Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > (Share + Pic) Wayang Pandawa
Total Views: 81048 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 176 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

antareja - 07/08/2011 10:32 PM
#21

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
nambain dikit2 gan...mulai dari nama namanya..

1.Samiaji..waktu dapat Kerajaan Amarta dai Raja Jin Yudhistira dia pake nama Prabu Yudhistira..selanjutnya dikenal juga dengan Puntadewa.ada nama lagi waktu Puntadewa nyamar jadi sanyasin...tapi ane lupa.



namanya wijakangka kalau ga salah
(Share + Pic) Wayang Pandawa
Digdadinaya - 08/08/2011 12:34 AM
#22

Quote:
Original Posted By prabuanom
udah lanjut aja juga gpp gan D
huehehehe D


wah,,,sip...mau gabung yang dulu takut ntar repoet karena g ngikutin..mohon maap buat para sesepuh,ane ramein disini ya...tanpa mengurangi rasa hormat kepada TS trit2 sebelum ini...

Quote:
Original Posted By klenut
Ini tuh ketika di pengasingan setelah Yudistira kalah main dadu? Lagi lakon apa ya tepatnya?



kenapa kalo yang bahas wayang jadi menimbulkan kesan tua ya?
ane juga masih remaja malu:



Terima kasih, gan...
sudah singgah di trit yang sederhana ini.


yap,lakon Pandawa dadu.tahun terakhir pengasingan kan Pandawa diharuskan menyamar,n kalo ketauan harus ngulangin pengasingan dari awal lagi..

hoh,maap ni kalo ngira tua...seneng banget ketemu anak2 muda yang suka ma Wayang.ane juga masih muda,walopun g bisa disebut remaja.D
22 taun.

Quote:
Original Posted By antareja
namanya wijakangka kalau ga salah
(Share + Pic) Wayang Pandawa


betul sekali gan....Wijakangka,ato Kangka kalo diversi India.
Matur nuwun...
klenut - 08/08/2011 10:10 AM
#23

Yudistira adalah tokoh yang mempunyai sifat sabar, adil, jujur, dan taat dalam beribadah. Namun ada yang bikin ane penasaran ingin tahu kenapa dia mau bermain dadu melawan Sangkuni sampai mempertaruhkan segalanya.

Apa karena kegemaran bermain dadu (judi) adalah sisi gelap dari seorang Yudistira? Tapi walaupun begitu, bagaimana seseorang yang memiliki kesaktian menahan nafsu dan berwawasan luas seperti dia mau bermain habis-habisan seperti itu.

Apa yang dibicarakan oleh Sangkuni kepada Yudistira ketika menyampaikan undangan bermain dadu, sehingga dia mau datang dan berjudi? Bagaimana bujuk rayu tipu daya Sangkuni sehingga Yudistira tidak bisa menolak undangan bermain dadu?

Mungkin ada cerita yang menjelaskan "sisi gelap Yudistira yang gemar berjudi" sehingga mengakibatkan kehabisan segalanya. Mohon petunjuk dari para sepuh.
antasena_kekota - 08/08/2011 10:58 AM
#24

Quote:
Original Posted By klenut
Yudistira adalah tokoh yang mempunyai sifat sabar, adil, jujur, dan taat dalam beribadah. Namun ada yang bikin ane penasaran ingin tahu kenapa dia mau bermain dadu melawan Sangkuni sampai mempertaruhkan segalanya.

Apa karena kegemaran bermain dadu (judi) adalah sisi gelap dari seorang Yudistira? Tapi walaupun begitu, bagaimana seseorang yang memiliki kesaktian menahan nafsu dan berwawasan luas seperti dia mau bermain habis-habisan seperti itu.

Apa yang dibicarakan oleh Sangkuni kepada Yudistira ketika menyampaikan undangan bermain dadu, sehingga dia mau datang dan berjudi? Bagaimana bujuk rayu tipu daya Sangkuni sehingga Yudistira tidak bisa menolak undangan bermain dadu?

