WEDDING & FAMILY
Home > LOEKELOE > WEDDING & FAMILY > Nikah & Anak datangkan REZEKI
Total Views: 35549 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 8 of 43 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 >  Last ›

Carrefour - 08/08/2008 02:57 AM
#141

Quote:
Original Posted By hery85
mudah2an..

gw juga pengen merid,, tapi takut sama duit,,

cus gaji sekarang masih kecil..

cukup g bisa buat berdua


don't worry broo..

gw kan uda cerita di page 3 deeh kl gak salah..

gw merit pun dlm keadaan serba ngepas, semua barang yg gw beli utk isi kontrakan tuh barang murah semua, sofa tamu aja gw beli cuman yg 500rb doang, pake bentaran, arm rest nya patah saat trima klien, coba aja bayangin, malu maluin gak tuh D
Tamu gw aja ampe ketawa ngikik abis abisan..

duit gw goncang parah 2x.

I. abis merit, soalnya bayar resto, bridal, dll.
II. abis beli rmh, ludes semua tabungan gw utk DP KPR.

malahan wkt ngontrak, bokin gw dikasih karimun ama emaknya/mertua gw, gw pake sidekick, wkt mau beli rmh sidekick gw jual buat nambah DP, biar utang gw ke bank gak terlalu gede.
uang $ yg gw dapet saat merit, gw tuker semua ke money changer, kl mas kawin tetep gw pertahanin, soalnya ada yg kasih tau, mas kawin gak boleh di jokul, bisa seret rejeki nantinya, yah gw mah ikutin aja saran tsb, bener ato salahnya gw jg gak tau.
Carrefour - 08/08/2008 03:03 AM
#142

@Raspatih

beer:
anaksederhana - 08/08/2008 11:02 AM
#143
Status nikah dan kerja utk perusahaan...
Quote:
Original Posted By Raspatih
Kebetulan pekerjaan gw adalah mengelola perusahaan termasuk ribuan karyawan di dalamnya.

Khusus di perusahaan tempat gw bekerja, memang betul, buat karyawan yang sudah berkeluarga, diberi kelebihan2 tertentu. Alasannya.

1. Perusahaan paham bahwa orang yang sudah berkeluarga tanggungjawab materinya MAYORITAS lebih banyak ketimbang yang belum berkeluarga. Mereka dan keluarganya butuh rasa aman dan kepastian. Mereka lebih butuh dukungan.
Dukungan itu kami berikan lewat cara: memberi tunjangan kesehatan untuk anak istrinya, memberikan tunjangan perumahan, memberikan tunjangan beasiswa untuk anak2 mereka yang berprestasi.

2. Dengan adanya tunjangan2 tersebut, karyawan akan merasa aman, terlindungi, diperhatikan dan berterima kasih karena perusahaan peduli kepada keluarga mereka. Bila perasaan ini muncul di hati dan benak karyawan, maka mereka akan bekerja lebih giat dan baik. Bila mereka bekerja lebih giat dan baik, maka hal ini membawa keuntungan bagi pertumbuhan perusahaan. Perusahaan akan mendapatkan keuntungan-keuntungan yang lebih dengan kinerja karyawan yang seperti itu.

3. Pembedaan ini hanya ada di pos tunjangan, bukan gaji. Karena kenaikan gaji dihitung berdasarkan faktor-faktor kinerja, bukan karena mereka sudah menikah atau belum. Tapi, seperti yang gw bilang di atas, karyawan yang sudah menikah dan diberi rasa aman dan dilindungi oleh perusahaan, maka kinerjanya akan semakin membaik. Kinerjanya membaik, maka membuahkan promosi. Dari promosi ini mereka mendapatkan kenaikan gaji.

4. Perusahaan (yang juga dikelola oleh manusia) percaya, bahwa menikah adalah ibadah. Membantu orang beribadah, besar kebaikannya. Bila kita berbuat banyak kebaikan, Insya Allah rahmat Allah juga turun kepada perusahaan ini.

