BUKU new
Home > CASCISCUS > BUKU new > -=Ekranisasi=- Dari Buku Ke Layar Lebar
Total Views: 11684 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 26 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

nirina - 21/07/2008 07:48 PM
#41

^^^

Kalo ada yang dikasih nilai 9-10 berarti masuk kategori harus baca yah...\)

Ntar beli dulu, kalo udah baca lapor deh sama Bang Cong[kak] yah.....;)
Sylarr - 21/07/2008 09:03 PM
#42

Quote:
Original Posted By congcorang
nah itu dia....
waktu tau mau dijadiin sinetron istri gw ngomel2 ga ada abisnya trus bikin komen berkali2 di web nya pak langit.....hehehehe

eh taunya ditanggepin....

gw berdoa juga semoga filmnya ga kalah keren dari Hero, Crouching Tiger, Curse of Golden Flower ato visual efeknya Kingdom of Heaven (walo ceritanya B aja)
...

waaaah....... duh, jangan berharap terlalu banyak kali yah....


Kl jadi sinetron bs nangis darah nontonx kali D visual efek sinetron kan ancur2 D

@nirina
bikin thread Buku yg Layak Diangkat Ke Layar Sinetron dunk hammer: ;)

Quote:
Original Posted By chrom
buku pertama, the amulet of samarkand sudah dipastikan diangkat ke layar lebar...rencananya rilis tahun 2009
kalo lancar bakal jadi trilogy
...


Kalo novelx keren mana Bartimaeus trilogi atau Dark Material trilogi ya?

Quote:
Original Posted By nirina
Belum, binggung kalo liat di toko buku harus baca yang mana dulu, gak ditulis mana buku pertama dan urutan selanjutnya.....hammer:
.....


Sama nir, kemaren liat di cover blkgx gak ada keterangannya hammer:
Ini fiksi apa nonfiksi ya confused:
donk3 - 22/07/2008 01:47 PM
#43

tapi kalo maalah sinteron selain budget yang minim (biasanya) yang buat sinteron ancur2an kayanya nggak ada cerita yang cukup kuat yang diangkat .......

kalopun ada pastinya akan makan budget yang besar (uud).......

mungkin kalo gajahmada diangkat jadi sinetron ... solusinya mungkin yang nyiarin ... metrotv ..... dengan dukungan perusahan2an yang besar ... misalnya rokok....(jadi budgetnya cukup) aku yakin akan jadi tontonan yang bermutu ......

sayang kalo jadi film .... ceritanya akan di potong sedemikian rupa supaya jadi sebuah film .... ujung-ujungnya jadi kaya ayat ayat cinta deh ....
congcorang - 22/07/2008 05:07 PM
#44

Quote:
Original Posted By Sylarr
Kl jadi sinetron bs nangis darah nontonx kali D visual efek sinetron kan ancur2 D


Sama nir, kemaren liat di cover blkgx gak ada keterangannya hammer:
Ini fiksi apa nonfiksi ya confused:


heheh tenaaang ga jadi kok.....udah dibatalin pak langit..

ini fiksi sejarah tepatnya yah....
pas udah buku 2 pak langit riset lebih dalam tentang majapahit...
sampe ke Singapur segala krn diduga adalh Tumasek, kerajaan taklukan majapahit..
dibilang fiksi yah mungkin karena ada beberapa tokoh dan kejadian yg tidak terlalu di sebut2 dalam Pupuh Negarakretagama (mpu prapanca) sehingga pak langit biasanya cuma kasih footnote menjelaskan hal tersebut...

kalo yg seneng baca Mahabharata, Ramayana gitu mungkin seneng baca GM...

Overall gw sih suka karena gw berasa dibawa ke masa lalu... ternyata sejarah itu menarik dan bikin bangga jadi orang Indonesia...