Mungkin ada cerita yang menjelaskan "sisi gelap Yudistira yang gemar berjudi" sehingga mengakibatkan kehabisan segalanya. Mohon petunjuk dari para sepuh.


mungkin bisa dibilang sifat buruk dari seorg puntadewa. tapi bisa juga dibilang bukan sifat buruk karena puntadewa/yudistira adalah seorg yg pantang utk berkata tidak atau mengatakan/melakukan hal yg akan membuat org lain kecewa. seperti kita ketahui yudistira adalah org yg rela menyerahkan segalanya kepada org lain yg memintanya/menginginkannya. kalo di istilah pewayang jawa digambarkan sbg tokoh yg lega ing donya, lila ing pati. yg artinya rela menyerahkan hal yg bersifat duniawi seperti harta benda, kekuasaan & istri bahkan juga mengikhlaskan bila ada yg meminta nyawanya sekalipun.

kalo di lakon wayang bisa diketahui leway lakon wahyu makutharama yg dibawakan ki timbul hadiprayitno dimana anoman dtg sbg utusan prabu ramawijaya utk meminta drupadi diboyong ke pancala sbg permaisuri prabu rama. dia tidak ingin membuat prabu rama kecewa maupun membuat malu anoman sbg utusan prabu rama meskipun para anggota pandawa yg lain melarang keinginan tersebut & marah kpd yudistira.

begitu juga ketika yudistira ditantang utk bermain judi, bila menolak keinginan kurawa itu yudistira khawatir akan membuat kecewa kurawa. walaupun sebenarnya kurawa mempunyai rancana jahat dibalik undangan bermain dadu tersebut.

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
betul sekali gan....Wijakangka,ato Kangka kalo diversi India.
Matur nuwun...


bisa juga kunto aji ataupun darmaputra kalo di jawa.
prabuanom - 08/08/2011 11:36 AM
#25

Quote:
Original Posted By klenut
Ini tuh ketika di pengasingan setelah Yudistira kalah main dadu? Lagi lakon apa ya tepatnya?



kenapa kalo yang bahas wayang jadi menimbulkan kesan tua ya?
ane juga masih remaja malu:



Terima kasih, gan...
sudah singgah di trit yang sederhana ini.


makasih gan \)
prabuanom - 08/08/2011 11:39 AM
#26

Quote:
Original Posted By klenut
Yudistira adalah tokoh yang mempunyai sifat sabar, adil, jujur, dan taat dalam beribadah. Namun ada yang bikin ane penasaran ingin tahu kenapa dia mau bermain dadu melawan Sangkuni sampai mempertaruhkan segalanya.

Apa karena kegemaran bermain dadu (judi) adalah sisi gelap dari seorang Yudistira? Tapi walaupun begitu, bagaimana seseorang yang memiliki kesaktian menahan nafsu dan berwawasan luas seperti dia mau bermain habis-habisan seperti itu.

Apa yang dibicarakan oleh Sangkuni kepada Yudistira ketika menyampaikan undangan bermain dadu, sehingga dia mau datang dan berjudi? Bagaimana bujuk rayu tipu daya Sangkuni sehingga Yudistira tidak bisa menolak undangan bermain dadu?

Mungkin ada cerita yang menjelaskan "sisi gelap Yudistira yang gemar berjudi" sehingga mengakibatkan kehabisan segalanya. Mohon petunjuk dari para sepuh.


sebenernya yudistira jawa dan india jauh berbeda, di india yudistira di tokohkan sebagai raja yang jago bermain tombak. dimana jauh dari kesan tak mau bertarung seperti versi jawa. bahkan dalam bharata yudha yuditira juga maju naik kereta perangnya ke medan perang. bandingkan dengan yudistira jawa yang cuma berada dibarisan belakang. baru maju ketika saat saat khusus saja. nah bagaimana kita menilai mengenai permainan dadu itu?entahlah. apa memang dianalisa dengan versi jawa atau versi india. mungkin memang yudistira di india seneng main dadu sebagai sisi gelapnya?entahlah?
prabuanom - 08/08/2011 11:40 AM
#27

