Martial Arts
Home > LOEKELOE > SPORTS > Martial Arts > Merpati putih
Total Views: 119186 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 135 of 155 | ‹ First  < 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 >  Last ›

carkim's home - 27/11/2011 04:46 PM
#2681

acepilot - 27/11/2011 05:00 PM
#2682

Quote:
Original Posted By carkim's home
hasil wawancara sama mas dian,,


http://us.wap.vivanews.com/news/read/267503-atlet-silat-dian--saya-bukan-pengecut

Quote:

VIVAnews - Dian Kristanto, peraih medali emas SEA Games XXVI cabang olahraga Silat di nomor 45-50 kg putra, bisa jadi adalah satu-satunya atlet penyumbang emas yang dicibir publik. Di saat atlet lainnya mendapat sanjungan dan pujian sebagai pahlawan SEA Games, Dian justru sebaliknya. Tak hanya mendapat cemoohan, banyak yang menganggap Dian tidak sportif.

Kemenangannya atas atlet Thailand, Anothai Choopeng di babak final harus tercoreng oleh upaya terakhirnya mempertahankan poin kemenangan di menit-menit akhir pertandingan. Strateginya di akhir pertandingan untuk memenangkan laga, justru banyak dianggap sebagai tindakan pengecut dan memalukan.

Bagaimana penjelasan pesilat tersebut menanggapi hal itu? Berikut wawancara Ali Usman, wartawan VIVAnews.com, dengan Dian Kristanto, di Senayan, Jakarta.

Di rekaman video, Anda terlihat menghindar dari pertarungan. Sebetulnya apa yang terjadi saat itu?

Saya sudah unggul atas lawan saya (Anothai Choopeng/Thailand) hingga di babak kedua. Babak pertama, saya bahkan bisa menang jauh dari lawan. Saya berhasil membanting lawan hingga tiga kali dia tersungkur. Poin saya banyak dari membanting itu. Pengalaman saya di beberapa pertandingan sebelumnya, setelah lawan kalah mental, akan lebih mudah mencari poin dari guntingan dan sapuan.

Lawan kemudian memanfaatkan kondisi kaki saya yang cedera. Dia bisa menyusul poin hingga menjelang akhir pertandingan. Kaki kanan saya ini sebetulnya tidak memungkinkan saya tampil di final. Pada saat babak kedua, saya berhasil membanting lawan hingga dua kali. Ternyata, pada bantingan yang kedua, tubuh lawan malah mengenai lutut kaki kanan saya. Saya sangat kesakitan saat itu. Kaki kanan saya langsung tidak bisa lagi digerakan.

Anda mengatakan lutut kanan anda cedera. Sebetulnya seberapa parah cederanya saat itu?

Kata dokter, ada empat urat pengikat di dalam tempurung lutut. Ada ACL, PCL, Miniscus, serta Tendon. Tiga dari empat pengikat milik saya ternyata sudah putus. Saya hanya punya tendon di dalam tempurung lutut saya. Memang sebelum ini saya sempat dioperasi untuk itu. Nah, pada pertandingan final, kecelakaan itu terjadi lagi. Saya tidak bisa berbuat banyak karena lawan-lawan saya memang sengaja mengincar lutut saya.

Dua minggu sebelum SEA Games kaki saya cedera parah. Saya ikut tim SEA Games sebetulnya sempat ragu. Tapi saya paksakan karena saya yakin Tuhan pasti memberikan kekuatan jika kita mau usaha maksimal. Setelah lolos babak penyisihan, menang lawan Myanmar, kondisi kaki saya makin parah. Tapi saya paksakan juga main di semi final.

Di semi final alhamdulillah saya menang lawan Vietnam dan tembus ke final. Sebetulnya ini lawan terberat. Saya sempat bertemu dia di final kejuaraan dunia tahun lalu (2010). Saya menang saat itu dan merebut gelar juara dunia kelas 45-50 kg putra. Di SEA Games ini, meski kaki kanan saya tidak maksimal, dengan modal kepercayaan diri pernah mengalahkan dia itu, akhirnya saya menang dan masuk final.

