Medan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Medan > <<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>
Total Views: 29870 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 343 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

dikisrg - 05/06/2011 01:30 AM
#1
<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>

Pada zaman dahulu Kota Medan ini dikenal dengan nama Tanah Deli dan keadaan tanahnya berawa-rawa kurang lebih seluas 4000 Ha. Beberapa sungai melintasi Kota Medan ini dan semuanya bermuara ke Selat Malaka. Sungai-sungai itu adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera.

Sejarah awal
Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus, lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap sehingga akhirnya kurang popular.
Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah di antara kedua sungai tersebut.
Secara keseluruhan jenis tanah di wilayah Deli terdiri dari tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah. Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh penelitian Vriens tahun 1910 bahwa di samping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat inilah pada waktu penjajahan Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu (sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas tinggi dan salah satu pabrik batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei.
Mengenai curah hujan di Tanah Deli digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama dan Maksima Tambahan. Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d bulan Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September. Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.
Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba dan di sana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya. Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.
Pada awal perkembangannya merupakan sebuah kampung kecil bernama "Medan Putri". Perkembangan Kampung "Medan Putri" tidak terlepas dari posisinya yang strategis karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura, tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Kedua sungai tersebut pada zaman dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, sehingga dengan demikian Kampung "Medan Putri" yang merupakan cikal bakal Kota Medan, cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.
Semakin lama semakin banyak orang berdatangan ke kampung ini dan isteri Guru Patimpus yang mendirikan kampung Medan melahirkan anaknya yang pertama seorang laki-laki dan dinamai si Kolok. Mata pencarian orang di Kampung Medan yang mereka namai dengan si Sepuluh dua Kuta adalah bertani menanam lada. Tidak lama kemudian lahirlah anak kedua Guru Patimpus dan anak inipun laki-laki dinamai si Kecik.
Pada zamannya Guru Patimpus merupakan tergolong orang yang berfikiran maju. Hal ini terbukti dengan menyuruh anaknya berguru (menuntut ilmu) membaca Al-Qur'an kepada Datuk Kota Bangun dan kemudian memperdalam tentang agama Islam ke Aceh.
Keterangan yang menguatkan bahwa adanya Kampung Medan ini adalah keterangan H. Muhammad Said yang mengutip melalui buku Deli: In Woord en Beeld ditulis oleh N. ten Cate. Keterangan tersebut mengatakan bahwa dahulu kala Kampung Medan ini merupakan Benteng dan sisanya masih ada terdiri dari dinding dua lapis berbentuk bundaran yang terdapat dipertemuan antara dua sungai yakni Sungai Deli dan sungai Babura. Rumah Administrateur terletak di seberang sungai dari kampung Medan. Kalau kita lihat bahwa letak dari Kampung Medan ini adalah di Wisma Benteng sekarang dan rumah Administrateur tersebut adalah kantor PTP IX Tembakau Deli yang sekarang ini.

Penaklukan Aceh
Sekitar tahun 1612 setelah dua dasa warsa berdiri Kampung Medan, Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Kesultanan Aceh mengirim Panglimanya bernama Gocah Pahlawan yang bergelar Laksamana Kuda Bintan untuk menjadi pemimpin yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli. Gocah Pahlawan membuka negeri baru di Sungai Lalang, Percut. Selaku Wali dan Wakil Sultan Aceh serta dengan memanfaatkan kebesaran imperium Aceh, Gocah Pahlawan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi Kecamatan Percut Sei Tuan dan Kecamatan Medan Deli sekarang. Dia juga mendirikan kampung-kampung Gunung Klarus, Sampali, Kota Bangun, Pulau Brayan, Kota Jawa, Kota Rengas Percut dan Sigara-gara.
Dengan tampilnya Gocah pahlawan mulailah berkembang Kerajaan Deli dan tahun 1632 Gocah Pahlawan kimpoi dengan putri Datuk Sunggal bergelar "Sri Indra Baiduzzaman Surbakti". Setelah terjadi perkimpoian ini raja-raja di Kampung Medan menyerah pada Gocah Pahlawan.
Gocah Pahlawan wafat pada tahun 1653 dan digantikan oleh puteranya Tuangku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh pada tahun 1669, dengan ibukotanya di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.
Masa Belanda
Belanda yang menjajah Nusantara kurang lebih tiga setengah abad namun untuk menguasai Tanah Deli mereka sangat banyak mengalami tantangan yang tidak sedikit. Mereka mengalami perang di Jawa dengan Pangeran Diponegoro sekitar tahun 1825-1830. Belanda sangat banyak mengalami kerugian sedangkan untuk menguasai Sumatera, Belanda juga berperang melawan Aceh, Minangkabau, danSisingamangaraja XII di daerah Tapanuli.
Jadi untuk menguasai Tanah Deli Belanda hanya kurang lebih 78 tahun mulai dari tahun 1864 sampai 1942. Setelah perang Jawa berakhir barulah Gubernur Jenderal Belanda Johannes van den Bosch mengerahkan pasukannya ke Sumatera dan dia memperkirakan untuk menguasai Sumatera secara keseluruhan diperlukan waktu 25 tahun. Penaklukan Belanda atas Sumatera ini terhenti di tengah jalan karenaMenteri Jajahan Belanda waktu itu Jean Chrétien Baud menyuruh mundur pasukan Belanda di Sumatera walaupun mereka telah mengalahkan Minangkabau yang dikenal dengan nama Perang Paderi (1821-1837).
Sultan Ismail yang berkuasa di Riau secara tiba-tiba diserang oleh gerombolan Inggeris dengan pimpinannya bernama Adam Wilson. Berhubung pada waktu itu kekuatannya terbatas maka Sultan Ismail meminta perlindungan pada Belanda. Sejak saat itu terbukalah kesempatan bagi Belanda untuk menguasai Kesultanan Siak Sri Indrapura yang rajanya adalah Sultan Ismail. Pada tanggal 1 Februari 1858Belanda mendesak Sultan Ismail untuk menandatangani perjanjian agar daerah taklukan kerajaan Siak Sri Indrapura termasuk Deli, Langkat dan Serdang di Sumatera Timur masuk kekuasaan Belanda. Karena daerah Deli telah masuk kekuasaan Belanda otomatislah Kampung Medan menjadi jajahan Belanda, tapi kehadiran Belanda belum secara fisik menguasai Tanah Deli.
Pada tahun 1858 juga Elisa Netscher diangkat menjadi Residen Wilayah Riau dan sejak itu pula dia mengangkat dirinya menjadi pembela Sultan Ismail yang berkuasa di kerajaan Siak. Tujuan Netscher itu adalah dengan duduknya dia sebagai pembela Sultan Ismail secara politis tentunya akan mudah bagi Netscher menguasai daerah taklukan Kesultanan Siak yakni Deli yang di dalamnya termasuk Kampung Medan Putri.
dikisrg - 05/06/2011 01:30 AM
#2

