini pihak boru menghampiri pihak tondong. Sambil menarikan tortor sombah dihadapan pihak tondong, pihak boru memohonkan kasih sayang yang manja dari pihak tondong. Maka kerendahan hati merupakan makna dari inti tarian yang dibawakan oleh boru yang diungkapkan dalam konteks tarian dan musik yang dibawakan.

2. Sebagai sarana hiburan
Salah satu fungsi musik gonrang bagi masyarakat Simalungun adalah sebagai sarana hiburan. Karena kurangnya kesempatan untuk menikmati suasana istirahat dari kerja, maka pada saat pesta merupakan kesempatan untuk beristirahat dari aktivitas kerja. Pesta merupakan salah satu bentuk acara selingan. Ada sejumlah pesta yang dilaksanakan setiap tahun, yang termasuk di dalamnya yaitu Manumbah (penyembahan tempat keramat maupun arwah para nenek moyang).

Ada pesta yang diselenggarakan pada saat-saat khusus : pesta palaho/paroh boru (pesta pernikahan), pesta mangalo-alo tamuei (pesta penyambutan tamu atau undangan istimewa), mamongkot jabu (selamatan memasuki rumah baru) dan masih banyak kesempatan lain yang dijadikan suasana pesta. Salah satu kebiasaan dalam berpesta adalah mengundang antara kampung yang satu dengan kampung yang lain yang memiliki ikatan hubungan tondong, boru dan sanina (mereka yang berasal dari marga dan sub-marga yang sama dengan yang bersangkutan) untuk memeriahkan pesta tersebut.

Pada pelaksanaan pesta tersebut, biasanya para undangan dengan sabar mengikuti acara, khususnya pada acara adat penting dan menunggu sampai pada kesempatan mereka untuk menari. Salah satu kebiasaan pada saat menari, para undangan akan meminta gual yang menjadi kesukaan mereka (umumnya untuk pesta-pesta meriah). Kaum muda-mudi, karena belum mendapat posisi dalam masyarakat biasanya baru mendapat giliran untuk menari pada akhir-akhir acara. Untuk mereka, ini adalah kesempatan untuk bersosialisasi satu sama lain dan kesempatan untuk belajar menari pada pesta-pesta resmi.

Selain pada kegiatan adat dan tradisi musik gonrang yang disebutkan diatas, musik merupakan sarana hiburan pada kesempatan lain. Para warga, khususnya kaum pria, suka berkumpul pada malam hari sambil bernyanyi dan memainkan alat musik seperti : gitar, seruling, harmonika dan alat musik lainnya sebagai sarana hiburan.

3. sebagai sarana komunikasi
Para ahli musik telah mengakui fungsi kesenian musik adalah sebagai sarana komunikasi. Lewat nuansa musik yang dibawakan, mereka mau mengkomunikasikan seluruh perasaannya secara simbolis, baik yang menggembirakan maupun yang sedih. Nuansa kesedihan, kekecewaan dan kesepian biasanya diungkapkan dengan lirik dan bunyi lagu-lagu percintaan maupun lagu-lagu perpisahan. Kita akan lebih merasakan perasaan hati seperti ini pada sejumlah gual yang bertempo lambat. Bunyi musik juga dapat menyajikan suasana hati tertentu yang dapat membantu untuk mengungkapkan perasaan hati dan inti dari lirik yang dinyanyikan.

Selain itu, musik gonrang juga mau mengkomunikasikan identitas etnis. Sebagai salah satu dari sekian banyak kelompok etnis di Indonesia, masyarakat Simalungun yang tertarik pada tari-tarian dan musik tradisionalnya, sangat menyadari keunikan musik mereka, baik di dalam maupun di luar tradisi gonrang. Pada acara-acara silaturahmi, sebagian dari anggota masyarakat sering muncul “nasionalisme primitif kesukuan” dengan musik, tarian dan adat sebagai titik tolak semangat. Pada acara seperti ini kerap kali sangat membantu penyebaran musik dan tari-tarian Simalungun, yang mempengaruhi musik dan tari-tarian nasional Indonesia. Dengan demikian, musik Simalungun merupakan suatu acara guna mengkomunikasikan karakter dan kebanggaan etnis mereka.

4. Sebagai Representasi Simbolis
“Musik mencerminkan nilai-nilai, pengatur kondisi sosial dan perilaku kultur lainnya.”
Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Dan sebagaimana aspek-aspek kebudayaan lainnya, musik niscaya akan mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasarinya, yang menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

Ansambel musik gonrang mempunyai hubungan erat dengan struktur adat. Status para pemain musik dalam suatu ansambel musik gonrang didasarkan atas jenis alat musik yang dimainkannya. Si peniup sarunei (alat musik tiup yang memiliki tujuh buah lubang jari) selalu diakui sebagai pemimpin di antara mereka (secara musik maupun secara adat). Ia mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan ansambel musik yang akan dimainkan. Menurut adat juga, bila pihak yang meminta gual memberikan penghargaan maka si peniup sarunei-lah yang harus menerima penghargaan tersebut. Dalam hal pendapatan di antara anggota pemain musik, ia juga yang akan mendapat imbalan yang lebih besar.

Tingkatan kedua yaitu para penabuh ansambel gonrang (gonrang si dua-dua atau gonrang bolon). Untuk gonrang si dua-dua umumnya hanya dimainkan satu atau dua orang saja, sedangkan untuk gonrang bolon umumnya dimainkan dua atau tiga orang. Mereka ini menabuh gonrang sedemikian rupa sehingga mampu memainkan gual yang dimintakan dengan mengikuti pola irama dari sarunei. Pertingkatan di antara penabuh hampir tidak ada, namun umumnya penabuh gonrang yang lebih mahir dalam memainkannya diakui sebagai yang menentukan.

Tingkatan yang ketiga yaitu para pemukul gong dan mongmongan (dua buah gong kecil yang digunakan sebagai tanda bunyi kolotomis). Meskipun musik dapat dimainkan tanpa didampingi oleh pemukul gong dan mongmongan, tetapi umumnya bagian ini juga selalu diikutkan. tugas mereka adalah membawakan kerangka dari gual tersebut, yang tujuannya untuk menambah nilai rasa dan tekanan yang menetap pada gual yang dimainkan. Sekali mereka mendapat pola yang pas dari gonrang dan sarunei, tugas mereka hanya mengulangi pola tersebut sampai gual berakhir.

