Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Budaya]:"Rumpun B A T A K"##
Total Views: 59958 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 7 of 63 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›

suhu_omtatok - 06/08/2008 01:35 AM
#121

Quote:
Original Posted By kisawung
I`m so speechless for advanced information..

more thumbup for my brother SuhuOmtatok thumbup: shakehand

note:
saat ini SuhuOmtatok ialah ketua FKPPAI cabang Medan Sumut
(Forum Komunikasi Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia)

## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##

Ki Sawung justru the best buat saya.
Jarang kita temukan paranormal yang berwawasan seperti Ki Sawung.
Diantara alasan saya intrest pada forum ini, karena adanya sosok Ki Sawung

Bravo Laeku na marsahala, martondi dohot namartuah...Lae Siregar thumbup: shakehand
wiltom83 - 06/08/2008 09:53 AM
#122

Horas lawei dan sanina nasiam haganupan

Saya sekarang banyak mendapatkan halak simalungun yang bermarga saragih diluar saragih sumbayak,garingging,dasalak dan jawak yang menggunakan tulisan marga "Saragih" bukan "Saragi",apakah ini bisa digunakan?

Maaf saya bukannya melarang pemakaian "Saragih" namun hanya bertanya...mohon bantu dijelaskan...

Diatei Tupa ma
hidupsehari - 07/08/2008 10:13 AM
#123

Prosesi Dayo Binatur

1 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
2 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
3 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
4 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
5 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
6 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
7 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
8 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
9 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
10## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
11## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
hidupsehari - 07/08/2008 10:32 AM
#124

Untuk minuman nya engga bisa asal minum air,harus minum air nira ( tuak )
yang bahasa simalungun nya aek sorba jadi,biar segala apa yg di kerja kan bisa jadi,
seperti yang di bilang suhu_omtatok engga semua marga bisa pake bunga kembang sepatu ( bunga raya )
kebetulan kami marga girsang dan bunga raya wajib kami pakai tuk acara tsb
wiltom83 - 07/08/2008 01:51 PM
#125

Quote:
Original Posted By hidupsehari
Prosesi Dayo Binatur

1 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
2 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
3 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
4 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
5 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
6 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
7 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
8 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
9 ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
10## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
11## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##


Mantap sanina....
Hidup Halak Simalungun
wiltom83 - 07/08/2008 03:11 PM
#126

Quote:
Original Posted By hidupsehari
Untuk minuman nya engga bisa asal minum air,harus minum air nira ( tuak )
yang bahasa simalungun nya aek sorba jadi,biar segala apa yg di kerja kan bisa jadi,
seperti yang di bilang suhu_omtatok engga semua marga bisa pake bunga kembang sepatu ( bunga raya )
kebetulan kami marga girsang dan bunga raya wajib kami pakai tuk acara tsb


Sanina...
Saya ada baca artikel dan saya lalu coba tanyakan ke Mertua saya di Saribudolok sana...katanya antara Girsang yang Silimakuta dengan Purba Girsang yang di Dolog Silou adalah berbeda...Girsang yang di Silimakuta dan pernah menjadi raja di Silimakuta adalah Girsang dari Pakpak bahkan mrk membangun tugu marga mrk di Pakpak dan Girsang ini tidak ada hub dengan Purba Toga Simamora melainkan cabang dari Toga Sihombing..

Saya jd bingung dengan info ini,tp mmg sih ketika saya dimargakan di Saribudolok sana,mrk mewanti-wanti saya agar tetap memakai marga Girsang tanpa pakai embel-embel Purba di depannya..

Mohon yang tahu ttg info ini untuk bantu jelaskan lebih detail ya...

Diatei tupa ma..
hidupsehari - 07/08/2008 08:20 PM
#127

Udah lah sanina engga usah bingung,emang kalo udah girsang, girsang aja engga usah di pake purba nya.. tapi kita tetap satu rumpun dengan purba yang ada di simalungun,masalah kita asal nya dari toga sihombing saya juga kurang paham.. yang saya tau oppung parulutop2 ( Datu Raja Parulas ) itu dtang nya dri lehu ( pak-pak ) dan sampai ke silimakuta dan sampai juga ke perdagangan dia merantau dan akhir nya di meninggal juga di perdagangan yg kunon kata nya di masuk ke dalam sebuah pohon kayu ,kayu tualang nama nya

girsang sendiri pun terbagi dari 5 yaitu
girsang jabu bolon
girsang na godang
girsang rumah parik
girsang bona gondang
girsang parhara

dari 5 ini masih ada turunannya sampe 10
girsang pa neat hambing
girsang silangit
girsang rumah horbo
girsang rumah jojong
girsang rumah gorga
dll saya lupa maap