Apalagi Mpu Prapanca ternyata orang hebat.... dia udah menjelajah ke negri dimana dia nemu orang hitam dengan rambut ikal (niger kah?), negri dengan orang berkulit pucat (eropakah?), dan yg jelas negri Tartar (china/mongol)

hehehe.... baca aja deh....
ga salah mengenal sejarah negri sendiri, walo ini dikemas dalam bentuk fiksi sejarah....

D
nirina - 22/07/2008 06:00 PM
#45

Quote:
Original Posted By Sylarr


@nirina
bikin thread Buku yg Layak Diangkat Ke Layar Sinetron dunk hammer: ;)

Sama nir, kemaren liat di cover blkgx gak ada keterangannya hammer:
Ini fiksi apa nonfiksi ya confused:




Bikin sendiri aja........;)
nirina - 22/07/2008 06:07 PM
#46

Dari Memoar Anak Gantong

Setelah mengenal si Ikal dan petualangan sembilan anak Belitong dari novel Laskar Pelangi, kita akan menyaksikannya di layar putih. Ikuti liputan Tempo tentang syuting film yang disutradarai Riri Riza ini.


DI bawah naungan pohon Filicium, lima bocah dari 10 ”anggota tetap” Laskar Pelangi itu berwajah sungguh serius. Ikal, Akiong, Borek, Syahdan, dan Mahar tengah menanti pesan yang dimaklumkan Tuk Bayan Tula dari Pulau Lanun. Pohon Filicium yang teduh dengan bunga mirip trompet kecil merah kekuning-kuningan melindungi kelimanya dari sinar matahari Belitong yang ganas.

Di tangan Mahar, si calon seniman besar yang di kepalanya bertengger hiasan rumput ilalang, ada segulung kertas kusam. Dibukanya perlahan lembaran itu. Empat kawannya mendekat, lalu membacanya berbarengan: ”Kalau nak pintar belajar. Kalau nak berhasil usaha.”

”Cut!” sutradara Riri Riza berteriak, ”Mahar, buka (lembaran) yang betul, seperti latihan tadi.” Adegan diulang. Kini take (pengambilan gambar) kedua. Yadi Sugandi, director of photography, memakai kamera BL-4 dengan lensa 24 milimeter untuk adegan kali ini. Artinya, Yadi mengambil sudut yang semakin kecil (lensa yang semakin kecil, semakin lebar sudut pengambilannya—Red.). ”Semua tenang,” instruksi Titien Wattimena, salah satu asisten sutradara Riri, yang duduk di belakang Riri. Riri fokus memandang monitor.

”Suara, and action!” teriak Riri.

Kali ini adegan bergulir lancar di bawah serangan terik cahaya matahari Belitong. Cuaca semacam ini adalah momen yang selalu diharapkan Riri.

”Cut! teriak Riri puas.

Ini adalah pekan ketiga pengambilan gambar Laskar Pelangi di Belitong. Kawasan itu oleh Riri Riza dan timnya disulap menjadi sebuah setting tahun 1970-an, sesuai dengan novel. Penata artistik Eros Efflyn juga harus mencari pohon Filicium, sebatang pohon yang sangat penting bagi para anggota Laskar Pelangi, karena di bawah naungannya mereka berbagi segala suka, duka, amarah, sekaligus kasih sayang. Inilah sebuah pohon lebat tempat burung-burung serindit bermain biji-bijian, yang oleh Eros disulap dari sebatang pohon jambu mete yang digantungi hiasan tambahan berupa kembang Filicium asli dengan menggunakan lilitan kawat.

Tak jauh dari pohon legendaris itu ada bangunan Sekolah Dasar Muhammadiyah Gantong yang direkonstruksi oleh tim Miles Production. Di sanalah, demikian kisah yang dituturkan dalam Laskar Pelangi, 10 anak Melayu pesisir, di kota kecamatan yang terletak di sebelah timur Pulau Belitong, menghabiskan sembilan tahun pendidikan di bawah bimbingan dua guru, Ibu Muslimah dan Pak Harfan. Dengan segala kesederhanaan dan serba kekurangan.