Pertingkatan pada pemeran ansambel musik gonrang juga mempunyai hubungan dalam kelompok adat Simalungun. Sebagaimana pemain sarunei adalah sebagai pemimpin diantara pemain ansambel lainnya, maka kelompok tondong menduduki posisi sebagai pemimpin pada acara-acara adat (juga dalam hidup sehari-hari). Kemudian diikuti oleh kelompok boru sebagai kelompok kedua yang sangat erat hubungannya dengan tondong. Pihak tondong senantiasa memperhatikan dan memperlakukan boru-nya dengan baik dan bahkan memberikan berkat agar mereka senantiasa hidup sejahtera. Kelompok ketiga adalah kelompok sanina (keanggotaan marga dan sub marga yang berpesta). Sebagaimana pemukul gong dan mongmongan yang menambah nilai rasa pada ansambel musik gonrang, kelompok sanina ini merupakan penolong khususnya saat mempersiapkan acara pesta, pendamping bagi boru dan bagian dari boru itu sendiri.

Walaupun pengelompokan tondong, boru dan sanina dalam struktur adat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan si peniup sarunei, penabuh gonrang dan pemukul gong dan mongmongan dalam ansambel musik gonrang, tetapi di antara kelompok ini praktisnya masih terdapat perbedaan. Pada ansambel musik gonrang, para pemainnya sangat jarang saling “bertukar posisi” atau tukar peran dalam memainkan ansambel musik gonrang.

Hanya dimungkinkan antara penabuh gonrang dengan pemukul gong dan mongmongan yang saling bertukar posisi. Pada konteks adat, posisi seseorang ditentukan oleh ikatan hubungan dengan pihak yang menyelenggarakan pesta. Dalam suatu pesta umpamanya, posisi seseorang dapat sebagai tondong namun pada saat pesta lain, dapat sebagai boru atau sanina. Jadi, seseorang dapat menempati ketiga posisi yang ada dalam kelompok ini. Dengan demikian akan ada keseimbangan, karena semua orang berkesempatan untuk memerankan salah satu dari ketiga kelompok ini dalam suatu pesta.

5. sebagai peneguh ritus-ritus keagamaan dan ikatan sosial
Salah satu kebiasaan baik bagi masyarakat Simalungun dan seluruh masyarakat Batak umumnya adalah adanya kebiasaan martutur (menelusuri silsilah satu sama lain). Hal ini dilakukan bagi mereka yang belum saling mengenal satu sama lain. Setelah saling mengetahui silsilah masing-masing, mereka akan dapat memposisikan diri satu sama lain berdasarkan aturan adat mengenai tata cara ikatan hubungan antara tondong, boru dan sanina. Ini merupakan norma yang mendukung terciptanya ikatan sosial yang kuat dalam kalangan masyarakat Simalungun.

Adat dan kelompok adat adalah unsur-unsur yang paling sentral dan kuat di kalangan masyarakat Simalungun, maupun masyarakat Batak umumnya. Kekuatan adat tersebut ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari melalui acara seperti tari-tarian adat yang dipentaskan hampir pada setiap pesta. Gual yang dibawakan pada acara tersebut pada umumnya gual yang mengingatkan pihak tondong, boru dan sanina akan tata cara keharmonisan sikap dan tindakan diantara mereka. Sikap dan kasih sayang serta tindakan mencurahkan berkat harus dipraktekkan dalam konteks sosial lingkup suasana gual yang dibawakan. Musik gonrang dijadikan sebagai sarana untuk menjaga kelangsungan nilai-nilai kultural dan keagamaan. Musik gonrang menjadi alat untuk pengikat dan peneguh ikatan sosial dan upacara-upacara kultural maupun keagamaan yang dianggap penting oleh masyarakat Simalungun.

kesimpulan
Dari seluruh uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa musik gonrang Simalungun mempunyai peran penting dalam kehidupan masyarakat Simalungun. Musik gonrang merupakan titik pangkal pengembangan budaya sebagai suatu simbol identitas yang unik dari masyarakat Simalungun. Musik gonrang sangatlah khas, bahkan di kalangan suku Batak lainnya, dan merupakan salah satu peninggalan kebanggaan milik masyarakat Simalungun.

Tradisi musik gonrang merupakan sarana yang sangat vital dalam pengekspresian tradisi kerohanian masyarakat Simalungun, juga sebagai bentuk pernyataan ikatan kekeluargaan dan kekerabatan, keturunan sedarah dan keturunan sesuku umumnya. Di samping itu, musik gonrang Simalungun, secara tidak langsung, mengajarkan kearifan hidup manusia yang dicerminkan dalam sikap dan pergaulan dengan sesama (nilai sosial), maupun untuk mencapai nilai-nilai tertinggi, yakni nilai spiritual (nilai rohani). Proses pencapaian nilai tersebut tentu saja didasari oleh sikap mendengarkan, penuh penghayatan sehingga apa yang dihadirkan dari musik tradisional ini dapat menyentuh perasaan hati yang paling dalam.

upaya mempertahankan dan memelihara musik gonrang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita sadari atau tidak, sangat mempengaruhi kebudayaan, bahkan hampir di semua aspek kebudayaan. Sebagai contoh, hadirnya alat musik keyboard serta alat musik elektronik lainnya sangat berpengaruh besar bagi musik gonrang. Posisi gonrang “digeser” oleh keyboard dan alat musik lainnya. Untuk acara-acara pesta misalnya, sekarang ini sangatlah jarang kita temukan yang memakai musik gonrang, terutama di daerah kota. Selain itu, pemain musik gonrang sudah semakin langka ditemukan, karena kaum muda sudah tidak tertarik lagi dengan alunan musik ini, apalagi untuk mempelajari cara untuk memainkannya. Hal ini sekaligus menjadi keprihatinan kita bersama.