Bagaimana ceritanya Anda terlihat lari dari lawan dan sempat dituding berlindung di belakang wasit? Anda dituduh pengecut, bagaimana tanggapan Anda?

Sebetulnya itu bukan mau lari atau menghindari pertarungan. Saya bukan pengecut. Saya datang ke SEA Games ini untuk membela Indonesia. Saya bukan atlet yang baru tampil di kejuaraan besar. Saya pernah juara dunia. Bukan cuma satu atau dua kali main silat. Saya lolos ke final tentu saya sudah main bagus sebelumnya.

Lihat video pertandingan di sini

Ini soal pertanggungjawaban saya terhadap negara. Juara itu ditentukan bukan dari pujian mereka di internet. Tapi lewat raihan emas. Dan di partai puncak, saya tidak mau menyia-nyiakan. Saya sudah unggul sampai babak kedua. Risikonya kaki kanan saya makin parah saat itu. Memasuki babak ketiga, sejujurnya saya sudah tidak sanggup bertanding.

Pada saat istirahat, saya hampir menangis menahan sakit. Lawan memang sengaja mengincar ini (sambil menunjukan lutut kanannya yang penuh bekas jahitan). Saat itu saya berpikir, jika satu tendangan lagi saya terima, pasti saya cacat seumur hidup tidak bisa jalan. Saya sempat bilang ke pelatih, saya tidak sanggup. Tolong lempar handuk saja. Saya menyerah.

Lalu bagaimana ceritanya bisa kembali tampil di babak ketiga?

Saat itu semuanya seolah berjalan sangat cepat. Saya minta pelatih untuk menyerah, tapi sudah bunyi 'knong' artinya saya sudah dipanggil. Saya tanya pelatih, Pak Roni Saifullah, dan Pak Karyono, mereka akhirnya meyakinkan saya untuk bisa kembali main. Kamu sudah unggul, waktunya tinggal sedikit lagi untuk mempertahankan kemenangan (Dian menirukan ucapan pelatihnya).

Pelatih menyuruh saya tetap fokus agar tidak jatuh atau dikurangi poin. Mereka sebetulnya tahu saya sudah tidak bisa apa-apa lagi di menit-menit akhir itu. Untuk jalan saja saya sangat kesakitan. Mereka meyakinkan saya terus, sisa waktu pertandingan ini, asalkan kamu bisa mempertahankan, Indonesia juara. Perjuangan kamu sejauh ini tidak sia-sia.

Saya harus atur strategi dengan keadaan seperti ini. Tapi sekali lagi, bukan main curang. Saya harus tetap fokus agar lawan tidak tambah angka. Saya sudah berusaha untuk menyerang lagi. Setidaknya, ini strategi agar tidak diserang duluan. Saya beri lawan dua kali sapuan, dua kali guntingan. Tapi memang tidak maksimal. Tidak kena. Celakanya, waktu kurang dua menit lagi, kaki saya tidak bisa diajak berdiri.

Dalam Pencak Silat, jika sapuan, atau guntingan gagal untuk yang ketiga, skor akan dikurangi. Saya sudah dua kali melakukan itu. Saya tidak mungkin kembali mencoba. Bisa-bisa nilai saya dikurangi. Waktunya kurang dari 15 detik, saya benar-benar harus putar otak bagaimana strateginya untuk menang.

Saya melihat saat itu juri 1 memberikan nilai 30-31 untuk saya. Begitu juga juri 2 yang memberikan nilai 28-29. Saya tidak melihat juri lain. Tapi saya sempat melihat juri 4 juga memberi nilai 18-19 untuk saya. Coba anda bayangkan, dengan perolehan angka tipis seperti itu, kalau saya bikin kesalahan satu kali saja, perjuangan saya habis.