5. Memang ada perlakuan2 istimewa lain. Contoh, kalau sudah dekat lebaran, mobil kantor habis dipinjam karyawan khususnya yang menikah. Gak ada lagi yang idle. Sesekali yang bujangan iri. Tapi gw selalu jelaskan kepada mereka:
"Kalau saya memberikan mobil buat si A, maka yang juga menikmati adalah istrinya A dan anaknya A. Jadi, 3 orang yang saya bantu. Kalau saya pinjamkan ke kamu, maka yang saya tolong hanya kamu seorang. Masa saya harus mengalahkan 3 orang demi 1 orang?"
"Tapi saya juga mau bawa keluarga saya pak," kata si karyawan.
"Lah, itu kata si A, dia malah mau bawa keluarga tetangganya sekalian, hehehe," kata gw.

6. Selama ini gw belum pernah alami yang tipikal memeras seperti itu.

Intinya, menikahlah \)


Gua sepenuhnya paham di perushaan lu yg mempekerjakan ribuan karyawan di dalamnya menerapkan kebijakan seperti ini. Bahkan sekarang di dunia ada trend yg dinamakan coporate governance yg intinya sebaik apa perusahaan mengelola dan juga balik lagi ke masyarakat apa faedahnya dengan keberadaan usahanya? Serta apa yg bisa diberikan kembali ke masyarakat di sekitarnya?

Dulu gua pernah secara tidak langsung boleh dikatakan punya "kuasa" ke pabrik2 yg mempekerjakan bahkan puluhan ribu karyawan di KBN Cakung Cilincing orientasi ekspor merk terkenal dunia. Kebijakan yg diterapkan sama yg seperti lu bilang sebelumnya di dalam parbik2 itu. Di cibinong juga sama.

Namun ini padahal gua agak enggan utk mengutarakan apa yug gua alami pada saat itu dengan pertimbangan mungkin ada yg gak percaya atau merasa pesimis nantinya.

Pada jaman era Soeharto Indonesia ekspornya kenceng sekali. Karyawan dan buruh juga enak kerja ada aja terus. Namun di balik itu Indonesia terjebak masuk selalu ke pasar pembeli (buyer's market) yg dimana semua ketentuan diberikan oleh pihak pembeli. Pabrik2 besar yg menerima ekspor sepatu, baju, celana, tas, sprei, BH, celana dalam bermerk dunia utk diekspor semua hanyalah sebatas tukang jahit.

Kawasan KBN padahal mirip penjajahan jaman Belanda dulu. Diberikan status istimewa impor gak perlu lagi bea dan semua barang impor kebanyakan akan diekspor kembali. Bahan baku ada yg dari luar negeri, asembling di Indo karena buruh upah murah dan dikirim kembali ke negara tujuan. Sekilas kelihatan enak ekonomi jalan semua.

nah posisi gua waktu itu adalah sebagai agen yg ditunjuk oleh pihak pembeli memastikan agar barang yg dikirim semua sesuai pesanan. Transaksi mencapai jutaan dollar US dan kami menerima komisi dari semua transaksi tsb bahkan terkadang gua itung posisi gua jauh lbh menguntungkan ketimbang si investor lokal yg dapet kontrak kerja dari pihak pembeli.

Tim gua hanya 8 orang termasuk gua dan wakil gua sendiri. Anak buah hanya 6 berkeliling Indo ke pabrik2. Semua dibawah komando gua apakah barang yg siap ekspor boleh diberikan lampu hijau atau gak....pokoknya pabrik udah miirp boneka gua deh. Resiko mereka yg tanggung.

Ini memang cara mainnya bahkan sampai saat ini.

Dilemanya adalah Indonesia terkenal dengan sangat konsisten dengan inkonsistensi. Barang yg dipesan adalah sama dan akan dikirim dengan berbagai pengapalan. Katakanlah 10 kontainer seminggu sekali. Barang sama.
Anehnya, mutu barang nanti bagus, nanti jelek, nanti bagus lagi nanti jelek lagi. Jadi bagian pemerhati mutu (QC = quality control) selalu seperti suster yg harus jagain anak kecil buat PR. Padahal kan sama? namun kami dibayar utk itu. Pastikan barang sesuai pesanan.

Terjadilah sengketa. Warna kerah dengan warna baju tidak sama alias shading atau tingkat warnanya berbeda karena pencelepan dilakukan tidak dalam proses yg sama.