Manusia tidak bisa tercabut dari akar budaya yang melatarbelakanginya. Tadi, kita telah melihat nilai-nilai yang terkandung dalam musik gonrang Simalungun yang merupakan ungkapan identitas masyarakat Simalungun, yang merupakan bagian dari Khazanah budaya nasional Indonesia. Tantangan besar bagi warga Simalungun, apakah kekayaan budaya ini masih dapat dipertahankan ke masa depan? menjadi tugas kita bersama, memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta menggali lagi nilai-nilai lain yang terkandung di dalamnya, serta mewariskannya kepada generasi berikut. Dulang si dua rupa,Goran ni bulung-bulung, Ulang ma hita lupa, Adat ni Simalungun. Semoga!

Penulis : Fr Bonifasius Harahap Saragih OGM Cap ,seorang Kapusin, tinggal di P. Siantar

Sumber : Harian SIB
badman007 - 12/11/2008 09:44 PM
#194

Quote:
Original Posted By hidupsehari
lae silalahi kalo besok2 ada yg macam2 ma lae di aji tur-tur aja..
oh yah suhu kalo engga salah Aji bor-bor juga ada ya..


wahhh serius om, kaya inul donk om Peace:...ngacir:
kompil1 - 14/11/2008 04:14 PM
#195

Quote:
Original Posted By KingDragon
Bah, sama kita lae ...........shakehand sama2 tidak bisa bahasa daerah.....\)Tapi nyang penting masih mengaku sebagai putra daerah Sumut...mo Batak, mo Simalungun, mo karo.........\)wowcantikyang penting Bhineka Tunggal Ika, Horas bah

horass

mantafff manompang dohot mambege,

salut buat kk kaskus
766HI - 15/11/2008 11:48 PM
#196

Quote:
Original Posted By suhu_omtatok
Aji Tur-tur merupakan santet yang biasanya si penderita akan merasa seperti Suga (tercucuk-cucuk) pada bagian kaki, hingga kemudian kaki maturtur (kaki terasa pecah, busuk dan meleleh berair)

kasian kali ya....


hmmm,,, Tersiksa bgt donk korbannya,,,

Mauliate penjelasannya Suhu,,,

[QUOTE=hidupsehari] lae silalahi kalo besok2 ada yg macam2 ma lae di aji tur-tur aja..

oh yah suhu kalo engga salah Aji bor-bor juga ada ya.. .[/QUOTE]

Waduhh Lae, Aq nga ngerti ttg hal beginian,,,
kompil1 - 17/11/2008 12:46 PM
#197

Quote:
Original Posted By Wangi77
Om Suhu, ikutan menyimak ya beer:

Mauliate

horass..

sepertinya yg banyak dibahas masih simalungun dan karo, suhu tambahain lg dong cerita sian muara.
salam kenal tu sude akka namringanan di forum on.

mauliate
kompil1 - 17/11/2008 01:33 PM
#198

Quote:
Original Posted By hidupsehari
WILAYAH Indonesia terdiri atas lingkungan-lingkungan etnik yang mempunyai adat dan kebiasaan beraneka ragam, berbeda satu dengan lain. Hal ini berlaku pula pada keberadaan kesenian Indonesia, utamanya seni pertunjukan.

Edi Sedyawati mengungkapkan, pada lingkungan-lingkungan etnik ini, adat dan kebiasaan menjadi sangat berperan bagi kelangsungan hidup seni pertunjukan. Demikian juga halnya seni pertunjukan yang berupa tari-tarian dengan iringan bunyi-bunyian, sering dianggap merupakan pengemban dari kekuatan-kekuatan magis yang diharapkan hadir, tetapi juga tidak jarang merupakan semata-mata tanda syukur atas terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu.

Beberapa seni pertunjukan tradisi di Indonesia pada akhirnya tidak lepas dari sifat religius manusia, maknanya berkaitan dengan system religi dan kepercayaan masyarakat setempat. Dengan kata lain, bahwa system religi dan kepercayaan menjadi bagian yang sangat hidup dalam seni pertunjukan. Hal ini bias dilihat pada kehidupan masyarakat Simalungun, masih ada salah satu seni pertunjukan yaitu tari Huda-huda Toping-toping dan ansamble musik gonrang yang keberadaannya sangat berkaitan erat dengan adat dan kebiasaan masyarakatnya yaitu dalam upacara kematian.

Namatei Sayur Matua
Kematian adalah salah satu siklus dari kehidupan manusia selain kelahiran, pubertas dan perkimpoian. Pada salah satu fase dalam siklus ini sering dilaksanakan upacara. Upacara tersebut dilakukan karena merupakan tahap-tahap penting dalam kehidupan manusia untuk diperingati. Peringatan upacara tersebut dinamakan upacara peralihan (rites of passage).

Di masyarakat Simalungun, seseorang yang meninggal dunia pada usia lanjut dan telah meninggalkan anak cucu, dilakukan upacara kematian yang disebut namatei sayur matua. Kematian pada usia lanjut tidak perlu lagi bersedih, namun merupakan satu kegembiraan, karena menjadi berkah. Ketika ada seorang warga Simalungun yang berusia lanjut meninggal di suatu perkampungan, mereka memahami seketika itu banyaknya kegiatan yang harus segera dilakukan oleh warga setempat sebagai persiapan menjelang dilangsungkannya upacara pemakaman. Jenazah yang bersangkutan diletakkan di tengah-tengah ruang keluarga yang kemudian segera dihadiri oleh para kerabat dan rekan.

Ensamble musik gonrang bolon dimainkan di dalam ataupun di luar rumah, namun pada tempat yang berdekatan dengan jenazah. Pernah terjadi suatu ketika untuk menghormati seorang wanita tua Simalungun, dilangsungkan berbagai kegiatan selama tiga hari tiga malam sebagai bentuk penyesuaian terhadap kehidupan masyarakat modern. Ansamble musik gonrang berhenti dimainkan pada saat mendekati tengah malam, meskipun menurut tradisi yang asli, musik ini dimainkan secara nonstop.

Mendekati senja hari setelah berlangsungnya upacara disertai dengan kata-kata sambutan, arak-arakan menuju lokasi penguburanpun mulai dilaksanakan dengan dipimpin oleh para pemain musik dan pengusung jenazah. Demikianlah seorang warga Simalungun dibaringkan ke peristirahatannya yang terakhir menurut tata cara yang digariskan oleh tradisi.



