Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Budaya]:"Rumpun B A T A K"##
Total Views: 59958 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 9 of 63 | ‹ First  < 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >  Last ›

bgandul - 28/10/2008 11:47 AM
#161

biding laut = nyi roro kidul ? dah coba googling tapi cuman dapet data minim banget. mauliate
suhu_omtatok - 28/10/2008 11:59 AM
#162

Quote:
Original Posted By bgandul
Minta info tentang biding laut dong D
Thanks D

Biding Laut adalah ibu Sorba Di Jae. Biding Laut adalah putri tertua dari Guru Tatea Bulan dari 11 bersaudara.
Dalam dongeng Batak, Putri Biding Laut yang molek itu ditinggalkan oleh saudara-saudaranya di sekitar pulau Mursala.
Hingga kini diyakini Putri Biding Laut masih hidup dilautan.

......
Kisah yang melibatkan kemolekan wanita seperti ini, ada dibeberapa tempat
seperti:
Kanjeng Ratu Kidul di Jawa
Putri Hijau di Suku Melayu Sumut & Karo
Putri Runduk
Bundo Kanduang
dll.

Bukti, wanita memang 'makhluk' yg asyik untuk jd bahan cerita & diagungkan
suhu_omtatok - 28/10/2008 12:08 PM
#163

Quote:
Original Posted By hidupsehari
Suhu saya maw tanya neh,tentang tapak nabi sulaiman neh suhu,soalnya beberapa saya lihat rajahan tapak nabi sulamain itu banyak di pake di ornamen2 muslim,sedangakan di batak khususnya simalungun dan karo banyak sekali di gunakan tapak nabi sulaiman contoh nya di buat di senduk pengaduk nasih ( ukat bahasa karo nya ),dan ada di buat juga semacam gorga gitu.
dan yg aneh nya org simalungun dan karo bukanlah penduduk muslim kebanyakan maaf neh.
mohon suhu beri pencerahan nya.dan tapak nabi sulaiman itu apa bener memiliki kekuatan gaib,dlu teman saya pernah bilang ke saya dia itu org simalungun dari raya marga nya saragih garinging,yg kata nya kalo kaw suka ma cewe tinggal kaw bayangkan aja wajah nya trus sambil kaw gariskan tapak nabi sulaiman di wajah nya dalam bayangan atw meditasi visual gitu,dan saya sendiri belum pernah mencoba nya heheheheh..apakah ini bener suhu,mhon pencerhan nya..
dan mengapa rajahan tapak nabi sulaiman ada nya dan populer nya di simalungun dan karo (utk batak )
sekali di atei tupa ma suhu nami..


Simalungun & Karo secara historis, memang lebih dekat ke timur. pembauran kultur itupun terjadi.
Di Pustaha Laklak, kita menemukan Bahasa Melayu atau Bahasa arab.
Konsep Islam akhirnya cukup mewarnai.
Begitu pula Tapak sulaiman itu.
.....
Penulisan tapak sulaiman bukan saja pada materi seperti penulisan azimat lazimnya.
tp bs dengan menjadikannya simbol; seperti reiki
hidupsehari - 28/10/2008 03:40 PM
#164

Quote:
Original Posted By suhu_omtatok
Simalungun & Karo secara historis, memang lebih dekat ke timur. pembauran kultur itupun terjadi.
Di Pustaha Laklak, kita menemukan Bahasa Melayu atau Bahasa arab.
Konsep Islam akhirnya cukup mewarnai.
Begitu pula Tapak sulaiman itu.
.....
Penulisan tapak sulaiman bukan saja pada materi seperti penulisan azimat lazimnya.
tp bs dengan menjadikannya simbol; seperti reiki


makasih suhu atas pencerhan nya beer:
hidupsehari - 28/10/2008 03:50 PM
#165
Menguak Asal Usul Kanjeng Ratu Kidul
CERITA ini diangkat dari sebuah ritual di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Sebuah ritual untuk mengungkap asal usul Kanjeng Ratu Kidul. Terlebih ketika dia mengatakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak.

Sejauh ini terdapat berbagai pendapat seputar asal usul sosok Kanjeng Ratu Kidul. Ada yang mengatakan, Kanjeng Ratu Kidul sesungguhnya adalah Ratu Bilqis, isteri Nabi Sulaiman Alaihissalam. Dikisahkan, setelah wafatnya Nabi Sulaiman as., Ratu Bilqis mengasingkan dirinya ke suatu negeri. Di sana beliau bertapa hingga moksa atau ngahyang.

Legenda lain seputar Kanjeng Ratu Kidul adalah Dewi Nawang Wulan, sosok bidadari yang pernah diperisteri Jaka Tarub. Sedangkan kisah lain tidak secara spesifik menyebutkan asal Kanjeng Ratu Kidul, kecuali dia puteri seorang raja di Tanah Jawa.

Sinyalemen Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak bukannya tanpa alasan. Isu ini pertama kali dibicarakan tahun 1985, ketika dalam suatu acara adat Batak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), beberapa orang mengangkat masalah ini. Tetapi rupanya tidak terlalu mendapat respon yang hadir. Isu pun tenggelam dengan sendirinya. Bahkan di dunia maya (internet), hanya terdapat satu situs yang menyinggung masalah ini. Itupun hanya dalam beberapa baris kalimat saja. Demikian kutipannya:

“Ini dia cerita tentang Ratu Laut Selatan yang dipercaya sebagian orang sebagai Biding Laut, saudara dari Saribu Raja yang notabene adalah keturunan Raja Batak.…tapi baca dulu kisahnya ya… siapa tau Nyi Roro Kidul emang keturunan Raja Batak”. (23 desember 2004). Yang jlas, hanya sekilas saja kalimat yang menyinggung Kanjeng Ratu Kidul sebagai orang Batak.

Padahal, sebagaimana diungkapkan Silalahi (40), spiritualis yang akan memimpin ritual tersebut mengatakan, saat ini di daerah Samosir ada seorang wanita yang kerap kali kemasukan roh Kanjeng Ratu Kidul. Wanita bernama Boru Tumorang ini sering mengaku sebagai Kanjeng Ratu Kidul ketika sedang trance. Itulah sebabnya, Boru Tumorang sengaja didatangkan ke Jawa untuk mengikuti ritual menguak asal usul Kanjeng Ratu Kidul.

Legenda Biding Laut
Sebelum melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi, kami menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Silalahi.

“Legenda asal usul Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak ini tidak lepas dari kisah Raja-raja Batak,” demikian Silalahi memulai ceritanya.

Dikisahkan, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang mempunyai dua orang putra. Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi nama Raja Isumbaon.

Putra sulungnya, yakni Guru Tatea Bulan memiliki 11 anak (5 putera dan 6 puteri). Kelima putera bernama: Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Lau Raja. Sedangkan keenam puteri bernama: Biding Laut, Siboru Pareme, Paronnas, Nan Tinjo, Bulan dan Si Bunga Pandan.

Putri tertua yakni Biding Laut memiliki kecantikan melebihi adik perempuan lainnya. Dia juga memiliki watak yang ramah dan santun kepada orangtuanya. Karena itu, Biding Laut tergolong anak yang paling disayangi kedua orangtuanya.

Namun, kedekatan orangtua terhadap Biding Laut ini menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bersepakat untuk menyingkirkan Biding Laut.

Suatu ketika, saudara-saudaranya menghadap ayahnya untuk mengajak Biding Laut jalan-jalan ke tepi pantai Sibolga. Permintaan itu sebenarnya ditolak Guru Tatea Bulan, mengingat Biding Laut adalah puteri kesayangannya. Tapi saudara-saudaranya itu mendesak terus keinginannya, sehingga sang ayah pun akhirnya tidak dapat menolaknya.

Pada suatu hari, Biding Laut diajak saudara-saudaranya berjalan-jalan ke daerah Sibolga. Dari tepi pantai Sibolga, mereka lalu menggunakan 2 buah perahu menuju ke sebuah pulau kecil bernama Pulau Marsala, dekat Pulau Nias.

Tiba di Pulau Marsala, mereka berjalan-jalan sambil menikmati keindahan pulau yang tidak berpenghuni tersebut. Sampai saat itu, Biding Laut tidak mengetahui niat tersembunyi saudara-saudaranya yang hendak mencelakakannya. Biding Laut hanya mengikuti saja kemauan saudara-saudaranya berjalan semakin menjauh dari pantai.