© VIVAnews
cahjakarta - 27/11/2011 10:47 PM
#2683

mas saya mau tanya, tempat latihan merpati putih daerah jakarta barat dimana yah? dulu saya pernah latihan MP, cuma pindah sekolah, dan sampai sekarang hampir lulus kuliah gak pernah latihan lagi, pengen coba latihan lagi, dimana yah?

saya di cengkareng, lokasi terdekat dimana yah? atau di jakbar dimananya,

thanks ya ... \)
Dai Nippon - 27/11/2011 11:24 PM
#2684

^^ea mo jawab apa lagi mreka n moga jadi pengalaman buat mas dian

tapi ati2 gan klo dah sirik biasnya dicari ksalahan nya terus malus

(ngomongke awak ku dewe :berbusa\)

strategi mas dian brani ambil resiko dikatain pengecut demi menang tanding demi indo

jarang yg kaya gini biasanya klo pengecut ya buat keslametan diri sendiri berbusa:

jangan kapok bela RI lho mas dianthumbup:
lefaxiong - 28/11/2011 06:23 AM
#2685

masalahnya mas dalam usahanya membela RI malah menghancurkan nama Indonesia
ryucell - 28/11/2011 09:24 PM
#2686

yang belain Dian masih ada aja.....


cape deh....

gue bangga dengan dian yg membela Indonesia


tapi gue KAGA BANGGA dengan kelakuannya yg lari terbirit-birit dan bersembunyi di balik KETEK wasit.....

kelakuannya bagaikan pecundang.


itu bukan teknik menghindar dalam beladiri manapun.
irwansyahwii - 29/11/2011 12:27 AM
#2687

Ooo, ternyata pesilat yang divideo itu dari MP toh?

Bila benar, seharusnya MP melakukan permintaan ma'af resmi kepada seluruh Bangsa Indonesia atas kelakuan anak didiknya.

Yang salah harus dibilang salah! Yang memalukan jangan dibanggakan!

Bagi yang masih membela si pesilat tersebut! Shame on you!

Kalau ternyata bukan dari MP, saya mohon ma'af bila ada kata-kata yang salah!
kunderemp - 29/11/2011 10:41 AM
#2688

Quote:
Original Posted By irwansyahwii
Ooo, ternyata pesilat yang divideo itu dari MP toh?

Bila benar, seharusnya MP melakukan permintaan ma'af resmi kepada seluruh Bangsa Indonesia atas kelakuan anak didiknya.

Yang salah harus dibilang salah! Yang memalukan jangan dibanggakan!

Bagi yang masih membela si pesilat tersebut! Shame on you!

Kalau ternyata bukan dari MP, saya mohon ma'af bila ada kata-kata yang salah!


Ngapain MP minta maaf?
Kalau udah urusannya silat tanding mewakili daerah apalagi nasional, maka urusannya udah bukan dengan perguruan tetapi dengan IPSI.

Kalaupun beberapa orang MP membela Dian, itu gak lebih dari rasa solidaritas seperguruan tapi aku yakin bahwa MP tidak mengajarkan lari-lari di pertandingan seperti itu.

~ayeBukanAnakMP.
irwansyahwii - 29/11/2011 10:50 AM
#2689

Quote:
Original Posted By kunderemp
Ngapain MP minta maaf?
Kalau udah urusannya silat tanding mewakili daerah apalagi nasional, maka urusannya udah bukan dengan perguruan tetapi dengan IPSI.

Kalaupun beberapa orang MP membela Dian, itu gak lebih dari rasa solidaritas seperguruan tapi aku yakin bahwa MP tidak mengajarkan lari-lari di pertandingan seperti itu.

~ayeBukanAnakMP.


Kalau seorang anak melakukan perbuatan memalukan misalnya mencuri motor perlukah orang tuanya meminta ma'af kepada korban? Menurut saya perlu gan! Tentunya juga untuk menegaskan bahwa si orang tua tidak pernah mengajarkan mencuri kepada anaknya.