Upacara Kematian Untuk Raja
Pada saat seorang raja wafat, kematiannya harus disebarluaskan kepada rakyat dan berbagai persiapan harus segera dilaksanakan di istana. Jenazah raja dipersiapkan dan ditempatkan pada suatu anjungan di tengah-tengah suatu ruangan besar untuk diperlihatkan kepada khalayak, agar para rekan, kerabat serta kenalan yang hadir dapat menari di sekelilingnya.

Para pekerja (parhobas) mulai membangun usungan, sebuah tandu dari bambu yang digotong oleh limapuluh hingga tujuh puluh lima orang yang digunakan untuk menampung peti mati beserta jenazah raja. Untuk meletakkan peti mati ke atas tandu besar itu dibuatlah sebuah tangga panjang yang terbuat dari bambu.

Lembaran-lembaran kain putih (porsa) dibagikan kepada para anggota keluarga laki-laki dan pelayat yang lain sebagai tanda dukacita. Kain ini sebagian dililitkan pada kepala menyerupai sorban dan sebagian lagi diikatkan melingkari lengan. Alat-alat musik dibungkus dengan kain putih itu juga. Para penari dan pemain musik dipanggil menghadap ke istana. Para penari dengan pakaian-pakaian tertentu yang dipersiapkan untuk acara yang akan segera di mulai.

Setelah semuanya siap, ketiga fase upacara pemakaman seorang raja Simalungun dapat dilaksanakan (1) Kegiatan Huda-huda yang berpusat di halaman istana, (2) Mandingguri, acara disekitar peti mati yang dilakukan di dalam istana, (3) Manandur/manuan berbagai ritual yang terakhir di lokasi pemakaman. Ketiga fase itu dirancang guna memenuhi kebutuhan untuk memperlihatkan rasa hormat, pengungkapan rasa simpatik, dan kesedihan serta memberikan bantuan kepada mereka yang ditinggalkan

Mandingguri adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suara-suara kematian di daerah Simalungun. Lonceng kematian untuk menggambarkan sifat mandingguri sebagai bunyi ansemble musik gonrang di rumah seseorang yang meninggal dunia. Salah satu sumber bunyi pada saat berlangsungnya upacara pemakaman gaya Simalungun adalah dimainkannya ansambel musik gonrang. Ansambel musik gonrang ini memainkan musik bilamana terjadi peristiwa kematian.

Sumber : http://www.metrogaib.com/?liatdong=beritanya&newsid=211

beer: biar rame aja neh trit...


nice info
tambah trus gan
hidupsehari - 21/11/2008 09:23 PM
#199
Renungan Sejarah Bangsa Simalungun
Pengantar Ungkapan Simalungun mengatakan, “Ulang Lupa Bona!” Soekarno pernah berkata, “Jasmerah: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!” Sejarah memang suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, tanpa mengenal sejarah masa lampau, sulit melangkah ke masa depan. Demikian ungkapan orang-orang arif menyinggung perlunya sejarah sebagai guru dalam proses kehidupan manusia.

Dengan mengetahui sejarah, kita menghargai dan mengenal siapa dan dari mana serta mau ke mana kita melangkah selanjutnya. Dengan mengenal dan mengetahui sejarah bangsa kita “Simalungun”, kita ditegur dan diajar bagaimana menghargai para pendahulu dan melangkah ke depan menggapai masa depan Simalungun yang lebih baik.

Etnis atau Suku Bangsa Simalungun Ada orang Simalungun yang ngotot mengatakan kalau etnis Simalungun adalah orang yang di belakang namanya tertera embel-embel marga: Sinaga, Saragih, Damanik, Purba serta Sipayung yang dalam ungkapan sehari-hari disebut SISADAPUR palima Sipayung. Tetapi kenyataan di masyarakat Simalungun, banyak orang lain yang bukan berasal dari kelima marga itu yang justru lebih Simalungun ketimbang orang yang namanya diikuti oleh marga di atas. Di Simalungun Bawah, seperti di Tanah Jawa, Bandar dan Siantar hingga ke Asahan dan Labuhan Batu, ada banyak huta (kampung) yang penduduknya bukan berasal dari kelima marga di atas, tetapi dalam kesehariannya mereka memakai bahasa, adat dan pendeknya kultur Simalungun. Malahan karena begitu kentalnya hasimalungunon mereka, sampai-sampai justru orang di Raya dan Dologsilou yang mereka katakan bukan orang Simalungun.

Hal ini sebenarnya bukan hal yang baru yang harus diperdebatkan orang yang mengaku Simalungun, kalau kita baca apa yang telah diputuskan Seminar Kebudayaan Simalungun Indonesia Pertama di Pematangsiantar tahun 1964 yang dalam salah satu butir keputusannya menegaskan kalau yang dimaksud orang Simalungun adalah: “Orang yang beradat dan berbahasa dan ber”ahap” Simalungun. Itu berarti, siapa saja yang dalam kesehariannya menunjukkan ia orang Simalungun melalui bahasa, budaya dan kepeduliannya pada Simalungun, dialah yang disebut asli Simalungun. Ketimbang sebaliknya, mengaku Simalungun, bahkan kaum bangsawan Simalungun, tetapi dalam kesehariannya menunjukkan identitas yang bukan Simalungun.

Pengaruh Asing yang Mewarnai “Pluralisme” Simalungun Suku bangsa Simalungun menurut sejarah adalah keturunan Melayu Tua (Proto Malay) dari India Belakang yang menyebar ke daerah yang disebut sekarang Simalungun setelah mengalami proses transformasi, asimilasi dan integrasi dalam berbagai aspek dengan suku-suku bangsa lain yang bersentuhan dengan leluhur Simalungun. Dalam perkembangannya, leluhur Simalungun yang pertama itu setelah menetap di pantai timur berangsur-angsur berpindah ke pedalaman. Ini diakibatkan invasi bangsa-bangsa lain yang silih berganti datang mengadakan ekspansi ke daerah-daerah homeland (tanah air) Simalungun.

Demikianlah sehingga orang Simalungun sekarang ini ada yang mengaku nenek moyangnya berasal dari Pagarruyung di Sumatera Barat, Samosir di Tapanuli, Aceh, Pakpak dan Alas-Gayo, bahkan dari India dan Pulau Jawa. Jadi ke dalam lingkungan etnis Simalungun itu sudah membaur berbagai suku-suku bangsa yang sulit untuk diurai dan dirunut kembali hingga ke tahap permulaannya.