Pantangan2 marga girsang
1 engga bisa makan rusa
karena dulu nya nenek moyang kita tuh di asuh ma rusa karena orang tua nya meninggal sebelum dia lahir red menurut cerita
2 horbo si jagat ( kerbau bule )
konon kata nya kerbau ini banyak membantu oppung kita
jadi kalo ada marga girsang yang makan rusa berarti dia bukan girsang asli

untuk sanina wiltom di angkat jadi girsang apa..??
biasa nya di silima kuta marga girsang jabu bolon lah yang menjadi tuan/parbapaan/partongah/raja di silimakuta
dan marga girsang na godang..
biasa nya girsang na godang banyak di dapati di si turi2 dan sippan juga di bage.
jadi di silimakuta tuan anggi adalah girsang na godang

Kalo saya sendiri adalah girsang jabu bolon.
maka nya oppung saya lah dulu yang bka kampung di dolok mariah sampe ke bage sampe ke huta im baru atau biasa di sebut orang ujung saribu dan sampe juga ke daerah deli serdang atw galang maka nya di sana pun ada nama kampung dolog mariah jahe, jadi oppung saya lah dulu nya yang menguasai semua daerah2 itu dan dia di juluki juga dulu nya raja urung bage,tapi masih tunduk di bawah kekuasaan raja silimakuta yang ada di naga saribu.
untuk semua girsang yang ada di silimakuta khusus nya girsang jabu bolon kami lah yang paling tua.. semua girsang2 yang ada di silimakuta masih manggil abang ke kami ( girsang dari dolog mariah )
wiltom83 - 07/08/2008 08:32 PM
#128

Horas Sanina...

Saya ketika dimargakan hanya dibilang bahwa mulai saat itu (27 Januari 2008) maka saya mempunyai marga simalungun yaitu Girsang Dolok Paribuan..oleh abang saya dia hanya mengatakan bahwa kampung kita itu di Dolok Paribuan,saya tahu Dolok Paribuan adalah nama kampung dan di sana ada sekitar 25 Keluarga Marga Girsang juga..namun cabang2 yang sanina bilang itu ga disebutkan...

Btw Terima kasih banget nih sanina sudah bantu jelaskan..maklum saya khan baru dimargakan ke Girsang sekitar 7bulanan..tp saya senang,antusias dan bangga dengan marga baru saya ini.Sehingga saya selalu ingin mempelajari ttg budaya dan marga-marga halak simalungun..

Soal rusa,saya ga bisa makan lagi koq..habisnya asam urat sih hehehe...

Diatei tupa ma..
suhu_omtatok - 11/08/2008 02:14 AM
#129

PANGDAM (PANGHULU DAMAK), alm. Tamba Tua Saragih. di Dusun Damak, Desa Sondi Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun.
## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
suhu_omtatok - 11/08/2008 02:35 AM
#130

NDILO WARI UDAN, sebuah ritual memanggil hujan oleh suku Karo. Hingga kini ritual ini masih dilaksanakan.“Ndilo Wari Udan” (Memanggil Turunnya Hujan), pelaksanaan ritualnya, yaitu penduduk membuat sesajen, memukul gendang tradisionil Karo, menari bersama dan saling siram menyiram air antara penduduk. Di Kecamatan Tigabinanga, Juhar dan Munte, ritual “Ndilo Wari Udan” tersebut dilaksanakan selama beberapa hari sampai hujan turun.
suhu_omtatok - 22/08/2008 06:16 PM
#131

Kosmologi Masyarakat Batak

Oleh Kanaga Saba

Antara berpuluh-puluh suku kaum bangsa Melayu di Nusantara, masyarakat Batak adalah yang paling unik dengan sejarah budaya dan agama yang melingkarinya. Keunikan ini bukan sahaja kerana masyarakat Batak disinonimkan sebagai ‘masyarakat Kanibal’ tetapi kerana masyarakat Batak mempunyai budaya dan tamadun yang tinggi disebalik amalan kanibalistik.

Tradisi masyarakat Batak di Nusantara mempunyai sejarah yang lama, menjangkau jauh sehingga lebih kurang 300 SM hingga 600 SM, bertumpu di Sumatra, Indonesia. Pada peringkat awal (abad pertama) Sumatra di kenali sebagai Swarnabumi (bumi emas) oleh pedagang India - sejajar dengan penjumpaan emas di sini.

Minat pedagang India terhadap emas menyebabkan pedagang-pedagang ini berbaik-baik dengan masyarakat pribumi - Batak. Dari semasa kesemasa, adat dan budaya pedagang India dihamparkan kepada masyarakat Batak yang menerimanya dengan mudah. Dalam sedikit masa, budaya masyarakat Batak banyak meresap budaya dan adat Hindu.

Sehingga kini masyarakat Batak paling banyak terdapat di Sumatra, terutamanya di kawasan Tapanuli. Disamping Sumatra masyarakat Batak juga menghuni kawasan-kawasan lain Nusantara, terutamanya Pulau Jawa dan kepulauan lain Indonesia, Semenanjung Malaysia, Singapura, Sabah, Sarawak, Brunei, Filipina, Sulawesi dan sebagainya.