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
wah,,,sip...mau gabung yang dulu takut ntar repoet karena g ngikutin..mohon maap buat para sesepuh,ane ramein disini ya...tanpa mengurangi rasa hormat kepada TS trit2 sebelum ini...



yap,lakon Pandawa dadu.tahun terakhir pengasingan kan Pandawa diharuskan menyamar,n kalo ketauan harus ngulangin pengasingan dari awal lagi..

hoh,maap ni kalo ngira tua...seneng banget ketemu anak2 muda yang suka ma Wayang.ane juga masih muda,walopun g bisa disebut remaja.D
22 taun.



betul sekali gan....Wijakangka,ato Kangka kalo diversi India.
Matur nuwun...


silakan dilanjut gan, ane nyimak dulu \)
klenut - 08/08/2011 12:01 PM
#28

Terima kasih untuk paparannya.
shakehand
Quote:
Original Posted By antasena_kekota
...... kalo di istilah pewayang jawa digambarkan sbg tokoh yg lega ing donya, lila ing pati. yg artinya rela menyerahkan hal yg bersifat duniawi seperti harta benda, kekuasaan & istri bahkan juga mengikhlaskan bila ada yg meminta nyawanya sekalipun.....

..begitu juga ketika yudistira ditantang utk bermain judi, bila menolak keinginan kurawa itu yudistira khawatir akan membuat kecewa kurawa. walaupun sebenarnya kurawa mempunyai rancana jahat dibalik undangan bermain dadu tersebut.


Ini Yudistira versi Jawa.
Ane jadi paham gan. Karena memiliki sifat tidak mau mengecewakan orang lain maka dia mau menerima undangan main dadu. Sifatnya yang luhur ini merupakan kekuatan sekaligus kelemahannya yang bisa dimanfaatkan musuh.

Quote:
Original Posted By prabuanom
sebenernya yudistira jawa dan india jauh berbeda, di india yudistira di tokohkan sebagai raja yang jago bermain tombak. dimana jauh dari kesan tak mau bertarung seperti versi jawa. bahkan dalam bharata yudha yuditira juga maju naik kereta perangnya ke medan perang. bandingkan dengan yudistira jawa yang cuma berada dibarisan belakang. baru maju ketika saat saat khusus saja. nah bagaimana kita menilai mengenai permainan dadu itu?entahlah. apa memang dianalisa dengan versi jawa atau versi india. mungkin memang yudistira di india seneng main dadu sebagai sisi gelapnya?entahlah?


Ini versi India.
Mungkin memang itulah sisi gelapnya. Sebab, seperti yang ane dapat dari Wiki. Salah satu sifat dari Yudistira adalah berani berspekulasi.

"Sifat-sifat Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya, sebagaimana telah disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi." (http://id.wikipedia.org/wiki/Yudistira).

Karena memiliki sifat seperti itulah, makanya ia gemar bermain dadu. Bermain dadu pun mungkin untuk kesenangan semata, sebab kalo mencari kekayaan bukanlah sifat utama Yudistira.

Begitu mungkin ya...?
shakehand
Digdadinaya - 08/08/2011 03:06 PM
#29

kalo menurut ane,kesenangan Yudhistira berjudi itu emang sisi buruknya..
secara filsafah,itu buat nunjukin bahwa tidak ada seseorang yang sempurna n kalo orang itu g bisa ngempet nafsu ya jadinya malapetaka.alhasil gak cuma Yudhistira yang diusir..tapi semua Pandawa + Drupadi.
prabuanom - 09/08/2011 11:39 AM
#30

Quote:
Original Posted By klenut
Terima kasih untuk paparannya.
shakehand


Ini Yudistira versi Jawa.
Ane jadi paham gan. Karena memiliki sifat tidak mau mengecewakan orang lain maka dia mau menerima undangan main dadu. Sifatnya yang luhur ini merupakan kekuatan sekaligus kelemahannya yang bisa dimanfaatkan musuh.



Ini versi India.
Mungkin memang itulah sisi gelapnya. Sebab, seperti yang ane dapat dari Wiki. Salah satu sifat dari Yudistira adalah berani berspekulasi.