Syahdan, bangunan sekolah tiruan itu direkonstruksi Eros dan timnya dalam dua minggu. ”Luar biasa!” kata Andrea Hirata, yang ikut berkunjung menjenguk lokasi syuting. ”Bu Muslimah sampai merinding dan tidak mau masuk bangunan itu,” kata Andrea. Bangunan sekolah ini—menurut novelnya sering digunakan juga seba-gai kandang—adalah tempat Ikal, alter ego Andrea Hirata, membentuk dirinya.

Tiga puluh tahun kemudian, Ikal alias Andrea Hirata menjadikan suka-duka kehidupan mereka sebuah novel yang dinikmati pembaca Indonesia, bahkan mereka yang jarang menyentuh novel.


********



NAMA Laskar Pelangi adalah sebuah nama pemberian sang guru, Bu Mus. Setebal 534 halaman, diterbitkan Bentang Pustaka, Yogyakarta, dan dijual sejak September 2005 seharga Rp 60 ribu, novel ini meledak hingga mengalami cetak ulang 21 kali dan terjual dengan angka yang fantastis: 600 ribu eksemplar. Hingga kini novel itu, berikut lanjutannya, Sang Pemimpi dan Edensor, masih diletakkan di rak buku terlaris toko-toko buku.

Beberapa produser ternama tertarik mendapatkan hak pembuatan filmnya, sebelum jatuh ke Miles Production dan Mizan Production—dengan Mira Lesmana sebagai produser dan Riri Riza sebagai sutradara. ”Royaltinya sekitar Rp 350 juta,” kata Andrea. Dengan biaya produksi yang mencapai Rp 8 miliar, syuting berlangsung sekitar sebulan sejak 25 Juni lalu di Gantong dan Tanjung Pandan, ibu kota Belitong Barat.

Riset dilakukan berbulan-bulan oleh Mira dan Riri Riza, yang mondar-mandir ke Belitong enam kali untuk mencari pemeran yang tepat, berburu lokasi, dan mewawancarai tokoh-tokoh di Belitong. Dari hasil riset itulah timbul ide Riri dan Mira untuk menambahkan beberapa hal yang tak ada dalam novel.

”Harus diakui, penulisan novel ini tidak linier, meloncat-loncat, jadi kami harus membentuknya menjadi three-acts-structure (drama tiga babak, sebuah bentuk lazim dalam film—Red.) agar film bisa mengalir,” kata Mira kepada Tempo. Dua tokoh tambahan itu adalah Pak Zulkarnain (Slamet Rahardjo Djarot), yang banyak menyumbang bagi keberlangsungan sekolah Muhammadiyah, dan Pak Mahmud (Tora Sudiro), guru sekolah PN Timah yang menyimpan rindu kepada Bu Mus. Dua tokoh tambahan ini, yang akan memperkaya suasana perbedaan sosial di Belitong saat itu, tentu saja direstui Andrea. ”Saya memang mengharapkan sineas melakukan risetnya sendiri yang memperkaya bukunya,” kata Andrea.

Riri Riza memastikan film Laskar Pelangi akan setia pada esensi novel. Yang paling ia minati adalah konteks sosial dan politik Belitong pada 1970-an yang relevan mewakili Indonesia dan segala permasalahannya. Riri mengaku terpikat pada drama pembukaan, ketika Bu Mus dan Pak Harfan senewen menunggu 10 murid baru. Kalau kurang satu saja, sekolah swasta yang diklaim Andrea sebagai sekolah ”paling tua di Belitong” itu akan ditutup. ”Di dalamnya ada politik pendidikan, ada politik korporasi nasional. Ini semua sungguh kuat,” kata Riri.