Menjelang tengah hari, Biding Laut merasa lelah hingga dia pun beristirahat dan tertidur. Dia sama sekali tidak menduga ketika dirinya sedang lengah, kesempatan itu lalu dimanfaatkan saudara-saudaranya meninggalkan Biding laut sendirian di pulau itu.

Di pantai, saudara-saudara Biding Laut sudah siap menggunakan 2 buah perahu untuk kembali ke Sibolga. Tetapi salah seorang saudaranya mengusulkan agar sebuah perahu ditinggalkan saja. Dia khawatir kalau kedua perahu itu tiba di Sibolga akan menimbulkan kecurigaan. Lebih baik satu saja yang dibawa, sehingga apabila ada yang menanyakan dikatakan sebuah perahunya tenggelam dengan memakan korban Biding Laut.

Tapi apa yang direncanakan saudara-saudaranya itu bukanlah menjadi kenyataan, karena takdir menentukan lain.

Biding Laut Di Tanah Jawa
Ketika terbangun dari tidurnya, Biding Laut terkejut mendapati dirinya sendirian di Pulau Marsala. Dia pun berlari menuju pantai mencoba menemui saudara-saudaranya. Tetapi tidak ada yang dilihatnya, kecuali sebuah perahu.

Biding laut tidak mengerti mengapa dirinya ditinggalkan seorang diri. Tetapi dia pun tidak berpikiran saudara-saudaranya berusaha mencelakakannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menaiki perahu itu dan mengayuhnya menuju pantai Sibolga.

Tetapi ombak besar tidak pernah membawa Biding Laut ke tanah kelahirannya. Selama beberapa hari perahunya terombang-ombang di pantai barat Sumatera. Entah sudah berapa kali dia pingsan karena kelaparan dan udara terik. Penderitaannya berakhir ketika perahunya terdampar di Tanah Jawa, sekitar daerah Banten.

Seorang nelayan yang kebetulan melihatnya kemudian menolong Biding Laut. Di rumah barunya itu, Biding Laut mendapat perawatan yang baik. Biding Laut merasa bahagia berada bersama keluarga barunya itu. Dia mendapat perlakuan yang sewajarnya. Dalam sekejap, keberadaannya di desa itu menjadi buah bibir masyarakat, terutama karena pesona kecantikannya.

Dikisahkan, pada suatu ketika daerah itu kedatangan seorang raja dari wilayah Jawa Timur. Ketika sedang beristirahat dalam perjalanannya, lewatlah seorang gadis cantik yang sangat jelita bak bidadari dari kayangan dan menarik perhatian Sang Raja. Karena tertariknya, Sang Raja mencari tahu sosok jelita itu yang ternyata Biding Laut. Terpesona kecantikan Biding Laut, sang raja pun meminangnya.

Biding Laut tidak menolak menolak pinangan itu, hingga keduanya pun menikah. Selanjutnya Biding Laut dibawanya serta ke sebuah kerajaan di Jawa Timur.

Tenggelam Di Laut Selatan
Biding Laut hidup berbahagia bersama suaminya yang menjadi raja. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Terjadi intrik di dalam istana yang menuduh Biding Laut berselingkuh dengan pegawai kerajaan. Hukum kerajaan pun ditetapkan, Biding Laut harus dihukum mati.

Keadaan ini menimbulkan kegalauan Sang Raja. Dia tidak ingin isteri yang sangat dicintainya itu di hukum mati, sementara hukum harus ditegakkan. Dalam situasi ini, dia lalu mengatur siasat untuk mengirim kembali Biding Laut ke Banten melalui lautan.

Menggunakan perahu, Biding Laut dan beberapa pengawal raja berangkat menuju Banten. Mereka menyusuri Samudera Hindia atau yang dikenal dengan Laut Selatan.

Namun malang nasib mereka. Dalam perjalanan itu, perahu mereka tenggelam diterjang badai. Biding Laut dan beberapa pengawalnya tenggelam di Laut Selatan.

Demikianlah sekelumit legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai sosok asli Kanjeng Ratu Kidul.

“Dalam legenda raja-raja Batak, sosok Biding Laut memang masih misterius keberadaannya, Sedangkan anak-anak Guru Tatea Bulan yang lain tercantum dalam legenda,” kata Silalahi dengan mimik serius.

Sementara itu, Boru Tumorang (45) mengaku sudah lama dirinya sering kemasukan roh Kanjeng Ratu Kidul. Terutama terjadi saat kedatangan tamu yang minta tolong dirinya untuk melakukan pengobatan. Tetapi Boru Tumorang tidak mengerti mengapa raganya yang dipilih Kanjeng Ratu Kidul. Semuanya terjadi diluar keinginannya.

Ritual Pemanggilan Kanjeng Ratu Kidul
Untuk membuktikan keberadaan sosok legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai Kanjeng Ratu Kidul, Misteri bersama 8 orang rekan yang semuanya bersuku Batak sengaja datang ke Pelabuhan Ratu untuk melakukan ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul.

Lokasi pertama adalah makam Guru Kunci Batu Kendit Abah Empar. Lokasi ini cukup dikenal masyarakat, terutama yang hendak melakukan ritual pemanggilan Kanjeng Ratu Kidul. Konon, di tempat ini Kanjeng Ratu Kidul memang biasa muncul.

Sebelum melakukan ritual, sebagaimana biasanya beberapa ubo rampe telah disiapkan, diantaranya: jeruk, jeruk purut, apel, daun sirih, pisang raja, anggur, minyak jin, kembang sepatu, tepung beras, kelapa dan gula (itaguruguru-bahasa Batak).

Sekitar pukul 22.30 malam, dimulailah acara ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul. Ketika itu, Silalahi dan Boru Tumorang tampak membaca mantera-mantera. Beberapa saat kemudian, Silalahi mulai menampakkan perubahan ekspresi wajah. Sosok gaib yang dipanggil tampaknya telah merasuk ke dalam raganya. Ternyata, sosok gaib itu adalah roh Raja Batak.

Sementara dalam waktu hampir bersamaan, Boru Tumorang pun memperlihatkan ekspresi kesurupan. Tiba-tiba tubuhnya tersungkur lalu merangkak bergeser posisi. Setelah itu, dia kembali duduk dengan wajah tertunduk dan mata terpejam. Roh Kanjeng Ratu Kidul telah merasuk ke dalam raga wanita asal Samosir ini.

Terjadilah dialog dalam bahasa Batak antara Silalahi (yang sudah kemasukan roh Raja Batak) dengan Boru Tumorang dan beberapa orang yang hadir. Sepanjang dialog itu, ekspresi wajah Boru Tumorang berubah-ubah. Terkadang tersenyum, tertawa, menangis dan melantunkan lagu berisi sejumlah nasehat.

Kalimat pertama yang diucapkan Kanjeng Ratu Kidul adalah :
”Kenapa baru sekarang kalian datang untuk menemui saya? Padahal saya sudah lama berada di sini,”ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang.

Ketika salah seorang yang hadir bertanya tentang Biding Laut, seketika Kanjeng Ratu Kidul menukas,” Ya, sayalah Biding Laut. Terserah apakah kalian akan percaya atau tidak.”

Selanjutnya dialog meluncur begitu saja. Beberapa dialog yang Misteri catat diantaranya saat Boru Tumorang menangis sambil berkata:
“Boasa gudang hamo nalupa tuauito (kenapa kalian sudah lupa sama saya)?” ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang. “Ahado sisukunonmuna (Apa yang kalian mau pertanyakan)?” lanjut Kanjeng Ratu Kidul.
“Hamirotuson nanboru namagido tangiansiangho (Kami datang kesini untuk minta doa dari Nyai),” jawab salah seorang yang hadir.

“Asadikontuhata pasupasu dohut rajohi (Biar diberikan Tuhan berkat kepada kami),” kata yang lain.

Tampak Boru Tumorang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Kepalanya seperti digelengkan, terkadang mengangguk-angguk. Sesaat kemudian dia berkata,
“Posmaruham, paubahamuma pangalaho rohamuna (Percayalah. Asalkan kalian berubah sikap dan tingkah laku menjadi lebih baik, itu pasti akan terjadi).”

“Molonang muba rohamu nalaroma balainna he he mamuse kuti tuinjang (Kalau tidak berubah sikap dengan baik akan muncul bencana lagi-tsunami)”

“Dangdiadia dope namasae naosolpu nalaroma muse naung gogosiani (Belum seberapa bencana yang sudah lalu. Lebih dahsyat bencana yang akan datang lagi. Kalau kalian tidak percaya kepada Tuhan).”