Kerajaan yang pertama di kenal orang Simalungun adalah Kerajaan Nagur (500-1886) dan Batangiou (500-1339). Menurut sebagian sejarawan, raja Nagur bermarga Damanik (bukan Manik) berasal dari Nagpur atau Nagore di India Selatan yang ahli bermain catur dan menunggang kuda. Pada masa kejayaannya di abad kelima, Nagur sudah melakukan hubungan dagang dengan Tiongkok sampai abad keduabelas. Catatan Tiongkok yang dikumpulkan oleh pakar sejarah W.P. Groeneveldt menyebut kalau dalam catatan Tiongkok Ying Yai Sheng Lan (1416), Nagur sudah berkali-kali disebut dengan sebutan “Nakur” atau “Nagore.” Dalam catatan Tiongkok itu disebut juga kalau raja Nagur pernah bertempur dengan Kerajaan Sumatra di Aceh dan mengalahkan Sumatra dengan terbunuhnya raja Sumatra oleh raja Nagur dengan hantaman pasukan panah beracun dan pasukan berkudanya. Diceritakan pula kalau permasuri raja Sumatra menuntut balas atas kematian suaminya, dan dengan satu sayembara, seorang nelayan berhasil membunuh raja Nagur dan kawin dengan janda raja Sumatra.

Invasi Kerajaan Hindu-Jawa, India dan Kesultanan Islam-Aceh Pada abad keduabelas dan kelimabelas, kerajaan Singasari (1295), Majapahit (1367), Chola di India dan Aceh (Juni 1539) berkali-kali menyerang Nagur, sehingga Nagur terpaksa harus memindahkan ibukota kerajaannya (pamatang ni Harajaan Nagur) untuk mengamankan pusat kerajaan dan mengkonsolidasikan pasukan perangnya menghadapi invasi asing ini. Demikianlah pamatang Kerajaan Nagur pernah eksis di Gayo-Alas sampai terakhir di Nagur Raja dekat Tebingtingi sekarang. Bukti bahwa di tempat ini pernah menjadi ibukota kerajaan Nagur dapat dibuktikan dengan peninggalan kerajaannya, sayangnya belum ada arkeolog atau sejarawan yang menaruh minat mengadakan penelitian yang lebih komprehensif dan serius mengungkap rantai sejarah nenek moyang Simalungun yang terputus sampai masa raja maroppat (1367-1906) dan raja marpitu (1907-1946) di Simalungun.

Pengepingan wilayah Nagur sejak masuknya kekuatan asing makin nyata dan memperoleh bentuknya sekitar abad kelimabelas. Banyak daerah-daerah taklukan Kerajaan Nagur yang melepaskan diri dari pusat (pamatang) dan kalau tidak bergabung dengan kerajaan-kerajaan Melayu, segera memposisikan dirinya menjadi kerajaan sendiri terlepas dari kekuasaan Nagur secara politik. Akan tetapi yang mengherankan, walaupun terpisah secara politik, ikatan budaya yang sama dari “induknya” Kerajaan Nagur rupanya menjadi perekat di antara Nagur dengan kerajaan-kerajaan “pecahan” Nagur kemudian. Demikianlah sehingga baik Kerajaan Silou, Panei, Batangiou (kemudian menjadi Tanah Jawa), Raya, Silimakuta, Purba (ketiganya bekas daerah Silou), dan Siantar tetap satu dalam ikatan budaya dan kekerabatan yang saling mengikat mereka dari sisi sosial budaya dan politik. Budaya yang sama yang mereka warisi dari Kerajaan Nagur itulah yang sekarang disebut budaya Simalungun yang menjadi ciri khas identitas masyarakat yang sekarang disebut suku bangsa Simalungun.

Di Bawah Kolonialisme Belanda Sesudah masuknya kolonialisme Belanda dan dimasukkannya daerah kerajaan-kerajaan Simalungun ke dalam tatanan adminitrasi pemerintahan Hindia Nederland melalui penandatanganan Perjanjian Pendek (Korte Verklaring) tahun 1907, resmilah nama Simalungun dipakai dalam surat-meyurat dan adminitrasi kolonial. Melalui Staatsblad No. 531 tahun 1906, nama Simalungun dikukuhkan sebagai nama resmi dalam Afdeeling Simeloengoen en Karolanden yang berpusat di Saribudolook dan kemudian berpindah ke Pematangsiantar dengan V.C.J Westenberg sebagai asisten residen yang pertama.

Resistensi dan Oposisi Simalungun atas Kolonialisme Masuknya Simalungun ke dalam wilayah kerajaan Hindia Nederland bukan tanpa resistensi dan oposisi. Raja-raja Simalungun bersama dengan rakyatnya bangkit berkali-kali menentang Belanda. Mulai dari “serangan fajar” Tuan Raimbang Sinaga tuan Dolog Panribuan yang menunggang-langgangkan pasukan Controleur Kroesen dan Baron de Raet di Aek Buluh di pagi hari tanggal 11 September 1891, sampai Tuan Rondahaim (1897-1891) di Raya yang karena perlawanannya yang cukup keras digelari pejabat kolonial Tichelman sebagai Napoleon van Bataks. Raja Siantar Tuan Sang Na Ualuh Damanik beserta dengan iparnya raja Panei Tuan Djontama Purba Dasuha ikut bahu-membahu mengobarkan perang diplomasi/politik melawan ambisi kolonialisme Belanda yang ingin memecah belah dan memisahkan sebagian wilayah Simalungun ke daerah sultan Deli yang merupakan sahabat terdekat Belanda. Raja Sang Na Ualuh yang dicap keras kepala dan Felle op Mohammedan (Islam yang Keras) oleh Belanda dengan tuduhan yang dicari-cari segera diasingkan ke Bengkalis pada 24 April 1906. Sementara itu iparnya raja Panei Tuan Djontama Poerba Dasoeha yang meprotes tindakan Belanda segera berangkat menghadap residen ke Medan pada 1901 dan meminta Belanda mengembalikan wilayah Kerajaan Panei : Dolog Batu Nanggar, Badjalinggei dan Dolog Merawan ke Panei yang dialihkan Belanda ke daerah kesultanan Deli melalui Padang Badagei, menerima perlakuan yang tidak baik. Begitu bertemu residen, ia ditahan dan meninggal dalam penjara. Sampai sekarang, tidak diketahui di mana kuburnya.