Pola pergerakan masyarakat Batak dari Sumatra ke kawasan-kawasan lain di Nusantara dipengaruhi oleh dua faktor. Pertamanya, kedatangan penjajah barat ke Nusantara pada abad ke-17 dan keduanya, ‘adat merantau’ yang merupakan sebahagian daripada budaya masyarakat Batak.

Sebagai konsekuen penjajahan, sebilangan masyarakat Batak menjadi hamba abdi yang dijual dalam pasaran. Pada abad ke 19, penjualan hamba Batak adalah ghalib di Sumatra dan Nusantara umumnya. Lebih kurang 300 hingga 600 hamba Batak dijual di Singapura dan Pulau Pinang setiap tahun oleh Inggeris. Apa yang menarik ialah hamba-hamba Batak ini dijual oleh masyarakat Batak sendiri kepada Inggeris di Sumatra yang kemudiannya dijual di tempat-tempat lain.

Hasil daripada proses migrasi hamba Batak, berkembanglah populasi Batak di Malaysia, terutamanya di kawasan Utara Semenanjung Malaysia. Diskripsi fizikal masyarakat Batak yang gelap, berbadan tegap dan berambut kerinting dapat dikesan di Utara Semenanjung sehingga kini.

Namun dari segi keagamaan dan kepercayaan, masyarakat Batak di Malaysia sudah terpisah sama sekali daripada ikatan adat dan kepercayaan masyarakat Batak di Sumatra yang masih bersifat animistik dan Javaistik. Superioriti ‘adat’ digantikan dengan ‘agama Islam’ bagi masyarakat Batak di Malaysia.
Natijahnya, corak hidup dan pemikiran masyarakat Batak di Malaysia, baik di Pulau Pinang, Perak, Pahang mahupun Kelantan tidak lagi merefleks budaya dan adat masyarakat Batak asal dari Sumatra.

Kajian ini menumpu kepada gambaran kosmologi Batak Sumatra, sebagai representatif masyarakat Batak Nusantara. Kosmologi masyarakat Batak di Malaysia adalah tidak lain daripada kosmologi Islam.

Berbalik kepada perkembangan budaya Batak. Menurut Edwin M. Loeb dalam bukunya ‘Sumatra : Its History and People’, masyarakat Batak mewarisi tradisi yang berupa adunan budaya setempat dengan agama-agama besar dunia yang merebak ke kawasan ini sejak abad pertama lagi. Hinduisme, Buddhisme, Islam, Kristianiti dan Taoisme, semuanya sampai ke Sumatra dahulu sebelum merebak ke tempat-tempat lain di Indonesia dan kepulauan Melayu yang lain.

Kehadiran budaya Hindu pada persekitaran abad pertama disusuli dengan kedatangan agama Buddha yang bersinskrit dengan agama Hindu dan kepercayaan lokal. Kemasukan Islam pada persekitaran abad ke 8 hingga 13 makin merencahkan lagi agama masyarakat Batak dan Sumatra umumnya, yang sudah
sedia bersinskrit dengan unsur-unsur lokal, Hinduisme dan Buddhoisme. Hasilnya, lahirlah ‘adat’, fenomena yang penting dalam kehidupan masyarakat Batak berbanding epistomologi agama.

Adalah tidak keterlaluan untuk dinyatakan bahawa masyarakat Batak secara umumnya memperolehi hampir kesemua fahaman spiritualnya dari India, terutamanya Hinduisme. Fahaman Hindu- Batak (pengadunan Hinduisme dengan kepercayaan lokal) kemudiannya merebak ke tempat-tempat lain di Indoensia.

Kata Loeb, antara beberapa elemen Hindu yang terdapat dalam kepercayaan Batak ialah idea ‘Pencipta’ dan ‘ciptaan’, stratifikasi syurga (langit), kebangkitan syurga (langit), nasib atau kedudukan roh selepas seseorang meninggal dunia, pengorbanan binatang, dan shamanisme (trans atau rasuk) sebenar-benarnya.

Fahaman keagamaan masyarakat Batak dapat dibahagikan kepada 3 bahagian: Kosmologi dan kosmogoni - dunia Tuhan (kedewaan) Konsep penduduk asal tentang roh. Kepercayaan tentang hantu, iblis dan nenek moyang.

Stratifikasi fahaman agama seperti di atas mirip kepada salah satu daripada fahaman Hindu. Orang Batak membahagikan kosmologinya kepada 3 bahagian. Bahagian atas adalah tempat bagi Tuhan dan Dewa. Bahagian tengah (dunia) untuk manusia dan bahagian bawah (bawah bumi) untuk yang mereka yang telah
mati - hantu, syaitan, iblis dan sebagainya.