Mau apa? gak bisa ekspor dong? Jumlahnya 5 kontainer? Nominalnya? hampir 500 ribu USD. Jika ini gagal, pabrik tidak terima uang bahkan harus ganti rugi karena sudah buang waktu dan barang yg dibuat bahan mentahnya sudah terpakai tapi salah buat. Rugi berapa kali tuh ?

Apakah ada yg berani bertanggung jawab? Ada! mereka bayar! gak apa apa. Lanjut katanya. Diganti.

Kalo mau dipikir, itu 5 kontainer nasibnya gimana? Buang ke laut? atau mendarat di factory outlet bandung dan bogor? Cuma gara2 shading atau warna gak begitu sama kerah dan bajunya? Dilihat kasat mata gak terlihat. harus dengan lampu khusus.

Ujung2nya diskon kan? 35%? Ekspor juga kan?

Nah, buruh mana mau tau soal ini? Yg penting pabrik bisa kasih makan karyawan beserta keluarga2nya dan ini para pemilik pabrik sadar. Selama perut mereka tidak lapar dan ada kenaikan taraf hidup yah lanjutkan. Sama juga dengan Soeharto. kalo kita jadi dia dulu gimana? Rakyat banyak gak ada kerja apa gak terjadi revolusi?

Pada saat Indonesia mendapatkan kontrak kerja ini, itu si pemberi kontrak emangnya gak bisa buat sendiri di negaranya? Bisa kan? Cuma ongkos bisa 10 kali lipat dan harga jual jadi mahal. Kenapa di Indo bisa murah? karena jumlah rakyatnya banyak dan mata uang masih rendah serta ada sumber daya alam juga.

Sekarang Cina lbh murah dan bersaing dari Indonesia. Apa yg terjadi? Gampang. Si pemberi kontrak tinggal pindahin atau bandingkan harga Indo dengan Cina. Mana yg menguntungkan maka kesanalah kontrak akan pergi. Nasib buruh? emangnya gua pikirin? itu urusan si punya pabrik. Ujung2nya? PHK massal kan? Ditambah brang selundupan masuk yg katanya kalo buat dalam negeri bisa lbh murah barangnya namun ini hukum gak jalan ngapain org buka pabrik? Beli aja sama negara tetangga di glodok pasti lbh murah dibanding lokal?

Buruhnya mau makan apa? Pada saat itu boro2 tamasya lebaran dipinjamkan mobil. Bisa makan tanpa utang aja sudah bersyukur?

Intinya, nikah silakan dan punya anak juga silakan. Rezeki itu datang sudah sesuai porsinya masing2.

Sangatlah berat mengikuti mitos2 banyak anak banyak rezeki dan akan dimaklumi oleh perusahaan. Kebijakan ini hanya berlaku sesaat.

Indonesia tidak ada jaring pengaman sosial seperti di australia, amerika atau negara maju lainnya dimana jika terjadi PHK maka pemerintah memberikan uang pengangguran agar masih dapat hidup layak.

Terus terang gua kadang salut juga mereka yg begitu berani menggunakan jurus kumaha engkehnya tapi yah emang bener jalan pasti ada cuma bagaimana aja kan?

Mudah2an bisa dicerna penjelasan diatas.
blue8351 - 08/08/2008 12:57 PM
#144

Quote:
Original Posted By Carrefour
don't worry broo..

gw kan uda cerita di page 3 deeh kl gak salah..

gw merit pun dlm keadaan serba ngepas, semua barang yg gw beli utk isi kontrakan tuh barang murah semua, sofa tamu aja gw beli cuman yg 500rb doang, pake bentaran, arm rest nya patah saat trima klien, coba aja bayangin, malu maluin gak tuh D
Tamu gw aja ampe ketawa ngikik abis abisan..

duit gw goncang parah 2x.