[B]Perkebunan Tembakau[/B]

Medan tidak mengalami perkembangan pesat hingga tahun 1860-an, ketika penguasa-penguasa Belanda mulai membebaskan tanah untuk perkebunan tembakau. Jacob Nienhuys, Van der Falk, dan Elliot, pedagang tembakau asal Belanda memelopori pembukaan kebun tembakau di Tanah Deli. Nienhuys yang sebelumnya berbisnis tembakau di Jawa, pindah ke Deli diajak seorang Arab Surabaya bernama Said Abdullah Bilsagih, Saudara Ipar Sultan Deli, Mahmud Perkasa Alam Deli. Nienhuys pertama kali berkebun tembakau di tanah milik Sultan Deli seluas 4.000 Bahu di Tanjung Spassi, dekat Labuhan. Maret 1864, Nienhuys mengirim contoh tembakau hasil kebunnya ke Rotterdam, Belanda untuk diuji kualitasnya. Ternyata, daun tembakau itu dianggap berkualitas tinggi untuk bahan cerutu. Melambunglah nama Deli di Eropa sebagai penghasil bungkus cerutu terbaik.
Seperti yang dituliskan oleh Tengku Luckman Sinar dalam bukunya, dijelaskan bahwa "kuli-kuli perkebunan itu umumnya orang-orang Tionghoa yang didatangkan dari Jawa, Tiongkok, Singapura, atau Malaysia. “Belanda menganggap orang-orang Karo dan Melayu malas serta melawan sehingga tidak dapat dijadikan kuli”
Pesatnya perkembangan Kampung "Medan Putri", juga tidak terlepas dari perkebunan tembakau yang sangat terkenal dengan tembakau Delinya, yang merupakan tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu. Pada tahun 1863, Sultan Deli memberikan kepada Jacob Nienhuys, Van der Falk dan Elliot dari Firma Van Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) secara erfpacht 20 tahun di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. Contoh tembakau deli. Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan berkualitas tinggi untuk pembungkus cerutu.
Perjanjian tembakau ditandatangani Belanda dengan Sultan Deli pada tahun 1865. Selang dua tahun, Nienhuys bersama Jannsen, P.W. Clemen, dan Cremer mendirikan perusahaan De Deli Maatschappij yang disingkat Deli Mij di Labuhan. Pada tahun 1869, Nienhuys memindahkan kantor pusat Deli Mij dari Labuhan ke Kampung Medan. Kantor baru itu dibangun di pinggir sungai Deli, tepatnya di kantor PTPN II (eks PTPN IX) sekarang. Dengan perpindahan kantor tersebut, Medan dengan cepat menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan perdagangan, sekaligus menjadi daerah yang paling mendominasi perkembangan di Indonesia bagian barat. Pesatnya perkembangan perekonomian mengubah Deli menjadi pusat perdagangan yang mahsyur dengan julukan het dollar land alias tanah uang. Mereka kemudian membuka perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal pada tahun 1869, serta sungai Beras dan Klumpang pada tahun 1875.

Kemudian di tahun 1866, Jannsen, P.W. Clemen, Cremer dan Nienhuys mendirikan Deli Maatschappij di Labuhan. Kemudian melakukan ekspansi perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal (1869), Sungai Beras dan Klumpang (1875), sehingga jumlahnya mencapai 22 perusahaan perkebunan pada tahun 1874. Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sudah sangat luas dan berkembang, Nienhuys memindahkan kantor perusahaannya dari Labuhan ke Kampung "Medan Putri". Dengan demikian "Kampung Medan Putri" menjadi semakin ramai dan selanjutnya berkembang dengan nama yang lebih dikenal sebagai "Kota Medan".
Perkembangan Medan Putri menjadi pusat perdagangan telah mendorongnya menjadi pusat pemerintahan. Tahun 1879, Ibukota Asisten Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan, 1 Maret 1887, ibukota Residen Sumatera Timur dipindahkan pula dari Bengkalis ke Medan, Istana Kesultanan Deli yang semula berada di Kampung Bahari (Labuhan) juga pindah dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada tanggal 18 Mei 1891, dan dengan demikian Ibukota Deli telah resmi pindah ke Medan.
Pada tahun 1915 Residensi Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen. Pada tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi Gemeente (Kota Praja) dengan Walikota Baron Daniel Mackay. Berdasarkan "Acte van Schenking" (Akte Hibah) Nomor 97 Notaris J.M. de-Hondt Junior, tanggal 30 Nopember 1918, Sultan Deli menyerahkan tanah kota Medan kepada Gemeente Medan, sehingga resmi menjadi wilayah di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda. Pada masa awal Kotapraja ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir.
Pada tahun 1918 penduduk Medan tercatat sebanyak 43.826 jiwa yang terdiri dari Eropa 409 orang, Indonesia 35.009 orang, Cina 8.269 orang dan Timur Asing lainnya 139 orang.
Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat. Berbagai fasilitas dibangun. Beberapa di antaranya adalah Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru (1919), sekarang RISPA, hubungan Kereta Api Pangkalan Brandan - Besitang (1919), Konsulat Amerika (1919), Sekolah Guru Indonesia di Jl. H.M. Yamin sekarang (1923), Mingguan Soematra (1924), Perkumpulan Renang Medan (1924), Pusat Pasar, R.S. Elizabeth, Klinik Sakit Mata dan Lapangan Olah Raga Kebun Bunga (1929).
Secara historis perkembangan Kota Medan, sejak awal telah memposisikan menjadi pusat perdagangan (ekspor-impor) sejak masa lalu. sedang dijadikannya medan sebagai ibukota deli juga telah menjadikannya Kota Medan berkembang menjadi pusat pemerintah. sampai saat ini di samping merupakan salah satu daerah kota, juga sekaligus sebagai ibukota Propinsi Sumatera Utara.