Nasehat Kanjeng Ratu Kidul itu tampaknya ditujukan ke semua orang. Sedangkan kepada anak keturunannya dari suku Batak, Kanjeng Ratu Kidul berkata,

”Posmarohamu amang paboanhudoi tuhamu pomparanhu dibagasan parnipion (Percayalah. Semua keturunanku akan saya beritahukan lewat mimpi masing-masing).”

“Posmaroham amang patureon hudo sube popparamme (Percayalah, akan saya bantu dan saya tolong semua keturunannmu ini).

Kanjeng Ratu Kidul juga berpesan kepada semua manusia agar tidak membeda-bedakan suku, ”Pabohamu tumanisiae asa unang mambedahon popparanhisude (Beritahu kepada semua manusia supaya tidak membedakan suku).”

Selanjutnya dia berkata lagi,”Asarat martonggo mahita tuoputa (Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Tuhan).”

Dialog dengan roh Kanjeng Ratu Kidul itu berlangsung sekitar setengah jam. Isi dialog sarat dengan nasehat kepada manusia agar selalu berbuat kebajikan.

Namun yang pasti, dalam dialog itu juga Kanjeng Ratu Kidul menceritakan sosok asal usul dirinya dan nama aslinya.

Upaya penelusuran ini membuka wacana baru seputar asal usul Kanjeng Ratu Kidul. Acara ritual ini pun tidak dimaksudkan untuk membenarkan satu fihak. Sebagaimana dikatakan Silalahi,

“Kami tidak bermaksud mengklaim kebenaran pendapat kami,”ujar Silalahi sambil tersenyum. “Tetapi kami hanya mencoba mengangkat kembali sebuah isu yang sudah lama berkembang di daerah kami. Kebenarannya boleh saja diperdebatkan,” lanjutnya.

Benar apa yang dikatakannya. Sosok gaib Kanjeng Ratu Kidul memang layak diperdebatkan. Keberadaan maupun asal usulnya bisa darimanapun juga. Tetapi yang pasti, nasehat-nasehat Kanjeng Ratu Kidul yang diucapkan melalui medium yang keserupan, seringkali mengingatkan kita untuk selalu percaya kepada Tuhan. (gus7.wordpress.com)

Sumber http://www.metrogaib.com/?liatdong=beritanya&newsid=159

Ohh yahh di metrogaib.com ada juga lhoo profile nya suhu om tatok
make baju adat simalungun lagi .. salut buat suhu beer:
Ozmanovsky - 28/10/2008 04:15 PM
#166
Hoh !
Lanjut opung2 ! D
lilbro - 28/10/2008 04:36 PM
#167

waah mantaf,ternyata ratu kidul dari batak..
766HI - 29/10/2008 12:03 AM
#168

Quote:
Original Posted By suhu_omtatok
Ya, sama
cuma,
dalam istilah keilmuan, dimaknai sebagai prajurit yg "bukan manusia"


Hmm,,, Mauliate tuk penjelasannya Suhu.

btw Fungsinya lebih condong jd Pengawal gaib donk Suhu ??
766HI - 29/10/2008 12:05 AM
#169

Quote:
Original Posted By hidupsehari
CERITA ini diangkat dari sebuah ritual di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Sebuah ritual untuk mengungkap asal usul Kanjeng Ratu Kidul. Terlebih ketika dia mengatakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak.

Sejauh ini terdapat berbagai pendapat seputar asal usul sosok Kanjeng Ratu Kidul. Ada yang mengatakan, Kanjeng Ratu Kidul sesungguhnya adalah Ratu Bilqis, isteri Nabi Sulaiman Alaihissalam. Dikisahkan, setelah wafatnya Nabi Sulaiman as., Ratu Bilqis mengasingkan dirinya ke suatu negeri. Di sana beliau bertapa hingga moksa atau ngahyang.

Legenda lain seputar Kanjeng Ratu Kidul adalah Dewi Nawang Wulan, sosok bidadari yang pernah diperisteri Jaka Tarub. Sedangkan kisah lain tidak secara spesifik menyebutkan asal Kanjeng Ratu Kidul, kecuali dia puteri seorang raja di Tanah Jawa.

Sinyalemen Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak bukannya tanpa alasan. Isu ini pertama kali dibicarakan tahun 1985, ketika dalam suatu acara adat Batak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), beberapa orang mengangkat masalah ini. Tetapi rupanya tidak terlalu mendapat respon yang hadir. Isu pun tenggelam dengan sendirinya. Bahkan di dunia maya (internet), hanya terdapat satu situs yang menyinggung masalah ini. Itupun hanya dalam beberapa baris kalimat saja. Demikian kutipannya:

“Ini dia cerita tentang Ratu Laut Selatan yang dipercaya sebagian orang sebagai Biding Laut, saudara dari Saribu Raja yang notabene adalah keturunan Raja Batak.…tapi baca dulu kisahnya ya… siapa tau Nyi Roro Kidul emang keturunan Raja Batak”. (23 desember 2004). Yang jlas, hanya sekilas saja kalimat yang menyinggung Kanjeng Ratu Kidul sebagai orang Batak.

Padahal, sebagaimana diungkapkan Silalahi (40), spiritualis yang akan memimpin ritual tersebut mengatakan, saat ini di daerah Samosir ada seorang wanita yang kerap kali kemasukan roh Kanjeng Ratu Kidul. Wanita bernama Boru Tumorang ini sering mengaku sebagai Kanjeng Ratu Kidul ketika sedang trance. Itulah sebabnya, Boru Tumorang sengaja didatangkan ke Jawa untuk mengikuti ritual menguak asal usul Kanjeng Ratu Kidul.

Legenda Biding Laut
Sebelum melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi, kami menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Silalahi.

“Legenda asal usul Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak ini tidak lepas dari kisah Raja-raja Batak,” demikian Silalahi memulai ceritanya.

Dikisahkan, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang mempunyai dua orang putra. Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi nama Raja Isumbaon.

Putra sulungnya, yakni Guru Tatea Bulan memiliki 11 anak (5 putera dan 6 puteri). Kelima putera bernama: Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Lau Raja. Sedangkan keenam puteri bernama: Biding Laut, Siboru Pareme, Paronnas, Nan Tinjo, Bulan dan Si Bunga Pandan.

Putri tertua yakni Biding Laut memiliki kecantikan melebihi adik perempuan lainnya. Dia juga memiliki watak yang ramah dan santun kepada orangtuanya. Karena itu, Biding Laut tergolong anak yang paling disayangi kedua orangtuanya.

Namun, kedekatan orangtua terhadap Biding Laut ini menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bersepakat untuk menyingkirkan Biding Laut.

Suatu ketika, saudara-saudaranya menghadap ayahnya untuk mengajak Biding Laut jalan-jalan ke tepi pantai Sibolga. Permintaan itu sebenarnya ditolak Guru Tatea Bulan, mengingat Biding Laut adalah puteri kesayangannya. Tapi saudara-saudaranya itu mendesak terus keinginannya, sehingga sang ayah pun akhirnya tidak dapat menolaknya.

Pada suatu hari, Biding Laut diajak saudara-saudaranya berjalan-jalan ke daerah Sibolga. Dari tepi pantai Sibolga, mereka lalu menggunakan 2 buah perahu menuju ke sebuah pulau kecil bernama Pulau Marsala, dekat Pulau Nias.

Tiba di Pulau Marsala, mereka berjalan-jalan sambil menikmati keindahan pulau yang tidak berpenghuni tersebut. Sampai saat itu, Biding Laut tidak mengetahui niat tersembunyi saudara-saudaranya yang hendak mencelakakannya. Biding Laut hanya mengikuti saja kemauan saudara-saudaranya berjalan semakin menjauh dari pantai.

Menjelang tengah hari, Biding Laut merasa lelah hingga dia pun beristirahat dan tertidur. Dia sama sekali tidak menduga ketika dirinya sedang lengah, kesempatan itu lalu dimanfaatkan saudara-saudaranya meninggalkan Biding laut sendirian di pulau itu.