Yang tak kalah beratnya adalah mencari pemain yang pas untuk tokoh-tokoh yang sudah dikenal pembacanya. Meleset sedikit, pasti ada protes. Untuk tokoh 10 anggota Laskar Pelangi, Riri ingin sesuatu yang asli. Dia dibantu Ismaya Nugraha, cast director, yang kebetulan asli dari Belitong. Proses seleksi dimulai pada Desember tahun lalu, yang diawali dengan serbuan 3.800 foto calon pemain dan akhirnya diperas menjadi 1.350 anak yang menempuh proses casting. Dari situ terpilih 12 orang yang disebut Mira ”berani, tidak punya beban, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi”. Tak satu pun yang mengenal se-ni peran. Tapi, kata Mira, mereka memiliki kemampuan berakting dan kemiripan karakter. ”Kami menemukan anak-anak cerdas yang mau belajar,” kata Mira.

Sepuluh anak asli Belitong itu antara lain Ikal (Zulfany, 12 tahun), Mahar (Verrys Yamarno, 12 tahun), Lintang (Ferdian, 13 tahun), Kucai (Yogi Nugraha, 14 tahun), Syahdan (Muhammad Syukur Ramadan, 13 tahun), Trapani (Suharyadi, 13 tahun), Akiong (Suhendri, 10 tahun), dan Borek (Febriansyah, 13 tahun). Harun, anak penderita Down syndrome, diperankan Jeffry, siswa Sekolah Luar Biasa Tanjung Pandan berusia 14 tahun. Tokoh perempuan Sahara diperankan Dewi Ratih Ayu Sapitri, 13 tahun, sedangkan Flo oleh Marchella El Jolla Kondo, 12 tahun. Tokoh kekasih hati Ikal yang terus-menerus disebut hingga novel berikutnya, A Ling, diperankan oleh Levina, 13 tahun.

Mereka berhadapan dengan aktor kawakan seperti Ikranagara sebagai Pak Harfan, sang kepala sekolah yang sederhana nan berwibawa. Peran Bu Mus diberikan kepada Cut Mini. Selain dua tokoh tambahan yang diperankan Slamet Rahardjo dan Tora Sudiro, ada seabrek nama terkenal lain seperti Rieke Diah Pitaloka (ibu Ikal), Mathias Muchus (ayah Ikal), Lukman Sardi (Ikal dewasa), Aryo Bayu (Lintang dewasa), dan Robby Tumewu (ayah A Ling).


***********



Suatu pagi pada akhir Juni itu, director of photography Yadi Sugandi mempersiapkan lensa 32 milimeter untuk sebuah pengambilan gambar yang lebih lebar saat syuting adegan karnaval 17 Agustus di jalan besar Pasar Gantong. Kamera difokuskan kepada anak-anak Laskar Pelangi yang melintas di kerumunan warga dan barisan Pramuka. Paling depan berturut-turut: Mahar, Kucai, Trapani, Ikal, Akiong, Lintang, dan Syahdan. Mereka mengenakan kostum tarian dari daun sukun. Seluruh tubuh anak-anak itu diolesi tanah liat putih dan arang hitam. Pemeran Harun, Sahara, Bu Mus, dan Pak Harfan mengikuti dari belakang.

Di depan monitor video, Riri berbicara melalui radio komunikasi. Jalanan Gantong senyap meski penonton membeludak di beberapa titik. Kendaraan yang melintas dihentikan. Semua bersiap.

”Background… and action!” teriak Riri.

Anggota Laskar Pelangi mulai berjalan. Penonton karnaval saling bicara, memperhatikan barisan Pramuka. Riri tampak terganggu.

”Cut!” teriak Riri mendadak. ”Pak Harfan pisah dengan Bu Mus, agak maju.” Adegan diulang. Rombongan Laskar Pelangi berjalan kembali, Pak Harfan berpamitan dengan Bu Mus.

”Cut!” Riri berteriak.