Masa Penjajahan Jepang

Tahun 1942 penjajahan Belanda berakhir di Sumatera yang ketika itu Jepang mendarat dibeberapa wilayah seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan khusus di Sumatera Jepang mendarat di Sumatera Timur.
Tentara Jepang yang mendarat di Sumatera adalah tentara XXV yang berpangkalan di Shonanto yang lebih dikenal dengan nama Singapura, tepatnya mereka mendarat tanggal 11 malam 12 Maret 1942. Pasukan ini terdiri dari Divisi Garda Kemaharajaan ke-2 ditambah dengan Divisi ke-18 dipimpin langsung oleh Letjend. Nishimura. Ada empat tempat pendaratan mereka ini yakni Sabang, Ulele, Kuala Bugak (dekatPeureulak, Aceh Timur sekarang) dan Tanjung Tiram (kawasan Batubara sekarang).
Pasukan tentara Jepang yang mendarat di kawasan Tanjung Tiram inilah yang masuk ke Kota Medan, mereka menaiki sepeda yang mereka beli dari rakyat di sekitarnya secara barter. Mereka bersemboyan bahwa mereka membantu orang Asia karena mereka adalah saudara Tua orang-orang Asia sehingga mereka dieluelukan menyambut kedatangannya.
Ketika peralihan kekuasaan Belanda kepada Jepang Kota Medan kacau balau, orang pribumi mempergunakan kesempatan ini membalas dendam terhadap orang Belanda. Keadaan ini segera ditertibkan oleh tentara Jepang dengan mengerahkan pasukannya yang bernamaKempetai (Polisi Militer Jepang). Dengan masuknya Jepang di Kota Medan keadaan segera berubah terutama pemerintahan sipilnya yang zaman Belanda disebut gemeentebestuur oleh Jepang dirobah menjadi Medan Sico (Pemerintahan Kotapraja). Yang menjabat pemerintahan sipil di tingkat Kotapraja Kota Medan ketika itu hingga berakhirnya kekuasaan Jepang bernama Hoyasakhi. Untuk tingkat keresidenan di Sumatera Timur karena masyarakatnya heterogen disebut Syucokan yang ketika itu dijabat oleh T.Nakashima, pembantu Residen disebut dengan Gunseibu.
Penguasaan Jepang semakin merajalela di Kota Medan mereka membuat masyarakat semakin papa, karena dengan kondisi demikianlah menurut mereka semakin mudah menguasai seluruh Nusantara, semboyan saudara Tua hanyalah semboyan saja. Di sebelah Timur Kota Medan yakni Marindal sekarang dibangun Kengrohositai sejenis pertanian kolektif. Di kawasan Titi Kuning Medan Johor sekarang tidak jauh dari lapangan terbang Polonia sekarang mereka membangun landasan pesawat tempur Jepang.
dikisrg - 05/06/2011 01:31 AM
#3

Menyusuri Sejarah Titik Nol Kota Medan

Balaikota Medan yang terletak di depan Lapangan Merdeka Medan kini sering disebut sebagai titik nol Kota Medan. Letaknya yang tepat di jantung Kota Medan menjadikannya sebagai landmark kota ini.

Tapak tanah tempat berdirinya Balaikota Medan sekarang, merupakan lahan hutan dibuka pertama kalinya oleh Guru Patimpus, 1 Juli 1590 yang dikenal sebagai areal “Kampung Medan”. Kemudian mengapa lapangan yang berada di seberang bangunan balaikota dinamakan Lapangan Benteng, juga mengapa adanya keberadaan Wisma Benteng?

Karena memang di areal delta tempat bertemunya dua aliran sungai, yakni Sungai Deli dan Sungai Babura, dulunya oleh Belanda dibangun benteng (loji).

Bangunan benteng dengan bagian depan menghadap ke jembatan Jalan Raden Saleh – sekarang menjadi bagian dari pasar swalayan Grand Palladium.Terakhir ba-ngunan benteng ini dikelola bagian Peralatan Daerah Militer (Paldam) Bukit Barisan hingga tahun 1960-an. SZedangkan di tapak tanah Balaikota Medan sekarang, dulunya merupakan gedung Dinas Kesehatan Daerah Militer (Diskesdam) Bukit Barisan. Semen-tara di bagian belakangnya, hingga ke pinggiran delta dua aliran sungai kompleks perumahan perwira menengah (Pamen).

Pada bagian dalam bangunan benteng (loji) sekarang, menjadi bangunan Wisma Bednteng – sebagai pengganti Balai Prajurit yang sekarang Bank Central Asia (BCA) di Jalan Bukit Barisan depan Kantor Pos Besar Medan mengarah ke stasiun. Sedangkan di bagian dalam benteng dulunya menjadi komunitas hunian warga Maluku asal Ambon yang diduga sebelumnya mereka anggota KNIL Belanda.