Masyarakat Batak mempercayai kewujudan banyak Tuhan. Tuhan yang paling besar atau tertinggi kedudukannya ialah ‘Mula djadi na bolon’ - permulaan awal dan maha, atau ‘dia yang mempunyai permulaan dalam diriNya’. Konsep ini mempunyai persamaan dengan konsep ‘Brahman’ atau kala purusha Hindu.

‘Mula djadi na bolon’ berbentuk personal bagi masyarakat Batak dan tinggal di syurga yang tertinggi. Ia juga dihadiri oleh atribut-atribut ‘maha kebal’(immortality) dan ‘maha kuasa’ (omnipotence), justeru berupa pencipta segala-galanya dalam alam termasuk Tuhan. Dalam kata lain Mula djadi na
bolon hadir dalam segala ciptaan.

Bersama-sama konsep Mula djadi na bolon - Tuhan Yang Maha Besar, masyarakat Batak secara pragmatiknya akrab dengan konsep Debata na tolu (Tiga Tuhan) atau apa yang dipanggil Tri-Murti atau Trinity dalam kosmologi Hindu.

Tiga prinsipal yang mewakili Debata na tolu ialah Batara Guru, Soripata dan Mangalabulan. Batara Guru disamakan dengan Mahadewa (Shiva) manakala Soripata disamakan dengan Maha Vishnu. Hanya Mangalabulan mempunyai sejarah kelahiran yang agak kabur dan tidak memperlihatkan persamaan dengan
imej-imej kosmologi Hindu.

Antara tiga pinsipal ini, Batara Guru mempunyai kedudukan yang tinggi dan utama dikalangan masyarakat Batak, kerana sifatNya sebagai pencipta dan pada masa yang sama, hero kebudayaan yang mengajar kesenian dan adat kepada masyarakat Utara Sumatra ini.

Mangalabulan sebaliknya adalah prinsipal yang agak kompleks kerana disebalik merahmati dan menunaikan kebaikan dan kebajikan, Mangalabulan juga melakukan kejahatan atas permintaan, lantas menjadi Tuhan pujaan dan penaung bagi perompak dan pencuri - penjenayah secara umumnya.

Disamping tiga prinsipal utama ini - Debata na tolu, masyarakat Batak juga mempunyai banyak debata atau Tuhan yang lebih rendah stratifikasinya, misalnya debata idup (Tuhan Rumah), boraspati ni tano (spirit bumi/tanah) dan boru saniang naga (spirit air), Radja moget pinajungan (penjaga pintu
syurga), Radja Guru (menangkap roh manusia) - tugasnya sama seperti malaikat Izarail dalam epistomologi Islam atau Yama dalam Hinduisme.

Debata adalah derivasi Sanskrit, deivatha. Dalam epistomologi Batak, debata mewakili Tuhan.

Masyarakat Batak, seperti masyarakat Hindu, menerima kehidupan dalam nada dualiti. Kebaikan dan kejahatan saling wujud dalam kehidupan, dengan kebaikan menjadi buruan ultimat manusia.

Prinsipal jahat bagi masyarakat Batak ialah Naga Padoha, prinsipal yang terdapat pada aras paling bawah dalam hieraki tiga alam - iaitu di bawah bumi. Bersama-sama Naga Padoha ialah cerita bagaimana anak Batara Guru, Baro deak pordjar yang enggan mengadakan hubungan dengan Mangalabulan di langit, turun ke lautan primodial (sebelum bumi dicipta). Apabila Batara Guru mengetahui insiden ini, dia menghantar segenggam tanah melalui burung layang-layang yang diletakkan pada lautan primodial. Hasilnya terjadilah bumi. Kemudian, dicipta pula tumbuhan, binatang dan haiwan. Hasil daripada hubungan anak Batara Guru dengan seorang hero dari langit (dihantar oleh Batara Guru) lahir generasi manusia.

Naga Padaho yang asalnya berkedudukan di lautan primodial telah disempitkan kedudukannya kerana pembentukkan dan perkembangan bumi dari semasa ke semasa. Kerana kesempitan ini, setiap pergerakkan Naga Padaho mengakibatkan gempa bumi. Mitologi ini selari dengan konsep fatalistik Batak bahawa dunia
akan hancur pada satu masa nanti, apabila Naga Padaho berjaya membebaskan diri daripada himpitan Batara Guru.

Lee Khoon Choy, dalam bukunya Indonesia Between Myth and Reality mempunyai cerita asal usul dunia yang berbeza. Menurut Lee, pada awalnya terdapat satu Tuhan iaitu Ompung Tuan Bubi na Bolon - Tuhan omnipresent dan omnipotent. Ompung bermakna ‘moyang’. Semasa dia, Ompung Tuan Bubi na Bolon bersandar pada sebatang pohon banyan (beringin atau wiringin), ranting yang reput patah dan jatuh ke dalam laut. Ranting reput ini menjadi ikan dan hidupan air yang lain. Kemudian jatuh lagi ranting dan terciptalah serangga. Ranting ketiga yang jatuh membentuk binatang seperti rusa, monyet, burung dan
sebagainya. Ini disusuli dengan penciptaan kerbau, kambing, babi hutan dan sebagainya.