Btw, barusan ada yang ngebata ane karena komentar di sini. Buat yang ngebata, be gentle-lah jangan jadi pengecut. Silahkan jelaskan kenapa ane dibata? Salah ane apa nih?
Ngwang - 29/11/2011 10:57 AM
#2690

Ada satu hal yg mengusik rasa keadilan saya. Seorang pembunuh pun di persidangan berhak untuk didampingi pengacara sebagai Pembela dalam persidangan. Apakah lantas pengacara itu harus malu karna sudah membela seorang pembunuh ?

Saya rasa semua sudah mengerti apa arti pembela dalam persidangan dan mengapa seorang pembunuh pun berhak mendapat pembelaan dalam persidangan. Jadi tidak perlulah kita melakukan intimidasi terhadap pengacara yg bertindak sebagai pembela dalam persidangan - dgn kata-kata celaan dsb.

Pertanyaan saya hanya satu : Apakah Dian K sudah kehilangan hak untuk mendapat Pembela dalam kasus ini ?

Saya juga bukan anak MP

BTW : saya setuju dgn agan Kunderemp kalo udah masuk Pelatda atau Pelatnas baik pelatih, program latihan ataupun strategi pertandingan sudah ditangani IPSI bukan Perguruan jadi tanggungjawab ada di IPSI.
irwansyahwii - 29/11/2011 11:04 AM
#2691

Bill Clinton sewaktu kena kasus memalukan dengan si Monica dan hampir di-impeachment beliau buru-buru meminta ma'af dan kemudian pendapat publik berubah. Dari tadinya menghakimi menjadi mendukung.

Meminta ma'af atau tidak menurut saya itu hak dari MP. Namun, bila memang para pecinta silat masih concern dengan citra silat di masyarakat yang sudah jauh terpuruk, menurut saya harus ada tindakan "pengobatan" karena terjadinya peristiwa ini.
razorcck - 29/11/2011 12:43 PM
#2692

Quote:
Original Posted By irwansyahwii


Kalau seorang anak melakukan perbuatan memalukan misalnya mencuri motor perlukah orang tuanya meminta ma'af kepada korban? Menurut saya perlu gan! Tentunya juga untuk menegaskan bahwa si orang tua tidak pernah mengajarkan mencuri kepada anaknya.

Btw, barusan ada yang ngebata ane karena komentar di sini. Buat yang ngebata, be gentle-lah jangan jadi pengecut. Silahkan jelaskan kenapa ane dibata? Salah ane apa nih?

hah? beda kasus kli gan, apa hubungan nya sama pencurian hammers gak ada benang merah nya..


ngakak baca komentar-komentar pendekar keyboard disini hehehe Merpati putih
irwansyahwii - 29/11/2011 02:20 PM
#2693

Quote:
Original Posted By razorcck
hah? beda kasus kli gan, apa hubungan nya sama pencurian hammers gak ada benang merah nya..


ngakak baca komentar-komentar pendekar keyboard disini hehehe Merpati putih


Ini dia yang ngebata gw tapi saking pengecutnya kagak berani ngasih alasan dan kagak mau ngaku!
razorcck - 29/11/2011 02:37 PM
#2694

Quote:
Original Posted By irwansyahwii


Ini dia yang ngebata gw tapi saking pengecutnya kagak berani ngasih alasan dan kagak mau ngaku!

kapan ane ngelempar enta bata hah? barusan? kalo barusan salah orang ente..
kalo dulu yaa ane pernah bata ente, suka gatel sama pendekar keyboard Merpati putih
irwansyahwii - 29/11/2011 03:29 PM
#2695

Quote:
Original Posted By razorcck
kapan ane ngelempar enta bata hah? barusan? kalo barusan salah orang ente..
kalo dulu yaa ane pernah bata ente, suka gatel sama pendekar keyboard Merpati putih