Di pantai, saudara-saudara Biding Laut sudah siap menggunakan 2 buah perahu untuk kembali ke Sibolga. Tetapi salah seorang saudaranya mengusulkan agar sebuah perahu ditinggalkan saja. Dia khawatir kalau kedua perahu itu tiba di Sibolga akan menimbulkan kecurigaan. Lebih baik satu saja yang dibawa, sehingga apabila ada yang menanyakan dikatakan sebuah perahunya tenggelam dengan memakan korban Biding Laut.

Tapi apa yang direncanakan saudara-saudaranya itu bukanlah menjadi kenyataan, karena takdir menentukan lain.

Biding Laut Di Tanah Jawa
Ketika terbangun dari tidurnya, Biding Laut terkejut mendapati dirinya sendirian di Pulau Marsala. Dia pun berlari menuju pantai mencoba menemui saudara-saudaranya. Tetapi tidak ada yang dilihatnya, kecuali sebuah perahu.

Biding laut tidak mengerti mengapa dirinya ditinggalkan seorang diri. Tetapi dia pun tidak berpikiran saudara-saudaranya berusaha mencelakakannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menaiki perahu itu dan mengayuhnya menuju pantai Sibolga.

Tetapi ombak besar tidak pernah membawa Biding Laut ke tanah kelahirannya. Selama beberapa hari perahunya terombang-ombang di pantai barat Sumatera. Entah sudah berapa kali dia pingsan karena kelaparan dan udara terik. Penderitaannya berakhir ketika perahunya terdampar di Tanah Jawa, sekitar daerah Banten.

Seorang nelayan yang kebetulan melihatnya kemudian menolong Biding Laut. Di rumah barunya itu, Biding Laut mendapat perawatan yang baik. Biding Laut merasa bahagia berada bersama keluarga barunya itu. Dia mendapat perlakuan yang sewajarnya. Dalam sekejap, keberadaannya di desa itu menjadi buah bibir masyarakat, terutama karena pesona kecantikannya.

Dikisahkan, pada suatu ketika daerah itu kedatangan seorang raja dari wilayah Jawa Timur. Ketika sedang beristirahat dalam perjalanannya, lewatlah seorang gadis cantik yang sangat jelita bak bidadari dari kayangan dan menarik perhatian Sang Raja. Karena tertariknya, Sang Raja mencari tahu sosok jelita itu yang ternyata Biding Laut. Terpesona kecantikan Biding Laut, sang raja pun meminangnya.

Biding Laut tidak menolak menolak pinangan itu, hingga keduanya pun menikah. Selanjutnya Biding Laut dibawanya serta ke sebuah kerajaan di Jawa Timur.

Tenggelam Di Laut Selatan
Biding Laut hidup berbahagia bersama suaminya yang menjadi raja. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Terjadi intrik di dalam istana yang menuduh Biding Laut berselingkuh dengan pegawai kerajaan. Hukum kerajaan pun ditetapkan, Biding Laut harus dihukum mati.

Keadaan ini menimbulkan kegalauan Sang Raja. Dia tidak ingin isteri yang sangat dicintainya itu di hukum mati, sementara hukum harus ditegakkan. Dalam situasi ini, dia lalu mengatur siasat untuk mengirim kembali Biding Laut ke Banten melalui lautan.

Menggunakan perahu, Biding Laut dan beberapa pengawal raja berangkat menuju Banten. Mereka menyusuri Samudera Hindia atau yang dikenal dengan Laut Selatan.

Namun malang nasib mereka. Dalam perjalanan itu, perahu mereka tenggelam diterjang badai. Biding Laut dan beberapa pengawalnya tenggelam di Laut Selatan.

Demikianlah sekelumit legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai sosok asli Kanjeng Ratu Kidul.

“Dalam legenda raja-raja Batak, sosok Biding Laut memang masih misterius keberadaannya, Sedangkan anak-anak Guru Tatea Bulan yang lain tercantum dalam legenda,” kata Silalahi dengan mimik serius.

Sementara itu, Boru Tumorang (45) mengaku sudah lama dirinya sering kemasukan roh Kanjeng Ratu Kidul. Terutama terjadi saat kedatangan tamu yang minta tolong dirinya untuk melakukan pengobatan. Tetapi Boru Tumorang tidak mengerti mengapa raganya yang dipilih Kanjeng Ratu Kidul. Semuanya terjadi diluar keinginannya.

Ritual Pemanggilan Kanjeng Ratu Kidul
Untuk membuktikan keberadaan sosok legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai Kanjeng Ratu Kidul, Misteri bersama 8 orang rekan yang semuanya bersuku Batak sengaja datang ke Pelabuhan Ratu untuk melakukan ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul.

Lokasi pertama adalah makam Guru Kunci Batu Kendit Abah Empar. Lokasi ini cukup dikenal masyarakat, terutama yang hendak melakukan ritual pemanggilan Kanjeng Ratu Kidul. Konon, di tempat ini Kanjeng Ratu Kidul memang biasa muncul.

Sebelum melakukan ritual, sebagaimana biasanya beberapa ubo rampe telah disiapkan, diantaranya: jeruk, jeruk purut, apel, daun sirih, pisang raja, anggur, minyak jin, kembang sepatu, tepung beras, kelapa dan gula (itaguruguru-bahasa Batak).

Sekitar pukul 22.30 malam, dimulailah acara ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul. Ketika itu, Silalahi dan Boru Tumorang tampak membaca mantera-mantera. Beberapa saat kemudian, Silalahi mulai menampakkan perubahan ekspresi wajah. Sosok gaib yang dipanggil tampaknya telah merasuk ke dalam raganya. Ternyata, sosok gaib itu adalah roh Raja Batak.

Sementara dalam waktu hampir bersamaan, Boru Tumorang pun memperlihatkan ekspresi kesurupan. Tiba-tiba tubuhnya tersungkur lalu merangkak bergeser posisi. Setelah itu, dia kembali duduk dengan wajah tertunduk dan mata terpejam. Roh Kanjeng Ratu Kidul telah merasuk ke dalam raga wanita asal Samosir ini.

Terjadilah dialog dalam bahasa Batak antara Silalahi (yang sudah kemasukan roh Raja Batak) dengan Boru Tumorang dan beberapa orang yang hadir. Sepanjang dialog itu, ekspresi wajah Boru Tumorang berubah-ubah. Terkadang tersenyum, tertawa, menangis dan melantunkan lagu berisi sejumlah nasehat.

Kalimat pertama yang diucapkan Kanjeng Ratu Kidul adalah :
”Kenapa baru sekarang kalian datang untuk menemui saya? Padahal saya sudah lama berada di sini,”ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang.

Ketika salah seorang yang hadir bertanya tentang Biding Laut, seketika Kanjeng Ratu Kidul menukas,” Ya, sayalah Biding Laut. Terserah apakah kalian akan percaya atau tidak.”

Selanjutnya dialog meluncur begitu saja. Beberapa dialog yang Misteri catat diantaranya saat Boru Tumorang menangis sambil berkata:
“Boasa gudang hamo nalupa tuauito (kenapa kalian sudah lupa sama saya)?” ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang. “Ahado sisukunonmuna (Apa yang kalian mau pertanyakan)?” lanjut Kanjeng Ratu Kidul.
“Hamirotuson nanboru namagido tangiansiangho (Kami datang kesini untuk minta doa dari Nyai),” jawab salah seorang yang hadir.

“Asadikontuhata pasupasu dohut rajohi (Biar diberikan Tuhan berkat kepada kami),” kata yang lain.

Tampak Boru Tumorang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Kepalanya seperti digelengkan, terkadang mengangguk-angguk. Sesaat kemudian dia berkata,
“Posmaruham, paubahamuma pangalaho rohamuna (Percayalah. Asalkan kalian berubah sikap dan tingkah laku menjadi lebih baik, itu pasti akan terjadi).”

“Molonang muba rohamu nalaroma balainna he he mamuse kuti tuinjang (Kalau tidak berubah sikap dengan baik akan muncul bencana lagi-tsunami)”

“Dangdiadia dope namasae naosolpu nalaroma muse naung gogosiani (Belum seberapa bencana yang sudah lalu. Lebih dahsyat bencana yang akan datang lagi. Kalau kalian tidak percaya kepada Tuhan).”

Nasehat Kanjeng Ratu Kidul itu tampaknya ditujukan ke semua orang. Sedangkan kepada anak keturunannya dari suku Batak, Kanjeng Ratu Kidul berkata,

”Posmarohamu amang paboanhudoi tuhamu pomparanhu dibagasan parnipion (Percayalah. Semua keturunanku akan saya beritahukan lewat mimpi masing-masing).”