Politik Pecah-Belah Kolonialisme Belanda kemudian memecah belah Simalungun dengan mengadakan poses pembodohan atas Simalungun dengan menumbuh-suburkan praktek perjudian, Candu diberikan dengan dalih apresiasi kolonial untuk kesetiaan raja-raja pada aturan kolonialisme Belanda. Padahal sesungguhnya, Belanda berniat jahat; untuk menghancurkan Simalungun dengan program pembodohan atas golongan pemimpin elit-politik halak Simalungun. Akibatnya raja-raja lebih asyik menghayati kehidupannya sendiri dan kurang peduli dengan kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak yang sengaja diarahkan Belanda untuk kepentingan ekonomi kapitalisnya. Munculnya perkebunan-perkebunan swasta dan pemerintah sejak 1910 di saat Simalungun secara resmi dicanangkan sebagai bagian dari Daerah Perkebunan Sumatera Timur (Cultuurgebied Oostkust van Sumatra) [yang sahamnya sebagian besar dimiliki pengusaha perkebunan (ondernemingers) asing dari Eropa] dalam kenyataannya sedikit saja menyisakan keuntungannya bagi pembangunan dan kemajuan rakyat Simalungun dan itu pun hanya dinikmati raja-raja bersama orang-orang besar kerajaannya. Akibatnya makin bertumbuh dan melebar jurang pemisah yang nyaris tak terjembatani antara raja-raja dan elit politik Simalungun di satu pihak dan rakyat (paruma ni harajaan) di pihak yang lain. Alienasi bangsawan dan elit politik Simalungun dari rakyatnya makin hari makin melebar dan berbalik arah menghunjam kekuasaan “kaum feodal” dan sempurnanya berhasil menjungkalkan kekuasaan kaum feodal yang konon “pro Belanda” dalam aksi Revolusi Sosial tahun 1946.

Imigran Batak Toba dan Tobaisasi Masuknya imigran Batak Toba dari Tapanuli atas inisiatif dan dukungan finansial dan payung hukum Kolonial Belanda dan lambaga zending Jerman (RMG) yang secara spontan dan simultan “menjarah” tanah subur Simalungun Bawah, makin menyempurnakan proses marginalisasi orang Simalungun yang sudah dimulai pasca pasifikasi kolonial 1907. Dampaknya banyak orang Simalungun yang kurang agresif dan “garang” ketimbang imigran Batak Toba itu terpaksa harus mengalah dan mundur ke pedalaman di Simalungun Atas. Dengan arogannya pendatang Batak Toba itu yang merasa dirinya lebih tinggi derajadnya ketimbang raja-raja Simalungun dengan alasan bernada semangat “triumfalistik” produk kolonial dan zending merasakan kalau raja-raja Simalungun yang menjadi zelfbestuur (penguasa swapraja) nota bene sipelebegu dan Silom (Islam) tidak patut memerintah mereka yang lebih superior dan beradab. Dengan alasan itu pula, mereka terang-terangan memaksa Belanda menempatkan pemimpin tersendiri untuk orang Batak Toba seperti halnya orang China dan Timur Asing yang bermigrasi ke Simalungun. Karena itu Belanda atas nama kepentingan politik Hindia Nederland segera pula memenuhi permintaannya dan mengangkat bekas pegawai raja Purba bernama Guru Andreas Simangunsong sebagai “jaihutan” (raja kecil buat orang Toba) pada 1917 untuk memimpin mereka. Sikap “tak tau diri” pendatang orang Toba ini, sangat menggusarkan perasan raja-raja Simalungun. Dengan suara bulat kaum aristokrat menyuarakan protes mereka atas pengangkangan kaum imigran ini atas realitas politik posisi raja-raja Simalungun yang diakui secara de jure dan de facto oleh Belanda sebagai zelfbestuurende landschappen di Onderafdeeling Simeloengoen. Protes mereka atas “previlege” yang diterapkan Belanda atas kaum pendatang dari Tapanuli ini akhirnya mendapat respon dari Asistent Resident Ter Haar, sehingga pada tahun 1920 jabatan itu dihapus dan banyak pegawai-pegawai Batak Toba yang kemudian diberhentikan pemerintah Belanda atas desakan raja-raja dan digantikan pejabat-pejabat orang Simalungun. Ini rupanya menimbulkan perasaan tidak puas dari pihak orang Batak Toba. Dengan pewartaan yang mereka buat di surat-surat kabar lokal, mereka menyuarakan protes dan mengerahkan banyak massa di Tapanuli mendemo keputusan “rasialis” Belanda di Tano Timur.

Perjuangan Pdt. J. Wismar Saragih dan Tokoh-tokoh Simalungun Akan tetapi proses Tobaisasi terus dipertahankan di Simalungun, khususnya dalam kegiatan gerejawi. Orang Simalungun yang sudah beragam Kristen dimasukkan ke HKBP dan memaksa mereka untuk memakai bahasa dan adat Toba, sehingga menimbulkan perlawnaan dari pendeta Simalungun pertama Pdt. J. Wismar Saragih. Bersama dengan kawan-kawannya seperjuangan, mereka meretas kebuntuan perjuangan orang Simalungun dengan mendirikan Lembaga Bahasa dan kebudayaan Simalungun yang mereka sebut Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen pada tahun 1928. Diterbitkan juga banyak buku yang mengupas berbagai topik dan akar penyebab ketertinggalan suku bangsa Simalungun dan sekalian mengarahkan orang Simalungun ke arah kemajuan (social progress) di segala bidang, seperti pemerintahan, pertanian, rumahtangga dan keluarga maupun kehidupan religius orang Simalungun. Pdt. J. Wismar, Djaoedin Saragih, Guru Djason Saragih dan kawan-kawan dengan tanpa pamrih dan jemu-jemunya berani bersikap menerobos arogansi Gereja Batak Toba yang mengecilkan peranan orang Simalungun dalam partisipasi aktifnya di HKBP. Sukses Pdt. J. Wismar dicatat dengan pengakuan HKBP atas kemandirian Gereja Simalungun dalam HKBP Simalungun (1952) setelah sebelumnya menjadi Distrik Simalungun tahun 1940 dan GKPS sejak 1 September 1963. Perjuangan itu tercapai dengan kerjasama yang kompak antara pejabat-pejabat Gereja Simalungun dengan pejabat-pejabat pemerintah yang kebetulan warga Simalungun, seperti Tuan Madja Purba, Tuan Djariaman Damanik, Haji Ulakma Sinaga, T.S. Mardjans Saragih dan lain-lain.