Itu sebabnya, di sekitar Lapangan Benteng hingvga akhir tahun 1960-an meru-pakan komunitas militer. Di sudut Jalan Kejaksaan dan Jalan Maulana Lubis pernah menjadi markas Corps Polisi Militer (CPM) yang kemudian pindah ke Jalan Jenderal Soeprapto. Pada bagian belakangnya kantgor MKomando Distrikl Militer (Kodim) yang semula adalah Pusat Pendidikan Administrasi dari Korps Keuangan Dam Bukit Barisan.

Sebelumnya Kodim berada di bagian depan Perguruan Immanuel sekarang, Jalan Imam Bonjol – Jalan Jenderal Soeprapto–Jalan Cut Nyak Dhien.

Sedangkan Pusat Pendidikan Administrasi dari Korps Keuangan Dam Bukit Barisan sebelumnya menempati gedung yang kemudian menjadi Sekolah Hakim dan Jaksa (SHD), Jalan Imam Bonjol dan kini menjadi bagian lapangan parkir dari Hotel Danau Toba International (HDTI).

Pada areal bangunan benteng mau pun Lapangan Benteng, jelas merupakan kompleks militer peninggalan Belanda, tidak terkecuali di tapak tanah gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DRD) Sumatera Utara, dulunya merupakan asrama prajurit dan beberapa rumah gedung di sebelah kirinya, dihuni perwira komandannya.

Begitu juga dengan barisan rumah toko (Ruko) di Jalan Raden Saleh, sebelumnya merupakan bangunan rumah terbuat dari kayu/papan, di kiri/kanan dan depan bangunan dikelilingi halaman yang luas. Bangunan rumah tersebut, merupakan hunian perwira Kodam Bukit Barisan.

Terdapat ruas jalan dari Jalan Raden Saleh menuju ke ruas Jalan Ahmad Yani VII, sebelumnya Jalan Kebudayaan, yakni Jalan Mayor yang merupakan jenjang kepangkatan disandang Tjong A Fie warga turunan Tionghoa yang dipercaya Belanda menjadi pimpinan etnisnya. Jenjang kepangkatan Tjong A Fie bermula dengan Jalan Letnan (sekarang Jalan Bandung) di kawasan Pecinan (China Town) dan Jalan Kapten, berganti nama men-jadi Jalan Pandu dan terakhir Jalan Hj. Ani Idrus.

Dipercaya, pemerintahan Hindia Belanda dengan andalan kekuatan militer, terpusat di seputar Jalan Diponegoro, sebelumnya bernama Jalan Yogya dan sewaktu za-man Belanda dinamakan “Manggaland Straat” – karena di sepanjang jalan tersebut tumbuh subur dan berbuah mangga. Kemudian Jalan Imam Bonjol, dulunya Jalan Jakarta.

Di seberang jalan bangunan benteng arah ke Petisah, dihubungkan dengan jembatan lengkung yang unik dan khas, memasuki Jalan Gatot Subroto dan persimpangan Jalan S. Parman, dulunya terdapat pasar kecil yang dinamakan “Pajak Bundar”, karena bentuknya memang bundar dan kini menjadi taman bunga dan air mancur serta dihiasi patung Guru Patimpus sebagai pendiri “Kampung Medan” yang kelak menjadi cikal bakal ibukota Provinsi Sumatera Utara ini sebagai kota metropolitan.
dikisrg - 05/06/2011 01:32 AM
#4

Beberapa Foto Medan Tempo Dulu

Quote:


Tip Top

Spoiler for tiptop

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Rumah Dinas GUBSU

Spoiler for rumah dinas

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Bioskop Ria

Spoiler for bioskop

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Bandara Polonia

Spoiler for polonia

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Menara Tirtanadi

Spoiler for tirtanadi

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Istana Maimoon

Spoiler for maimoon

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Lapangan Merdeka

Spoiler for lap merdeka

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Kolam Paradiso

Spoiler for paradiso

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Kolam Deli

Spoiler for kolam deli

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Kesawan

Spoiler for kesawan

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Kesawan 1903

Spoiler for kesawan 1903

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Kantor Gubsu

Spoiler for kantor gubsu


<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>



Jl. Pulau Pinang

Spoiler for pl pinang

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Istana Tengku Besar - Amaliun

Spoiler for istana amaliun

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Istana Puri

Spoiler for istana puri

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Balai Kota

Spoiler for balaikota

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Air Mancur Depan Dharma Deli

Spoiler for mancur

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Pajak Sentral

Spoiler for sentral

<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>
dikisrg - 05/06/2011 01:32 AM
#5

Geografi

Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km²) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainya, Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan terletak pada 3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur Timur. Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut.
Secara administratif, batas wilayah Medan adalah sebagai berikut:

Utara
Selat Malaka

Selatan
Kabupaten Deli Serdang

Barat
Kabupaten Deli Serdang

Timur
Kabupaten Deli Serdang

Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu daerah yang kaya dengan sumber daya alam (SDA), khususnya di bidang perkebunan dan kehutanan. Karena secara geografis Medan didukung oleh daerah-daerah yang kaya sumber daya alam, seperti Deli Serdang, Labuhan Batu, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Karo, Binjai dan lain-lain. Kondisi ini menjadikan kota Medan secara ekonomi mampu mengembangkan berbagai kerjasama dan kemitraan yang sejajar, saling menguntungkan, saling memperkuat dengan daerah-daerah sekitarnya.
Di samping itu sebagai daerah pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Medan ini telah mendorong perkembangan kota dalam dua kutub pertumbuhan secara fisik, yaitu daerah Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.