“Posmaroham amang patureon hudo sube popparamme (Percayalah, akan saya bantu dan saya tolong semua keturunannmu ini).

Kanjeng Ratu Kidul juga berpesan kepada semua manusia agar tidak membeda-bedakan suku, ”Pabohamu tumanisiae asa unang mambedahon popparanhisude (Beritahu kepada semua manusia supaya tidak membedakan suku).”

Selanjutnya dia berkata lagi,”Asarat martonggo mahita tuoputa (Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Tuhan).”

Dialog dengan roh Kanjeng Ratu Kidul itu berlangsung sekitar setengah jam. Isi dialog sarat dengan nasehat kepada manusia agar selalu berbuat kebajikan.

Namun yang pasti, dalam dialog itu juga Kanjeng Ratu Kidul menceritakan sosok asal usul dirinya dan nama aslinya.

Upaya penelusuran ini membuka wacana baru seputar asal usul Kanjeng Ratu Kidul. Acara ritual ini pun tidak dimaksudkan untuk membenarkan satu fihak. Sebagaimana dikatakan Silalahi,

“Kami tidak bermaksud mengklaim kebenaran pendapat kami,”ujar Silalahi sambil tersenyum. “Tetapi kami hanya mencoba mengangkat kembali sebuah isu yang sudah lama berkembang di daerah kami. Kebenarannya boleh saja diperdebatkan,” lanjutnya.

Benar apa yang dikatakannya. Sosok gaib Kanjeng Ratu Kidul memang layak diperdebatkan. Keberadaan maupun asal usulnya bisa darimanapun juga. Tetapi yang pasti, nasehat-nasehat Kanjeng Ratu Kidul yang diucapkan melalui medium yang keserupan, seringkali mengingatkan kita untuk selalu percaya kepada Tuhan. (gus7.wordpress.com)

Sumber http://www.metrogaib.com/?liatdong=beritanya&newsid=159

Ohh yahh di metrogaib.com ada juga lhoo profile nya suhu om tatok
make baju adat simalungun lagi .. salut buat suhu beer:


Nice Info Lae,,

Mauliate tuk Infonya,,,

salam kenal juga tuk lae shakehand

beer: beer:
hidupsehari - 29/10/2008 09:09 AM
#170

Quote:
Original Posted By 766HI
Nice Info Lae,,

Mauliate tuk Infonya,,,

salam kenal juga tuk lae shakehand

beer: beer:

ini bisa menjadi pemicu perdebatan antara jawa dan batak heheheheh,soalnya Nyi roro kidul selama ini di percaya ma org jawa sejak lama.. tapi mudah2 an pis pis ajalah yah,soalnya masih sama2 indonesia

OK lae silalahi salam kenal juga ..shakehand
hidupsehari - 29/10/2008 09:43 AM
#171
Ritus Kematian Pada Masyarakat Simalungun
WILAYAH Indonesia terdiri atas lingkungan-lingkungan etnik yang mempunyai adat dan kebiasaan beraneka ragam, berbeda satu dengan lain. Hal ini berlaku pula pada keberadaan kesenian Indonesia, utamanya seni pertunjukan.

Edi Sedyawati mengungkapkan, pada lingkungan-lingkungan etnik ini, adat dan kebiasaan menjadi sangat berperan bagi kelangsungan hidup seni pertunjukan. Demikian juga halnya seni pertunjukan yang berupa tari-tarian dengan iringan bunyi-bunyian, sering dianggap merupakan pengemban dari kekuatan-kekuatan magis yang diharapkan hadir, tetapi juga tidak jarang merupakan semata-mata tanda syukur atas terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu.

Beberapa seni pertunjukan tradisi di Indonesia pada akhirnya tidak lepas dari sifat religius manusia, maknanya berkaitan dengan system religi dan kepercayaan masyarakat setempat. Dengan kata lain, bahwa system religi dan kepercayaan menjadi bagian yang sangat hidup dalam seni pertunjukan. Hal ini bias dilihat pada kehidupan masyarakat Simalungun, masih ada salah satu seni pertunjukan yaitu tari Huda-huda Toping-toping dan ansamble musik gonrang yang keberadaannya sangat berkaitan erat dengan adat dan kebiasaan masyarakatnya yaitu dalam upacara kematian.

Namatei Sayur Matua
Kematian adalah salah satu siklus dari kehidupan manusia selain kelahiran, pubertas dan perkawinan. Pada salah satu fase dalam siklus ini sering dilaksanakan upacara. Upacara tersebut dilakukan karena merupakan tahap-tahap penting dalam kehidupan manusia untuk diperingati. Peringatan upacara tersebut dinamakan upacara peralihan (rites of passage).

Di masyarakat Simalungun, seseorang yang meninggal dunia pada usia lanjut dan telah meninggalkan anak cucu, dilakukan upacara kematian yang disebut namatei sayur matua. Kematian pada usia lanjut tidak perlu lagi bersedih, namun merupakan satu kegembiraan, karena menjadi berkah. Ketika ada seorang warga Simalungun yang berusia lanjut meninggal di suatu perkampungan, mereka memahami seketika itu banyaknya kegiatan yang harus segera dilakukan oleh warga setempat sebagai persiapan menjelang dilangsungkannya upacara pemakaman. Jenazah yang bersangkutan diletakkan di tengah-tengah ruang keluarga yang kemudian segera dihadiri oleh para kerabat dan rekan.

Ensamble musik gonrang bolon dimainkan di dalam ataupun di luar rumah, namun pada tempat yang berdekatan dengan jenazah. Pernah terjadi suatu ketika untuk menghormati seorang wanita tua Simalungun, dilangsungkan berbagai kegiatan selama tiga hari tiga malam sebagai bentuk penyesuaian terhadap kehidupan masyarakat modern. Ansamble musik gonrang berhenti dimainkan pada saat mendekati tengah malam, meskipun menurut tradisi yang asli, musik ini dimainkan secara nonstop.

Mendekati senja hari setelah berlangsungnya upacara disertai dengan kata-kata sambutan, arak-arakan menuju lokasi penguburanpun mulai dilaksanakan dengan dipimpin oleh para pemain musik dan pengusung jenazah. Demikianlah seorang warga Simalungun dibaringkan ke peristirahatannya yang terakhir menurut tata cara yang digariskan oleh tradisi.



Upacara Kematian Untuk Raja
Pada saat seorang raja wafat, kematiannya harus disebarluaskan kepada rakyat dan berbagai persiapan harus segera dilaksanakan di istana. Jenazah raja dipersiapkan dan ditempatkan pada suatu anjungan di tengah-tengah suatu ruangan besar untuk diperlihatkan kepada khalayak, agar para rekan, kerabat serta kenalan yang hadir dapat menari di sekelilingnya.

Para pekerja (parhobas) mulai membangun usungan, sebuah tandu dari bambu yang digotong oleh limapuluh hingga tujuh puluh lima orang yang digunakan untuk menampung peti mati beserta jenazah raja. Untuk meletakkan peti mati ke atas tandu besar itu dibuatlah sebuah tangga panjang yang terbuat dari bambu.

Lembaran-lembaran kain putih (porsa) dibagikan kepada para anggota keluarga laki-laki dan pelayat yang lain sebagai tanda dukacita. Kain ini sebagian dililitkan pada kepala menyerupai sorban dan sebagian lagi diikatkan melingkari lengan. Alat-alat musik dibungkus dengan kain putih itu juga. Para penari dan pemain musik dipanggil menghadap ke istana. Para penari dengan pakaian-pakaian tertentu yang dipersiapkan untuk acara yang akan segera di mulai.

Setelah semuanya siap, ketiga fase upacara pemakaman seorang raja Simalungun dapat dilaksanakan (1) Kegiatan Huda-huda yang berpusat di halaman istana, (2) Mandingguri, acara disekitar peti mati yang dilakukan di dalam istana, (3) Manandur/manuan berbagai ritual yang terakhir di lokasi pemakaman. Ketiga fase itu dirancang guna memenuhi kebutuhan untuk memperlihatkan rasa hormat, pengungkapan rasa simpatik, dan kesedihan serta memberikan bantuan kepada mereka yang ditinggalkan

Mandingguri adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suara-suara kematian di daerah Simalungun. Lonceng kematian untuk menggambarkan sifat mandingguri sebagai bunyi ansemble musik gonrang di rumah seseorang yang meninggal dunia. Salah satu sumber bunyi pada saat berlangsungnya upacara pemakaman gaya Simalungun adalah dimainkannya ansambel musik gonrang. Ansambel musik gonrang ini memainkan musik bilamana terjadi peristiwa kematian.