Hasil daripada perkhawinan dua ekor burung yang baru dicipta iaitu Patiaraja (lelaki) dan Manduangmandoing (perempuan) bermulanya kelahiran manusia daripada telur Manduangmandoing ketika berlakunya gempa bumi yang dasyat.

Meskipun berbeza dengan Loeb, mitos asal usul yang dibawa oleh Lee memperlihatkan persamaan pada dasarnya- asal usul manusia daripada telur dan pengaruh gempa bumi (karenah Naga Padoha).
Dilihat dari mata kasar, kisah asal usul ini berupa mitos yang tidak dapat diterima akal tetapi kekayaan mitos ini ialah, ia juga berupa alegori yang kaya dengan persoalan mistisisme, apabila dilihat dari perspektif intrinsik - hampir sama seperti peperangan dalam Mahabaratha dan Ramayana.
Apabila dikiaskan dengan mistisisme Hindu-Buddha, Naga padoha adalah tidak lain daripada Kundalini yang berkedudukan di tengah-tengah jasad manusia (dekat anus).

Dalam epistomologi Vaishnava (salah satu daripada aliran Hindu), avatara Maha Vishnu - Krishna Paramatma berlawan dengan Naga Kaliya, yang akhirnya tunduk kepada Krishna Paramatma. Secara intrinsik, alegori ini mengisahkan kejayaan Krishna Paramatma menawan nafsu (dilambangkan oleh naga/ular). Kalau Naga Padoha adalah Kundalini, bumi adalah jasad mansia, manakala Batara Guru adalah roh atau debata atau tondi yang hadir bersama-sama manusia apabila dicipta. Simbologi Naga (Ular) dalam mitologi Batak adalah universal sifatnya. Dalam epistomologi agama-agama Semitic, kita dapati watak ular diberikan pewarnaan hitam(jahat). Kisah pembuangan Adam dan Hawa (Eve) ke bumi adalah akibat
hasutan ular terhadap Hawa yang kemudiannya menggoda Adam dengan kelembutannya.

Ironinya, masyarakat Batak percaya suatu masa nanti dunia akan hancur apabila Naga padoha bangun memberontak. Tetapi, selagi rahmat dan bimbingan Batara Guru masih ada pada manusia, selagi itu mereka akan dapat menundukkan Naga Padoha dan hidup dalam harmoni. Tidak hairanlah sekiranya Batara Guru
menjadi debata paling popular bagi masyarakat Batak dan Indonesia umumnya.

Koding, seorang lagi sejarahwan berpendapat terdapat banyak elemen identikal diantara mitologi Batak dengan Hindu. Boru deak pordjar - anak Batara Guru adalah Dewi Saraswati dalam Hinduimse. Batara Guru di samakan dengan Mahadewa (Shiva) dan juga dengan Manu - manusia pertama di bumi.
Brahma dipersonifikasikan dengan watak Svayambhu - dia yang wujud daripada dirinya sendiri.

‘Telur dunia emas’ dari mana asalnya Svayambhu sebagai Brahman dan mencipta manusia dan Tuhan (tradisi Hindu), diubahsuai dalam mitologi Batak kepada tiga biji telur, dari setiap satunya lahir satu Tuhan. Justeru, ayam (manuk) yang melahirkan telur ini dianggap utama dalam kedudukan mitologi spiritual
masyarakat Batak. Telur manuk (ayam) ini, dalam tradisi Tantrik dipanggil salangram atau speroid kosmik.
‘Roh’ adalah elemen terpenting agama dan adat masyarakat Batak. Konsep supernatural (mana) pula, hampir-hampir tidak wujud di sini. Konsep yang dominan dikalangan masyarakat Batak ialah tondi. Menurut Warneck, otoriti unggul kajian tentang masyarakat Batak, tondi ialah ‘spirit’ (tenaga halus), ‘roh manusia’, ‘individualiti manusia’ yang wujud sejak manusia berada dalam rahim ibunya lagi. Pada ketika ini ia menentukan masa depan anak yang bakal dilahirkan itu.

Tondi wujud hampir kepada badan dan sesekala meninggalkan badan. Peninggalan tondi menyebabkan orang berkenaan jatuh sakit. Justeru itu, pengorbanan dilakukan oleh seseorang untuk menjaga tondinya agar sentiasa berada dalam keadaan baik .Semua orang mempunyai tondi tetapi kekuasaan tondi berbeza daripada seorang dengan seorang yang lain. Hanya tondi tokoh-tokoh besar dan utama kedudukannya dalam masyarakat mempunyai sahala - kuasa supernatural (luar biasa atau semangat/keramat). Rasional kepada perbezaan ini sama dengan konsep fatalistik Hindu, yang beranggapan bahawa segala kecelakaan hidup telah ditetapkan sebelum lahir lagi dan tidak boleh dihindari. Kerana kelahiran adalah dalam kedudukan yang baik maka tondinya juga akan berada dalam kedudukan yang baik (berkuasa).