Revolusi Sosial Puncak kebencian rakyat Simalungun produk proses alienasi bertahun-tahun yang dilakukan kolonial Belanda dan provokasi aktif dari pihak-pihak di luar Simalungun yang punya beragam kepentingan dan akses politik di Simalungun pecah dengan serangkaian aksi vandalisme dan barbarisme yang disebut Revolusi Sosial pada tanggal 3 Maret 1946-1947. Kaum bangsawan (parbapaan, partongah dan partuanan) dan elit-politik Simalungun dituduh publik sebagai antek kolonial dan cenderung pendukung separatisme, yang “halal” untuk dilenyapkan dari permukaan bumi. Satu persatu raja-raja dan golongan bangsawan serta intelektual Simalungun diciduk kalau bukan diculik dari istananya dan dibunuh dengan sadis di tempat-tempat umum yang dapat disalksikan oleh rakyat banyak untuk mendemonstrasikan pembalasan dendam kaum marginal atas kaum feodal selama kejayaannya. Penjarahan atas harta benda milik kerajaan, pemerkosaan dan pembunhan marak di mana-mana di seluruh Sumatera Timur, banyak istana raja-raja dan sultan serta sibayak yang dibakar dan keluargannya dicerai-beraikan oleh perusuh. “Pameran” atas keberhasilan kaum “proletar” menumbangkan kaum “borjuis” diperankan di seluruh Sumatera Tiimur (Simalungun, Melayu dan Karo). Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Poerba Dasoeha beserta sanak saudaranya dibunuh dengan sadis di Sibuttuon, pemangku raja Raya Tuan Djaoelan Kadoek Saragih Garingging diciduk paksa dari keramaian pesta di Manak Raya dan disembelih di jembatan Bah Huta Iling di perbatasan Kerajaan Panei dan Raya. Raja Silimakuta Tuan Padiraja Girsang yang jelas-jelas pro Republik tidak luput dari pembunuhan, demikian pula dengan Tuan Mogang Purba Pakpak raja Purba. Deretan korban revolusi makin panjang, tuan Dologsaribu Tuan Djademan Saragih Garingging harus menerima nasib yang sama seperti tondong-nya raja Panei. Sementara itu, pada April 1947 pembunuhan masih berlanjut, orang-orang yang mengaku nasionalis dan pro Republik menyeret Tuan Hormajawa Sinaga anak tuan Dolog Panribuan dari rumahnya dan mayatnya setelah dibunuh konon dicincang dan dicampur-baurkan dengan daging kerbau untuk santapan laskar rakyat yang berpesta pora merayakan kemenangan orang “kecil” atas orang-orang “besar” kerajaan. Ya, sekali lagi atas nama demokrasi, orang membungkam suara halus hati nurani dan mengabaikan nilai-nilai agama dengan tanpa perasaan bersalah melakukan serangkaian tindakan pembunuhan bahkan kanibalisme demi sesuatu yang dinamakan cita-cita dan ideologi.

Menyikapi “semaraknya” Revolusi Sosial itu ada pakar yang “sedikit mentoleransinya” dengan menyebutnya sebagai tindakan “sadis” yang “terpaksa” dilakukan para barisan sakit hati dan korban-korban arogansi kekuasaan raja-raja dan golongan elit Sumatera Timur [baca: Simalungun] yang konon dimanja oleh Belanda selama masa kolonial. Siapa pelaku Revolusi? Ada yang menyebut pelakunya adalah sekelompok laskar rakyat yang kurang berpendidikan yang teragitasi dan terprovokasi slogan-slogan menggugat pemarginalisasian kaum feodal atas kelompok rakyat kerajaan yang terkondisi untuk miskin dan terbelakang dari para “petualang-petualang” politik yang konon dialamatkan kepada organisasi politik yang namanya PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan arahan Bupati Urbanus Pardede dan eksekutor lapangan Komandan Barisan Harimau Liar (BHL) yang dilatih Inoue seorang Jepang, yakni Anggaraim Elias Saragih Turnip anak partuanan Tigaras di wilayah Kerajaan Panei.

Konyolnya lagi, para pelaku revolusi apakah karena kurang cerdas atau memang tolol; tega-tegannya pula membunuh dokter pertama suku bangsa Simalungun dr. Djasamen Saragih Sumbajak (putera pangulubalei Djaoedin Saragih) yang tidak ada hubungan dengan kaum “feodal”, hanya disebabkan di pil yang dipakai dokter Simalungun pertama ini tertera tulisan “MB” yang segera dimengerti secara salah sebagai singkatan dari Militer Belanda.

Manaili hu Pudi, Mangkawah hu Lobei Sungguh banyak dan terlalu banyak memang kerugian yang diterima dan dialami orang Simalungun sampai sekarang ini, akibat Revolusi Sosial. Bayangkan saja, setelah Kebangkitan Nasionalisme Lokal Etnis Simalungun mati-matian diperjuangkan petinggi Simalungun sejak tahun 1928 dengan motor Comite Na Ra Marpodah Simaloengoen. Upaya kerja keras pencerahan yang seharusnya sudah dipetik orang Simalungun dalam kontribusi dan partisipasi aktifnya dalam pembangunan nasional Republik Indonesia, kandas sampai ke tahap paling dasar. Aksi Revolusi Sosial yang terkesan lebih kental dengan warna balas dendam dan ketidakpuasan pihak-pihak tertentu terhadap kekuasaan raja-raja sudah menyumbang pada proses kehancuran eksistensi etnis Simalungun. Imbasnya bermuara pula pada timbulnya kegamangan identitas etnis yang namanya Simalungun, dan makin merajalelanya dan bertumbuh subur di kalangan generasi muda dan orang Simalungun yang jauh dari lingkungan asali kultur identitas hasimalungunon di Tanah Simalungun, secara perlahan tetapi pasti pada proses desimalunngunisasi. Mengapa ? Sebab mereka tidak melihat figur yang dapat dibanggakan dan terlegitimasi di antara setumpuk realitas “pluralisme” Simalungun. Figur tokoh Siumalungun yang diakui oleh lintas marga, agama, teritorial dan kepentingan di Simalungun yang dirasakan dapat mewujudkan representasi sukubangsanya di tengah-tengah percaturan dan pergulatan sosial-politik regional, nasional dan internasional. Orang Simalungun tetap meraba-raba dan mencari terus jati dirinya hingga ke ruang publik yang bernama politik. Kegamangan akibat krisis jati diri itu jelas terlihat menyolok ketika timbul pertanyaan, “Siapakah yang patut mewakili saya sebagai representasi suku bangsa Simalungun di negeri ini, mulai yang patut mewakili orang Simalungun di huta-nya Simalungun, entah sebagai tokoh Simalungun yang kredibel dan acceptable di lembaga-lembaga legislatif, judikatif atau eksekutif. Mulai dari jenjang, lokal (urung, nagori, kecamatan, kabupaten/kotamadya di Siantar-Simalungun) sampai ke provinsi, nasional dan mungkin adatua ke cakupan [yang mungkin tak terjangkau pikiran logis sederhana orang Simalungun] di kancah internasional?”