"Sifat-sifat Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya, sebagaimana telah disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi." (http://id.wikipedia.org/wiki/Yudistira).

Karena memiliki sifat seperti itulah, makanya ia gemar bermain dadu. Bermain dadu pun mungkin untuk kesenangan semata, sebab kalo mencari kekayaan bukanlah sifat utama Yudistira.

Begitu mungkin ya...?
shakehand


mungkin juga gan shakehand
klenut - 06/09/2011 02:39 AM
#31

Quote:
Original Posted By prabuanom
sebenernya yudistira jawa dan india jauh berbeda, di india yudistira di tokohkan sebagai raja yang jago bermain tombak. dimana jauh dari kesan tak mau bertarung seperti versi jawa. bahkan dalam bharata yudha yuditira juga maju naik kereta perangnya ke medan perang. bandingkan dengan yudistira jawa yang cuma berada dibarisan belakang. baru maju ketika saat saat khusus saja. nah bagaimana kita menilai mengenai permainan dadu itu?entahlah. apa memang dianalisa dengan versi jawa atau versi india. mungkin memang yudistira di india seneng main dadu sebagai sisi gelapnya?entahlah?


Quote:
Original Posted By Digdadinaya
kalo menurut ane,kesenangan Yudhistira berjudi itu emang sisi buruknya..
secara filsafah,itu buat nunjukin bahwa tidak ada seseorang yang sempurna n kalo orang itu g bisa ngempet nafsu ya jadinya malapetaka.alhasil gak cuma Yudhistira yang diusir..tapi semua Pandawa + Drupadi.


Ane nemu artikel menarik dari Goenawan Mohamad
tentang Yudistira dan Main Dadu-nya.

Yudhistira di Tepi Danau

PADA tahun ke-13 masa pembuangan, di suatu hari yang terik di hutan pekat itu, empat dari lima bersaudara Pandhawa mati satu demi satu.

Beberapa jam sebelumnya, Yudhistira, sang sulung, meminta adik-adiknya pergi menemukan sumber air. Ia kehausan, demikian juga yang lain. Seorang demi seorang pun berangkat, tapi tak ada yang kembali.

Cemas dan bertanya-tanya dalam hati, Yudhistira pun pergi menyusul, mencari, mengusut jejak. Akhirnya, sekian puluh pal jauhnya dari tempat ia menunggu, di tepi sebuah telaga yang jernih, ia melihat tubuh dua saudara kandungnya seibu, Bhima dan Arjuna tergeletak. Tak bernyawa. Lebih ke utara terdapat jenazah Nakula. Lalu ia temukan juga mayat Sadhewa. Kedua pemuda di ujung remaja itu adiknya yang lain: putra Pandhu dari Ibu Madrim.

Yudhistira terhenyak. Keempat saudaranya mati tanpa bekas pertempuran. Apa gerangan yang telah terjadi? Meminum air beracun? Siapa yang menyebar racun: penghuni rimba yang tak kelihatan, atau mata-mata Raja Duryudana dan para Kurawa?


Di tengah pikiran yang gelap dan galau itu, Yudhistira mendengar sebuah suara berat yang tak tampak sumbernya.

“Dengar, Yudhistira”, suara itu berkata. “Keempat ksatria ini, keempat adikmu, satu demi satu mati karena melanggar larangan: mereka telah diberitahu untuk tak meminum air telaga itu. tapi mereka – dengan penuh kepercayaan diri, bahkan angkuh – melawan pantangan itu.”

Siapakah yang bicara? Yaksa yang tak berwujud? Hantu penghuni air yang mengenalnya?

“Katakan saja: aku sukma air telaga ini. Aku tahu keempat adikmu kehausan, aku tahu engkau kehausan, tapi kau sebaiknya tak melakukan hal yang mereka lakukan”.

“Izinkan aku minum”, Yudhistira mencoba menyahut.

“Akan aku ijinkan. Tapi kau harus menjawab lebih dulu beberapa pertanyaan sebelum ia boleh mereguk air ini”.