Saat syuting untuk tarian itu adalah salah satu adegan penting karena saat itulah anak-anak Laskar Pelangi unjuk gigi melawan sekolah anak-anak orang kaya. Lihatlah akting Verrys Yamarno, yang memerankan Mahar, sang seniman, berjingkrak di bawah terik matahari Belitong. Di luar ihwal kemiskinan yang menjadi konteksnya, Laskar Pelangi—direncanakan tayang pada September—tetaplah kisah anak-anak; tanpa beban, meski dalam situasi yang papa.

”Yang liar, Mahar! And… action!” seru Riri. Kamera lensa 50 milimeter rolling. Memegang rebana yang diangkat ke atas, Verrys alias Mahar menari meloncat-loncat dan berputar, ”Ha… ha… hu… oi… oi….”

Tiba-tiba badan Mahar berbalik. Lututnya dijatuhkan menghunjam bumi. ”Cut! Good…,” Riri berteriak.

Hari itu diselesaikan dengan rasa menang melawan cuaca. Maklum, pada pekan pertama di Belitong, mereka dihajar hujan hampir seminggu. Hujan asli adalah ”musuh besar” para sineas. Tapi 36 hari syuting hampir tanpa jeda di Belitong itu usai sudah. Para penonton akhirnya akan menyaksikan aksi Ikal dan sembilan kawannya yang bandel dalam bentuk visual.



*****************



Andrea Hirata:
Saya Bukan Sastrawan

Matahari Belitong sudah mulai turun ketika Andrea Hirata turun dari sepeda motornya. Penulis novel Laskar Pelangi ini berbincang dengan Tempo sembari menunjuk beberapa bagian di Belitong yang memberikan inspirasi dalam karyanya. Perjalanan dari Gantong menuju Manggar petang itu diisi obrolan tentang novelnya yang diangkat menjadi film oleh Riri Riza dan juga mimpi Andrea tentang pendidikan. Berikut ini petikan wawancara Yugha Erlangga dari Tempo dengan Andrea.

Tolong ceritakan bagaimana Anda bisa menulis novel Laskar Pelangi?

Sejarahnya, pada saat saya kelas III. Suatu hari, hujan lebat dan ada petir, Bu Muslimah terlambat datang ke sekolah. Kami sudah di kelas. Tiba-tiba kami melihat Bu Muslimah dari jendela. Beliau berpayungkan daun pisang. Lalu saya berpikir, suatu ketika, kalau saya besar nanti, akan saya buatkan buku tentang ibu guru saya ini.


Saya beranjak besar dan bekerja di Telkom Bandung. Saat tsunami, saya menjadi sukarelawan dan membantu mengangkat jenazah. Saya melewati sebuah tempat di mana seorang guru perempuan, berjilbab, memegang sebuah spanduk putih di depan sekolahnya yang sudah hancur. Di spanduk itu tertulis: “Ayo sekolah, jangan menyerah”.


Spanduk itu seperti ditulis sendiri sama ibu itu. Saya teringat lagi akan janji saya kepada diri sendiri. Saya pulang, nulis tiga minggu tidak berhenti, selesailah Laskar Pelangi. Saya fotokopi lalu saya kirim kepada Ibu Muslimah. Suatu ketika, seorang teman kantor datang dan bertanya, “Ini (naskah) apa?” Saya jawab bahwa itu untuk guru saya. Eh, dia kirim ke penerbit.


Lalu saya ditelepon sama Mas Kris (Gangsar Sukrisno, CEO Bentang Pustaka). Dia senang sekali. Dia bertanya berkali-kali, ”Anda siapa?” Dia menyangka saya penulis terkenal yang menyamar memakai nama Andrea Hirata itu. Dia minta izin diterbitkan.


Kesan dari pembuatan film Laskar Pelangi, kelihatannya Riri membuat beberapa penyesuaian?