Sumber : http://www.metrogaib.com/?liatdong=beritanya&newsid=211

beer: biar rame aja neh trit...
766HI - 29/10/2008 10:14 PM
#172

Quote:
Original Posted By hidupsehari
WILAYAH Indonesia terdiri atas lingkungan-lingkungan etnik yang mempunyai adat dan kebiasaan beraneka ragam, berbeda satu dengan lain. Hal ini berlaku pula pada keberadaan kesenian Indonesia, utamanya seni pertunjukan.

Edi Sedyawati mengungkapkan, pada lingkungan-lingkungan etnik ini, adat dan kebiasaan menjadi sangat berperan bagi kelangsungan hidup seni pertunjukan. Demikian juga halnya seni pertunjukan yang berupa tari-tarian dengan iringan bunyi-bunyian, sering dianggap merupakan pengemban dari kekuatan-kekuatan magis yang diharapkan hadir, tetapi juga tidak jarang merupakan semata-mata tanda syukur atas terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu.

Beberapa seni pertunjukan tradisi di Indonesia pada akhirnya tidak lepas dari sifat religius manusia, maknanya berkaitan dengan system religi dan kepercayaan masyarakat setempat. Dengan kata lain, bahwa system religi dan kepercayaan menjadi bagian yang sangat hidup dalam seni pertunjukan. Hal ini bias dilihat pada kehidupan masyarakat Simalungun, masih ada salah satu seni pertunjukan yaitu tari Huda-huda Toping-toping dan ansamble musik gonrang yang keberadaannya sangat berkaitan erat dengan adat dan kebiasaan masyarakatnya yaitu dalam upacara kematian.

Namatei Sayur Matua
Kematian adalah salah satu siklus dari kehidupan manusia selain kelahiran, pubertas dan perkimpoian. Pada salah satu fase dalam siklus ini sering dilaksanakan upacara. Upacara tersebut dilakukan karena merupakan tahap-tahap penting dalam kehidupan manusia untuk diperingati. Peringatan upacara tersebut dinamakan upacara peralihan (rites of passage).

Di masyarakat Simalungun, seseorang yang meninggal dunia pada usia lanjut dan telah meninggalkan anak cucu, dilakukan upacara kematian yang disebut namatei sayur matua. Kematian pada usia lanjut tidak perlu lagi bersedih, namun merupakan satu kegembiraan, karena menjadi berkah. Ketika ada seorang warga Simalungun yang berusia lanjut meninggal di suatu perkampungan, mereka memahami seketika itu banyaknya kegiatan yang harus segera dilakukan oleh warga setempat sebagai persiapan menjelang dilangsungkannya upacara pemakaman. Jenazah yang bersangkutan diletakkan di tengah-tengah ruang keluarga yang kemudian segera dihadiri oleh para kerabat dan rekan.

Ensamble musik gonrang bolon dimainkan di dalam ataupun di luar rumah, namun pada tempat yang berdekatan dengan jenazah. Pernah terjadi suatu ketika untuk menghormati seorang wanita tua Simalungun, dilangsungkan berbagai kegiatan selama tiga hari tiga malam sebagai bentuk penyesuaian terhadap kehidupan masyarakat modern. Ansamble musik gonrang berhenti dimainkan pada saat mendekati tengah malam, meskipun menurut tradisi yang asli, musik ini dimainkan secara nonstop.

Mendekati senja hari setelah berlangsungnya upacara disertai dengan kata-kata sambutan, arak-arakan menuju lokasi penguburanpun mulai dilaksanakan dengan dipimpin oleh para pemain musik dan pengusung jenazah. Demikianlah seorang warga Simalungun dibaringkan ke peristirahatannya yang terakhir menurut tata cara yang digariskan oleh tradisi.



Upacara Kematian Untuk Raja
Pada saat seorang raja wafat, kematiannya harus disebarluaskan kepada rakyat dan berbagai persiapan harus segera dilaksanakan di istana. Jenazah raja dipersiapkan dan ditempatkan pada suatu anjungan di tengah-tengah suatu ruangan besar untuk diperlihatkan kepada khalayak, agar para rekan, kerabat serta kenalan yang hadir dapat menari di sekelilingnya.

Para pekerja (parhobas) mulai membangun usungan, sebuah tandu dari bambu yang digotong oleh limapuluh hingga tujuh puluh lima orang yang digunakan untuk menampung peti mati beserta jenazah raja. Untuk meletakkan peti mati ke atas tandu besar itu dibuatlah sebuah tangga panjang yang terbuat dari bambu.

Lembaran-lembaran kain putih (porsa) dibagikan kepada para anggota keluarga laki-laki dan pelayat yang lain sebagai tanda dukacita. Kain ini sebagian dililitkan pada kepala menyerupai sorban dan sebagian lagi diikatkan melingkari lengan. Alat-alat musik dibungkus dengan kain putih itu juga. Para penari dan pemain musik dipanggil menghadap ke istana. Para penari dengan pakaian-pakaian tertentu yang dipersiapkan untuk acara yang akan segera di mulai.

Setelah semuanya siap, ketiga fase upacara pemakaman seorang raja Simalungun dapat dilaksanakan (1) Kegiatan Huda-huda yang berpusat di halaman istana, (2) Mandingguri, acara disekitar peti mati yang dilakukan di dalam istana, (3) Manandur/manuan berbagai ritual yang terakhir di lokasi pemakaman. Ketiga fase itu dirancang guna memenuhi kebutuhan untuk memperlihatkan rasa hormat, pengungkapan rasa simpatik, dan kesedihan serta memberikan bantuan kepada mereka yang ditinggalkan

Mandingguri adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suara-suara kematian di daerah Simalungun. Lonceng kematian untuk menggambarkan sifat mandingguri sebagai bunyi ansemble musik gonrang di rumah seseorang yang meninggal dunia. Salah satu sumber bunyi pada saat berlangsungnya upacara pemakaman gaya Simalungun adalah dimainkannya ansambel musik gonrang. Ansambel musik gonrang ini memainkan musik bilamana terjadi peristiwa kematian.

Sumber : http://www.metrogaib.com/?liatdong=beritanya&newsid=211

beer: biar rame aja neh trit...


hmm,,

memang Top info2 dr Lae ini.

btw lae marga ap ?
hidupsehari - 30/10/2008 08:54 AM
#173

Quote:
Original Posted By 766HI
hmm,,

memang Top info2 dr Lae ini.

btw lae marga ap ?

aku marga girsang lae... beer:
hidupsehari - 30/10/2008 02:06 PM
#174
UPACARA SAUR MATUA (Batak Toba)
I. Pendahuluan

Kehidupan terdiri dari dua kutub pertentangan, antara “hidup” dan “mati”, yang menjadi paham dasar manusia sejak masa purba sebagai bentuk dualisme keberadaan hidup hingga masa kini (Sumardjo,2002:107). Kematian merupakan akhir dari perjalanan hidup manusia. Maka kematian pada dasarnya adalah hal yang biasa, yang semestinya tidak perlu ditakuti, karena cepat atau lambat akan menjemput kehidupan dari masing-masing manusia.
Namun wajar bila kematian bukan menjadi keinginan utama manusia. Berbagai usaha akan selalu ditempuh manusia untuk menghindari kematian, paling tidak memperlambat kematian itu datang. Idealnya kematian itu datang pada usia yang sudah sangat tua.

Pada masyarakat Batak, kematian (mate) di usia yang sudah sangat tua, merupakan kematian yang paling diinginkan. Terutama bila orang yang mati telah menikahkan semua anaknya dan telah memiliki cucu dari anak-anaknya. Dalam tradisi budaya masyarakat Batak (khususnya Batak Toba), kematian seperti ini disebut sebagai mate saur matua. Tulisan ini membahas mate saur matua sebagai sebuah upacara kematian warisan produk kebudayaan masa lampau melalui tinjauan etnoarkeologi. Kiranya tulisan ini mampu memberikan tinjauan kritis dan arif, terutama melalui konteks sistem (hubungan masyarakat Batak Kristen dengan upacara saur matua dari waktu terdahulu hingga terkini). Apalagi dimasa terkini, upacara ini sering memunculkan kontroversi seputar ketidaksetujuan dari sebagian masyarakat Batak Kristen untuk melestarikannya. Upacara saur matua dianggap bertentangan dengan ajaran agama baru (Kristen) yang mereka anut.