Saat itu saya bayangkan Yudhistira, di balik airmukanya yang tenang, gentar. Ia melihat siang mendadak seperti bagian mimpi buruk. Tiba-tiba saja sebuah perjalanan, sebuah proses, sejak hari mereka berlima masuk hutan karena dibuang, terpotong. Hanya sembilan hari lagi masa pembuangan 13 tahun itu akan berakhir. Tahta Kerajaan Indraprasta akan dikembalikan kepada keluarga Pandawa. Tapi kini apa yang akan terjadi? Hanya dia, Yudhistira, yang tinggal.

Harapan dan perhitungan lama tak berlaku lagi. Jika nanti para Kurawa menolak dan memperdayakannya lagi, bagaimana ia akan melawan mereka? Akan terjadikah perang besar yang sejak 13 tahun lamanya diramalkan itu? Tapi bagaimana dengan dirinya, sebelum perang disiapkan? Bisakah ia lepas dari nasib buruk di tepi danau itu?

Di saat itu ia bisa memilih: ia membiarkan dirinya mati seperti keempat Pandawa lain, atau ia bersedia menjawab pertanyaan Sang Suara Gaib. Tapi ia tak tahu apa yang akan terjadi jika jawabannya salah: akankah ia mati juga? Ataukah ia akan dibiarkan hidup tapi tetap tak bisa meminum air danau?

Dalam Mahabharata dikisahkan, Yudhistira akhirnya memutuskan untuk bersedia menjawab pertanyaan yang akan menghadangnya. Dengan itu ia sebenarnya bagaikan meloncat ke jurang yang gelap di depan.

Syahdan, dalam bagian karya besar ini, ada beberapa pertanyaan yang dimajukan. Tapi di sini saya kutip saja yang terakhir, yang paling menentukan.

Kata suara gaib: “Salah satu dari adikmu akan segera kuhidupkan kembali. Siapa yang kau kehendaki, Yudhistira?”

Yudhistira terdiam. Ia pejamkan matanya, dan pilihan-pilihan yang sulit bertabrakan dalam gelap. Akhirnya sahutnya lirih: “Nakula”.

“Nakula?”, suara itu heran. “Bukan Bhima, saudara kandungmu yang kau sayangi, yang kekuatannya setara dengan puluhan gajah? Bukan Arjuna, sang pemanah piawai?”

“Bukan”, jawab Yudhistira, kata-katanya semakin mantap. “Sebab yang melindungi manusia bukan senjata, bukan kekuatan. Pelindung utama adalah dharma. Nakula aku pilih karena aku, yang selamat dan hidup, adalah putra Kunthi. Sudah sepatutnya putra Madrim juga harus ada yang hidup seperti diriku. Itu adil.”

Kata “adil” itu seperti bergetar di seluruh permukaan danau. Mendengar itu, Sang Suara Gaib seakan-akan membisu, dan tak lama kemudian, muncullah Batara Yama di depan Yudhistira. Dewa Maut itu dengan mesra memeluknya. Kahyangan terpesona akan kata-kata putra sulung Pandhu yang barusan diutarakan. Anugerah pun diturunkan. Keempat jenazah bersaudara itu – tak hanya Nakula — dihidupkan kembali.

...berlanjut ke posting berikutnya.
klenut - 06/09/2011 02:40 AM
#32

Yudhistira: 13 tahun yang lalu ia seorang penjudi yang gagal. Tapi kapan perjudian berakhir? Tadi juga ketika ia memutuskan untuk bersedia menjawab Sang Suara Gaib, ia merasa dirinya ibarat sebuah dadu yang terlontar dan tak bisa menentukan bagaimana ia akan jatuh. Tiap lemparan adalah pengakuan bahwa hidup adalah kecamuk kebetulan-kebetulan. Tak jelas alasannya. Tak jelas arahnya. Absurd.

Juga di tepi telaga itu. Yudhistira sebenarnya tak tahu, muka mana dari dadu yang akan muncul dan apa yang menyebabkannya. Kupilih Nakula, tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti dengan sisa hidupku di hutan ini. Aku tak tahu, aku gentar, tapi ada sesuatu yang serta merta memperkuat dirinya: perasaan telah memilih yang adil.