Kalau saya melihat (pembuatan film) itu, rasanya itu saya dapat feel-nya. Yang menarik dalam skrip film Laskar Pelangi, mereka (Riri Riza, Mira Lesmana, dan Salman Aristo) cerdas. Dalam novel, tokoh Ikal menceritakan orang lain, dalam film, Riri membalikkannya menjadi cerita kehidupan Ikal atau saya. Jadi perubahan angle yang menarik. Nah, banyak orang salah kira. Saya bukan bikin buku sejarah, (tapi) saya bikin novel dan tak paham. Misalnya, saya menulis di novel, anak yang ke sekolah dihadang beruang, Riri menggantinya dengan singa. Itulah sebabnya saya jatuh hati pada Mira Lesmana dan Riri Riza justru karena mereka tahu anak ini susah sekolah. Mira dan Riri menemukan esensi baru yang kadang lebih otentik daripada yang saya tulis. Sebuah novel yang diangkat ke film tidak bisa sama dengan novelnya. Kalau sama dengan novelnya, buat apa dibikin film. Yang penting, sineasnya tidak menghilangkan substansi.


Tanggapan penerbit atas buku keempat?

Novel keempat yang nantinya berjudul Maryamah Karpov direbut oleh banyak produser. Jadi ada yang mau beli right-nya seharga Rp 700 juta dengan royalti 15 persen. Saya belum memutuskan.


Kenapa belum berminat menikah?

Saya masih terlalu sibuk. Saya mau ke Keya Gompa.


Masih banyak orang yang heran Anda membuat novel?

Saya masih suka ditanya sama Kris, “Itu benar enggak sih kamu yang nulis…?” (tertawa). Maklum, saya bukan sastrawan, benar-benar tidak berpengalaman, tidak berpendidikan sastra, tidak bergaul dengan orang-orang sastra, tidak bercita-cita menjadi sastrawan. Lebih parah lagi, tidak banyak membaca sastra.

(Dari Majalah TEMPO Edisi. 22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008)


-=Ekranisasi=- Dari Buku Ke Layar Lebar

-=Ekranisasi=- Dari Buku Ke Layar Lebar

-=Ekranisasi=- Dari Buku Ke Layar Lebar

-=Ekranisasi=- Dari Buku Ke Layar Lebar

-=Ekranisasi=- Dari Buku Ke Layar Lebar
309 - 22/07/2008 06:19 PM
#47

sampe sekarang gw tetap menunggu Red Storm Rising difilm'kan

so far dari 4 film yang diangkat novel2nya Tom Clancy belom ada yang mengecewakan, karena dari basic storynya udah brilliant.
congcorang - 22/07/2008 06:57 PM
#48

Quote:
Original Posted By nirina
Dari Memoar Anak Gantong
[B]

-=Ekranisasi=- Dari Buku Ke Layar Lebar
[/CENTER]


nir....
udah baca yg ini blom?

hebat juga yah kalo bisa dituangkan dalam bentuk visual...
soalnya Andrea itu terlalu mendetail dalam mendeskripsikan sesuatu...
Gambarin kuku kotor aja bisa sehalaman sendiri...
Gambarin suatu perasaan wah panjang lebar deh pokoknya.....
Terpengaruh sastra perancis kah???
kayaknya agak2 sulit ngebayangin film nya akan seperti aslinya....


malu:
nirina - 22/07/2008 09:11 PM
#49

^^^

Udah baca, menyentuh dan kocak........thumbup:thumbup:thumbup:

Makanya baca review di atas, kan ada tuh cerita dari lokasi syuting filmnya....D
congcorang - 22/07/2008 09:54 PM
#50

Quote:
Original Posted By nirina
^^^

Udah baca, menyentuh dan kocak........thumbup:thumbup:thumbup:

Makanya baca review di atas, kan ada tuh cerita dari lokasi syuting filmnya....D


wehehehe...
gw prefer edensor nya....

di laskar pelangi yg paling menyentuh waktu ikal ketemu temennya yg odypuss complex dirawat di RS jiwa bareng ama ibunya..... hiks \(
nirina - 23/07/2008 02:05 AM
#51

^^^

Bukannya pas perpisahan dengan Lintang di bawah pohon filicium di depan sekolah itu..........malu:
son2 - 23/07/2008 10:37 AM
#52

Quote:
Original Posted By InRealLife
Dulu di thrednya ES ITO kita (berikut beberapa teman kos doi) udah pernah bikin casting callnya malah...
Gimana kalo buka lagi thred ES ITO?