Demografi

Keadaan Penduduk
2001
1.926.052

2002
1.963.086

2003
1.993.060

2004
2.006.014

2005
2.036.018

2007
2.083.156

2008
2.102.105

2009
2.121.053

2010
2.109.339

Berdasarkan data kependudukan tahun 2005, penduduk Medan diperkirakan telah mencapai 2.036.018 jiwa, dengan jumlah wanita lebih besar dari pria, (1.010.174 jiwa > 995.968 jiwa). Jumlah penduduk tersebut diketahui merupakan penduduk tetap, sedangkan penduduk tidak tetap diperkirakan mencapai lebih dari 500.000 jiwa, yang merupakan penduduk komuter. Dengan demikian Medan merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk yang besar.
Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2010, penduduk Medan berjumlah 2.109.339 jiwa. Penduduk Medan terdiri atas 1.040.680 laki-laki dan 1.068.659 perempuan.
Di siang hari, jumlah ini bisa meningkat hingga sekitar 2,5 juta jiwa dengan dihitungnya jumlah penglaju (komuter). Sebagian besar penduduk Medan berasal dari kelompok umur 0-19 dan 20-39 tahun (masing-masing 41% dan 37,8% dari total penduduk).
Dilihat dari struktur umur penduduk, Medan dihuni lebih kurang 1.377.751 jiwa berusia produktif, (15-59 tahun). Selanjutnya dilihat dari tingkat pendidikan, rata-rata lama sekolah penduduk telah mencapai 10,5 tahun. Dengan demikian, secara relatif tersedia tenaga kerja yang cukup, yang dapat bekerja pada berbagai jenis perusahaan, baik jasa, perdagangan, maupun industri manufaktur.
Laju pertumbuhan penduduk Medan periode tahun 2000-2004 cenderung mengalami peningkatan tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2000 adalah 0,09% dan menjadi 0,63% pada tahun 2004. Sedangkan tingkat kapadatan penduduk mengalami peningkatan dari 7.183 jiwa per km² pada tahun 2004. Jumlah penduduk paling banyak ada di Kecamatan Medan Deli, disusul Medan Helvetia dan Medan Tembung. Jumlah penduduk yang paling sedikit, terdapat di Kecamatan Medan Baru, Medan Maimun, dan Medan Polonia. Tingkat kepadatan Penduduk tertinggi ada di kecamatan Medan Perjuangan, Medan Area, dan Medan Timur. Pada tahun 2004, angka harapan hidup bagi laki-laki adalah 69 tahun sedangkan bagi wanita adalah 71 tahun.
Mayoritas penduduk kota Medan sekarang ialah Suku Jawa, dan suku-suku dari Tapanuli (Batak, Mandailing, Karo). Di Medan banyak pula orang keturunan India dan Tionghoa. Medan salah satu kota di Indonesia yang memiliki populasi orang Tionghoa cukup banyak.
Keanekaragaman etnis di Medan terlihat dari jumlah masjid, gereja dan vihara Tionghoa yang banyak tersebar di seluruh kota. Daerah di sekitar Jl. Zainul Arifin dikenal sebagai Kampung Keling, yang merupakan daerah pemukiman orang keturunan India.
Secara historis, pada tahun 1918 tercatat bahwa Medan dihuni 43.826 jiwa. Dari jumlah tersebut, 409 orang berketurunan Eropa, 35.009 berketurunan Indonesia, 8.269 berketurunan Tionghoa, dan 139 lainnya berasal dari ras Timur lainnya.

Sumber: 1930 dan 1980: Usman Pelly, 1983; 2000: BPS Sumut
Catatan: Data BPS Sumut tidak menyenaraikan "Batak" sebagai suku bangsa, total Simalungun (0,69%), Tapanuli/Toba (19,21%), Pakpak (0,34%), dan Nias (0,69%) adalah 20,93%.
dikisrg - 05/06/2011 01:33 AM
#6

Pemerintahan

Kota Medan dipimpin oleh seorang walikota. Saat ini, jabatan walikota Medan dijabat oleh Rahudman Harahap dengan jabatan wakil walikota dijabat oleh Dzulmi Eldin. Wilayah Kota Medan dibagi menjadi 21 kecamatan dan 151 kelurahan.
Medan Tuntungan
Medan Johor
Medan Amplas
Medan Denai
Medan Area
Medan Kota
Medan Maimun
Medan Polonia
Medan Baru
Medan Selayang
Medan Sunggal
Medan Helvetia
Medan Petisah
Medan Barat
Medan Timur
Medan Perjuangan
Medan Tembung
Medan Deli
Medan Labuhan
Medan Marelan
Medan Belawan


Walikota Medan dari masa ke masa

Daniël Mackay 1918 - 1931
J.M. Wesselink 1931 - 1935
G. Pitlo 1935 - 1938
C.E.E. Kuntze 1938 - 1942
Shinichi Hayasaki 1942 - 1945
Luat Siregar 3 Oktober - 10 November 1945
M. Yusuf 10 November 1945 - Agustus 1947
Djaidin Purba 1 November 1947 - 12 Juli 1952
A.M. Jalaluddin 12 Juli 1952 - 1 Desember 1954
Hadji Muda Siregar 6 Desember 1954 - 14 Juni 1958
Madja Purba 3 Juli 1958 - 28 Februari 1961
Basyrah Lubis 28 Februari 1961 - 30 Oktober 1964
P.R. Telaumbanua 10 Oktober 1964 - 28 Februari 1965
Aminurrasyid 28 Agustus 1965 - 26 September 1966
Sjoerkani 26 September 1966 - 3 Juli 1974
M. Saleh Arifin 3 Juli 1974 - 31 Maret 1980
Agus Salim Rangkuti 1 April 1980 - 31 Maret 1990
Bachtiar Djafar 1 April 1990 - 31 Maret 2000
Abdillah 1 April 2000 - 20 Agustus 2008
Afifuddin Lubis (penjabat) 20 Agustus 2008 - 22 Juli 2009
Rahudman Harahap (penjabat) 23 Juli 2009- 16 Februari 2010
Syamsul Arifin (penjabat) 16 Februari 2010 - 25 Juli 2010
Rahudman Harahap 26 Juli 2010 - sekarang
dikisrg - 05/06/2011 01:33 AM
#7

Transportasi

Darat

Terminal yang melayani warga Medan:

Terminal Sambu
Terminal Pinang Baris
Terminal Amplas

Keunikan Medan terletak pada becak bermotornya (becak mesin/ becak motor) yang dapat ditemukan hampir di seluruh Medan. Berbeda dengan becak biasa (becak dayung), becak motor dapat membawa penumpangnya kemana pun di dalam kota. Selain becak, dalam kota juga tersedia angkutan umum berbentuk minibus (angkot/oplet) dan taksi. Pengemudi becak berada di samping becak, bukan di belakang becak seperti halnya di Jawa, yang memudahkan becak Medan untuk melalui jalan yang berliku-liku dan memungkinkan untuk diproduksi dengan harga yang minimal, karena hanya diperlukan sedikit modifikasi saja agar sepeda atau sepeda motor biasa dapat digunakan sebagai penggerak becak. Desain ini mengambil desain dari sepeda motor gandengan perang Jerman di Perang Dunia II.
Sebutan paling khas untuk angkutan umum adalah Sudako. Sudako pada awalnya menggunakan minibus Daihatsu S38 dengan mesin 2 tak kapasitas 500cc. Bentuknya merupakan modifikasi dari mobil pick up. Pada bagian belakangnya diletakkan dua buah kursi panjang sehingga penumpang duduk saling berhadapan dan sangat dekat sehingga bersinggungan lutut dengan penumpang di depannya.
Trayek pertama kali sudako adalah "Lin 01", (Lin sama dengan trayek) yang menghubungkan antara daerah Pasar Merah (Jl. HM. Joni), Jl. Amaliun dan terminal Sambu, yang merupakan terminal pusat pertama angkutan penumpang ukuran kecil dan sedang. Saat ini "Daihatsu S38 500 cc" sudah tidak digunakan lagi karena faktor usia, dan berganti dengan mobil-mobil baru seperti Toyota Kijang, Isuzu Panther, Daihatsu Zebra, dan Espass.
Selain itu, masih ada lagi angkutan lainnya yaitu bemo, yang berasal dari India. Beroda tiga dan cukup kuat menanjak dengan membawa 11 penumpang. Bemo kemudian digantikan oleh Bajaj yang juga berasal dari India, yang di Medan dikenal dengan nama "toyoko".
Kereta api menghubungkan Medan dengan Tanjungpura di sebelah barat laut, Belawan di sebelah utara, dan Binjai-Tebing Tinggi-Pematang Siantar dan Tebing Tinggi-Kisaran-Rantau Prapat di tenggara. Jalan Tol Belmera menghubungkan Medan dengan Belawan dan Tanjung Morawa. Jalan tol Medan-Lubuk Pakam dan Medan-Binjai juga sedang direncanakan pembangunannya.

Spoiler for Becak Mesin
<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>

Spoiler for Sudako
<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>

Spoiler for Angkot
<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>


Laut

Pelabuhan Belawan terletak sekitar 20 km di utara kota. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan terbesar dan teramai kedua di Indonesia setelah Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pelabuhan ini merupakan yang terpenting di Wilayah Selat Malaka karena aktivitas pelabuhan tersebut yang sangat sibuk dan padat.

Udara

Bandar Udara Internasional Polonia yang terletak tepat di jantung kota, menghubungkan Medan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Batam, Palembang, Jakarta, Gunung Sitoli serta Kuala Lumpur, Penang, Ipoh, Alor Setar di Malaysia, dan Singapura. Sebuah bandara internasional baru di Kuala Namu di kabupaten Deli Serdang sedang dalam pembangunan.
dikisrg - 05/06/2011 01:34 AM
#8

Pusat perbelanjaan

Plaza dan Mal

Deli Plaza, Sinar Plaza, Menara Plaza, digabung menjadi satu dengan nama "Deli Grand City".
Grand Palladium, terletak di Medan Petisah.
Plaza Medan Fair, terletak di Medan Petisah.
Medan Mall, terletak di Pusat Pasar.
Medan Plaza, satu di antara plaza tertua di Medan. Plaza ini berhasil bertahan karena tetap mempertahankan penyewa kios yang menyediakan beragam barang dan jasa yang ekonomis.
Millenium Plaza, pusat penjualan telepon genggam, dulu bernama "Tata Plaza" sampai dengan tahun 1999.
Sun Plaza, terletak di dekat Kantor Gubernur Sumatera Utara di Medan Petisah.
Cambridge City Square, di atasnya terdapat 4 bangunan yang berupa apartemen.
Thamrin Plaza, terletak di Medan Area, Medan.
Perisai Plaza, sejak tahun 2006 Perisai Plaza mulai tutup secara perlahan.
Olympia Plaza, satu di antara plaza tertua di Medan, bersebelahan dengan Medan Mall. Namun kini sudah tidak beroperasi sebagai tempat grosir pakaian, sepatu dan barang pecah belah.
Brastagi Mall, awalnya bernama Price Mart. Selanjutnya berganti nama menjadi The Club Store. Setelah direnovasi, plaza ini berganti nama menjadi Mall The Club Store. Dan akhirnya berganti nama menjadi Brastagi Mall.
Hong Kong Plaza - Novotel Soechi
Macan Group (Macan Yaohan, Macan Syariah, Macan Mart, Macan Mart Syariah)
Lotte Mart Wholesale, dulu bernama Makro.
Yuki Pasar Raya dan Yuki Simpang Raya
Yanglim Plaza
Grand Palladium