Di saat itu ia jadi seorang manusia yang mendekati Zarathustra dalam puisi Nietzsche: seorang yang berseru kepada langit, karena langit adalah meja para dewa tempat dadu kahyangan dilontarkan. Baginya hidup ibarat angkasa yang murni: terlepas dari jaring-jaring akal yang mematoknya dengan “tujuan”, dengan “arah”, akal yang menambatnya ke dalam hubungan kausalitas. Di angkasa yang telanjang murni, yang bergerak adalah ketidak-pastian. Yudhistira menerima itu. Dalam pengertian Deleuze, yang membaca Zarahustra dengan baik, sang sulung Pandawa justru bukan “pemain dadu yang buruk”. Pemain dadu yang buruk masuk gelanggang dengan bersenjata teori probablilitas. Yudhistira tidak.

Saya kira itulah sebabnya, 13 tahun yang lalu, ia terima tantangan para Kurawa untuk bermain dadu, dengan sikap tawakal yang membingungkan. Ia mau menghadapi lawan judi yang tangguh dan curang, Sengkuni.

Ada memang yang mengatakan, Yudhistira melakukan semua itu karena ia menyukai perjudian, tapi sebenarnya Mahabharata tak begitu jelas di sini. Yang kita ketahui, Yudhistira datang ke meja pertaruhan yang fatal itu – yang kelak jadi benih perang besar keluarga Bharata.

Ia tak berhitung dengan kalkulasi kemungkinan. Tak ada strategi mendapatkan tampilan dadu yang pas dengan yang ditebaknya. Ia cuma memandang ke langit-langit gelap, merasa tiap lontaran tak pernah sama, biarpun berkali-kali. Tiap kali dadu jatuh itu adalah kebetulan yang niscaya tak dapat diperhitungkan. Teori probabilitas terlampau menyederhanakannya.

Yudhistira berani, tapi bukannya tak ada persoalan di sini. Kesediannya menghilangkan diri sebagai subyek, dan menyerah kepada Nasib, ternyata tak membuatnya mampu menyentuh dunia di luar dirinya. Maka lakunya jadi bagian dari kekejian: ia jadikan hartanya, kerajaannya, adik-adiknya, bahkan dirinya, dan akhirnya isterinya, jadi barang taruhan. Semuanya jatuh ke tangan lawan.

Memang ia tampil dengan askesis yang kukuh: sanggup menerima absurditas hidup seraya menghilangkan diri sebagai subyek yang menguasai hal ihwal. Tapi dalam tawakal itu ia tak tergerak oleh liyan, tak terpanggil untuk memikirkan sesama yang lain.

13 tahun kemudian ia berubah. Dari adegan di tepi telaga itu tampak, hari itu Yudhistira bukan lagi pelontar dadu yang lembek di depan Sengkuni. Nasib dan Kelak tak dapat dikuasainya, tapi ia tak pasif. Ia bukan seonggok otomaton. Ia memilih dengan sepenuh hati: Nakula. Ia korbankan cintanya kepada Bhima dan harapannya kepada Arjuna.

Artinya, ia hadir dalam subyektifitas yang kuat. Tapi saat itu dharma-nya bukanlah aktualisasi “aku yang teguh”, melainkan kesetiaan kepada sesuatu yang tadi tersebut dalam kata, “Itu adil” — sesuatu yang menjadikan dirinya kukuh di momen yang menentukan itu, sesuatu yang membuat rasa hidup yang tak terhingga, dan dengan itu ia ingin dan sanggup memeluk sesama, melalui batas asal-usul. Ada yang ajaib di kejadian itu: ia merasa ada harapan, cinta, dan kesediaan memberi, walau dalam cemas dan ketidak-lengkapan.