I. abis merit, soalnya bayar resto, bridal, dll.
II. abis beli rmh, ludes semua tabungan gw utk DP KPR.

malahan wkt ngontrak, bokin gw dikasih karimun ama emaknya/mertua gw, gw pake sidekick, wkt mau beli rmh sidekick gw jual buat nambah DP, biar utang gw ke bank gak terlalu gede.
uang $ yg gw dapet saat merit, gw tuker semua ke money changer, kl mas kimpoi tetep gw pertahanin, soalnya ada yg kasih tau, mas kimpoi gak boleh di jokul, bisa seret rejeki nantinya, yah gw mah ikutin aja saran tsb, bener ato salahnya gw jg gak tau.


klo gw juga mao nikah, duit pas2an
pasangan gw sih nga masalah, tp calon mertua nih yg permasalahin
takut anaknya nanti idupnya susah klo jadi merid ama gw.
gw juga percaya klo udh merid rejeki nambah
contohnya kakak ipar gw sendiri
pas sebelom merid kerja gaji pas2an, pas udh merid ama kakak gw
langsung pindah kerja yg jauh lbh OK, trus abis anak pertamanya lahir, dapet warisan dari ortunya.
langsung punya modal dan skrg jadi punya usaha sendiri.
miminputih - 08/08/2008 01:06 PM
#145

duduk santai dulu tuk menyimak postingan
Nice trit neh
averozem - 08/08/2008 02:46 PM
#146

Quote:
Original Posted By blue8351
klo gw juga mao nikah, duit pas2an
pasangan gw sih nga masalah, tp calon mertua nih yg permasalahin
takut anaknya nanti idupnya susah klo jadi merid ama gw.
gw juga percaya klo udh merid rejeki nambah
contohnya kakak ipar gw sendiri
pas sebelom merid kerja gaji pas2an, pas udh merid ama kakak gw
langsung pindah kerja yg jauh lbh OK, trus abis anak pertamanya lahir, dapet warisan dari ortunya.
langsung punya modal dan skrg jadi punya usaha sendiri.


ceritanya sama dong dg gw. tetap semangat gan!
percaya deh! ntar juga dikasih jalan.
ngacir:
Raspatih - 08/08/2008 03:25 PM
#147

@anaksederhana

Ada beberapa poin yang gw setuju dengan apa yang lo utarakan, di mana perusahaan selalu dituntut untuk berjalan secara sehat, tapi ada saja hal-hal buruk terjadi, dan buruh tidak mengetahui hal-hal itu, sedangkan tuntutan mereka terus berjalan. Gw rasa ini hal awam.

Namun menciptakan sebuah iklim kerja yang kondusif dan produktif, gw yakin itu tetap menjadi cita-cita perusahaan mana pun. Memberikan kompensasi kepada karyawan dalam bentuk apapun, tetap disesuaikan dengan kondisi keuangan perusahaan. Mungkin karena saat ini bisnis yang gw kelola sedang berjalan baik, jadi keberhasilannya pun bisa dinikmati karyawan dalam berbagai bentuk.
Tapi ini belum tentu terjadi apabila mungkin suatu saat hal2 buruk terjadi, hingga harus terjadi berbagai macam penyesuaian, termasuk kompensasi yang diterima karyawan.
neng_rani - 08/08/2008 04:12 PM
#148

Quote:
Original Posted By lexa lawliet
kalo gw merit tgl 08-08-08 ini Peace:














doain yak o
ntar kalo ada perbedaan, gw kasi tw siul:


jadi ngga?
congrats ya...
anaksederhana - 09/08/2008 10:54 AM
#149
Ya bagus lah....
Quote:
Original Posted By Raspatih
@anaksederhana

Ada beberapa poin yang gw setuju dengan apa yang lo utarakan, di mana perusahaan selalu dituntut untuk berjalan secara sehat, tapi ada saja hal-hal buruk terjadi, dan buruh tidak mengetahui hal-hal itu, sedangkan tuntutan mereka terus berjalan. Gw rasa ini hal awam.

Namun menciptakan sebuah iklim kerja yang kondusif dan produktif, gw yakin itu tetap menjadi cita-cita perusahaan mana pun. Memberikan kompensasi kepada karyawan dalam bentuk apapun, tetap disesuaikan dengan kondisi keuangan perusahaan. Mungkin karena saat ini bisnis yang gw kelola sedang berjalan baik, jadi keberhasilannya pun bisa dinikmati karyawan dalam berbagai bentuk.
Tapi ini belum tentu terjadi apabila mungkin suatu saat hal2 buruk terjadi, hingga harus terjadi berbagai macam penyesuaian, termasuk kompensasi yang diterima karyawan.



Ya ada bagusnya jangan terlalu terbuai dengan mitos banyak anak banyak rezeki atau udah nikah pastinya lebih baik dst.....karena setiap org keadaannya beda2 dan mayoritas tentu mau melakukan hal yg benar daripada gaya janggo kumaha engkeh....