Bilangan tondi yang terdapat pada seseorang bervariasi daripada satu dan tujuh. Sebahagian masyarakat Batak percaya bahawa setiap orang hanya mempunyai satu tondi manakala sebahagian lain mengangkakan tujuh tondi bagi setiap individu.

Konsep lain berkaitan dengan tondi ialah begu (hantu atau iblis). Begu ialah tondi orang mati. Bukan semua tondi adalah begu . Tondi yang natural tanpa perkaitan dengan kejahatan dikenali sebagai samaon. Setapak lebih tinggi daripada samaon ialah semangat atau debata (sama tahapnya dengan Tuhan) yang bervariasi mengikut fungsi dan kekuasaannya.
Shamanisme - tradisi menurunkan roh atau tondi orang yang sudah mati kedalam tubuh orang lain (yang masih hidup) yang dilakukan semata-mata untuk berkomunikasi dengan roh orang-orang yang sudah mati adalah tradisi yang paling popular di Utara Sumatra. Shaman (orang yang dituruni tondi atau ‘si baso’) terdiri daripada kedua-duanya, lelaki dan perempuan. Masyarakat Batak primitif yang tidak akrab dengan shamanisme (terutamanya di kepulauan Barat Sumatra) bergantung kepada dukun (seer - bahasa Inggeris atau ‘kavi’ - bahasa Sanskrit). Bezanya dukun dengan shaman, tondi (juga debata dan spirit) berkomunikasi secara personal dengan dukun. Dukun kemudian akan menyampaikan mesej wujud halus
(tondi, debata dan spirit) atau mengubat pesakit mengikut pesanan wujud halus.

Shaman pula hanya berfungsi sebagai media untuk membolehkan tondi berkomunikasi dengan orang-orang yang ingin berurusan dengannya. Perhubungan ‘tondi’ dengan orang yang memanggilnya adalah langsung, berbeza dengan hubungan melalui dukun (orang ketiga).

Dukun Batak biasanya lelaki dan dikenali sebagai datu. Meskipun dukun Batak tidak mempunyai satu sistem atau institusi bagi melatih datu - kelompok masyarakat ini menjadi penjaga dan bertanggungjawab memperturunkan ritual esoterik dan pembelajaran (spiritual) Hindu dan lokal dari generasi ke generasi. Seperkara yang menarik pada amalan masyarakat Batak ialah konsep melihat kehidupan pada detik ‘kini dan sini’(here and now). Mereka percaya tondi yang ada pada mereka perlu dijaga dan dihidupi dengan sebaik-baiknya di sini (dunia) dan kini (sekarang). Mereka tidak menunggu bagi masa akan datang untuk mendapat balasan. Konsep ini meskipun boleh dilihat dari perspektif eksistensialis, juga boleh dilihat dari sudut mistisisme.

Hampir kesemua aliran mistis (biar agama apa sekalipun) menekankan umatnya agar menghidupi kehidupan dengan sebaik mungkin. Biasanya, jalan tengah digunakan, yakni bukan bersandar kepada semalam yang sudah berlalu dan esok yang belum pasti, tetapi menghidupi detik-detik kini dalam nada ke’sahaja’an. Konsep roh di kalangan masyarakat Batak berligar kepada ‘tenaga’ atau ‘kuasa’. Tenaga ini sekiranya berada dalam keadaan harmonis akan membawa kepada kebaikan. Sebaliknya kalau dihampakan atau dimurkakan, akan memberi kesan buruk kepada kehidupan manusia dan alam.

Meski banyak mendapat pengaruh agama Hindu, kepercyaan masyarakat Batak mempunyai elemen lokalnya yang tersendiri seperti konsep tondi. Tondi masyarakat Batak tidak boleh disempitkan sebagai aura - lilitan tenaga yang sentiasa ada dikeliling manusia. Malah tondi juga tidak boleh dirumuskan sebagai roh yang terdapat dalam jasad manusia. Tondi adalah adunan beberapa fahaman daripada beberapa tradisi yang
kemudiannya membentuk tradisi kosmologi Batak yang unik.[]
wiltom83 - 27/08/2008 03:44 PM
#132

Apakah ada yang tahu di mana saya bisa dapatkan buku :
Rondahaim,Sebuah Kisah Kepahlawanan Menentang Penjajah di Simalungun
ditulis oleh : Bapa Tua Mansen Purba Sigumonrong.

mohon dibantu ya....