Etnoarkeologi merupakan ilmu arkeologi yang menggunakan data etnografi sebagai analogi untuk membantu memecahkan masalah-masalah arkeologi (Puslitarkenas,1999:188-190). Dalam tulisan ini, data etnografi berupa upacara saur matua di kalangan masyarakat Batak Kristen (pada masa terkini) dijadikan sebagai salah satu bahan analogi dalam usaha merekonstruksi kebudayaan religi masyarakat Batak pada masa lampau yang berkaitan dengan konsep kematian. Hasil dari penelitian etnoarkeologi ini hanya sekedar memberi gambaran kemungkinan adanya persamaan antara gejala budaya masa lampau dengan budaya masa kini, atau sebagai argumentasi penghubung dalam rangka uji hipotesis, model, dan teori tentang terjadinya transformasi budaya pada upacara saur matua dari masa pra-Kristen hingga sampai masa terkini sesudah masuknya pengaruh agama Kristen.

II. Klasifikasi upacara adat kematian dalam tradisi masyarakat Batak

Dalam tradisi Batak, orang yang mati akan mengalami perlakuan khusus, terangkum dalam sebuah upacara adat kematian. Upacara adat kematian tersebut diklasifikasi berdasar usia dan status si mati. Untuk yang mati ketika masih dalam kandungan (mate di bortian) belum mendapatkan perlakuan adat (langsung dikubur tanpa peti mati). Tetapi bila mati ketika masih bayi (mate poso-poso), mati saat anak-anak (mate dakdanak), mati saat remaja (mate bulung), dan mati saat sudah dewasa tapi belum menikah (mate ponggol), keseluruhan kematian tersebut mendapat perlakuan adat : mayatnya ditutupi selembar ulos (kain tenunan khas masyarakat Batak) sebelum dikuburkan. Ulos penutup mayat untuk mate poso-poso berasal dari orang tuanya, sedangkan untuk mate dakdanak dan mate bulung, ulos dari tulang (saudara laki-laki ibu) si orang mati. Upacara adat kematian semakin sarat mendapat perlakuan adat apabila orang yang mati: 1. Telah berumah tangga namun belum mempunyai anak (mate di paralang-alangan / mate punu), 2. Telah berumah tangga dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil (mate mangkar), 3. Telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa, bahkan sudah ada yang kawin, namun belum bercucu (mate hatungganeon), 4. Telah memiliki cucu, namun masih ada anaknya yang belum menikah (mate sari matua), dan 5. Telah bercucu tidak harus dari semua anak-anaknya (mate saur matua). Mate Saurmatua menjadi tingkat tertinggi dari klasifikasi upacara, karena mati saat semua anaknya telah berumah tangga. Memang masih ada tingkat kematian tertinggi diatasnya, yaitu mate saur matua bulung (mati ketika semua anak-anaknya telah berumah tangga, dan telah memberikan tidak hanya cucu, bahkan cicit dari anaknya laki-laki dan dari anaknya perempuan) (Sinaga,1999:37–42). Namun keduanya
dianggap sama sebagai konsep kematian ideal (meninggal dengan tidak memiliki tanggungan anak lagi).



Written by balarmedan
Juni 18, 2008 pada 3:21 am
hidupsehari - 30/10/2008 02:21 PM
#175
Jejak Keindiaan Pada Batak Pak-Pak
I. Asal-usul dan persebaran orang Pakpak

Pakpak biasanya dimasukkan sebagai bagian dari etnis Batak, sebagaimana Karo, Mandailing, Simalungun, dan Toba. Orang Pakpak dapat dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan wilayah komunitas marga dan dialek bahasanya, yakni (Berutu dan Nurani, 2007:3–4):

1.
Pakpak Simsim, yakni orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di daerah Simsim. Antara lain marga Berutu, Sinamo, Padang, Solin, Banurea, Boang Manalu, Cibro, Sitakar, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Pakpak Bharat.
2.
Pakpak Kepas, yakni orang Pakpak yang menetap dan berdialek Keppas. Antara lain marga Ujung, Bintang, Bako, Maha, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Silima Pungga-pungga, Tanah Pinem, Parbuluan, dan Kecamatan Sidikalang di Kabupaten Dairi.
3.
Pakpak Pegagan, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Pegagan. Antara lain marga Lingga, Mataniari, Maibang, Manik, Siketang, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir, dan Kecamatan Tiga Lingga di Kabupaten Dairi.
4.
Pakpak Kelasen, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Kelasen. Antara lain marga Tumangger, Siketang, Tinambunan, Anak Ampun, Kesogihen, Maharaja, Meka, Berasa, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Pakkat (di Kabupaten Humbang Hasundutan), serta Kecamatan Barus (di Kabupaten Tapanuli Tengah).
5.
Pakpak Boang, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang. Antara lain marga Sambo, Penarik, dan Saraan. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Singkil (Nanggroe Aceh Darussalam).

Meskipun oleh para antropolog orang-orang Pakpak dimasukkan sebagai salah satu subetnis Batak di samping Toba, Mandailing, Simalungun, dan Karo. Namun, orang-orang Pakpak mempunyai versi sendiri tentang asal-usul jatidirinya. Berkaitan dengan hal tersebut sumber-sumber tutur menyebutkan antara lain (Sinuhaji dan Hasanuddin,1999/2000:16):

1.
Keberadaan orang-orang Simbelo, Simbacang, Siratak, dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak.

1.
Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru, Simorgarorgar, Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang, dan Purbaji.
2.
Dalam lapiken/laklak (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Barus.
3.
Persebaran orang-orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan.
4.
Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Barus, yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.

Berdasarkan sumber tutur serta sejumlah nama marga Pakpak yang mengandung unsur keindiaan (Lingga, Maha, dan Maharaja), boleh jadi di masa lalu memang pernah terjadi kontak antara penduduk pribumi Pakpak dengan para pendatang dari India. Jejak kontak itu tentunya tidak hanya dibuktikan lewat dua hal tersebut, dibutuhkan data lain yang lebih kuat untuk mendukung dugaan tadi. Oleh karena itu maka pengamatan terhadap produk-produk budaya baik yang tangible maupun intangible diperlukan untuk memaparkan fakta adanya kontak tersebut. Selain itu waktu, tempat terjadinya kontak, dan bentuk kontak yang bagaimanakah yang mengakibatkan wujud budaya dan tradisi masyarakat Pakpak sebagaimana adanya saat ini. Untuk itu diperlukan teori-teori yang relevan untuk menjelaskan sejumlah fenomena budaya yang ada.

II. Jejak Hindu-Buddha dalam kepercayaan dan tradisi orang Pakpak

Sebelum kedatangan agama Islam dan Kristen di tanah Pakpak, masyarakatnya meyakini bahwa alam raya ini diatur oleh Tritunggal Daya Adikodrati yang terdiri dari Batara
Guru, Tunggul Ni Kuta, dan Boraspati Ni Tanoh (Siahaan dkk.,1977/1978:62). Nama-nama itu antara lain terwujud lewat mantra ketika diadakan upacara menuntung tulan (pembakaran tulang-tulang leluhur). Sebelum api disulut oleh salah seorang Kula-kula/Puang dia mengucapkan kata-kata sebagai berikut (Berutu, 2007:32):

“O…pung…! Ko Batara Guru, Beraspati ni tanah, Tunggul ni kuta, … .”

Nama Boraspati dan Batara Guru jelas merupakan adopsi dari bahasa Sanskerta yang disesuaikan dengan pelafalan setempat. Kata Boraspati merupakan adopsi dari kata Wrhaspati yang berarti nama/sebutan purohita (utama/pertama) bagi para dewa. Jadi kata ini merujuk pada penyebutan bagi dewa tertinggi atau yang dianggap utama/penting yang dalam konteks ini (boraspati ni tanoh) dapat diartikan sebagai dewa utama yang berkuasa di tanah/bumi.