Quote:
Original Posted By nirina
Yup, buka lagi aja threadnya.....\)
Kepingin kenal juga sama ES ITO nih......rose:rose:rose:


bukanya gimana ya... dulu pernah ada threadnya memang, blom sempat liat isi threadnya nie. ada yang berbaik hati membukanya?
congcorang - 23/07/2008 03:13 PM
#53

Quote:
Original Posted By nirina
^^^

Bukannya pas perpisahan dengan Lintang di bawah pohon filicium di depan sekolah itu..........malu:



hehehe itu juga....

soalnya gw pernah liat pasien yg odypuss complex beneran tapi masih kecil....
jadi inget malu:
Sylarr - 23/07/2008 04:03 PM
#54

Nir itu syutingnya masih berlangsung apa udah selese ya? confused:

kira2 tanggal rilisnya kapan?
nirina - 24/07/2008 11:22 PM
#55

Quote:
Original Posted By son2
bukanya gimana ya... dulu pernah ada threadnya memang, blom sempat liat isi threadnya nie. ada yang berbaik hati membukanya?





Maksudnya bikin baru aja........malu:
nirina - 24/07/2008 11:24 PM
#56

Quote:
Original Posted By Sylarr
Nir itu syutingnya masih berlangsung apa udah selese ya? confused:

kira2 tanggal rilisnya kapan?



Syutingnya udah kelar akhir Juni kemarin, rilisnnya sekitar September atau abis Lebaran kayanya........\)
rohirim - 14/08/2008 12:59 PM
#57

Kabarnya Laskar Pelangi rilis bulan puasa, bener gak?
nirina - 22/08/2008 02:05 AM
#58

Quote:
Original Posted By rohirim
Kabarnya Laskar Pelangi rilis bulan puasa, bener gak?



Kayanya pas Lebaran...........\)
likenoother - 24/08/2008 08:24 PM
#59

ini buku indo apa luar ap 2 2 nya ????
luar..
- Sophie's World - Josteein Gaarder

indo..
- ARUS BALIK - Pramoedya Ananta Toer

indonesia film2nya yg skrg mah kaga ad yg bagus.. akting kek kodok mencret semua...
artis2 baru sinetron2 baru totally SUCKS !

lebih stuju klo bikin pilem KOLOSAL... mbahas MAJAPAHIT napa... dgn visual efek macem iklannya djarum super kan keren tuh.. bakal nembus OSCAR klo aktor n aktress nya macem didi petet,christine hakim,deddy mizwar, dkk se-angkatannya..
nirina - 31/08/2008 05:31 PM
#60

Quote:
Original Posted By likenoother
ini buku indo apa luar ap 2 2 nya ????
luar..
- Sophie's World - Josteein Gaarder

indo..
- ARUS BALIK - Pramoedya Ananta Toer

indonesia film2nya yg skrg mah kaga ad yg bagus.. akting kek kodok mencret semua...
artis2 baru sinetron2 baru totally SUCKS !

lebih stuju klo bikin pilem KOLOSAL... mbahas MAJAPAHIT napa... dgn visual efek macem iklannya djarum super kan keren tuh.. bakal nembus OSCAR klo aktor n aktress nya macem didi petet,christine hakim,deddy mizwar, dkk se-angkatannya..




Dua2nya, lokal dan luar..........o
Page 3 of 26 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > CASCISCUS > BUKU new > -=Ekranisasi=- Dari Buku Ke Layar Lebar