Diatei Tupa Ma
suhu_omtatok - 13/10/2008 12:17 AM
#133

ILMU DORMA SAURUNG
Adalah sebuah ilmu kuno Simalungun yang digunakan untuk membangkitkan kharisma pengasih dan pagar diri.

“Goranni uttei oh manik. Na mandegei raja goranni uttei. Ujadihon ma ham anggir (sebutkan tujuan)”.

Dilaksanakan setiap tiga hari purnama. Asapi jeruk purut pada asap kemenyan. Lalu bacakan tabas (mantera) diatas. Setelah itu belahlah jeruk purut menjadi empat bagian yang tidak putus, lalu pada tiap belahan selipkan sayatan kunyit dan Bawang Batak/Lokio (Hosaya). Kemudian bacakan tabas:

“Tep tep padang kasihon, hombang bunga kaliling. Tarbukak atei ma kasih, kasihon dormahu, dorma paranggiranhu. Ahu simamis huning marbandir, margilumbang, nasuang, kalir manjadi tektek, jonjong ahu I didah si …. . Nasuang mataniari na binsar. Marhata ahu itangar si …. . Nasuang longgur marhata, ia mah tuanhu, ia mah junjunganhu. Ia haum”.

Selanjutnya mandi di sungai (maranggir) menghadap arah bulan dengan pertelanjang. Sebelum jeruk purut digosokkan ketubuh, peras dan minumlah.
kisawung - 13/10/2008 03:30 AM
#134

ini penjelasan yg sangat mantaf, apalagi diselipkan juga tentang Dorma (ilmu pengasihan)genit:

mauliate suhu shakehand thumbup:
permenjeruk - 13/10/2008 12:44 PM
#135

keren bgt threadnya nih..


daku yang tidak tahu apa2 tentang nenek moyang \( jadi banyak belajar o

shakehand
suhu_omtatok - 13/10/2008 12:55 PM
#136

Quote:
Original Posted By kisawung
ini penjelasan yg sangat mantaf, apalagi diselipkan juga tentang Dorma (ilmu pengasihan)genit:

mauliate suhu shakehand thumbup:



mauliate juga Ki Sawung shakehand ## [Budaya]:"Rumpun  B A T A K"##
Kiranya Ki Sawung berkenan menambahkan dengan rajah-rajah batak
hidupsehari - 14/10/2008 12:25 PM
#137
Uppasa Batak simalungun
"ia Malas Ma ari Malas ma paruhuran"

Fungsi Uppasa di Simalungun

Uppasa adalah betuk puisi lama yang mirip dengan pantun dalam sastra melayu, yakni berupa puisi rakyat yang mencakup seluruh lapisan masyarakat dan segala tingkatan umur. (ads: adatbatak.com) ada uppas ank-ank, muda-mudi, dan orang tua.

pada umumnya yang disebut dengan pantun terdiri dari empat larik; kalau dua larik disebut gurindam. (ads: adatbatak.com) kalau enam,delapan,sepuluh larik disebut talibun. namun, simalungun tidak pengenal pembagian pantun menurut jumlah larik tersebut semuanya disebut uppasa.

Apa fungsi uppasa di Simalungun ?


Uppasa adalah sastra lisan yang dipergunakan sebagai alat komunikasi, milsanya dahulu komunikasi antar muda-mudi berlangsung melalui tonja² (tonja adalah suatu cara mengungkap pikiran secara simbolis melalui pemberian suatu barang), namun tidak semua orang mengerti makna simbol tersebut.

isi yang termuat dalam tonja selalu dijelaskan melalui uppasa. Misalnya bila seorang pemudi menolak cinta seorang pemuda , maka pemudi itu mengirim rokok yang terbuat dari daun enau. Setelah kiriman tersebut sampai kealamat, ternyata sipemuda tidak mengerti maknanya, maka dia pergi bertana kepada orang lain atau orang tua yang lebih berpengalaman. setelah melihat tonja tersebut, orang yang ditanya itu menjelaskannya sebagai berikut :

Issopan lembei bulung
Sabagod anak-anak
Asok botou maruhur
Marimbang ahu dakdanak.

Isinya : setiap orang harus hati-hati berhadapan dengan anak-anak sebab pikiran mereka gampang berunah.

Sipemuda dapat membalasnya dengan mengirim haporas ( Sejenis ikan kecil dari sungai atau sawah ) dengan maksud :

Haporas ni sin Lokkung
Etek-etek marpira
Anggo jolma harosuh
Etek pe na paima

Isinya : bagi orang yang saling jatuh cinta, umur tidak menjadi penghalang. umur yang masih muda bisa di tunggu.

jadi barang kiriman tersebut merupakan pengganti surat seperti sebagaimana lazimnya masakini. Maka mau tidak mau seorang pemuda atau pemudi pada masa itu harus mempelajari uppasa². (ads: adatbatak.com) dengan demikian, uppasa boleh dikatakan sebagai ilmu yang harus dipelajari. bahkan pada zaman dahulu telah dibuat semacam kriteria supaya seseorang dapat disebut dewasa, misalnya, harus mampu membaca surat sampuluh siah (Tulisan atau huruf simalungun ), menguasai ilmu mendatangkan dan menolak hujan, mahir maruppasa dan sebagainnya.