Penyebutan Batara
Guru dalam mantra sebelum api dinyalakan dalam upacara menuntung tulan jelas merupakan adopsi dari kepercayaan Hindu yang berkenaan dengan salah satu perwujudan dari Dewa Siwa yakni sebagai Agastya (Batara Guru). Menurut Krom (1920:92 dalam Poerbatjaraka,1992:110) wujud Siwa yang paling populer di Nusantara adalah wujud yang yang memakai nama Bhatara Guru (Guru Dewata). Sosok utama dengan nama ini juga banyak ditemukan di tempat-tempat lain di Nusantara. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa tokoh ini adalah dewa asli Indonesia yang konsepnya kemudian tercampur seiring dengan masuknya agama Hindu melalui perwujudan Siwa sebagai Mahayogi. Pendapat Krom tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Kern (1917:21 dalam Poerbatjaraka 1992:110). Menurut Kern bukti nyata tentang popularitas agama Hindu Siwa adalah dengan tersebarnya nama Bhatara Guru sebagai dewa utama di Nusantara. Demikian halnya dengan Wilken (1912:244 dalam Poerbatjaraka 1992:110) yang menyatakan bahwa Soripada dan Batara Guru adalah dewa-dewa pribumi yang semula mempunyai nama pribumi asli yang kemudian berubah dengan menggunakan bahasa Sanskerta.

Sumber Balar Medan
hidupsehari - 30/10/2008 02:31 PM
#176
Jejak Keindiaan Pada Batak Pak-Pak
I. Asal-usul dan persebaran orang Pakpak

Pakpak biasanya dimasukkan sebagai bagian dari etnis Batak, sebagaimana Karo, Mandailing, Simalungun, dan Toba. Orang Pakpak dapat dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan wilayah komunitas marga dan dialek bahasanya, yakni (Berutu dan Nurani, 2007:3–4):

1.
Pakpak Simsim, yakni orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di daerah Simsim. Antara lain marga Berutu, Sinamo, Padang, Solin, Banurea, Boang Manalu, Cibro, Sitakar, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Pakpak Bharat.
2.
Pakpak Kepas, yakni orang Pakpak yang menetap dan berdialek Keppas. Antara lain marga Ujung, Bintang, Bako, Maha, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Silima Pungga-pungga, Tanah Pinem, Parbuluan, dan Kecamatan Sidikalang di Kabupaten Dairi.
3.
Pakpak Pegagan, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Pegagan. Antara lain marga Lingga, Mataniari, Maibang, Manik, Siketang, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir, dan Kecamatan Tiga Lingga di Kabupaten Dairi.
4.
Pakpak Kelasen, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Kelasen. Antara lain marga Tumangger, Siketang, Tinambunan, Anak Ampun, Kesogihen, Maharaja, Meka, Berasa, dan lain-lain. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Pakkat (di Kabupaten Humbang Hasundutan), serta Kecamatan Barus (di Kabupaten Tapanuli Tengah).
5.
Pakpak Boang, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang. Antara lain marga Sambo, Penarik, dan Saraan. Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Singkil (Nanggroe Aceh Darussalam).

Meskipun oleh para antropolog orang-orang Pakpak dimasukkan sebagai salah satu subetnis Batak di samping Toba, Mandailing, Simalungun, dan Karo. Namun, orang-orang Pakpak mempunyai versi sendiri tentang asal-usul jatidirinya. Berkaitan dengan hal tersebut sumber-sumber tutur menyebutkan antara lain (Sinuhaji dan Hasanuddin,1999/2000:16):

1.
Keberadaan orang-orang Simbelo, Simbacang, Siratak, dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak.

1.
Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru, Simorgarorgar, Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang, dan Purbaji.
2.
Dalam lapiken/laklak (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Barus.
3.
Persebaran orang-orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan.
4.
Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Barus, yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.

Berdasarkan sumber tutur serta sejumlah nama marga Pakpak yang mengandung unsur keindiaan (Lingga, Maha, dan Maharaja), boleh jadi di masa lalu memang pernah terjadi kontak antara penduduk pribumi Pakpak dengan para pendatang dari India. Jejak kontak itu tentunya tidak hanya dibuktikan lewat dua hal tersebut, dibutuhkan data lain yang lebih kuat untuk mendukung dugaan tadi. Oleh karena itu maka pengamatan terhadap produk-produk budaya baik yang tangible maupun intangible diperlukan untuk memaparkan fakta adanya kontak tersebut. Selain itu waktu, tempat terjadinya kontak, dan bentuk kontak yang bagaimanakah yang mengakibatkan wujud budaya dan tradisi masyarakat Pakpak sebagaimana adanya saat ini. Untuk itu diperlukan teori-teori yang relevan untuk menjelaskan sejumlah fenomena budaya yang ada.

II. Jejak Hindu-Buddha dalam kepercayaan dan tradisi orang Pakpak

Sebelum kedatangan agama Islam dan Kristen di tanah Pakpak, masyarakatnya meyakini bahwa alam raya ini diatur oleh Tritunggal Daya Adikodrati yang terdiri dari Batara
Guru, Tunggul Ni Kuta, dan Boraspati Ni Tanoh (Siahaan dkk.,1977/1978:62). Nama-nama itu antara lain terwujud lewat mantra ketika diadakan upacara menuntung tulan (pembakaran tulang-tulang leluhur). Sebelum api disulut oleh salah seorang Kula-kula/Puang dia mengucapkan kata-kata sebagai berikut (Berutu, 2007:32):

“O…pung…! Ko Batara Guru, Beraspati ni tanah, Tunggul ni kuta, … .”

Nama Boraspati dan Batara Guru jelas merupakan adopsi dari bahasa Sanskerta yang disesuaikan dengan pelafalan setempat. Kata Boraspati merupakan adopsi dari kata Wrhaspati yang berarti nama/sebutan purohita (utama/pertama) bagi para dewa. Jadi kata ini merujuk pada penyebutan bagi dewa tertinggi atau yang dianggap utama/penting yang dalam konteks ini (boraspati ni tanoh) dapat diartikan sebagai dewa utama yang berkuasa di tanah/bumi.

Penyebutan Batara
Guru dalam mantra sebelum api dinyalakan dalam upacara menuntung tulan jelas merupakan adopsi dari kepercayaan Hindu yang berkenaan dengan salah satu perwujudan dari Dewa Siwa yakni sebagai Agastya (Batara Guru). Menurut Krom (1920:92 dalam Poerbatjaraka,1992:110) wujud Siwa yang paling populer di Nusantara adalah wujud yang yang memakai nama Bhatara Guru (Guru Dewata). Sosok utama dengan nama ini juga banyak ditemukan di tempat-tempat lain di Nusantara. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa tokoh ini adalah dewa asli Indonesia yang konsepnya kemudian tercampur seiring dengan masuknya agama Hindu melalui perwujudan Siwa sebagai Mahayogi. Pendapat Krom tersebut senada dengan yang dikemukakan oleh Kern (1917:21 dalam Poerbatjaraka 1992:110). Menurut Kern bukti nyata tentang popularitas agama Hindu Siwa adalah dengan tersebarnya nama Bhatara Guru sebagai dewa utama di Nusantara. Demikian halnya dengan Wilken (1912:244 dalam Poerbatjaraka 1992:110) yang menyatakan bahwa Soripada dan Batara Guru adalah dewa-dewa pribumi yang semula mempunyai nama pribumi asli yang kemudian berubah dengan menggunakan bahasa Sanskerta.

Sumber Balar Medan
the hawkz - 30/10/2008 02:39 PM
#177

mohon ijin u/ nyimak.....suhu...
766HI - 01/11/2008 07:05 AM
#178

OK,, Lae Girsang. beer:

Btw lae tau info tentang Aji Tur-tur ga ??

sup:
hidupsehari - 01/11/2008 10:04 AM
#179

Quote:
Original Posted By 766HI
OK,, Lae Girsang. beer:

Btw lae tau info tentang Aji Tur-tur ga ??

sup:


hehehehhehe doh gak tau aku aji tur-tur lae.. kek nya itu sejenis busung yah,kalo masalah gituan kita tanya ma suhu aja..
hidupsehari - 01/11/2008 10:11 AM
#180

Quote:
Original Posted By 766HI
OK,, Lae Girsang. beer:

Btw lae tau info tentang Aji Tur-tur ga ??

sup:


hehehehhehe doh gak tau aku aji tur-tur lae.. kek nya itu sejenis busung yah,kalo masalah gituan kita tanya ma suhu aja..
Page 9 of 63 | ‹ First  < 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Budaya]:"Rumpun B A T A K"##