Pasar

Pusat Pasar, salah satu pasar tradisional tua di Medan yang sudah ada sejak zaman kolonial. Menyediakan beragam kebutuhan pokok dan sayur mayur.
Pasar Petisah. pemerintah kota menggabungkan pasar tradisional dan pasar modern. Tak heran jika sekarang tampilannya tidak kumuh dan becek seperti pasar tradisional umumnya. Pasar Petisah menjadi acuan berbelanja yang murah dan berkualitas.
Pasar Beruang, terletak di Jalan Beruang.
Pasar Simpang Limun, salah satu pasar tradisonal yang cukup tua dan menjadi merek dagang kota Medan. Terletak di persimpangan Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Sakti Lubis. Saat ini sedang dalam tahap penataan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas akibat kesibukan pasar ini.
Pasar Ramai, pasar ini terletak di Jalan Thamrin yang bersebelahan dengan Thamrin Plaza.
Pasar Simpang Melati, pasar ini terkenal sebagai tempat perdagangan pakaian bekas dan menjadi lokasi favorit baru para pemburu pakaian bekas setelah Pasar Simalingkar dan Jl. Pancing. Pasar Simpang Melati ramai dikunjungi pada akhir pekan.
Pasar Ikan Lama, pasar ini tidak menjual ikan, pasar ini memasarkan tekstil yang cukup terkenal, bahkan tak jarang dijadikan sebagai obyek kunjungan wisata bagi para turis asing.
Ada Keunikan tersendiri dalam pengucapan Pasar di kalangan masyarakat di Medan. Orang Medan biasanya menyebut Pasar dengan sebutan Pajak seperti menyebut Pajak Petisah, Pajak Ikan Lama, dll sehingga orang dari luar daerah Kota Medan bingung dengan mengira merujuk kepada kantor Dinas Perpajakan. Tidak diketahui asal-usul kebiasaan pengucapan ini di Kalangan Masyarakat di Kota Medan.

Wisata Kuliner

Kesawan Square, sejak 16 November 2007 tempat ini ditutup.
Merdeka Walk, pusat jajanan 24 jam yang terletak di Lapangan Merdeka Medan dan tepat berada di seberang Balai Kota Medan.
Ramadhan Fair, khusus dibuka pada saat bulan puasa (Ramadhan) terletak bersebelahan dengan Mesjid Raya Medan.
Jalan Semarang, masakan Tionghoa pada malam hari.
Jalan Pagaruyung, masakan India & Indonesia di daerah "Kampung Keling" ("Kampung Madras").
Jalan Dr. Mansyur (Kampus USU), pilihan berbagai kafe yang menawarkan beragam hidangan.
Dan masih banyak lagi tempat wisata kuliner lainnya di Kota Medan.


Daftar Hotel di Medan

Berikut ini diberikan daftar hotel di Medan yang agak lengkap dan langsung diberikan link ke masing-masing keterangan hotelnya sehingga mudah untuk melakukan pilihan.
Antares Hotel Harga khusus Rp 375.000/kamar/malam Berloksi di Jl. Sisinamangaraja no. 84 Medan menawarkan 73 kamar tamu yang di antaranya ada 4 kamar studio 26 kamar superior, 34 kamar klas eksekutif, 10 kamar deluxe, 1 kamar suite, dan 3 kamar penhouse.

Asean International Hotel Harga khusus Rp 525.000/kamar/malam Berlokasi di Jl. H. Adam Malik no. 15 Medan menawarkan kamar tamu dengan teras atau balkon, ber AC, ada mini bar, supply air panas dan air dingin, telpun, tape, radio, alat untuk menghidangkan teh, TV, Video, dan sebaginya.

Emerald Gardenia Hotel Harga khusus Rp 475.000/kamar/malam Berlokasi di Jl. KL. Yos Sudarso no. 1 Medan menawarkan 158 kamar tamu yang terdiri dari kamar superior, sampai ke katagori eksekutif suite yang dilengkapi dengan fasilitas berupa mini bar, kotak pengaman, telpun, alat untuk menyiapkan teh dan kopi, TV, film in house, HBO, AC, supply air panas dan dingin.

Garuda Plaza Hotel Harga khusus Rp 405.000/kamar/malam Berlokasi di Jl. Sisingamangaraja no. 84 Medan dengan kamar tamu yang diberi teras atau balkon, AC, mini bar, supply air panas dan air dingin, telpun, tape, radio, alat untuk menghidangkan teh dan kopi, TV, video in house

Garuda Citra Hotel Harga khusus Rp 265.000/kamar/malam Berlokasi di Jl. Sisingamangaraja no. 27/39 Medan menawarkan kamar stndard, eksekutif, deluxe, dan kamar untuk keluarga. Setiap kamar diberikan fasilitas berupa AC, supply air panas dan air dingin, dan telpun.

Grand Angkasa Hotel Harga khusus Rp 575.000/kamar/malam Berlokasi di Jl. Sutomo no. 1 Medan menawarkan kamar tamu dengan fasilitas lengkap berupa kotak pengaman, mini bar, hairdryer, alat untuk menghidangkan teh dan kopi, kamar yang berhubungan, halaman bebas rokok, kasur feather, telpun di kamar mandi, kunci eletronik, surat kabar, kontrol system di sisi tempat tidur

Inna Dharma Deli Hotel Harga khusus Rp 370.000/kamar/malam Berlokasi di Jl. Balai Kota Medan menawarkan 180 kamar dengan berbagai katagori yang masing-masing kamarnya diberikan fasilitas berupa AC, supply air panas dan air dingin, video, music, telpun, TV dengan antena parabola

Mikie Holiday Resort Harga khusus Rp 600.000/kamar/malam Berlokasi di Jl. Raya Medan = Berastagi menawarkan 129 kamar yang masing-masing diberikan fasilitas berupa peralatan di kamar mandi lengkap, TV dengan 18 channel, telpun dengan 2 line, strika, hair dryer, room service 24 jam, supply air panas dan air dingin

Hotel Medan Metro Harga khusus Rp .............../kamar/malam Berlokasi di Jl. Sisingamangaraja no. 27/39 Medan menawarkan 138 kamar yang dibagi dalam beberapa katagori seperti kamar superior, kamar deluxe, Junior suite, eksekutif suite, luxury suite dan kamar untuk keluarga. Semua kamar diberikan fasilitas berupa telpun, TV, mini bar, AC, supply air panas dan air dingin, dan sebagainya.