Uppasa juga sangat berperan pada saat martondur atau cari jodoh bagi muda-mudi. bila seorang pemuda menaruh hati kepada seorang pemudi, langkah pertama yang harus di buatnya ialah mengunjungi sipemudi kerumahnya, tetapi dia tidak boleh langsung menemui sipemudi tersebut. menurut adat, sipemuda harus terlebih dahulu bertemu dengan orang tua sipemudi itu, atau melalui perantara jika rumah itu rumah bolon.
pada saat pertemuan itu mereka berkomunikasi melalui uppasa. Jika ternyata orang tua sipemudi itu atau perantara itu setuju, berarti ada izin untuk bertemu. Pertemuan-pertemuan selanjutnya biasanya berlangsung di pasar (tiga), diladang pada saat gotong royong (marharoan), pad saat sipemudi itu sedang bertenun(martonun), ditengah perjalanan menuju tempat mandi (partapianan), saat pesta rondang binatang (syukuran atas tanaman yang sudah mulai menampakkan hasilnya), pada saat si pemudi itu menumbuk padi di losung ( tempat untuk menumbuk padi, dahulu setiap kampung mempunyai losung panjang yang terdiri dari beberapa lobang. disitulah tempat gadis² dikampung menumbuk padi ). (ads: adatbatak.com) Semua pembicaraan dalam pertemuan ini selalu melalui uppasa.

Dahulu di simalungun ada permainan semacam berbalas pantun. artinya uppasa dibalas uppasa. permainan ini diberi nama askei.Dalam acara ini seseorang, khususnya muda-mudi menunjukkan kemarhirannya maruppasa. karena itu mau tidak mau seorang pemuda atau pemudi harus mahir maruppasa. bukti bahwa permainan ini pernah ada di simalungun dapat kita lihat di uppas di bawah ini :

Marumbak ma Tanggiang
Rotap ma tali passa
Ise ma lo handian
imbangku maruppas

mardosong ma saringgon
Saksak bunga ni lada
Apuran do hupindo
mittor roh hata uppasa

bulung-bulung na maratah
marah bulung-bulung
anggo talu ahu marhata
sirsir ma demban ginulung.

Ketiga uppasa ini merupakan pengantar sebelum di langsungkan permainan askei tersebut. uppasa pertama berisi tentang seseorang yang mencari teman untuk berbalas uppas, sedangkan yang kedua merupakan jawaban dari pihak edua yang dengan rendah hati menerima tawaran tersebut, (ads: adatbatak.com) dan uppasa yang ketiga merupakan konekwensi atau semacam perjanjian bahwa pihak yang kalah harus membayar sesuatu atas kekalahannya.

Uppasa juga sering dinyanyikan menjadi teks lagu. baik dalam doding maupun ilah. bila suku kata kurang, maka biasanya ditambahkan kata :do, le,ale botou, datene, dan sebagainya.

uppasa juga dipergukan dalam bidang adat atau upacara-upacara resmi kerajaan(kenegaraan). jadi , melihat fungsi uppasa tersebut dapat disimpulkan bah uppasa sangat berperan penting di simalungun dan tidak bisa di lepaskan dari aspek-aspek kehidupan. Memang akhir-akhir ini peranan uppasa kurang tampak dalam masyarakat, tetapi dalam upacara resmi atau acara adat masih tetap mendapat tempat yang penting
lilbro - 14/10/2008 12:40 PM
#138

tell me about kontroversinya tuanku rao..
suhu_omtatok - 15/10/2008 01:11 AM
#139

Quote:
Original Posted By lilbro
tell me about kontroversinya tuanku rao..



Saya fikir akan sedikit kontroversi tentang Tuanku Rao; karena perjuangannya terasa jelas.
yang menjadi kontoversi adalah buku (novel) Tuanku Rao karya Mangaraja Onggang Parlindungan.
lilbro - 15/10/2008 01:33 AM
#140

Quote:
Original Posted By suhu_omtatok
Saya fikir akan sedikit kontroversi tentang Tuanku Rao; karena perjuangannya terasa jelas.
yang menjadi kontoversi adalah buku (novel) Tuanku Rao karya Mangaraja Onggang Parlindungan.


Iya,katanya masa sih sehebat itu Tuanku Rao?
Justru yang ngedebatin malah bule2..

Emangnya apa sih yang mereka debatin?
Page 7 of 63 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Budaya]:"Rumpun B A T A K"##