Sejak itu, dalam Mahabharata Yudhistira adalah ksatria yang ganjil. Ia naik tahta dan menganggap diri pendosa; begitu banyak manusia dibunuh agar Kerajaan Indraprasta kembali ke tangan keluarga Pandhu. Baginya, perilaku para ksatria, kasta para pendekar perang, mirip tingkah anjing yang memperebutkan sisa makanan. Ia tahu posisi raja dan panggilan dharma selalu akan bertentangan—dharma-caryã ca rãjyam nityam eva virudhyate.

Dengan demikian ia memang tak mematuhi aturan kitab suci tentang manusia, kasta dan perannya. Tapi seperti dikatakannya kepada suara gaib di tepi danau itu, (saya kutip dari penceritaan Nyoman S.Pendit), “orang tak menjadi bijaksana hanya dengan mempelajari kitab-kitab suci”.

SUMBER
prabuanom - 06/09/2011 11:54 AM
#33

heheheh sebuah renungan yang menarik untuk memahami dunia pikir yudistira...\)
klenut - 06/09/2011 02:35 PM
#34

Quote:
Original Posted By prabuanom
heheheh sebuah renungan yang menarik untuk memahami dunia pikir yudistira...\)


hehehe.... itu yang bikin wayang menarik untuk ane, juragan
karakter satu tokoh aja bisa diulas dari berbagai sudut pandang.

hitam menurut yang satu, belum tentu hitam menurut yang lain.
prabuanom - 06/09/2011 04:19 PM
#35

Quote:
Original Posted By klenut
hehehe.... itu yang bikin wayang menarik untuk ane, juragan
karakter satu tokoh aja bisa diulas dari berbagai sudut pandang.

hitam menurut yang satu, belum tentu hitam menurut yang lain.


karena memang wayang itu bayang bayang manusia, jadi bisa dilihat dari sisi sudut manapun juga. sama seperti melihat karakter manusia yang utuh \)
angel3wijaya - 06/09/2011 05:33 PM
#36

Quote:
Original Posted By prabuanom
karena memang wayang itu bayang bayang manusia, jadi bisa dilihat dari sisi sudut manapun juga. sama seperti melihat karakter manusia yang utuh \)


wah mantap kata2nya,
ini sengaja dibuat terpisah ya mbah..?

ane nyimak dulu om TS

Spoiler for PANDAWA
(Share + Pic) Wayang Pandawa
klenut - 06/09/2011 05:59 PM
#37

Quote:
Original Posted By angel3wijaya
wah mantap kata2nya,
ini sengaja dibuat terpisah ya mbah..?

ane nyimak dulu om TS

Spoiler for PANDAWA
(Share + Pic) Wayang Pandawa


mangga, juragan
dihaturanan linggih

ane tunggu artikelnya...he he.. shakehand
prabuanom - 06/09/2011 06:00 PM
#38

Quote:
Original Posted By angel3wijaya
wah mantap kata2nya,
ini sengaja dibuat terpisah ya mbah..?

ane nyimak dulu om TS

Spoiler for PANDAWA
(Share + Pic) Wayang Pandawa


goleknya bima yang ada ulernya itu keren....huehehhehe D
kalung nagabanda ya namanya?
angel3wijaya - 06/09/2011 06:18 PM
#39

Quote:
Original Posted By klenut
mangga, juragan
dihaturanan linggih

ane tunggu artikelnya...he he.. shakehand

hatur nuhun kang....lagi dikumpulin dulu...tp sptnya banyak dibahas diatas
paling nanti cuma nambahin sedikit2,itupun yg ane tau aja malu:

Quote:
Original Posted By prabuanom
goleknya bima yang ada ulernya itu keren....huehehhehe D
kalung nagabanda ya namanya?


wah si akang yg lebih ngerti nanya ke ane Peace:
klenut - 06/09/2011 06:29 PM
#40

Quote:
Original Posted By angel3wijaya
hatur nuhun kang....lagi dikumpulin dulu...tp sptnya banyak dibahas diatas
paling nanti cuma nambahin sedikit2,itupun yg ane tau aja malu:



wah si akang yg lebih ngerti nanya ke ane Peace:


hehe... khas gaya juragan prabuanom..D
kang angel, lagi dites tuh...Yb
Page 2 of 176 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > (Share + Pic) Wayang Pandawa