Soechi International Hotel Harga khusus Rp 515.000/kamar/malam Berlokasi di Jl. Cirebon no. 105 Medan menawarkan kamar tamu mewah yang dilengkapi dengan teras atau balkon AC, mini bar, supply air panas dan air dingin, telpun tape, radio, alat untuk membuat teh dan kopi, TV, in house video, kotak pengaman

Semarak Hotel Harga khusus Rp .............../kamar/malam Berlokasi di Jl. Sisingamangaraja No. 50, Medan menawarkan kamar tamu dengan fasilitas standard mulai dari telpun TV, AC, kunci elektronik, kotak pengaman di kamar, supply air panas dan air dingin, dan sebagainya

Tiara Hotel Harga khusus Rp 555.000/kamar/malam Berlokasi di Jl. Cut Mutiah, Medan menawarkan 172 kamar tamu yang diberikan fasilitas berupa AC, mini bar, supply air panas dan air dingin, telpun, dan TV

Travel Suite Harga khusus Rp 855.000/kamar/malam Berlokasi di Jl. Listrik No. 15 Medan menawarkan 52 kamar suites dengan set up standard internasional yang setiap suitenya diberikan sebuah master bedroom, kamar mandi, ruang keluarga, dapur dan peralatan, ruang makan

Di samping daftar hotel di Medan di atas ada beberapa pilihan hotel yang tergolong murah, walaupun beberapa dari hotel tersebut sudah mengalami perubahan dengan meningkatkan kwalitas phisik, walaupun secara administratif belum menalami perubahan khsususnya dalam hal sistem pemasaran yang berorientasi ke wholesaler.Bagi mereka yang memerlukan hotel yang sederhana atau sangat budget silahkan mengklik link di bawah ini ada beberapa pilihan yang bisa direkomendasikan dengan beberapa keterangan yang bisa memberikan sedikit bayangan terhadap hotel dalam daftar tersebut.

sumber : hotelsinmedan.com
dikisrg - 05/06/2011 01:34 AM
#9

Tokoh

Tokoh terkenal yang lahir di Medan:

Peter Alma, seniman Belanda
Chairil Anwar, penyair termasyur di Indonesia
Jan Gualtherus van Breda Kolff, pemain sepak bola Belanda
Let. Jend. Djamin Ginting, Mantan Panglima Kodam I/BB
Tengku Amir Hamzah, Pujangga
Burhanuddin Harahap, Perdana Menteri Indonesia ke-9
Kees Hoving, perenang Belanda
Cees Korvinus, politikus dan advokat Belanda
John Juanda, pemain poker Amerika Serikat
Guru Patimpus Sembiring Pelawi, pendiri Kota Medan
Amir Sjarifuddin, Perdana Menteri Indonesia ke-2
Soegiarto, Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia di Kabinet Indonesia Bersatu sebelum Perombakan II
Babs van Wely, ilustrator Belanda
Ruhut Sitompul, pengacara dan politikus terkenal di Indonesia.

sumber : Wikipedia
dikisrg - 05/06/2011 01:35 AM
#10

Trit ini adalah gabungan dari beberapa trit terdahulu
yang telah disatukan sesuai usulan dari Regional Leader \)

- https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=5564165
- https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=901861
- https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=1182371
- https://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=2055165

Silahkan sharing disini, jika ada masukan baru kita diskusikan disini beer:
BK_5582_OT - 05/06/2011 01:38 AM
#11

reserved
puma61 - 05/06/2011 01:57 AM
#12

tread ini emang gabungan n rangkuman dr bbrp tread itu pak

jg nanti akan di muat info tentang hotel, wisata yg ada di medan dan sekitarnya

link sbelumnya

Menyusuri Sejarah Titik Nol Kota Medan (by : auliaandri)

Asal Usul Medan (by: mentegazz)

### [foto-foto] medan tempo doeloe ### (by: thogel)
pickzz - 05/06/2011 02:05 AM
#13

[B][FONT="Comic Sans MS"][SIZE="5"][COLOR="Sienna"]Apapun critanya,,,

Aku tetap bangga jadi anak Medan :cool[/COLOR][/SIZE][/FONT][/B]
BK_5582_OT - 05/06/2011 02:17 AM
#14

Quote:
Original Posted By puma61
tread ini emang gabungan n rangkuman dr bbrp tread itu pak

jg nanti akan di muat info tentang hotel, wisata yg ada di medan dan sekitarnya

link sbelumnya

Menyusuri Sejarah Titik Nol Kota Medan (by : auliaandri)

Asal Usul Medan (by: mentegazz)

### [foto-foto] medan tempo doeloe ### (by: thogel)


kalo memang gitu, thread ini pantas utk di stiki..
utk membantu, dan mencerminkan pelayanan yg baik bagi para visitor, agar gampang mengetahui something about Medan..

saya hanya mengingat semua pembahasan ini pernah di rangkum d thread yg rapi dalam lounge RPM..

mengapa tidak demikian..??
Bay_Chan - 05/06/2011 02:22 AM
#15

lho?
ini trit utk apa?
shegate_p - 05/06/2011 02:35 AM
#16

Quote:
Original Posted By Bay_Chan
lho?
ini trit utk apa?


untuk MIK shutup: ngacir:
Bay_Chan - 05/06/2011 02:41 AM
#17

Quote:
Original Posted By shegate_p
untuk MIK shutup: ngacir:

kalo gitu ceritanya, aku gak ikutan lah
synysterr - 05/06/2011 02:48 AM
#18

Quote:
Original Posted By shegate_p
untuk MIK shutup: ngacir:

Aku besok udah MIK ini pak hammer:
areeye - 05/06/2011 02:51 AM
#19

Asal usul ibu kota sumut rupanya :2thumbup<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>
synysterr - 05/06/2011 02:51 AM
#20

KITA AKHIRIX DENGAN INDAH :cool



Supported by : KASKUS RPM army:<<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>
Page 1 of 343 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Medan > <<< Medan Ibukota Sumatera Utara >>>