Jadi agan ini bukan keyboard warrior nih?
masfrendy - 29/11/2011 04:50 PM
#2696

ya wis lah . . . yang lalu biarkan berlalu . . . hanya mas dian dan oficialnya yang tau kenapa dia bisa pake cara seperti itu . . . \)b

buat pelajaran kita semua aja . . . yang dikritik ya legowo menerima kritik dan berubah menjadi baik . . . yang mengkritik mbok ya yang sopan dan bersifat membangun supaya bisa dijadikan evaluasi yang mengkritik . . . . kita semua sodara gan . . . . satu IPSI dan satu NKRI . . . iloveindonesias iloveindonesias

salam dari perguruan sebelah . . . iloveindonesias iloveindonesias

Merpati putih
kita adalah satu
irwansyahwii - 29/11/2011 05:06 PM
#2697

Gan, kalau yang dimaksud kritik ane kagak sopan terus terang ane merasa kagak ada tulisan ane yang kagak sopan.

Dan kalau memang dianggap tidak sopan, seharusnya jangan asal maen ngebata gan, kasih tahu alasannya apa? Gak sopannya dimana? Dan kalau ngebata kasih unjuk jati diri lah, jangan ngumpet.
masfrendy - 29/11/2011 05:29 PM
#2698

Quote:
Original Posted By irwansyahwii
Gan, kalau yang dimaksud kritik ane kagak sopan terus terang ane merasa kagak ada tulisan ane yang kagak sopan.

Dan kalau memang dianggap tidak sopan, seharusnya jangan asal maen ngebata gan, kasih tahu alasannya apa? Gak sopannya dimana? Dan kalau ngebata kasih unjuk jati diri lah, jangan ngumpet.


ya yang sabar aja gan . . . . kadang penerimaan orang itu lain . . . kita maksud memberi evaluasi yang baik, tapi diterima buruk . . . . tergantung interpretasi masing - masing . . . \)b

bagaimana sikap kita itulah yang menunjukan jati diri kita . . . kalo kita di kritik terus ngamuk n nglempar bata . . . ya itulah jati diri kita . . . cendols cendols
Ngwang - 30/11/2011 06:44 AM
#2699

Sepertinya di thread sebelah juga ada yg menjadi korban tertimpuk bata hanya karna disangka membela Dian. Mungkin rasa keadilannya pun terusik mengikuti kasus Dian ini.

https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=563563477&postcount=128

Sudah menjadi sifat manusia untuk sulit sekali menerima nasehat. Memang benar bagaimana bersikap dan bertutur mencerminkan jati diri kita sebenarnya.
sangpelindung - 30/11/2011 07:44 AM
#2700

Quote:
Original Posted By Ngwang
Sepertinya di thread sebelah juga ada yg menjadi korban tertimpuk bata hanya karna disangka membela Dian. Mungkin rasa keadilannya pun terusik mengikuti kasus Dian ini.

https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=563563477&postcount=128

Sudah menjadi sifat manusia untuk sulit sekali menerima nasehat. Memang benar bagaimana bersikap dan bertutur mencerminkan jati diri kita sebenarnya.


....kayaknya yang memberi nasehat juga asal njeplak, Gan....pake ngebawa ayat-ayat suci segala. Menurutkoe sih itu over-reacting, ayat suci dibawa dan ditafsirkan sesukanya demi membela argumennya (maksa deh nyambungnya, Gan....hi..hi..hi....).

Udah, terima ajah bahwa DK telah salah dalam bertindak dan menyesal.
Udah, ituh ajah. Cukup.
Jangan malah berbangga, trus melempar kesalahan ke sana-sini....sampai menyalahkan pelatihnya. Jelas mentalnya bukan mental petarung.
Itu mental busuk.
Sebagai petarung, kalah-menang tuh biasa. Ini malah nyalahin pelatihnya.
Sampeyan sadar nggak; orang macam apa yang dididik dan diajari dan dilatih oleh sang pelatih, tapi setelah berbuat hal yang memalukan malah menyalahkan pelatihnya, bukan malah introspeksi diri.
Page 135 of 155 | ‹ First  < 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SPORTS > Martial Arts > Merpati putih