Sangat tepat apa yang dikatakan oleh R. William Liddle, bahwa pada dasarnya krisis representasi akan tetap menghantui dan menyertai kehidupan sosial politik orang Simalungun dengan latar belakang sejarahnya yang kelam dan “unik” di antara perjuangannya menuju kursi “decision maker” di ruang-ruang publik strtegis di Republik ini. Dan ini sudah dibuktikan dengan tergususrnya Kurpan Sinaga dari DPR yang seharusnya menjadi perwakilan orang Simalungun dan goncangan yang dihadapi orang Simalungun dalam perjuangannya menempati posisi strategis di pemerintahan dan parlemen. Lihat saja kasus pemilihan Bupati Simalungun yang walau suara Simalungun getol memperjuangkan “maningon halak Simalungun”, nyatanya kandas sekandas-kandasnya. Bukan figur Simalungun yang diimpikan halak Simalungun yang memenuhi rasa keadilan publik halak Simalungun yang terpilih, tetapi justru tokoh yang sejak awal sudah diwarnai gugatan dan kontroversi atas kredibilitas, moralitas dan acceptabilitasnya [yang jauh-jauh hari oleh publik Simalungun sudah digugat dan diminta untuk dianulir]. Kenyataannya, justru tokoh kontroversial ini yang keluar dengan gemilang sebagai pemenang dan dinobatkan sebagai partongah Simalungun lima tahun ke depan. Sungguh menyakitkan dan mempecundangi eksistensi halak Simalungun. Buntutnya sudah dapat ditebak, suara halak Simalungun yang menuntut perbaikan atas “kealpaan” pendahulunya [yang konon juga (meski katanya asli orang Simalungun) tidak berbuat banyak memenuhi harapan orang Simalungun] semakin terabaikan, dan jeritan orang Simalungun di huta-huta atas jalan rusak dan pembangunan yang menyangkut kebutuhan primer publik tak didengar, yang kesemuanya ini, rasanya sangat mempermalukan dan menyakitkan perasaan halak Simalungun; jangankan di tingkat nasional dan provinsi; di tingkat lokal saja, yakni di Siantar-Simalungun yang jelas-jelas adalah homeland etnis Simalungun, sulit mendudukkan kader Simalungun sebagai godfather dan decision maker di Simalungun seperti ditunjukkan pengalaman suksesi beberapa tahun yang lalu.

Belajar pada Realitas Keseluruhan fenomena realitas sejarah orang Simalungun ini, bagaimanapun sunguh-sungguh mengajar dan mengajak seluruh komponen bangsa Simalungun untuk marruji-ruji (introspeksi diri) dan bila perlu memvonis dirinya sendiri sebagai penyebab mandeknya proses regenerasi dan upaya juang orang Simalungun memperjuangkan pengakuan publik yang lebih luas atas hak-hak orang Simalungun sebagai bagian yang sah di negeri ini yang sepatutya diberikan kesempatan dan peluang memerintah dan mengatur rumahnya sendiri paling tidak di Siantar-Simalungun. Kegagalan ini juga mengajak seluruh komponen Simalungun “berkaca pada kesalahannya sendiri” untuk tidak saling menyalahkan dan balik menuduh apalagi mengkabing hitamkan pihak lain. Mari, seluruh komponen bangsa Simalungun, belajarlah lebih dulu pada kekompakan dan solidaritas etnis tetangga kita yang lebih solid, seperti suku bangsa Batak Toba dan Karo misalnya; yang tanpa malu-malu berani tampil eksis dan diperhitungkan dalam upaya perjuangannya “merebut” posisi-posisi penting di segala bidang ruang-ruang publik di Republik ini. Dan satu lagi yang layak membuat kita malu dan salut atas kekompakan dan solidaritas dan militansi-idealisme kesukuan mereka yang teguh kepada kepentingan etnisitas publiknya [meski ada tuduhan nepotisme]. Ingat juga bahwa suku bangsa Karo, dan Tapanuli sudah terbukti bukan hanya “jago di kandang sendiri” tetapi juga berani tampil beda di “kandang orang lain.

Nah, ini suatu pelajaran yang sangat berharga bagi seluruh komponen bangsa Simalungun, secara khusus pada peminat dan pengincar kursi empuk di parlemen dan pemerintahan, apalagi dengan makin dekatnya perhelatan akbar Pemilu 2004 dan suksesi Bupati Simalungun 2005. Heja, siapkan Uang, Lobi dan Relasi serta Support yang luas dari grass root dan tentunya restu dari “Yang Ilahi” untuk meraih kursi-kursi “empuk” yang sudah tersedia. Mari rapatkan barisan seluruh bangsa Simalungun, “Maningon hita do Hasuhuton Bolon i Rumah ampa Talunta Simalungun na Jotih na Laingan on.” Horas, Merdeka !

Oleh Juandaha Raya Purba Dasuha
Jakarta, 17 Juni 2003
hidupsehari - 25/11/2008 11:12 AM
#200

sup: sup:
Page 10 of 63 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Budaya]:"Rumpun B A T A K"##