Nikah atau tidak nikah, ada anak atau tidak anak rezeki akan datang dengan sendiri jika mau usaha dan ada ambisi untuk maju.

beer:
ka_sandra_a - 10/08/2008 12:45 AM
#150

masih berpolemik juga yah soal ini...
kenapa ga kembali ke masing2x orang aja...
yg ngerasa nikah dan anak datangkan rejeki silakan...
yg ga percaya ya hargai saja pendapat ts dan temen2x yg percaya \)
rezza_drummer - 10/08/2008 01:38 AM
#151

lucky man... hmmm, membuat gw berkeinginan untuk menikah segera.. hehehehe... o
appleku - 10/08/2008 01:42 AM
#152

Subhanallah... benar" melimpah Allah memberikan rezeki kepada anda.
Selamat ya, salam kenal.
lyaa - 10/08/2008 10:07 AM
#153

yuppss!!! setuju, krn semuanya udah ad dan ditulis di al-quran..yakin deeh
asxch - 10/08/2008 04:03 PM
#154

rezeki terbaik dari menikah adalah ketenangan jiwa dan cinta...

















halah... kayak dah nikah aja

:P
averozem - 11/08/2008 09:22 AM
#155

Quote:
Original Posted By asxch
rezeki terbaik dari menikah adalah ketenangan jiwa dan cinta...


halah... kayak dah nikah aja

:P


semoga setelah baca-baca postingan jadi pengen segera menikah ya gan! amin.
ngacir:
averozem - 15/08/2008 06:49 PM
#156

Quote:
Original Posted By rezza_drummer
lucky man... hmmm, membuat gw berkeinginan untuk menikah segera.. hehehehe... o


amiiiin...
ngacir:
lexa lawliet - 16/08/2008 11:59 AM
#157

Quote:
Original Posted By neng_rani
jadi ngga?
congrats ya...


jadi kok siso

bingung nih, mo punya anak skr ato ditunda..amazed:

tabungan masi sedikithammer:

adek jg mo kuliah taon inirolleyes:

takut kedepannya kita berdua nyusahin ortu

rumah emang dah ada, tp...amazed:

siap ga ya..malu:
averozem - 22/08/2008 12:41 PM
#158

@lexa lawliet

pengalamanku dulu:
menunda punya anak sampai punya rumah sendiri. pake metode penghitungan kalender dan alat kontrasepsi yang aman. setelah dua taon menikah, istri baru hamil. jadi, pada ulang tahun pernikahan ke-3, anak sudah lahir dan rumah sudah ada.
ngacir:
Seed Of Chaos - 22/08/2008 01:42 PM
#159

@All

mudah2an postingan kalian tidak menyesatkan orang2 yg belum menikah, jangan sampai mereka punya pikiran bahwa duit (baca: rejeki) akan datang sendiri kalau sdh married.

rata2 yg saya baca bernuansa success-story, yg gak sukses tentu akan malu nulis kegagalannya (dalam hal financial tentunya), tapi memang Tuhan itu adil, bila orang harus menghidupi istri dan anak, maka Tuhan akan memberikannya, masih kurang juga? Tuhan sudah menciptakan anda2 untuk bertugas memberikan pinjaman buatnya.
penjagamalem - 23/08/2008 11:55 AM
#160

selamat ma bro TS.
yup, rejeki emang gak berupa materi sajah. nikah saja dah merupakan rejeki. bahkan bagi yg muslim, menikah dikenal sebagai penyempurna ibadah. cmiiw

jadi ingat ama tetangga gw, yg pacaran sampe 7 taon gak brani nikah soale yg cowok masi pengangguran, akhirnya dipaksa menikah sama ortunya si cewek. setelah menikah, selang 2 bulan si cowok langsung dapet pekerjaan. D padahal setau gw, sewaktu masih bujang, ngelamar dimana2 gak pernah ada yg diterima

awalnya cuman sebagai satpam sebuah bank, tapi karena pergaulannya di dunia perbankan, skarang dah meloncat jadi staff administrasi di bank laen
Page 8 of 43 | ‹ First  < 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 >  Last ›
Home > LOEKELOE > WEDDING & FAMILY > Nikah & Anak datangkan REZEKI